<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861</id><updated>2012-02-15T15:41:15.326+07:00</updated><category term='sedekah'/><category term='do&apos;a'/><category term='Kisah teladan'/><title type='text'>Menjadi pribadi yang bermanfaat</title><subtitle type='html'>Harta tidak akan pernah bisa mempertahankan kehidupan di muka bumi. Sehebat apapun usaha manusia untuk memperpanjang hidupnya, kematian pasti akan tiba pada saat yang telah ditentukan. Sebelum menyesal, masih ada kesempatan untuk membuat harta kita menjadi abadi. Caranya: transferlah harta anda ke akhirat. Salurkan kekayaan anda melalui lembaga-lembaga sosial yang membantu fakir miskin, anak yatim dll...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>680</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-8262278703943101663</id><published>2012-01-13T07:55:00.002+07:00</published><updated>2012-01-29T06:16:28.237+07:00</updated><title type='text'>Apapun Hajat terbaik anda, berinfaklah secara maksimal lalu berdo'alah</title><content type='html'>Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu sesungguhnya  Nabi Muhammad shollallahu ‘alahi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #000099; font-weight: bold;"&gt;“Tidak ada satu  subuh-pun yang dialami hamba-hamba Allah kecuali turun kepada mereka dua  malaikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu di antara keduanya berdoa:&lt;span style="color: #6600cc; font-weight: bold;"&gt; “Ya Allah, berilah  ganti bagi orang yang berinfaq”,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sedangkan yang satu lagi berdo’a &lt;span style="color: red; font-weight: bold;"&gt;“Ya  Allah, berilah kerusakan bagi orang yang menahan (hartanya)”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(HR Bukhary  5/270)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbukti Shadaqah penuh keajaiban...&lt;br /&gt;harta menjadi berkah, berlimpah dan penuh manfaat...&lt;br /&gt;--&amp;gt; Mau sembuh dari sakit, ayo shadaqoh&lt;br /&gt;---&amp;gt; Mau dapat anak, pancing dengan shadaqah&lt;br /&gt;----&amp;gt; Anda mau apa, lakukan shadaqah, lalu mintalah hajat anda pada Allah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan Kapok harta anda berkurang karena shadaqah...&lt;br /&gt;Makin bertambah harta karena shadaqah, tentu semakin rutin anda shadaqah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lakukan dari keluarga terdekat, tetangga dan orang-orang yang ada disekitar anda, semoga menjadi orang yang bermanfaat...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahagia dunia akhirat, Ayo Shadaqah.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="data_field"&gt;Dengan   menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah  lagi Maha Penyayang. Segala  puji  bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha  Pemurah lagi Maha Penyayang.  Yang  menguasai di Hari Pembalasan Hanya  Engkaulah yang kami sembah,  dan hanya  kepada Engkaulah kami meminta  pertolongan. Tunjukilah kami  jalan yang  lurus, (yaitu) Jalan  orang-orang yang telah Engkau beri  ni'mat kepada  mereka; bukan (jalan)  mereka yang dimurkai dan bukan  (pula jalan) mereka  yang sesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah kabulkanlah do'a kaum muslimin di penjuru bumi..&lt;br /&gt;Ya Allah kabulkanlah do'a-do'a kami...&lt;br /&gt;Ya Allah kami telah berusaha mengorbankan harta kami tuk perjuangan menegakkan kalimat-Mu...&lt;br /&gt;kami korban harta kami tuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan ke lebih banyak orang di seluruh penjuru bumi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya   Allah sembuhkanlah diantara kami yang sedang sakit, sembuhkanlah   keluarga kami, sembuhkanlah tetangga kami, sembuhkanlah teman-teman...&lt;br /&gt;Ya Allah di anatara kami ada yang belum dapat jodoh, pertemukanlah dengan jodoh yang terbaik menurut-Mu&lt;/div&gt;&lt;div class="data_field"&gt;Ya Allah di antara kami ada yang belum memiliki keturunan, berikanlah segera amanah itu,&lt;br /&gt;Ya Allah berilah kami keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya  Engkau Maha Mendengarkan do`a. &lt;/div&gt;Ya Allah jadikanlah anak-anak kami, anak2 yang shaleh dan shalehah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Wahai   Allah  limpahkanlah rahmat atas junjungan kita Nabi Muhammad  Saw;   sebanyak  aneka rupa rizqi. Wahai Dzat Yang Maha Meluaskan rizqi  kepada   orang yang  dikehendaki-Nya tanpa hisab. Luaskan dan banyakanlah    rizqiku dari  segenap setiap penjuru dan perbendaharaan rizqi-Mu tanpa    pemberian dari  makhluk, berkat kemurahan-Mu jua. Dan limpahkanlah pula    rahmat dan salam  atas dan para sahabat beliau. " &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Wahai   Allah,  wahai Dzat Yang Maha Kaya, wahai Dzat Yang Maha  Terpuji,  wahai  Dzat Yang  memulai, wahai Dzat Yang Mengembalikan, wahai  Dzat  Yang  Maha Penyayang,  wahai Dzat Yang Maha Mencintai. Cukupilah  kami  dengan  kehalalan-Mu dari  keharaman-Mu. Cukupilah kami dengan   anugerah-Mu dari  selain Engkau.  Semoga Allah melimpahkan rahmat dan   salam atas  junjungan kita Nabi  Muhammad Saw. keluarga dan sahabat   beliau."&lt;/i&gt;&lt;i&gt;"Dengan  nama  Allah, semoga Engkau menjaga diri  kami, harta kami dan  agama  kami. Wahai  Allah, ridhailah kami dari  ketetapan-Mu dan berilah  berkah  kepada kami  pada segala apa yang  telah Engkau putuskan sehingga  kami  Tidak suka apa  yang Engkau  mempercepatkan apa yang Engkau akhirkan  dan  tidak pula  menyukai  mengakhirkan apa yang, Engkau cepatkan. "&lt;/i&gt;&lt;i&gt;"Ya Tuhan,  berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta  selamatkanlah kami dari siksa neraka." &lt;/i&gt;(QS. Al-Baqarah: 201).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Ya   Tuhan,  janganlah Engka siksa kami karena lupa atau bersalah. Ya    Tuhan,  janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat    sebagaimana telah  Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya    Tuhan, janganlah  Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup    kami memikulnya. Beri  maaflah kami, ampunilah kamj, dan rahmatilah    kami. Engkaulah Penolong  kami, maka tolonglah kami dalam mengalahkan    orang-orang kafir." &lt;/i&gt;(QS.  Al-Baqarah: 286).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Ya Tuhan    sungguh kami telah mendengar seruan yang menyeru kepada  iman:    "Barimanlah kamu kepada Tuhanmu, maka kami pun beriman. Ya Tuhan,     ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami,    serta  matikanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbuat    kebajikan. Ya  Tuhan, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada    kami dengan  perantaraan rasul-rasul-Mu, dan janganlah Engkau hinakan    kami pada hari  kiamat nanti. Sungguh Engkau sama sekali tidak akan    pernah menyalahi  janji." &lt;/i&gt;(QS. Âli Imrân: 193-294).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-8262278703943101663?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/8262278703943101663/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2012/01/apapun-hajat-terbaik-anda-berinfaklah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/8262278703943101663'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/8262278703943101663'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2012/01/apapun-hajat-terbaik-anda-berinfaklah.html' title='Apapun Hajat terbaik anda, berinfaklah secara maksimal lalu berdo&apos;alah'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-2468968946085277084</id><published>2011-11-27T23:46:00.001+07:00</published><updated>2011-12-22T10:48:19.409+07:00</updated><title type='text'>Dia Mencium Bau Surga</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;i&gt;Di dalam sebuah hadits yang bersumber dari Abu Hurairah  rhodiyallaahu ‘anhu, Rasululllah shollallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,  " Ada tujuh golongan orang yang mendapat naungan Allah pada hari tiada  naungan selain dari naunganNya... diantaranya, seorang pemuda yang tumbuh dalam  melakukan ketaatan kepada Allah."&lt;/i&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dan di dalam sebuah hadits shohih yang berasal dari Anas bin an-Nadhr  rhodiyallaahu ‘anhu, ketika perang Uhud ia berkata,"Wah .... angin surga,  sunguh aku telah mencium wangi surga yang berasal dari balik gunung Uhud."&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Seorang Doktor bercerita kepadaku, " Pihak rumah sakit menghubungiku dan  memberitahukan bahwa ada seorang pasien dalam keadaaan kritis sedang dirawat.  Ketika aku sampai, ternyata pasien tersebut adalah seorang pemuda yang sudah meninggal  - semoga Allah merahmatinya -. Lantas bagaimana detail kisah wafatnya. Setiap  hari puluhan bahkan ribuan orang meninggal. Namun bagaimana keadaan mereka  ketika wafat? Dan bagaimana pula dengan akhir hidupnya?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pemuda ini terkena peluru nyasar, dengan segera kedua orang tuanya -semoga  Allah membalas segala kebaikan mereka- melarikannya ke rumah sakit militer di Riyadh. Di tengah  perjalanan, pemuda itu menoleh kepada ibu bapaknya dan sempat berbicara. Tetapi  apa yang ia katakan? Apakah ia menjerit dan mengerang sakit? Atau menyuruh agar  segera sampai ke rumah sakit? Ataukah ia marah dan jengkel ? Atau apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tuanya mengisahkan bahwa anaknya tersebut mengatakan kepada mereka, ‘Jangan  khawatir! Saya akan meninggal ... tenanglah ... sesungguhnya aku mencium wangi  surga.!' Tidak hanya sampai di sini saja, bahkan ia mengulang-ulang kalimat  tersebut di hadapan para dokter yang sedang merawat. Meskipun mereka berusaha  berulang-ulang untuk menyelamatkannya, ia berkata kepada mereka, ‘Wahai saudara-saudara,  aku akan mati, maka janganlah kalian menyusahkan diri sendiri... karena  sekarang aku mencium wangi surga.'&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kemudian ia meminta kedua orang tuanya agar mendekat lalu mencium keduanya dan  meminta maaf atas segala kesalahannya. Kemudian ia mengucapkan salam kepada  saudara-saudaranya dan mengucapkan dua kalimat syahadat, ‘Asyhadu alla ilaha  illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah' Ruhnya melayang kepada Sang  Pencipta subhanahu wa ta'ala.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Allahu Akbar ... apa yang harus aku katakan dan apa yang harus aku  komentari...Semua kalimat tidak mampu terucap ... dan pena telah kering di  tangan... Aku tidak kuasa kecuali hanya mengulang dan mengingat Firman Allah  subhanahu wa ta'ala, " Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman  dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan akhirat."  (Ibrahim : 27)&lt;br /&gt;Tidak ada  yang perlu dikomentari lagi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ia melanjutkan kisahnya,&lt;br /&gt;"Mereka membawa jenazah pemuda tersebut untuk dimandikan. Maka ia  dimandikan oleh saudara Dhiya' di tempat pemandian mayat yang ada di rumah  sakit tersebut. Petugas itu melihat beberapa keanehan yang terakhir.  Sebagaimana yang telah ia ceritakan sesudah shalat Magrib pada hari yang sama.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Ia melihat dahinya berkeringat. Dalam  sebuah hadits shahih Rasulullaah Shallallaahu ‘alahi wasallam bersabda,  "Sesungguhnya seorang mukmin meninggal dengan dahi berkeringat". Ini  merupakan tanda-tanda khusnul khatimah. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ia katakan tangan jenazahnya lunak  demikian juga pada persendiannya seakan-akan dia belum mati. Masih mempunyai  panas badan yang belum pernah ia jumpai sebelumnya semenjak ia bertugas  memandikan mayat. Pada tubuh orang yang sudah meninggal itu (biasanya-red)  dingin, kering dan kaku. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Telapak tangan kanannya seperti  seorang yang membaca tasyahud yang mengacungkan jari telunjuknya mengisyaratkan  ketauhidan dan persaksiannya, sementara jari-jari yang lain ia genggam. &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Subhanalllah  ... Sungguh indah kematian seperti itu. Kita memohon semoga Allah subhanahu wa  ta'ala menganugrahkan kita khusnul khatimah.&lt;br /&gt;Saudara-saudara  tercinta ... kisah belum selesai...&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Saudara Dhiya' bertanya kepada salah seorang pamannya, apa yang ia lakukan  semasa hidupnya? Tahukah anda apa jawabnya?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Apakah anda kira ia menghabiskan malamnya dengan berjalan-jalan di jalan raya?&lt;br /&gt;Atau duduk di  depan televisi untuk menyaksikan hal-hal yang terlarang? Atau ia tidur pulas  hingga terluput mengerjakan shalat? Atau sedang meneguk khamr, narkoba dan  rokok? Menurut anda apa yang telah ia kerjakan? Mengapa ia dapatkan husnul  khatimah (insyaAllah -red) yang aku yakin bahwa saudara pembaca pun  mengidam-ngidamkann ya; meninggal dengan mencium wangi surga.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ayahnya berkata, "Ia selalu bangun dan melaksanakan shalat malam  sesanggupnya. Ia juga membangunkan keluarga dan seisi rumah agar dapat  melaksanakan shalat Shubuh berjama'ah. Ia gemar menghafal al-Qur'an dan  termasuk salah seorang siswa yang berprestasi di SMU."&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aku katakan,  "Maha benar Allah" yang berfirman (yang artinya-red)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Sesungguhnya  orang-orang yang mengatakan: ‘Rabb kami ialah Allah' kemudian mereka meneguhkan  pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan):  ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu  dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.' Kamilah  pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh  apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.  Sebagai hidangan (bagimu) dari (Rabb) Yang Maha Pengampun lagi Maha  Penyayang." (Fhushilat:30- 32)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;--------&lt;br /&gt;Diambil dari  : Serial Kisah Teladan Karya Muhammad bin Shalih Al-Qahthani, sebagaimana yang  dinukil dari Qishash wa ‘Ibar karya Doktor Khalid al-Jabir.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-2468968946085277084?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/2468968946085277084/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/dia-mencium-bau-surga.html#comment-form' title='9 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/2468968946085277084'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/2468968946085277084'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/dia-mencium-bau-surga.html' title='Dia Mencium Bau Surga'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-9167981949356632018</id><published>2011-11-27T23:25:00.001+07:00</published><updated>2011-11-27T23:26:52.485+07:00</updated><title type='text'>Tipe Wanita yang Disunnahkan untuk Dilamar</title><content type='html'>Dalam melamar, seorang muslim dianjurkan untuk memperhatikan beberapa sifat yang ada pada wanita yang akan dilamar, diantaranya: &lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Wanita itu disunahkan seorang yang penuh cinta kasih. Maksudnya ia harus selalu menjaga kecintaan terhadap suaminya, sementara sang suami pun memiliki kecenderungan dan rasa cinta kepadanya. &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;        Selain itu, ia juga harus berusaha menjaga keridhaan suaminya, mengerjakan apa yang disukai suaminya, menjadikan suaminya merasa tentram hidup dengannya, senang berbincang dan berbagi kasih sayang dengannya. Dan hal itu jelas sejalan dengan firman Allah Ta'ala, &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;  Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tentram kepadanya. Dan Dia jadikan di antara kalian rasa kasih dan saying. (ar-Ruum:21).&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;   &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Disunahkan pula agar wanita yang dilamar itu seorang yang banyak memberikan keturunan, karena ketenangan, kebahagiaan dan keharmonisan keluarga akan terwujud dengan lahirnya anak-anak yang menjadi harapan setiap pasangan suami-istri. &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;    Berkenaan dengan hal tersebut, Allah Ta'ala berfirman, &lt;br /&gt;    Dan orang-orang yang berkata, 'Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa'. (al-Furqan:74). &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;    Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, &lt;br /&gt;  Menikahlah dengan wanita-wanita yang penuh cinta dan yang banyak melahirkan keturunan. Karena sesungguhnya aku merasa bangga dengan banyaknya jumlah kalian pada hari kiamat kelak. Demikian hadist yang diriwayatkan Abu Daud, Nasa'I, al-Hakim, dan ia mengatakan, Hadits tersebut sanadnya shahih. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hendaknya wanita yang akan dinikahi itu seorang yang masih gadis dan masih muda. Hal itu sebagaimana yang ditegaskan dalam kitab Shahihain dan juga kiab-kitab lainnya dari hadits Jabir, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bertanya kepadanya, &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;    Apakah kamu menikahi seorang gadis atau janda? dia menjawab,"Seorang janda."Lalu beliau bersabda, Mengapa kamu tidak menikahi seorang gadis yang kamu dapat bercumbu dengannya dan ia pun dapat mencumbuimu?. &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;    Karena seorang gadis akan mengantarkan pada tujian pernikahan. Selain itu seorang gadis juga akan lebih menyenangkan dan membahagiakan, lebih menarik untuk dinikmati akan berperilaku lebih menyenangkan, lebih indah dan lebih menarik untuk dipandang, lebih lembut untuk disentuh dan lebih mudah bagi suaminya untuk membentuk dan membimbing akhlaknya. &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sendiri telah bersabda, &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;    Hendaklah kalian menikahi wanita-wanita muda, karena mereka mempunyai mulut yang lebih segar, mempunyai rahim yang lebih subur dan mempunyai cumbuan yang lebih menghangatkan. &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;  Demikian hadits yang diriwayatkan asy-Syirazi, dari Basyrah bin Ashim dari ayahnya, dari kakeknya. Dalam kitab Shahih al_Jami' ash_Shaghir, al-Albani mengatakan, "Hadits ini shahih." &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dianjurkan untuk tidak menikahi wanita yang masih termasuk keluarga dekat, karena Imam Syafi'I pernah mengatakan, "Jika seseorang menikahi wanita dari kalangan keluarganya sendiri, maka kemungkinan besar anaknnya mempunyai daya piker yang lemah." &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;  Disunahkan bagi seorang muslim untuk menikahi wanita yang mempunyai silsilah keturunan yang jelas dan terhormat, karena hal itu akan berpengaruh pada dirinya dan juga anak keturunannnya. Berkenaan dengan hal tersebut, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;    Wanita itu dinikahi karena empat hal: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscahya kamu beruntung. (HR. Bukhari, Muslim dan juga yang lainnya).&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;  Hendaknya wanita yang akan dinikahi itu taat beragama dan berakhlak mulia. Karena ketaatan menjalankan agama dan akhlaknya yang mulia akan menjadikannya pembantu bagi suaminya dalam menjalankan agamanya, sekaligus akan menjadi pendidik yang baik bagi anak-anaknya, akan dapat bergaul dengan keluarga suaminya. &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;    Selain itu ia juga akan senantiasa mentaati suaminya jika ia akan menyuruh, ridha dan lapang dada jika suaminya memberi, serta menyenangkan suaminya berhubungan atau melihatnnya. Wanita yang demikian adalah seperti yang difirmankan Allah Ta'ala, &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;"Sebab itu, maka wanita-wanita yang shahih adalah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminyatidak berada di tempat, oleh karena Allah telah memelihara mereka". (an-Nisa:34). &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Sedangkan dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, &lt;br /&gt;"Dunia ini adalah kenikmatan, dan sebaik-baik kenikmatannya adalah wanita shalihah". (HR. Muslim, Nasa'I dan Ibnu Majah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Selain itu, hendaklah wanita yang akan dinikahi adalah seorang yang cantik, karena kecantikan akan menjadi dambaan setiap insan dan selalu diinginkan oleh setiap orang yang akan menikah, dan kecantikan itu pula yang akan membantu menjaga kesucian dan kehormatan. Dan hal itu telah disebutkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam hadits tentang hal-hal yang disukai dari kaum wanita. &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;    Kecantikan itu bersifat relatif. Setiap orang mempunyai gambaran tersendiri tentang kecantikan ini sesuai dengan selera dan keinginannya. Sebagian orang ada yang melihat bahwa kecantikan itu terletak pada wanita yang pendek, sementara sebagian yang lain memandang ada pada wanita yang tinggi. &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;    Sedangkan sebagian lainnya memandang kecantikan terletak pada warna kulit, baik coklat, putih, kuning dan sebagainya. Sebagian lain memandang bahwa kecantikan itu terletak pada keindahan suara dan kelembutan ucapannya. &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Demikianlah, yang jelas disunahkan bagi setiap orang untuk menikahi wanita yang ia anggap cantik sehingga ia tidak tertarik dan tergoda pada wanita lain, sehingga tercapailah tujuan pernikahan, yaitu kesucian dan kehormatan bagi tiap-tiap pasangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------&lt;br /&gt;Sumber: Fikih Keluarga, Syaikh Hasan Ayyub, Cetekan Pertama, Mei 2001, Pustaka Al-kautsar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-9167981949356632018?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/9167981949356632018/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/tipe-wanita-yang-disunnahkan-untuk.html#comment-form' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/9167981949356632018'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/9167981949356632018'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/tipe-wanita-yang-disunnahkan-untuk.html' title='Tipe Wanita yang Disunnahkan untuk Dilamar'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-1257951191255849343</id><published>2011-11-27T23:23:00.001+07:00</published><updated>2011-11-27T23:24:06.517+07:00</updated><title type='text'>Doa Para Akhwat yang sangat merindukan datangnya seorang pendamping....</title><content type='html'>Untuk Para Akhwat.... mari kita Aminkan Doa ini....... &lt;br /&gt;Untuk Para Ikhwan.... Dengarlah Doa Para Akhwat yang sangat merindukan datangnya seorang pendamping.... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Peringatan Rasulullah: "Bukan termasuk golonganku orang-orang yang merasa    khawatir akan terkungkung hidupnya karena menikah kemudian ia tidak    menikah." (HR. Thabrani). " &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;&lt;/i&gt;Apa yang menghimpit saudara kita sehingga MEREKA SANGGUP MENETESKAN AIR    MATA. Awalnya adalah KARENA MEREKA MENUNDA APA YANG HARUS DISEGERAKAN,    MEMPERSULIT APA YANG SEHARUSNYA DIMUDAHKAN.&lt;i&gt; Padahal Rasululloh berpesan: "Wahai Ali, ada TIGA PERKARA JANGAN DITUNDA-TUNDA, apabila SHOLAT TELAH   TIBA    WAKTUNYA, JENAZAH APABILA TELAH SIAP PENGUBURANNYA, dan PEREMPUAN APABILA TELAH DATANG LAKI-LAKI YANG SEPADAN MEMINANGNYA." (HR Ahmad) "&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;-- M.  Fauzil   Adhim &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**************************** &lt;br /&gt;A Prayer &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhanku... &lt;br /&gt;Aku berdo'a untuk seorang pria yang akan menjadi bagian dari hidupku &lt;br /&gt;Seseorang yang sungguh mencintaiMu lebih dari segala sesuatu &lt;br /&gt;Seorang pria yang akan meletakkanku pada posisi kedua di hatinya setelah Engkau &lt;br /&gt;Seorang pria yang hidup bukan untuk dirinya sendiri tetapi untukMu &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah tampan dan daya tarik fisik tidaklah penting &lt;br /&gt;Yang penting adalah sebuah hati yang sungguh mencintai dan dekat dengan Engkau &lt;br /&gt;dan berusaha menjadikan sifat-sifatMu ada pada dirinya &lt;br /&gt;Dan ia haruslah mengetahui bagi siapa dan untuk apa ia hidup sehingga hidupnya tidaklah sia-sia &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yang memiliki hati yang bijak tidak hanya otak yang cerdas &lt;br /&gt;Seorang pria yang tidak hanya mencintaiku tapi juga menghormatiku &lt;br /&gt;Seorang pria yang tidak hanya memujaku tetapi juga dapat menasihatiku ketika    aku berbuat salah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yang mencintaiku bukan karena kecantikanku tapi karena hatiku &lt;br /&gt;Seorang pria yang dapat menjadi sahabat terbaikku dalam setiap waktu dan situasi &lt;br /&gt;Seseorang yang dapat membuatku merasa sebagai seorang wanita ketika aku di    sisinya &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhanku... &lt;br /&gt;Aku tidak meminta seseorang yang sempurna namun aku meminta seseorang yang    tidak sempurna, &lt;br /&gt;sehingga aku dapat membuatnya sempurna di mataMu &lt;br /&gt;Seorang pria yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya &lt;br /&gt;Seorang pria yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya &lt;br /&gt;Seseorang yang membutuhkan senyumku untuk mengatasi kesedihannya &lt;br /&gt;Seseorang yang membutuhkan diriku untuk membuat hidupnya menjadi sempurna &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhanku... &lt;br /&gt;Aku juga meminta, &lt;br /&gt;Buatlah aku menjadi wanita yang dapat membuatnya bangga &lt;br /&gt;Berikan aku hati yang sungguh mencintaiMu sehingga aku dapat mencintainya dengan sekedar cintaku &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikanlah sifat yang lembut sehingga kecantikanku datang dariMu &lt;br /&gt;Berikanlah aku tangan sehingga aku selalu mampu berdoa untuknya &lt;br /&gt;Berikanlah aku penglihatan sehingga aku dapat melihat banyak hal baik dan bukan hal buruk dalam dirinya &lt;br /&gt;Berikanlah aku lisan yang penuh dengan kata-kata bijaksana, &lt;br /&gt;mampu  memberikan semangat serta mendukungnya setiap saat dan tersenyum untuk dirinya   setiap    pagi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bilamana akhirnya kami akan bertemu, aku berharap kami berdua dapat mengatakan: &lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Betapa Maha Besarnya Engkau karena telah memberikan kepadaku pasangan yang dapat membuat hidupku menjadi sempurna." &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengetahui bahwa Engkau ingin kami bertemu pada waktu yang tepat &lt;br /&gt;Dan Engkau akan membuat segala sesuatunya indah pada waktu yang telah   Engkau    tentukan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amin.... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-1257951191255849343?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/1257951191255849343/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/doa-para-akhwat-yang-sangat-merindukan.html#comment-form' title='10 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/1257951191255849343'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/1257951191255849343'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/doa-para-akhwat-yang-sangat-merindukan.html' title='Doa Para Akhwat yang sangat merindukan datangnya seorang pendamping....'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-4654137243155190530</id><published>2011-11-27T20:45:00.001+07:00</published><updated>2011-11-27T20:45:28.305+07:00</updated><title type='text'>Dalil 10 Muharram sebagai Lebaran Anak Yatim</title><content type='html'>&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; Diriwyatkan bahwa Rasul saw menyayangi anak2 yatim, dan lebih menyayangi mereka pd hari 10 muharram (Asyura).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; dan menjamu serta bersedekah pd 10 muharram bukan hanya pd anak yatim tapi keluarga, anak, istri, suami dan orang orang terdekat, karena itu sunnah beliau saw dan pembuka keberkahan hingga setahun penuh. (Faidhul qadir juz 6 hal 235-236).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; Diriwayatkan pula bahwa sayyidna Umar ra menjamu tamu dengan jamuan khusus, pada malam 10 muharram (Musnad Imam Tabrani/ Tafsir Ibn katsir Juz 3 hal 244&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-4654137243155190530?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/4654137243155190530/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/dalil-10-muharram-sebagai-lebaran-anak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/4654137243155190530'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/4654137243155190530'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/dalil-10-muharram-sebagai-lebaran-anak.html' title='Dalil 10 Muharram sebagai Lebaran Anak Yatim'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-162994612811425674</id><published>2011-11-27T20:34:00.001+07:00</published><updated>2011-11-27T20:41:24.310+07:00</updated><title type='text'>Keutamaan Puasa di Hari Asyura (10 Muharram)</title><content type='html'>&lt;i&gt;Oleh: Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Di dalam kitab beliau Riyadhus Shalihin, Al-Imam An-Nawawi -rahimahullah- membawakan tiga buah hadits yang berkenaan dengan puasa sunnah pada bulan Muharram, yaitu puasa hari Asyura / Asyuro (10 Muharram) dan Tasu’a (9 Muharram)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="more-678"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hadits yang Pertama&lt;br /&gt;عن ابن عباس رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ أن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم صام يوم عاشوراء وأمر بصيامه. مُتَّفّقٌ عَلَيهِ&lt;br /&gt;Dari Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhuma-, “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa padanya”. (Muttafaqun ‘Alaihi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits yang Kedua&lt;br /&gt;عن أبي قتادة رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ أن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم سئل عن صيام يوم عاشوراء فقال: ((يكفر السنة الماضية)) رَوَاهُ مُسلِمٌ.&lt;br /&gt;Dari Abu Qatadah -radhiyallahu ‘anhu-, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa hari ‘Asyura. Beliau menjawab, “(Puasa tersebut) Menghapuskan dosa satu tahun yang lalu”. (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits yang Ketiga&lt;br /&gt;وعن ابن عباس رَضِيَ اللَّهُ عَنهُما قال، قال رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم: ((لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع)) رَوَاهُ مُسلِمٌ.&lt;br /&gt;Dari Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhuma- beliau berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila (usia)ku sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada (hari) kesembilan” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa pada hari ‘Asyura, beliau menjawab, ‘Menghapuskan dosa setahun yang lalu’, ini pahalanya lebih sedikit daripada puasa Arafah (yakni menghapuskan dosa setahun sebelum serta sesudahnya –pent). Bersamaan dengan hal tersebut, selayaknya seorang berpuasa ‘Asyura (10 Muharram) disertai dengan (sebelumnya, ed.) Tasu’a (9 Muharram). Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Apabila (usia)ku sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada yang kesembilan’, maksudnya berpuasa pula pada hari Tasu’a.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Penjelasan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk berpuasa pada hari sebelum maupun setelah ‘Asyura [1] dalam rangka menyelisihi orang-orang Yahudi karena hari ‘Asyura –yaitu 10 Muharram- adalah hari di mana Allah selamatkan Musa dan kaumnya, dan menenggelamkan Fir’aun dan para pengikutnya. Dahulu orang-orang Yahudi berpuasa pada hari tersebut sebagai syukur mereka kepada Allah atas nikmat yang agung tersebut. Allah telah memenangkan tentara-tentaranya dan mengalahkan tentara-tentara syaithan, menyelamatkan Musa dan kaumnya serta membinasakan Fir’aun dan para pengikutnya. Ini merupakan nikmat yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tinggal di Madinah, beliau melihat bahwa orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura [2]. Beliau pun bertanya kepada mereka tentang hal tersebut. Maka orang-orang Yahudi tersebut menjawab, “Hari ini adalah hari di mana Allah telah menyelamatkan Musa dan kaumnya, serta celakanya Fir’aun serta pengikutnya. Maka dari itu kami berpuasa sebagai rasa syukur kepada Allah”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa Rasulullah mengucapkan hal tersebut? Karena Nabi dan orang–orang yang bersama beliau adalah orang-orang yang lebih berhak terhadap para nabi yang terdahulu. Allah berfirman,&lt;br /&gt;إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang yang paling berhak dengan Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya dan nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman, dan Allah-lah pelindung semua orang-orang yang beriman”. (Ali Imran: 68)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling berhak terhadap Nabi Musa daripada orang-orang Yahudi tersebut, dikarenakan mereka kafir terhadap Nabi Musa, Nabi Isa dan Muhammad. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa ‘Asyura dan memerintahkan manusia untuk berpuasa pula pada hari tersebut. Beliau juga memerintahkan untuk menyelisihi Yahudi yang hanya berpuasa pada hari ‘Asyura, dengan berpuasa pada hari kesembilan atau hari kesebelas beriringan dengan puasa pada hari kesepuluh (’Asyura), atau ketiga-tiganya. [3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu sebagian ulama seperti Ibnul Qayyim dan yang selain beliau menyebutkan bahwa puasa ‘Asyura terbagi menjadi tiga keadaan:&lt;br /&gt;1. Berpuasa pada hari ‘Asyura dan Tasu’ah (9 Muharram), ini yang paling afdhal.&lt;br /&gt;2. Berpuasa pada hari ‘Asyura dan tanggal 11 Muharram, ini kurang pahalanya daripada yang pertama. [4]&lt;br /&gt;3. Berpuasa pada hari ‘Asyura saja, sebagian ulama memakruhkannya karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk menyelisihi Yahudi, namun sebagian ulama yang lain memberi keringanan (tidak menganggapnya makhruh). [5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a’lam bish shawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sumber: Syarh Riyadhis Shalihin karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin terbitan Darus Salam – Mesir, diterjemahkan Abu Umar Urwah Al-Bankawy, muraja’ah dan catatan kaki: Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Rifai)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CATATAN KAKI:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Adapun hadits yang menyebutkan perintah untuk berpuasa setelahnya (11 Asyura’) adalah dha’if (lemah). Hadits tersebut berbunyi:&lt;br /&gt;صوموا يوم عاشوراء و خالفوا فيه اليهود صوموا قبله يوما و بعده يوما . -&lt;br /&gt;“Puasalah kalian hari ‘Asyura dan selisihilah orang-orang yahudi padanya (maka) puasalah sehari sebelumnya dan sehari setelahnya. (HR. Ahmad dan Al Baihaqy. Didhaifkan oleh As Syaikh Al-Albany di Dha’iful Jami’ hadits no. 3506)&lt;br /&gt;Dan berkata As Syaikh Al Albany – Rahimahullah- di Silsilah Ad Dha’ifah Wal Maudhu’ah IX/288 No. Hadits 4297: Penyebutan sehari setelahnya (hari ke sebelas. pent) adalah mungkar, menyelisihi hadits Ibnu Abbas yang shahih dengan lafadz:&lt;br /&gt;“لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع” .&lt;br /&gt;“Jika aku hidup sampai tahun depan tentu aku akan puasa hari kesembilan”&lt;br /&gt;Lihat juga kitab Zaadul Ma’ad 2/66 cet. Muassasah Ar-Risalah Th. 1423 H. dengan tahqiq Syu’aib Al Arnauth dan Abdul Qadir Al Arna’uth.&lt;br /&gt;لئن بقيت لآمرن بصيام يوم قبله أو يوم بعده . يوم عاشوراء) .-&lt;br /&gt;“Kalau aku masih hidup niscaya aku perintahkan puasa sehari sebelumnya (hari Asyura) atau sehari sesudahnya” ((HR. Al Baihaqy, Berkata Al Albany di As-Silsilah Ad-Dha’ifah Wal Maudhu’ah IX/288 No. Hadits 4297: Ini adalah hadits mungkar dengan lafadz lengkap tersebut.))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Padanya terdapat dalil yang menunjukkan bahwa penetapan waktu pada umat terdahulu pun menggunakan bulan-bulan qamariyyah (Muharram s/d Dzulhijjah, Pent.) bukan dengan bulan-bulan ala Eropa (Jan s/d Des). Karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan bahwa hari ke sepuluh dari Muharram adalah hari di mana Allah membinasakan Fir’aun dan pengikutnya dan menyelamatkan Musa dan pengikutnya. (Syarhul Mumthi’ VI.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Untuk puasa di hari kesebelas haditsnya adalah dha’if (lihat no. 1) maka – Wallaahu a’lam – cukup puasa hari ke 9 bersama hari ke 10 (ini yang afdhal) atau ke 10 saja.&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Salim Bin Ied Al Hilaly mengatakan bahwa, “Sebagian ahlu ilmu berpendapat bahwa menyelisihi orang Yahudi terjadi dengan puasa sebelumnya atau sesudahnya. Mereka berdalil dengan hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam,&lt;br /&gt;صوموا يوم عاشوراء و خالفوا فيه اليهود صوموا قبله يوما أو بعده يوما .&lt;br /&gt;“Puasalah kalian hari ‘Asyura dan selisihilah orang-orang Yahudi padanya (maka) puasalah sehari sebelumnya atau sehari setelahnya”.&lt;br /&gt;Ini adalah pendapat yang lemah, karena bersandar dengan hadits yang lemah tersebut yang pada sanadnya terdapat Ibnu Abi Laila dan ia adalah jelek hafalannya.” (Bahjatun Nadhirin Syarah Riyadhus Shalihin II/385. cet. IV. Th. 1423 H Dar Ibnu Jauzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] (lihat no. 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] Asy-Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah mengatakan,&lt;br /&gt;والراجح أنه لا يكره إفراد عاشوراء. &lt;br /&gt;Dan yang rajih adalah bahwa tidak dimakruhkan berpuasa ‘Asyura saja. (Syarhul Mumthi’ VI)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallaahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-162994612811425674?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/162994612811425674/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/keutamaan-puasa-di-hari-asyura-10.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/162994612811425674'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/162994612811425674'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/keutamaan-puasa-di-hari-asyura-10.html' title='Keutamaan Puasa di Hari Asyura (10 Muharram)'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-1065157748925053470</id><published>2011-11-27T14:12:00.001+07:00</published><updated>2011-11-27T14:17:17.696+07:00</updated><title type='text'>Kematian dan Persiapan Menghadapinya (Bagian ke-2)</title><content type='html'>&lt;span class="postedby"&gt;Oleh: &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/author/lkmt/" title="Profil dari Tim Kajian Manhaj Tarbiyah"&gt;Tim Kajian Manhaj Tarbiyah&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr align="left" color="#eeeeee" noshade="noshade" size="1px" /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2010/01/5232/kematian-dan-persiapan-menghadapinya-bagian-ke-2/email/" rel="nofollow" title="Kirim"&gt;&lt;img alt="Kirim" class="WP-EmailIcon" src="http://www.dakwatuna.com/wp-content/plugins/wp-email/images/email_famfamfam.png" style="border: 0px none;" title="Kirim" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2010/01/5232/kematian-dan-persiapan-menghadapinya-bagian-ke-2/print/" rel="nofollow" title="Print"&gt;&lt;img alt="Print" class="WP-PrintIcon" src="http://www.dakwatuna.com/wp-content/plugins/wp-print/images/printer_famfamfam.gif" style="border: 0px none;" title="Print" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="dd_print_text"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="dd_content_wrap"&gt;&lt;b&gt;KEADAAN MUKMIN DAN KAFIR KETIKA MATI&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Bagaimana keadaan mukmin dan kafir ketika mati?&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;dakwatuna.com – &lt;/b&gt;Rasulullah saw bersabda: &lt;i&gt;“Orang mukmin ketika&amp;nbsp; datang kematiannya –ia didatangi &lt;b&gt;al basyir&lt;/b&gt; (pembawa kabar gembira) dari Allah, maka tidak ada yang paling menyenangkan bagi orang mukmin ini dibandingkan berjumpa dengan Allah. Maka Allah akan senang menemuinya. Sesungguhnya orang fajir (pecandu dosa) atau orang kafir jika menghadapai kematian, akan datang padanya keburukan yang pernah diperbuatnya, atau menemui keburukan-keburukan lain. Sehingga ia enggan berjumpa dengan Allah, dan Allah enggan menemuinya.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika orang beriman menghadapi kematian akan turun Malaikat rahmat yang menenangkannya, memberikan kabar gembira ridha Allah, Allah bukakan baginya pintu-pintu surga. Ia melihat nikmat dan kemewahannya, sehingga lapang dadanya dan senang berjumpa dengan Rabbnya. Firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang Telah dijanjikan Allah kepadamu”. &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.” &lt;/i&gt;(Fushshilat: 30-31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan orang yang enggan, maka mereka tersiksa dengan kematiannya, dan dipaksa menemui Rabbnya. Firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar”, (tentulah kamu akan merasa ngeri).”&lt;/i&gt; (Al-Anfal: 50)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;DATANG MENDADAK&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Ada di antara orang yang berkata: “Nanti saya akan bertaubat” &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Orang yang belum tepat Islamnya, orang yang belum tepat memahami kematian. Apakah pernah ada kesepakatan dengan kematian, sehingga ia tidak mati kecuali setelah bertaubat? Apakah ada seseorang di muka bumi ini meyakini dengan pasti bahwa ia akan hidup sampai esok hari? Atau orang yang mengatakan demikian telah membuat janji demikian di hadapan Allah. Firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Sesungguhnya Allah, Hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok&lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2010/01/5232/kematian-dan-persiapan-menghadapinya-bagian-ke-2/#_ftn1"&gt;&lt;b&gt;[1]&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” &lt;/i&gt;(Luqman: 34)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah kematian ada di tangan Allah. Tidak ada seorangpun yang tahu kapan kematian itu akan datang menghampirinya. Maka orang yang berfikir akan bersegera mengerjakan amal shalih sebelum kematian mendahuluinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;RINGKASAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Mati dan hidup ada di tangan Allah. Pencipta mati dan hidup, bukan di tangan berhala atau kehendak alam, yang tidak memiliki bagi dirinya sendiri hidup dan mati. Mati atau perpindahan dari ruang amal menuju ke ruang pembalasan. Kematian adalah keharusan bagi setiap manusia, tiada tempat berlari darinya, maka wajib mempersiapkan diri untuk pasca kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Catatan&lt;/i&gt;:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2010/01/5232/kematian-dan-persiapan-menghadapinya-bagian-ke-2/#_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Maksudnya: manusia itu tidak dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya besok atau yang akan diperolehnya, namun demikian mereka diwajibkan berusaha.&lt;br /&gt;&lt;i&gt; — Tamat&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: medium none; color: black; overflow: hidden; text-align: left; text-decoration: none;"&gt;&lt;br /&gt;Sumber:  &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2010/01/5232/kematian-dan-persiapan-menghadapinya-bagian-ke-2/#ixzz1ewkWARWa" style="color: #003399;"&gt;http://www.dakwatuna.com/2010/01/5232/kematian-dan-persiapan-menghadapinya-bagian-ke-2/#ixzz1ewkWARWa&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-1065157748925053470?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/1065157748925053470/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/kematian-dan-persiapan-menghadapinya_27.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/1065157748925053470'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/1065157748925053470'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/kematian-dan-persiapan-menghadapinya_27.html' title='Kematian dan Persiapan Menghadapinya (Bagian ke-2)'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-6348940139073278468</id><published>2011-11-27T14:09:00.001+07:00</published><updated>2011-11-27T14:11:43.107+07:00</updated><title type='text'>Kematian dan Persiapan Menghadapinya (Bagian ke-1)</title><content type='html'>&lt;span class="postedby"&gt;Oleh: &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/author/lkmt/" title="Profil dari Tim Kajian Manhaj Tarbiyah"&gt;Tim Kajian Manhaj Tarbiyah&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr align="left" color="#eeeeee" noshade="noshade" size="1px" /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2009/12/5219/kematian-dan-persiapan-menghadapinya-bagian-ke-1/email/" rel="nofollow" title="Kirim"&gt;&lt;img alt="Kirim" class="WP-EmailIcon" src="http://www.dakwatuna.com/wp-content/plugins/wp-email/images/email_famfamfam.png" style="border: 0px none;" title="Kirim" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2009/12/5219/kematian-dan-persiapan-menghadapinya-bagian-ke-1/print/" rel="nofollow" title="Print"&gt;&lt;img alt="Print" class="WP-PrintIcon" src="http://www.dakwatuna.com/wp-content/plugins/wp-print/images/printer_famfamfam.gif" style="border: 0px none;" title="Print" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="dd_content_wrap"&gt;&lt;a href="http://www.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2009/12/ziarah2.jpg?c13ed3" rel="shadowbox[sbpost-5219];player=img;" title="ziarah2"&gt;&lt;img alt="" class="alignright size-full wp-image-5221" height="200" src="http://www.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2009/12/ziarah2.jpg" style="float: right; margin: 5px;" title="ziarah2" width="250" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;HIDUP DAN MATI&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Apa perbedaan mati dan hidup?&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;dakwatuna.com – &lt;/b&gt;Orang mati tidak lagi makan, minum, mendengar, mengenal, berfikir, tidak merasa apa yang ada menurut pandanan kita, tidak berkembang, tidak bernafas, tidak menikah, tidak melahirkan anak. Orang hidup sebaliknya.&lt;br /&gt;Maka renungkanlah dengan baik. Bagaimana makanan yang mati dan beku itu berubah menjadi kehidupan. Terjadi setiap hari di tubuh kita. Perhatikan tanganmu yang dahulu kecil, kemudian dengan makanan yang sudah mati itu semakin bertambah besar, sehinggga menjadi tangan yang hidup. Lalu bandingkan dengan tangan mayit, yang dahulu aktif dan hidup, tiba-tiba menjadi kaku dan mati.&lt;br /&gt;Maka siapakah yang memberikan kehidupan pada benda-benda mati? Dan siapakah yang memutuskan kematian pada makhluk hidup?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhala-berhala mati, tidak memiliki kematian atau kehidupan.&lt;br /&gt;Alam mati, tidak memiliki kematian dan kehidupan, akal atau pengelolaan.&lt;br /&gt;Sesungguhnya semua yang hidup akan dipaksa mati. Dia harus mati. Karena kematian dan kehidupan tidak ada di tangannya, akan tetapi ada di tangan Allah. Pemilik segala sesuatu. Melakukan apa yang diinginkan. Firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi, dia menghidupkan dan mematikan, dan dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” &lt;/i&gt;(Al Hadidi: 2)&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Dan dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan dialah yang (mengatur) pertukaran malam dan siang. Maka apakah kamu tidak memahaminya?” &lt;/i&gt;(Al-Mukminun: 80).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;MATI SETELAH HIDUP&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Mengapa kita mati?&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya hanya Allah yang menghidupkan kita dan mematikan kita. Allah swt telah memberitahukan kepada kita bahwa hikmah dari kematian adalah perpindahan dari &lt;b&gt;&lt;i&gt;darul amal&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (rumah kerja) menuju &lt;b&gt;&lt;i&gt;darul jaza’&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (rumah balasan), setiap orang mendapatkan balasan dari apa yang pernah dikerjakan. Firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia Telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”&lt;/i&gt; (Ali Imran: 185)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;TIDAK ADA TEMPAT BERLARI DARINYA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Adakah tempat berlari dari kematian?&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Aneh sekali orang yang tidak meyakini kematian, padahal ia menyaksikan orang-orang mati. Kematian itu tidak ada seorangpun di muka bumi ini yang mengingkarinya. Akan tetapi banyak orang yang menolak dirinya mengenang kematian itu, bersiap menghadapi pasca kematian. Mereka berlari dari mengingatnya padahal mereka akan menemuinya, menjauhkan diri darinya padahal kematian itu mendatanginya. Firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, Maka Sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, Kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu dia beritakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan.” &lt;/i&gt;(Al-Jumu’ah: 8 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;KEPUTUSAN YANG DITUNDA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Apakah kematian itu ada di tangan manusia?&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya jelas. Sesungguhnya hidup itu tidak ada di tangan manusia, jika tidak demikian maka setiap orang yang mati akan menghidupkan dirinya sendiri. Demikian juga kematian tidak ada di tangan manusia. Jika ada di tangan manusia maka tidak ada seorangpun di muka bumi ini yang mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Lalu ada di tangan siapa?&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kematian ada di tangan Yang telah menghidupkan dan menciptakan manusia. Di tangan Allah swt. Anda akan melihat ketentuan umum yang berlaku pada sunnatul maut wal hayat (mati dan hidup). Pada waktu kurang dari seratus tahun kita umumnya sudah mati, sebagaimana sebelum seratus tahun yang lalu kita belum ada di dunia. Demikianlah orang-orang sebelum kita, meski dengan perbedaan umur dan bilangan tahun….&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu. Maka apabila Telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” &lt;/i&gt; (Al-A’raf: 34)&lt;br /&gt;Masing-maing kita akan hidup terbatas, ditentukan dengan ilmu Allah swt. Dan peran kita di dunia ini juga sudah jelas sesuai dengan ketentuan umum. Masing-masing kita memiliki ajal terbatas. Jika telah datang tidak bisa ditunda. Betapa banyak orang yang dalam keadaan sehat wal afiat, dengan mendadak berpindah ke sisi Rabbnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditunjukkan kepadanya sebab yang paling kecil, bagi kematiannya. Firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Sesungguhnya ketetapan Allah apabila Telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu Mengetahui.”&lt;/i&gt; (Nuh: 4)&lt;br /&gt;Sebaliknya betapa banyak orang yang mengalami sakit yang sangat berbahaya, mengalami luka yang berat, atau tercabik-cabik oleh senjata perang, atau penyakit berat lainnya. Betapa banyak orang yang menghadapi serangan tepat dan mematikan, atau situasi yang membinasakan, akan tetapi mereka tetap hidup, tidak mati. Hal ini karena ajalnya belum sampai. Firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang Telah ditentukan waktunya.” &lt;/i&gt;(Ali Imran: 145)&lt;br /&gt;&lt;i&gt;- bersambung&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: medium none; color: black; overflow: hidden; text-align: left; text-decoration: none;"&gt;&lt;br /&gt;Sumber:  &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2009/12/5219/kematian-dan-persiapan-menghadapinya-bagian-ke-1/#ixzz1ewjK9927" style="color: #003399;"&gt;http://www.dakwatuna.com/2009/12/5219/kematian-dan-persiapan-menghadapinya-bagian-ke-1/#ixzz1ewjK9927&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-6348940139073278468?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/6348940139073278468/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/kematian-dan-persiapan-menghadapinya.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/6348940139073278468'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/6348940139073278468'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/kematian-dan-persiapan-menghadapinya.html' title='Kematian dan Persiapan Menghadapinya (Bagian ke-1)'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-3883009823714283820</id><published>2011-11-26T09:45:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T09:48:37.877+07:00</updated><title type='text'>Mu'min Rindu Kampung Halaman Sejati</title><content type='html'>&lt;div id="isi"&gt;&lt;img alt="" src="http://a.cdn.tendaweb.com/fckfiles/image/suara-langit/kunci-surga.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah saudara bahwa ketika seorang Mu’min telah lulus menyelesaikan segenap rangkaian pemeriksaan atas dirinya di &lt;i&gt;yaumul hisab&lt;/i&gt; (hari perhitungan amal), maka barulah ia diizinkan Allah memasuki &lt;i&gt;Al-Jannah&lt;/i&gt; (surga), negeri keabadian penuh kebahagiaan hakiki? Ia tidak diizinkan memasuki surga bilamana terbukti ia masih mempunyai permasalahan dengan sesama manusia, walaupun dengan Allah &lt;i&gt;Ta’aala &lt;/i&gt;ia tidak lagi punya masalah apa-apa. Segenap dosanya yang bersifat &lt;i&gt;hablun minallah &lt;/i&gt;telah diampuni Allah &lt;i&gt;Ta’aala&lt;/i&gt;. Namun karena ia masih memiliki masalah &lt;i&gt;hablun minannaas &lt;/i&gt;dengan sesama manusia, maka ia ditahan di suatu tempat dekat sekali dari &lt;i&gt;baabul-jannah &lt;/i&gt;(pintu surga) guna menyelesaikan berbagai perkara (melakukan rekonsiliasi) dengan sesama manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam &lt;/i&gt;menggambarkannya sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;div class="ArabCenter"&gt;عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُعَلَيْهِ وَسَلَّمَيَخْلُصُ الْمُؤْمِنُونَيَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ النَّارِفَيُحْبَسُونَ عَلَى قَنْطَرَةٍبَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِفَيُقْتَصُّ لِبَعْضِهِمْ مِنْبَعْضٍ مَظَالِمُكَانَتْ بَيْنَهُمْفِي الدُّنْيَا حَتَّى إِذَاهُذِّبُوا وَنُقُّوا أُذِنَ لَهُمْفِي دُخُولِ الْجَنَّةِفَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِلَأَحَدُهُمْ أَهْدَى لِمَنْزِلِهِفِي الْجَنَّةِ مِنْهُ بِمَنْزِلِهِكَانَ فِي الدُّنْيَا&lt;/div&gt;&lt;i&gt;D&lt;/i&gt;&lt;i&gt;ari Abu Sa'id Al Khudri ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Orang-orang yang beriman pada hari Kiamat selamat dari neraka, lalu mereka ditahan di jembatan antara surga dan neraka, lalu sebagian akan diqishas atas sebagian yang lain karena kezhaliman mereka waktu di dunia, sehingga setelah mereka dibersihkan dan telah suci,&lt;/i&gt;&lt;i&gt; maka barulah&lt;/i&gt;&lt;i&gt; mereka diizinkan memasuki surga. Demi Dzat yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya, seseorang di antara mereka lebih mengetahui rumahnya di surga dari pada rumahnya di dunia."&lt;/i&gt; (HR. Ahmad No. 10673)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits di atas Nabi &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt; menggunakan istilah &lt;u&gt;"ditahan di jembatan antara surga dan neraka"&lt;/u&gt; untuk menggambarkan masih menggantungnya masalah orang-orang beriman yang belum berhak masuk surga karena masih adanya problema antara dirinya dengan manusia lainnya yang pernah ia zalimi. Perbuatan menzalimi manusia lain merupakan perbuatan tercela yang sangat dibenci Allah &lt;i&gt;Ta’aala&lt;/i&gt;. Dalam sebuah hadits Qudsi dikatakan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;div class="ArabCenter"&gt;إِنِّي حَرَّمْتُ عَلَى نَفْسِيالظُّلْمَ وَعَلَى عِبَادِيأَلَا فَلَا تَظَالَمُوا&lt;/div&gt;&lt;i&gt;Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda bahwa Allah berfirman, “Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku mengharamkannya pula atas kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.” &lt;/i&gt;(HR. Ahmad No. 20451)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surga merupakan tempat yang hanya berhak dimasuki oleh hamba-hamba Allah &lt;i&gt;Ta’aala&lt;/i&gt; yang benar-benar telah bersih dari segenap dosa, baik dosa kepada Allah &lt;i&gt;Ta’aala&lt;/i&gt; maupun dosa kepada sesama hamba Allah. Oleh karenanya, seorang muslim senantiasa mendambakan dan mengharapkan ampunan Allah &lt;i&gt;Ta’aala&lt;/i&gt; sebab ia tahu bahwa jika dirinya masih mempunyai dosa niscaya ia tidak berhak memasuki surga. Dan oleh karenanya seorang muslim sangat khawatir bila dirinya terlibat dalam sebuah perbuatan menzalimi manusia lain, sebab ia tahu bahwa mengharapkan maaf dari sesama manusia seringkali lebih sulit daripada mengharapkan ampunan Allah &lt;i&gt;Ta’aala&lt;/i&gt; yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka di dalam hadits di atas Nabi &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt; menyatakan “...&lt;i&gt;lalu sebagian akan diqishas atas sebagian yang lain karena kezhaliman mereka waktu di dunia...”&lt;/i&gt; dan ini merupakan suatu keharusan agar si muslim yang sempat berlaku zalim dapat menjadi bersih dari dosa tersebut sehingga layak memasuki surga. Sebab surga hanya menerima mereka yang bersih dan suka membersihkan diri. Oleh karenanya Nabi &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt; selanjutnya berkata, “...&lt;i&gt;maka barulah &lt;/i&gt;&lt;i&gt;mereka diizinkan memasuki surga.&lt;/i&gt;&lt;i&gt;”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu terakhir Nabi &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt; menyatakan bahwa “&lt;i&gt;Demi Dzat yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya, seseorang di antara mereka lebih mengetahui rumahnya di surga dari pada rumahnya di dunia."&lt;/i&gt; Si mukmin kemudian berhak memasuki surga Allah &lt;i&gt;Ta’aala&lt;/i&gt; dan Nabi&lt;i&gt; shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt; menggambarkan bahwa ketika si mukmin menginjakkan kakinya ke dalam surga tiba-tiba kakinya membawa tubuhnya melangkah menuju kediamannya di surga lebih mengetahui, mantap dan yakin daripada ia melangkahkan kakinya pulang ke rumahnya sewaktu hidup di dunia. &lt;i&gt;Subhanallah.&lt;/i&gt;..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, saudaraku, surga memang benar-benar kampung halaman sejati orang-orang beriman. Sebab Nabi &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt; sampai perlu bersumpah demi Allah &lt;i&gt;Ta’aala&lt;/i&gt; Dzat yang jiwanya berada di dalam genggamanNya, ketika menggambarkan hal tersebut. Sewaktu di dunia seseorang setelah pulang dari dinas luar kota tentu sangat rindu pulang ke rumahnya agar berkumpul dengan anak dan istrinya. Boleh jadi kerinduannya sedemikian rupa malah menyebabkan dirinya sampai kehilangan arah alias tersesat pulang ke rumahnya sendiri. Hal ini tidak bakal terjadi ketika seorang mu’min memasuki pintu surga lalu melangkahkan kakinya menuju rumah sejatinya, kampung halaman sejatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh bahagianya bila seseorang dapat memasuki pintu surga lalu berkumpul kembali bersama keluarganya dan anak-keturunannya di kampung halaman sejati orang-orang beriman.&lt;br /&gt;Allah &lt;i&gt;Ta’aala&lt;/i&gt; berfirman di dalam Kitabullah Al-Qur’anul Karim:&lt;br /&gt;&lt;div class="ArabCenter"&gt;وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍأَلْحَقْنَا بِهِمْذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْعَمَلِهِمْمِنْ شَيْءٍكُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ&lt;/div&gt;“&lt;i&gt;Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan anak cucu mereka dengan mereka (di dalam surga), dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.&lt;/i&gt;” (QS. Ath-Thuur [52] : 21).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah &lt;i&gt;Ta’aala &lt;/i&gt;berfirman di dalam Kitabullah Al-Qur’anul Karim:&lt;br /&gt;&lt;div class="ArabCenter"&gt;وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَغَيْرَبَعِيدٍهَذَا مَا تُوعَدُونَلِكُلِّ أَوَّابٍحَفِيظٍمَنْ خَشِيَ الرَّحْمَنَبِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُنِيبٍادْخُلُوهَا بِسَلامٍذَلِكَ يَوْمُ الْخُلُودِ&lt;/div&gt;&lt;i&gt;Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya). (Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertobat, masukilah surga itu dengan aman, itulah hari kekekalan.&lt;/i&gt; (QS. Qaaf [50] : 32-34 )&lt;br /&gt;Ya Allah, masukkanlah kami beserta keluarga dan anak-cucu kami ke dalam RahmatMu dan SurgaMu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&amp;nbsp; &lt;a href="http://www.eramuslim.com/suara-langit/kehidupan-sejati/mu-min-rindu-kampung-halaman-sejati.htm"&gt;http://www.eramuslim.com/suara-langit/kehidupan-sejati/mu-min-rindu-kampung-halaman-sejati.htm&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-3883009823714283820?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/3883009823714283820/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/mumin-rindu-kampung-halaman-sejati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/3883009823714283820'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/3883009823714283820'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/mumin-rindu-kampung-halaman-sejati.html' title='Mu&apos;min Rindu Kampung Halaman Sejati'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-411254960754715218</id><published>2011-11-26T09:40:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T09:42:57.098+07:00</updated><title type='text'>Doa Tolak Musibah Yang Datang Secara Tiba-Tiba</title><content type='html'>&lt;div id="isi"&gt;&lt;img alt="" src="http://ustadchandra.files.wordpress.com/2010/01/doa-anak1.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika putera sahabat Utsman bin Affan &lt;i&gt;radhiyallahu ’anhu&lt;/i&gt; bernama Aban bin Ustman &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; meriwayatkan sebuah hadits Nabi Muhammad &lt;i&gt;shollallahu ’alaih wa sallam&lt;/i&gt; yang di dalamnya terdapat doa untuk memohon perlindungan Allah Ta’ala agar tidak tertimpa musibah yang datang secara mengejutkan. Doa tersebut berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;div class="ArabCenter"&gt;بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ&lt;/div&gt;&lt;div class="ArabCenter"&gt;فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ&lt;/div&gt;&lt;i&gt;'BISMILLAAHIL LADZII LAA YADLURRU MA'AS MIHI SYAI'UN FIL ARDLI WALA FIS SAMAA'WAHUWAS SAMII'UL 'ALIIM' (dengan nama Allah, dengan nama-Nya tidak akan berbahaya sesuatu yang ada di bumi maupun yang ada di langit, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi &lt;i&gt;shollallahu ’alaih wa sallam&lt;/i&gt; menganjurkan agar doa tersebut dibaca sebanyak tiga kali di waktu pagi dan tiga kali di waktu sore. Barangsiapa membacanya dengan rajin seperti itu, Nabi&lt;i&gt; shollallahu ’alaih wa sallam&lt;/i&gt; menjanjikan bahwa orang itu tidak akan terkena musibah yang datang secara tiba-tiba. Bacaan di waktu pagi akan melindunginya hingga sore tiba, sedangkan bacaan di waktu sore akan melindunginya hingga pagi tiba. Lengkap haditsnya berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;div class="ArabCenter"&gt;عَنْ أَبَانَ بْنِ عُثْمَانَ عَنْ عُثْمَانَ أَنَّ&lt;/div&gt;&lt;div class="ArabCenter"&gt;النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ&lt;/div&gt;&lt;div class="ArabCenter"&gt;مَنْ قَالَ بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ&lt;/div&gt;&lt;div class="ArabCenter"&gt;فِي الْأَرْضِوَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ&lt;/div&gt;&lt;div class="ArabCenter"&gt;ثَلَاثَ مَرَّاتٍ لَمْ تَفْجَأْهُفَاجِئَةُ بَلَاءٍ حَتَّى اللَّيْلِ وَمَنْ قَالَهَا&lt;/div&gt;&lt;div class="ArabCenter"&gt;حِينَ يُمْسِيلَمْ تَفْجَأْهُ فَاجِئَةُ بَلَاءٍ حَتَّى يُصْبِحَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ&lt;/div&gt;&lt;i&gt;(AHMAD - 497) : Dari Aban Bin Utsman dari Utsman bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa membaca 'BISMILLAAHIL LADZII LAA YADLURRU MA'AS MIHI SYAI'UN FIL ARDLI WALA FIS SAMAA'WAHUWAS SAMII'UL 'ALIIM' (dengan nama Allah, dengan nama-Nya tidak akan berbahaya sesuatu yang ada di bumi maupun yang ada di langit, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui) sebanyak tiga kali, maka tidak akan ditimpa musibah mengejutkan hingga malam hari, dan barangsiapa membacanya di waktu sore maka tidak akan ditimpa musibah mengejutkan hingga pagi hari jika Allah menghendaki."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img alt="" height="380" src="http://i253.photobucket.com/albums/hh80/deblong_17/kaligrafi.jpg" width="400" /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya tidak seorangpun ingin dirinya tertimpa musibah. Dan umumnya musibah datang secara tiba-tiba. Oleh karenanya doa ini menjadi sangat relevan dan penting bagi kehidupan kita. Maka sudah sepatutnya kita menjalankan nasihat mulia Nabi Muhammad &lt;i&gt;shollallahu ’alaih wa sallam &lt;/i&gt;ini. Karena ia tidak saja kita butuhkan, tetapi dengan mengamalkannya berarti kita turut menegakkan salah satu sunnah Nabi&lt;i&gt; shollallahu ’alaih wa sallam&lt;/i&gt; yang banyak ditinggalkan kaum muslimin dewasa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uniknya hadits ini dikuatkan oleh hadits lainnya yang menjelaskan bahwa suatu ketika Aban bin Ustman sendiri pernah terkena suatu musibah mendadak dalam perjalanan hidupnya. Sehingga ketika ia dikunjungi oleh muslim lainnya mereka terheran—heran mengapa ia sampai bisa mengalami musibah mendadak padahal ia pula yang meriwayatkan hadits tentang doa menolak musibah mendadak. Maka Aban bin Ustman dengan jujur mengakui bahwa pada hari itu ia terlupa membaca doa tersebut. &lt;i&gt;Subhanallah&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;div class="ArabCenter"&gt;أَبَانَ بْنَ عُثْمَانَ يَقُولُ سَمِعْتُ عُثْمَانَ يَعْنِي ابْنَ عَفَّانَ يَقُولُ&lt;/div&gt;&lt;div class="ArabCenter"&gt;سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ قَالَ&lt;/div&gt;&lt;div class="ArabCenter"&gt;بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ&lt;/div&gt;&lt;div class="ArabCenter"&gt;وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ لَمْ تُصِبْهُ&lt;/div&gt;&lt;div class="ArabCenter"&gt;فَجْأَةُ بَلَاءٍ حَتَّى يُصْبِحَ وَمَنْ قَالَهَا حِينَ يُصْبِحُ ثَلَاثُ مَرَّاتٍ&lt;/div&gt;&lt;div class="ArabCenter"&gt;لَمْ تُصِبْهُ فَجْأَةُ بَلَاءٍ حَتَّى يُمْسِيَ و قَالَ فَأَصَابَ أَبَانَ بْنَ عُثْمَانَ&lt;/div&gt;&lt;div class="ArabCenter"&gt;الْفَالِجُ فَجَعَلَ الرَّجُلُ الَّذِي سَمِعَ مِنْهُ الْحَدِيثَ يَنْظُرُ إِلَيْهِ&lt;/div&gt;&lt;div class="ArabCenter"&gt;فَقَالَ لَهُ مَا لَكَ تَنْظُرُ إِلَيَّ فَوَاللَّهِ مَا كَذَبْتُ عَلَى عُثْمَانَ&lt;/div&gt;&lt;div class="ArabCenter"&gt;وَلَا كَذَبَ عُثْمَانُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَكِنَّ&lt;/div&gt;&lt;div class="ArabCenter"&gt;الْيَوْمَ الَّذِي أَصَابَنِي فِيهِ مَا أَصَابَنِي غَضِبْتُ فَنَسِيتُ أَنْ أَقُولَهَا&lt;/div&gt;&lt;i&gt;(ABUDAUD - 4425) : Aban bin Utsman berkata: Aku mendengar Utsman -maksudnya Utsman bin Affan- berkata, "Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa mengucapkan: BISMILLAHILLADZI LAA YADLURRU MA'ASMIHI SYAI`UN FIL ARDLI WA LAA FIS SAMAA`I WA HUWAS SAMII'UL 'ALIIMU (dengan nama Allah yang tidak ada sesuatu pun di bumi dan di langit yang bisa memberikan bahaya. &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui) sebanyak tiga kali, maka ia tidak akan tertimpa musibah yang datang dengan tiba-tiba hingga pagi hari. Dan barangsiapa membacanya pada pagi hari sebanyak tiga kali, maka ia tidak akan tertimpa musibah yang datang dengan tiba-tiba hingga sore hari." Perawi berkata, "Lalu Aban tertimpa penyakit lumpuh, hingga orang yang mendengar hadits darinya melihat kepadanya (Aban), maka Aban pun berkata, "Kenapa kamu melihat aku? Demi Allah, aku tidak berbohong atas nama Utsman, dan Utsman tidak berbohong atas nama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Tetapi pada hari ketika aku tertimpa penyakit ini, aku sedang marah hingga aku lupa membacanya."&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber&amp;nbsp; :&amp;nbsp; &lt;a href="http://www.eramuslim.com/suara-langit/ringan-berbobot/doa-tolak-musibah-yang-datang-secara-tiba-tiba.htm"&gt;http://www.eramuslim.com/suara-langit/ringan-berbobot/doa-tolak-musibah-yang-datang-secara-tiba-tiba.htm&lt;/a&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-411254960754715218?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/411254960754715218/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/doa-tolak-musibah-yang-datang-secara.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/411254960754715218'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/411254960754715218'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/doa-tolak-musibah-yang-datang-secara.html' title='Doa Tolak Musibah Yang Datang Secara Tiba-Tiba'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-974154081129184112</id><published>2011-11-26T09:32:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T09:35:01.055+07:00</updated><title type='text'>Doa Berlindung dari Hilangnya Nikmat dan Kesehatan</title><content type='html'>&lt;img alt="doa nikmat" height="150" src="http://rumaysho.com/images/stories/rsz_moon1.jpg" style="float: left; margin: 7px;" width="200" /&gt;Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.&lt;br /&gt;Satu do'a lagi yang ringkas namun penuh makna dari kitab Riyadhus Sholihin An Nawawi, yaitu do'a berlindung dari hilangnya nikmat dan datangnya penyakit.&lt;br /&gt;Dari 'Abdullah bin 'Umar, dia berkata, "Di antara doa Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wa sallam &lt;/i&gt;adalah:&lt;br /&gt;&lt;div align="center" dir="rtl"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;“ALLOOHUMMA INNII A'UUDZU BIKA MIN ZAWAALI NI'MATIK, WA TAHAWWULI 'AAFIYATIK, WA FUJAA'ATI NIQMATIK, WA JAMII'I SAKHOTHIK” [Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya kenikmatan yang telah Engkau berikan, dari berubahnya kesehatan yang telah Engkau anugerahkan, dari siksa-Mu yang datang secara tiba-tiba, dan dari segala kemurkaan-Mu]. (HR. Muslim no. 2739)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Faedah dari hadits di atas:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;: Yang dimaksud nikmat di sini adalah nikmat Islam, Iman, anugerah ihsan (berbuat baik) dan kebajikan. Jadi dalam do’a ini kita berlindung dari hilangnya nikmat-nikmat tersebut. Makus hilangnya nikmat adalah nikmat tersebut hilang dan tanpa ada penggantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;: Yang dimaksud dengan berubahnya kesehatan (‘&lt;i&gt;afiyah&lt;/i&gt;) adalah nikmat sehat tersebut berubah menjadi sakit. Yang dimaksud dengan ‘&lt;i&gt;afiyah&lt;/i&gt; (sehat) di sini adalah berpindahnya nikmat ‘afiyah dari pendengaran, penglihatan dan anggota tubuh lainnya. Jadi do’a ini kita maksudkan meminta selalu kesehatan (tidak berubah menjadi penyakit) pada pendengaran, penglihatan dan anggota tubuh lainnya.&lt;br /&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;: Yang dimaksud &lt;i&gt;fuja’ah&lt;/i&gt; adalah datang tiba-tiba. Sedangkan “&lt;i&gt;niqmah&lt;/i&gt;” adalah siksa dan murka. Dalam do’a ini berarti kita berlindung pada Allah dari datangnya ‘adzab, siksa dan murka Allah yang tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Keempat&lt;/span&gt;: Dalam do’a ini, kita juga meminta pada Allah agar terlindung dari murka-Nya yaitu segala hal yang dapat mengantarkan pada murka Allah.&lt;br /&gt;Semoga do’a ini bisa kita amalkan dan mendapatkan berbagai anugerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Referensi&lt;/b&gt;: ‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, Al ‘Azhim Abadi, 4/283, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, Beirut, tahun 1415.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel &lt;a href="http://www.rumaysho.com/"&gt;www.rumaysho.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-974154081129184112?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/974154081129184112/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/doa-berlindung-dari-hilangnya-nikmat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/974154081129184112'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/974154081129184112'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/doa-berlindung-dari-hilangnya-nikmat.html' title='Doa Berlindung dari Hilangnya Nikmat dan Kesehatan'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-5287806536124194804</id><published>2011-11-26T09:16:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T09:18:25.217+07:00</updated><title type='text'>Kaya Hati, Itulah Kaya Senyatanya</title><content type='html'>&lt;img alt="rsz_harta" height="150" src="http://rumaysho.com/images/stories/rsz_harta.jpg" style="float: left; margin: 7px;" width="200" /&gt;&lt;br /&gt;Orang kaya pastikah selalu merasa cukup? Belum tentu. Betapa banyak orang kaya namun masih merasa kekurangan. Hatinya tidak merasa puas dengan apa yang diberi Sang Pemberi Rizki. Ia masih terus mencari-cari apa yang belum ia raih. Hatinya masih terasa hampa karena ada saja yang belum ia raih.&lt;br /&gt;Coba kita perhatikan nasehat suri tauladan kita. Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda,&lt;br /&gt;&lt;div align="center" dir="rtl"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;“&lt;i&gt;Kaya bukanlah diukur dengan&lt;/i&gt;&lt;i&gt; banyaknya kemewahan dunia. Namun &lt;/i&gt;&lt;i&gt;kaya&lt;/i&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;i&gt;(&lt;/i&gt;&lt;i&gt;ghina’&lt;/i&gt;&lt;i&gt;)&lt;/i&gt;&lt;i&gt; adalah hati&lt;/i&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;i&gt;yang selalu merasa cukup.&lt;/i&gt;” (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat Ibnu Hibban, Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; memberi nasehat berharga kepada sahabat Abu Dzar. Abu Dzar &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhu &lt;/i&gt;berkata,&lt;br /&gt;&lt;div align="center" dir="rtl"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;قَالَ لِي رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا أَبَا ذَرّ أَتَرَى كَثْرَة الْمَال هُوَ الْغِنَى ؟ قُلْت : نَعَمْ . قَالَ : وَتَرَى قِلَّة الْمَال هُوَ الْفَقْر ؟ قُلْت : نَعَمْ يَا رَسُول اللَّه . قَالَ : إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْب ، وَالْفَقْر فَقْر الْقَلْب&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;“&lt;i&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku, “Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang bahwa banyaknya harta itulah yang disebut kaya (ghoni)?” “Betul,” jawab Abu Dzar. Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta itu berarti fakir?” “Betul,” Abu Dzar menjawab dengan jawaban serupa. Lantas beliau pun bersabda, “Sesungguhnya yang namanya kaya (ghoni) adalah kayanya hati (hati yang selalu merasa cukup). Sedangkan fakir adalah fakirnya hati (hati yang selalu merasa tidak puas).&lt;/i&gt;” (HR. Ibnu Hibban. Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata bahwa sanad hadits ini &lt;i&gt;shahih&lt;/i&gt; sesuai&lt;i&gt; &lt;/i&gt;syarat Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah nasehat dari suri tauladan kita. Nasehat ini sungguh berharga. Dari sini seorang insan bisa menerungkan bahwa banyaknya harta dan kemewahan dunia bukanlah jalan untuk meraih kebahagiaan senyatanya. Orang kaya selalu merasa kurang puas. Jika diberi selembah gunung berupa emas, ia pun masih mencari lembah yang kedua, ketiga dan seterusnya. Oleh karena itu, kekayaan senyatanya adalah hati yang selalu merasa cukup dengan apa yang Allah beri. Itulah yang namanya qona’ah. Itulah yang disebut dengan &lt;i&gt;ghoni &lt;/i&gt;(kaya)&lt;i&gt; &lt;/i&gt;yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Baththol &lt;i&gt;rahimahullah &lt;/i&gt;mengatakan, “Hakikat kekayaan sebenarnya bukanlah dengan banyaknya harta. Karena begitu banyak orang yang diluaskan rizki berupa harta oleh Allah, namun ia tidak pernah merasa puas dengan apa yang diberi. Orang seperti ini selalu berusaha keras untuk menambah dan terus menambah harta. Ia pun tidak peduli dari manakah harta tersebut ia peroleh. Orang semacam inilah yang seakan-akan begitu fakir karena usaha kerasnya untuk terus menerus memuaskan dirinya dengan harta. Perlu dikencamkan baik-baik bawa hakikat kekayaan yang sebenarnya adalah kaya hati (hati yang selalu &lt;i&gt;ghoni&lt;/i&gt;, selalu merasa cukup). Orang yang kaya hati inilah yang selalu merasa cukup dengan apa yang diberi, selalu merasa qona’ah (puas) dengan yang diperoleh dan selalu ridho atas ketentuan Allah. Orang semacam ini tidak begitu tamak untuk menambah harta dan ia tidak seperti orang yang tidak pernah letih untuk terus menambahnya. Kondisi orang semacam inilah yang disebut &lt;i&gt;ghoni&lt;/i&gt; (yaitu kaya yang sebenarnya).”&lt;br /&gt;Ibnu Hajar Al Asqolani &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; menerangkan pula, “Orang yang disifati dengan kaya hati adalah orang yang selalu &lt;i&gt;qona’ah&lt;/i&gt; (merasa puas) dengan rizki yang Allah beri. Ia tidak begitu tamak untuk menambahnya tanpa ada kebutuhan. Ia pun tidak seperti orang yang tidak pernah letih untuk mencarinya. Ia tidak meminta-minta dengan bersumpah untuk menambah hartanya. Bahkan yang terjadi padanya ialah ia selalu ridho dengan pembagian Allah yang Maha Adil padanya. Orang inilah yang seakan-akan kaya selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan orang yang disifati dengan miskin hati adalah kebalikan dari orang pertama tadi. Orang seperti ini tidak pernah &lt;i&gt;qona’ah&lt;/i&gt; (merasa pus) terhadap apa yang diberi. Bahkan ia terus berusaha kerus untuk menambah dan terus menambah dengan cara apa pun (entah cara halal maupun haram). Jika ia tidak menggapai apa yang ia cari, ia pun merasa amat sedih. Dialah seakan-akan orang yang fakir, yang miskin harta karena ia tidak pernah merasa puas dengan apa yang telah diberi. Oran inilah orang yang tidak kaya pada hakikatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, orang yang kaya hati berawal dari sikap selalu ridho dan menerima segala ketentuan Allah &lt;i&gt;Ta’ala&lt;/i&gt;. Ia tahu bahwa apa yang Allah beri, itulah yang terbaik dan akan senatiasa terus ada. Sikap inilah yang membuatnya enggan untuk menambah apa yang ia cari.”&lt;br /&gt;Perkataan yang amat bagus diungkapkan oleh para ulama:&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;غِنَى النَّفْس مَا يَكْفِيك مِنْ سَدّ حَاجَة فَإِنْ زَادَ شَيْئًا عَادَ ذَاكَ الْغِنَى فَقْرًا&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;i&gt;“Kaya hati adalah merasa cukup pada segala yang engkau butuh. Jika lebih dari itu dan terus engkau cari, maka itu berarti bukanlah ghina (kaya hati), namun malah fakir (miskinnya hati).”&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/3045-kaya-hati-itulah-kaya-senyatanya.html#_ftn1"&gt;&lt;b&gt;[1]&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;An Nawawi &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; mengatakan, “Kaya yang terpuji adalah kaya hati, hati yang selalu merasa puas dan tidak tamak dalam mencari kemewahan dunia. Kaya yang terpuji bukanlah dengan banyaknya harta dan terus menerus ingin menambah dan terus menambah. Karena barangsiapa yang terus mencari dalam rangka untuk menambah, ia tentu tidak pernah merasa puas. Sebenarnya ia bukanlah orang yang kaya hati.”&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/3045-kaya-hati-itulah-kaya-senyatanya.html#_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Namun bukan berarti kita tidak boleh kaya harta. Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda,&lt;br /&gt;&lt;div align="center" dir="rtl"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;لاَ بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ النِّعَمِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;“&lt;i&gt;Tidak apa-apa dengan kaya bagi orang yang bertakwa. Dan sehat bagi orang yang bertakwa itu lebih baik dari kaya. Dan bahagia itu bagian dari kenikmatan&lt;/i&gt;.” (HR. Ibnu Majah no. 2141 dan Ahmad 4/69. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini &lt;b&gt;&lt;i&gt;shahih&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini bukan berarti kita tercela untuk kaya harta, namun yang tercela adalah tidak pernah merasa cukup dan puas (qona’ah) dengan apa yang Allah beri. Padahal sungguh beruntung orang yang punya sifat &lt;i&gt;qona’ah&lt;/i&gt;. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda,&lt;br /&gt;&lt;div align="center" dir="rtl"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;“&lt;i&gt;Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya&lt;/i&gt;.” (HR. Muslim no. 1054)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat qona’ah dan selalu merasa cukup itulah yang selalu Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; minta pada Allah dalam do’anya. Dari Ibnu Mas’ud &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/i&gt;, beliau berkata,&lt;br /&gt;&lt;div align="center" dir="rtl"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;أنَّ النبيَّ - صلى الله عليه وسلم - كَانَ يقول : (( اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;“&lt;i&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a: “Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina&lt;/i&gt;” &lt;i&gt;(Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘afaf dan ghina)&lt;/i&gt;.” (HR. Muslim no. 2721). An Nawawi –rahimahullah- mengatakan, “&lt;i&gt;”Afaf dan ‘iffah bermakna menjauhkan dan menahan diri dari hal yang tidak diperbolehkan. Sedangkan al ghina adalah hati yang selalu merasa cukup dan tidak butuh pada apa yang ada di sisi manusia.&lt;/i&gt;”&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/3045-kaya-hati-itulah-kaya-senyatanya.html#_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku ... milikilah sifat &lt;i&gt;qona’ah&lt;/i&gt;, kaya hati yang selalu merasa cukup dengan apa yang Allah beri. Semoga Allah menganugerahkan kita sekalian sifat yang mulia ini.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panggang-GK, 1 Jumadits Tsani 1431 H (14/05/2010)&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;Artikel &lt;a href="http://majalah.pengusahamuslim.com/2010/06/01/edisi-juni-2010-pengusaha-muslim-muda-mana-kiprahmu/" target="_blank" title="Edisi Juni 2010 Majalah Pengusaha Muslim"&gt;Majalah Pengusaha Muslim&lt;/a&gt;, dipublish ulang oleh &lt;a href="http://www.rumasyho.com/"&gt;www.rumasyho.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/3045-kaya-hati-itulah-kaya-senyatanya.html#_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Lihat Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 11/272, Darul Ma’rifah.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/3045-kaya-hati-itulah-kaya-senyatanya.html#_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Yahya bin Syarf An Nawawi, 7/140, Dar Ihya’ At Turots.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/3045-kaya-hati-itulah-kaya-senyatanya.html#_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 17/41&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-5287806536124194804?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/5287806536124194804/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/kaya-hati-itulah-kaya-senyatanya.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/5287806536124194804'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/5287806536124194804'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/kaya-hati-itulah-kaya-senyatanya.html' title='Kaya Hati, Itulah Kaya Senyatanya'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-4915310214160151005</id><published>2011-11-26T09:00:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T09:00:33.175+07:00</updated><title type='text'>Mutiara nasihat Dalam Silaturrahim</title><content type='html'>Hiasilah wahai manusia hubungan kerabatmu dengan ridha Allah, langkah-langkahmu menuju ke tempat tinggal kerabatmu adalah keberkahan dan derajatmu akan tinggi di sisi Allah bila engkau melangkahkan kaki untuk bersilaturrahim. Malaikat rahmah selalu mengiringimu dan merupakan ibadah kepada Allah pada saat engkau bersilaturrahim serta engkau akan mendapatkan pahala dan pengampunan dari Allah. Tatkala engkau mengunjungi bibimu yang sedang sakit berarti engkau telah menghiburnya dan sebagai tanda keberhasilan dalam mendidikmu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara laki-laki dan saudara perempuan baik sekandung maupun hanya saudara sebapak atau seibu, atau sepersusuan, semuanya hendaklah saling menya-yangi, menghormati dan menyambung hubungan kera-bat baik pada saat berdekatan atau berjauhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan persaudaraan khususnya antara sauda-ra laki-laki dengan saudara perempuan memiliki sentuhan yang sangat unik yaitu sentuhan batin yang sangat lembut serta kesetiaan yang sangat dalam dan semakin hari semakin bertambah subur walaupun berjauhan jarak tempatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai saudariku sekandung, Allah mewasiatkan kepadaku agar aku selalu menyambung silaturrahim, secara fitrah kita bersaudara dan dengan Kitabullah kita diperintahkan bersilaturrahim serta Allah mengancam dengan siksa dan celaka bagi orang yang memutuskan hubungan kerabat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Jubair bin Muth'im bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: &lt;br /&gt;"Tidak akan masuk Surga orang yang memutuskan hubungan kerabat". (Muttafaq 'alaih) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyambung silaturahim dengan paman dan bibi adalah termasuk bagian dari silaturrahim, berdasarkan hadits dari Abu Hurairah bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: &lt;br /&gt;"Apakah kamu tidak sadar bahwa paman seseorang adalah saudara bapaknya". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyambung hubungan kerabat dengan anak pe-rempuan dari saudara perempuan termasuk bersilatur-rahim dengan ibunya dan demikian pula bersilatur-rahim dengan saudara perempuan ibu. Dari Barra' bin Azib bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: &lt;br /&gt;"Saudara perempuan ibu (bibi) memiliki keduduk-an seperti ibu". (Muttafaq 'alaih) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu Mas'ud bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: &lt;br /&gt;"Saudara perempuan ibu (bibi) adalah ibu". (HR. Ath-Thabrani) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita adalah makhluk yang lemah dan menjadi kuat karena dengan adanya laki-laki. Pada saat saudara laki-laki berkunjung ke rumah saudara perempuan, maka dia bergembira dan berbahagia dengan kunjungan tersebut. Suami dan keluarganya juga ikut bergembira, dengan rasa bangga saudara perempuan tersebut bercerita kepada penduduk kampungnya bahwa saudara laki-laki tersebut datang berkunjung untuk mengetahui keadaan dan kesehatannya dan mereka itulah yang menjadi penopang hidupnya setelah Allah pada saat-saat susah dan kesulitan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa lezatnya makanan yang datang dari saudara, bapak atau paman serta betapa berharganya hadiah yang datang dari saudara dan kerabat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara perempuan tersebut mengungkapkan kegembiraan dengan mengucapkan semoga Allah melu-ruskan niatmu wahai saudaraku, semoga Allah senantiasa memberi keselamatan kepada kalian dari setiap musibah, saya sangat berbahagia atas kehadiran kalian dan saya sangat bergembira dan bangga dengan kunjungan kalian di hadapan suami saya dan keluarga-nya. Wahai saudaraku tatkala kalian masuk ke rumahku seakan ruangan rumahku bercahaya dan seluruh rahasiaku ingin aku ungkapkan serta keadaanku berubah semua. Hadiah yang kalian berikan walaupun sederhana akan tetapi sangat berharga bagiku bukan karena mahalnya akan tetapi pemberian itu dari tangan kalian. Saya merasa bangga dan mulia dari seluruh manusia di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai saudaraku, kunjungan kalian mendatangkan suasana baru bagi hidupku dan saya melihat ruangan rumahku seakan semakin cerah setelah kedatangan kalian. Kegembiraan yang tak mungkin dunia memberikannya kepadaku dan kebahagiaan seakan aku mampu memeluk bintang gejora. Tidak ada saat yang paling bahagia dalam umurku tatkala kalian memuliakan ru-mahku dengan kunjungan kalian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah saya bersaksi di hadapanMu bahwa saudara-saudaraku telah bersilaturrahim, maka sambunglah ya Tuhan Dzat Yang Maha Penyayang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai saudaraku, kalian hanya sekedar menunai-kan kewajiban dan tugas kemasyarakatan, tetapi saya berbahagia selamanya yang tidak mungkin terhargai oleh apa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Allah Ta'ala menciptakan makhluk sehingga setelah selesai menciptakan mereka, maka rahim berdiri dan berkata: Ini adalah kedudukan yang tepat bagi orang yang berlindung dari memutuskan hubungan silaturrahim, Allah Ta'ala berfirman: "Benar, bukankah engkau senang jika Aku menyambung orang yang menyambung silatur-rahim dan saya memutus orang yang memutuskan silaturrahim. Dia berkata: "Ya, Allah Ta'ala berfirman: "Itulah permohonanmu yang Aku kabul-kan." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Bacalah jika kalian mau firman Allah Ta'ala (artinya): &lt;br /&gt;"Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?" (Muham-mad: 22) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anhu bahwa dia berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: &lt;br /&gt;"Rahim bergantung di 'Arsy, lalu berkata: "Ba-rangsiapa yang menyambungku, maka Allah akan menyambungnya dan barangsiapa yang memutus-kanku, maka Allah akan memutuskannya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya orang-orang yang berakal dan berfikir serta berhati yang jernih akan mampu mencerna makna nasihat kebenaran dan kemudian menjadi peringatan baginya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta'ala berfirman: &lt;br /&gt;"Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Rabbnya dan takut kepada hari hisab yang buruk". (Ar-Ra'd: 21) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah sifat seorang mukmin, setiap apa-apa yang diperintahkan Allah Ta'ala untuk menghubungkan, maka mereka pun menghubungkan. Mentaati secara sempurna dan istiqamah di atas kebenaran dan berjalan di atas manhaj Kitabullah dan sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam akan mampu menyelamatkan kita dari penyelewengan dan kesesatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang terbiasa tidak menjaga janji Allah dan tidak istiqamah di atas jalan lurus sesuai kehendak Allah, maka dia tidak mungkin mampu memegang janji dan ikatan dengan siapa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&amp;nbsp; &lt;a href="http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=410&amp;amp;parent_section=kj013&amp;amp;idjudul=1"&gt;http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=410&amp;amp;parent_section=kj013&amp;amp;idjudul=1&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-4915310214160151005?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/4915310214160151005/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/mutiara-nasihat-dalam-silaturrahim.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/4915310214160151005'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/4915310214160151005'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/mutiara-nasihat-dalam-silaturrahim.html' title='Mutiara nasihat Dalam Silaturrahim'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-8161453260321053100</id><published>2011-11-26T08:57:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T08:58:34.224+07:00</updated><title type='text'>Wahai Anak-Anakku</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Wahai anakku siang malam sepanjang umurku, aku korbankan untukmu agar kalian berbahagia, kedua orang tuamu letih dan menderita serta hati gundah bila engkau sedang sakit dan wajahmu pucat. Anakku tercinta. Itulah kalimat yang sering diulang-ulang oleh seorang ibu atau bapak. Wahai seorang anak ingatlah jasa kedua orang tuamu yang besar tatkala engkau masih berada dalam kandungan, di saat kau masih bayi dan setelah kau menginjak remaja hingga engkau menjadi orang dewasa. Sekarang tiba saatnya kedua orang tuamu membutuh-kan kasih sayang dan perhatian darimu. Sementara engkau hanya sibuk mengurusi isteri dan anak-anakmu hingga orang tuamu engkau abaikan, padahal orang arab jahiliyah dulu menganggap aib dan harga diri jatuh jika ada seorang anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya. Peribahasa-peribahasa Arab menceritakannya, menuduhnya dengan gambaran yang sangat jelek sekali bahkan memberinya julukan dengan julukan-julukan yang sangat keji. Akan tetapi kita membaca banyak cerita di zaman sekarang tentang cerita anak-anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Ubaidah At-Taimy dalam kitabnya, Al-'Aqaqah wal Bararah menuturkan beberapa contoh orang-orang yang berbuat baik kepada kedua orang tuanya dan beberapa contoh orang-orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya. Seorang dari bani Qurai' bernama Murrah bin Khattab bin Abdullah bin Hamzah pernah mengejek dan terkadang memukul orang tuanya, se-hingga bapaknya berkata: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya besarkan dia tatkala dia masih kecil bagaikan anak burung yang baru lahir yang masih lemah tulang-belulangnya. &lt;br /&gt;Induknya yang menyuapi makan sampai melihat anaknya sudah mulai berkulit sempurna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan contoh lain yang durhaka kepada orang tua-nya adalah putra Umi Tsawab Al-Hazaniyah, dia durhaka kepada ibunya karena isterinya selalu menghalangi untuk berbuat baik kepada ibunya, sehingga ibunya mengungkapkan kepedihan hati dalam sebuah syair: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Saya mengasuhnya di masa kecil tatkala masih seperti anak burung, sementara induknya yang menyuapi makanan dan melihat kulitnya yang masih baru tumbuh. &lt;br /&gt;Setelah dewasa dia merobek pakaianku dan memukul badanku, apakah setelah masa tuaku aku harus mengajari etika dan adab.&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan juga Yahya bin Yahya bin Said, suatu ketika dia pernah menyusahkan bapaknya lalu bapaknya meng-hardiknya dengan menulis syair: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Semenjak lahir dan masa bayi yang masih kecil aku mengasuhmu, dan saya selalu berusaha agar engkau menjadi orang tinggi dan berkecukupan. &lt;br /&gt;Di malam hari engkau mengeluh sakit hingga tidak bisa tidur. Keluhan itu membuatku gundah dan ketakutan. &lt;br /&gt;Jiwa selalu gelisah memikirkan keselamatan untuk dirimu, sebab aku tahu setiap jiwa terancam oleh kematian. &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh-contoh di atas merupakan sebagian dari beberapa kasus anak durhaka kepada kedua orang tua-nya yang terjadi pada masa lampau dan sekarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di dalam sebagian lagu-lagu masyarakat jahili-yah dahulu, yang sering para wanita lantunkan adalah: Ya Allah, apa yang harus saya perbuat terhadap anakku yang durhaka, di masa kecil aku dengan susah payah membesarkannya, setelah menikah dengan seorang putri Romawi dia berbuat semena-mena terhadapku. Wanita ini mengadu kepada Allah terhadap sikap anaknya yang telah diasuh dengan susah payah, tetapi setelah menikah dengan wanita nasrani Romawi, dia melupakan ibunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun contoh orang-orang yang berbuat baik kepada orang tua antara lain; cerita tiga orang yang terjebak dalam gua, di antara mereka ada yang mengata-kan: "Tidak ada cara yang mampu menyelamatkan kalian kecuali bertawassul dengan amal shalih kalian. Seorang di antara mereka berdo'a: "Ya Allah saya mempunyai dua orang tua yang lanjut usia dan saya sekeluarga tidak makan dan minum di malam hari sebelum mereka berdua, pada suatu saat saya pernah pergi jauh untuk suatu keperluan sehingga saya pulang terlambat dan sesampainya di rumah saya mendapatkan mereka berdua dalam keadaan tidur. Lalu saya memerah susu untuk malam itu, tetapi mereka berdua masih tetap tidur pulas, sementara saya tidak suka jika makan dan minum sebelum mereka. Akhirnya saya menunggu sambil memegang susu hingga mereka berdua ter-bangun, sampai fajar terbit mereka berdua baru bangun lalu meminum susu. Ya Allah jika perbuatan yang telah aku kerjakan tersebut termasuk perbuatan ikhlas karena mencari wajahMu, maka hilangkanlah kesulitan kami dari batu besar ini, lalu batu itu pun bergeser dari mulut gua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak contoh-contoh lain tentang orang-orang yang berbakti kepada orang tua baik di masa lampau maupun sekarang yang tidak mungkin kita ceritakan seluruhnya, kebaikan tersebut mereka per-sembahkan kepada orang tua sebagai balasan atas jasa-jasa, perhatian dan pemeliharaan mereka dan sebagai bukti pengakuan tulus dan akhlak mulia. Ini semua mengharuskan kepada setiap anak untuk mengingat kebaikan yang selalu mengalir tak ada hentinya hingga akhir hayat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang-orang shalih sebelum berangkat kerja ada yang menyempatkan diri singgah ke rumah orang tuanya sambil mencium tangannya untuk memin-ta restu dan menanyakan keadaan serta kesehatan mereka. Lalu berangkat ke tempat kerja. Sikap mulia dan terpuji ini, sangat baik jika dipraktekkan dalam kehidupan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Hu-rairah bahwa dia berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: &lt;br /&gt;"Celakalah, celakalah". Beliau ditanya: "Siapa wahai Rasulullah? Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Seseorang yang mendapati orang tuanya, dan salah satu atau keduanya berusia lanjut, kemudian tidak masuk Surga".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abdullah bin Umar berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: &lt;br /&gt;"Tiga orang tidak masuk Surga dan tidak dilihat Allah pada hari Kiamat; Orang yang durhaka kepada orang tua, wanita yang menyerupai laki-laki dan dayyuts. (HR. Ahmad) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Durhaka kepada orang tua adalah perbuatan zhalim besar dan sikap tidak tahu diri. &lt;br /&gt;Rasulullah yang mengajari umat manusia etika dan tata krama mengetahui kedudukan dan fungsi seorang ibu dan bapak kemudian memberikan petunjuk kepada setiap orang mukmin agar menjadi umat yang bertanggung jawab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara bentuk birrul walidain setelah orang tuanya meninggal adalah dengan menyambung hubungan kerabat dengan teman dan sahabat orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abdullah bin Umar berkata sesungguhnya saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: &lt;br /&gt;"Sesungguhnya perbuatan yang terbaik adalah menyambung hubungan kerabat dengan sahabat orang tuanya". (Shahihul Jami', Al-Albani) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti cinta dan berbakti kepada orang tua adalah menghormati dan menjaga hubungan persahabatan orang tua dengan teman-temannya. Pada saat seseorang mempererat hubungan persahabatan dengan teman bapaknya, merupakan bukti dalam berbakti kepada orang tua dan pertanda hasil baik pendidikan orang tua kepada anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Muslim dalam kitab shahihnya menyebutkan tentang bab keutamaan menyambung hubungan persa-habatan dengan teman-teman bapak atau ibu. Karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: &lt;br /&gt;"Sesungguhnya perbuatan yang terbaik adalah menyambung hubungan persahabatan dengan saha-bat orang tuanya". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan juga hadits tentang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam meng-hormati teman-teman Khadijah setelah wafatnya. &lt;br /&gt;Para ulama mengatakan bahwa al-birr bermakna menyambung silaturrahim, menyayangi dan berbuat ke-baikan serta menjaga persahabatan. Seluruhnya terma-suk bagian inti kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&amp;nbsp; &lt;a href="http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=408&amp;amp;parent_section=kj013&amp;amp;idjudul=1"&gt;http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=408&amp;amp;parent_section=kj013&amp;amp;idjudul=1&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-8161453260321053100?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/8161453260321053100/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/wahai-anak-anakku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/8161453260321053100'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/8161453260321053100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/wahai-anak-anakku.html' title='Wahai Anak-Anakku'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-8329408291407600598</id><published>2011-11-26T08:56:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T08:57:07.061+07:00</updated><title type='text'>Berbuat Baik Kepada Orangtua Merupakan Silaturrahim Yg Paling Utama</title><content type='html'>Bersilaturrahim dan berbuat baik kepada orang tua merupakan ajaran yang menjadi ketetapan Kitabullah Al-Qur'an dan Al-Hadits. Allah Ta'ala berfirman: &lt;br /&gt;"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya". (Al-Isra': 23) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wa Qadha Rabbuka berarti suatu perintah yang lazim tidak bisa ditawar-tawar lagi dan Alla Ta'budu Illa Iyahu berarti perintah ibadah yang bersifat individu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah menghubungkan beribadah kepada-Nya dengan berbuat baik kepada orang tua menunjukkan betapa mulianya kedudukan orang tua dan birrul walidain (berbuat baik kepada orang tua) di sisi Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara naluri orang tua dengan suka rela mau mengorbankan segala sesuatu untuk memelihara dan membesarkan anak-anaknya dan anak mendapatkan kenikmatan serta perlindungan sempurna dari kedua orang tuanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang anak selalu merepotkan dan menyita perhatian orang tuanya dan tatkala menginjak masa tua mereka pun tetap berbahagia dengan keadaan putra-putrinya, akan tetapi betapa cepat seorang anak melalai-kan semua jasa-jasa orang tuanya, hanya disibukkan dengan isteri dan anak sehingga para bapak tidak perlu lagi menasihati anak-anaknya hanya saja seorang anak harus diingatkan dan digugah perasaannya atas kewajib-an mereka terhadap orang tuanya yang sepanjang umurnya dengan berbagai kesulitan dihabiskan untuk mereka serta mengorbankan segala yang ada demi kesenangan dan kebahagiaan mereka hingga datang masa lelah dan letih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka berbuat baik kepada kedua orang tua menjadi keputusan mutlak dari Allah dan ibadah yang menempati urutan kedua setelah beribadah kepada Allah. &lt;br /&gt;"Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliha-raanmu". (Al-Isra': 23) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kibar atau kibarul sin artinya berusia lanjut, umur sudah mulai menua, punggung sudah mulai membung-kuk dan kulit sudah mulai keriput. 'Indaka yang berarti pemeliharaan yaitu suatu kalimat yang menggambarkan makna tempat berlindung dan berteduh pada saat masa tua, lemah dan tidak berdaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta'ala berfirman: &lt;br /&gt;"Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka". (Al-Isra': 23) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seakan-akan Allah berfirman; Bersopan santunlah kamu kepada orang tua! Dengan demikian ayat tersebut mengajarkan sikap sopan agar seorang anak tidak menunjukkan sikap kasar serta menyakitkan hati atau merendahkan kedua orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta'ala berfirman: &lt;br /&gt;"Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini tingkatan yang lebih tinggi lagi yaitu keharusan bagi anak untuk selalu mengucapkan perkataan yang baik kepada kedua orang tua dan memperlihatkan sikap hormat serta menghargai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta'ala juga berfirman: &lt;br /&gt;"Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seolah-olah sikap rendah diri memiliki sayap dan sayap tersebut direndahkan sebagai tanda penghormatan dan penyerahan diri dalam arti sikap rendah diri yang selayaknya diperintahkan kepada kedua orang tua, seba-gai pengakuan tulus atas kebaikan dan jasa-jasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta'ala berfirman: &lt;br /&gt;"Dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku kasihilah me-reka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". (Al-Isra': 24)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebutan kondisi masa kecil yang lemah yang membutuhkan perawatan dari kedua orang tua meng-ingatkan kepada kondisi yang sama yang sedang dialami orang tua tatkala menginjak lanjut usia yang selalu membutuhkan kasih sayang dan perawatan semisal. Lalu memohon kepada Allah agar bisa memberi belas-kasih kepada mereka berdua sebagai pengakuan atas kekurangan dalam memberi kasihsayang secara sem-purna dan hanya Allahlah yang bisa memberi kasih-sayang atau perawatan yang sangat sempurna serta hanya Dialah yang mampu membalas semua kebaikan dengan sempurna yang tidak mungkin bagi anak untuk melakukannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti kasihsayang Allah banyak sekali yang tampak pada makhluk lain. Suatu contoh cahaya mata-hari yang menyinari alam semesta, udara yang dihirup manusia melalui proses paru-paru, air berfungsi untuk minum, masak dan menyiram tanaman dan kasih sayang ibu terhadap anaknya yang muncul secara fitrah sebagai bukti nyata kasih sayang Allah Rabb semesta alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang mulia dan baik kepada kedua orang tua akan selalu tahu kedudukan serta kemuliaan orang tua, dia merasakan tatkala mencium tangan ibu atau bapak-nya seolah-olah dia bersujud dengan ruh dan perasaan-nya laksana bersujud kepada Allah, dia mendapatkan jati diri yang sebenarnya sebagai suatu rahasia dalam kehidupan. Semua itu menjadi bukti penghargaan dan penghormatan kepada kedua orang tua. Allah Ta'la berfirman: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya . Dan jika kedua-nya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti ke-duanya". (Al-Ankabut: 8). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua adalah kerabat terdekat yang mempu-nyai jasa yang tidak terhingga dan kasih sayang yang besar sepanjang masa sehingga tidak aneh bila hak-haknya juga besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang anak wajib mencintai, menghormati dan memelihara orang tua walaupun keduanya musyrik atau berlainan agama, keduanya berhak untuk diberi kebaik-an dan pemeliharaan bukan mentaati dan mengikuti kesyrikan atau agamanya. Allah Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang ber-tambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun." (Luqman : 14) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan berulang-ulang serta banyak sekali wasiat untuk seorang anak agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya di dalam Al-Qur'an dan wasiat Rasul shallallahu 'alaihi wasallam dan tidak disebutkan wasiat orang tua untuk berbuat baik terhadap anaknya kecuali sedikit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kebaikan dan pengorbanan orang tua beru-pa jiwa, raga dan kekuatan yang tak terhitung tanpa berkeluh kesah dan meminta balasan dari anaknya, secara fitrah(naluri) sudah cukup sebagai pendorong kedua orang tua untuk bersikap demikian tanpa ditekan dengan wasiat. Adapun anak harus selalu diberi wasiat dan diingatkan agar senantiasa ingat akan jasa-jasa orang yang selama ini telah mencurahkan jiwa dan raga serta seluruh hidupnya dalam membesarkan dan mendidiknya. Apalagi seorang ibu selama mengandung mengalami banyak beban berat sebagaimana firman Allah Ta'ala (ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah), ibu lebih banyak menderita dalam membesarkan dan mengasuh anaknya, dan penderitaan di saat hamil tidak ada yang bisa merasakan payahnya kecuali kaum ibu juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Bazzar meriwayatkan hadits dari Buraidah dari bapaknya bahwa ada seorang lelaki yang sedang thawaf sambil menggendong ibunya, lalu dia bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: " Apakah dengan ini saya sudah menunaikan haknya?" Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Belum! Walaupun se-cuil". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Al-Miqdam bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: &lt;br /&gt;"Sesungguhnya Allah berwasiat agar kalian berbuat baik kepada ibu-ibumu, sesungguhnya Allah berwa-siat agar berbuat baik kepada bapak-bapakmu dan sesungguhnya Allah berwasiat kepada kalian agar berbuat baik kepada sanak kerabatmu". (Dishahih-kan oleh Al-Albani dalam Silsilah Shahihah) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak adalah bagian hidup dan belahan hati orang tua, kasih sayangnya mengalir di dalam darah daging keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari 'Aqra' bin Habis sesungguhnya dia melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mencium Hasan, lalu dia berkata: "Sesung-guhnya saya mempunyai sepuluh orang anak dan saya tidak pernah mencium seorangpun di antara mereka. Beliau bersabda: &lt;br /&gt;"Sesungguhnya barangsiapa yang tidak menyayangi maka tidak akan disayang". (Muttafaq 'alaih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Ahnaf bin Qais rahimahullah ditanya tentang masalah sikapnya terhadap anak, maka beliau menjawab: Anak adalah buah hati, belahan jiwa dan tulang punggung, kita rela terhina bagaikan bumi rela diinjak demi mereka dan bagaikan langit yang siap menaungi hidup mereka dan kita siap menjadi senjata pelindung bagi mereka dalam menghadapi marabahaya. Jika mereka minta sesuatu kabulkanlah dan bila marah cari sesuatu yang menye-nangkan hatinya, maka mereka akan membalas kasih sayangmu dan berterimakasih atas setiap pemberian-mu. Janganlah kalian merasa berat dan terbebani oleh anakmu, sebab mereka akan mengacuhkan hidupmu dan menghendaki kematianmu serta segan mendekati-mu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila seorang anak di mata orang tua keduduk-annya seperti itu, seharusnya anak menempatkan posisi orang tua tidak kurang dari itu dalam menghormati dan memuliakan orang tua mereka sebagai bukti balas budi dan pengakuan terhadap kebaikan yang telah didapat dari orang tua. Di samping tetap melestarikan kewajiban silaturrahim kepada mereka berdua sesuai ketentuan Kitabullah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: &lt;br /&gt;"Tiga macam doa yang pasti terkabulkan; doa orang tua untuk anaknya, doa orang musafir dan doa orang yang teraniaya". (Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, Al-Albani). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam meminta izin untuk ikut serta berjihad, maka beliau shallallahu 'alaihi wasallam bertanya: "Apakah kedua orang tuamu masih hidup? Dia berkata: "Ya, masih hidup". Beliau bersabda: "Maka berjihadlah dalam (menjaga) keduanya". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Bakrah berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Maukah kalian aku ceritakan tentang dosa yang paling besar?" Kami menjawab: "Ya wahai Rasu-lullah". Beliau bersabda: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua." Beliau waktu itu bersandar, maka terus duduk dan bersabda: "Ketahuilah, dan perkataan dusta". (Shahihul Jami') &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abdullah Ibnu Mas'ud berkata: Saya bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: Apakah amal yang paling dicintai Allah? Beliau menjawab: "Shalat pada waktunya." Saya bertanya: "Lalu apalagi?" Beliau bersabda: "Berbuat baik kepada orang tua". Saya bertanya: "Kemudian apalagi?" Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersab-da: "Jihad di jalan Allah". (Muttafaq 'alaih) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Jabir bin Abdullah sesungguhnya seorang lelaki berkata: Wahai Rasulullah sesungguhnya saya mempunyai harta dan anak, dan bapak saya meng-inginkan hartaku. Maka beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: &lt;br /&gt;"Engkau dan hartamu adalah milik bapakmu". (Muttafaq 'alaih). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan petunjuk birrul walidain yang terbaik adalah sikap yang telah ditunjukkan oleh para nabi 'alaihimus shalatu wa salam sebagai simbol anutan dan petunjuk bagi setiap manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Ismail 'alaihi salam berkata dan ucapannya diabadi-kan dalam firman Allah Ta'ala: &lt;br /&gt;"Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang bersabar". (Ash-Shafaat: 102). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Nuh 'alaihi salam berkata juga dan ucapannya dise-butkan dalam firman Allah Ta'ala: &lt;br /&gt;"Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman". (Nuh: 28) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Isa 'alaihi salam juga disifati oleh Allah Ta'ala dalam firman-Nya: &lt;br /&gt;"Dan berbakti kepada ibuku". (Maryam: 32) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Yahya 'alaihi salam juga disifati oleh Allah Ta'ala demikian yang disebutkan dalam firman Allah: &lt;br /&gt;"Dan banyak berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka". (Maryam: 14) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa indahnya bila seorang muslim bisa mencontoh dan mengikuti jejak para nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&amp;nbsp; &lt;a href="http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=407&amp;amp;parent_section=kj013&amp;amp;idjudul=1"&gt;http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=407&amp;amp;parent_section=kj013&amp;amp;idjudul=1&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-8329408291407600598?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/8329408291407600598/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/berbuat-baik-kepada-orangtua-merupakan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/8329408291407600598'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/8329408291407600598'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/berbuat-baik-kepada-orangtua-merupakan.html' title='Berbuat Baik Kepada Orangtua Merupakan Silaturrahim Yg Paling Utama'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-8092489690406168919</id><published>2011-11-26T08:54:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T08:55:10.668+07:00</updated><title type='text'>Kitabullah Dan Silaturrahim</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Allah Ta'ala berfirman: &lt;br /&gt;"Dan bertakwalah kepada Allah, yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturrahim." (An-Nisa': 1). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga adalah pondasi utama terbangunnya se-buah lingkungan masyarakat. Dan perekat pertama hubungan antar manusia adalah perekat hubungan yang bernilai rububiyah yang merupakan perekat hubungan yang paling dasar. Allah memuji hubungan manusia karena ikatan kekerabatan. Maka bertakwalah kepada Allah yang kamu saling berjanji dan berikrar dengan keagungan nama-Nya, kamu saling meminta satu sama lain dengan kebesaran nama-Nya dan kamu saling bersumpah satu sama lain dengan nama-Nya. Tumbuh-kanlah nilai takwa di antara kalian agar hubungan kerabat tetap bersambung dan langgeng. Hubungan kerabat adalah hubungan yang sangat penting setelah hubungan rububiyah dan perasaan takut kepada Allah. Kemudian, takut untuk memutuskan silaturrahim, selalu memperhatikan hak-haknya, menjaga kelestarian hu-bungan jangan sampai menghancurkan dan menganiaya kemesraannya, jangan sekali-kali mencoba mengusik dan menyentuh keutuhannya. Berusahalah untuk selalu dekat, cinta, hormat dan memuliakan silaturrahim. Jadikanlah kerinduan dan keteduhan hidup anda di bawah naungan dan kemesraan silaturrahim, Allah berfirman : &lt;br /&gt;"Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan meng-awasi kamu". (An-Nisa': 1) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Allah Ta'ala berfirman: &lt;br /&gt;"Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mereka takut kepada Tuhannya". (Ar-Ra'd: 21) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan agar kita menyambung hubungan baik dengan orang faqir, hubungan baik dengan tetangga dan hubungan baik dengan kerabat dan sanak famili. Apabila manusia memutuskan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah untuk dihubungkan, maka ikatan sosial masyarakat akan hancur berantakan, kerusakan menyebar di setiap tempat, kekacauan terjadi di mana-mana dan gejala sifat egoisme dan mau menang sendiri akan timbul dalam kehidupan sosial. Sehingga setiap individu masyarakat menjalani hidup tanpa petun-juk, seorang tetangga tidak tahu hak bertetangga, se-orang faqir merasakan penderitaan dan kelaparan sendirian dan hubungan kerabat berantakan, sehingga kehidupan manusia berubah menjadi kehidupan hewani serba tidak berharga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Anas bin Malik berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: &lt;br /&gt;"Barangsiapa yang senang diluaskan rizkinya dan ditunda umurnya, maka hendaklah bersilatur-rahim". (Muttafaq 'alaih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&amp;nbsp; &lt;a href="http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=406&amp;amp;parent_section=kj013&amp;amp;idjudul=1"&gt;http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=406&amp;amp;parent_section=kj013&amp;amp;idjudul=1&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-8092489690406168919?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/8092489690406168919/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/kitabullah-dan-silaturrahim.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/8092489690406168919'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/8092489690406168919'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/kitabullah-dan-silaturrahim.html' title='Kitabullah Dan Silaturrahim'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-8216306398001629882</id><published>2011-11-26T08:36:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T08:37:17.051+07:00</updated><title type='text'>Silaturrahim</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Tulisan ini dipersembahkan untuk:&lt;/i&gt; &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Orang yang sedang bersilaturrahim baik tahu atau tidak tahu bahwa silaturrahim adalah ibadah dan menyambung kerabat. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ditujukan kepada hati yang rindu bertemu dengan kerabat dan orang dekat karena beberapa sebab sehingga tidak bisa berkunjung … Semoga bisa bersabar. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Orang yang tidak bisa bertemu dengan kerabat dan sanak keluarga serta meninggalkan mereka karena terpaksa sementara rasa hati ingin bertemu dan selalu bersama … Semoga diterima udzurnya. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Orang-orang yang tidak ingin bersilaturrahim karena berhati keras atau tidak mau merenungkan ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta'ala atau tidak mengerti tentang sun-nah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam… Nasihat dan manfaat. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;b&gt;Silaturrahim&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Rahim&lt;/i&gt; secara bahasa berarti rahmah yaitu lembut dan kasih sayang. Tarahamal qaumu artinya saling berkasih sayang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Al-Azhary berkata yang dimaksud dengan firman Allah: &lt;br /&gt;"Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam". (Al-Anbiya': 107) adalah kasih sayang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarahhama 'alaihi berarti mendoakan seseorang agar mendapatkan rahmat, istarhama berarti memohonkan rahmat. Rajulun rahumun (orang laki-laki yang penyayang) dan imra'atun rahumun (perempuan yang penyayang). Ar-Rahmah fi bani adam, berarti kelem-butan dan kebaikan hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang dikatakan dekat dengan kerabat apabila dia telah memiliki kasih sayang dan kebaikan sehingga menjadi betapa baik dan sayang. Abu Ishaq berkata: Dikatakan paling dekat rahimnya yaitu orang yang paling dekat kasih sayangnya dan paling dekat hubungan kerabatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ar-ruhmu dan ar-ruhumu secara bahasa adalah kasihan dan simpati. Allah menyebut hujan dengan nama rahmat. Ibnu Sayyidih berkata bahwa yang dimaksud dengan ar-rahim dan ar-rihimu adalah rumah tempat tumbuhnya anak, dan jamaknya arhaam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Jauhary berkata ar-rahim berarti kerabat. Imam Ibnu Atsir berkata bahwa dzu rahim adalah orang-orang yang memiliki hubungan kerabat yaitu setiap orang yang memiliki hubungan nasab dengan anda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Al-Azhary berkata ar-rahim adalah hubungan dekat antara bapak dan anaknya dengan kasih sayang yang sangat dekat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta'ala berfirman: &lt;br /&gt;"Dan bertakwalah kepada Allah, yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturrahim." (An-Nisa': 1) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Arab mengatakan: " Saya ingatkan engkau dengan takut kepada Allah dan hubungan silatur-rahim".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menganugerahi umat ini dengan mengutus nabi dari kalangan mereka sendiri dan menurunkan Al-Qur'an dengan bahasa mereka. Allah berfirman: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin". (At-Taubah: 128) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan firman Allah: &lt;br /&gt;"Sesungguhnya Kami menurunkan berupa Al-Qur'an dengan berbahasa Arab, agar kamu mema-haminya". (Yusuf: 2) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitab suci Al-Qur'an diturunkan bukan hanya sekadar untuk diambil berkahnya dan dibaca, atau hanya menetapkan masalah tauhid dan aqidah saja, atau menetapkan syari'at saja, akan tetapi Al-Qur'an datang juga untuk mendidik umat serta agar membentuk masyarakat dan negara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Islam memiliki manhaj tersendiri yaitu manhaj Robbani dan Islam sangat memperhatikan masalah ikatan keluarga setelah menjadikan ikatan utama yaitu ikatan aqidah sebagai landasan hubungan. Keterikatan dengan keluarga yang saling melindungi termasuk aturan agama Islam serta merupakan fitrah di dalam jiwa kemanusiaan, dan Islam mendorong serta membina kuatnya hubungan kerabat kepada tahapan yang lebih baik. Selagi hubungan keluarga menjadi sarana untuk kepentingan dan kemaslahatan Islam, maka hubungan kerabat tersebut termasuk sebagai usaha untuk membentuk masyarakat Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ciri utama orang mukmin dalam beragama adalah selalu dibuktikan dengan amalan dan perbuatan bukan hanya sekedar ucapan dan pengakuan. Allah Ta'ala berfirman: &lt;br /&gt;"Dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang". (Al-Balad: 17) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata al-marhamah lebih dalam dari pada rahmah, yang berarti saling berkasih sayang antara sesama orang-orang yang beriman dan berwasiat agar mereka selalu berkasih sayang antar sesama mukmin dan bahkan wasiat tersebut dijadikan sebagai kewajiban bermasyarakat serta tolong menolong untuk menegakkan wasiat tersebut di tengah-tengah masyarakat. Dan biasanya lingkungan yang paling tepat dan sangat subur untuk menumbuhkan wasiat tersebut adalah hubungan kerabat sehingga Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjadikan hubungan kerabat sebagai sasaran utama dalam berwasiat untuk saling berkasih sayang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyambung hubungan kerabat adalah wajib dan memutuskannya merupakan dosa besar. &lt;br /&gt;Imam Nawawi rahimahullah berkata: "Barangsiapa yang secara sadar menghalalkan pemutusan hubungan kera-bat tanpa sebab atau ada subhat sedangkan dia tahu bahwa memutuskan hubungan kerabat adalah haram, maka dia kafir, kekal di Neraka dan tidak akan masuk Surga selama-lamanya." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyambung silaturrahim mempunyai beberapa tingkatan dan yang paling rendah adalah menyambung kembali hubungan yang telah putus dengan berbicara atau hanya sekedar mengucapkan salam supaya tidak masuk ke dalam pemutusan hubungan kerabat. Jika seseorang menyambung sebagian hubungan kerabat tapi tidak sampai seluruhnya, maka dia tidak bisa dikatakan memutus hubungan kerabat. Tetapi jika kurang dari kewajaran yang semestinya dari silaturrahim, maka belum bisa seseorang disebut menyambung . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama berbeda pendapat tentang kerabat yang wajib disambung hubungan silaturrahimnya, sebagian mereka berpendapat bahwa setiap orang yang ada hubungan mahram, sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa setiap orang yang ada hubungan kerabat dengan kita baik berupa hubungan mahram atau yang lainnya, seperti anak perempuan paman atau bibi. Sebagaimana hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tentang penduduk Mesir: &lt;br /&gt;"Sesungguhnya bagi mereka ada hak perlindungan dan kekerabatan". (HR. Ath-Thabrani) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan juga hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: &lt;br /&gt;"Sesungguhnya kebaikan yang terbaik adalah sese-orang bisa menyambung hubungan kerabat dengan teman bapaknya". (Shahihul Jami', Al-Albani) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal mereka yang disebutkan dalam hadits di atas tidak memiliki hubungan nasab sama sekali. Berarti hadits di atas mempunyai makna yang sangat luas yaitu kewajiban berkasih sayang dan menaruh perhatian kepada sesama umat Islam dan ini sesuai dengan tun-tutan ajaran dan kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=404&amp;amp;parent_section=kj013&amp;amp;idjudul=1"&gt; http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=404&amp;amp;parent_section=kj013&amp;amp;idjudul=1&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-8216306398001629882?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/8216306398001629882/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/silaturrahim_26.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/8216306398001629882'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/8216306398001629882'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/silaturrahim_26.html' title='Silaturrahim'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-6086481797406089109</id><published>2011-11-26T07:35:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T07:41:18.722+07:00</updated><title type='text'>Memberi Nafkah Kepada Orang yang Sepenuhnya Menuntut Ilmu Syari'at ( Agama )</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Termasuk kunci-kunci rizki adalah memberi nafkah kepada orang yang sepenuhnya menuntut ilmu syari’at (agama). Dalil yang menunjukkan hal ini adalah hadits riwayat At-Tirmidzi dan Al-Hakim dari Anas bin Malik Radhiallaahu anhu bahwasanya ia berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dahulu ada dua orang saudara pada masa Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam . Salah seorang daripadanya mendatangi Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam [1] dan (saudaranya) yang lain bekerja[2]. Lalu saudaranya yang bekerja itu mengadu[3] kepada Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam maka beliau bersabda: Mudah-mudahan engkau diberi rizki dengan sebab dia.” [4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits yang mulia ini, Nabi yang mulia Shallallaahu alaihi wa Salam menjelaskan kepada orang yang mengadu kepadanya karena kesibukan saudaranya dalam menuntut ilmu agama, sehingga membiarkannya sendirian mencari penghidupan (bekerja), bahwa ia tidak semestinya mengungkit-ungkit nafkahnya kepada saudaranya, dengan anggapan bahwa rizki itu datang karena dia bekerja. Padahal ia tidak tahu bahwasanya Allah membukakan pintu rizki untuknya karena sebab nafkah yang ia berikan kepada suadaranya yang menuntut ilmu agama secara sepenuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Mulla Ali Al-Qari menjelaskan sabda Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam :&lt;br /&gt;“Mudah-mudahan engkau diberi rizki dengan sebab dia,” yang menggunakan shighat majhul (ungkapan kata kerja pasif) itu berkata, ‘Yakni, aku berharap atau aku ta-kutkan bahwa engkau sebenarnya diberi rizki karena berkah-nya. Dan bukan berarti di diberi rizki karena pekerjaanmu. Oleh sebab itu jangan engkau mengungkit-ungkit pekerjaan-mu kepadanya.”[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Allamah Ath-Thaibi berkata: “Makna  (mudah-mudahan) dalam sabda beliau Shallallaahu alaihi wa Salam  (Mudah-mudahan engkau), bisa kembali kepada Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam , sehingga berfungsi untuk memberikan kepastian (bahwa dia mendapatkan rizki karena berkah saudaranya) dan menegur (bahwa dia mendapatkan rizki bukan karena pekerjaannya). Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits:&lt;br /&gt;“Bukanlah kalian diberi rizki karena sebab orang-orang lemah di antara kalian?”&lt;br /&gt;Tetapi bisa pula kembali kepada orang yang diajaknya bicara untuk mengajaknya berfikir dan merenungkan, sehingga ia menjadi sadar.”[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, dan sebagian ulama telah menyebutkan[7] bahwa orang-orang yang mempelajari ilmu agama secara sepenuhnya adalah termasuk kelompok orang yang disinggung dalam firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah, mereka tidak dapat (beru-saha) di muka bumi, orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari me-minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah: 273).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Al-Ghazali berkata: “Ia harus mencari orang yang tepat untuk mendapatkan sedekahnya. Misalnya para ahli ilmu. Sebab hal itu merupakan bantuan baginya untuk (mempelajari) ilmunya. Ilmu adalah jenis ibadah yang paling mulia, jika niatnya benar. Ibnu Al-Mubarak senantiasa mengkhususkan kebaikan (pemberiannya) bagi para ahli ilmu. Ketika dikatakan kepada beliau, ‘Mengapa tidak eng-kau berikan pada orang secara umum? ‘Beliau menjawab, ‘Sesungguhnya aku tidak mengetahui suatu kedudukan setelah kenabian yang lebih utama daripada kedudukan para ulama. Jika hati para ulama itu sibuk mencari kebutuhan (hidupnya), niscaya ia tidak bisa memberi perhatian sepenuhnya kepada ilmu, serta tidak akan bisa belajar (dengan baik). Karena itu, membuat mereka bisa memperlajari ilmu secara sepenuhnya adalah lebih utama’.”[8] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Yakni untuk mencari ilmu dan pengetahuan. (Murqatul Mafatih, 9/170).&lt;br /&gt;[2] Dan sepertinya mereka berdua makan dari hasil kerjanya (Op. cit., 9/170).&lt;br /&gt;[3] Yakni mengapa saudaranya tidak mau membantunya dalam bekerja atau mencari pekerjaan lain. (Op. cit., 9/170-171).&lt;br /&gt;[4] Jami’ut Tirmidzi, Abwabuz Zuhd, Bab Ma Ja’a fiz Zahadati fid Dunya, no. 2448, 7/8, dan lafazh ini miliknya. Al-Mustadarak alash Shahihain, Kitabul Ilm, 1/93-94. Imam Al-Hakim berkata, ‘Hadits ini shahih berdasarkan syarat Muslim. Para perawinya tsiqat (terpercaya), tetapi hadits ini tidak dikeluarkan (diriwayatkan) oleh Al-Bukhari dan Muslim. (Op. cit., 1/94). Dan hal ini disepakati oleh Al-Hafizh Adz-Dzahabi (At-Talkhish, 1/94). Syaikh Al-Albani berkata shahih. (Shahih Sunan At-Tirmidzi, 2/274).&lt;br /&gt;[5] Murqatul Mafatih, 9/171.&lt;br /&gt;[6] Murqatul Mafatih, 9/171.&lt;br /&gt;[7] Lihat, Tafsir Al-manar, 3/88.&lt;br /&gt;[8] Dinukil dari Tafisr Al-Qasimi, 3/250.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&amp;nbsp; &lt;a href="http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=495&amp;amp;parent_section=kj017&amp;amp;idjudul=1"&gt;http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=495&amp;amp;parent_section=kj017&amp;amp;idjudul=1&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-6086481797406089109?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/6086481797406089109/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/memberi-nafkah-kepada-orang-yang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/6086481797406089109'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/6086481797406089109'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/memberi-nafkah-kepada-orang-yang.html' title='Memberi Nafkah Kepada Orang yang Sepenuhnya Menuntut Ilmu Syari&apos;at ( Agama )'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-1697431824738590789</id><published>2011-11-26T07:33:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T07:34:08.368+07:00</updated><title type='text'>Berinfak Di Jalan Allah</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Di antara kunci-kunci rizki lain adalah berinfak di jalan Allah. Pembahasan masalah ini –dengan memohon taufik dari Allah– akan saya lakukan melalui dua poin berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;A.   Yang Dimaksud Berinfak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah-tengah menafsirkan firman Allah:&lt;br /&gt;“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, niscaya Dia akan menggantinya”. (Saba’: 39).&lt;br /&gt;Syaikh Ibnu Asyur berkata: “Yang dimaksud dengan infak di sini adalah infak yang dianjurkan dalam agama. Seperti berinfak kepada orang-orang fakir dan berinfak di jalan Allah untuk menolong agama.”[1] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;B.   Dalil Syar’i Bahwa Berinfak di Jalan Allah Adalah Termasuk Kunci Rizki &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa nash dalam Al-Qur’anul Karim dan Al-Hadits Asy-Syarif yang menunjukkan bahwa orang yang berinfak di jalan Allah akan diganti oleh Allah di dunia. Di samping, tentunya apa yang disediakan oleh Allah baginya dari pahala yang besar di akhirat. Di antara dalil-dalil itu adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Firman Allah:&lt;br /&gt;“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rizki yang se-baik-baiknya.” (Saba’: 39).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menafsirkan ayat di atas, Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata: “Betapapun sedikit apa yang kamu infakkan dari apa yang diperintahkan Allah kepadamu dan apa yang diperbolehkanNya, niscaya Dia akan menggantinya untukmu di dunia, dan di akhirat engkau akan diberi pahala dan ganjaran, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits…”[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ar-Razi berkata, “Firman Allah: ‘Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya’, adalah realisasi dari sabda Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam : “Tidaklah para hamba berada di pagi hari….” (Al-Hadits). Yang demikian itu karena Allah adalah Penguasa, Maha Tinggi dan Maha Kaya. Maka jika Dia berkata: “Nafkahkanlah dan Aku yang akan menggantinya,’ maka itu sama dengan janji yang pasti ia tepati. Sebagaimana jika Dia berkata: “Lemparkanlah barangmu ke dalam laut dan Aku yang menjaminnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, barangsiapa berinfak berarti dia telah memenuhi syarat untuk mendapatkan ganti. Sebaliknya, siapa yang tidak berinfak maka hartanya akan lenyap dan ia tidak berhak mendapatkan ganti. Hartanya akan hilang tanpa ganti, artinya lenyap begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang mengherankan, jika seseorang pedagang mengetahui bahwa sebagian dari hartanya akan binasa, ia akan menjualnya dengan cara nasi’ah (pembayaran di belakang), meskipun pembelinya termasuk orang miskin. Lalu ia berkata, hal itu lebih baik daripada pelan-pelan harta itu binasa. Jika ia tidak menjualnya sampai harta itu binasa maka ia akan disalahkan. Dan jika ada orang mampu yang menjamin orang miskin itu, tetapi ia tidak menjualnya (kepada orang tersebut) maka ia disebut orang gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sungguh, hampir setiap orang melakukan hal ini, tetapi masing-masing tidak menyadari bahwa hal itu men-dekati gila. Sesungguhnya harta kita semuanya pasti akan binasa. Dan menafkahkan kepada keluarga dan anak-anak adalah berarti memberi pinjaman. Semuanya itu berada dalam jaminan kuat, yaitu Allah Yang Maha Tinggi. Allah berfirman: “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Dia pasti manggantinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Allah memberi pinjaman kepada setiap orang, ada yang berupa tanah, kebun, penggilingan, tempat pemandian untuk berobat atau manfaat tertentu. Sebab setiap orang tentu memiliki pekerjaan atau tempat yang daripadanya ia mendapatkan harta. Dan semua itu milik Allah. Di tangan manusia, harta itu adalah pinjaman. Jadi, seakan-akan barang-barang tersebut adalah jaminan yang diberikan Allah dari rizkiNya, agar orang tersebut percaya penuh kepadaNya bahwa bila dia berinfak, Allah pasti akan menggantinya. Tetapi meskipun demikian, ternyata ia tidak mau berinfak dan membiarkan hartanya lenyap begitu saja tanpa mendapat pahala dan disyukuri.[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, Allah menegaskan janjiNya dalam ayat ini kepada orang yang berinfak untuk menggantinya dengan rizki (lain) melalui tiga penegasan. Dalam hal ini, Ibnu Asyur berkata: “Allah menegaskan janji tersebut dengan kalimat bersyarat, dan dengan menjadikan jawaban dari kali-mat bersyarat itu dalam bentuk jumlah ismiyah dan dengan mendahulukan musnad ilaih (sandaran) terhadap khabar fi’il-nya ( الْخَبَر الْفِعْلِي ) yaitu dalam firmanNya: فَهُوَ يُخْلِفُهُ De-ngan demikian, janji tersebut ditegaskan dengan tiga pene-gasan yang menunjukkan bahwa Allah benar-benar akan me-realisasikan janji itu. Sekaligus menunjukkan bahwa ber-infak adalah sesuatu yang dicintai Allah.[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sungguh janji Allah adalah sesuatu yang tegas, ya-kin, pasti dan tidak ada keraguan untuk diwujudkannya, wa-laupun tanpa adanya penegasan seperti di atas. Lalu, bagai-mana halnya jika janji itu ditegaskan dengan tiga penegasan?&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dalil lain adalah firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan ke-miskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah: 268).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menafsirkan ayat mulia ini, Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu berkata: “Dua hal dari Allah, dan dua hal dari setan. “Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan.” Setan itu berkata, ‘Jangan kamu infakkan hartamu, peganglah untukmu sendiri karena kamu membutuhkannya’. “Dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dan dua hal dari Allah adalah), “Allah menjanjikan untukmu ampunan daripadaNya,” yakni atas maksiat yang kamu kerjakan, “dan karunia” berupa rizki.[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qadhi Ibnu Athiyah menafsirkan ayat ini berkata: “Maghfirah (ampunan Allah) adalah janji Allah bahwa Dia akan menutupi kesalahan segenap hambaNya di dunia dan di akhirat. Sedangkan al-fadhl (karunia) adalah rizki yang luas di dunia, serta pemberian nikmat di akhirat, dengan segala apa yang telah dijanjikan Allah Subhannahu wa Ta'ala .[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Qayim Al-Jauziyah dalam menafsirkan ayat yang mulia ini berkata: “Demikianlah, peringatan setan bahwa orang yang menginfakkan hartanya, bisa mengalami kefakiran bukanlah suatu bentuk kasih sayang setan kepadanya, juga bukan suatu bentuk nasihat baik untuknya. Adapaun Allah, maka Ia menjanjikan kepada hambaNya ampunan dosa-dosa daripadaNya, serta karunia berupa penggantian yang lebih baik daripada yang ia infakkan, dan ia dilipatgandakanNya baik di dunia saja atau di dunia dan di akhirat.”[7]&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dalil lain adalah hadits riwayat Muslim dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu , Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam memberitahukan kepadanya:&lt;br /&gt;“Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, ‘Wahai anak Adam!, berinfaklah, niscaya Aku berinfak (memberi rizki) kepadaMu.”[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu Akbar! Betapa besar jaminan orang yang berinfak di jalan Allah! Betapa mudah dan gampang jalan mendapat-kan rizki! Seorang hamba berinfak di jalan Allah, lalu Dzat Yang di TanganNya kepemilikan segala sesuatu memberi-kan infak (rizki) kepadanya. Jika seorang hamba berinfak sesuai dengan kemampuannya maka Dzat Yang memiliki perbendaharaan langit dan bumi serta kerajaan segala se-suatu akan memberi infak (rizki) kepadanya sesuai dengan keagungan, kemuliaan dan kekuasaanNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam An-Nawawi berkata: “Firman Allah, ‘Berinfaklah, niscaya Aku berinfak (memberi rizki) kepadamu’ adalah makna dari firman Allah dalam Al-Qur'an:&lt;br /&gt;“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Dia-lah yang akan menggantinya.” (Saba’: 39).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini mengandung anjuran untuk berinfak dalam berbagai bentuk kebaikan, serta berita gembira bahwa semua itu akan diganti atas karunia Allah Subhannahu wa Ta'ala .[9]&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dalil lain bahwa berinfak di jalan Allah adalah di antara kunci-kunci rizki yaitu apa yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu bahwasanya Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidaklah para hamba berada di pagi hari kecuali di dalamnya terdapat dua malaikat yang turun. Salah satunya berdo’a, ‘Ya Allah, berikanlah kepada orang yang berinfak ganti (dari apa yang ia infakkan)’. Sedang yang lain berkata, ‘Ya Allah, berikanlah kepada orang yang menahan (hartanya) kebinasaan (hartanya)’.” [10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits yang mulia ini, Nabi yang mulia e mengabarkan bahwa terdapat malaikat yang berdo’a setiap hari kepada orang yang berinfak agar diberikan ganti oleh Allah. Maksudnya –sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Mulla Ali Al-Qari– adalah ganti yang besar. Yakni ganti yang baik, atau ganti di dunia dan ganti di akhirat. Hal itu berdasarkan firman Allah:&lt;br /&gt; “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Dia-lah yang akan menggantinya. Dan Dialah sebaik-baik Pemberi rizki.” (Saba’: 39).[11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan diketahui secara umum bahwa do’a malaikat adalah dikabulkan[12], sebab tidaklah mereka mendo’akan bagi seseorang melainkan dengan izinNya. Allah berfirman:&lt;br /&gt;“Dan mereka tiada memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepadaNya.” (Al-Anbiya’: 28).&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dalil lain adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu bahwasanya Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:&lt;br /&gt;“Berinfaklah wahai Bilal! Jangan takut dipersedikit (hartamu) oleh Dzat Yang Memiliki Arsy.” [13]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aduhai, alangkah kuat jaminan dan karunia Allah bagi orang yang berinfak di jalanNya! Apakah Dzat Yang Memiliki Arsy akan menghinakan orang yang berinfak di jalanNya, sehingga ia mati karena miskin dan tak punya apa-apa? Demi Allah, tidak akan demikian!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Mulla Ali-AlQari menjelaskan kata “ اِقْلاَ لاً ”dalam hadits tersebut berkata, ‘Maksudnya, dijadikan miskin dan tidak punya apa-apa’. Artinya, ‘Apakah engkau takut akan disia-siakan oleh Dzat Yang Mengatur segala urusan dari langit ke bumi?’ Dengan kata lain, ‘Apakah kamu takut untuk digagalkan cita-citamu dan disedikitkan rizkimu oleh Dzat Yang rahmat-Nya meliputi penduduk langit dan bumi, orang-orang mukmin dan orang-orang kafir, burung-burung dan binatang melata?’[14]&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berapa banyak bukti-bukti dalam kitab-kitab Sunnah (Hadits), Sirah (Perjalanan Hidup), Tarajum (Biografi), Tarikh (Sejarah), bahkan hingga dalam kenyataan-kenyataan yang kita alami saat ini yang menunjukkan bahwa Allah mengganti rizki hambaNya yang berinfak di jalanNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini kami ringkaskan satu bukti dalam masalah ini. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu dari Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam beliau bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ketika seorang laki-laki berada di suatu tanah lapang bumi ini, tiba-tiba ia mendengar suara dari awan, ‘Siramilah kebun si fulan!’ Maka awan itu berarak menjauh dan menuangkan airnya di areal tanah yang penuh de-ngan batu-batu hitam. Di sana ada aliran air yang me-nampung air tersebut. Lalu orang itu mengikuti kemana air itu mengalir. Tiba-tiba ia (melihat) seorang laki-laki yang berdiri di kebunnya. Ia mendorong air tersebut dengan skopnya (ke dalam kebunnya). Kemudian ia ber-tanya, ‘Wahai hamba Allah! Siapa namamu?’ Ia menja-wab, ‘Fulan’, yakni nama yang didengar di awan. Ia balik bertanya, “Wahai hamba Allah, kenapa engkau menanyakan namaku?’ Ia menjawab, ‘Sesungguhnya aku mendengar suara di awan yang menurunkan air ini. Suara itu berkata, ‘Siramilah kebun si fulan! Dan itu adalah namamu. Apa sesungguhnya yang engkau laku-kan?’ Ia menjawab, “Jika itu yang engkau tanyakan, maka sesungguhnya aku memperhitungkan hasil yang didapat dari kebun ini, lalu aku bersedekah dengan se-pertiganya, dan aku makan beserta keluargaku seper-tiganya lagi, kemudian aku kembalikan (untuk menanam lagi) sepertiganya’.” [15]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain disebutkan:&lt;br /&gt;“Dan aku jadikan sepertiganya untuk orang-orang miskin dan peminta-minta serta ibnu sabil (orang yang dalam perjalanan).” [16]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam An-Nawawi berkata: “Hadits itu menjelaskan tentang keutamaan bersedekah dan berbuat baik kepada orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Juga keutamaan seseorang yang makan dari hasil kerjanya sen-diri, termasuk keutamaan memberi nafkah kepada keluarga.”[17] &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;[1] Tafsirut Tahrir wat Tanwir, 22/221.&lt;br /&gt;[2] Tafsir Ibnu Katsir, 3/595. Lihat pula, Tafsirut Tahrir wat Tanwir, di mana di dalamnya disebutkan, “Secara lahiriah, ayat itu menunjukkan adanya penggantian rizki, baik di dunia maupun di akhirat.” (22/221).&lt;br /&gt;[3] At-Tafsir Al-Kabir, 25/263.&lt;br /&gt;[4] Tafsirut Tahrir wat Tanwir, 22/221.&lt;br /&gt;[5] Tafsir Ath-Thabari, no. atsar 6168, 5/571. Lihat pula, At-Tafsirul Kabir, 7/65, Tafsirul Khazin, 1/290. Di mana disebutkan di dalamnya: “Ampunan (yang diberikan) merupakan isyarat terhadap manfaat-manfaat akhirat dan karunia adalah isyarat terhadap manfaat-manfaat dunia berupa rizki dan ganti.”&lt;br /&gt;[6] Al-Muharrarul Wajiz, 2/329.&lt;br /&gt;[7] At-Tafsirul Qayyim, hal. 168. Lihat pula, Fathul Qadir oleh Asy-Syaukani, 1/438, di mana ia berkata, “Fadhl (karunia) itu adalah bahwa Allah akan mengganti kepada mereka dengan sesuatu yang lebih utama dari apa yang mereka infakkan. Maka Allah meluaskan rizkinya dan memberinya nikmat di akhirat dengan sesuatu yang lebih utama, lebih banyak, lebih agung dan lebih indah.”&lt;br /&gt;[8] Shahih Muslim, kitab Az-Zakah, bab Al-Hatstsu ‘alan Nafaqah wa Tabsyiril Munfiq bil Khalf, no. 36 (993), 2/690-691.&lt;br /&gt;[9] Syarh An-Nawawi, 7/79.&lt;br /&gt;[10] Shahihul Bukhari, Kitab Az-Zakah, Bab Firman Allah:&lt;br /&gt;Tentang do’a: “Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang menginfakkan hartanya,” no. 1442, 3/304.&lt;br /&gt;[11] Murqatil Mafatih, 4/366. Sayyid Muhammad Rasyid Ridha berkata: “Makna do’a ini menurut saya adalah bahwa di antara sunnah-sunnah Allah adalah Dia memberikan ganti kepada orang yang berinfak dengan memudahkan sebab-sebab rizki baginya. Lalu ia ditinggikan derajatnya di dalam hati manusia. Sebaliknya, orang yang bakhil (kikir) diharamkan dari yang demikian.” (Tafsir Manar, 4/74).&lt;br /&gt;[12] Umdatul Qari, 8/307.&lt;br /&gt;[13] Diriwayatkan dari Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman. (Misykatul Mashabih, Kitab Az-Zakah, Bab Al-Infak wa Karahiyatul Imsak, no. 1885, dengan diringkas, 1/590-591). Syaikh Al-Albani berkata, ‘Hadits ini shahih karena jalur-jalurnya,’ (Hamisy Misykatil Mashabih, 1/591). Lihat pula, Majma’uz Zawa’id wa Manba’ul Fawa’id, 3/126, Kasyful Khafa’wa Muzilul Ilbas, 1/243-144, Tanqihur Ruwat fi Takhriji Ahaditsil Misykat, Syaikh Ahmad Hasan Adalah-Dahlawi, 2/19.&lt;br /&gt;[14] Murqatul Mafatih, 4/389.&lt;br /&gt;[15] Shahih Muslim, Kitab Az-Zuhd war Raqa’iq, Bab Ash Shadaqah alal Masakin, no. 45 (2984), 4/2288.&lt;br /&gt;[16] Op. cit., 4/2288.&lt;br /&gt;[17] Op. cit., 18/115.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&amp;nbsp; &lt;a href="http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=493&amp;amp;parent_section=kj017&amp;amp;idjudul=1"&gt;http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=493&amp;amp;parent_section=kj017&amp;amp;idjudul=1&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-1697431824738590789?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/1697431824738590789/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/berinfak-di-jalan-allah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/1697431824738590789'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/1697431824738590789'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/berinfak-di-jalan-allah.html' title='Berinfak Di Jalan Allah'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-2423317275021474311</id><published>2011-11-26T07:32:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T07:33:05.273+07:00</updated><title type='text'>Silaturrahim</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Di antara pintu-pintu rizki adalah silaturrahim. Pembi-caraan masalah ini –dengan memohon pertolongan Allah– akan saya bahas melalui empat poin berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;A.   Makna Silaturrahim&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna ‘ar-rahim’ adalah para kerabat dekat. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata:‘Ar-rahim secara umum adalah dimaksud-kan untuk para kerabat dekat. Antara mereka terdapat garis nasab (keturunan), baik berhak mewarisi atau tidak, dan sebagai mahram atau tidak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pendapat lain, mereka adalah maharim (para kerabat dekat yang haram dinikahi) saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat pertama lebih kuat, sebab menurut batasan yang kedua, anak-anak paman dan anak-anak bibi bukan kerabat dekat karena tidak termasuk yang haram dinikahi, padahal tidak demikian.”[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silaturrahim, sebagaimana dikatakan oleh Al-Mulla Ali Al-Qari adalah kinayah (ungkapan/sindiran) tentang berbuat baik kepada para karib kerabat dekat –baik menurut garis keturunan maupun perkawinan– berlemah lembut dan mengasihi mereka serta menjaga keadaan mereka.[2] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;B.   Dalil Syar’i Bahwa Silaturrahim Ter-masuk Kunci Rizki&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hadits dan atsar menunjukkan bahwa Allah Subhannahu wa Ta'ala menjadikan silaturrahim termasuk di antara sebab kela-pangan rizki. Di antara hadits-hadits dan atsar-atsar itu adalah:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, ia berkata, ‘aku mendengar Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:&lt;br /&gt;“Siapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan di-akhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya)[3] maka hen-daknyalah ia menyambung (tali) silaturrahim.” [4]&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dalil lain adalah hadits riwayat Imam Al-Bukhari dari Anas bin Malik Radhiallaahu anhu bahwasanya Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam  bersabda:&lt;br /&gt;“Siapa yang suka untuk dilapangkan rizkinya dan di-akhirkan usianya (dipanjangkan umurnya), hendaklah ia menyambung silaturrahim.” [5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits yang mulia di atas, Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam menjelaskan bahwa silaturrahim membuahkan dua hal, kelapangan rizki dan bertambahnya usia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah tawaran terbuka yang disampaikan oleh makh-luk Allah yang paling benar dan jujur, yang berbicara berda-sarkan wahyu, Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam . Maka barangsiapa me-nginginkan dua buah di atas hendaknya ia menaburkan be-nihnya, yaitu silaturrahim. Demikianlah, sehingga Imam Al-Bukhari memberi judul untuk kedua hadits itu dengan “Bab Orang Yang Dilapangkan Rizkinya dengan Silaturrahim.”[6] Artinya, dengan sebab silaturrahim.[7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Hibban juga meriwayatkan hadits Anas bin Malik Radhiallaahu anhu dalam kitab shahihnya dan beliau memberi judul dengan “Keterangan Tentang Baiknya Kehidupan dan Banyaknya Berkah dalam Rizki Bagi Orang Yang Menyambung Silaturrahim.[8]&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dalil lain adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, At-Tirmidzi dan Al-Hakim dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu , dari Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam beliau bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belajarlah tentang nasab-nasab kalian sehingga kalian bisa menyambung silaturrahim. Karena sesungguhnya silaturrahim adalah (sebab adanya) kecintaan terhadap keluarga (kerabat dekat), (sebab) banyaknya harta dan bertambahnya usia.” [9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits yang mulia Ini Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam menjelaskan bahwa silaturrahim ini membuahkan tiga hal, di antaranya adalah ia menjadi sebab banyaknya harta.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dalil lain adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abdullah bin Ahmad, Al-Bazzar dan Ath-Thabrani dari Ali bin Abi Thalib Radhiallaahu anhu dari Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam , beliau bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa senang untuk dipanjangkan umurnya dan diluaskan rizkinya serta dihindarkan dari kematian yang buruk maka hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dan menyambung silaturrahim.” [10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits yang mulia ini, Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam yang jujur dan terpercaya, menjelaskan tiga manfaat yang terealisir bagi orang yang memiliki dua sifat; bertaqwa kepada Allah dan menyambung silaturrahim. Dan salah satu dari tiga manfaat itu adalah keluasan rizki.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dalil lain adalah riwayat Imam Al-Bukhari dari Abdullah bin Umar Radhiallaahu anhu ia berkata:&lt;br /&gt;“Barangsiapa bertaqwa kepada Tuhannya dan menyam-bung silaturrahim, niscaya dipanjangkan umurnya dan dibanyakkan rizkinya dan dicintai oleh keluarganya.” [11]&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Demikian besarnya pengaruh silaturrahim dalam ber-kembangnya harta benda dan menjauhkan kemiskinan, sam-pai-sampai ahli maksiat pun, disebabkan oleh silaturrahim, harta mereka bisa berkembang, semakin banyak jumlahnya dan mereka jauh dari kefakiran, karena karunia Allah Subhannahu wa Ta'ala .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abu Bakrah Radhiallaahu anhu dari Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam bahwasanya beliau bersabda:&lt;br /&gt;“Sesungguhnya keta’atan yang paling disegerakan pahalanya adalah silaturrahim. Bahkan hingga suatu keluarga yang ahli maskiat pun, harta mereka bisa berkembang dan jumlah mereka bertambah banyak jika mereka saling bersilaturrahim. Dan tidaklah ada suatu keluarga yang saling bersilaturrahim kemudian mereka membutuhkan (kekurangan).” [12]&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;b&gt;C. Apa Saja Sarana Untuk Silaturrahim ?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang menyempitkan makna silaturrahim hanya dalam masalah harta. Pembatasan ini tidaklah benar. Sebab yang dimaksud silaturrahim lebih luas dari itu. Silaturrahim adalah usaha untuk memberikan kebaikan kepada kerabat dekat serta (upaya) untuk menolak keburukan dari mereka, baik dengan harta atau dengan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Abu Jamrah berkata: “Silaturrahim itu bisa dengan harta, dengan memberikan kebutuhan mereka, dengan menolak keburukan dari mereka, dengan wajah yang berseri-seri serta dengan do’a.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna silaturrahim yang lengkap adalah memberikan apa saja yang mungkin diberikan dari segala bentuk kebaikan, serta menolak apa saja yang mungkin bisa ditolak dari keburukan sesuai dengan kemampuannya (kepada kerabat dekat).[13]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;D.   Tata Cara Silaturrahim dengan Para Ahli Maksiat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang salah dalam memahami tata cara silaturrahim dengan para ahli maksiat. Mereka mengira bahwa bersilaturrahim dengan mereka berarti juga mencintai dan menyayangi mereka, bersama-sama duduk dalam satu majelis dengan mereka, makan bersama-sama mereka serta bersikap lembut dengan mereka. Ini adalah tidak benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua memaklumi bahwa Islam tidak melarang berbuat baik kepada kerabat dekat yang suka berbuat maksiat, bahkan hingga kepada orang-orang kafir. Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan ber-laku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangi-mu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (Al-Mumtahanah: 8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula sebagaimana disebutkan dalam hadits Asma’ binti Abu Bakar Radhiallaahu anhu yang menanyakan Rasullah Shallallaahu alaihi wa Salam untuk bersilaturrahmi kepada ibunya yang musyrik. Dalam hadits ini diantaranya disebutkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku bertanya, ‘Sesungguhnya ibuku datang dan ia sangat berharap[14], apakah aku harus menyambung (silaturrahim) dengan ibuku?’ Beliau Shallallaahu alaihi wa Salam menjawab, ‘Ya, sambunglah (silaturrahim) dengan ibumu’.” [15]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, itu bukan berarti harus saling mencintai dan menyayangi, duduk-duduk satu majelis dengan mereka. Bersa-ma-sama makan dengan mereka serta bersikap lembut dengan orang-orang kafir dan ahli maksiat tersebut. Allah ber-firman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang ber-iman kepada Allah dan hari Akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-sudara atau pun keluarga mereka.” (Al-Mujadilah: 22).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna ayat yang mulia ini –sebagaimana disebutkan oleh Imam Ar-Razi– adalah bahwasanya tidak akan bertemu antara iman dengan kecintaan kepada musuh-musuh Allah. Karena jika seseorang mencintai orang lain maka tidak mungkin ia akan mencintai musuh orang tersebut.[16]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan berdasarkan ayat ini, Imam Malik menyatakan bolehnya memusuhi kelompok Qadariyah dan tidak duduk satu majelis dengan mereka.[17]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Al-Qurthubi mengomentari dasar hukum Imam Malik: “Saya berkata, ‘Termasuk dalam makna kelompok Qadariyah adalah semua orang yang zhalim dan yang suka memusuhi’.”[18]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat yang mulia tersebut berkata: “Artinya, mereka tidak saling mencintai dengan orang yang suka menentang (Allah dan RasulNya), bahkan meskipun mereka termasuk kerabat dekat.”[19]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, silaturrahim dengan mereka adalah dalam upaya untuk menghalangi mereka agar tidak mendekat kepada Neraka dan menjauhi dari Surga. Tetapi, bila kondisi mengisyaratkan bahwa untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan cara memutuskan hubungan dengan mereka, maka pemutusan hubungan tersebut –dalam kondisi demikian– dapat dikategorikan sebagai silaturrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, Imam Ibnu Abu Jamrah berkata: “Jika mereka itu orang-orang kafir atau suka berbuat dosa maka memutuskan hubungan dengan mereka karena Allah adalah (bentuk) silaturrahim dengan mereka. Tapi dengan syarat telah ada usaha untuk menasehati dan memberitahu mereka, dan mereka masih terus membandel. Kemudian, hal itu (pe-mutusan silaturrahim) dilakukan karena mereka tidak mau menerima kebenaran. Meskipun demikian, mereka masih tetap berkewajiban mendo’akan mereka tanpa sepengetahuan mereka agar mereka kembali ke jalan yang lurus.[20] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1]Fathul Bari, 10/414.&lt;br /&gt;[2] Murtqatul Mafatih, 8/645.&lt;br /&gt;[3] Catatan: “Para ahli hadits mengangkat persoalan seputar bertambahnya umur karena silaturrahim dan mereka memberikan jawabannya. Misalnya dalam Fathul Bari disebutkan, Ibnu At-Tin berkata, “Secara lahiriah, hadits itu bertentangan dengan firman Allah:&lt;br /&gt;“Maka apabila telah datang ajal mereka, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (Al-A’raf: 34).&lt;br /&gt;Untuk mencari titik temu kedua dalil tersebut dapat ditempuh melalui dua jalan. Pertama, bahwasanya tambahan (umur) yang dimaksud adalah kinayah dari usia yang diberi berkah karena mendapat taufik untuk menjalankan keta’atan, ia menyibukkan waktunya dengan apa yang bermanfaat di akhirat, serta menjaga dari menyia-nyiakan waktunya untuk hal lain (yang tidak bermanfaat). Kedua, tambahan itu secara hakikat atau sesungguhnya. Dan itu berkaitan dengan malaikat yang diberi tugas mengenai umur manusia. Adapun yang ditunjukkan oleh ayat perama di atas, maka hal itu berkaitan dengan ilmu Allah Subhannahu wa Ta'ala  Umpamanya dikatakan kepada malaikat, “Sesungguhnya umur fulan adalah 100 tahun jika dia menyambung silaturrahim dan 60 tahun jika ia memutuskannya”. Dalam ilmu Allah telah diketahui bahwa fulan tersebut akan menyambung atau memutuskan silaturrahim. Dan apa yang ada di dalam ilmu Allah itu tidak akan maju atau mundur. Adapun yang ada dalam ilmu malaikat maka hal itulah yang mungkin bisa bertambah atau berkurang. Itulah yang diisyaratkan oleh firman Allah:&lt;br /&gt;“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisiNya-lah terdapat Ummul Kitab (Lauh Mahfuzh).” (Ar-Ra’d: 39)&lt;br /&gt;Jadi, yang dimaksudkan dengan menghapuskan dan menetapkan dalam ayat itu adalah apa yang ada dalam ilmu malaikat. Sedangkan apa yang ada di dalam Lauh Mahfuzh itu merupakan ilmu Allah, yang tidak akan ada penghapusan (perubahan) selama-lamanya. Itulah yang disebut dengan al-qadha’ al-mubram (taqdir/putusan yang pasti), sedang yang pertama (dalam ilmu malaikat) disebut al-qadha’ al-mu’allaq (taqdir/putusan yang masih menggantung). (Fathul Bari, 10/416 secara ringkas. Lihat pula, Syarah Nawawi, 16/114, ‘Umdatul Qari, 22/91).&lt;br /&gt;[4] Shahihul Bukhari, Kitabul Adab, bab Man Busitha Lahu fir Rizqi Bishilatir Rahim, no.5985, 10/415.&lt;br /&gt;[5] Op. cit., No. 5986, 10/415.&lt;br /&gt;[6] Op. Cit., 10/415. &lt;br /&gt;[7] Umdatul Qari, 22/91&lt;br /&gt;[8] Al-Ihsan fi Taqribi Shahih Ibnu Hibban, Kitabul Birri wal Ihsan, bab Shilaturrahim wa Qath’iha, 2/180.&lt;br /&gt;[9] Al-Musnad, no. 8855, 17/142. Jami’ut Tirmidzi, Abwabul Birri wash Shilah, Bab Ma Ja’a fi Ta’limin Nasab, no. 2045, 6/96-97, dan lafazh ini miliknya. Al-Mustadrak ‘alash Shahihain, Kitabul Birr wash Shilah, 4/161. Imam Al-Hakim berkata, “Hadits ini sanadnya shahih, tetapi tidak dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.” (Op. Cit., 4/161). Hal ini juga disepakati oleh Adz-Dzahabi (At-Talkhis, 4/161). Syaikh Ahmad Muhammad Syakir menyatakan sanadnya shahih. (Hamisyul Musnad, 17/42). Dan ia dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani. (Shahih Sunan At-Tirmidzi, 2/190). &lt;br /&gt;[10] Al-Musnad, no. 1212, 2/290. Majma’uz Zawa’id wa Manba’ul Fawa’id, Kitabul Birri wash Shilah, bab Shilaturrahim wa Qatha’iha, 8/152-153. Tentang hadits ini, Al-Hafizh Al-Haitsami berkata, “Hadits ini diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad, Al-Bazzar dan Ath-Thabrani di dalam Al-Ausath.” Para perawi Al-Bazar adalah perawi-perawi Shahih Muslim, selain Ashim bin Hamzah, dia adalah orang tsiqath (terpercaya). (Op. cit., 8/153). Disebutkan Ashim bin Hamzah, yang benar adalah Ashim bin Dhamrah. Penulisan Hamzah adalah kesalahan cetak. (Hamisyul Musnad, 2/290). Syaikh Ahmad Muhammad Syakir berkata, “Sanad hadits ini shahih”. (Op. cit., 2/290).&lt;br /&gt;[11] Al-Adabul Mufrad, bab Man Washala Rahimahu Ahabbahu Allah, no.59, hal. 37.&lt;br /&gt;[12] Al-Ihsan fi Taqribi Shahih Ibnu Hibban, Kitabul Birr wal Ihsan, bab Shilaturrahim wa Qath’iha, no. 440, 2/182-183. Syaikh Syu’aib Al-Arna’uth menshahihkan hadits ini ketika menyebutkan dalil-dalil pada catatan kaki Al-Ihsan. (2/183-184).&lt;br /&gt;[13] Dinukil dari Tuhfatul Ahwadzi, 6/30.&lt;br /&gt;[14] Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata. “Dalam riwayat lain disebutkan, ‘Ia datang kepadaku dalam keadaan penuh harapan dan rasa takut’. Maknanya, bahwa ia datang dengan harapan agar puterinya berbuat baik kepadanya. Dan ia takut jika harapannya ditolak dan tak membawa hasil. Demikian seperti yang diterangkan oleh mayoritas ulama.” (Fathul Bari, 5/234).&lt;br /&gt;[15] Hadits diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari. (Shahihul Bukhari, Kitabul Hibah, bab Al-Hadiyyah lil Musyrikin…., no. 2620, 5/233). Imam Al-Khathabi berkata: “Ini menunjukkan bahwa kerabat dekat yang kafir disambung silaturrahimnya dengan harta atau sejenisnya sebagaimana kaum muslimin disambung silaturrahimnya dengannya.” (Dinukil dari Fathul Bari, 5/234).&lt;br /&gt;[16] At-Tafsirul Kabir, 29/276. Fathul Qadir, 5/272.&lt;br /&gt;[17] Ahkamul Qur’an oleh Ibnul Arabi, 4/1763. Tafsir Al-Qurthubi, 17/307.&lt;br /&gt;[18] Op. cit., 17/307. Lihat pula, Tafsir At-Tahrir wat Tanwir, 26/80.&lt;br /&gt;[19] Tafsir Ibnu Katsir, 4/347.&lt;br /&gt;[20] Dinukil dari Tuhfatul Ahwadzi, 6/30.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&amp;nbsp; &lt;a href="http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=491&amp;amp;parent_section=kj017&amp;amp;idjudul=1"&gt;http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=491&amp;amp;parent_section=kj017&amp;amp;idjudul=1&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-2423317275021474311?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/2423317275021474311/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/silaturrahim.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/2423317275021474311'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/2423317275021474311'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/silaturrahim.html' title='Silaturrahim'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-8357138986483423955</id><published>2011-11-26T07:31:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T07:31:51.162+07:00</updated><title type='text'>Melanjutkan Haji Dengan Umrah Atau Sebaliknya</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Di antara perbuatan yang dijadikan Allah termasuk kunci-kunci rizki yaitu melanjutkan haji dengan umrah atau sebaliknya. Pembicaraan masalah ini –dengan memohon pertolongan Allah– akan saya lakukan melalui dua poin bahasan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;A.   Yang Dimaksud Melanjutkan Haji Dengan Umrah Atau Sebaliknya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abul Hasan As-Sindi menjelaskan tentang mak-sud melanjutkan haji dengan umrah atau sebaliknya berkata: “Jadikanlah salah satunya mengikuti yang lain, di mana ia dilakukan sesudahnya. Artinya, jika kalian menunaikan haji maka tunaikanlah umrah. Dan jika kalian menunaikan umrah maka tunaikanlah haji, sebab keduanya saling mengikuti.[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;B. Dalil Syar’i Bahwa Melanjutkan Haji Dengan Umrah Atau Sebaliknya Termasuk Kunci Rizki&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara hadits-hadits yang menunjukkan bahwa melanjutkan haji dengan umrah atau sebaliknya termasuk kunci-kunci rizki adalah:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Imam Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasa’, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud Radhiallaahu anhu berkata, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lanjutkanlah haji dengan umrah, karena sesungguhnya keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa, sebagai-mana api dapat menghilangkan kotoran besi, emas dan perak. Dan tidak ada pahala haji yang mabrur[2] itu me-lainkan Surga”.[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits yang mulia tersebut Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam yang terpercaya, yakni berbicara dengan wahyu menjelaskan bahwa buah melanjutkan haji dengan umrah atau sebaliknya adalah hilangnya kemiskinan dan dosa. Imam Ibnu Hibban memberi judul hadits ini dalam kitab shahihnya dengan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keterangan Bahwa Haji dan Umrah Menghilangkan Dosa-dosa dan Kemiskinan dari Setiap Muslim dengan Sebab Keduanya.” [4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Imam Ath-Thayyibi dalam menjelaskan sabda Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam :&lt;br /&gt;“Sesungguhnya keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa”, dia berkata, “Kemampuan keduanya untuk menghilangkan kemiskinan seperti kemampuan amalan bersedekah dalam menambah harta.”[5]&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hadits riwayat Imam An-Nasa’i dari Ibnu Abbas , ia berkata, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lanjutkanlah haji dengan umrah atau sebaliknya. Kare-na sesungguhnya keduanya dapat menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana api dapat menghilangkan kotoran besi.” [6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka orang-orang yang menginginkan untuk dihilangkan kemiskinan dan dosa-dosanya, hendaknya ia segera melanjutkan hajinya dengan umrah atau sebaliknya. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;[1]  Hasyiyatul Imam As-Sindi ‘ala Sunan An-Nasa’i, 5/115. Lihat pula Faidhul Qadir oleh Al-Manawi, 3/225.&lt;br /&gt;[2] Haji mabrur adalah haji yang memenuhi semua hukum-hukum (persyaratan)-nya, sehingga dilakukan sesuai dengan yang diminta dari seseorang mukallaf (yang dibebani syar'iat) secara sempurna. (Tuhfatul Ahwadzi, 3/454).&lt;br /&gt;[3] Al-Musnad, no. 3669, 5/244-245. Jami’ut Tirmidzi, Abwabul Hajj, bab Ma Ja’a fi Tsawabul Hajji wal ‘Umrati, no. 807, 3/454 dan lafazh ini miliknya. Sunan An-Nasa’i, kitab Manasikil Haji, fadhul Mutaba’ti Bainal Hajji wal ‘Umrati, 5/115. Shahih Ibnu Khuzaimah, Kitabul Manasik, bab Al-Amru bil Mutaba’ati Bainal Hajji wal ‘Umrati, no. 464, 4/130. Al-Ihsan ila Taqribi Shahih Ibnu Hibban, Kitabul Hajj, bab Fadhul Hajji wal’Umrati, no. 3693, 9/6. Imam At-Tarmidzi berkata, “Hadits Ibnu Mas’ud t adalah hasan shahih gharib’. (Jami’ut Tirmidzi, 3/455). Syaikh Ahmad Syakir berkata, “Sanadnya shahih”. (Hamisyul Musnad, 5/244). Syaikh Al-Albani berkata, “Hadits ini hasan shahih”. (Shahih Sunan At-Tirmidzi, 1/245 dan Shahih Sunan An-Nasa’i, 2/558) Syaikh Syu’aib Al-Arna’uth berkata, “Sanad hadits ini hasan”. (Hamsiyul Ihsan, 9/6).&lt;br /&gt;[4] Al-Ihsan Fi Taqribi Shahih Ibnu Hibban, 9/6.&lt;br /&gt;[5] Faidhul Qadir, 3/225.&lt;br /&gt;[6] Sunan An-Nasa’i, kitab Manasikil Hajj, Fadhul Mutaba’ati Bainal Hajj wal ‘Umrati, 5/115. Syaikh Al-Albani berkata shahih. (Shahih Sunan An-Nasa’i, 2/558).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&amp;nbsp; &lt;a href="http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=489&amp;amp;parent_section=kj017&amp;amp;idjudul=1"&gt;http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=489&amp;amp;parent_section=kj017&amp;amp;idjudul=1&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-8357138986483423955?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/8357138986483423955/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/melanjutkan-haji-dengan-umrah-atau.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/8357138986483423955'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/8357138986483423955'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/melanjutkan-haji-dengan-umrah-atau.html' title='Melanjutkan Haji Dengan Umrah Atau Sebaliknya'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-8402330731285456162</id><published>2011-11-26T07:30:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T07:30:52.137+07:00</updated><title type='text'>Beribadah Kepada Allah Subhanaahu wa Ta'ala Sepenuhnya</title><content type='html'>Di antara kunci-kunci rizki adalah beribadah kepada Allah sepenuhnya. Saya akan membahas masalah ini &lt;br /&gt;–dengan memohon pertolongan kepada Allah– dari dua hal:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.  Makna beribadah kepada Allah sepenuhnya.&lt;br /&gt;b.  Dalil syar’i bahwa beribadah kepada Allah sepenuhnya adalah di antara kunci-kunci rizki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;A.   Makna Beribadah Kepada Allah Sepenuhnya.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendaknya seseorang tidak mengira bahwa yang dimak-sud beribadah sepenuhnya adalah dengan meninggalkan usaha untuk mendapatkan penghidupan dan duduk di masjid sepanjang siang dan malam. Tetapi yang dimaksud –wallahu a’lam– adalah hendaknya seorang hamba beribadah dengan hati dan jasadnya, khusyu’ dan merendahkan diri di hadapan Allah Yang Maha Esa, menghadirkan (dalam hati) betapa besar keagungan Allah, benar-benar merasa bahwa ia sedang bermunajat kepada Allah Yang Maha Menguasai dan Maha Menentukan. Yakni beribadah sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hendaknya kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kami melihatNya. Jika kamu tidak melihatNya maka se-sungguhnya Dia melihatmu.” [1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janganlah engkau termasuk orang-orang yang (ketika beribadah) jasad mereka berada di masjid, sedang hatinya berada di luar masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelaskan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam :&lt;br /&gt;“Beribadahlah sepenuhnya kepadaKu”. Al-Mulla Ali Al-Qari berkata, “Maknanya, jadikanlah hatimu benar-benar sepenuhnya (berkonsentrasi) untuk beribadah kepada Tuhan-mu”.[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;B. Dalil Syar’i Bahwa Beribadah Kepada Allah Sepenuhnya Termasuk Kunci Rizki&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa nash yang menunjukkan bahwa beribadah sepenuhnya kepada Allah termasuk di antara kunci-kunci rizki. Beberapa nash tesebut di antaranya adalah:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-Hakim dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu , dari Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam beliau bersabda: &lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah Subhannahu wa Ta'ala  berfirman, ‘Wahai anak Adam!, beribadahlah sepenuhnya kepadaKu, niscaya Aku penuhi (hatimu yang ada) di dalam dada dengan kekayaan dan Aku penuhi kebutuhanmu. Jika tidak kalian lakukan, nis-caya Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan[3] dan tidak Aku penuhi kebutuhanmu (kepada manusia)’.” [4]&lt;br /&gt;Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam dalam hadits tersebut menjelaskan, bahwasanya Allah menjanjikan kepada orang yang beribadah kepadaNya sepenuhnya dengan dua hadiah, sebaliknya mengancam bagi yang tidak beribadah kepadaNya sepenuhnya dengan dua siksa. Adapun dua hadiah itu adalah Allah mengisi hati orang yang beribadah kepadaNya sepenuhnya dengan kekayaan serta memenuhi kebutuhannya. Sedangkan dua siksa itu adalah Allah memenuhi kedua tangan orang yang tidak beribadah kepadaNya sepenuhnya dengan berbagai kesibukan, dan ia tidak mampu memenuhi kebutuhannya, sehingga ia tetap membutuhkan kepada manusia.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hadits riwayat imam Al-Hakim dari Ma’qal bin Yasar Radhiallaahu anhu  ia berkata, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam  bersabda:&lt;br /&gt;“Tuhan kalian berkata, ‘Wahai anak Adam, beribadah-lah kepadaKu sepenuhnya, niscaya Aku penuhi hatimu dengan kekayaan dan Aku penuhi kedua tanganmu dengan rizki. Wahai anak Adam!, jangan jauhi Aku, sehingga Aku penuhi hatimu dengan kefakiran dan Aku penuhi kedua tangamu dengan kesibukan.”[5]&lt;br /&gt;Dalam hadits yang mulia ini, Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam yang mulia, yang berbicara berdasarkan wahyu mengabarkan tentang janji Allah, yang tak satu pun lebih memenuhi janji daripadaNya, berupa dua jenis pahala bagi orang yang benar-benar ber-ibadah kepada Allah sepenuhnya. Yaitu, Allah pasti memenuhi hatinya dengan kekayaan dan kedua tangannya dengan rizki.&lt;br /&gt;Sebagaimana Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam juga memperingatkan akan ancaman Allah kepada orang yang menjauhiNya dengan dua jenis siksa. Yaitu Allah pasti memenuhi hatinya dengan kefakiran dan kedua tangannya dengan kesibukan.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Dan semua mengetahui, siapa yang hatinya dikayakan oleh Yang Maha Memberi kekayaan, niscaya tidak akan didekati oleh kemiskinan selama-lamanya. Dan siapa yang kedua tangannya dipenuhi rizki oleh Yang Maha Memberi rizki dan Maha Perkasa, niscaya ia tidak akan pernah pailit selama-lamanya. Sebaliknya, siapa yang hatinya dipenuhi dengan kefakiran oleh Yang Maha Kuasa dan Maha Menentukan, niscaya tak seorang pun mampu membuatnya kaya. Dan siapa yang disibukkan oleh Yang Maha Perkasa dan Maha Memaksa, niscaya tak seorangpun yang mampu memberinya waktu luang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Lihat Shahih Muslim, Kitabul Iman, bab Bayanul Iman wal Islam wal Ihsan…., penggalan dari hadits no. 5(9), 1/39.&lt;br /&gt;[2] Murqatul Mafatih, 9/26. Lihat pula Tuhfatul Ahwadzi, di dalamnya disebutkan:&lt;br /&gt;تَفَرَّ غْ مِنْ مُهَمَّا تِكَ لِطَا عَتِي.&lt;br /&gt;“Kosongkanlah (hatimu) dari urusan-urusanmu untuk menta’atiKu.” (7/140).&lt;br /&gt;[3] Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan”. Dikhususkan penyebutan kata ‘tangan’, karena pekerjaan itu dilakukan dengan keduanya. (Faidhul Qadir, 2/308).&lt;br /&gt;[4] Al-Musnad, no. 8681, 16/284. Jami’ut Tirmidzi, Abwabul Shifatil Qiyamah, bab no. 2583, 7/140 dan lafazh ini miliknya. Sunan Ibnu Majah, Abwabuuz Zuhd, Al-Hammu bid Dunya, no. 4159, 2/408. Al-Mustadrak ‘Alash Shahihain, Kitabut Tafsir, 2/443. Imam At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan gharib (Jami’ut Tirmidzi, 7/141). Imam Al-Hakim berkata, Ini adalah hadits yang sanadnya shahih, tetapi tidak dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim”. (Al-Mustadrak, 2/443). Dan ini disepakati oleh Adz-Dzahabu (At-Talkhish, 2/443). Syaikh Al-Albani berkata shahih (Shahih Sunan At-Tirmidzi, 2/300. Shahih Sunan Ibnu Majah, 2/393). &lt;br /&gt;[5] Al-Mustadrak ’Alash Shahihain, Kitabur Riqaq, 4/326. Imam Al-Hakim berkata, “Sanad hadits ini shahih, tetapi Al-Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya”. (Op. cit. 4/326). Dan hal ini disepakati oleh Adz-Dzahabi (At-Talkhish, 4/326). Syaikh Al-Albani berkata, “Tentang hadits ini, memang seperti dikatakan oleh keduanya”. (Silsilatul Ahadits Ash-Shahihah, no. 1359, 3/347).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&amp;nbsp; &lt;a href="http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=487&amp;amp;parent_section=kj017&amp;amp;idjudul=1"&gt;http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=l&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;ihatkajian&amp;amp;parent_id=487&amp;amp;parent_section=kj017&amp;amp;idjudul=1&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-8402330731285456162?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/8402330731285456162/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/beribadah-kepada-allah-subhanaahu-wa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/8402330731285456162'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/8402330731285456162'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/beribadah-kepada-allah-subhanaahu-wa.html' title='Beribadah Kepada Allah Subhanaahu wa Ta&apos;ala Sepenuhnya'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-3679929508226213373</id><published>2011-11-26T07:17:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T07:18:13.330+07:00</updated><title type='text'>Bertawakal Kepada Allah Subhanaahu wa Ta'ala</title><content type='html'>Termasuk di antara sebab diturunkannya rizki adalah bertawakkal kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala dan Yang kepadaNya tempat bergantung. Insya Allah kita akan membicarakan hal ini melalui tiga hal:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Yang dimaksud bertawakkal kepada Allah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dalil syar’i bahwa bertawakkal kepada Allah termasuk di antara kunci-kunci rizki.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Apakah tawakkal itu berarti meninggalkan usaha?&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;b&gt;A. Yang Dimaksud Bertawakkal kepada Allah &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama-semoga Allah membalas mereka dengan sebaik-baik balasan- telah menjelaskan makna tawakkal. Di antaranya adalah Imam Al-Ghazali, beliau berkata: “Tawakkal adalah penyandaran hati hanya kepada wakil (yang ditawakkali) semata.”[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Allamah Al-Manawi berkata: “Tawakkal adalah menampakkan kelemahan serta penyandaran (diri) kepada yang di tawakkali.”[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelaskan makna tawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, Al-Mulla Ali Al-Qori berkata: “Hendaknya kalian ketahui secara yakin bahwa tidak ada yang berbuat dalam alam wujud ini kecuali Allah, dan bahwa setiap yang ada, baik makhluk maupun rizki, pemberian atau pelarangan, bahaya atau manfaat, kemiskinan atau kekayaan, sakit atau sehat, hidup atau mati dan segala hal yang disebut sebagai sesuatu yang maujud (ada), semuanya itu adalah dari Allah.”[3] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;B. Dalil syar’i Bahwa Bertawakkal kepada Allah Termasuk Kunci Rizki&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Al-Muba-rak, Ibnu Hibban, Al-Hakim, Al-Qhudha’i dan Al-Baghawi meriwayatkan dari Umar bin Khatab Radhiallaahu anhu Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sungguh, seandainya kalian bertawakkal kepada Allah sebenar-benar tawakkal, niscaya kalian akan diberi rizki sebagaimana rizki burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.”[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits yang mulia ini, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam yang berbicara dengan wahyu menjelaskan, orang yang bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya dia akan diberi rizki oleh Allah sebagaimana burung-burung diberiNya rizki. Betapa tidak demikian, karena dia telah bertawakkal kepada Dzat Yang Maha Hidup, Yang tidak pernah mati. Karena itu, barangsiapa bertawakkal kepada-Nya, niscaya Allah akan mencukupinya. Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)Nya. Se-sungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Ath-Thalaq: 3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menafsirkan ayat tersebut, Ar-Rabi’ bin Khutsaim me-ngatakan: “(Mencukupkan) diri setiap yang membuat sempit manusia”.[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;C.  Apakah Tawakkal itu Berarti Meninggalkan Usaha?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang mukmin ada yang berkata: “Jika orang yang bertawakkal kepada Allah itu akan diberi rizki, maka kenapa kita harus lelah, berusaha dan mencari penghidupan. Bukankah kita cukup duduk-duduk dan bermalasan-malasan, lalu rizki kita datang dari langit?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkataan ini sungguh menunjukkan kebodohan orang yang mengucapkan tentang hakikat tawakkal. Nabi kita yang mulia telah menyerupakan orang yang bertawakkal dan diberi rizki itu dengan burung yang pergi di pagi hari untuk mencari rizki dan pulang pada sore hari, padahal burung itu tidak memiliki sandaran apa pun, baik perdagangan, pertanian, pabrik atau pekerjaan tertentu. Ia keluar berbekal tawakkal kepada Allah Yang Maha Esa dan Yang kepadanya tem-pat bergantung. Dan sungguh para ulama –semoga Allah membalas mereka dengan sebaik-baik kebaikan– telah mem-peringatkan masalah ini. Di antaranya adalah Imam Ahmad, beliau berkata: “ Dalam hadits tersebut tidak ada isyarat yang membolehkan untuk meninggalkan usaha, sebaliknya justru di dalamnya ada isyarat yang menunjukkan perlunya mencari rizki. Jadi maksud hadits tersebut, bahwa seandai-nya mereka bertawakkal kepada Allah dalam kepergian, ke-datangan dan usaha mereka, dan mereka mengetahui kebaikan (rizki) itu di TanganNya, tentu mereka tidak akan pu-lang kecuali dalam keadaan mendapatkan harta dengan selamat, sebagaimana burung-burung tersebut.”[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ahmad pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang hanya duduk di rumah atau masjid seraya berkata, ‘Aku tidak mau bekerja sedikit pun, sampai rizkiku datang sendiri’. Maka beliau berkata, Ia adalah laki-laki yang tidak mengenal ilmu. Sungguh Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah telah menjadikan rizkiku melalui panahku.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan beliau bersabda:&lt;br /&gt;“Sekiranya kalian bertawakkal kepada Allah dengan se-benar-benar tawakkal, niscaya Allah memberimu rizki sebagaimana yang diberikanNya kepada burung-burung berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits tersebut dikatakan, burung-burung itu be-rangkat pagi-pagi dan pulang sore hari dalam rangka men-cari rizki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya Imam Ahmad berkata: “Para Sahabat juga berdagang dan bekerja dengan pohon kurmanya. Dan mereka itulah teladan kita”.[7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abu Hamid berkata: “Barangkali ada yang mengi-ra bahwa makna tawakkal adalah meninggalkan pekerjaan secara fisik, meninggalkan perencanaan dengan akal serta menjatuhkan diri di atas tanah seperti sobekan kain yang di-lemparkan, atau seperti daging di atas landasan tempat me-motong daging. Ini adalah sangkaan orang-orang bodoh. Semua itu adalah haram menurut hukum syari’at. Sedangkan syari’at memuji orang yang bertawakkal. Lalu, bagaimana mungkin sesuatu derajat ketinggian dalam agama dapat di-peroleh dengan hal-hal yang dilarang oleh agama pula?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hakikat yang sesungguhnya dalam hal ini dapat kita kata-kan, “Sesungguhnya pengaruh bertawakkal itu tampak dalam gerak dan usaha hamba ketika bekerja untuk mencapai tujuan-tujuannya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Abul Qosim Al-Qusyairi berkata: “Ketahuilah sesungguhnya tawakkal itu letaknya di dalam hati. Adapun gerak secara lahiriah hal itu tidak bertentangan dengan ta-wakkal yang ada di dalam hati setelah seorang hamba me-yakini bahwa rizki itu datangnya dari Allah. Jika terdapat kesulitan, maka hal itu adalah karena taqdirNya, dan jika terdapat kemudahan maka hal itu karena kemudahan dariNya.”[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara yang menunjukkan bahwa tawakkal kepada Allah tidaklah berarti meninggalkan usaha adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dan Imam Al-Hakim dari Ja’far bin Amr bin Umayah dari ayahnya Radhiallaahu anhu , ia berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seseorang berkata kepada Nabisaw , Aku lepaskan unta-ku dan (lalu) aku bertawakkal?’ Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: ‘Ikat-lah kemudian bertawakkallah’.” [9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam riwayat Al-Qudha’i disebutkan:&lt;br /&gt;“Amr bin Umayah t berkata: ‘Aku bertanya,’Wahai Rasulullah, Apakah aku ikat dahulu (tunggangan)ku lalu aku bertawakkal kepada Allah, atau aku lepaskan begitu saja lalu aku bertawakkal?’ Beliau menjawab, ‘Ikatlah kendaran (unta) mu lalu bertawakkallah’.” [10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan dari pembahasan ini adalah bahwa tawakkal tidaklah berarti meninggalkan usaha. Dan sungguh setiap muslim wajib berpayah-payah, bersungguh-sungguh dan berusaha untuk mendapatkan penghidupan. Hanya saja ia tidak boleh menyandarkan diri pada kelelahan, kerja keras dan usahanya, tetapi ia harus meyakini bahwa segala urusan adalah milik Allah, dan bahwa rizki itu hanyalah dari Dia semata .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Ihya’ Ulumid Din, 4/259.&lt;br /&gt;[2] Faidhul Qadir, 5/311.&lt;br /&gt;[3] Murqatul Mafatih, 9/156.&lt;br /&gt;[4] Al-Musnad, no. 205, 1/243 no. 370, 1/313 no. 373, 1/304. Jami’ut Tirmidzi, Kitabuz Zuhud, bab Fit Tawakkal ‘Alallah, no. 2344, no. 2447, 7/7 dan lafazh ini adalah miliknya; Sunan Ibnu Majah, Abwabuz Zuhd At-Tawakkal wal Yaqin, no. 4216, 2/419. Kitabuz Zuhd oleh Ibnu Al-Mubarak, juz IV, bab At-Tawakkal wat Tawadhu’ no. 559, hal. 196-197. Al-Ihsan fi Taqribi Shahih Ibnu Hibban, Kitabur Raqa’iq, bab Al-Wara’ wat Tawakkal, Dzikrul Akhbar ‘amma Yajibu ‘alal Mar’i min Qath’il Qulubi ‘anil Khala’iqi bi Jami’il ‘Ala’iqi fi Ahwalihi wa Asbabuhi no. 730,2/509. Al-Mustadrak ‘ala Ash-Shahihain, Kitabur Riqaq, 4/318. Musnad Asy-Syihab, Lau Annakum Tatawakkaluna ala’ Allah Haqqa Tawakkulihi, no. 1444, 2/319. Syarhus Sunnah oleh Al-Baghawi, Kitabur Riqaq, bab At-Tawakkal’ala Allah U no. 4108, 14/301. Imam At-Tirmidzi berkata, “Ini adalah hadits shahih, kami tidak mengetahuinya kecuali dari sisi ini.” (Jami’ut Tirmidzi, 7/8). Imam Al-Hakim berkata, “Ini adalah hadits dengan sanad shahih, tetapi tidak dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.” (Al-Mustadrak ’Ala Ash-Shahihain, 4/318) Dan disepakati oleh Adz-Dzahabi (At-Talkhis, I4/318). Imam Al-Baghawi berkata, “Ini adalah Hadits hasan” (Syarhus Sunnah, 14/301). Dan sanadnya dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir (Hamisyul Musnad, 1/243). Serta Syaikh Al-Albani menshaihkannya (Silsilatul Ahadits Ash-Shahihah no. 310, jilid 1, juz III/12).&lt;br /&gt;[5] Syahrus Sunnah, 14/298.&lt;br /&gt;[6] Dinukil dari Tuhfatul Ahwadzi, 7/8.&lt;br /&gt;[7] Dinukil dari Fathul Bari, 11/305-306.&lt;br /&gt;[8] Dinukil dari Murqatul Mafatih, 5/157.&lt;br /&gt;[9] Al-Ihsan fi Taqribi Shahih Ibnu Hibban, Kitabur Raqa’iq, Bab Al-Wara’ wat Tawakkul, Dzikrul Akhbar bi Annal Mar’a Yajibu Alaihi Ma’ Tawakkulil Qalbi Al-Ihtiraz bil A’dha’Dhidda Qauli Man Karihahu, no. 731, 2/510, dan lafazh ini miliknya. Al-Mustadrak Alash Shahihain, Kitab Ma’rifatish Shahabah, Dzikru Amr bin Umayah t, 3/623. Al-Hafizh Adz-Dzahabi berkata, ‘Sanad hadits ini jayyid’. (At-Talkhish, 3/623). Al-Hafizh Al-Haitsami juga menyatakan hal senada dalam Majma’uz Zawa’id wa Manba’ul Fawa’id, 10/303. Beliau berkata, ‘Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dari banyak jalan. Dan para pembawa hadits ini adalah pembawa hadits Shahih Muslim selain Ya’kub bin Abdullah bin Amr bin Umayah Adh-Dhamari, dan dia adalah tsiqah (terpercaya). (Op. cit.,10/303)&lt;br /&gt;[10] Musnad Asy-Syihab, Qayyidha wa Tawakkal, no. 633,1/368.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&amp;nbsp; &lt;a href="http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=485&amp;amp;parent_section=kj017&amp;amp;idjudul=1"&gt;http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=485&amp;amp;parent_section=kj017&amp;amp;idjudul=1&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-3679929508226213373?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/3679929508226213373/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/bertawakal-kepada-allah-subhanaahu-wa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/3679929508226213373'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/3679929508226213373'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/bertawakal-kepada-allah-subhanaahu-wa.html' title='Bertawakal Kepada Allah Subhanaahu wa Ta&apos;ala'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-6177971585793756826</id><published>2011-11-26T07:15:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T07:15:34.360+07:00</updated><title type='text'>Taqwa</title><content type='html'>Termasuk sebab turunnya rizki adala taqwa. Saya akan membicarakan masalah ini –dengan memohon taufik dari Allah– dalam dua bahasan:&lt;br /&gt;Makna taqwa.&lt;br /&gt;Dalil syar’i bahwa taqwa termasuk kunci rizki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;A.   Makna Taqwa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama Rahimahullaah telah menjelaskan apa yang dimaksud dengan taqwa. Di antaranya, Imam Ar-Raghib Al-Ashfahani mendefinisikan: “Taqwa yaitu menjaga jiwa dari perbuatan yang membuatnya berdosa, dan itu dengan meninggalkan apa yang dilarang, menjadi sempurna dengan meninggalkan sebagian yang dihalalkan”.*1[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Imam An-Nawawi mendefinisikan taqwa dengan “Mentaati perintah dan laranganNya.” Maksudnya, menjaga diri dari kemurkaan dan adzab Allah Subhannahu wa Ta'ala .*2[2] Hal itu sebagaimana didefinisikan oleh Imam Al-Jurjani “Taqwa yaitu menjaga diri dari pekerjaan yang mengakibatkan siksa, baik dengan melakukan perbuatan atau meninggalkannya.”*3[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, siapa yang tidak menjaga dirinya, dari perbuatan dosa, berarti dia bukanlah orang bertaqwa. Maka orang yang melihat dengan kedua matanya apa yang diharamkan Allah, atau mendengarkan dengan kedua telinganya apa yang dimurkai Allah, atau mengambil dengan kedua tangannya apa yang tidak diridhai Allah, atau berjalan ke tempat yang dikutuk Allah, berarti tidak menjaga dirinya dari dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, orang yang membangkang perintah Allah serta melakukan apa yang dilarangNya, dia bukanlah termasuk orang-orang yang bertaqwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang menceburkan diri ke dalam maksiat sehingga ia pantas mendapat murka dan siksa dari Allah, maka ia telah mengeluarkan dirinya dari barisan orang-orang yang bertaqwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;B.   Dalil Syar'i Bahwa Taqwa Termasuk Kunci Rizki&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Beberapa nash yang menunjukkan bahwa taqwa termasuk di antara sebab rizki, Di antaranya:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Firman Allah:&lt;br /&gt; “Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan memberi-nya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Ath-Thalaq: 2-3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat di atas, Allah menjelaskan bahwa orang yang merealisasikan taqwa akan dibalas Allah dengan dua hal. Pertama, “Allah akan mengadakan jalan keluar baginya.” Artinya, Allah akan menyelamatkannya –sebagaimana dika-takan Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu – dari setiap kesusahan dunia maupun akhirat.*4[4] Kedua, “Allah akan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.” Artinya, Allah akan memberi-nya rizki yang tak pernah ia harapkan dan angankan.*5[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan: “Maknanya, barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah dengan melakukan apa yang diperintahkanNya dan meninggalkan apa yang dilarangNya, niscaya Allah akan memberinya jalan keluar serta rizki dari arah yang tidak disangka-sangka, yakni dari arah yang tidak pernah terlintas dalam benaknya,”*6[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah agung dan besar buah taqwa itu! Abdullah bin Mas’ud Radhiallaahu anhu berkata: “Sesungguhnya ayat terbesar dalam hal pemberian janji jalan keluar adalah:&lt;br /&gt; “Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya”.*7[7]&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ayat lainnya adalah firman Allah:&lt;br /&gt;“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada me-reka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendus-takan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka di-sebabkan perbuatan mereka sendiri”. (Al-A’raf: 96).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat yang mulia ini Allah menjelaskan, seandai-nya penduduk negeri-negeri merealisasikan dua hal, yakni iman dan taqwa, niscaya Allah akan melapangkan kebaikan (kekayaan) untuk mereka dan memudahkan mereka menda-patkannya dari segala arah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menafsirkan firman Allah:&lt;br /&gt;“Pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berbagai berkah dari langit dan bumi, Abdullah bin Abbas Radhiallaahu anhu mengatakan: “Niscaya Kami lapangkan kebaikan (kekayaan) untuk mereka dan Kami mudahkan bagi mereka untuk mendapatkannya dari segala arah.”*8[8] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janji Allah yang terdapat dalam ayat yang mulia tersebut terhadap orang-orang beriman dan bertaqwa mengandung beberapa hal, di antaranya:&lt;ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Janji Allah untuk membuka “ Barakaat” (keberkahan) bagi mereka. “Al Barakaat” adalah bentuk jama’ dari “ Al Barakah” Imam Al-Baghawi berkata, Ia berarti mengerjakan sesuatu secara terus menerus*9[9]. Atau seperti kata Imam Al-Khazin, “Tetapnya suatu kebaikan Tuhan atas sesuatu.”*10[10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, yang dapat disimpulkan dari makna kalimat “ Al barakah ” adalah bahwa apa yang diberikan Allah disebabkan oleh keimanan dan ketaqwaan mereka merupakan kebaikan yang terus menerus, tidak ada keburukan atau konsekuensi apa pun atas mereka sesudahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang hal ini, Sayid Muhammad Rasyid Ridha berkata: “Adapun orang-orang beriman maka apa yang dibukakan untuk mereka adalah berupa berkah dan kenikmatan. Dan untuk hal itu, mereka senantiasa bersyukur kepada Allah, ridha terhadapNya dan mengharapkan karuniaNya. Lalu mereka menggunakannya di jalan kebaikan, bukan jalan keburukan, untuk perbaikan bukan untuk merusak. Sehingga balasan bagi mereka dari Allah adalah ditambahnya berbagai kenikmatan di dunia dan pahala yang baik di akhirat.”*11[11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Ibnu Asyur mengungkapkan hal itu dengan ucapannya: “Makna “Al Barakah” adalah kebaikan yang murni yang tidak ada konsekuensinya di akhirat. Dan ini adalah sebaik-baik jenis nikmat.”*12[12]&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kata berkah disebutkan dalam bentuk jama’ sebagai-mana firman Allah:&lt;br /&gt; “Pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berbagai berkah.” Ayat ini, sebagaimana disebutkan Syaikh Ibnu Asyur untuk menunjukan banyaknya berkah sesuai dengan banyaknya sesuatu yang diberkahi.*13[13]&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Allah berfirman:&lt;br /&gt; “Berbagai keberkahan dari langit dan bumi”. Menurut Imam Ar-Razi, maksudnya adalah keberkahan langit dengan turunnya hujan, keberkahan bumi dengan tumbuhnya berbagai tanaman dan buah-buahan, banyaknya hewan ternak dan gembalaan serta diperolehnya keamanan dan keselamatan. Hal ini karena langit adalah laksana ayah, dan bumi laksana Ibu. Dari keduanya diperoleh semua bentuk manfaat dan kebaikan berdasarkan penciptaan dan pengurusan Allah .”*14[14]&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ayat lainnya adalah firman Allah:&lt;br /&gt; “Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil dan (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka. Diantara mereka ada golongan pertengah-an. Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka”. (Al-Ma’idah: 66).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhannahu wa Ta'ala mengabarkan tentang Ahli Kitab, ‘Bahwa seandainya mereka mengamalkan apa yang ada di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur'an –demikian seperti dikatakan oleh Abdullah bin Abbas Radhiallaahu anhu  dalam menafsirkan ayat tersebut,*15[15]– niscaya Allah memperbanyak rizki yang diturunkan kepada mereka dari langit dan yang tumbuh untuk mereka dari bumi.*16[16]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Yahya bin Umar Al-Andalusi berkata: “Allah menghendaki –wallahu a’lam– bahwa seandainya mereka mengamalkan apa yang diturunkan di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur'an, niscaya mereka memakan dari atas dan dari bawah kaki mereka. Maknanya –wallahu’alam–, niscaya mereka diberi kelapangan dan kesempurnaan nikmat dunia,”*17[17]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menafsirkan ayat ini, Imam Al-Qurthubi mengatakan, “Dan sejenis dengan ayat ini adalah firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; “Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (Ath-Thalaq:2-3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Dan bahwasanya jika mereka tetap berjalan di atas ja-lan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rizki yang ba-nyak).” (Al-Jin: 16).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada me-reka berbagai keberkahan dari langit dan bumi.” (Al-A’raf: 96).&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat di atas, Allah menjadikan ketaqwaan di antara sebab-sebab rizki dan men-janjikan untuk menambahnya bagi orang yang bersyukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman:&lt;br /&gt;“Jika kalian bersyukur, niscaya Aku tambahkan nikmat-Ku atasmu.” (Ibrahim: 7).*18[18]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, setiap orang yang menginginkan keluasan rizki dan kemakmuran hidup, hendaknya ia menjaga dirinya dari segala dosa. Hendaknya ia menta’ati perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-laranganNya. Juga hendaknya ia menjaga diri dari yang menyebabkan berhak mendapat siksa, seperti melakukan kemungkaran atau meninggalkan &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;*1 Al-Mufradat fi Gharibil Qur’an, dari asal kata “وقى” hal.531.&lt;br /&gt;*2 Tahriru Alfazhit Tanbih, hal.322.&lt;br /&gt;*3 Kitabut Ta’rifat, hal.68.&lt;br /&gt;*4 Tafsir Al-Qurthubi, 18/159. Ar-Rabi’ bin Khutsaim berkata: “Dia memberi jalan keluar dari setiap apa yang menyesakkan manusia.” (Zadul Masir, 8/291-292. Tafsir Al-Baghawi, 4/357 dan Tafsir Al-Khazin, 7/108).&lt;br /&gt;*5 Zaadul Masir, 8/291-292.&lt;br /&gt;*6 Tafsir Ibnu Katsir, 4/400.&lt;br /&gt;*7 Tafsir Ibnu Katsir, 4/400. Tafsir Ibnu Mas’ud, 2/651.&lt;br /&gt;*8 Tafsir Abu As-Su’ud, 3/253.&lt;br /&gt;*9 Tafsir Al-Baghawi, 2/183.&lt;br /&gt;*10 Tafsir Al-Khazin, 2/266.&lt;br /&gt;*11 Tafsir Al-Manar, 9/25.&lt;br /&gt;*12 Tafsir At-Tahrir wat Tanwir, 9/22.&lt;br /&gt;*13 Op. Cit., 9/22.&lt;br /&gt;*14 At-Tafsirul Kabir, 12/185. Tafsirul Khazin, 2/266 dan Tafsir At-Tahrir wa Tanwir, 9/22.&lt;br /&gt;*15 Tafsir Ath-Thabari, 10/463, Al-Muharrar Al-Wajiz, 5/152-153, Zadul Masir, 2/395 dan Tafsir Ibnu Katsir, 2/86.&lt;br /&gt;*16 Tafsir Ibnu Katsir, 2/86, dan Fathul Qadir yang di dalamnya dikatakan, “Penyebutan dari atas dan dari bawah (dalam ayat tersebut) adalah untuk menunjukkan puncak kemudahan sebab-sebab rizki bagi mereka, juga untuk menunjukkan banyak dan keaneka ragaman jenisnya.” (2/85), juga Tafsir At-Tahrir wa Tanwir yang di dalamnya disebutkan, “Maksudnya, niscaya mereka diberi rizki dari semua jalan.” (4/254).&lt;br /&gt;*17 Kitabun Nazhar wal Ahkam fi Jami’i Ahwalis Suuq, hal.41.&lt;br /&gt;*18 Tafsir Al-Qurthubi, 6/241.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&amp;nbsp; &lt;a href="http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=483&amp;amp;parent_section=kj017&amp;amp;idjudul=1"&gt;http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=483&amp;amp;parent_section=kj017&amp;amp;idjudul=1&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-6177971585793756826?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/6177971585793756826/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/taqwa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/6177971585793756826'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/6177971585793756826'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/taqwa.html' title='Taqwa'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-2778730764775727037</id><published>2011-11-26T07:13:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T07:14:12.913+07:00</updated><title type='text'>Istighfar dan Taubat</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Diantara sebab terpenting diturunkannya rizki adalah istighfar (memohon ampunan) dan taubat kepada Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Menutupi (kesalahan). Untuk itu, pembahasan mengenai pasal ini kami bagi menjadi dua pembahasan: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Hakikat istighfar dan taubat.&lt;br /&gt;b. Dalil syar'i bahwa istighfar dan taubat termasuk kunci rizki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;A. Hakikat Istighfar dan Taubat &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar orang menyangka bahwa istighfar dan taubat hanyalah cukup dengan lisan semata. Sebagian mereka mengucapkan, &lt;br /&gt;"Aku memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kalimat-kalimat di atas tidak membekas di dalam hati, juga tidak berpengaruh dalam perbuatan anggota badan. Sesungguhnya istighfar dan taubat jenis ini adalah perbuatan orang-orang dusta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama – semoga Allah memberi balasan yang sebaik-baiknya kepada mereka telah menjelaskan hakikat istighfar dan taubat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ar-Raghib Al-Ashfahani menerangkan: "Dalam istilah syara', taubat adalah meninggalkan dosa karena ke-burukannya, menyesali dosa yang telah dilakukan, berkeinginan kuat untuk tidak mengulanginya dan berusaha mela-kukan apa yang bisa diulangi (diganti). Jika keempat hal itu telah terpenuhi berarti syarat taubatnya telah sempurna" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam An-Nawawi dengan redaksionalnya sendiri menje-laskan: "Para ulama berkata, 'Bertaubat dari setiap dosa hukumnya adalah wajib. Jika maksiat (dosa) itu antara hamba dengan Allah, yang tidak ada sangkut pautnya dengan hak manusia maka syaratnya ada tiga. Pertama, hendaknya ia menjauhi maksiat tersebut. Kedua, ia harus menyesali per-buatan (maksiat)nya. Ketiga, ia harus berkeinginan untuk tidak mengulanginya lagi. Jika salah satunya hilang, maka taubatnya tidak sah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika taubat itu berkaitan dengan manusia maka syaratnya ada empat. Ketiga syarat di atas dan keempat, hendaknya ia membebaskan diri (memenuhi) hak orang tersebut. Jika ber-bentuk harta benda atau sejenisnya maka ia harus mengem-balikannya. Jika berupa had (hukuman) tuduhan atau seje-nisnya maka ia harus memberinya kesempatan untuk mem-balasnya atau meminta maaf kepadanya. Jika berupa ghibah (menggunjing), maka ia harus meminta maaf." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun istighfar, sebagaimana diterangkan Imam Ar-Raghib Al-Ashfahani adalah "Meminta (ampunan) dengan ucapan dan perbuatan. Dan firman Allah: &lt;br /&gt;"Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun." (Nuh: 10). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidaklah berarti bahwa mereka diperintahkan meminta ampun hanya dengan lisan semata, tetapi dengan lisan dan perbuatan. Bahkan hingga dikatakan, memohon ampun (istighfar) hanya dengan lisan saja tanpa disertai perbuatan adalah pekerjaan para pendusta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;B. Dalil Syar'i Bahwa Istighfar dan Taubat Termasuk Kunci Rizki &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa nash (teks) Al-Qur'an dan Al-Hadits me-nunjukkan bahwa istighfar dan taubat termasuk sebab-sebab rizki dengan karunia Allah . Di bawah ini beberapa nash dimaksud: &lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Apa yang disebutkan Allah  tentang Nuh  yang berkata kepada kaumnya : &lt;br /&gt; "Maka aku katakan kepada mereka, 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu', sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai'." (Nuh: 10-12). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat-ayat di atas menerangkan cara mendapatkan hal-hal berikut dengan istighfar.&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Ampunan Allah terhadap dosa-dosanya. Berdasarkan fir-manNya: "Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun." &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Diturunkannya hujan yang lebat oleh Allah. Ibnu Abbas radhiallaahu anhu berkata "midraara " adalah (hujan) yang turun dengan deras. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Allah akan membanyakkan harta dan anak-anak. Dalam menafsirkan ayat:Atha' berkata: "Niscaya Allah akan membanyakkan harta dan anak-anak kalian". &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Allah akan menjadikan untuknya kebun-kebun. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Allah akan menjadikan untuknya sungai-sungai. Imam Al-Qurthubi berkata: "Dalam ayat ini, juga disebutkan dalam (surat Hud) adalah dalil yang menunjukkan bahwa istighfar merupakan salah satu sarana meminta ditu-runkannya rizki dan hujan." &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya berkata: "Makna-nya, jika kalian bertaubat kepada Allah, meminta ampun kepadaNya dan kalian senantiasa mentaatiNya niscaya Ia akan membanyakkan rizki kalian dan menurunkan air hujan serta keberkahan dari langit, mengeluarkan untuk kalian berkah dari bumi, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan untuk kalian, melimpahkan air susu perahan untuk kalian, mem-banyakkan harta dan anak-anak untuk kalian, menjadikan kebun-kebun yang di dalamnya bermacam-macam buah-buahan untuk kalian serta mengalirkan sungai-sungai di antara kebun-kebun itu (untuk kalian)." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, dan Amirul mukminin Umar bin Khaththab  juga berpegang dengan apa yang terkandung dalam ayat-ayat ini ketika beliau memohon hujan dari Allah . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muthrif meriwayatkan dari Asy-Sya'bi: "Bahwasanya Umar  keluar untuk memohon hujan bersama orang ba-nyak. Dan beliau tidak lebih dari mengucapkan istighfar (memohon ampun kepada Allah) lalu beliau pulang. Maka seseorang bertanya kepadanya, 'Aku tidak mendengar Anda memohon hujan'. Maka ia menjawab, 'Aku memohon diturunkannya hujan dengan majadih langit yang dengannya diharapkan bakal turun air hujan. Lalu beliau membaca ayat: &lt;br /&gt; "Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat." (Nuh: 10-11). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Al-Hasan Al-Bashri juga menganjurkan istighfar (memohon ampun) kepada setiap orang yang mengadukan kepadanya tentang kegersangan, kefakiran, sedikitnya ketu-runan dan kekeringan kebun-kebun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Al-Qurthubi menyebutkan dari Ibnu Shabih, bah-wasanya ia berkata: "Ada seorang laki-laki mengadu kepada Al-Hasan Al-Bashri tentang kegersangan (bumi) maka beliau berkata kepadanya, "Beristighfarlah kepada Allah!" Yang lain mengadu kepadanya tentang kemiskinan maka beliau berkata kepadanya, "Beristighfarlah kepada Allah!" Yang lain lagi berkata kepadanya, "Do'akanlah (aku) kepada Allah, agar ia memberiku anak!" Maka beliau mengatakan kepadanya, "Beristighfarlah kepada Allah!" Dan yang lain lagi mengadu kepadanya tentang kekeringan kebunnya maka beliau mengatakan (pula) kepadanya, "Beristighfarlah kepada Allah!" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kami menganjurkan demikian kepada orang yang mengalami hal yang sama. Dalam riwayat lain disebutkan: "Maka Ar-Rabi' bin Shabih berkata kepadanya, 'Banyak orang yang mengadukan bermacam-macam (perkara) dan Anda memerintahkan mereka semua untuk beristighfar. Maka Al-Hasan Al-Bashri menjawab, 'Aku tidak mengata-kan hal itu dari diriku sendiri. Tetapi sungguh Allah telah berfirman dalam surat Nuh: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirim-kan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu ke-bun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai." (Nuh: 10-12). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu Akbar! Betapa agung, besar dan banyak buah dari istighfar! Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-ham-baMu yang pandai beristighfar. Dan karuniakanlah kepada kami buahnya, di dunia maupun di akhirat. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan. Amin, wahai Yang Maha Hidup dan terus menerus mengurus MakhlukNya. &lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ayat lain adalah firman Allah yang menceritakan tentang seruan Hud  kepada kaumnya agar beristighfar. &lt;br /&gt; "Dan (Hud berkata), 'Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertaubatlah kepadaNya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat lebat atasmu dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa'." (Hud:52). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafizh Ibnu katsir dalam menafsirkan ayat yang mulia di atas menyatakan: "Kemudian Hud  memerintahkan kaumnya untuk beristighfar yang dengannya dosa-dosa yang lalu dapat dihapuskan, kemudian memerintahkan mereka bertaubat untuk masa yang akan mereka hadapi. Barangsiapa memiliki sifat seperti ini, niscaya Allah akan memudahkan rizkinya, melancarkan urusannya dan menjaga keadaannya. Karena itu Allah berfirman: &lt;br /&gt; "Niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat lebat atas-mu". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang memiliki sifat taubat dan istighfar, dan mudahkanlah rizki-rizki kami, lancarkanlah urusan-urusan kami serta jagalah keadaan kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa. Amin, wahai Dzat Yang Memiliki keagungan dan kemuliaan. &lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ayat yang lain adalah firman Allah: &lt;br /&gt; "Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepadaNya. (jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan, dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari Kiamat." (Hud: 3). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada ayat yang mulia di atas, terdapat janji dari Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Menentukan berupa kenikmatan yang baik kepada orang yang beristighfar dan bertaubat. Dan maksud dari firmanNya: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepadamu." Sebagaimana dikatakan oleh Abdullah bin Abbas adalah, "Ia akan menganugerahi rizki dan kelapangan kepada kalian". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan: "Inilah buah dari istighfar dan taubat. Yakni Allah akan memberi kenikmatan kepada kalian dengan berbagai manfaat berupa kelapangan rizki dan kemakmuran hidup serta Ia tidak akan menyiksa kalian sebagaimana yang dilakukanNya terhadap orang-orang yang dibinasakan sebelum kalian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan janji Tuhan Yang Maha Mulia itu diutarakan dalam bentuk pemberian balasan sesuai dengan syaratnya. Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi berkata: "Ayat yang mulia tersebut menunjukkan bahwa beristighfar dan ber-taubat kepada Allah dari dosa-dosa adalah sebab sehingga Allah menganugerahkan kenikmatan yang baik kepada orang yang melakukannya sampai pada waktu yang ditentukan. Allah memberikan balasan (yang baik) atas istighfar dan taubat itu dengan balasan berdasarkan syarat yang ditetapkan". &lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dalil lain bahwa beristighfar dan taubat adalah di antara kunci-kunci rizki yaitu hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa'i, Ibnu Majah dan Al-Hakim dari Abdullah bin Abbas ia berkata, Rasulullah  bersabda: &lt;br /&gt;"Barangsiapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah), niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan untuk setiap kesempitan-nya kelapangan dan Allah akan memberinya rizki (yang halal) dari arah yang tiada disangka-sangka". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits yang mulia ini, Nabi yang jujur dan terpercaya, yang berbicara berdasarkan wahyu,  mengabarkan tentang tiga hasil yang dapat dipetik oleh orang yang mem-perbanyak istighfar. Salah satunya yaitu, bahwa Allah Yang Maha Memberi rizki, yang Memiliki kekuatan akan mem-berikan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka dan tidak diharapkan serta tidak pernah terdetik dalam hatinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, kepada orang yang mengharapkan rizki hen-daklah ia bersegera untuk memperbanyak istighfar (memo-hon ampun), baik dengan ucapan maupun perbuatan. Dan hendaknya setiap muslim waspada, sekali lagi hendaknya waspada, dari melakukan istighfar hanya sebatas dengan lisan tanpa perbuatan. Sebab itu adalah pekerjaan para pendusta.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Sumber :&amp;nbsp; &lt;a href="http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=481&amp;amp;parent_section=kj017&amp;amp;idjudul=1"&gt;http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=481&amp;amp;parent_section=kj017&amp;amp;idjudul=1&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-2778730764775727037?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/2778730764775727037/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/istighfar-dan-taubat.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/2778730764775727037'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/2778730764775727037'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/istighfar-dan-taubat.html' title='Istighfar dan Taubat'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-8536040016502231027</id><published>2011-11-26T07:07:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T07:08:20.996+07:00</updated><title type='text'>Bagaimana Mengaplikasikan Pemuliaan Al-Qur’an</title><content type='html'>“Sesungguhnya umat ini tidak akan baik kecuali dengan sesuatu yang dapat memperbaiki umat pendahulunya,” demikian kata Imam Malik . Manhaj para sahabat dalam hal ini merupakan satu-satunya manhaj yang mampu mewu-judkan perbaikan yang didambakan. karena mereka telah berguru kepada Nabi Shalallaahu alaihi wasalam dan sesudahnya berguru kepada para sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka harus ada usaha da’wah yang gencar untuk memperbaharui manhaj, agar nash-nash (Al-Qur’an dan Al-Hadits serta perkataan sahabat tersebut di atas menjadi kenyataan yang jelas. Saya ingin menunjukkan beberapa hal yang dapat membantu dalam mengimplementasikan pemu-liaan Al-Qur’an sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Langkah awal adalah bertaubat dengan sungguh-sungguh dari semua dosa-dosa dan maksiat, terutama penyakit hati hingga hati menjadi siap menerima firman Allah.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut hukum akal yang diceritakan Ibnul Qayyim berkata: “Sebuah tempat bisa menerima apa saja dengan syarat dikosongkan dari lawannya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana hati yang tenang karena ingat kepada Allah dan membaca Al-Qur’an menjauh dari kebalikannya yaitu senda gurau dan nyanyian. Demikian pula hati yang menye-nangi senda gurau dan nyanyian, ia tidak akan bergairah untuk berdzikir mengingat Allah, membaca Al-Qur’an atau hal-hal yang bermanfaat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Jamaah menjadikan taubat sebagai adab yang pertama bagi penuntut ilmu. Beliau  berkata mengenai adab seorang penuntut ilmu: “Hendaklah ia mensucikan hati-nya dari perasaan seperti; khianat, kotor, dengki, dendam, hasad, aqidah yang jelek dan tingkah laku negatif. Jika semua hal itu bisa dihilangkan maka ia bisa menerima ilmu dengan baik, menghafalnya, menelusuri makna-maknanya dari sesuatu yang terasa hambar sebelumnya. Sesungguhnya ilmu itu sebagaimana dikatakan sebagian ahlinya adalah shalatnya jiwa, ibadahnya hati dan pendekatan batin, seba-gaimana shalat yang dilakukan anggota badan yang tampak tidak sah kecuali dengan sucinya anggota badan dari najis dan kotoran maka ilmu yang merupakan ibadahnya hati juga tidak akan diterima dengan baik kecali dengan penyucian dari sifat-sifat jelek dan tingkah laku rendahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati yang baik akan tampak keberkahannya bagi ilmu untuk tumbuh dan berkembang, sebagaimana bumi yang su-bur jika ditanami akan menumbuhkan tanaman dan berkem-bang. Dalam hadits dikatakan bahwa sesungguhnya dalam jasad itu ada segumpal darah, jika ia baik akan baik seluruh jasadnya dan jika jelek akan jelek pula seluruh jasad, ke-tahuilah segumpal darah itu adalah hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahl Ibnu Abdullah At-Tusturi berkata: “Diharamkan cahaya masuk ke dalam hati jika di dalamnya ada sesuatu yang dibenci Allah Subhannahu wa Ta'ala .” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Asy-Syafi’i berkata:&lt;br /&gt;“Aku mengadu pada Imam Waki’ jeleknya hafalanku&lt;br /&gt;Maka beliau menunjukiku agar meninggalkan maksiat&lt;br /&gt;Dan beliau memberitahuku bahwa ilmu adalah cahaya&lt;br /&gt;Dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada &lt;br /&gt;Orang yang bermaksiat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hal itu merupakan syarat penuntut ilmu secara umum maka lebih ditekankan lagi bagi penuntut ilmu Al-Qur’an (agama).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt; Pembaca/pendengar Al-Qur’an harus merasa bahwa dirinya merupakan orang yang diajak bicara (mukhatab).&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Mas’ud Radhiallaahu anhu berkata: “Jika engkau mendengarkan ayat wahai orang-orang yang beriman, maka dengarkanlah dengan seksama di situ ada kebaikan yang diperintahkan untuk dijalankan atau kejelekan yang harus dihindari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hasan Ibnu Ali berkata: “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian melihat Al-Qur’an sebagai surat dari Tuhan mereka. Maka mereka merenungkannya diwaktu malam dan membacanya di siang hari.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Ajuri berkata: “Seorang mukmin yang berakal ji-ka membaca Al-Qur’an ia menelitinya seakan-akan ia ber-cermin, ia melihat kebaikan dan kejelekan yang dibuatnya serta berhati-hati terhadap hal-hal yang diperintahkan Tu-hannya, dan merasa takut terhadap yang diancamkannya, ia tertarik pada anjuran Tuhannya dengan mengharap pahala-nya. Barangsiapa memiliki sifat ini atau hampir mendekati-nya berarti ia membaca Al-Qur’an dengan sebenarnya, men-jaga hukum-hukumnya dan nantinya di hari Kiamat Al-Qur’an akan menjadi saksi baginya, pemberi syafaat, sahabat dan pelindungnya. Dan barangsiapa menghiasi dirinya de-ngan sifat-sifat di atas maka ia telah memberi manfaat bagi dirinya, keluarganya dan kembali kepada kedua orang tua-nya dan anaknya dengan segala kebaikan dunia dan akhi-rat.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim berkata: “Jika kamu ingin mengambil manfaat dari Al-Qur’an maka kumpulkan hatimu ketika membacanya atau mendengarkannya, arahkan pendengaran-mu dan hadirkan pikiranmu sebagaimana hadirnya orang yang diajak bicara, karena Al-Qur’an itu firman Allah me-lalui lidah RasulNya Shalallaahu alaihi wasalam .” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ikut merasakan keadaan Rasulullah ketika Al-Qur’an diturunkan pada beliau Shalallaahu alaihi wasalam .&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdurrahman As-Sa’di berkata: “Melihat su-sunan ayat dengan mengetahui keadaan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dan sejarah beliau bersama sahabat-sahabat dan musuh-musuh ketika turunnya, adalah bagian terpenting untuk mengetahui dan memahami maksud dari Al-Qur’an.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyid Qutb berkata: “Sesungguhnya ayat-ayat Qur’aniyah tidak dapat dicapai dengan sesungguhnya, jika hanya mendalami arti dan bahasanya saja, tetapi kita akan memahami pertama kali dengan mengetahui kehidupan sua-sana sejarah yang dinamik dan dalam kenyataan yang aktif serta bermuamalah dengan kenyataan hidup kini walaupun amat jauh dan bekasnya lebih mengakar dalam kenyataan sejarah yang datang kemudian. Tidak tersingkap karena jauhnya rentang waktu ini kecuali dengan cahaya kenyataan sejarah tersebut, kemudian yang tetap darinya adalah inspi-rasi dan para pelakunya yang secara terus-menerus. Akan tetapi bagi orang-orang yang berjuang untuk agama ini dan mempraktekkan seperti prakteknya orang-orang yang per-tama kali diturunkan kepada mereka ayat-ayat Al-Qur’an, mereka akan menemui keadaan dan suasana seperti mereka menemuinya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ketika membaca atau mendengarkan Al-Qur’an menghadirkan hati untuk merenungkan dan memahami firman Allah Subhannahu wa Ta'ala .&lt;/b&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebagaimana firmanNya:&lt;br /&gt; “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” (Qaaf: 37)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Qutaibah berkata: “Mendengarkan Al-Qur’an yaitu dengan keadaan hati menyaksikan dan memahami, bukannya dengan lalai dan lupa.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt; Memohon pertolongan kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala dalam mewujudkan hal itu karena pertolongan Allah adalah dasar perwujudan segala kebaikan dan keberun-tungannya.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: &lt;br /&gt; “Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkanNya, maka kamu tak akan mendapatkan se-orang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepa-danya.” (Al-Kahfi: 17)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Fathir: 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana dikatakan: “Jika tidak ada pertolongan dari Allah bagi seseorang maka pertama kali yang menjerumus-kannya adalah kesungguhannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tidak ada jalan lain bagi yang ingin mewujudkan pemuliaan Al-Qur’an kecuali memohon dengan merendah-kan diri kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala agar menolong kita kepada tujuan tersebut. Nabi Shalallaahu alaihi wasalam telah menujuki hal itu dalam wasiat beliau kepada Muadz Radhiallaahu anhu. Di dalam Sunan Abi Daud dari Muadz bahwa Nabi Shalallaahu alaihi wasalam memegang tangannya seraya bersabda:&lt;br /&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( يَا مُعَاذُ لاَ تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ تَقُولُ: اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Wahai Muadz, demi Allah aku menyintaimu aku wasiatkan kepadamu jangan tinggalkan setiap selesai shalat doa ini: ‘Ya Allah lindungilah aku agar selalu mengi-ngatMu dan bersyukur kepadaMu serta memperbaiki ibadah kepadaMu’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak diragukan bahwa memuliakan Al-Qur’an termasuk ke dalam wasiat ini sebab Al-Qur’an merupakan dzikir dan memuliakan Al-Qur’an juga merupakan ibadah.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Sumber :&amp;nbsp; &lt;a href="http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=318&amp;amp;parent_section=kj007&amp;amp;idjudul=1"&gt;http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=318&amp;amp;parent_section=kj007&amp;amp;idjudul=1&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-8536040016502231027?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/8536040016502231027/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/bagaimana-mengaplikasikan-pemuliaan-al.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/8536040016502231027'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/8536040016502231027'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/bagaimana-mengaplikasikan-pemuliaan-al.html' title='Bagaimana Mengaplikasikan Pemuliaan Al-Qur’an'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-1577281162973955057</id><published>2011-11-26T07:06:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T07:06:52.251+07:00</updated><title type='text'>Kewajiban Kita Terhadap Pemuliaan Al-Qur'an</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Kita telah membahas hadits-hadits dan atsar di atas dengan gambaran yang amat cemerlang yang menjelmakan arti Al-Qur’an dalam praktek kebiasaan hidup sehari-hari, yang menyentuh perasaan dan fikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah keadaan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dan para sahabatnya dalam menjunjung tinggi Al-Qur’an, baik dalam membaca, mere-nungkan, dan mengamalkannya. Keadaan seperti itulah yang dikehendaki Allah bukan selainnya. Diriwayatkan bahwa Nabi Shalallaahu alaihi wasalam mensifati golongan yang selamat (Firqatun Najiyah) bahwasanya mereka itu seperti keadaan beliau dan para sahabatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bandingkan pada saat ini keadaan kita dalam me-muliakan Al-Qur’an dengan mensejajarkan gambaran ce-merlang mereka untuk mengetahui sejauh mana kita menga-malkan pemuliaan tersebut. Pada saat ini –alhamdulillah– kita lihat perhatian yang baik terhadap Al-Qur’an. Kini Al-Qur’an telah menjadi hidangan bagi siapa saja yang mau membacanya dengan mushaf atau mendengarkannya melalui kaset sangat banyak dan tak terhitung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negeri Makkah dan Madinah –mudah-mudahan Allah menjaga keduanya– terdapat sekolah-sekolah menghafal Al-Qur’an yang tersebar diseluruh penjuru negeri dan sekitar-nya. (Kumpulan penghafal Al-Qur’an Al-Khairiyyah, de-ngan beasiswa) telah tersebar di kota-kota dan pedesaan, hal ini merupakan usaha yang patut dihargai. Tidak diragukan hal ini termasuk pengagungan terhadap Al-Qur’an tetapi ada langkah-langkah yang harus disertakan yaitu sisi pengamalannya. Dan ini merupakan sisi terpenting dari maksud diturunkannya Al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (Shaad: 29) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hasan Al-Basri berkata: “Merenungkan ayatnya yang dimaksud adalah mengikutinya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;“Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepada-nya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenar-nya, mereka itu beriman kepadanya.” (Al-Baqarah: 121).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas c berkata: “Mereka mengikuti dengan sebenar-benarnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana pendapatmu tentang keadaan kaum muslimin di zaman ini dalam pemuliaan Al-Qur’an? Memikirkan keadaan kaum muslimin saat ini di belahan bumi timur dan barat, maka akan terlihat bobroknya sisi ini. Sangat jelas perbedaan yang mencolok antara kita dengan para salaf ridhwanullahi ‘alaihim baik dari segi perorangan atau secara kemasyarakatan. Kami ajak anda memperhatikan tentang hal itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Allamah Muhammad Al-Amiin Asy-Syanqithi v menyebutkan ringkasan keutamaan Al-Qur’an dan hidayah-nya kemudian berkata: “Saat ini kebanyakan orang yang mengaku muslim di penjuru dunia berpaling dari merenung-kan ayat-ayat Al-Qur’an dan bersikap acuh terhadap firman Allah Subhannahu wa Ta'ala yang menciptakan mereka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur'an ataukah hati mereka terkunci?” (Muhammad: 24)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tidak beradab dengan adab Al-Qur’an, tidak ber-akhlak dengan keutamaan akhlak yang termaktub di dalam-nya, meminta hukum kepada syari’at yang sesat yang tidak sesuai bahkan mengacuhkan firman Allah Subhannahu wa Ta'ala :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (Al-Maidah: 44)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan juga firmanNya:&lt;br /&gt;“Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (An-Nisa’: 60)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan orang yang beradab dengan adab Al-Qur’an dan berakhlak dengannya dengan akhlak yang mulia menjadi hina di sisi mereka kecuali orang-orang yang dipelihara Allah. Orang-orang yang menghina dan merendahkan Al-Qur’an maka Al-Qur’an akan merendahkan mereka lebih parah lagi sebagaimana dikatakan Imam Asy-Syafi’i :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang ini menjauh tiada mau mendekati orang itu.&lt;br /&gt;Akan tetapi orang itu lebih lagi menjauhinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhati-hatilah wahai saudara! Berhati-hatilah dari me-ninggalkan Al-Qur’an seperti kebanyakan orang yang me-ninggalkannya dan menghina pengamal Al-Qur’an dan pe-nyeru kepadanya. Ketahuilah bahwa orang yang berpikiran cerdas tidak memperhatikan kecaman orang-orang gila. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya (penulis) katakan bahwa orang yang merenungkan keadaan kaum muslimin saat ini dia akan melihat apa yang dikemukakan syaikh  di atas, lebih jelas dari fajar ketika menyingsing. Tidak membutuhkan keterangan bahkan kare-na perkaranya sebagaimana dikatakan penyair:&lt;br /&gt;“Tidak dibenarkan akal sehat, jika siang hari membutuh-kan petunjuk dalil.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang persoalan yang otomatis muncul adalah: Apakah yang menyebabkan tertinggalnya kaum muslimin sekarang jika dibandingkan kaum pendahulu mereka dalam penge-nalan akhlak dan adab Al-Qur’an serta pengembalian selu-ruh urusan mereka kepadanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sebab Lemahnya Keadaan Kita Saat Ini Di-Bandingkan Kaum Salaf Dalam Pemuliaan Menjunjung Tinggi Al-Qur’an&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas sudah terdapat pada atsar Ibnu Umar  dan hal itu cukup sebagai pegangan sebagaimana dikatakan: “Di hadapan orang alim saya menyerah,” beliau menjelaskan pembelaan para sahabat ridhwanullahi ‘alaihim dan amal mereka terhadap Al-Qur’an serta pewujudan pemuliaan padanya, sebagaimana beliau jelaskan sebab lemahnya dalam beramal dengan Al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau (Ibnu Umar ) berkata: “Aku telah hidup dalam waktu yang singkat dari umurku di dunia ini. Sesungguhnya salah seorang diantara kita diberikan iman sebelum Al-Qur’an dan surat-surat Al-Qur’an masih turun berkesinam-bungan kepada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, maka kami belajar tentang halal dan haramnya serta apa-apa yang seyogyanya kami perhatikan sebagaimana kalian mempelajari Al-Qur’an, sungguh aku melihat kaum yang salah satunya diberi Al-Qur’an sebelum keimanan maka dia membacanya dari Al-Fatihah hingga menghatamkannya namun ia tidak tahu apa yang diperintah dan yang dilarang serta hal-hal yang seyogyanya diperhatikan darinya bagai menebar biji kurma yang usang.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keimanan yang ditunjukkan oleh Ibnu Umar dengan perkataannya: “Sesungguhnya di antara kita diberikan iman sebelum Al-Qur’an”, adalah keimanan bahwa Al-Qur’an di-turunkan untuk direnungkan ayat-ayatnya dan diamalkan-nya. Itulah keimanan yang ditunjukkan oleh para sahabat ridhwanulahi ‘alaihim untuk mengaplikasikan pemuliaan Al-Qur’an dalam wujud yang nyata. Maka ketika turun surat/ayat, mereka bersegera untuk mempelajari dan menga-malkannya, sebagaimana perkataan Ibnu Umar di atas: “Surat masih turun berlangsung kepada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam maka kami belajar tentang hukum halal dan haramnya serta hal-hal yang seyogyanya diperhatikan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Abdurrahman As-Sulami berkata: “Orang-orang ahli Al-Qur’an mengabarkan pada kami bahwa mereka dahulu dibacakan oleh Nabi Shalallaahu alaihi wasalam. Setelah itu mereka belajar sepuluh ayat dan tidak pindah pada yang lain sebelum mengamalkan isinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah kenyataan dalam diri para sahabat ridhwanullahi ‘alaihim. Mereka melihat pentingnya belajar Al-Qur’an dan beramal dengannya karena keduanya tidak dapat dipisahkan. Dan mereka mengajarkan hal itu pada murid-murid mereka dari kalangan tabi’in. Sebagaimana dikatakan Ibnu Umar dalam perkataannya di atas: “Sebagaimana kalian belajar Al-Qur’an.” Dan berkata Abu Abdurrahman As-Sulami salah seorang murid sahabat: “Kami belajar Al-Qur’an dan me-ngamalkannya secara bersamaan.” Hal ini menjadi manhaj (sistem) yang tersusun di kalangan para tabi’in, hingga me-reka mengingkari dengan amat kuat orang yang melanggar-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hasan Al-Bashri salah seorang pemuka tabi’in berkata: “Sesungguhnya Al-Qur’an ini telah dibaca budak-budak dan anak-anak yang tidak mengetahui ta’wilnya dan tidak merenungkannya, tidak menghafal huruf-hurufnya, meninggalkan ketentuan-ketentuannya hingga salah seorang mereka berkata: “Aku telah membaca Al-Qur’an seluruhnya tanpa tersisa satu huruf pun!” Padahal demi Allah, mereka menggugurkan semua isinya, Al-Qur’an tidak terlihat sedikit pun dalam akhlak dan amalnya. Sehingga jika seorang dari mereka berkata: “Aku membaca satu surat dalam sekali nafas.” Demi Allah, mereka bukan ahli pembaca dan bukan ahli hukumnya dan bukan orang yang waro’ (meninggalkan perbuatan dosa).” Sejak kapan Al-Qur’an dijadikan seperti ini? Mudah-mudahan Allah tidak memperbanyak orang-orang seperti mereka!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atsar ini memperkuat perkataan Ibnu Umar yang menga-takan bahwa lemahnya mengamalkan Al-Qur’an disebabkan tidak adanya iman dalam hati. Sehingga perkataan beliau: “Aku melihat seseorang yang diberi Al-Qur’an sebelum keimanan maka ia membaca dari mulai Al-Fatihah hingga khatam namun tidak tahu apa-apa yang diperintahkan dan dilarang.” Maksudnya orang-orang yang aku temui, lemah dalam beramal. Salah seorang dari mereka membaca Al-Qur’an tetapi dalam hatinya tidak memiliki iman pada kewa-jiban untuk mengamalkannya dan hal-hal yang harus dijauhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan di atas telah menjelaskan kepada kita bahwa keimanan kaum salaf adalah dengan terus menerus mempelajari dan mengamalkan Al-Qur’an, itulah yang membuat mereka benar-benar memuliakan Kitab Allah Subhannahu wa Ta'ala , begitu pula sebaliknya, kelemahan iman di hati membuat seseorang me-remehkan pemuliaan Kitab ini, sebagaimana dikritisi oleh Ibnu Umar dan Al-Hasan .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka seberapa tinggi tingkat iman seseorang hamba di hati setinggi itu pula terwujud pemuliaannya pada kitab Al-Qur’an dan semakin dekatnya pada derajat kaum salaf. Begitu pula sebaliknya, seberapa rendahnya iman di hati seseorang sekian itu pula terjadi pelecehan terhadap kemuliaan Al-Qur’an dan jauhnya dia dari derajat kaum salaf. Jadi setiap orang terukur dengan jiwa (keimanan)-nya. Semoga Allah menggelar anugerahNya, sebab Dia-lah Tempat memohon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bagaimana Mengaplikasikan Pemuliaan Al-Qur’an&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya umat ini tidak akan baik kecuali dengan sesuatu yang dapat memperbaiki umat pendahulunya,” demikian kata Imam Malik . Manhaj para sahabat dalam hal ini merupakan satu-satunya manhaj yang mampu mewu-judkan perbaikan yang didambakan. karena mereka telah berguru kepada Nabi Shalallaahu alaihi wasalam dan sesudahnya berguru kepada para sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka harus ada usaha da’wah yang gencar untuk memperbaharui manhaj, agar nash-nash (Al-Qur’an dan Al-Hadits serta perkataan sahabat tersebut di atas menjadi kenyataan yang jelas. Saya ingin menunjukkan beberapa hal yang dapat membantu dalam mengimplementasikan pemu-liaan Al-Qur’an sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Langkah awal adalah bertaubat dengan sungguh-sungguh dari semua dosa-dosa dan maksiat, terutama penyakit hati hingga hati menjadi siap menerima firman Allah.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut hukum akal yang diceritakan Ibnul Qayyim berkata: “Sebuah tempat bisa menerima apa saja dengan syarat dikosongkan dari lawannya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana hati yang tenang karena ingat kepada Allah dan membaca Al-Qur’an menjauh dari kebalikannya yaitu senda gurau dan nyanyian. Demikian pula hati yang menye-nangi senda gurau dan nyanyian, ia tidak akan bergairah untuk berdzikir mengingat Allah, membaca Al-Qur’an atau hal-hal yang bermanfaat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Jamaah menjadikan taubat sebagai adab yang pertama bagi penuntut ilmu. Beliau  berkata mengenai adab seorang penuntut ilmu: “Hendaklah ia mensucikan hati-nya dari perasaan seperti; khianat, kotor, dengki, dendam, hasad, aqidah yang jelek dan tingkah laku negatif. Jika semua hal itu bisa dihilangkan maka ia bisa menerima ilmu dengan baik, menghafalnya, menelusuri makna-maknanya dari sesuatu yang terasa hambar sebelumnya. Sesungguhnya ilmu itu sebagaimana dikatakan sebagian ahlinya adalah shalatnya jiwa, ibadahnya hati dan pendekatan batin, seba-gaimana shalat yang dilakukan anggota badan yang tampak tidak sah kecuali dengan sucinya anggota badan dari najis dan kotoran maka ilmu yang merupakan ibadahnya hati juga tidak akan diterima dengan baik kecali dengan penyucian dari sifat-sifat jelek dan tingkah laku rendahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati yang baik akan tampak keberkahannya bagi ilmu untuk tumbuh dan berkembang, sebagaimana bumi yang su-bur jika ditanami akan menumbuhkan tanaman dan berkem-bang. Dalam hadits dikatakan bahwa sesungguhnya dalam jasad itu ada segumpal darah, jika ia baik akan baik seluruh jasadnya dan jika jelek akan jelek pula seluruh jasad, ke-tahuilah segumpal darah itu adalah hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahl Ibnu Abdullah At-Tusturi berkata: “Diharamkan cahaya masuk ke dalam hati jika di dalamnya ada sesuatu yang dibenci Allah Subhannahu wa Ta'ala .” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Asy-Syafi’i berkata:&lt;br /&gt;“Aku mengadu pada Imam Waki’ jeleknya hafalanku&lt;br /&gt;Maka beliau menunjukiku agar meninggalkan maksiat&lt;br /&gt;Dan beliau memberitahuku bahwa ilmu adalah cahaya&lt;br /&gt;Dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada &lt;br /&gt;Orang yang bermaksiat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hal itu merupakan syarat penuntut ilmu secara umum maka lebih ditekankan lagi bagi penuntut ilmu Al-Qur’an (agama).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt; Pembaca/pendengar Al-Qur’an harus merasa bahwa dirinya merupakan orang yang diajak bicara (mukhatab).&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Mas’ud Radhiallaahu anhu berkata: “Jika engkau mendengarkan ayat wahai orang-orang yang beriman, maka dengarkanlah dengan seksama di situ ada kebaikan yang diperintahkan untuk dijalankan atau kejelekan yang harus dihindari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hasan Ibnu Ali berkata: “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian melihat Al-Qur’an sebagai surat dari Tuhan mereka. Maka mereka merenungkannya diwaktu malam dan membacanya di siang hari.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Ajuri berkata: “Seorang mukmin yang berakal ji-ka membaca Al-Qur’an ia menelitinya seakan-akan ia ber-cermin, ia melihat kebaikan dan kejelekan yang dibuatnya serta berhati-hati terhadap hal-hal yang diperintahkan Tu-hannya, dan merasa takut terhadap yang diancamkannya, ia tertarik pada anjuran Tuhannya dengan mengharap pahala-nya. Barangsiapa memiliki sifat ini atau hampir mendekati-nya berarti ia membaca Al-Qur’an dengan sebenarnya, men-jaga hukum-hukumnya dan nantinya di hari Kiamat Al-Qur’an akan menjadi saksi baginya, pemberi syafaat, sahabat dan pelindungnya. Dan barangsiapa menghiasi dirinya de-ngan sifat-sifat di atas maka ia telah memberi manfaat bagi dirinya, keluarganya dan kembali kepada kedua orang tua-nya dan anaknya dengan segala kebaikan dunia dan akhi-rat.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim berkata: “Jika kamu ingin mengambil manfaat dari Al-Qur’an maka kumpulkan hatimu ketika membacanya atau mendengarkannya, arahkan pendengaran-mu dan hadirkan pikiranmu sebagaimana hadirnya orang yang diajak bicara, karena Al-Qur’an itu firman Allah me-lalui lidah RasulNya Shalallaahu alaihi wasalam .” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ikut merasakan keadaan Rasulullah ketika Al-Qur’an diturunkan pada beliau Shalallaahu alaihi wasalam .&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdurrahman As-Sa’di berkata: “Melihat su-sunan ayat dengan mengetahui keadaan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dan sejarah beliau bersama sahabat-sahabat dan musuh-musuh ketika turunnya, adalah bagian terpenting untuk mengetahui dan memahami maksud dari Al-Qur’an.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyid Qutb berkata: “Sesungguhnya ayat-ayat Qur’aniyah tidak dapat dicapai dengan sesungguhnya, jika hanya mendalami arti dan bahasanya saja, tetapi kita akan memahami pertama kali dengan mengetahui kehidupan sua-sana sejarah yang dinamik dan dalam kenyataan yang aktif serta bermuamalah dengan kenyataan hidup kini walaupun amat jauh dan bekasnya lebih mengakar dalam kenyataan sejarah yang datang kemudian. Tidak tersingkap karena jauhnya rentang waktu ini kecuali dengan cahaya kenyataan sejarah tersebut, kemudian yang tetap darinya adalah inspi-rasi dan para pelakunya yang secara terus-menerus. Akan tetapi bagi orang-orang yang berjuang untuk agama ini dan mempraktekkan seperti prakteknya orang-orang yang per-tama kali diturunkan kepada mereka ayat-ayat Al-Qur’an, mereka akan menemui keadaan dan suasana seperti mereka menemuinya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ketika membaca atau mendengarkan Al-Qur’an menghadirkan hati untuk merenungkan dan memahami firman Allah Subhannahu wa Ta'ala .&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana firmanNya:&lt;br /&gt;“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” (Qaaf: 37)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Qutaibah berkata: “Mendengarkan Al-Qur’an yaitu dengan keadaan hati menyaksikan dan memahami, bukannya dengan lalai dan lupa.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt; Memohon pertolongan kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala dalam mewujudkan hal itu karena pertolongan Allah adalah dasar perwujudan segala kebaikan dan keberun-tungannya.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: &lt;br /&gt;“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkanNya, maka kamu tak akan mendapatkan se-orang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepa-danya.” (Al-Kahfi: 17)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Fathir: 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana dikatakan: “Jika tidak ada pertolongan dari Allah bagi seseorang maka pertama kali yang menjerumus-kannya adalah kesungguhannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tidak ada jalan lain bagi yang ingin mewujudkan pemuliaan Al-Qur’an kecuali memohon dengan merendah-kan diri kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala agar menolong kita kepada tujuan tersebut. Nabi Shalallaahu alaihi wasalam telah menujuki hal itu dalam wasiat beliau kepada Muadz Radhiallaahu anhu. Di dalam Sunan Abi Daud dari Muadz bahwa Nabi Shalallaahu alaihi wasalam memegang tangannya seraya bersabda:&lt;br /&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( يَا مُعَاذُ لاَ تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ تَقُولُ: اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Wahai Muadz, demi Allah aku menyintaimu aku wasiatkan kepadamu jangan tinggalkan setiap selesai shalat doa ini: ‘Ya Allah lindungilah aku agar selalu mengi-ngatMu dan bersyukur kepadaMu serta memperbaiki ibadah kepadaMu’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak diragukan bahwa memuliakan Al-Qur’an termasuk ke dalam wasiat ini sebab Al-Qur’an merupakan dzikir dan memuliakan Al-Qur’an juga merupakan ibadah.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Sumber : &amp;nbsp; &lt;a href="http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=314&amp;amp;parent_section=kj007&amp;amp;idjudul=1"&gt;http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=314&amp;amp;parent_section=kj007&amp;amp;idjudul=1&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-1577281162973955057?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/1577281162973955057/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/kewajiban-kita-terhadap-pemuliaan-al.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/1577281162973955057'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/1577281162973955057'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/kewajiban-kita-terhadap-pemuliaan-al.html' title='Kewajiban Kita Terhadap Pemuliaan Al-Qur&apos;an'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-6152219437031897848</id><published>2011-11-26T07:01:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T07:02:43.218+07:00</updated><title type='text'>Beramal Dengan Al-Qur’an</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Aspek paling agung dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an dan bukti keimanan padanya yang paling tinggi adalah mengamalkannya. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang-orang yang telah Kami berikan Al-Kitab kepa-danya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebe-narnya, mereka itu beriman kepadanya.” (Al-Baqarah: 121)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedudukan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dan para sahabatnya adalah orang yang paling jelas persaksiannya dalam hal ini. Karena mereka benar-benar berpegang teguh dengan Al-Qur’an seakan-akan mereka adalah Al-Qur’an yang berjalan diatas bumi. Begitulah orang-orang yang melihat mensifati mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah akan kami ringkaskan pujian atas mereka sebagai contoh atas perkataan dan perbuatan mereka karena mereka yang paling dalam penghayatannya dalam mewujud-kan tujuan Al-Qur’an. Dalam Shahih Muslim dari ‘Aisyah  Radhiallaahu anha bahwasanya ia ditanya tentang akhlak Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam maka ia menjawab: “Akhlaknya seperti Al-Qur’an.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Al-Ausath, Ath-Thabrani dan Al-Mustadrak, Al-Hakim dengan sanad hasan dari Ibnu Umar Radhiallaahu anhuma bahwasanya ia berkata: “Aku telah hidup dalam waktu yang singkat dari umurku di dunia ini. Sesungguhnya salah seorang diantara kita diberikan iman sebelum Al-Qur’an di saat surat-surat Al-Qur’an masih turun berkesinambungan kepada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam . Maka kami belajar tentang halal dan haramnya dan apa-apa yang seyogyanya kami perhatikan sebagaimana kalian mengajarkan Al-Qur’an. Kemudian aku melihat kaum yang diberi Al-Qur’an sebelum (diberi) iman maka ia mem-baca dari Al-Fatihah hingga hatam namun ia tidak tahu apa yang diperintah dan yang dilarang serta hal-hal yang seyogyanya diperhatikannya bagai menabur kurma buruk.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-A’masy meriwayatkan dari Abi Wail dari Ibnu Mas’ud Shalallaahu alaihi wasalam berkata: “Dahulu seorang di antara kami jika belajar 10 ayat tidak pindah hingga mengamalkannya, kami belajar dan mengamalkan Al-Qur’an secara bersamaan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hasan Ibnu Ali Radhiallaahu anhu berkata: “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian melihat Al-Qur’an merupakan surat-surat dari Tuhan mereka, maka mereka merenungkannya di malam hari dan melakukan inspeksi (tinjauan) di siang hari.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan masih banyak kejadian-kejadian mengenai perilaku para sahabat ridhwanullahi ‘alaihim dalam pemuliaan Al-Qur’an dan kesiapan terhadapnya memberikan inspirasi dan kesigapan mereka kepada kita untuk beramal dan melaksa-nakan pemuliaan Al-Qur’an. Untuk mempertegas bukti kon-disi sifat mereka.di atas, akan kami lengkapi uraian sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Shahih Mulim dari Abi Hurairah Radhiallaahu anhu berkata: “Ketika turun ayat ini kepada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam :&lt;br /&gt;“Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan-nya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendakiNya dan menyiksa siapa yang dikehendakiNya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-Baqarah: 284)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para sahabat merasa berat akan hal itu. Maka mereka mendatangi Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam kemudian diam di atas unta seraya berkata: “Wahai Rasulullah , kami dibebani amanat-amanat yang kami sanggup mengembannya seperti shalat, puasa, jihad, dan shadaqah, dan telah turun ayat ini kepadamu yang kami tidak sanggup mengembannya.” Maka Rasulullah bersabda:&lt;br /&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( أُتُرِيْدُوْنَ أَنْ تُقُوْلُوْا قَالَ أَهْلُ الْكِتَابَيْنِ مِنْ قَبْلِكُمْ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا؟ بَلْ قُوْلُوْا: سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيْرُ ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Apakah kalian ingin mengatakan sebagaimana perkataan kaum Ahli Kitab sebelum kalian: ‘Kami mendengar dan kami mengingkari?’ Katakanlah: ‘Kami mendengar dan kami taat’. Maha Suci Engkau, wahai Tuhanku dan kepadaMu-lah kami kembali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian mereka berkata: “Kami mendengar dan kami taat, Maha Suci Engkau, wahai Tuhan kami, kepadaMu-lah kami kembali!” Setelah mengucapkan hal itu, lisan mereka terasa berat. Kemudian Allah menurunkan ayat dalam peristiwa ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malai-kat-malaikatNya, kitab-kitabNya dan rasul-rasulNya. (Mereka mengatakan): ‘Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasulNya’, dan mereka mengatakan: ‘Kami dengar dan kami ta’at’. (Mereka berdo’a): ‘Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali’.” (Al-Baqarah: 285)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mereka melakukan apa yang diperintah Rasul, maka Allah menghapus –hukum– ayat itu dengan menurunkan ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai de-ngan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo`a): ‘Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Eng-kau bebankan kepada kami beban yang berat sebagai-mana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebe-lum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma`aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir’.” (Al-Baqarah: 286)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah ini memperkuat kenyataan sebelumnya. Ketika para sahabat ridhwanullahi ‘alaihim kokoh keimanan dalam hati dengan mengamalkan setiap ayat Al-Qur’an yang me-ngandung hukum, mereka merasa berat melaksanakan satu ayat ini, karena harus mempertanggung-jawabkan hal-hal yang mereka sembunyikan dalam hati mereka. Karena Allah Maha Mengetahui apa yang dibisikkan dalam hati hamba-hambaNya. Karena hal itulah mereka mendatangi Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dengan ketakutan, sebagaimana difahami dari ceritanya. Maka terasa berat yang demikian itu pada para sahabat Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, dan kata-kata: “Kemudian mereka duduk bertekuk lutut.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitab Shahih Al-Bukhari dan Muslim dari Anas Radhiallaahu anhu berkata: Abu Thalhah merupakan orang Anshar yang paling banyak hartanya –berupa pohon-pohon kurma– di Madinah. Harta yang paling ia sukai adalah Bairuha’ yang berada di depan masjid, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam . memasukinya dan meminum airnya yang baik. Ketika turun ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian har-ta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (Ali Imran: 92)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Thalhah berdiri di hadapan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam seraya berkata: “Wahai Rasulullah sesungguhnya Allah Shalallaahu alaihi wasalam berfirman: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (Ali Imran: 92)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sungguh harta yang paling aku sukai adalah Bairuha’, aku shadaqahkan untuk Allah, aku mengharap kebaikan dan simpanan (pahalanya) di sisi Allah, pergunakanlah wahai Rasul sebagaimana Allah menentukan pada anda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anas berkata: “Kemudian Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda: ‘Engkau telah mendengar apa yang aku katakan dan aku berpendapat sebaiknya engkau menjadikannya untuk kerabat terdekatmu’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Thalhah berkata: “Akan aku lakukan wahai Rasulullah.” Kemudian Abu Thalhah membagi untuk kerabatnya dan anak-anak pamannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Al-Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan dari Ibnu Umar Radhiallaahu anhuma bahwasanya Umar memperoleh tanah dalam perang Khaibar, maka Umar mendatangi Nabi Shalallaahu alaihi wasalam seraya berkata: “Aku memperoleh tanah dan tidak memperoleh harta yang lebih berharga dari itu, bagaimana perintah anda dalam hal ini?” Rasul menjawab: “Jika engkau mau, engkau pegang pokoknya dan sedekahkan hasilnya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Hajar Rahimahullaah berkata: “Dalam hadits ini tampak keutamaan yang jelas pada diri Umar dalam mengaplikasikan firman Allah: &lt;br /&gt;“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (Ali Imran: 92). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Bazzar meriwayatkan dengan sanadnya dari Hamzah Ibnu Abdullah berkata: “Abdullah berkata ayat ini (Ali Imran: 92) datang padaku, dia mengingatkanku terhadap karunia Allah, aku tidak mendapati sesuatu yang lebih aku cintai dari budak perempuanku Rumayyah. Aku berkata: “Ia kumerdekakan untuk mengharap wajah Allah, kalau sekiranya aku ambil kembali hal yang telah kujadikan karena Allah tentu akan aku nikahi dia.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Shahih Al-Bukhari dari Ibnu Abi Mulkah berkata: “Dua orang yang mulia yaitu Abu Bakar dan Umar Radhiallaahu anhu hampir saja celaka karena keduanya mengangkat suara di atas suara Nabi Shalallaahu alaihi wasalam ketika datang kafilah Bani Tamim, Abu Bakar menunjuk kepada Al-Aqra’ Ibnu Haabis –saudaraku dari Bani Mujasyi’ dan Umar menunjuk laki-laki lainnya, Nafi’ berkata saya tidak ingat namanya– maka Abu Bakar berkata kepada Umar: ‘Engkau tidak menginginkan melainkan pertentangan denganku!’ Umar menjawab: ‘Aku tidak ingin menentangmu!’ Keduanya berkata-kata dengan mengangkat suaranya masing-masing. Kemudian Allah menurunkan ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu me-ninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagai-mana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap seba-hagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.” (Al-Hujurat: 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Ibnu Az-Zubair Radhiallaahu anhu: “Umar tidak ingin lagi mengeraskan suara pada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam setelah turunnya ayat ini, sampai beliau meminta penjelasannya.” Ibnu Az-Zubair tidak menyebutkan ini dari bapaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Hajar Rahimahullaah berkata: “Ibnu Mundzir mengeluarkan dari jalan Muhammad Ibnu Amr Ibnu Al-Alqamah bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiallaahu anhu berkata seperti itu kepada Nabi Shalallaahu alaihi wasalam dan hadits ini mursal. Al-Hakim mengeluarkannya secara bersambung dari hadits Abu Hurairah yang semisalnya. Ibnu Marduwaih mengeluarkan dari jalan Ibnu Syihab dan Abu Bakar berkata: ketika turun ayat: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.” (Al-Hujurat: 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakar berkata: “Wahai Rasulullah aku tidak akan berbicara denganmu melainkan sebagaimana seseorang berbisik pada saudaranya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Shahih Al-Bukhari dari Anas bin Malik Radhiallaahu anhu bahwa Nabi Shalallaahu alaihi wasalam mencari Tsabit Ibnu Qais, maka seseorang berkata: “Wahai Rasulullah aku mengetahuinya.” Orang itu datang dan mendapati Tsabit Ibnu Qais duduk di rumahnya dengan membalikkan kepalanya. Laki-laki itu bertanya: “Ada apa denganmu?” Qais menjawab: “(Keadaanku) buruk!” Dia pernah mengangkat suaranya diatas suara Nabi Shalallaahu alaihi wasalam , maka dia mengira amalnya terhapus dan tergolong penghuni neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian laki-laki itu kembali pada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam mengabarkan bahwa Qais berkata begini… dan begini… maka laki-laki itu diperintahkan kembali oleh Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dengan membawa berita gembira agar mengatakan: “Sesungguhnya engkau bukan termasuk ahli Neraka tetapi ahli Surga.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Shahih Al-Bukhari dari Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu berkata: “Uyainah Ibnu Husni Ibnu Hudzaifah datang kepada kami, maka ia menginap di rumah keponakannya Al-Harru Ibnu Qais, sedang ia termasuk orang-orang yang dekat dengan Umar. Ia seorang pembaca Al-Qur’an, duduk di majlis Umar Radhiallaahu anhu dalam musyawarah di antara kalangan orang tua dan kalangan muda. Uyainah berkata kepada keponakannya: ‘Wahai putra saudaraku engkau memiliki kedudukan di sisi Umar mintakan izin padanya agar aku bisa bertemu dengannya’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ia pun memintakan izin kepada Umar untuk pamannya lalu Umar pun memberi zin. Ketika Uyainah menghadap ia berkata: ‘Wahai Ibnul Khatthab demi Allah engkau tidak menunjukkan kepada kami kemurahan hati dan tidak memerintah dengan adil.’ Maka Umar marah hingga bermaksud menghukumnya, seketika Al-Harru berkata: “Wahai Amirul Mukminin, Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman kepada Nabi-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.” (Al-A’raf: 199)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya orang ini tergolong orang bodoh, demi Allah, Umar tidak mengabaikan ayat ini ketika dibacakan padanya dan dia selalu berpijak pada kitab Allah.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah bukti, kalimatnya: “Demi Allah, ia tidak mengabaikan ayat Al-Qur’an ketika dibacakan padanya dan ia selalu berpijak pada kitab Allah.” Kejadian ini berbeda dengan kejadian-kejadian sebelumnya karena di dalamnya terdapat hal yang lebih berat berupa pengekangan nafsu ketika sedang marah walau dalam keadaan benar. Itulah bukti sifat hamba-hamba Allah Yang Maha Penyayang yaitu orang-orang yang disebutkan sifat-sifatnya dalam firmanNya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah mengha-dapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta.” (Al-Furqan: 73)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Shahih Al-Bukhari, Ibnu Mas’ud Radhiallaahu anhu berkata: “Ketika turun ayat: &lt;br /&gt;“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-An’am: 82)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu memberatkan kaum muslimin, mereka berkata: “Siapa di antara kita yang tidak menganiaya dirinya sendiri!” Maka Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda: “Bukan itu maksudnya melainkan syirik. Bukankah kalian mendegar perkataan Luqman kepada anaknya:&lt;br /&gt;“Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (Luqman: 13). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Musnad Imam Ahmad dan Al-Mustadrak dari Abi Bakar Ibnu Abi Zubair berkata: “Aku diberi kabar bahwa Abu Bakar berkata: ‘Ya Rasulullah, bagaimana perbaikan setelah ayat ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan keja-hatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.” (An-Nisa’: 123)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kejelekan yang kami perbuat akan dibalas?”&lt;br /&gt;Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam menjawab: “Allah mengampunimu wahai Abu Bakar, bukankah engkau sakit, bukankah engkau tertimpa musibah, bukankah engkau sedih, bukankah engkau… .” Abu bakar menjawab: “Benar.” Rasul bersabda: “Itulah di antara yang membalas.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Jarir meriwayatkan dari Anas Radhiallaahu anhu bahwa dia berkata: “Abu Bakar pernah makan bersama Nabi Shalallaahu alaihi wasalam kemudian turun ayat: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya pula.” (Al-Zalzalah: 7-8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Abu Bakar mengangkat tangannya seraya berkata: “Bagaimana aku akan dibalas karena kejelekan sebesar biji atom?” Rasul menjawab:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( يَا أَبَا بَكْرٍ مَا رَأَيْتَ فِي الدُّنْيَا مِمَّا تَكْرَهُ فَبِمَثَاقِيْلِ ذُرِّ الشَّرِّ وَيُدْخَرُ لَكَ مَثَاقِيْلُ ذُرِّ الْخَيْرِ حَتَّى تَوَفَّاهٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Wahai Abu Bakar apa yang engkau lihat di dunia ini dari kejelekan yang tidak engkau sukai walau sebesar biji atom akan berubah menjadi simpanan kebaikanmu beberapa biji atom hingga engkau meninggal dunia dan dibangkitkan pada hari Kiamat.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Musnad Imam Ahmad dari Sa’sa’ah paman Farazdak bahwasanya ia mendatangi Nabi Shalallaahu alaihi wasalam seraya membaca ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzar-rah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya pula.” (Al-Zalzalah: 7-8)&lt;br /&gt;“Cukup! Aku tidak ingin mendengar selainnya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga dari contoh-contoh yang lalu kiranya memberikan gambaran yang sebenar-benarnya peringatan tentang pemuliaan pada Kitab Allah Subhannahu wa Ta'ala yaitu Al-Qur’an. Tetapi barangkali ada pertanyaan dari kaum muslimah shalihah: “Bukankah para sahabat dari kaum wanita memiiki keistimewaan ketika berinteraksi dengan Al-Qur’an?” Saya katakan: “Sesungguhnya para sahabat dari kaum pria dan wanita ridhwanullahi ‘alaihim memiliki keistimewaan dalam ber-interaksi dengan Al-Qur’an secara keilmuan, perbuatan yang jelas dan nyata. Tidak butuh kepada keterangan dan penje-lasan karena sejarah Nabi sepenuhnya menceritakan demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari contoh-contoh lalu yang kami sebutkan tentang sahabat bukan untuk menetapkan hakikat ini, sekali-kali tidak, ini hanya penjelasan makna an-nashihah sebagaimana pemahaman para sahabat ridhwanullahi ‘alaihim. Kemudian untuk memotivasi diri dalam mewujudkannya, karena hal ini dalam masyarakat kita sekarang menjadi predikat kelompok terasing dalam beragama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam serba keterbatasan dalam bab ini tidak mengapa kita sebutkan juga beberapa contoh kondisi para sahabat wanita, mereka menempati kedudukan yang tidak remeh. Sebagai contoh di sini ummul mukminin Aisyah Radhiallaahu anha membaca surat Az-Zalzalah sebagaimana telah diuraikan keadaan para sahabat bersama beliau dalam mengamalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diceritakan dalam Al-Muwatha’ Imam Malik Rahimahullaah: “Ada seorang miskin minta makan kepada Aisyah Radhiallaahu anha , di tangan beliau ada buah anggur, beliau menyuruh seseorang memberikan kepadanya sebuah anggur, ia heran. Kemudian Aisyah Radhiallaahu anha berkata: ‘Engkau heran? Berapa biji atom yang kau lihat dalam sebutir buah ini?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummul Mukminin dalam hal ini bersedekah dengan sebiji anggur bukan karena kikir, Allah menyucikan beliau dari hal itu. Beliau adalah seorang yang pemurah sebagai-mana ayah beliau. Diriwayatkan oleh Hisyam Ibnu Urwah dari ayahnya Urwah Ibnu Zubair anak saudara perempuannya bahwa Muawiyah memberikan kepada beliau 100 dinar kemudian ia berkata: “Demi Allah sebelum matahari tenggelam pada hari itu beliau telah membagi-bagikannya. Hingga budak wanita itu berkata: ‘Seandainya anda membeli daging untuk kami, dari sedirham uang itu?’ Beliau menjawab: ‘Mengapa engkau tidak mengingatkan aku?’.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau bersedekah dengan sebiji anggur untuk mengamalkan ayat itu sebagai contoh bagi yang lain, agar tidak meremehkan kebaikan walau sedikit, karena memperhatikan hal-hal terkecil dalam kebaikan merupakan bukti dari sikap hati-hati dalam perkara jelek yang sangat kecil pula. Apakah kaum muslimat mengetahui dan mengamalkan ayat ini sebagaimana bunda mereka Aisyah Radhiallaahu anha, adakah mereka menjauhi apa-apa yang sangat kecil (sebesar atom) dalam padangan mereka padahal boleh jadi hal itu sebesar gunung di mata shahabiyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan dulu berkata: “Itukan ummul mukminin?” Dimana tingkatan kita dibandingkan beliau? Demikian itu adalah komitmen para shahabiyat radhiyallahu ‘anhunna, mereka semua disaksikan oleh beliau Radhiallaahu anha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Shahih Al-Bukhari dari Aisyah Radhiallaahu anha berkata: “Allah merahmati para wanita Muhajiraat yang pertama ketika turun ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempu-nyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu seka-lian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung’.” (An-Nur: 31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Langsung) mereka merobek kain korden dan menjadi-kannya sebagai jilbab dan menutup hingga dada mereka.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama juga dilakukan kaum wanita Anshar. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Aisyah Radhiallaahu anha bahwa beliau berkata: “Demi Allah aku tidak melihat kaum yang lebih utama daripada wanita Anshar terhadap pembenaran kitab Allah (Al-Qur’an) dan keimanan terhadap yang diturunkan. Sungguh disaat turun surat An-Nuur ayat 31, para suami segera pulang dan membacakan ayat yang baru diturunkan Allah kepada isteri, anak dan saudari serta sanak famili mereka maka tidak ada di antara kaum wanita melainkan mengumpulkan kain dan memakainya sebagai pembuktian keimanan mereka terhadap apa yang diturunkan Allah dalam kitabNya. Mereka berada di belakang Rasululah Shalallaahu alaihi wasalam di saat Subuh dalam keadaan berjilbab seakan-akan di atas kepala mereka ada burung-burung gagak.”&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Sumber :&amp;nbsp; &lt;a href="http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=312&amp;amp;parent_section=kj007&amp;amp;idjudul=1"&gt;http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=312&amp;amp;parent_section=kj007&amp;amp;idjudul=1&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-6152219437031897848?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/6152219437031897848/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/beramal-dengan-al-quran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/6152219437031897848'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/6152219437031897848'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/beramal-dengan-al-quran.html' title='Beramal Dengan Al-Qur’an'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-7580237248457333109</id><published>2011-11-26T06:39:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T06:40:33.184+07:00</updated><title type='text'>Menangis Ketika Membaca Al-Qur’an Atau Mendengarkannya</title><content type='html'>Menangis ketika membaca Al-Qur’an atau ketika mendengarkannya merupakan sifat orang mukmin yang sebenar-nya. Seorang mukmin ketika merenungkan ayat-ayat Al-Qur’an, ia mendapatkan sifat yang sempurna dan agung pada Tuhannya. Pada saat itu hatinya dipenuhi gejolak dan pemu-liaan terhadap Tuhannya. Sebagaimana ia berdiri diatas kepercayaan terhadap Allah, dengan mengemban amanah yang langit dan bumi enggan memikulnya, Allah menjadikan ke-nikmatan yang abadi bagi yang melaksanakannya, juga sebaliknya mengancamkan siksa yang pedih bagi yang menyia-nyiakannya. Kemudian perasaan yang lalai dan penyalahgu-naannya akan menambah semakin besar penyesalan dan ke-sedihan yang berkepanjangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Nawawi berkata: “Menangis ketika membaca Al-Qur’an merupakan sifat orang yang telah mencapai dera-jat pengetahuan yang dalam dan lambang bagi hamba-hamba Allah yang shalih.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhannahu wa Ta'ala telah memuji para nabiNya dan hamba-hamba-Nya yang shalih. Dia berfirman:&lt;br /&gt;“Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi ni`mat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (Maryam: 58)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhannahu wa Ta'ala juga berfirman:&lt;br /&gt;“Katakanlah: ‘Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: ‘Maha Suci Tuhan kami; sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi’. Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (Al-Isra’: 107-109)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhannahu wa Ta'ala juga befirman:&lt;br /&gt;“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturun-kan kepada Rasul (Muhammad), kamu melihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al-Qur'an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri).” (Al-Maidah: 83)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang disebutkan dan diisyaratkan Allah dalam kitab-Nya tiada lain untuk menghibur mereka. Menangis ketika membaca Al-Qur’an dan mendengarkannya, telah menjadi lambang (tanda keagungan) Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dan sahabat-sahabatnya serta sebaik-baik salaf ridhwanullahi ‘alihim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim, ‘Abdullah Ibnu Mas’ud Radhiallaahu anhu berkata: “Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam memerintahkan saya: “Bacakanlah untukku Al-Qur’an”. Saya berkata: “Bagaimana saya akan membacakan untukmu, padahal Al-Qur’an di-turunkan kepadamu.” Rasul menjawab: “Ya, (tetapi) saya ingin mendengarnya dari selain saya.” Maka saya membaca surat An-Nisa’ hingga sampai pada ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabi-la Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).” (An-Nisa’: 41)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau bersabda: “Cukup!” Dan kedua mata beliau menangis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Battha’ berkata: “Beliau Shalallaahu alaihi wasalam menangis ketika dibacakan ayat ini karena beliau membayangkan dirinya akan kedahsyatan hari Kiamat ketika beliau dipanggil untuk menjadi saksi atas umat-umatnya dan permohonan syafa’atnya bagi orang-orang di Padang Mahsyar. Dan ini adalah perkara yang berhak ditangisi berkepanjangan.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Hajar berkata: “Orang yang menangis karena mengetahui bahwa amalnya pasti akan dipersaksikan, sedangkan tidak semuanya lurus/benar, hal itu akan menyebabkan siksa baginya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Marduwaih dengan sanadnya dari Attha’ berkata: “Saya keluar bersama Ibnu Umar, Ubaid Ibnu Amir, ke rumah Aisyah Radhiallaahu anha , maka kami masuk ke rumahnya sedang antara kami dengannya terdapat hijab (penghalang). Aisyah bertanya: Wahai Ubaid apa yang menghalangimu untuk mengunjungi kami? Ubaid menjawab dengan perkataan penyair:&lt;br /&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;زُرْغُبًّا تَزْدَرْ حُبًّا.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Perjaranglah mengunjungi seseorang niscaya bertambah kecintaan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Umar Radhiallaahu anhu berkata: “Maafkanlah kami, beritahukanlah kepada kami sesuatu yang paling mengagumkanmu dari Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam.” Maka beliau menangis dan berkata: “Semua perkara beliau menakjubkan. Suatu malam dia mendatangiku hingga kulitnya menyentuh kulitku, kemudian bersabda: “Biarkan aku beribadah kepada Tuhanku.” Aku berkata: “Demi Allah, aku senang berada di dekatmu dan aku suka engkau beribadah kepada Tuhanmu, kemudian beliau berdiri dan berwudhu’ dengan tidak boros dalam pemakaian air, kemudian melaksanakan shalat sambil menangis hingga membasahi jenggotnya. Ketika itu Bilal akan mengumandangkan adzan Subuh. Bilal berkata: “Wahai Rasulullah apa yang membuatmu menangis padahal Allah telah menghapus dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang.” Rasul menjawab: “Oh Bilal, apa yang menghalangiku untuk tidak menangis sedangkan malam ini telah turun ayat: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (Ali Imran: 190)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian beliau Shalallaahu alaihi wasalam bersabda: “Celaka bagi yang membacanya namun tidak merenungkannya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdur Razzaq dengan sanadnya dari Qais Ibnu Abi Hazim berkata: “Abdullah Ibnu Rawahah pernah meletakkan kepalanya di pangkuan istrinya sambil menangis. Maka istri-nya menangis juga dan berkata: ‘Apa yang menyebabkanmu menangis?’ Ia menjawab: ‘Aku teringat firman Allah: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan tidak ada seorangpun daripadamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.” (Maryam: 71)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak tahu akankah aku selamat atau tidak! &lt;br /&gt;Dari Nafi’ berkata: “Ibnu Umar jika membaca ayat ini:&lt;br /&gt;“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang ber-iman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka).” (Al-Hadid: 16)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau selalu menangis hingga tidak terkontrol. &lt;br /&gt;Dari Umar bin Khattab Radhiallaahu anhu bahwasanya beliau shalat Subuh berjamaah, ketika itu membaca surat Yusuf, maka beliau menangis hingga air matanya membasahi tempat sujud. Dalam riwayat lain mengatakan bahwa tangisan beliau terdengar sampai pada shaf-shaf belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Shahih Al-Bukhari dari Ibnu Umar Radhiallaahu anhuma berkata: “Ketika sakit Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bertambah parah dikatakan pada beliau: ‘Shalat ….’ Beliau menjawab: ‘Perintahkan Abu Bakar untuk mengimami orang-orang!’ ‘Aisyah Radhiallaahu anha berkata: ‘Sesungguhnya Abu Bakar orangnya lemah, jika membaca sering menangis’. Rasul berkata: ‘Perintahkanlah agar ia melaksanakan shalat). maka ‘Aisyah mengulangi perkataannya. Rasul kemudian bersabda: ‘Perintahkanlah agar ia melaksanakan shalat, sesungguhnya kalian seperti wanita di zaman Yusuf’.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abi Shalih berkata: “Orang-orang dari Yaman mendatangi Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiallaahu anhu, mereka membaca Al-Qur’an dengan menangis. Maka Abu Bakar Radhiallaahu anhu berkata: Beginilah kami di zaman Rasul.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Az-Zuhri bahwasanya Umar Ibnu Abdul ‘Aziz suatu pagi memegang jenggotnya seraya membaca:&lt;br /&gt;“Maka bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kepa-da mereka kenikmatan hidup bertahun-tahun, Kemudian datang kepada mereka azab yang telah diancamkan kepada mereka, niscaya tidak berguna bagi mereka apa yang mereka selalu menikmatinya.” (Asy-Syu’ara’: 205-207)&lt;br /&gt;Kemudian beliau bersenandung: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siangmu tenang dan melalaikan, wahai orang yang dimaafkan, malammu kau gunakan untuk tidur berselimut.&lt;br /&gt;Engkau bergembira dengan sesuatu yang akan musnah dan berbahagia dengan angan-angan, padahal kelezatan seakan mimpi di tengah malam.&lt;br /&gt;Engkau berusaha terhadap suatu hal yang akan engkau benci pada akhirnya, begitulah engkau di dunia akan menjadi seperti hewan.”&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Sumber :&amp;nbsp; &lt;a href="http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=310&amp;amp;parent_section=kj007&amp;amp;idjudul=1"&gt;http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=310&amp;amp;parent_section=kj007&amp;amp;idjudul=1&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-7580237248457333109?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/7580237248457333109/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/menangis-ketika-membaca-al-quran-atau.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/7580237248457333109'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/7580237248457333109'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/menangis-ketika-membaca-al-quran-atau.html' title='Menangis Ketika Membaca Al-Qur’an Atau Mendengarkannya'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-7062560850669726475</id><published>2011-11-26T06:34:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T06:34:56.023+07:00</updated><title type='text'>Merenungkan Al-Qur’an Ketika Membaca Atau Mendengarkannya</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Allah Subhannahu wa Ta'ala telah mengabarkan bahwa Ia telah menurunkan Al-Qur’an ini untuk dibaca dengan perenungan dan pema-haman. Maka Allah Subhannahu wa Ta'ala  berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (Shad: 29)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhannahu wa Ta'ala mengingkari orang-orang yang tidak merenungkannya:&lt;br /&gt;“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” (Muhammad: 24)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FirmanNya yang lain:&lt;br /&gt;“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentu-lah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (An-Nisa’: 82)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Ibnu Sa’di v berkata dalam Tafsir-nya tentang ayat ini: “Allah memerintahkan agar kitabNya direnungkan dan diteliti maknanya dengan pandangan tajam dalam memi-kirkan asas-asasnya, ancamannya dan perintah-perintahnya. Maka dengan merenungkan kitab Allah akan mendapatkan kuncinya ilmu dan pengetahuan, menghasilkan banyak ke-baikan, asas semua ilmu, menambah keimanan dalam hati dan mengokohkannya seperti pohon yang akarnya tertancap, mengenalkannya kepada Allah yang disembah, mengenalkan sifat-sifat kesempurnaanNya, hal-hal yang menyucikannya dari kekurangan, mengenalkan jalan yang akan menyampai-kan kepadaNya dan sifat-sifat ahli jalan itu. Dan hal-hal yang dapat mendekatkan padaNya, mengenalkan kepada musuh yang sesungguhnya, dan ciri-ciri jalan yang menye-babkan penempuhnya disiksa. Setiap hamba akan bertambah pemahamannya, ilmunya dan perbuatannya serta penglihatan mata hatinya, karena maksud inilah Allah menurunkan Al-Qur’an.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (Shad: 29)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Allamah Muhammad Amin Asy-Syanqithi mengo-mentari ayat-ayat di atas yang memohon agar dihayati kemudian berkata: “Ayat-ayat yang disebutkan itu menunjukkan bahwa merenungkan Al-Qur’an dan memahaminya kemudian mengamalkan apa yang diperintahkannya merupakan perkara yang harus diperhatikan kaum muslimin.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu merupakan urusan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dan para saha-batnya Radhiallaahu anhum, murid-murid mereka dari para tabi’in bersama Al-Qur’an. Dalam Musnad Imam Ahmad dari ‘Aisyah Radhiallaahu anha bahwa Nabi Shalallaahu alaihi wasalam mengisahkan pada orang-orang yang mem-baca Al-Qur’an di malam hari sekali atau dua kali. Kemudian berkata: “Mereka membacanya namun belum membaca yang sesungguhnya. Aku pernah berdiri bersama Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam semalam suntuk. Beliau membaca surat Al-Baqarah, Ali Imran dan An-Nisa’. Beliau tidak melewati seayat pun mengenai ayat adzab melainkan memohon perlindungan kepada Allah dan tiada melewati ayat yang mengabarkan kenikmatan melainkan memohon kepada Allah.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Shahih Muslim dari Hudzaifah Radhiallaahu anhu berkata: “Saya shalat bersama Nabi Shalallaahu alaihi wasalam suatu malam, beliau membaca surat Al-Baqarah. Aku katakan: ‘Beliau akan ruku’ setelah seratus ayat dibacanya’, (ternyata) beliau meneruskan mem-baca surat An-Nisa’ kemudian Ali Imran secara bersam-bung. Jika membaca ayat tasbih maka beliau bertasbih, jika melewati ayat permohonan beliau berdoa, jika melewati ayat perlindungan, kemudian beliau ruku’ dengan membaca ‘subhaana rabbiyal ‘adziim’.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga dalam Shahih Muslim dari Abi Wail berkata: “Seorang laki-laki datang kepada Abdullah Ibnu Mas’ud lalu berkata: ‘Sesungguhnya aku membaca surat-surat mufasshal (surat pendek) dalam setiap rakaat. Maka Abdullah Ibnu Mas’ud berkata: Hal ini seperti rambut ini, sesungguhnya suatu kaum membaca Al-Qur’an tetapi tidak melewati kerongkongannya (tidak berbekas), seandainya berbekas dan tertancap dalam hati niscaya bermanfaat.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dari Abi Ubaid dari Abi Hamzah, aku bertanya kepada Ibnu Abbas: “Sesungguhnya aku cepat dalam membaca dan jika membaca Al-Qur’an (khatam) dalam tiga hari. Maka beliau berkata: ‘Membaca surat Al-Baqarah dengan perlahan-lahan dan merenungkannya lebih baik bagiku daripada membaca seperti kamu katakan.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Hajar berkata: “Abu Daud memiliki jalur lain dari Abi Hamzah. Aku bertanya kepada Ibnu Abbas: Sesungguhnya aku seorang yang cepat bacaannya dan aku menghatamkan Al-Qur’an dalam satu malam, maka Ibnu Abbas berkata: Membaca satu surat lebih aku sukai, jika engkau membaca maka bacalah dengan bacaan yang didengar telingamu dan berbekas dalam hatimu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang dari mereka memanjangkan bacaannya ketika berdiri membaca ayat untuk menghayatinya. Dalam Sunan An-Nasa’i, Sunan Ibnu Majah dan Al-Mustadrak Al-Hakim dari Abi Dzar Radhiallaahu anhu berkata: “Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam berdiri dengan mengulang-ulang ayatnya hingga pagi, yaitu ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Maidah: 118). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Tamim Ad-Dari bahwa Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam mengulang-ulang ayat ini hingga menjelang pagi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu me-nyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih.” (Al-Jatsiyah: 21). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abbad Ibnu Hamzah berkata: “Saya mengunjungi Asma’ Radhiallaahu anha sedang ia membaca:&lt;br /&gt;“Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka.” (Ath-Thur: 27)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengulang-ulangnya seraya berdoa hingga saya menunggu terlalu lama dan saya pun pergi ke pasar untuk memenuhi kebutuhan saya, kemudian saya kembali sedang ia masih mengulang-ulanginya dan tetap berdoa.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Mas’ud mengulang-ulang firman Allah Subhannahu wa Ta'ala :&lt;br /&gt;“Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahu-an.” (Thaha: 114)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Said Ibnu Jubair mengulang-ulang ayat:&lt;br /&gt;“Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah.” (Al-Baqarah: 281)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kelak mereka akan mengetahui, ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka.” (Ghafir: 70-71)&lt;br /&gt;“Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemu-rah.” (Al-Infithar: 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari nash-nash di atas menunjukkan amal Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dan para sahabatnya serta tabi’in. Kita tahu pentingnya menghayati Al-Qur’an dan memahami apa yang dimaksud Allah Subhannahu wa Ta'ala padanya. Karena itu memperbanyak bacaan yang mengandung kesalahan adalah kurang terpuji, bahkan dilarang oleh nash-nash.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Sunan Abi Daud dan At-Tirmidzi dari Abdillah Ibnu Amr Ibnul ‘Ash Radhiallaahu anhu bahwa Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( لاَ يَفْقَهُ مِنْ قَرَأَ الْقُرْآنُ فِي أقل مِنْ ثَلاَثٌ ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Tidak akan dapat memahami Al-Qur’an orang yang membaca kurang dari tiga hari.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam An-Nawawi telah menjadikan kriteria ukuran kecepatan dalam membaca Al-Qur’an dan ukuran memper-banyak menghatamkannya adalah kemampuan perenungan dan pemahamannya. Beliau menceritakan keadaan orang-orang salaf dalam menghatamkan Al-Qur’an dan kecepatan mereka, kemudian berkata: “Pemilihan itu berbeda antar individu, barangsiapa memiliki kejernihan berfikir lembut di sekitar makna maka hendaknya ia memendekkan hingga mencapai kesempurnaan pemahaman dari yang dibacanya, demikian pula yang sibuk dengan mengajar atau selainnya dari kepentingan agama dan kemaslahatan kaum muslimin umumnya maka memperpendek sesuai ketentuan, yang disebabkan dari halangan untuk mewujudkannya. Kalau bukan termasuk golongan tersebut di atas maka hendaklah ia memperbanyak bacaannya tanpa melanggar batasan agama, dan terlalu cepat.”&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Sumber :&amp;nbsp; &lt;a href="http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=308&amp;amp;parent_section=kj007&amp;amp;idjudul=1"&gt;http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=308&amp;amp;parent_section=kj007&amp;amp;idjudul=1&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-7062560850669726475?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/7062560850669726475/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/merenungkan-al-quran-ketika-membaca.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/7062560850669726475'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/7062560850669726475'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/merenungkan-al-quran-ketika-membaca.html' title='Merenungkan Al-Qur’an Ketika Membaca Atau Mendengarkannya'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-5622041623238875776</id><published>2011-11-26T06:32:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T06:32:30.419+07:00</updated><title type='text'>Memperbagus Bacaan Dan Suara Dalam Membaca Al-Qur’an</title><content type='html'>Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;“Dan bacalah Al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan.” (Al-Muzzammil: 4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir berkata: “Bacalah Al-Qur’an pelan-pelan. Terdapat riwayat yang menceritakan bacaan Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau membaca Al-Qur’an dengan perlahan-lahan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Shahih Al-Bukhari dari Anas Radhiallaahu 'anhu dia ditanya tentang bacaan Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam maka Anas menjelaskan bacaan Nabi panjang-panjang. Dicontohkannya dengan bacaan “Bismi-llahirrahmanirrahim” dengan memanjangkan “Bismillaahi” kemudian “Arrahmaan” dan “Arrahiim”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Sunan Abi Daud, At-Tirmidzi dan An-Nasa’i dari Ummi Salamah Radhiallaahu 'anha mensifati bacaan Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam dengan membaca huruf demi huruf. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam An-Nawawi berkata: “Para ulama telah sepakat atas sunnahnya membaca Al-Qur’an secara tartil.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam melambatkan bacaan terdapat keutamaan yang besar. Kedudukan pembaca Al-Qur’an di akhirat sangat tinggi sesuai dengan bacaan yang dilambatkannya waktu di dunia. Pada Sunan At-Tirmidzi dari ‘Abdullah Ibnu Umar bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( إِقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَأُ بِهَا ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Dikatakan kepada pembaca Al-Qur’an, ‘Baca!’ dan naiklah sebagaimana engkau baca Al-Qur’an di dunia, karena tempatmu pada akhir ayat yang kau baca.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Al-Musnad dari Abi Said Radhiallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( إِقْرَأْ وَاصْعُدْ، وَيَصْعُدُ بِكُلِّ آيَةٍ دَرَجَةً حَتَّى يَقْرَأُ آخِرِ شَيْءٍ مَعَهُ ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Dikatakan kepada pembaca Al-Qur’an apabila masuk surga: ‘Bacalah! dan mendakilah, maka ia mendaki dengan setiap ayat satu derajat hingga ia membaca ayat terakhir yang ia hafal.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seyogyanya menekankan bacaan dan memperbagus suara karena hal itu menambah kebagusan Al-Qur’an hingga di-terima pendengarnya serta meninggalkan bekas dalam hati. Dalam Sunan An-Nasa’i dan Ad-Darimi serta Al-Mustadrak Al-Hakim dari Barra’ Radhiallaahu 'anhu berkata: “Saya mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( حَسِّنُوْا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ فَإِنَّ الصَّوْتَ الْحَسَنَ يَزِيْدُ الْقُرْآنَ حُسْنًا ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Baguskanlah Al-Qur’an dengan suaramu, karena suara yang bagus menambah keindahan Al-Qur’an.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Sunan Abi Daud dari Abu Lubabah Radhiallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Bukan dari golongan kami orang yang tidak melagukan Al-Qur’an.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An-Nawawi mengisahkan dari Jumhurul Ulama bahwa makna “lam yataghanna” adalah yang tidak membaguskan suaranya ketika membaca Al-Qur’an. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam qudwah (teladan) dalam hal ini. Dalam Shahih Al-Bukhari dari Barra’ Ibnu ‘Azib berkata: “Saya mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam membaca dalam shalat isya’ “At-Tiin waz Zaitun”, tidak pernah kudengar seseorang yang lebih bagus suaranya dari beliau .” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah Ibnu Mughaffal berkata: “Saya melihat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam di atas unta yang sedang berjalan sedang beliau membaca surat Al-Fath atau sebagiannya dengan bacaan yang lembut. Beliau Shallallaahu 'alaihi wa sallam membacanya dengan melagukannya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At-Tarji’ memiliki dua makna:&lt;br /&gt;1. Keadaan Nabi (yang terguncang) di atas unta sehingga menimbulkan getaran suara.&lt;br /&gt;2. Beliau benar-benar menekankan sesuai panjang dan pendeknya, dan ini yang terjadi.&lt;br /&gt;Ibnu Hajar mengisahkan hal ini dan menguatkan yang kedua karena lebih sesuai dengan kenyataan, karena Rasul pernah berbisik:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( لَوْلاَ أَنْ يَجْتَمِعَ النَّاسُ لَقَرَأْتُ لَكُمْ بِذَلِكَ اللَّحْنِ ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Kalau sekiranya tidak menyebabkan manusia berkumpul niscaya kubaca kepada kalian dengan nada itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya lagu, dalam riwayat lain terdapat kata at-tarji’. Kemudian dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dalam Asy-Syamail, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Ibnu Abi Daud, ini adalah lafazhnya dari hadits Ummu Hani: “Aku pernah men-dengar suara Rasulullah yang sedang membaca Al-Qur’an –ketika aku tidur di atas ranjang– dengan melagukannya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abi Jumrah berkata: “Makna at-tarjii’ adalah membaguskan suara.” &lt;br /&gt;Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam memuji kepada sahabat yang memiliki suara bagus. Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abi Musa Al-Asy’ari bahwasanya Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam berkata kepadanya: “Sungguh saya diberi seruling dari seruling-seruling keluarga Nabi Daud.” Beliau Shallallaahu 'alaihi wa sallam menunjuk pada keindahan suara sahabat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Majah dalam Sunannya meriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiallaahu 'anha berkata: “Saya pernah terlambat ke Rasulullah satu malam setelah isya’ beliau bertanya: “Dimana engkau bera-da?” Saya menjawab: “Saya mendengar bacaan dari salah seorang sahabatmu, aku belum pernah mendengar suara dan bacaan sebagus dia, kemudian Rasulullah berdiri lalu saya mengikutinya hingga beliau mendengarnya sendiri. Kemu-dian beliau menoleh pada saya seraya bersabda: “Ini adalah Salim budak Abi Hudzaifah, segala puji bagi Allah yang menjadikan orang sepertinya dalam umatku.” Bushiri berkata: “Isnad hadits ini shahih para perawinya terpercaya. Ibnu Katsir berkata: Sanadnya jayyid.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan Allah Subhaanahu wa Ta'ala menyukai suara yang bagus dalam membaca Al-Qur’an dan memperdengarkannya. Dalam Shahihain dari Abu Hurairah Radhiallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: &lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( مَا أَذِنَ اللهُ بِشَيْءٍ مَا أَذِنَ لِنَبِيِّ حُسْنَ الصَّوْتِ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ يُجْهِرُ بِهِ ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Allah tidak memberi izin terhadap suatu perbuatan se-bagaimana Nabi diizinkan membaguskan suara dalam melagukan Al-Qur’an secara lantang.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Atsir berkata: “Maksudnya Allah tidak memperhati-kan sesuatu sebagaimana perhatiannya terhadap Nabi dalam melagukan Al-Qur’an.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Sunan Ibnu Majah dari Fudhalah Ibnu ‘Ubaid berkata: “Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( اللهُ أَشَدُّ أُذُنًا إِلَى الرَّجُلِ الْحُسْنِ الصَّوْتِ بِالْقُرْآنِ مِنْ صَاحِبِ الْقَيْنَةِ إِلَى قَيْنَتِهِ ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Allah sangat memperhatikan orang yang bagus bacaan-nya dalam membaca Al-Qur’an daripada penyanyi terha-dap nyanyiannya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Bushiri berkata: “Sanadnya hasan.” Ibnu Atsir berkata: “Sanadnya jayyid.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam An-Nawawi berkata: “Para ulama dari kalangan salaf (dahulu) maupun khalaf (belakangan) dari kalangan sahabat, tabi’in, dan orang-orang setelah mereka di penjuru negeri muslim sepakat atas sunnahnya membaguskan suara dengan Al-Qur’an, perkataan dan perbuatan mereka ini sangat mashur. Kami memiliki perbendaharaan tentang hal ini. Dalil-dalil dari hadits tentang hal ini terperinci baik yang khusus maupun yang umum.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya (penulis) katakan: “Benar, sesungguhnya membaguskan suara ketika membaca Al-Qur’an dengan tajwidnya merupakan perintah syariat, karena dalil-dalil yang jelas dan shahih. Tetapi dengan syarat menjaga makharijul hurufnya (tempat-tempat keluarnya huruf) dan memantapkannya serta memenuhi hukum-hukumnya, karena makna tidak dapat di-fahami selain dengan jalan tersebut, sedangkan memahami dan merenungkan merupakan tujuan utama, karena itu ada pujian bagi pembaca yang mahir.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Shahih Muslim dari Aisyah Radhiallaahu 'anha bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Orang yang mahir membaca Al-Qur’an bersama para malaikat yang mulia.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Hajar berkata: “Orang yang mahir/piawai disini maksudnya baik bacaan dan hafalannya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi jika perubahan irama mengakibatkan pelanggaran terhadap makna dengan menyembunyikan sebagian huruf atau menyelewengkannya atau tindakan lainnya yang me-nyebabkan makna berubah atau menyerupai penyanyi dan orang yang bercanda maka sesungguhnya ia tercela bukan-nya terpuji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam An-Nawawi berkata: “Para ulama berkata: ‘Sunnah hukumnya membaca Al-Qur’an dengan membagus-kan suara dan urutannya selama belum keluar dari batas bacaannya hingga berlebihan. Jika melampaui batas sehingga menambah satu huruf atau menyembunyikannya maka hal itu haram’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun bacaan dengan berbagai dialek Imam Asy-Syafi’i berkata: “Saya tidak menyukainya. Sahabat-sahabat kami berkata: ‘Kami tidak berhujjah dengan dua pendapat tetapi ada keterangannya bahwa jika berlebihan hingga melampaui batas maka itulah yang tidak disukai dan jika tidak melanggar maka tidak dibenci’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Mawardi dalam kitabnya Al-Hawi berkata: “Bacaan dengan lagu tertentu, jika hal itu menyimpang dari lafazh-lafazh Al-Qur’an dari bentuknya dengan memasukkan harakat dan menghapusnya atau memendekkan yang panjang dan memanjangkan yang pendek, berlebihan hingga menyembu-nyikan sebagian lafazh dan menimbulkan kerancuan makna, maka hal itu haram hukumnya dan pembacanya menjadi fasiq serta yang mendengarkan berdosa karena keluar dari aturan yang lurus kepada yang bengkok. Padahal Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;“(Ialah) Al Qur'an dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya).” (Az-Zumar: 28)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tidak keluar bacaannya dari lafazh-lafazhnya tetapi hanya dengan melambatkan bacaan maka hal itu mubah (boleh) karena dia menambah lagu untuk membaguskan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam An-Nawawi mengomentari hal ini dengan menga-takan: “Perkataan ini sebaik-baik pemecahan atau penengah-an. Dan bagian pertama ini, bagian dari bacaan yang haram merupakan bencana yang diujikan kepada orang awam yang bodoh yang bertindak serampangan dengan membacanya untuk jenazah dan di waktu pesta. Ini merupakan bid’ah yang diharamkan secara jelas. Pada setiap pendengar yang membiarkan hal ini berdosa sebagaimana dikatakan Al-Mawardi dan juga bagi yang sanggup menghilangkannya atau mencegahnya namun tidak berbuat apapun.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir berkata: “Tujuan yang diminta dalam agama adalah membaguskan suara yang membangkitkan semangat untuk merenungi Al-Qur’an dan memahaminya, khusyu’ dan penuh dengan ketundukan serta kepatuhan ter-hadap perintahnya. Sedangkan menyuarakan Al-Qur’an dengan patokan lagu dan irama yang bersifat hiburan dan aturan-aturan seperti musik dan yang menjalankan madzhab ini, maka Al-Qur’an terlalu suci dan agung untuk diperlaku-kan seperti itu. Dan telah datang sunnah yang menganggap hal itu dosa.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak diragukan lagi bahwa tujuan dari memperbagus suara ketika membaca Al-Qur’an dengan tajwidnya untuk mendorong pendengar agar membawanya untuk merenung-kannya, tunduk dan terkesan dengannya. Alangkah bahagia-nya orang yang akalnya terikat oleh Al-Qur’an kemudian hatinya menjadi lembut karenanya. Perlu diketahui oleh pembaca Al-Qur’an sejauh mana ia terkesan ketika memba-canya sejauh itu pula bacaannya akan berkesan kepada yang mendengarkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitab Al-Mukhtaratu Lidh Dhiya’ dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: &lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( إِنْ أَحْسَنَ النَّاسِ قِرَاءَةً الَّذِيْ إِذَا قَرَأَ رَأَيْتَ أَنَّهُ يَخْشَى اللهَ ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Sesungguhnya sebaik-baik bacaan manusia adalah jika ia membaca Al-Qur’an engkau melihat pembacanya benar-benar takut kepada Allah.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pembaca Al-Qur’an sekaligus termasuk mengajak manusia ke jalan Allah, sehingga dia termasuk orang yang dipuji Allah dalam firmanNya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (Fushshilat: 33)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan orang yang telah dikuasai setan kemudian melupakan Allah dan menjadi penyeru pada suaranya agar manusia kagum, maka alangkah ruginya perbuatan itu dan alangkah buruknya tempat kembalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Shahih Muslim dari Abi Hurairah Radhiallaahu 'anhu berkata: “Saya mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا قَالَ قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لأَنْ يُقَالَ جَرِيْءٌ فَقَدْ قِيْلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا قَالَ تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيْكَ الْقُرْآنَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ فَقَدْ قِيْلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللَّـهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا قَالَ مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيْلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيْهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيْهَا لَكَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيْلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Manusia pertama yang diadili pada hari Kiamat adalah seorang yang mati syahid, ia menghadap kepada Allah, kemudian Allah memperlihatkan nikmat yang telah dika-runiakan kepadanya. Allah bertanya: ‘Untuk apa engkau berbuat dalam hal ini?’ Ia menjawab: ‘Aku berperang untukMu sehingga aku mati syahid’. Lantas dijawab: ‘Engkau dusta, sesungguhnya engkau berperang agar manusia mengatakan bahwa engkau seorang pemberani’, kemudian Allah memerintahkan agar ia diseret dan di-lempar ke Neraka. Kemudian didatangkan seorang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya, lalu Allah mem-perlihatkan nikmat yang telah dikaruniakan kepadanya. Allah bertanya: ‘Untuk apa engkau berbuat dalam hal ini?’ Ia menjawab: ‘Aku belajar dan mengajarkan ilmu yang kudapat serta membaca Al-Qur’an untukMu’. Allah menjawab: ‘Engkau dusta, sesungguhnya engkau belajar agar dikatakan ‘alim dan engkau membaca Al-Qur’an agar dikatakan seorang qari’, kemudian diperintahkan agar ia diseret dan dilempar ke Neraka.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Ajuri berkata: “Seyogyanya bagi yang dikaruniai oleh Allah Subhaanahu wa Ta'ala suara yang baik ketika membaca Al-Qur’an agar mengetahui bahwa Allah telah mengaruniakan kebaikan khusus padanya maka hendaknya ia mengetahui kadar keistimewaan Allah baginya. Bacalah Al-Qur’an semata ka-rena Allah bukan untuk dipuji manusia. Berhati-hatilah dari kecenderungan untuk didengarkan orang agar memperoleh pujian, untuk mendapat dunia (harta), perasaan suka dipuji, untuk memperoleh kedudukan di dunia, hubungan dengan penguasa, lebih dari masyarakat umumnya. Barangsiapa cenderung kepada yang aku peringatkan maka aku khawatir suaranya yang bagus malah menjadi fitnah. Sedangkan suaranya akan memberi manfaat baginya jika ia takut kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala dalam keadaan sendiri atau bersama yang lain. Yang diminta darinya agar ia memperdengarkan Al-Qur’an untuk memperingatkan orang-orang yang lalai agar berpaling dan mencintai apa yang dicintai Allah Subhannahu wa Ta'ala menjauhi apa yang dicegahnya. Siapa yang memiliki sifat ini maka suara-nya yang bagus bermanfaat baginya sendiri dan manusia.”&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Sumber :&amp;nbsp; &lt;a href="http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=306&amp;amp;parent_section=kj007&amp;amp;idjudul=1"&gt;http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=306&amp;amp;parent_section=kj007&amp;amp;idjudul=1&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-5622041623238875776?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/5622041623238875776/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/memperbagus-bacaan-dan-suara-dalam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/5622041623238875776'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/5622041623238875776'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/memperbagus-bacaan-dan-suara-dalam.html' title='Memperbagus Bacaan Dan Suara Dalam Membaca Al-Qur’an'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-2662109126012463270</id><published>2011-11-26T06:26:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T06:27:25.243+07:00</updated><title type='text'>Memperbanyak Bacaan Al-Qur’an Secara Terus-Menerus</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca Al-Qur’an merupakan ibadah kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala yang diperintahkan dalam kitabNya dan dianjurkan agar senantiasa dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Tuhanmu (Al-Qur'an). Tidak ada (seorang pun) yang dapat mengubah kalimat-kalimatNya. Dan kamu tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain daripadaNya.” (Al-Kahfi: 27)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagi-an dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu meng-harapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karuniaNya.” (Fathir: 29-30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam juga memberi dorongan perihal bacaan Al-Qur’an. Dalam Shahih Muslim dari Abi Umamah Al-Bahili berkata: “Saya mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Bacalah Al-Qur’an karena sesungguhnya ia akan da-tang memberi syafaat pada hari Kiamat bagi para pem-bacanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam merupakan contoh dalam membaca Al-Qur’an secara terus-menerus. Dalam Sunan Abu Daud dari Aus Ibnu Hudzaifah berkata: “Kami datang menemui Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam dalam suatu rombongan. Dikabarkan bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam datang setiap malam setelah isya’ bercakap-cakap dengan mereka, kemudian pada suatu malam beliau terlambat dari kebiasaannya. Kami berkata: ‘Engkau ter-lambat malam ini!’ Beliau menjawab: ‘Sesungguhnya aku membaca sebagian dari Al-Qur’an maka aku tangguhkan kedatanganku kemari setelah bacaanku selesai’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Aus berkata: “Aku bertanya kepada para sahabat Rasulullah, bagaimana dulu kalian membaca Al-Qur’an?” Mereka menjawab: “Tiga, lima, tujuh, sembilan, sebelas, tigabelas hizb, satu hizb adalah satu bagian terpisah tersendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bagian hadits ini dijelaskan bahwa para sahabat Radhiallaahu 'anhum senantiasa membaca Al-Qur’an juga. Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam dan para saha-batnya memperbanyak bacaan Al-Qur’an dan menghatam-kannya. Dari Aisyah Radhiallaahu 'anha berkata: “Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam tidak menghatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud dari hadits di atas adalah Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam mengkhatam kan Al-Qur’an dalam waktu singkat namun tidak kurang dari tiga hari. Kemudian beliau  memerintahkan sahabat-sahabatnya seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Sunan Said Ibnu Mansur dari Ibnu Mas’ud Radhiallaahu 'anhu bahwasanya Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( إِقْرَءُوا الْقُرْآنَ فِيْ سَبْعٍ وَلاَ تَقْرَءُوْهُ فِيْ أَقَلِّ مِنْ ثَلاَثٍ ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Bacalah Al-Qur’an dalam tujuh hari dan janganlah kurang dari tiga hari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Hajar berkata: “Sanad hadits ini shahih.” &lt;br /&gt;Imam An-Nawawi mengisahkan tentang salaf ridh-wanullahi ‘alaihim tentang seringnya mereka membaca dan menghatamkan Al-Qur’an. Beliau bersabda: “Kaum salaf memiliki kebiasaan yang berbeda-beda dalam meng-hatamkan Al-Qur’an. Ibnu Abi Daud meriwayatkan dari sebagian salaf bahwa mereka menghatamkan Al-Qur’an dalam dua bulan satu kali, sebagian mereka tiap bulan, sebagian dalam sepuluh malam, sebagian dalam lima malam, sebagian mereka dalam empat malam, kebanyakan mereka setiap tiga malam, kemudian beliau menyebutkan kurang dari itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau menambahkan: “Orang-orang yang menghatamkan dalam satu minggu banyak sekali, diceritakan dari Utsman Ibnu ‘Affan, ‘Abdullah Ibnu Mas’ud, Zaid Ibnu Tsabit, Ubai Ibnu Ka’ab Radhiallaahu 'anhu dan banyak tabi’in seperti ‘Abdurrahman Ibnu Zaid, Al-Alqamah dan Ibrahim.”&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Sumber : &lt;a href="http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=304&amp;amp;parent_section=kj007&amp;amp;idjudul=1"&gt;http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=304&amp;amp;parent_section=kj007&amp;amp;idjudul=1 &lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-2662109126012463270?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/2662109126012463270/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/memperbanyak-bacaan-al-quran-secara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/2662109126012463270'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/2662109126012463270'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/memperbanyak-bacaan-al-quran-secara.html' title='Memperbanyak Bacaan Al-Qur’an Secara Terus-Menerus'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-8994379331608637718</id><published>2011-11-26T06:25:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T06:29:33.869+07:00</updated><title type='text'>Membaca Dan Mengamalkan Al-Qur’an</title><content type='html'>Motivasi dan ancaman memberi kesan yang mendalam bagi pembentukan kepribadian dan kepemimpinan. Sebagaimana peringatan dari Al-Qur’an memiliki peranan yang sangat penting, keberadaan dalil-dalil –disamping men-jelaskan keutamaan Al-Qur’an yang mencakup hidayahnya–juga memberi motivasi pada interaksi dengannya menjanjikan pahala yang berlipat ganda, serta ancaman atas yang berpaling dan meninggalkannya dengan siksa yang amat pedih sebagai balasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Motivasi Membaca Dan Mengamalkan Al-Qur’an&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebaha-gian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.” (Fathir: 29)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qurthubi berkata: “Orang-orang yang membaca dan mengetahui serta mengamalkan isi Al-Qur’an yaitu mereka yang mengerjakan shalat fardhu dan yang sunnah demikian juga dalam berinfaq.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir berkata: “Allah Subhaanahu wa Ta'ala mengabarkan keadaan hamba-hambaNya yang mukmin yaitu mereka yang membaca kitabNya, beriman dengannya, dan beramal sesuai dengan yang diperintahkan seperti mengerjakan shalat dan menunaikan zakat.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim dari Abi Musa Al-Asy’ari bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَاْلأُتْرُجَّةِ طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَرِيحُهَا طَيِّبٌ وَمَثَلُ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ كَالتَّمْرَةِ طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَلاَ رِيحَ لَهَا وَمَثَلُ الْفَاجِرِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الرَّيْحَانَةِ رِيْحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ وَمَثَلُ الْفَاجِرِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ طَعْمُهَا مُرٌّ وَلاَ رِيحَ لَهَا ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Perumpamaan seorang mukmin yang membaca Al-Qur’an seperti buah jeruk, rasanya manis dan harum. Perumpamaan seorang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an seperti kurma rasanya manis tetapi tidak memi-liki aroma. Perumpamaan orang yang berbuat maksiat tetapi membaca Al-Qur’an seperti kemangi yang harum aromanya tetapi pahit rasanya. Dan perumpamaan orang yang berbuat maksiat dan tidak membaca Al-Qur’an seperti labu yang tidak memiliki aroma dan rasanya pahit.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Shahih Muslim dari Uqbah Ibnu Amir  berkata bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam keluar sedangkan kami di dalam rumah, maka beliau bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa di antara kalian yang ingin pergi setiap hari ke Bathan atau ‘Aqiq kemudian datang dengan dua ekor unta perempuan serta diampuni dosa-dosanya dengan tanpa memutuskan silaturrahmi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menjawab: “Wahai Rasulullah kami menyenangi hal itu.” Kemudian Rasulullah bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( أَفَلاَ يَغْدُو أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَيَعْلَمُ أَوْ يَقْرَأُ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللَّـهِ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ وَثَلاَثٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلاَثٍ وَأَرْبَعٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَرْبَعٍ وَمِنْ أَعْدَادِهِنَّ مِنَ اْلإِبِلِ ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Tidaklah salah seorang kalian pergi ke masjid kemu-dian belajar atau membaca dua ayat dari Al-Qur’an maka lebih baik baginya dari dua unta, tiga ayat lebih baik dari tiga unta, empat ayat lebih baik dari empat unta dan sebanyak bilangan ayat sebanyak itu pula unta yang diperolehnya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Sunan Abu Daud dari Abi Hurairah Radhiallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّـهِ تَعَالَى يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّـهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّـهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Tidaklah berkumpul suatu kaum di sebuah rumah dari rumah-rumah Allah (masjid), mereka membaca Al-Qur’an dan mempelajarinya bersama-sama melainkan akan turun ketenangan, diliputi rahmat, dikelilingi malaikat dan Allah memuji mereka di antara –malaikat– yang ada di sisiNya.”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Sunan At-Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud  berkata Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّـهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ: الـم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Barangsiapa membaca satu huruf dari Al-Qur’an maka baginya kebaikan hingga sepuluh kali lipat, aku tidak mengatakan Alif Laam Miim satu huruf melainkan Alif satu huruf Laam satu huruf Miim satu huruf.”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah Radhiallaahu 'anha bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Orang-orang yang mahir dengan Al-Qur’an akan ber-sama para malaikat yang mulia yang senantiasa berbuat baik, sedang yang membaca Al-Qur’an tertatih-tatih dan terasa berat, baginya dua pahala.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Muslim dari Abi Umamah Radhiallaahu 'anhu berkata: “Saya mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( إِقْرَأُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِيْ يَوْمَ الْقِيَامَة شَفِيْعًا لأَصْحَابِهِ ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Bacalah Al-Qur’an sebab ia akan datang di hari Kiamat sebagai penolong pada sahabatnya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga meriwayatkan dari An-Nawwas bin Sam’an Radhiallaahu 'anhu berkata: “Saya mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( يُؤْتَى بِالْقُرْآنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَهْلِهِ الَّذِينَ كَانُوا يَعْمَلُونَ بِهِ تَقْدُمُهُ سُورَةُ الْبَقَرَةِ وَآلُ تُحَاجَّانِ عَنْ صَاحِبِهِمَا ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Al-Qur’an didatangkan di hari Kiamat bersama ahli-nya, yaitu orang-orang yang mengamalkannya di dunia, surat Al-Baqarah dan Ali Imran didahulukan membela temannya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Shahih Al-Bukhari dari Utsman bin Affan Radhiallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنُ وَعَلَّمَهُ ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir berkata dalam menjelaskan hadist ini: “Inilah sifat-sifat orang mukmin yang mengikuti sunnah Rasulullah, mereka menyempurnakan diri mereka dan selain mereka, yaitu dengan mengumpulkan sedikit manfaat yang ada padanya untuk ditularkan pada selainnya. Hal ini ber-beda dengan sifat-sifat orang kafir yang sombong, tidak memberi manfaat, dan tidak membiarkan seseorang meng-ambil manfaat, sebagaimana firman Allah Subhaanahu wa Ta'ala :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka sik-saan di atas siksaan disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan.” (An-Nahl: 88)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sebagaimana firmanNya:&lt;br /&gt;“Mereka melarang (orang lain) mendengarkan Al-Qur’an dan mereka sendiri menjauhkan diri daripada-nya.” (Al-An’am: 26)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat yang paling benar dari para mufassirin dalam hal ini adalah: Mereka mencegah manusia dari mengikuti Al-Qur’an sebagaimana jauhnya mereka, maka terkumpul dalam diri mereka antara mendustakan dan berpaling dari Al-Qur’an sebagaimana firman Allah Subhaanahu wa Ta'ala :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan berpaling daripada-nya?” (Al-An’am: 157)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini merupakan kejelekan orang-orang kafir sebagai keba-likan dari keadaan orang-orang mukmin yang baik dan ber-usaha menyempurnakan diri mereka dan orang lain. Seba-gaimana Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah Subhaanahu wa Ta'ala :&lt;br /&gt;“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (Fushshilat: 33)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menghimpun dakwah ke jalan Allah baik dengan adzan atau panggilan lainnya seperti mengajarkan Al-Qur’an, Hadits, Fiqih dan lain-lain dengan mengharap ke-ridhaan Allah, dia beramal shalih untuk dirinya dan berkata baik. Maka tidak seorang pun yang lebih baik dari keadaan mereka. Sebagai contoh: “Abu Abdurrahman Abdullah Ibnu Habib As-Sulmi Al-Kufi salah seorang pemimpin Islam dan di antara ulamanya yang mencintai bidang ini. Maka beliau tekun mengajar manusia sejak pemerintahan Ustman Radhiallaahu 'anhu hingga masa Al-Hajjaj. Orang-orang berkata: “Beliau tinggal menetap dan mengajar Al-Qur’an selama 70 tahun –mudah-mudahan Allah merahmatinya dan menetapkan pahala baginya–. Amiin.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ismail Ibnu Abdillah Ibnu Umar berkata: “Barangsiapa membaca Al-Qur’an maka seakan-akan ia memasuk-kan tanda kenabian dalam dirinya, hanya saja Al-Qur’an tidak turun padanya. Dan barangsiapa yang membaca Al-Qur’an kemudian melihat seseorang yang dikaruniai ke-utamaan lebih darinya, maka ia telah meremehkan pemberian Allah padanya dan membesarkan apa yang diremehkan Allah.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ancaman Bagi Yang Meninggalkan Al-Qur’an Dan Berpaling Darinya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah sampai kepada kita sejumlah ayat yang menjelaskan ancaman terhadap orang yang berpaling dari Al-Qur’an, yang tidak mengambil manfaat darinya, juga keterangan mengenai siksaan yang pedih disebabkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;“Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat dari Tuhannya lalu dia berpaling daripadanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya?” (Al-Kahfi: 57)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Amin Asy-Syinqithi menjelaskan ayat ini dan yang semisalnya. Ia berkata: Allah menyebutkan ayat yang mulia ini dengan menjelaskan bahwa tidak seorang pun yang lebih berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri selain dari orang yang jika disebutkan/diingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya (Al-Qur’an) lalu berpaling. Dan yang disebutkan dalam ayat ini bahwa sebesar-besarnya perbuatan aniaya, disebutkan pula dalam ayat lain keterangan yang dihasilkan oleh perbuatan tercela ini ditambah dengan siksa yang pedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara akibat buruk mereka adalah orang tersebut ter-golong manusia yang paling berbuat aniaya, Allah menutup hatinya sehingga tidak mengetahui kebenaran dan tidak bisa memperoleh petunjuk selamanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka; dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.” (Al-Kahfi: 57)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antaranya juga siksaan Allah kepada orang yang berpaling dari peringatan sebagaimana firmanNya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemu-dian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.” (As-Sajdah: 22)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian keadaan orang yang berpaling itu seperti himar/keledai. Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;“Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)? Seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut.” (Al-Muddatsir: 49-50)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ancaman petir seperti petir yang ditimpakan kepada kaum ‘Aad dan Tsamud sebagaimana firmanNya:&lt;br /&gt;“Jika mereka berpaling maka katakanlah: ‘Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum `Aad dan kaum Tsamud’.” (Fushshilat: 13)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga kehidupan yang sempit dan kebutaan. Firman Allah: &lt;br /&gt;“Dan barangsiapa berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (Thaha: 124)&lt;br /&gt;“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan Tuhannya, niscaya akan dimasukkanNya ke dalam azab yang amat berat.” (Al-Jin: 17)&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al-Qur'an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (Az-Zukhruf: 36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan banyak akibat lain dari yang disebutkan di atas yang merupakan akibat jelek dan siksa yang pedih akibat ber-paling dari peringatan ayat-ayat Allah Subhaanahu wa Ta'ala .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada ayat yang lain Allah memerintahkan kita agar ber-paling dari orang yang berpikiran sempit tentang kehidupan dunia. Kemudian hal itu menguasai mereka dan menjadi pengetahuan mereka, tanpa memiliki pengetahuan lain yang memberi manfaat pada hari kematiannya. Sebagaimana firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi. Itulah sejauh-jauh pengeta-huan mereka.” (An-Najm: 29-30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhaanahu wa Ta'ala melarang ketaatan terhadap orang yang hatinya dikuasai hawa nafsunya hingga lalai dan lupa kepada Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Al-Kahfi: 28). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;“Berkatalah Rasul: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini suatu yang tidak diacuhkan’.” (Al-Furqan: 30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir mengatakan ketika menafsirkan ayat ini: “Hal itu karena orang-orang musyrik tidak menganggap Al-Qur’an sesuatu yang harus dihormati dan didengarkan. Allah Subhaanahu wa Ta'ala  berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan orang-orang yang kafir berkata: ‘Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al-Qur'an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu da-pat mengalahkan (mereka)’.” (Fushshilat: 26)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jika dibacakan kepada mereka Al-Qur’an mereka menyibukkan diri dengan bercakap-cakap dalam hal lain sehingga mereka tidak mendengarkannya. Inilah sikap acuh mereka, mereka meninggalkan Al-Qur’an, tidak mengamal-kannya, tidak mematuhi perintahnya, tidak menjauhi la-rangannya, menyimpang pada yang lainnya seperti syair, perkataan, nyanyian, permainan, dan hal-hal lain yang bisa menyibukkan mereka dari Al-Qur’an. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita memohon kepada Allah Yang Maha Pemurah dan Pemberi anugerah, Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu agar menjauhkan kita dari hal-hal yang dibencinya dan me-nunjukkan kita kepada hal-hal yang diridhaiNya; seperti menghafal kitabNya, memahami dan menegakkan hukum-hukumnya sepanjang siang dan malam sesuai dengan yang diinginkanNya. Sesungguhnya Dia Maha Mulia dan Maha Pemberi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim juga menjelaskan bahwa golongan yang berpaling, yang dimaksud ayat tersebut ada bermacam-macam tingkatan. Beliau berkata: Macam-macam bentuk berpaling dari Al-Qur’an adalah:&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Berpaling dari mendengarnya, mengimaninya, dan mem-perhatikannya. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berpaling dari amal dan berhenti dari hal-hal yang dihalalkan atau diharamkan walau mereka membacanya dan meyakininya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berpaling dari hukum-hukumnya baik dalam hal asas (aqidah) atau cabang agama dan beranggapan bahwa Al-Qur’an hanya perkataan yang tidak dapat dijadikan alasan (hujjah) dan tidak pula menambah ilmu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berpaling dari merenungkannya dan memahaminya serta mendalami hal-hal yang dikehendaki Allah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berpaling dari penyembuhan dengannya dari berbagai macam penyakit hati, namun meminta kesembuhan pe-nyakitnya dari selain Allah.&lt;br /&gt;Semua ini terkumpul dalam firman Allah:&lt;br /&gt;“Berkatalah Rasul: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini suatu yang tidak diacuhkan’.” (Al-Furqan: 30)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Sesungguhnya sebagian yang ditinggalkan dari hal-hal di atas lebih hina dari sebagian yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=300&amp;amp;parent_section=kj007&amp;amp;idjudul=1"&gt;Sumber :&amp;nbsp; http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=300&amp;amp;parent_section=kj007&amp;amp;idjudul=1 &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-8994379331608637718?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/8994379331608637718/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/membaca-dan-mengamalkan-al-quran.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/8994379331608637718'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/8994379331608637718'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/membaca-dan-mengamalkan-al-quran.html' title='Membaca Dan Mengamalkan Al-Qur’an'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-1088804687623457240</id><published>2011-11-26T06:23:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T06:28:57.735+07:00</updated><title type='text'>Keutamaan Al-Qur’an Sebagai Petunjuk Hidup</title><content type='html'>&lt;i&gt;Keutamaan Al-Qur’an Dari Yang Lain&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup sebagai bukti karena Al-Qur’an Al-Karim memiliki keutamaan dan kemuliaan ia merupakan firman Allah Yang Maha Mengetahui dan Bijaksana serta Maha Suci. DariNya segala sesuatu mulai dan kepadaNya pula segala sesuatu kembali. Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya.” (At-Taubah: 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.” (As-Syura: 52)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhaanahu wa Ta'ala telah memberi keutamaan Al-Qur’an atas kitab-kitab yang diturunkan kepada para nabi sebelumnya dan menguatkannya. Sebagaimana firmanNya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelum-nya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu.” (Al-Maidah: 48)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abbas Rahimahullaah berkata: “Al-Muhaimin maksudnya penjaga pembenar. Dan Al-Qur’an merupakan penjaga pembenar bagi semua kitab sebelumnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Juraij berkata: “Al-Qur’an penjaga kitab-kitab sebelumnya, maka yang sesuai dengannya itu merupakan kebenaran sedang yang menyelisihinya merupakan keba-tilan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu Abbas juga mengatakan bahwa muhaimin maksudnya adalah saksi dan memutuskan perkara-perkara yang belum diatur oleh kitab sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua perkataan di atas dinukil oleh Ibnu Katsir kemudian ia berkata: “Semua perkataan ini maknanya ham-pir sama, karena kata al-muhaimin mencakup semuanya yaitu terpercaya, saksi dan yang memutuskan perkara. Karena Allah menjadikan Al-Qur’an yang agung sebagai kitab yang terakhir diturunkan sekaligus penyempurna, mencakup semua isi kitab sebelumnya, paling agung dan sebagai pemutus perkara karena di dalamnya terkumpul segala kebaikan sebelumnya dan ditambah dengan kalimat-kalimat yang tidak ada di lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dari itulah Allah menjadikan saksi, kepercayaan dan pemutus perkara serta menjaganya sendiri kemudian berfirman: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Al-Hijr: 9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara keutamaan Al-Qur’an yang paling agung adalah karena merupakan mu’jizat terbesar yang diberikan kepada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam. Allah telah menentang orang-orang Arab bahkan semua manusia dan jin agar mendatangkan semisal Al-Qur’an dalam firmanNya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah: ‘Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur’an ini, nisca-ya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain’.” (Al-Isra’: 88)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Allah menantang mereka untuk mendatangkan 10 surat yang semisal Al-Qur’an dalam firmanNya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bahkan mereka mengatakan: ‘Muhammad telah mem-buat-buat Al-Qur'an itu’, Katakanlah: ‘(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar’.” (Hud: 13)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Allah menantang mereka untuk mendatangkan satu surat saja, seperti dalam firmanNya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Atau (patutkah) mereka mengatakan: ‘Muhammad membuat-buatnya’. Katakanlah: ‘(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar’.” (Yunus: 38)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah mengabarkan bahwasanya mereka tidak akan per-nah sanggup untuk mendatangkan semisal Al-Qur’an walau sedikit hingga kapan pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat-(nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat-(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (Al-Baqarah: 23-24)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh Al-Qur’an Al-Karim merupakan mu’jizat ter-agung yang dikaruniakan Allah kepada NabiNya di antara nabi-nabi, karena ia paling kuat pengaruhnya. Hal itu karena ia adalah mu’jizat yang kekal yang tidak terhenti dengan wafatnya Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Al-Bukhari meriwayatkan keutamaan Al-Qur’an dalam kitab Shahih-nya dari Abu Hurairah Radhiallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( مَا مِنَ اْلأَنْبِيَاءِ نَبِيٌّ إِلاَّ أُعْطِيَ مِنَ اْلآيَاتِ مَا مِثْلُهُ أُومِنَ أَوْ آمَنَ عَلَيْهِ الْبَشَرُ وَإِنَّمَا كَانَ الَّذِي أُوتِيتُ وَحْيًا أَوْحَاهُ اللَّـهُ إِلَيَّ فَأَرْجُو أَنِّي أَكْثَرُهُمْ تَابِعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Tidak seorang nabi pun yang diutus melainkan dikaruniakan padanya ayat-ayat yang sepadan dengan diimani oleh kaumnya. Sedangkan wahyu yang disampaikan Allah padaku, maka kuharap agar aku bisa menjadi yang terbanyak pengikutnya hingga hari Kiamat.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir menjelaskan hadits tersebut dengan mengatakan: “Dalam hadits ini terdapat keutamaan yang agung bagi Al-Qur’an atas segala mu’jizat yang dikaruniakan kepada para nabi dan seluruh kitab yang diturunkan Allah. Hal itu sebagaimana makna hadits:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak seorang nabi pun di antara para nabi melainkan Allah mengaruniakan padanya (dari mu’jizat) sebagai bukti bagi manusia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya hal itu sebagai dalil dan pembukti atas ajaran yang dibawanya agar diikuti oleh manusia, kemudian setelah para nabi meninggal (mu’jizat mereka hilang) kecuali yang diceritakan oleh para pengikut mereka yang melihat hal itu pada zamannya. Sedangkan penutup risalah dan para rasul Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa sallam keagungannya yang diberikan Allah adalah berupa wahyu yang sampai kepada kita secara berkesinam-bungan (mutawatir) setiap zaman tidak berobah sebagaimana diturunkan. Maka untuk ini beliau Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka kuharap agar aku menjadi nabi yang terbanyak pengikutnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu pengikut Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam paling banyak di antara pengikut-pengikut nabi lainnya karena keumuman risalahnya dan ketetapan syariatnya hingga hari Kiamat, serta mu’jizat-nya yang tidak terputus. Maka dari itu Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al-Qur’an) kepada hambaNya, agar dia menjadi pem-beri peringatan kepada seluruh alam.” (Al-Furqan: 1). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Petunjuk Al-Qur’an Mencakup Kebahagia-An Dunia Dan Akhirat&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah nash-nash yang termaktub dalam Al-Qur’an dan hadits Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam mengenai petunjuk Al-Qur’an yang mencakup kebahagiaan dunia dan akhirat adalah banyak sekali sehingga membutuhkan pembahasan tersendiri jika kita ingin untuk memperdalamnya. Tetapi karena tujuan disini adalah mengingatkan saja maka saya ringkas sebatas yang terpenting, insya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman sebagai pujian atas kitabNya yang mulia dan pemberi petunjuk bagi hamba-hambaNya untuk diperhatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Yunus: 57)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir v berkata: “Mauidzah maksudnya pencegah dari hal-hal yang keji. Wa syifaun lima fisshudur maksudnya dari syubhat (yang tidak jelas) dan syak (ragu-ragu) seperti menghapus kotoran dan najis.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (An-Nahl: 89)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Mas’ud berkata tentang maksud ayat ini bahwa Allah menjelaskan pada kita dalam Al-Qur’an segala ilmu dan segala sesuatu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mujahid berkata: “Setiap yang halal dan yang haram.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir setelah mengisahkan dua perkataan di atas menjelaskan bahwa perkataan Ibnu Mas’ud lebih umum dan mencakup segala ilmu yang bermanfaat pada zaman dahulu dan ilmu-ilmu yang belum terungkap. Al-Qur’an juga menegaskan setiap yang halal dan haram serta apa-apa yang dibutuhkan oleh manusia dalam perkara dunia, agama, kehidupan dan tempat mereka kembali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang mengikut petunjukKu, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (Thaha: 123)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abbas berkata: “Allah menjamin bagi yang membaca Al-Qur’an dan mengamalkan isinya, maka ia tidak akan sesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfiman:&lt;br /&gt;“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (Al-Baqarah: 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Sa’di berkata: “Al-Huda yaitu apa yang meng-hasilkan petunjuk dari kesesatan, dan keraguan kepada petunjuk ke jalan yang lurus, yang bermanfaat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah: “hudan” yang dibuang al-ma’mul (tanpa menyebutkan obyek) bukannya petunjuk untuk kemasla-hatan seseorang, tidak pula sesuatu yang bersifat khusus bagi seseorang, melainkan dengan lafazh umum, karena maksud-nya petunjuk bagi seluruh kemaslahatan dunia dan akhirat. Maka Al-Qur’an memberi petunjuk bagi para hamba dalam masalah-masalah agama yang pokok dan cabang. Juga penjelas antara kebenaran dengan kebatilan, yang shahih dengan yang lemah serta bagaimana menempuh jalan yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus.” (Al-Isra’: 9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Amin As-Syinqithi berkata: “Allah menyebutkan pada ayat yang mulia ini bahwa Al-Qur’an yang agung adalah paling mulianya kitab yang diturunkan dari langit dan paling mencakup semua ilmu serta paling akhir-nya waktu diturunkan oleh Penguasa alam semesta. –Memberi petunjuk yang lebih lurus– maksudnya jalan yang terbaik, teradil dan paling benar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini di dalamnya mencakup semua yang terdapat dalam Al-Qur’an dari petunjuk jalan yang terbaik, teradil, dan paling benar. Kalau kita menelusuri penjelasannya secara sempurna maka kita akan menyebutkan semua ayat Al-Qur’an, karena mengandung semua petunjuk kebaikan dunia dan akhirat; tetapi dengan izin Allah akan saya sebutkan petunjuk terbaik Al-Qur’an di berbagai bidang sebagai penjelas sebagian ayat peringatan dari berbagai masalah besar dan perkara-perkara yang diinkari oleh orang-orang yang melampaui batas dari orang-orang kafir yang mencari kesempatan untuk menyerang Islam, karena keterbatasan ke-mampuan mereka tentang hikmah Al-Qur’an yang agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Amin juga menyebutkan bahwa hidayah Al-Qur’an yang paling lurus pada perkara berikut: At-Tauhid, menjadikan thalaq dari sang suami, poligami, keutamaan laki-laki atas perempuan, pemilikan budak, pemotongan tangan pencuri, hukum rajam pada pezina yang telah menikah (selingkuh), kemajuan bisa diperoleh tanpa meninggalkan agama, selain agama yang dibawa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam maka ia jelas kekafirannya. Tali pengikat antar individu dalam masyarakat dan ajakan agar berpegang teguh pada ikatan tersebut itulah Dienul Islam. Kemudian beliau menyebutkan sumbu perbaikan hati ada tiga:&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt; Penolakan terhadap hal-hal yang jelas merusak prinsip agama.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengambil manfaat yang jelas sesuai kebutuhan menurut agama.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mempercepat penyempurnaan keindahan dengan pertumbuhan dengan akhlak yang mulia.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Dan setiap perbaikan diatas adalah petunjuk Al-Qur’an ke jalan yang lebih lurus. Barangsiapa mengambil petunjuk Al-Qur’an maka ia telah mengambil hidayah yang lurus untuk mengatasi masalah besar dalam dunia Islam dengan sebaik-baik jalan dan seadil-adilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkara terbesar yang dihadapi dunia Islam ada tiga:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Lemahnya kaum muslimin di seluruh penjuru dunia menghadapi orang kafir.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penguasaan orang-orang kafir pada umat Islam dengan membunuh dan lain-lain.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Perselisihan hati dikalangan kaum muslimin. Dan ini merupakan sebab terbesar dalam menegakkan eksistensi umat Islam, mengatasi kelemahan dan hilangnya kekuatan serta Daulah, sebagaimana firman Allah Subhaanahu wa Ta'ala :&lt;br /&gt;“Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu.” (Al-Anfal: 46)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Syaikh Amin menjelaskan bagaimana Al-Qur’an memberi petunjuk yang lurus dalam masalah-ma-salah itu semua dengan penjelasan bagai obat penyembuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petunjuk dan dorongan untuk mendapat hidayah Al-Qur’an juga datang dari hadits-hadits Rasululah Shallallaahu 'alaihi wa sallam. Di dalam Shahih Muslim dari Zaid Ibnu Arqam bahwasanya ia bercerita: “Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam berkhutbah di sisi kami dekat sumber air bernama Khumman antara Makkah dan Madinah. Beliau memuji Allah dan bersyukur kepadaNya kemudian memberi peringatan kemudian bersabda:&lt;br /&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( أَمَّا بَعْدُ، أَلاَ أَيُّهَا النَّاسُ فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ يُوشِكُ أَنْ يَأْتِيَ رَسُولُ رَبِّي فَأُجِيبَ وَأَنَا تَارِكٌ فِيكُمْ ثَقَلَيْنِ أَوَّلُهُمَا كِتَابُ اللَّـهِ فِيهِ الْهُدَى وَالنُّورُ فَخُذُوا بِكِتَابِ اللَّهِ وَاسْتَمْسِكُوا بِهِ فَحَثَّ عَلَى كِتَابِ اللَّـهِ وَرَغَّبَ فِيهِ ثُمَّ قَالَ وَأَهْلُ بَيْتِي ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Wahai manusia sesungguhnya aku manusia yang khawatir jika datang seorang Rasul Tuhanku, lantas aku me-menuhi panggilannya maka aku tinggalkan bagi kalian dua perkara yang berat; Pertama Kitabullah (Al-Qur’an) yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya maka berpegang teguhlah kalian dengannya.” Kemudian beliau memberikan dorongan agar timbul kecintaan dalam hati kami terhadap Kitabullah. Kemudian beliau bersabda: “Dan keluargaku.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( كِتَابُ اللَّهِ فِيهِ الْهُدَى وَالنُّورُ مَنِ اسْتَمْسَكَ بِهِ وَأَخَذَ بِهِ كَانَ عَلَى الْهُدَى وَمَنْ أَخْطَأَهُ ضَلَّ ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Kitabullah di dalamnya petunjuk dan cahaya. Barangsiapa berpegang teguh dengannya maka ia telah menda-patkan petunjuk dan barangsiapa yang menyelisihinya akan sesat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam riwayat Jabir Radhiallaahu 'anhu yang panjang ketika mensifati cara Nabi menunaikan ibadah haji bahwa beliau Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam khutbahnya di hari Arafah:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( وَإِنِّيْ قَدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ مَالَنْ تَضِلُّوْا بَعْدَهُ إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ كِتَابَ اللهِ … ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Aku telah meninggalkan pada kalian yang jika kalian berpegang teguh dengannya kalian tidak akan sesat selamanya… Kitabullah…” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu Mas’ud Radhiallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( ضَرَبَ اللَّـهُ مَثَلاً صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا وَعَلَى جَنْبَتَيِ الصِّرَاطِ سُورَانِ فِيهِمَا أَبْوَابٌ مُفَتَّحَةٌ وَعَلَى اْلأَبْوَابِ سُتُورٌ مُرْخَاةٌ وَعَلَى بَابِ الصِّرَاطِ دَاعٍ يَقُولُ أَيُّهَا النَّاسُ ادْخُلُوا الصِّرَاطَ جَمِيعًا وَلاَ تَتَفَرَّجُوا وَدَاعٍ يَدْعُو مِنْ جَوْفِ الصِّرَاطِ فَإِذَا أَرَادَ يَفْتَحُ شَيْئًا مِنْ تِلْكَ اْلأَبْوَابِ قَالَ وَيْحَكَ لاَ تَفْتَحْهُ فَإِنَّكَ إِنْ تَفْتَحْهُ ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Allah memberi perumpamaan jalan yang lurus kemudian pada kedua sisinya terdapat pagar serta pintu-pintu yang terbuka. Di depan pintu-pintu itu terdapat kain penghalang. Di penghujung jalan ada yang menyeru: ‘Berjalanlah dengan lurus dan jangan bengkok’. Semen-tara di atasnya terdapat penyeru yang menyeru ketika ada yang bermaksud membuka pintu dari pintu-pintu yang ada: ‘Celaka engkau! Jangan kau buka, jika kau buka maka engkau akan celaka’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Rasulullah menjelaskan hal itu dan mengabarkan bahwa jalan itu adalah Al-Islam sedang pintu yang terbuka adalah hal-hal yang dilarang Allah, sedang kain penghalang itu adalah ketentuan Allah, sedang penyeru di ujung jalan adalah Al-Qur’an dan penyeru di atasnya adalah penyeru Allah dalam hati setiap mukmin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abi Hurairah Radhiallaahu 'anhu berkata: “Segolongan sahabat Rasulullah menulis Taurat kemudian hal itu diutarakan kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam maka beliau bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( إِنَّ أَحْمَقَ الْحُمْقِ وَأَضَلَّ الضَّلاَلَةِ قَوْمٌ رَغِبُوْا عَمَّا جَاءَ بِهِ نَبِيُّهُمْ إِلَيْهِمْ إِلَى نَبِيِّ غَيْرِ نَبِيِّهِمْ وَإِلَى أُمَّةٍ غَيْرِ أُمَّتِهِمْ ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Sebodoh-bodohnya orang dan paling sesatnya kaum adalah mereka yang menolak apa yang dibawakan nabi mereka dan mengambil dari nabi terdahulu dan begitu pula umat –yang mengambil tradisi– selain umat mereka sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Allah menurunkan ayat:&lt;br /&gt;“Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur'an) sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al-Qur'an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.” (Al-Ankabut: 51). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya dalam nash-nash di atas baik dari Al-Qur’an maupun hadits, kaya akan penekanan terhadap keagungan Al-Qur’an dan hidayahnya yang lurus, untuk mengetahuinya tidak sebatas pada satu sudut pandang karena hal itu terbukti dalam kenyataan yang dirasakan dan disaksikan dengan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu dirasakan oleh orang yang dekat dan jauh, karena sesungguhnya ayat-ayat dan hadits-hadits di atas seluruhnya terbukti di antara dalam pemikir-pemikir Arab yang fasih dalam berbahasa dan meninggalkan kesan yang menakjubkan dalam hati mereka, sebagaimana terbukti dengan terangkatnya umat ini yang sebelumnya tidak tahu baca tulis di antara timbunan kebodohan dan kesesatan yang buta. Terangkatnya umat ini ke puncak kesempurnaan manusia setelah melalui perubahan dari umat yang tidak terkenal lagi lemah, menjadi umat yang berwibawa, mengatur negara, hingga mencapai wilayah di mana matahari tenggelam. Sehingga khalifah Abbasiyah Harun Ar-Rasyid berkata kepada awan dengan perkataannya yang terkenal:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Turunlah kau sesukamu, maka (dimana kau turun) niscaya akan datang pemberianmu (upeti darimu).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkataan yang memiliki makna yang dalam ini belum tercatat dalam sejarah semisalnya. Hal ini mengherankan musuh-musuh Islam hingga mereka mengumumkan ke-Islaman mereka karena kagum akan keagungannya disertai perasaan segan, sebagaimana persaksian mereka memberi peringatan kepada kaumnya serta berusaha sekuat tenaga untuk mengajak manusia dari Al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman mengenai orang-orang kafir Quraisy:&lt;br /&gt;“Dan orang-orang yang kafir berkata: ‘Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al-Qur’an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan (mereka)’.” (Fushshilat: 26)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir berkata: “Orang-orang kafir Quraisy saling berwasiat agar tidak mengikuti Al-Qur’an dan tidak mematuhi perintah-perintahnya (wal ghau fiihi), maksudnya dengan tepuk tangan, bersiul, ditambah dengan ucapan-ucapan yang menyudutkan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam ketika beliau membaca Al-Qur’an.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;“Dan di antara manusia (ada) orang yang memperguna-kan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan.” (Luqman: 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Mas’ud Radhiallaahu 'anhu menafsirkan lahwal hadits disini dengan nyanyian. Ibnu Jarir dengan sanadnya dari Abi Shaibah Al-Bakri bahwa ia mendengar Ibnu Mas’ud Radhiallaahu 'anhu ditanya tentang ayat ini, beliau menjawab: “Maksudnya adalah nyanyian, demi Allah yang tiada Tuhan selainnya”, beliau mengulang tiga kali.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab turunnya ayat di atas adalah Nadhar Ibnu Harits membeli penyanyi-penyanyi wanita. Maka tidak ada seorang pun menginginkan masuk Islam melainkan ia menyuruh salah seorang penyanyi wanitanya seraya berkata: Beri dia makan dan minum serta bernyanyilah untuknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musuh-musuh Islam dari kalangan salibisme lebih transparan dalam mengungkapkan kebencian mereka terhadap kalimat Tauhid. Ini menunjukkan kelemahan mereka di depan petunjuk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdana Mentri pertama Inggris Gladston berkata: “Sela-ma Al-Qur’an ini ada, Eropa tidak akan pernah bisa menguasai orang-orang timur dan keadaan mereka (Eropa) sendiri dalam bahaya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang misionaris Balcraf berkata: “Pada saat Al-Qur’an dan kota Makkah hilang dari negara Arab, maka akan memungkinkan kita untuk melihat perubahan orang-orang Arab menuju peradaban yang selama ini mereka dijauhkan darinya oleh Muhammad dan kitabnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada peringatan 100 tahunnya penjajahan Perancis di bumi Al-Jazair, pemimpin mereka berkata: “Kita wajib menghapus Al-Qur’an dan bahasa Arab dari sisi mereka. Dan merubah bahasa Arab dari lidah mereka sehingga kita bisa menguasai mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa tahun kemudian Perancis ingin memusnahkan Al-Qur’an dalam diri pemuda-pemuda Al-Jazair dengan percobaan yang diperaktekkan. Kemudian mereka mengambil 10 orang pemudi Al-Jazair yang dimasukkan dalam sekolah-sekolah di Perancis agar pulang membawa kebudayaan Perancis dan pemikirannya sehingga mereka seperti pemudi-pemudi Perancis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelas tahun kemudian setelah mereka berusaha dengan sekuat tenaga, mereka mengadakan pelepasan dengan pesta yang mewah dengan mengundang menteri-menteri, para pemikir dan wartawan. Ketika acara dimulai semuanya tercengang dengan para pemudi yang memakai pakaian muslimat Al-Jazair. Serentak mereka marah dan saling bertanya: “Apa yang diperbuat Perancis selama 128 tahun di Al-Jazair?” Maka Lockwast perdana menteri yang ditugaskan berkata: “Apa yang bisa diperbuat jika Al-Qur’an lebih kuat dari Perancis.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Para musuh melihat kelemahan mereka di hari peperangan,&lt;br /&gt;maka serigala dan singa tidak akan pernah berteman. &lt;br /&gt;Salah seorang mereka berkata: ‘Kalian tidak akan pernah menang,&lt;br /&gt;selama kaum itu mengetahui sejarah dan Al-Qur’an’.&lt;br /&gt;mereka mengetahui rahasia pengikat itu dan mendapatkan ilham,&lt;br /&gt;kesungguhan di medan perang merupakan mahar untuk mencapai cita-cita.”&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Sumber : &lt;i&gt;&lt;a href="http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=299&amp;amp;parent_section=kj007&amp;amp;idjudul=1"&gt;http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=299&amp;amp;parent_section=kj007&amp;amp;idjudul=1&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-1088804687623457240?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/1088804687623457240/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/keutamaan-al-quran-sebagai-petunjuk.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/1088804687623457240'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/1088804687623457240'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/keutamaan-al-quran-sebagai-petunjuk.html' title='Keutamaan Al-Qur’an Sebagai Petunjuk Hidup'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-7494906183002727548</id><published>2011-11-26T06:17:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T06:18:47.492+07:00</updated><title type='text'>Tersenyumlah</title><content type='html'>&lt;div class="judul"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Berdoalah&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="judul"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="judul"&gt;&lt;span class="kalender"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;Jika hidupmu dalam kegelapan.. &lt;br /&gt;Berdoalah karena hanya dengan berdoa hidupmu akan terang…&lt;br /&gt;Namun jika sudah berdoa suasana disekitarmu masih gelap…&lt;br /&gt;Berarti kamu belum bayar  LISTRIK…..&lt;br /&gt;&lt;div class="judul"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="judul"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;KELEDAINYA HILANG&lt;span class="kalender"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="judul"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Suatu hari hilang keledai Juha, lalu dia mulai memeriksanya lantas dia memuji Allah sebagai bentuk syukur kepada-Nya. Maka bertanyalah orang-orang kepadanya:&lt;i&gt;”Kenapa engkau bersyukur kepada Allah ya Juha (padahal keledaimu hilang).”&lt;/i&gt; Maka dia menjawab:&lt;i&gt;”Aku bersyukur karena saat itu aku tidak sedang menaiki keledaiku, seandainya saat itu aku menaiki keledaiku tentu akan hilang bersamanya.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-7494906183002727548?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/7494906183002727548/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/tersenyumlah_26.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/7494906183002727548'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/7494906183002727548'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/tersenyumlah_26.html' title='Tersenyumlah'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-4293042248483393881</id><published>2011-11-26T06:12:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T06:12:33.228+07:00</updated><title type='text'>Amalan-Amalan Pamungkas</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;b&gt;Mukaddimah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencapai kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat merupakan cita-cita setiap muslim tentunya, namun hal itu tidak bisa hanya sebatas cita-cita dan angan-angan. Harus ada aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari sehingga cita-cita itu benar-benar dapat teralisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu cara untuk merelisasikannya adalah dengan menjalankan amalan-amalan yang sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya, khususnya amalan-amalan pamungkas dan pilar utamanya. Nah, apakah amalan-amalan itu? Mari ikuti kajian berikut ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Naskah Hadits&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;عن مُعَاذِ بنِ جَبَلٍ قَالَ: «كُنْتُ مَعَ النبيّ صلى الله عليه وسلم في سَفَرٍ فَأَصْبَحْتُ يَوْماً قَرِيباً مِنْهُ وَنَحْنُ نَسِيرُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ الله أَخْبِرْنِي بِعَمَلٍ يُدْخِلُني الْجَنّةَ وَيُبَاعِدُنِي عنِ النّارِ, قَالَ: «لَقَدْ سَأَلْتَنِي عَنْ عَظِيمٍ وَإِنّهُ لَيَسِيرُ عَلَى مَنْ يَسّرَهُ الله عَلَيْهِ: تَعْبُدُ الله وَلاَ تُشْرِكْ بِهِ شَيْئَاً, وَتُقِيمُ الصّلاَةَ, وَتُؤْتِي الزّكَاةَ, وَتَصُومُ رَمَضَانَ, وَتَحُجّ الْبَيْتَ, ثُمّ قَالَ: أَلاَ أَدُلّكَ عَلَى أَبْوَابِ الخَيْرِ: الصّوْمُ جُنّةٌ, وَالصّدَقَةُ تُطْفِىءُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِىءُ المَاءُ النّارَ, وَصَلاَةُ الرّجُلِ مِنْ جَوفِ الّليْلِ, قَالَ: ثُمّ تَلاَ {تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ المَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبّهُمْ} حَتّى بَلَغَ {يَعْمَلُونَ} ثُمّ قَالَ: أَلاَ أُخْبِرُكَ بِرَأْسِ الأَمْرِ كُلّهِ وَعَمُودِهِ وَذِرْوَةِ سَنَامِهِ: قُلْتُ: بَلَى يَا رَسُولَ الله قَالَ: رَأْسُ الأَمْرِ الاْسْلاَمُ, وَعُمودُهُ الصّلاَةُ, وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الجِهَادُ. ثمّ قَالَ: أَلاَ أُخْبِرُكَ بِمِلاَكِ ذَلِكَ كُلّهِ, قُلْتُ: بَلَى يَا رَسُولَ الله, قَالَ: فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ, قَالَ: كُفّ عَلَيْكَ هَذَا. فَقُلْتُ: يَا نَبِيّ الله وَإِنّا لَمُؤَاخَذُونَ بمَا نَتَكَلّمُ بِهِ؟ فَقَالَ: ثَكِلَتْكَ أمّك يَا مُعَاذُ, وَهَلْ يَكُبّ النّاسَ في النّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ, أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ, إِلاَ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ». قال أبو عِيسَى: هَذا حديثٌ حسنٌ صحيحٌ.&lt;/div&gt;Dari Mu’adz bin Jabal RA, ia berkata, “Dalam suatu perjalanan, pernah aku bersama Rasululah SAW. Pada suatu hari saat sedang berjalan-jalan, aku mendekat kepadanya, lalu berkata, Wahai Rasulullah, informasikan kepadaku akan suatu amalan yang dapat menyebabkan aku masuk surga dan jauh dari neraka.” Beliau menjawab, &lt;i&gt; “Engkau telah menanyakan suatu perkara yang amat besar namun sebenarnya ringan bagi orang yang dimudahkan oleh Allah; hendaklah kamu menyembah Allah dan tidak berbuat syirik terhadap-Nya dengan sesuatu apapun, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadlan dan melakukan haji.”  Kemudian beliau bersabda lagi, “Maukah kamu aku tunjukkan pintu-pintu kebaikan; puasa merupakan penjaga (pelindung) dari api neraka, sedekah dapat memadamkan kesalahan (dosa kecil) sebagaimana air dapat memadamkan api, dan shalat seseorang di tengah malam seraya membaca ayat ‘Tatajaafa Junuubuhum ‘Anil Madlaaji’i yad’uuna rabbahum….&lt;/i&gt; [hingga firman-Nya]… &lt;i&gt;Ya’maluun.’ &lt;/i&gt;  (as-Sajdah:16)  Kemudian beliau juga mengatakan, &lt;i&gt; “Dan maukah kamu aku tunjukkan kepala (pangkal) semua perkara, tiang dan puncaknya.?” &lt;/i&gt;  Aku menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.!” Beliau bersabda, &lt;i&gt; “Kepala (Pangkal) dari semua perkara itu adalah Islam, tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah jihad.” &lt;/i&gt; Kemudian beliau bersabda lagi, &lt;i&gt; “Maukah kamu aku tunjukkan pilar dari semua hal itu.?” &lt;/i&gt; Aku menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.!” Lalu beliau memegang lisan (lidah) nya seraya berkata, &lt;i&gt; “Jagalah ini olehmu.” &lt;/i&gt; Lantas aku bertanya, “Wahai Nabiyyullah,  apakah kami akan disiksa atas apa yang kami bicarakan.?” Beliau bersabda, &lt;i&gt; “Celakalah engkau wahai Mu’adz! Tidakkah wajah dan leher manusia dijerembabkan ke dalam api neraka kecuali akibat apa yang diucapkan lidah-lidah mereka.?” &lt;/i&gt; (HR.at-Turmduzy, dia berkata, “&lt;b&gt;Hadits Hasan Shahih&lt;/b&gt;”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kosakata&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- &lt;i&gt;Hashaa`id Alsinatihim&lt;/i&gt;  : kejelekan dan kekejian yang dibicarakan oleh lidah-lidah mereka seperti syirik kepada Allah, ghibah, adu domba, dst’&lt;br /&gt;- &lt;i&gt;Tsaqilatka Ummuka (Celakalah Engkau) &lt;/i&gt; : secara zhahirnya, kalimat ini tampak seperti doa agar orang yang didoakan mati akan tetapi yang dimaksud sebenarnya bukan makna zhahirnya tersebut tetapi lebih kepada ucapan yang sudah terbiasa oleh lidah bangsa Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pesan-Pesan Hadits&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Hadits tersebut menunjukkan betapa perhatian para shahabat, di antaranya Mu’adz bin Jabal terhadap amal-amal shalih dan hal-hal yang dapat mendekatkan diri mereka kepada Allah. Mereka selalu memanfa’atkan keberadaan Rasulullah dengan baik untuk bertanya kepadanya, lalu kemudian mengaplikasikan jawaban beliau. Demikianlah seharusnya seorang Muslim, wajib menggunakan kesempatan dengan sebaik-baiknya, mencari hal-hal yang berguna dan menjadi kepentingannya serta dapat membuatnya masuk surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Hendaknya kemauan seorang Muslim itu begitu tinggi dengan memikirkan hal-hal besar yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah sehingga kemudian target utamanya adalah akhirat yang harus diupayakannya. Dengan begitu, ia akan sangat berhati-hati dan menghindar dari kemauan yang murahan dan sesaat. Makanya, Rasullah mengatakan kepada Mu’adz dalam hadits di atas, &lt;i&gt; “Engkau telah menanyakan suatu perkara yang amat besar.” &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tujuan akhir keinginan manusia di dalam kehidupan ini adalah ‘surga’, masuk ke dalamnya dan hal yang dapat menunjukkannya masuk ke sana. Karena itu, hendaklah ia mencari semua sarana yang dapat menyebabkannya masuk surga dan menjauhkannya dari neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Dien ini mencakup hal-hal wajib dan sunnah; hal-hal wajib (faraidl) wajib diamalkan Muslim, dijalankan secara konsisten dan tidak diterima dari siapa pun alasan tidak tahu mengenainya, sementara hal-hal sunnah, harus antusias dilakukannya selama mampu melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Atas karunia Allah Ta’ala, Dia menjadikan pintu-pintu kebaikan demikian banyaknya, sebagiannya dijelaskan dalam hadits ini, yaitu amalan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah, membuat sampai kepada kecintaan dan ridla-Nya. Di dalam hadits Qudsi, Dia berfirman, &lt;i&gt; “Dan tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari apa yang telah Aku wajibkan kepadanya dan senantiasalah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku melalui amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya.” &lt;/i&gt; (HR.Bukhari, 6137)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Puasa merupakan ibadah &lt;i&gt;Sirriyyah&lt;/i&gt; (yang bersifat rahasia) antara seorang hamba dan Rabbnya. Bila seorang Muslim memperbanyak puasa sunnah, maka hal itu dapat menjadi penjaga dan pelindung dirinya dari api neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Sedekah dapat memadamkan kesalahan (dosa kecil) sebagaimana air dapat memadamkan api. Ini merupakan pintu yang begitu agung sebab sedekah sunnah selalu terbuka sekali pun sedikit. Di dalam hadits yang lain disebutkan, &lt;i&gt; “Bertakwalah kamu walau pun dengan sekeping satu buah kurma.” &lt;/i&gt; (HR.Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Adalah sangat penting bila seorang Muslim bersungguh-sungguh di dalam melakukan shalat wajib namun terlebih lagi dengan melakukan shalat malam di mana keheningan malamnya, jauh dari kebisingan-kebisingan, bermunajat kepada sang Pencipta secara sendirian dan kehina-dinaannya di hadapan-Nya akan memberikannya kenikmatan iman yang spesial seperti halnya kondisi para shahabat ketika Allah berfirman mengenai mereka, &lt;i&gt; “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka.” &lt;/i&gt; (as-Sajdah:16) Dalam firman-Nya yang lain ketika memuji mereka, &lt;i&gt; “Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah).” &lt;/i&gt; (adz-Dzariat:17-18)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Rasulullah SAW kembali mengulang-ulang untuk menjelaskan urgensi amalan-amalan khusus di dalam agama ini, yaitu: &lt;br /&gt;a. Bahwa kepala (pangkal) semua urusan ini, di mana jasad tidak akan hidup tanpa kepala, adalah tauhid dan syahadat ‘Tiada tuhan –yang haq disembah- selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah.’ Tanpa tauhid seperti ini, tidak akan benar keislaman seseorang, tidak akan lurus kondisinya dan tidak akan selamat pada hari Kiamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Tiang, pilar dan pondasinya adalah mendirikan shalat sebab suatu bangunan tidak akan mungkin bisa tegak tanpa adanya tiang. Ia merupakan rukun-rukun ilmiah paling penting, yaitu jalinan antara seorang hamba dan Rabbnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Yang paling tinggi dan puncaknya di mana karenanya agama ini menjadi tinggi dan tersebar adalah jihad di jalan Allah. Dengan jihad, telaga Islam dan kehormatan kaum Muslimin akan terjaga, wibawa mereka akan menjadi bertambah, ‘izzah (rasa bangga keislaman) akan nampak dan para musuh dapat ditaklukkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.  Dalam penutup wasiatnya, Rasulullah SAW mengingatkan suatu perkara yang amat penting sekali namun selalu disepelekan oleh banyak orang, yang merupakan pintu besar bagi amal-amal baik dan buruk. Perkara ini adalah lisan (mulut) yang merupakan senjata tajam yang bila digunakan untuk kebaikan dan keta’aan, maka ia akan menjadi pintu besar menuju surga dan bila digunakan untuk kejahatan dan kemaksiatan, mak ia akan menjadi penggiring ke neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.  Seorang Muslim wajib menggunakan lisannya untuk hal-hal yang dapat mendekatkan diri kepada Allah seperti dzikir, membaca al-Qur’an, memberi nasehat, amar ma’ruf, menunjukkan kepada kebaikan, berdakwah kepada Allah, nahi munkar, menunjukkan jalan bagi orang yang tersesat dan sebagainya. Demikian pula, wajib baginya untuk menghindari penggunaannya pada hal-hal yang dapat menyebabkannya masuk neraka seperti syirik kepada Allah, berdusta, bicara atas nama Allah tanpa ilmu, ghibah, namimah (adu domba) dan persaksian palsu. Lidah yang seperti ini akan menyeret pemiliknya ke dalam neraka, &lt;i&gt;na’uudzu billaahi min dzaalik&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(SUMBER; &lt;i&gt;Silsilah Manaahij Dawraat al-‘Uluum asy-Syar’iyyah- al-Hadiits-Fi`ah an-Naasyi`ah&lt;/i&gt; karya Prof Dr Falih bin Muhammad ash-Shaghir, et.ali, h.143-147)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-4293042248483393881?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/4293042248483393881/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/amalan-amalan-pamungkas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/4293042248483393881'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/4293042248483393881'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/amalan-amalan-pamungkas.html' title='Amalan-Amalan Pamungkas'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-5610975034571320835</id><published>2011-11-26T06:03:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T06:03:50.697+07:00</updated><title type='text'>Aku Akan Menuju Surga</title><content type='html'>&lt;div class="dd_content_wrap"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;span class="postedby"&gt;Oleh: &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/author/aidil/" title="Profil dari Aidil Heryana, S.Sosi"&gt;Aidil Heryana, S.Sosi&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr align="left" color="#EEEEEE" noshade="noshade" size="1px" /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2006/12/27/aku-akan-menuju-surga/email/" rel="nofollow" title="Kirim"&gt;&lt;img alt="Kirim" class="WP-EmailIcon" src="http://www.dakwatuna.com/wp-content/plugins/wp-email/images/email_famfamfam.png" style="border: 0px;" title="Kirim" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2006/12/27/aku-akan-menuju-surga/print/" rel="nofollow" title="Print"&gt;&lt;img alt="Print" class="WP-PrintIcon" src="http://www.dakwatuna.com/wp-content/plugins/wp-print/images/printer_famfamfam.gif" style="border: 0px;" title="Print" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;dakwatuna.com – &lt;/b&gt;Duduknya gelisah! Sesekali wajahnya di arahkan ke langit! Beberapa hari belakangan ini pemuda dari kabilah Aslam itu selalu termenung sendirian. Agaknya dia sedang sibuk memikirkan sesuatu yang membebani hatinya. Pemuda dengan tubuh atletis, kuat, gagah, dan penuh enerjik itu belum dapat jawaban tentang pertanyaan yang selalu menggelayuti pikirannya. Tentang satu keinginan yang tidak lumrah di usianya yang terbilang masih belia. Keinginannya untuk hadir di barisan para mujahid fi sabilillah. Hanya itu! Ya…hanya itu. Di kepalanya hanya tersembul satu pertanyaan,”Adakah jalan yang lebih afdhal dan lebih mulia dari jihad fisabilillah?” Rasa-rasanya tak ada. Sebab itulah satu-satunya jalan jika memang benar-benar telah menjadi tujuan dan niat suci untuk mencari restu dan ridha Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Demi Allah, inilah satu kesempatan yang sangat baik”, kata hati pemuda itu. Ya….sebab di sana, serombongan kaum muslimin sedang bersiap menuju medan jihad fisabilillah. Sebagian sudah berangkat, sebagian lagi baru datang, dan akan segera berangkat. Semuanya menampakkan wajah senang, pasrah, dan tenang dengan satu iman yang mendalam. Wajah-wajah mereka membayangkan suatu keyakinan penuh, bahwa sebelum ajal datang, berpantang mati.  Maut akan datang dimanapun kita berada, yakin bahwa umur itu satu. Kapankah sampai batasnya? Hanya Allah yang Maha Tahu. Bagaimana sebab dan kejadiannya? Takdir Allahlah yang menentukan. Maut, adalah sesuatu yang tak dapat dihindari. Dia pasti datang menjemput manusia. Entah di saat sedang duduk, diam di rumah, atau mungkin ketika dalam perlindungan benteng yang kokoh, mungkin pula sedang bersembunyi di suatu tempat, di gua yang gelap, di jalan raya yang ramai, atau di medan peperangan.  Bahkan bukan mustahil maut akan menjemput kala manusia sedang tidur, di atas tempat tidurnya. Semua itu hanya Allah yang berkuasa, dan berkehendak atasnya. Menunggu kedatangan maut memang masa-masa yang paling mendebarkan jiwa. Betapa tidak? Hanya sendiri ini yang dapat dibawa menghadap Penguasa yang Esa kelak. Medan juang fisabillah tersedia bagi mereka yang kuat. Penuh keberanian dan keikhlasan mencari ridho Allah semata. Mereka yang berjiwa suci di tengah-tengah tubuh yang perkasa. Angan-angan ikhlas yang disertai hati yang bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, saat itu keberanian telah menjiwai setiap kalbu kaum muslimin. Panggilan dan dengungan untuk jihad fisabilillah merupakan harapan dan tujuan mereka.  Mereka yakin di balik hiruk-pikuknya peperangan, Allah telah menjanjikan imbalan yang setimpal. Selain dengan itu dia dapat membersihkan jiwanya dari berbagai noda. Baik noda-noda aqidah, niat-niat jahat, perbuatan ataupun kekotoran muamalah yang lain. Pengorbanan mereka di medan jihad menunjukkan keluhuran budi. Semua sesuai dengan seruan Allah ’mukhlishiina lahudiini’ hanya untuk Allah semata. Pantas menjadi contoh dan teladan, bahkan sebagai mercusuar yang menerangi dunia dan isi alam semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah renungan hati pemuda Aslam yang gagah itu. Sepenuh hati dia berkata seolah kepada diri sendiri. “Harus! Harus dan mesti aku berbuat sesuatu. Janganlah kemiskinan dan kefakiran ini menjadi hambatan dan penghalang mencapai tujuanku.” Mantap, penuh keyakinan dan semangat yang tinggi pemuda tersebut menggabungkan diri dengan pasukan kaum muslimin.  Usia pemuda itu relatif masih muda, namun cara berfikir dan jiwanya cukup matang, kemauanya keras, ketangkasan dan kelincahan menjadi jaminan kegesitannya di medan juang. Namun mengapa pemuda yang begitu bersemangat itu tak dapat ikut serta dalam barisan pejuang?  Sebabnya hanya satu. Dia tidak mempunyai bekal dan apapun yang dapat dipakainya berperang karena kemiskinan dan kefakirannya. Sebab pikirnya, tidak mungkin terjun ke medan jihad tanpa berbekal apapun. Tanpa senjata dia tidak mampu melakukan apapun. Bahkan dia tidak akan bisa berbuat apa-apa. Jangankan berperang, untuk menyelamatkan diri saja, tidak mampu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah daftar pertanyaan panjang yang selalu menjadikan pemuda itu tak henti berpikir. Otaknya selalu disibukkan dengan satu lintasan, satu pertanyaan, bagaimana saya dapat berlaga di medan jihad? Setelah tidak juga dicapainya pemecahan, dia pergi menghadap Rasulullah saw. Diceritakan semua keadaan dan penderitaan serta keinginannya yang besar.  Dia memang miskin, fakir dan menderita, namun dia tidak mengangankan apapun dari keikutsertaannya di medan perjuangan. Dikatakannya kepada Rasulullah saw, bahwa dia tidak meminta berbagai pendekatan duniawi kepada Rasulullah. Dia hanya menginginkan bagaimana caranya agar dia dapat masuk barisan pejuang fisabilillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar hal demikian, Rasulullah bertanya, setelah dengan cermat meneliti dan memandang pemuda tersebut: “Hai pemuda, sebenarnya apa yang engkau katakan itu dan apa pula yang engkau harapkan?” “Saya ingin berjuang, ya Rasulullah!” Jawab pemuda itu. “Lalu apa yang menghalangimu untuk melakukan itu”, Tanya Rasulullah saw kemudian. “Saya tidak mempunyai perbekalan apapun untuk persiapan perjuangan itu ya Rasulullah”, Jawab pemuda tersebut terus terang.  Alangkah tercengangnya Rasulullah mendengar jawaban itu. Cermat diawasinya wajah pemuda tersebut. Wajah yang berseri-seri, tanpa ragu dan penuh keberanian menghadap maut, sementara di sana banyak kaum munafiqin yang hatinya takut dan gentar apabila mendengar panggilan untuk berjihad fisabilillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi Allah! Jauh benar perbedaan pemuda itu dengan para munafiqin di sana. Kaum munafiqin yang dihinggapi rasa rendah diri, selalu mementingkan diri-sendiri. Mereka tidak suka dan tidak mau memikul beban dan tanggung jawab demi kebenaran yang hakiki. Kaum yang tidak senang hidup dalam alam kedamaian dan ketentraman dalam ajaran agama yang benar. Mereka lebih suka berada dalam hidup dan suasana kegelapan dan kekalutan. Ibarat kuman-kuman kotor, yang hidupnya hanya untuk mengacau dan menghancurkan apa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celakalah mereka yang besar dan berbadan tegap namun licik dan kerdil pikiran serta hatinya. Kebanggaanlah bagimu hai pemuda! Semoga Allah banyak menciptakan manusia-manusia sepertimu. Yang dapat menjadi generasi penerusmu. Yang akan menjunjung tinggi izzul Islam wal muslimin, dengan akhlak yang mulia menuju li’illai kalimatillah. Benar, kaum muslimin sangat mendambakan para jiwa yang demikian. Jiwa yang besar penuh keyakinan, dan juga keberanian yang mantap. Sepantasnyalah pemuda seperti dari kabilah Aslam itu mendapat segala keperluan serta keinginanya untuk melaksanakan hasratnya ke medan jihad.  Rasulullah saw akhirnya berkata kepada pemuda p tersebut: “Pergilah engkau kepada si Fulan! Dia yang sebenarnya sudah siap lengkap dengan peralatan perang tapi tidak jadi berangkat karena sakit. Nah pergilah kepadanya dan mintalah perlengkapan yang ada padanya.”  Pemuda itu pun bergegas menemui orang yang ditunjukkan Rasulullah saw tadi. Katanya kepada si Fulan: “Rasulullah saw menyampaikan salam padamu dan juga pesan. Beliau berpesan agar perlengkapan perang yang engkau miliki yang tidak jadi engkau pakai pergi berperang agar diserahkan kepadaku.”  Orang yang tidak jadi berperang itu dengan penuh hormat merespon perintah Rasulullah saw sambil mengucapkan: “Selamat datang wahai utusan Rasulullah! Saya hormati dan taati segala perintah Rasulullah saw.” Segera dia menyuruh istrinya untuk mengambil pakaian dan peralatan perang yang tidak jadi dipakainya. Diserahkan semuanya pada pemuda kabilah Aslam tadi.  Sambil mengucapkan terima kasih pemuda tersebut menerima perlengkapan itu. Sebelum dia berangkat dan meninggalkan rumah itu, pemuda tersebut sempat berucap: “Terima kasih yang sebesar-besarnya. Anda telah menghilangkan seluruh duka dan keputusasaanku. Bagimu pahala yang besar dari Allah yang tiada tara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih………Terima kasih.” Pemuda suku Aslam itu kemudian keluar dengan riang.  Raut wajahnya menyiratkan kegembiraan yang luar biasa. Dengan berlari-lari dia meningalkan rumah orang tersebut.&lt;br /&gt;Di tengah jalan pemuda tersebut bertemu dengan salah seorang temannya yang terheran-heran dengan ekspresi kegembiraan pemuda tadi. Kemudian temannya bertanya: “Hai, hendak kemana kau?”, “Aku akan menuju jannatil firdaus yang seluas langit dan bumi”, Jawab pemuda itu singkat, mantap penuh keyakinan. []&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: medium none; color: black; overflow: hidden; text-align: left; text-decoration: none;"&gt;&lt;br /&gt;Sumber:  &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2006/12/27/aku-akan-menuju-surga/#ixzz1elEWetjr" style="color: #003399;"&gt;http://www.dakwatuna.com/2006/12/27/aku-akan-menuju-surga/#ixzz1elEWetjr&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-5610975034571320835?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/5610975034571320835/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/aku-akan-menuju-surga.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/5610975034571320835'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/5610975034571320835'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/aku-akan-menuju-surga.html' title='Aku Akan Menuju Surga'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-5455697371862975354</id><published>2011-11-26T05:59:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T06:01:37.098+07:00</updated><title type='text'>Jangan Buru-Buru Memvonis</title><content type='html'>&lt;div class="dd_content_wrap"&gt;&lt;div class="wp-caption alignright" id="attachment_13067" style="width: 260px;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="wp-caption alignright" id="attachment_13067" style="width: 260px;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="wp-caption alignright" id="attachment_13067" style="width: 260px;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="wp-caption alignright" id="attachment_13067" style="width: 260px;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="wp-caption alignright" id="attachment_13067" style="width: 260px;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="wp-caption alignright" id="attachment_13067" style="width: 260px;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="wp-caption alignright" id="attachment_13067" style="width: 260px;"&gt;&lt;a href="http://www.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2011/07/palu-hakim.jpg?c13ed3" rel="shadowbox[sbpost-13076];player=img;" title="palu-hakim"&gt;&lt;span class="postedby"&gt;Oleh: &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.dakwatuna.com/author/musyaffa/" title="Profil dari Musyafa Ahmad Rahim, Lc"&gt;Musyafa Ahmad Rahim, Lc&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;hr align="left" color="#EEEEEE" noshade="noshade" size="1px" /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2011/07/13076/jangan-buru-buru-memvonis/email/" rel="nofollow" title="Kirim"&gt;&lt;img alt="Kirim" class="WP-EmailIcon" src="http://www.dakwatuna.com/wp-content/plugins/wp-email/images/email_famfamfam.png" style="border: 0px;" title="Kirim" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2011/07/13076/jangan-buru-buru-memvonis/print/" rel="nofollow" title="Print"&gt;&lt;img alt="Print" class="WP-PrintIcon" src="http://www.dakwatuna.com/wp-content/plugins/wp-print/images/printer_famfamfam.gif" style="border: 0px;" title="Print" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://www.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2011/07/palu-hakim.jpg?c13ed3" rel="shadowbox[sbpost-13076];player=img;" title="palu-hakim"&gt;&lt;img alt="" class="size-medium wp-image-13067" height="205" src="http://www.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2011/07/palu-hakim-250x205.jpg" title="palu-hakim" width="250" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="wp-caption-text"&gt;Ilustrasi (inet)&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;dakwatuna.com – &lt;/b&gt;Ada sebuah kisah, kejadiannya di sebuah Sekolah Menengah.&amp;nbsp;Seorang guru baru datang untuk mengajar di sebuah Sekolah Menengah.&amp;nbsp;Ada maksud baik dari sang guru, yaitu, sedikit demi sedikit, ia ingin mengenal muridnya satu persatu. Bahkan kalau perlu mengenal lingkungan dekat setiap murid.&lt;br /&gt;Sudah beberapa bulan, nyaris tidak ada masalah terjadi antara dia dan murid-muridnya.&amp;nbsp;Namun, suatu hari, selagi pikirannya sedang agak kusut, ia datang ke kelas. Hari itu, dia menargetkan ingin mengenal lebih jauh tentang lingkungan dan orang-orang di sekeliling setiap muridnya.&lt;br /&gt;“Apa pekerjaan orang tuamu – wahai fulan – ?”&lt;br /&gt;“Pedagang”, jawab yang ditanya.&lt;br /&gt;“Apa pula pekerjaan orang tuamu wahai fulan?”, tanya sang guru kepada murid lainnya.&lt;br /&gt;“Dokter”, jawab sang murid yang ditanya.&lt;br /&gt;Begitu seterusnya, satu persatu murid ditanya, dan selalu mendapatkan jawaban.&lt;br /&gt;Sampai akhirnya, tibalah giliran seorang murid terakhir yang ditanya: “Apa pekerjaan orang tuamu?”.&lt;br /&gt;Sang murid yang ditanya diam saja.&lt;br /&gt;“Apa pekerjaan orang tuamu” ulang sang guru dalam bertanya.&lt;br /&gt;Yang ditanya masih diam.&lt;br /&gt;Dengan nada membentak, sang guru bertanya lagi: “Apa pekerjaan orang tuamu?”.&lt;br /&gt;Sang murid yang ditanya masih terdiam.&lt;br /&gt;“Apa kamu tuli, apa pekerjaan orang tuamu?”.&lt;br /&gt;Akhirnya sang murid yang ditanya mendongakkan kepalanya, seraya menjawab: “Aku tidak tuli pak guru, orang tuaku dalam keadaan tidur di dalam kuburannya!!!”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ibrah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Terkadang, kita terburu-buru memvonis dan melukai perasaan orang yang ada di hadapan kita.&amp;nbsp;Namun, hendaklah kita ingat!&amp;nbsp;Ada empat (4) perkara yang kalau sudah terjadi tidak bisa diperbaiki, yaitu:&lt;br /&gt;1. Tidak mungkin kita menarik kembali batu yang kita jatuhkan atau terjatuh, atau terlempar.&lt;br /&gt;2. Tidak mungkin kita menarik kembali kosa kata atau kalimat yang telah kita ucapkan.&lt;br /&gt;3. Tidak mungkin kita menarik kembali peluang yang telah berlalu dan hilang, dan&lt;br /&gt;4. Tidak mungkin kita mengambil kembali waktu, umur dan masa muda yang telah berlalu&lt;br /&gt;Oleh karena itu, kenalilah dan ketahuilah dengan baik bagaimana kita harus bertindak dalam empat hal ini:&lt;br /&gt;- Jangan sia-siakan peluang baik yang ada di hadapanmu, dan&lt;br /&gt;- Jangan terburu-buru memvonis terhadap orang lain&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: medium none; color: black; overflow: hidden; text-align: left; text-decoration: none;"&gt;&lt;br /&gt;Sumber:  &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2011/07/13076/jangan-buru-buru-memvonis/#ixzz1elEpr6vN" style="color: #003399;"&gt;http://www.dakwatuna.com/2011/07/13076/jangan-buru-buru-memvonis/#ixzz1elEpr6vN&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-5455697371862975354?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/5455697371862975354/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/jangan-buru-buru-memvonis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/5455697371862975354'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/5455697371862975354'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/jangan-buru-buru-memvonis.html' title='Jangan Buru-Buru Memvonis'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-23456287052952349</id><published>2011-11-26T05:55:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T05:57:19.318+07:00</updated><title type='text'>Perjuangkan Obsesimu Sampai Akhir Hayat</title><content type='html'>&lt;div class="dd_content_wrap"&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://www.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2009/12/obsesi-doa.jpg?c13ed3" rel="shadowbox[sbpost-5209];player=img;" title="obsesi-doa"&gt;&lt;img alt="" class="size-full wp-image-5210 alignright" height="178" src="http://www.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2009/12/obsesi-doa.jpg" style="float: right; margin: 5px;" title="obsesi-doa" width="250" /&gt;&lt;/a&gt;dakwatuna.com – &lt;/b&gt;&lt;i&gt;Subhanallah, &lt;/i&gt;cita-cita dan obsesi yang sangat besar dan sulit, namun dengan kesungguhan yang beliau miliki, cita-cita itu, satu demi satu bisa beliau raih. Obsesi sukses di dunia, tapi yang lebih penting adalah sukses di akhirat. Apalah arti sukses di dunia, tapi di akhirat sengsara berkepanjangan.&lt;br /&gt;&lt;div dir="rtl" style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;الحمد لله العزيز الغفار، العلي الجبار، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وعد التائبين بالسعادة بالجنة والسلامة من النار، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله المبعوث لإنقاذ البشرية من الشقاء في الدنيا وفي دار القرار. &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;اللهم صل وسلم وبارك وأنعم على&amp;nbsp; سيد المستغفرين بالأسحار، وعلى آله وأصحابه الأخيار وعلى التابعين لهم بإحسان ما بقي الليل والنهار. أما بعد: &lt;/b&gt;&lt;b&gt;فاتقوا الله ـ عباد الله ـ حق التقوى&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Ma’asyiral Muslimin, Rahimakumullah&lt;/i&gt;,&lt;br /&gt;&amp;nbsp;Momentum pergantian tahun, apakah tahun baru hijriyah atau tahun baru masehi di mata orang mukmin memiliki arti yang sangat mendalam. Pergantian waktu itu tidak lah terjadi begitu saja. Pergantian waktu menjadi bagian tanda-tanda kekuasaan Allah swt., sekaligus menjadi &lt;i&gt;tadzkirah&lt;/i&gt;, pengingat bagi manusia bahwa setiap makhluk yang berada di muka bumi, pasti akan berlalu, berlalu sebagaimana waktu pasti terus berganti. Allah swt. berfirman:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Maha Berkah Dzat yang di Tangan-Nyalah kerajaan. Dan Dia Dzat yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yaitu, Dzat yang menciptakan kematian dan kehidupan, agar Dia menguji kalian, mana di antara kalian yang paling baik amalnya.”&lt;/i&gt; Al-Mulk:1-2.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;i&gt;“Kafaa bilmauti waidza. Cukuplah kematian itu sebagai pengingat –bagi yang masih hidup-.” &lt;/i&gt;Begitu taujih Rasulullah saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Ma’asyiral Muslimin, Rahimakumullah&lt;/i&gt;,&lt;br /&gt;Di akhir tahun 2009 ini, bangsa Indonesia kehilangan mantan Presiden RI ke Empat, KH. Abdur Rahman Wahid –semoga Allah swt. menerima amal kebaikannya dan mengampuni segala kekhilafan nya-. Banyak yang kaget, shock, terutama keluarganya. Namun yang namanya kematian, kalau sudah waktunya, ia tidak bisa ditangguhkan, juga tidak bisa diminta dimajukan sedetik pun. &lt;i&gt;Innaa lillahi wainnaa ilaihi raaji’un.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Pun, umat-umat terdahulu yang umurnya ratusan bahkan ribuan tahun, semua tinggal kenangan. Mereka hanya meninggalkan sejarahnya, sejarah gemilang atau sebaliknya, sejarah kelam. Seorang penyair bersenandung:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Innamaa antum ayyam&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Idzaa madzaa minka yaumun&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Madza ba’dhah&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Kalian adalah rangkaian dari hari-hari&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Jika satu hari telah lewat&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Berlalulah sebagiannya&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah swt. berfirman: &lt;i&gt;“Dan setiap yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya.”&lt;/i&gt; Ali imran:134&lt;br /&gt;Pergantian tahun adalah juga bermakna berkurangnya umur dunia ini. Berarti hari kiamat kian dekat satu tahun dibanding tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Setiap orang yang berada di atas bumi pasti akan hancur. Dan Wajah Tuhanmu selamanya Kekal, Dzat yang Maha Tinggi lagi Mulia.” &lt;/i&gt;Ar-Rahman: 26-27&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Jangan sampai kematian merenggut jiwa kita, sedangkan kita belum siap menghadapinya, sebab ketidaksiapan menjemput maut akan mendatangkan penyesalan berkepanjangan.&lt;br /&gt;“&lt;i&gt;Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan: ‘Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.&lt;/i&gt;” Al-Fajr: 23-24&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Ma’asyiral Muslimin, Rahimakumullah,&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Jika kematian terus mengintai setiap yang masih hidup, Lalu apa yang perlu kita persiapkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Pertama,&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt; segera beristighfar, bertoba dan perbaiki diri. &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Menyesali segala alpa dan khilaf yang selama ini memperdaya dan menjerumuskan pada kemaksiatan. Kita sadar bahwa setiap manusia pasti pernah salah,&amp;nbsp; karena &lt;i&gt;“Summiyal insanu insanan linis-yatihi, manusia dikatakan insan, karena sering lupa dan khilafnya.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw. memberi contoh akan kesadaran beristighfar, walau beliau tidak pernah salah, beliau setiap hari beristighfar tujuh puluh sampai seratus kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits Qudsi, Allah swt. berfirman, Rasulullah saw. bersabda: &lt;i&gt;“Wahai anak Adam, selagi kamu berdoa dan mengharap (ampunan) kepada-Ku, Aku ampuni kesalahan sebesar apapun kesalahan itu, dan Aku tidak peduli kan itu. Wahai anak Adam, andai dosamu seluas langit, lalu kamu beristighfar meminta ampun kepada-Ku, Aku ampuni semuanya, Aku tidak peduli kan itu. Wahai anak Adam, jika kamu datang kepada-Ku dengan membawa kesalahan s- hamparan bumi, kemudian kamu meninggal tidak menyekutukan Aku dengan apa pun, Sungguh Aku akan mencurahkan ampunan seluas hamparan bumi tersebut.”&lt;/i&gt; At-Tirmizi, dihasankan Imam Al-Albani.&lt;br /&gt;“&lt;i&gt;Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui&lt;/i&gt;”. (Ali Imran: 135)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Kedua,&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt; luruskan niat, tegaskan tujuan hidup&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Seorang muslim tidak boleh larut dalam putus asa dari rahmat Allah. Tidak boleh bersedih meratapi musibah yang menimpanya. Ia harus bangkit kembali, dengan menegaskan tujuan hidup dan meluruskan niat. Sebab, seseorang yang sudah bertobat, berarti ia telah kembali bersih, laksana baru lahir. &lt;i&gt;“Tobat menghapus kesalahan yang telah lalu.” &lt;/i&gt;Imam Bukhari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Hidup adalah untuk ibadah. Waktu adalah pahala, bukan sekedar materi. Allah swt. berfirman: &lt;i&gt;“Wahai manusia, beribadahlah kepada Tuhan kalian, Dzat yang telah Menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian. Agar kalian bertaqwa.”&lt;/i&gt; Al-Baqarah:21&lt;br /&gt;Kembali kita segarkan kompas hidup kita. Kembali kita mantapkan arah tujuan keberadaan kita di muka bumi ini. Yaitu ikrar, &lt;i&gt;“Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadah sunnahku, hidup dan matiku, hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam.”&lt;/i&gt; Al-An’am:162&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Ketiga,&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt; canangkan dan wujudkan obsesi hidup&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Umar bin Abdul Aziz mencontohkan kepada kita, untuk memiliki obsesi dan cita-cita besar. Suatu ketika ia menegaskan: &lt;i&gt;“Inna lii nafsan thawwaqah. Sungguh saya memiliki obsesi yang sangat besar. Atamanna an akuna amiran limadinatir Rasul. Sungguh saya bermimpi menjadi gubenur Madinah, tempat mercusuar keilmuan dan peradaban, saya siapkan diri untuk itu, dan karenanya saya mewujudkannya. Isytaqqattu an atazawwaja Fatimah binti Abdul Malik Khalifatal muslimin. Saya bermimpi suatu saat bisa mempersunting Fatimah putri Khalifah Abdul Malik, saya berjuang untuk itu dan karenanya saya mendapatkannya. Saya berharap menjadi hafizhul Qur’an, dan saya membuktikannya. Saya bercita-cita menjadi khalifah umat muslim dunia, saya pun meraihnya. Dan saya pun berharap agar Allah swt. memasukkan diriku di dalam jannah-Nya.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Subhanallah, &lt;/i&gt;cita-cita dan obsesi yang sangat besar dan sulit, namun dengan kesungguhan yang beliau miliki, cita-cita itu, satu demi satu bisa beliau raih. Obsesi sukses di dunia, tapi yang lebih penting adalah sukses di akhirat. Apalah arti sukses di dunia, tapi di akhirat sengsara berkepanjangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Ma’asyiral Muslimin, Rahimakumullah&lt;/i&gt;,&lt;br /&gt;Di momentum pergantian tahun ini, kita canangkan obsesi hidup kita, baik secara personal maupun secara komunal. Secara personal, obsesi setiap manusia beda-beda, sesuai kebutuhan masing-masing. Obsesi untuk merubah status hidup menjadi berumah tangga, misalkan. Menguatkan kembali hubungan keluarga. Berprestasi di tempat kerja atau di tengah-tengah masyarakat, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun obsesi secara komunal, apalagi sebagai pemimpin. Obsesi untuk memberantas tindak pidana korupsi. Cita-cita mewujudkan pemerintahan dan instansi yang good government dan clean government dan seterusnya. Obsesi itu, tidak sekadar live servis semata, namun kesungguhan yang sebenarnya, karena kebenaran obsesi itulah yang akan mewujudkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;“&lt;i&gt;Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik&lt;/i&gt;.” (Al-Hadid: 16)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saatnya kita gunakan sisa umur kita untuk mewujudkan obsesi tertinggi kita, &lt;i&gt;“fiddunya hasanah wafilakhirati hasanah. Yaa Allah kami memohon ridha dan surga-Mu. Yaa Allah kami berlindung diri dari murka dan neraka-Mu.”&lt;/i&gt; Amin&lt;br /&gt;&lt;div dir="rtl"&gt;&lt;b&gt;بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم، ونفعني وإياكم من الآيات والذكر الحكيم، وتقبل مني ومنكم تلاوته إنه هو السميع العليم؛ واستغفروا الله إنه هو الغفور الرحيم.&lt;/b&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: medium none; color: black; overflow: hidden; text-align: left; text-decoration: none;"&gt;&lt;br /&gt;Sumber:  &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2009/12/5209/perjuangkan-obsesimu-sampai-akhir-hayat/#ixzz1elDfv8mX" style="color: #003399;"&gt;http://www.dakwatuna.com/2009/12/5209/perjuangkan-obsesimu-sampai-akhir-hayat/#ixzz1elDfv8mX&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-23456287052952349?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/23456287052952349/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/perjuangkan-obsesimu-sampai-akhir-hayat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/23456287052952349'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/23456287052952349'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/perjuangkan-obsesimu-sampai-akhir-hayat.html' title='Perjuangkan Obsesimu Sampai Akhir Hayat'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-1953320703194218380</id><published>2011-11-26T05:25:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T05:27:38.896+07:00</updated><title type='text'>“Deadline Your Life”, Merencanakan Jadwal Kematian Kita</title><content type='html'>&lt;div class="dd_content_wrap"&gt;&amp;nbsp;&lt;span class="postedby"&gt;Oleh: &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/author/pirmanhidayatullah/" title="Profil dari Usman Alfarisi"&gt;Usman Alfarisi&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr align="left" color="#EEEEEE" noshade="noshade" size="1px" /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2011/11/16586/deadline-your-life-merencanakan-jadwal-kematian-kita/email/" rel="nofollow" title="Kirim"&gt;&lt;img alt="Kirim" class="WP-EmailIcon" src="http://www.dakwatuna.com/wp-content/plugins/wp-email/images/email_famfamfam.png" style="border: 0px;" title="Kirim" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2011/11/16586/deadline-your-life-merencanakan-jadwal-kematian-kita/print/" rel="nofollow" title="Print"&gt;&lt;img alt="Print" class="WP-PrintIcon" src="http://www.dakwatuna.com/wp-content/plugins/wp-print/images/printer_famfamfam.gif" style="border: 0px;" title="Print" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Judul Buku: Deadline Your Life! (Ingat Mati Agar Hidup Lebih Berarti)&lt;br /&gt;Penulis: Sholikhin Abu Izzuddin&lt;br /&gt;Penerbit: Pro-U Media – Yogyakarta&lt;br /&gt;Cetakan: 1, Juli 2011&lt;br /&gt;Tebal: 322 Halaman&lt;br /&gt;&lt;div class="wp-caption alignright" id="attachment_16587" style="width: 260px;"&gt;&lt;a href="http://www.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2011/11/buku-deadline-your-life.jpg?c13ed3" rel="shadowbox[sbpost-16586];player=img;" title="buku-deadline-your-life"&gt;&lt;img alt="" class="size-full wp-image-16587 " height="364" src="http://www.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2011/11/buku-deadline-your-life.jpg" title="buku-deadline-your-life" width="250" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="wp-caption-text"&gt;Cover Buku "Deadline Your Life"&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;dakwatuna.com – &lt;/b&gt;&lt;i&gt;Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan-kelezatan, yaitu kematian (HR Tirmidzi No 230, Shohihul Jami’ no. 1210)&lt;/i&gt;– Deadline Your Life Halaman 101.&lt;br /&gt;Membicarakan mati, seperti tak ada habisnya. Ia bisa kita diskusikan dari berbagai macam perspektif. Apa saja, semau kita. Salah satunya adalah perspektif Islam dalam memandang kematian. Ini merupakan perspektif terbaik dan terlengkap dibanding perspektif lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itulah yang dilakukan oleh &lt;b&gt;‘motivator sejuta umat’&lt;/b&gt;, Sholikhin Abu Izuddin dalam membahas kematian. Dengan kepiawaiannya mengolah kata bersajak, buku setebal 322 halaman ini serasa sangat renyah untuk dikunyah. Tidak perlu mengerutkan dahi, hanya perlu menyiapkan sunggingan-sunggingan senyum di setiap jenak buku ini. Beliau akan membuat kita untuk mengangguk setuju dan kemudian bergegas untuk mengukir prestasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mati, sebagaimana kita pahami bersama merupakan kepastian paling pasti dari kehidupan yang kita jalani. Ia merupakan dua mata pisau yang berbeda, tergantung dari mana kita memakainya. Bagi seorang fajir, yang bergelimang dosa, mati tentu saja merupakan sebuah monster yang sangat menakutkan. Golongan ini sangat takut akan datangnya mati. Jangankan untuk membicarakan mati, mengingat saja mereka enggan. Yang masuk dalam golongan ini, salah satunya adalah mereka yang sangat mencintai dunia. Mereka menganggap bahwa dunia ini adalah yang terakhir. Dunia ini adalah tempat bersenang-senang, sesuai nafsu mereka. Padahal sejatinya tidak! Dunia ini adalah ladang yang mesti kita garap dan baru bisa kita panen kelak di akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi seorang mukmin, mati tentu saja sebuah kata yang sangat menarik dan bisa jadi pada taraf &lt;b&gt;&lt;i&gt;sangat dirindukan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. Sebut saja generasi salaf, generasi terbaik umat ini. Mereka menganggap mati sebagai sebuah kenikmatan, karena dengan itu mereka bisa bertemu dengan kekasih sejatinya, Allah Subhanahu wa Ta’alaa. Oleh karena itu, generasi ini termasuk yang bergegas, berlomba dalam melakukan amal shalih. Mereka tak kenal putus asa, tidak mau menunda bahkan selalu menangis ketika tertinggal dalam melakukan amal shalih. Generasi ini, nyaris habis. Meski dalam beberapa kasus, kita masih bisa mengadakannya, terutama pada diri kita masing-masing. Semoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku&amp;nbsp; berukuran 12 x 20 cm ini, akan mengajak Anda untuk terus berkarya, agar kita mati dengan tersenyum. Ya. Senyum kemenangan sebagai syuhada’. Karena mati itu pasti, tapi bukan itu esensi utama dari kematian kita. Melainkan bagaimana kita mati, itulah yang lebih penting dan mesti kita persiapkan. Abu ya’la (Syadad) bin Aus Radhiyallahu ‘Anhu berkata, Rasulullah bersabda, “Orang yang cerdas adalah orang yang mengoreksi dirinya dan mempersiapkan amal untuk bekal sesudah mati. Dan orang yang bodoh adalah yang selalu menurutkan hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah” (HR Tirmidzi). Hadits yang terdapat di halaman 80 ini merupakan sebuah pilihan. Pilihan yang Rasulullah ajukan kepada kita, umatnya, akankah kita memilih untuk menjadi cerdas dengan mempersiapkan bekal setelah mati, atau sebaliknya, memilih menjadi orang bodoh dengan menuruti hawa nafsu dan panjang angan-angan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang terbit pertama di bulan juli tahun 2011 ini, sejatinya hanya terdiri dari 2 bagian. Bagian pertama tentang perlunya kita mengingat mati. Bagian kedua merupakan langkah yang harus kita lakukan agar mati kita menjadi berpengaruh. Agar mati yang kita hadapi kelak menginspirasi bagi generasi-generasi yang kita tinggalkan. Agar mati yang hanya sekali, senantiasa berbekas bagi diri maupun orang lain.&lt;br /&gt;Bagian pertama buku ini terdiri dari 4 bab meliputi: &lt;b&gt;&lt;i&gt;Deadline Power, Bila Waktu Telah Berakhir, Bagaimana Cara Memotivasi Diri, dan Mengapa Harus Men-deadline Diri&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. Masing-masing Bab dalam buku ini, disertai dengan sub-bab yang akan memudahkan pembaca untuk menyelami pemikiran penulis.&amp;nbsp; Di bagian pertama ini, penulis menyebutkan betapa pentingnya kita mengingat mati. Di antaranya agar kita tidak menunda dalam melakukan kebaikan, menghiasi hari dengan prestasi- sekecil apapun, senantiasa berkata jujur, tersenyum sebagai bentuk sedekah yang paling murah dan aneka kiat-kiat dan contoh terkait pentingnya kita mengingat mati. &lt;i&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Muaranya, penulis mengajak kita untuk merenung, bahwa hidup yang Allah berikan ini tidaklah kekal. Hidup yang Allah berikan kepada kita hanyalah terminal yang harus kita isi dengan amal shalih sebagai perbekalan kehidupan setelah kematian kita. Sehingga, ketika kesadaran seperti itu sudah terbentuk, maka kita akan menjadi pribadi yang cerdas, sebagaimana di sebutkan dalam hadits riwayat Imam Tirmidzi di atas, yaitu pribadi yang mengingat mati dan mengumpulkan perbekalan untuk mati. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian pertama dalam buku ini, dipaparkan secara gamblang sebanyak 164 halaman. Sehingga kita akan puas dan kemudian menyegerakan diri untuk mengumpulkan bekal kematian yang merupakan gerbang menuju kehidupan yang lebih abadi, akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah diajak melanglang buana terkait pentingnya mati, kita langsung diajak melangkah. Melakukan aneka aksi untuk menjemput kematian kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada Sembilan langkah yang penulis paparkan dalam bagian kedua ini. Sembilan langkah tersebut meliputi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;1. Mati Urusan Pribadi, Persiapkan Dirimu!&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Dalam bab ini, penulis bertutur, “Siapa yang memungkiri? Jenderal atau Kopral, majikan atau pelayan, selebritis atau pengemis, direktur atau kondektur, koruptor atau provokator, bahkan anggota dewan atau tukang jagal hewan, semua bakal merasakan kematian. (Hal 175).&lt;br /&gt;Dalam bab ini, diuraikan pula sejumlah nama yang telah diganjar surga oleh Allah. Sebut saja Bilal bin Rabbah yang terompahnya sudah terdengar sampai di surga. Hamzah bin Abdul Muthalib yang syahid di medan Uhud. Ja’far bin Abi Thalib yang beterbangan seperti burung di surga karena tangannya buntung ketika perang Mu’tah. Dan Ummu Sulaim yang mondar mandir di surga (hal 181). Sebuah&amp;nbsp; pertanyaan cerdas yang penulis lontarkan dan sangat layak untuk kita renungkan, “Jika mereka telah diganjar surga oleh Allah, bagaimana dengan kita?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;2. Miliki Grand Desain Hidupmu.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Kegagalan yang kita dapati adalah buah dari gagalnya kita merencanakan. Kita cenderung berjalan tanpa arah dan tujuan yang jelas. Akhirnya, langkah kita tak pasti dan cenderung loyo ketika ada ujian yang melanda, diri yang mudah limbung, tak tentu arah dan berkecenderungan ‘asal mengalir’&lt;br /&gt;Dalam bab ini kita disuguhi sebuah cara agar kita bisa memiliki Grand Desain. Dengan panduan yang mudah diikuti, kita diajak untuk menentukan akan menjadi seperti apakah kita, terutama dalam masa 5 tahun ke depan. (hal 200-203)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;3. Action Plan.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Dalam bab ini, kita akan disajikan 3 hal penting dalam melakukan aksi terhadap rencana kita. Planning, Perincian dan Prioritas. Di bagian akhir, lagi-lagi kita disuguhkan dengan lembaran-lembaran praktikum tentang rencana-rencana kita. Lengkap dengan panduan dan waktu perkiraan terlaksananya rencana yang telah kita pancangkan (hal 221-226). Di sini, kita dipaksa untuk berpikir dan belajar membuat peta kehidupan. Agar hidup kita terarah dan tidak asal melangkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;4. Desain caranya.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Rencana aksi, hanyalah sebuah garis besar tentang mimpi yang ingin kita gapai. Setelahnya, kita harus menuliskan langkah-langkah detail untuk mengeksekusi sekian banyak rencana tersebut. Sebut saja jika cita-cita kita adalah menjadi penulis. Maka kita harus menargetkan jenis-jenis tulisan yang akan digubah. Di sini, kita akan disuguhkan tentang cara membaca efektif sehingga tidak mudah lupa (hal 234-235), Tiga faktor Penyebab Lupa (hal 235-236), Dua Belas Cara Menulis Dengan Manis (hal 236-242) dan Empat Pemilik Dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;5. Jaga Stamina dengan Senyum Merekah.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang sukses selalu tersenyum optimis dan mengharapkan dilimpahkannya kebaikan bagi seluruh manusia (Hal 251).&lt;br /&gt;Senyum yang ikhlas, akan bermuara pada kebahagiaan sejati, “Saudaraku, agar hidup lebih terarah, potensi diri menjadi permata berharga, masa depan menjadi lebih cerah, dan hidup menjadi lebih bergairah, mari bergembiralah!”(Hal 253)&lt;br /&gt;Bab ini ditutup dengan 5 cara Praktis menghadirkan senyum Merekah penggugah Ruhiyah (hal 255). Di sini, pembaca perlu berhati-hati. Karena setelah selesai, pembaca bisa mengidap penyakit suka ‘tersenyum sendiri.’ ^_^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;6. Eksekusi Diri.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Rencana yang baik, detail aksi yang lengkap, akan sia-sia jika kita tak kunjung melangkah. Semuanya harus segera kita eksekusi agar tidak menyesal karena terlambat. Seperti halnya fir’aun yang terlambat mengakui keesaan Allah, seperti itu pulalah kegagalan yang akan kita terima manakala kita sering menunda eksekusi atas semua rencana kita.&lt;br /&gt;Ada 6 penghambat eksekusi: tujuan hidup yang tidak jelas, antusias yang rendah, sikap mental negatif, kurang percaya diri, terlalu berhati-hati dan berharap tanpa memenuhi syarat (hal 262-263).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;7. Fokus Sampai Lulus.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Orang yang tidak memfokuskan potensi untuk berprestasi akan kehilangan banyak kesempatan, memubadzirkan energi, merugikan masa depan, menzhalimi diri, dan merusak kehidupannya. Fokuskan pada akhirat maka dunia pun akan didapat. Tetap perbarui niat dan jaga semangat (hal 283). Fokus diibaratkan penulis dengan sinar laser. Meski kecil, ia bisa menghancurkan aneka benda yang ditabraknya. Sementara ketidakfokusan diibaratkan seperti matahari, meski tenaganya besar, daya hancurnya kurang karena ketidakfokusannya pada sebuah objek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;8. Optimis Sampai Finish.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Optimis adalah bagian dari kemenangan dan kesuksesan. Optimis adalah nafas panjang untuk mengarungi pendakian yang tak berujung. Pendakian menuju keabadian. Optimis adalah oksigen para pendaki tersebut. Sebab, semakin mendaki semakin sedikit teman, semakin sulit tantangan, semakin menjerit lolongan, semakin sempit kesempatan, dan semakin rumit persoalan, namun juga semakin bersuit-suit pujian yang melenakan di samping sudah semakin dekat dengan puncak kemenangan yang dirindukan (Hal 289).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;9. Tak ada pilihan ketiga.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Bab ini menyajikan langkah pamungkas yang mesti kita lakukan agar kematian yang kita temui adalah kematian terindah, syahid. Penulis mengutip perkataan Sayyid Quthb dalam menafsirkan Surat Al Jatsiyah ayat 18 , “Pilihan itu hanya ada dua, Syari’at Allah atau mengikuti keinginan orang-orang jahil. &lt;b&gt;Tidak ada pilihan ketiga&lt;/b&gt;, jalan tengah antara syariat yang lurus dan keinginan hawa nafsu yang berubah. Seseorang yang meninggalkan syari’at Allah berarti telah berhukum kepada keinginan nafsunya. Segala sesuatu selain syariat Allah adalah keinginan hawa nafsu yang disukai oleh orang yang jahil (hal 304-305).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang dikemas dengan rasa training ini membuat kita betah untuk melahap bab demi babnya. Sehingga kita akan terbawa arus dan tidak sadar ternyata kita hampir selesai membaca. Di samping itu, Bahasa yang&amp;nbsp; mudah dicerna, bersajak, juga merupakan kelebihan yang tak terbantahkan dari buku ini. Belum lagi desain cover yang dominan warna hitam, disertai hiasan kuning, merah dan putih adalah sebuah kombinasi manis yang membuat pembaca &lt;b&gt;&lt;i&gt;‘jatuh cinta’&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; pada pandangan pertama. Oh ya, yang tak kalah serunya, buku ini dikemas&amp;nbsp; tanpa daftar isi. Sehingga Anda yang haus ilmu, akan penasaran untuk membuka tiap detailnya.&lt;br /&gt;Akhirnya, saya ucapkan jazakumullah ahsanal jaza’ kepada Pak Sholikhin yang bercita-cita menjadi Trainer Sejuta Umat dan keluarga besar Pro-U Media seluruhnya. Semoga Allah mengistiqamahkan kita di jalan ini. Jalan yang awalnya hidayah, perekatnya ukhuwah dan semoga saja akhirnya adalah surga yang abadi. Amiin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada sahabat sekalian saya sampaikan, “Hati-hati membaca buku ini! Karena Dosis (motivasinya) tinggi. Sehingga sahabat, bisa jadi akan mengalami over dosis motivasi. Dan, sahabat tidak akan bisa tidur karena mengingat diri yang makin berkurang jatah umurnya, sementara prestasi tak kunjung jua membanggakan.”&lt;br /&gt;Selamat membaca. Semoga berkenan.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: medium none; color: black; overflow: hidden; text-align: left; text-decoration: none;"&gt;&lt;br /&gt;Sumber:  &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2011/11/16586/deadline-your-life-merencanakan-jadwal-kematian-kita/#ixzz1el66slOu" style="color: #003399;"&gt;http://www.dakwatuna.com/2011/11/16586/deadline-your-life-merencanakan-jadwal-kematian-kita/#ixzz1el66slOu&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-1953320703194218380?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/1953320703194218380/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/deadline-your-life-merencanakan-jadwal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/1953320703194218380'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/1953320703194218380'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/deadline-your-life-merencanakan-jadwal.html' title='“Deadline Your Life”, Merencanakan Jadwal Kematian Kita'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-3479320019802708882</id><published>2011-11-26T05:18:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T05:20:12.188+07:00</updated><title type='text'>Refleksi Hijrah Dalam Kehidupan</title><content type='html'>&lt;div class="dd_content_wrap"&gt;&lt;b&gt;&lt;img alt="pejalan kaki" class="size-full wp-image-4594 alignright" height="200" src="http://www.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2009/11/pejalan-kaki.jpg" style="float: right; margin: 5px;" title="pejalan kaki" width="250" /&gt;dakwauna.com -&lt;/b&gt; Sebentar lagi umat muslim memasuki tahun baru Islam 1431 H. &amp;nbsp;Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Detik dan menit terus berputar. Hari berganti hari menggenapkan hitungan minggu, bulan dan tahun. Silih berganti seiring pergantian siang dan malam. Pergantian ini tiadalah tanpa makna. Pergantian ini bagian dari kekuasaan Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal.”&lt;/i&gt; Ali Imran:191&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergantian siang, malam, hari, pekan, bulan dan tahun adalah menjadi bagian dari kekuasaan Allah swt. Bahwa Dia-lah yang memiliki semua ini. Dialah yang mengedarkan bintang gemintang. Dialah yang menjadikan matahari sebagai pusat tata surya, menghamparkan bumi dan&amp;nbsp; menetapkan hidup dan mati. Allah swt. berfirman:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Demi matahari dan sinarnya di pagi hari. Demi bulan apabila ia mengiringi. Demi siang apabila ia menampakkan diri. Demi malam apabila ia menutupi. Demi langit serta binaannya. Demi bumi serta penghamparannya. Demi jiwa dengan segala penyempurnaan (ciptaan)-Nya. Allah mengilhami sukma, keburukan dan kebaikan. Beruntunglah siapa yang membersihkannya, rugilah siapa yang mengotorinya.”&lt;/i&gt; As-Syams:1-10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergantian tahun berarti bertambah pula usia kita, otomatis juga jatah umur kita berkurang. Semakin mendekati kematian. Penyair Arab mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Innama anta ayyam, idza madha minnka yaumun, madha ba’dhah. Anda adalah rangkaian dari hari-hari. Jika satu hari telah lewat, maka akan berkurang umur Anda.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apa yang sudah kita perbuat dari bertambahnya umur kita? Jawaban ini penting, karena suka tidak suka setiap yang hidup pasti akan menunggu giliran mati. Kematian adalah bukan akhir dari kehidupan. Justru awal dari kehidupan kekal abadi. Akhirat adalah waktu di mana penyelesaian perkara setiap manusia diselesaikan secara seadil-adilnya. Jika waktu di dunia perkara manusia ada yang bisa di manipulasi, di akhirat semua akan dibuka dan putuskan secara adil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Hakikat Hijrah&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hijrah berarti berpindah atau meninggalkan. Dalam makna ini, hijrah memiliki dua bentuk. &lt;i&gt;Hijrah Makaniyah dan Hijrah Ma’nawiyah&lt;/i&gt;. Hijrah &lt;i&gt;makaniyah &lt;/i&gt;adalah berpindah secara fisik, dari satu tempat ke tempat lain. Kebanyakan ayat-ayat tentang hijrah bermakna &lt;i&gt;Makaniyah&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;“Dan siapa yang berhijrah di jalan Allah (untuk membela dan menegakkan Islam), niscaya ia akan dapati di muka bumi ini tempat berhijrah yang banyak dan rezki yang makmur. Dan siapa yang keluar dari rumahnya dengan tujuan berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian ia mati (dalam perjalanan), maka sesungguhnya telah tetap pahala hijrahnya di sisi Allah. Dan (ingatlah) Allah Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang.”&lt;/i&gt; An-Nisa:100&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka terbunuh atau mati, sudah tentu Allah akan mengaruniakan kepada mereka limpah kurnia yang baik. Dan (ingatlah) sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi limpah kurnia.”&lt;/i&gt; Al-Hajj:58&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan hijrah secara &lt;i&gt;ma’nawiyah&lt;/i&gt; ditegaskan dalam firman Allah swt. &lt;i&gt;“Dan berkatalah Ibrahim: “Sesungguhnya aku senantiasa berhijrah kepada Tuhanku; sesungguhnya Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”&lt;/i&gt;Al-Ankabut:26. &lt;i&gt;“Dan perbuatan dosa tinggalkanlah.”&lt;/i&gt; Al-Muddatsir:5&lt;br /&gt;Bentuk-bentuk hijrah &lt;i&gt;maknawiyah&lt;/i&gt; di antaranya meninggalkan kekufuran menuju keimanan. Meninggalkan syirik menuju tauhid (hanya mengesakan Allah). Meninggalkan kebiasaan mengingkari nikmat-nikmat Allah menjadi pandai bersyukur. Berpindah dari kehidupan jahiliyah kearah kehidupan Islami. Berpindah dari sifat-sifat munafik, plin-plan, menjadi istiqamah. Hijrah juga berarti berkomitmen kuat pada nilai kebenaran dan meninggalkan kebatilan. &amp;nbsp;Meninggalkan perbuatan, makanan dan pakaian yang haram menjadi hidup &lt;i&gt;halalan thayyiba.&lt;/i&gt; Meninggalkan maksiat menuju taat hanya kepada Allah swt. Tinggalkan kedengkian, tinggalkan korupsi, saling menjatuhkan sesama orang beriman, saling menghujat, tinggalkan kesia-siaan, tinggalkan kebiasaan hidup menjadi beban, dan tinggalkan kebohongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga kata kunci dari hijrah adalah perubahan. Perubahan menuju lebih baik, dalam segala hal. Perubahan itu dilakukan semata-mata karena kebaikan, karena manfaat dan karena mencari ridha Allah swt. Rasulullah saw. bersabda yang diriwayatkan Imam Bukhari: “&lt;i&gt;Barangsiapa yang berhijrah untuk Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang berhijrah untuk dunia (untuk memperoleh keuntungan duniawi) dan untuk menikahi wanita maka hijrah itu untuk apa yang diniatkan nya.”&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, dalam menapaki hijrah ini kita perlu menetapkan arah atau tujuan hidup dengan jelas, ambil bekalan yang cukup, waspadai godaan di jalanan dan jangan tertinggal rombongan kebaikan, karena hidup layaknya musafir. Allahu a’lam&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: medium none; color: black; overflow: hidden; text-align: left; text-decoration: none;"&gt;&lt;br /&gt;Sumber:  &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2009/12/5026/refleksi-hijrah-dalam-kehidupan/#ixzz1el4QyTUs" style="color: #003399;"&gt;http://www.dakwatuna.com/2009/12/5026/refleksi-hijrah-dalam-kehidupan/#ixzz1el4QyTUs&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-3479320019802708882?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/3479320019802708882/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/refleksi-hijrah-dalam-kehidupan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/3479320019802708882'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/3479320019802708882'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/refleksi-hijrah-dalam-kehidupan.html' title='Refleksi Hijrah Dalam Kehidupan'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-5560258344264096513</id><published>2011-11-25T11:24:00.001+07:00</published><updated>2011-11-25T11:25:41.906+07:00</updated><title type='text'>PINTU-PINTU MASUKNYA SYETAN</title><content type='html'>Oleh Dr.H. Achmad Satori&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati manusia bagaikan benteng sedangkan syetan adalah musuh yang senantiasa mengintai untuk menguasai benteng tersebut. Kita tidak bisa menjaga benteng kalau tidak melindungi atau menjaga/menutup pintu-pintu masuknya syetan ke dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati manusia bagaikan benteng sedangkan syetan adalah musuh yang senantiasa mengintai untuk menguasai benteng tersebut. Kita tidak bisa menjaga benteng kalau tidak melindungi atau menjaga/menutup pintu-pintu masuknya syetan ke dalam hati. Kalau kita ingin memiliki kemampuan untuk menjaga pintu agar tidak diserbu syetan, kita harus mengetahui pintu-pintu mana saja yang dijadikan syetan sebagai jalan untuk menguasai benteng tsb. Melindungi hati dari gangguan syetan adalah wajib oleh karena itu mengetahui pintu masuknya syetan itu merupakan syarat untuk melindungi hati kita maka kita diwajibkan untuk mengetahui pintu-pintu mana saja yang dijadikan jalan untuk menguasi hati manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu tempat masuknya syetan adalah semua sifat kemanusiaan manusia yang tidak baik. Berarti pintu yang akan dimasuki syetan sebenrnya sangat banyak, Namun kita akan membahas pintu-pintu utama yang dijadikan prioritas oleh syetan untuk masuk menguasai manusia. Di antara pintu-pintu besar yang akan dimasuki syetan itu adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Marah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marah adalah kalahnya tentara akal oleh tentara syetan. Bila manusia marah maka syetan bisa mempermainkannya seperti anak-anak mempermainkan kelereng atau bola. Orang marah adalah orang yang sangat lemah di hadapan syetan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Hasad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia bila hasud dan tamak menginginkan sesuatu dar orang lain maka ia akan menjadi buta. Rasulullah bersabda:” Cintamu terhadap sesuatu bisa menjadikanmu buta dan tuli” Mata yang bisa mengenali pintu masuknya syetan akan menjadi buta bila ditutupi oleh sifat hasad dan ketamakan sehingga tidak melihat. Saat itulah syetan mendapatkan kesempatan untuk masuk ke hati manusia sehingga orang itu mengejar untuk menuruti syahwatnya walaupun jahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Perut kenyang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa kenyang menguatkan syahwat yang menjadi senjata syetan. Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Iblis pernah menampakkan diri di hadapan Nabi Yahya bin Zakariyya a.s. Beliau melihat pada syetan beberapa belenggu dan gantungan pemberat untuk segala sesuatu seraya bertanya. Wahai iblis belenggu dan pemberat apa ini? Syetan menjawab: Ini adalah syahwat yang aku gunakan untuk menggoda anak cucu Adam.Yahya bertanya: Apa hubungannya pemberat ini dengan manusia ? Syetan menjawab: Bila kamu kenyang maka aku beri pemberat sehingga engkau enggan untuk sholat dan dzikir. Yahya bertanya lagi: Apa lainnya? Tidak ada! Jawab syetan. Kemudian Nabi Yahya berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi Allah aku tidak akan mengenyangkan perutku dengan makanan selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iblis berkata. Demi Allah saya tidak akan memberi nasehat pada orang muslim selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan makan mengakibatkan munculnya enam hal tercela:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;・ Menghilangkan rasa takut kepada Allah dari hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;・ Menghilangkan rasa kasih sayang kepada makhluk lain karena ia mengira bahwa semua makhluk sama kenyangnya dengan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;・ Mengganggu ketaatan kepada Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;・ Bila mendengarkan ucapan hikmah ia tidak mendapatkan kelembutan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;・ Bila ia bicara tentang ilmu maka pembicaraannya tidak bisa menembus hati manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;・ Akan terkena banyak penyakit jasmani dan rohani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Cinta perhiasan dan perabotan rumah tangga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila syetan melihat hati orang yang sangat mencintai perhiasan dan perabotan rumah tangga maka iblis bertelur dan beranak dan menggodanya untuk terus berusaha melengkapi dan membaguskan semua perabotan rumahnya, menghiasi temboknya, langit-langitnya dst. Akibatnya umurnya habis disibukkan dengan perabotan rumah tangga dan melupakan dzikir kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Tergesa-gesa dan tidak melakukan receck&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah pernah bersabda: Tergesa-gesa termasuk perbuatan syetan dan hati-hati adalah dari Allah SWT. Allah berfirman: ”Manusia diciptakan tergesa-gesa” dalam ayat lain dditegaskan: “Sesungguhnya manusia itu sangat tergesa-gesa. Mengapa kita edilarang tergesa-gesa? Semua perbuatan harus dilakukan dengan pengetahuan dan penglihatan mata hati. Penglihatan hata hati membutuhkan perenungan dan ketenangan. Sedangkan tergesa-gesa menghalangi itu semua. Ketika manusia tergesa-gesa dalam melakukan kewajiban maka syetan menebarkan kejahatannya dalam diri manusia tanpa disadari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Mencintai harta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecintaan terhadap uang dan semua bentuk harta akan menjadi alat hebat bagi syetan. Bila orang memiliki kecintaan kuat terhadap harta maka hatinya akan kosong. Kalau dia mendapatkan uang sebanyak satu juta di jalan maka akan muncul dari harta itu sepuluh syahwat dan setiap syahwat membutuhkan satu juta. Demikianlah orang yang punya harta akan merasa kurang dan menginginkan tambahan lebih banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Ta’assub bermadzhab dan meremehkan kelompok lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang ta’assub dan memiliki anggapan bahwa kelompok lain salah sangat berbahaya. Orang yang demikian akan banyak mencaci maki orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meremehkan dan mencaci maki termasuk sifat binatang buas. Bila syetan menghiasi pada manusia bahwa taassub itu seakan-akan baik dan hak dalam diri orang itu maka ia semakin senang untuk menyalahkan orang lain dan menjelekkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Kikir dan takut miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat kikir ini mencegah seseorang untuk memberikan infaq atau sedekah dan selalu menyeru untuk menumpuk harta kekayaan dan siksa yang pedih adalah janji orang yang menumpuk harta kekayaan tanpa memberikan haknya kepada fakir miskin. Khaitsamah bin Abdur Rahman pernah berkata: Sesungguhnya syaitan berkata: Anak cucu Adam tidak akan mengalahkanku dalama tiga hal perintahku: Aku perintahkan untuk mengambil harta dengan tanpa hak, menginfakkannya dengan tanpa hak dan menghalanginya dar hak kewajibannya (zakat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sufyan berkata: Syetan tidak mempunyai senjata sehebat senjata rasa takutnya manusia dari kemiskinan. Apabila ia menerima sifat ini maka ia mengambil harta tanpa hak dan menghalanginya dari kewajiban zakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Memikirkan Dzat Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang memikirkan dzat Allah tidak akan sampai kepada apa yang diinginkannya ia akan tersesat karena akal manusia tidak akan sampai kesana. Ketika memikirkan dzat Allah ia akan terpeleset pada kesyirikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Suudzon terhadap orang Islam ghibah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman dalam Surat Al Hujuroot 12 sbb.:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah pernah bersabda: Jauhillah tempat-tempat yang bisa memunculkan prasangka buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada orang yang selalu suudzdzon dan selalu mencari cela orang lain maka sebenarnya ia adalah orang yang batinnya rusak. Orang mukmin senantiasa mencari maaf dan ampunan atetpi orang munafik selalu mencari cela orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebagian pintu-pintu masuknya syetan untuk menguasai benteng hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita teliti secara mendetail kita pasti tidak akan mempu menghitus semua pintu masuknya syetan ke dalam hati manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang bagiamana solusi dari hal ini? Apakah cukup dengan zikrullah dan mengucapkan “Laa haula wa laa quwwata illa billah”? ketahuilah bahwa upaya untuk membentengi hati dari masuknya serbuan syetaan adalah dengan menutup semua pintu masuknya syetan dengan membersihkan hati kita dari sifat-sifat tercela yang disebutkan di atas. Bila kita bisa memutuskan akar semua sifat tercela maka syetan mendapatkan berbagai halangan untuk memasukinya ia tidak bisa menembus ke dalam karena zikrullah. Namun perlu diketahui bahwa zikir tidak akan kokh di hati selagi hati belum dipenuhi dengan ketakwaan dan dijauhkan dari sifat-sifat tercela. Bila orang yang hatinya mamsih diliputi oleh akhlak tercela maka zikrullah hanyalah omongan jiwa yang tidak menguasai hati dan tidak akan mampu menolak kehadiran syetan. Oleh sebab itu Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. ( Al A’raaf 201)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perumpamaan syetan adalah bagaikan anjing lapar yang mendekati anda. Bila anda tidak memiliki roti atau daging pasti ia akan meninggalkanmu walaupun Cuma menghardiknya dengan ucapan kaita. Tapi bila di tangan kita ada daging maka ia tidak akan pergi dari kita walaupun kita sudah berteriak ia ingin merebut daging dari kita. Demikian juga hati bila tidak memiliki makanan syetan akan pergi hanya dengan dzikrullah. Syahwat bila menguasi hati maka ia akan mengusir dzikrullah dari hati ke pinggirnya saja dan tidak bisa merasuk dalam relung hati. Sedangkan orang-orang muttaqin yang terlepas dari hawa nafsu dan sifat-sifat tercela maka ia akan dimasuki syetan bukan karena syahwat tapi karena kelalaian daari dzikrullah apabila ia kembali berdzikir maka syetan langsusng. Inilah yang ditegaskan firman Allah dalam ayat sebelumnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. ( Al A’roof ayat 200)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat lain disebutkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Apabila kamu membaca Al Qur'an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. Sesungguhnya syaitan ini tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaannya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah. (An Nahl 98-100)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Rasulullah SAW pernah bersabda: “Bila Umar ra. Melewati suatu lereng maka syetan mengambil lereng selain yang dilewati Umar.”? Karena Umar memiliki hati yang bersih dari sifat-sifat tercela sehingga syetan tidak bisa mendekat. Kendatipun hati berusaha menjauhkan diri dari syetan dengan dzikrullah tapi mustahil syetan akan menjauh dari kita bila kita belum membersihkan diri dari tempat yang disukai syetan yaitu syahwat, seperti orang yang meminum obat sebelum melindungi dir dari penyakit dan perut masih disibukkan dengan makanan yang kerasa dicerna. Taqwa adalah perlindungan hati dari syahwat dan nafsu apabila zikrullah masuk kedalam hati yang kosong dari zikir maka syetan mendesak mamsuk seperti masuknya penyakit bersamaan dengan dimakannya obat dalam perut yang masih kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allab SWT berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya. (Qoof 37)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WAllahu a’lamu bis showab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&amp;nbsp; &lt;a href="http://www.dudung.net/artikel-islami/pintu-pintu-masuknya-syetan.html"&gt;http://www.dudung.net/artikel-islami/pintu-pintu-masuknya-syetan.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-5560258344264096513?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/5560258344264096513/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/pintu-pintu-masuknya-syetan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/5560258344264096513'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/5560258344264096513'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/pintu-pintu-masuknya-syetan.html' title='PINTU-PINTU MASUKNYA SYETAN'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-6015512367753073139</id><published>2011-11-25T11:23:00.001+07:00</published><updated>2011-11-25T11:23:39.505+07:00</updated><title type='text'>Tanda-tanda Lemah Iman dan Kiat untuk mengatasinya</title><content type='html'>&lt;div class="post-header"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="post-body entry-content" id="post-body-1264632908613732083"&gt;&lt;b&gt;Tanda-tanda Lemah Iman&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Terus menerus melakukan dosa dan tidak merasa   bersalah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berhati keras dan tidak berminat untuk membaca Al-Qur'an&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berlambat-lambat dalam melakukan kebaikan, seperti terlambat untuk melakukan   shalat&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Meninggalkan sunnah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Memiliki suasana hati yang goyah, seperti   bosan dalam kebaikan dan sering gelisah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tidak merasakan apapun ketika   mendengarkan ayat Al-Qur'an dibacakan, seperti ketika Allah mengingatkan tentang   hukumanNya dan janji-janjiNya tentang kabar baik.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kesulitan dalam   berdzikir dan mengingat Allah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tidak merasa risau ketika keadaan berjalan   bertentangan dengan syari'ah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menginginkan jabatan dan kekayaan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kikir dan bakhil, tidak mau membagi rezeki yang dikaruniakan oleh Allah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Memerintahkan orang lain untuk berbuat kebaikan, sementara dirinya sendiri tidak   melakukannya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Merasa senang ketika urusan orang lain tidak berjalan   semestinya&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hanya memperhatikan yang halal dan yang haram, dan tidak   menghindari yang makruh&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengolok-olok orang yang berbuat kebaikan kecil,   seperti membersihkan masjid&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tidak mau memperhatikan kondisi kaum   muslimin&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tidak merasa bertanggung jawab untuk melakukan sesuatu demi   kemajuan Islam&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tidak mampu menerima musibah yang menimpanya, seperti   menangis dan meratap-ratap di kuburan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Suka membantah, hanya untuk   berbantah-bantahan, tanpa memiliki bukti&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Merasa asyik dan sangat tertarik   dengan dunia, kehidupn duniawi, seperti merasa resah hanya ketika kehilangan   sesuatu materi kebendaan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Merasa asyik (ujub) dan terobsesi pada diri   sendiri&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;b&gt;Hal-hal berikut dapat meningkatkan keimanan kita:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Tilawah   Al-Qur'an dan mentadabburi maknanya, hening dan dengan suara yang lembut tidak   tinggi, maka Insya Allah hati kita akan lembut. Untuk mendapatkan keuntungan   yang optimal, yakinkan bahwa Allah sedang berbicara dengan kita.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menyadari   keagungan Allah. Segala sesuatu berada dalam kekuasaannya. Banyak hal di sekitar   kita yang kita lihat, yang menunjukkan keagunganNya kepada kita. Segala sesuatu   terjadi sesuai dengan kehendakNya. Allah maha menjaga dan memperhatikan segala   sesuatu, bahkan seekor semut hitam yang bersembunyi di balik batu hitam dalam   kepekatan malam sekalipun.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berusaha menambah pengetahuan, setidaknya   hal-hal dasar yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti cara berwudlu   dengan benar. Mengetahui arti dari nama-nama dan sifat-sifat Allah, orang-orang   yang bertakwa adalah mereka yang berilmu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menghadiri majelis-majelis   dzikir yang mengingat Allah. Malaikat mengelilingi majels-majelis seperti   itu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Selalu menambah perbuatan baik. Sebuah perbuatan baik akan   mengantarkan kepada perbuatan baik lainnya. Allah akan memudahkan jalan bagi   seseorang yang bershadaqah dan juga memudahkan jalan bagi orang-orang yang   berbuat kebaikan. Amal-amal kebaikan harus dilakukan secara kontinyu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Merasa takut kepada akhir hayat yang buruk. Mengingat kematian akan mengingatkan   kita dari terlena terhadap kesenangan dunia.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengingat fase-fase kehidupan   akhirat, fase ketika kita diletakkan dalam kubut, fase ketika kita diadili, fase   ketika kita dihadapkan pada dua kemungkinan, akan berakhir di surga, atau   neraka.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berdo'a, menyadari bahwa kita membutuhkan Allah. Merasa kecil di   hadapan Allah. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Cinta kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala harus kita   tunjukkan dalam aksi. Kita harus berharap semoga Allah berkenan menerima   shalat-shalat kita, dan&lt;br /&gt;     senantiasa merasa takut akan melakukan kesalahan.   Malam hari sebelum tidur, seyogyanya kita bermuhasabah, memperhitungkan   perbuatan kita sepanjang&lt;br /&gt;   hari itu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menyadari akibat dari berbuat dosa   dan pelanggaran. Iman seseorang akan bertambah dengan melakukan kebaikan, dan   menurun dengan melakukan&lt;br /&gt;   perbuatan buruk. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Semua yang terjadi adalah   karena Allah menghendaki hal itu terjadi. Ketika musibah menimpa kita, itupun   dari Allah.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-6015512367753073139?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/6015512367753073139/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/tanda-tanda-lemah-iman-dan-kiat-untuk.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/6015512367753073139'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/6015512367753073139'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/tanda-tanda-lemah-iman-dan-kiat-untuk.html' title='Tanda-tanda Lemah Iman dan Kiat untuk mengatasinya'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-5536573840672699190</id><published>2011-11-25T11:21:00.001+07:00</published><updated>2011-11-25T11:22:10.406+07:00</updated><title type='text'>Orang - orang yang Didoakan oleh Malaikat</title><content type='html'>&lt;table align="center" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;i&gt;Oleh : Syaikh Dr. Fadhl Ilahi&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;              &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;                &lt;td&gt;&lt;/td&gt;              &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;                &lt;td class="text-content"&gt;&lt;div align="justify"&gt;Allah SWT berfirman, &lt;i&gt;"Sebenarnya (malaikat - malaikat itu) adalah hamba - hamba yang dimuliakan, mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah - perintah-Nya.&amp;nbsp; Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka dan yang dibelakang mereka, dan mereka tidak memberikan syafa'at melainkan kepada orang - orang yang diridhai Allah, dan mereka selalu berhati - hati karena takut kepada-Nya" (QS Al Anbiyaa' 26-28) &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Inilah orang - orang yang didoakan oleh para malaikat : &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.&amp;nbsp; Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya.&amp;nbsp; Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa 'Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci'" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Orang yang duduk menunggu shalat.&amp;nbsp; Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya 'Ya Allah, ampunilah ia.&amp;nbsp; Ya Allah sayangilah ia'" (Shahih Muslim no. 469)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Orang - orang yang berada di shaf bagian depan di dalam shalat.&amp;nbsp; Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra' bin 'Azib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang - orang) yang berada pada shaf - shaf terdepan" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Orang - orang yang menyambung shaf (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalm shaf).&amp;nbsp; Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang - orang yang menyambung shaf - shaf" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Para malaikat mengucapkan 'Amin' ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Jika seorang Imam membaca 'ghairil maghdhuubi 'alaihim waladh dhaalinn', maka ucapkanlah oleh kalian 'aamiin', karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu" (Shahih Bukhari no. 782) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat.&amp;nbsp; Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Para malaikat akan selalu bershalawat kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, 'Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia'" (Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Orang - orang yang melakukan shalat shubuh dan 'ashar secara berjama'ah. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal.&amp;nbsp; Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat 'ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat 'ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, 'Bagaimana kalian meninggalkan hambaku ?', mereka menjawab, 'Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat'" (Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan.&amp;nbsp; Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda' ra., bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, "Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan.&amp;nbsp; Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata 'aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan'" (Shahih Muslim no. 2733) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Orang - orang yang berinfak.&amp;nbsp; Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, 'Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak'.&amp;nbsp; Dan lainnya berkata, 'Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit'" (Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Orang yang makan sahur. Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang - orang yang makan sahur" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Orang yang menjenguk orang sakit.&amp;nbsp; Imam Ahmad meriwayatkan dari 'Ali bin Abi Thalib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh" (Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, "Sanadnya shahih") &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Seseorang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.&amp;nbsp; Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian.&amp;nbsp; Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain" (dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343) &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Maraji' : &lt;br /&gt;Disarikan dari Buku Orang - orang yang Didoakan Malaikat, Syaikh Fadhl Ilahi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Februari 2005&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-5536573840672699190?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/5536573840672699190/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/orang-orang-yang-didoakan-oleh-malaikat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/5536573840672699190'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/5536573840672699190'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/orang-orang-yang-didoakan-oleh-malaikat.html' title='Orang - orang yang Didoakan oleh Malaikat'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-998824288066033082</id><published>2011-11-25T11:20:00.001+07:00</published><updated>2011-11-25T11:20:34.817+07:00</updated><title type='text'>28 langkah menuju kebahagiaan oleh Sheikh `A'id Al-Qarni</title><content type='html'>Berikut ini adalah tips-tips untuk mencapai kebahagiaan yang diberikan  oleh Sheikh `A'id Al-Qarni (Pengarang buku La Tahzan / Jangan bersedih):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.  Apabila anda berada pada pagi hari, jangan menunggu datangnya waktu  sore. Hiduplah dalam batasan hari ini saja. Curahkan perhatian anda  untuk memperbaiki hari ini. Hal ini dijelaskan dalam hadits berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ketika  kamu di sore hari, jangan mengharap untuk melihat esok pagi, dan ketika  anda di pagi hari jangan mengharap untuk melihat sore  hari."(Al-Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Lupakan masa lalu dan semua yang pernah terjadi, karena perhatian yang&lt;br /&gt;terpaku pada yang telah lewat dan selesai merupakan kebodohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.  Biarkan masa depan datang dengan sendirinya. Jangan mencemaskan hari  esok, kerana jika anda telah memperbaiki hari ini, pastilah hari esok  akan baik pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Jangan mudah tergoncang pada kritikan. Jadilah  orang yang teguh pendirian dan sadarilah bahwa kritikan itu akan  mengangkat harga diri Anda setara dengan kritikan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Yakinlah kepada Allah SWT dan berbuat baik; kedua hal itu adalah resep agar hidup anda lancar dan bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.  Ketahuilah, bahwa dengan dzikir kepada Allah, hati menjadi tenang dan  dosa akan terhapus. Dengan dzikir pula, Zat Yang Maha Mengetahui segala  hal yang ghaib akan meridhai dan segala kesusahan akan sirna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Anda harus tahu dengan pasti bahwa semua yang terjadi telah sesuai qada' nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.  Jangan pernah mengharap ucapan terima kasih dari orang lain. Cukup bagi  anda pahala yang diberikan oleh Dzat tempat bergantung semua makhluk.  Anda tak perlu takut kepada orang kufur, pendendam, dan iri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Persiapkan diri Anda untuk menerima kemungkinan terburuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Mungkin yang telah terjadi adalah yang terbaik untuk anda meskipun anda belum memahaminya kenapa bisa seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Semua qadha’ bagi seseorang muslim baik adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Hitunglah segala nikmat yang telah Allah berikan kepada anda dan bersyukurlah atas nikmat-nikmat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Keadaan anda lebih baik dibanding yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Kemudahan selalu ada bahkan di tiap kesusahan akan ada kemudahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15.  Ketika dalam kesulitan seseorang harus selalu shalat dan berdoa  sedangkan ketika diberikan kemudahan seseorang harus bersyukur dan  berterimakasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16. Bencana-bencana yang datang menguji anda  semestinya memperkuat hati anda dan membentuk kembali pandangan anda  dalam cara yang positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17. Jangan biarkan hal-hal yang sepele menjadi sebab kehancuran anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18. Selalu ingat bahwa Tuhanmu adalah Maha Pengampun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19. Kembangkan sikap luwes dan hindari marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20. Kehidupan ini tak lebih hanya sekedar roti, air dan bayangan. Maka tak usahlah bersedih jika semua itu ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezkimu dan&lt;br /&gt;terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu.) (Adz-Dzaariyaat 51: 22)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21. Sesuatu yang paling jahat yang semestinya terjadi akhirnya tidak pernah terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22.  Lihatlah mereka yang diberikan kesusahan lebih daripada kita dan  bersyukurlah bahwa kita diberikan sedikit kesusahan dibanding mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23.  Camkan di pikiran bahwa Allah SWT mencintai mereka yang tabah dalam  menghadapi ujian, jadilah seperti salah satu dari mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24. Secara rutin ucapkanlah doa yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW ketika kita menjalani masa-masa sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25. Bekerja keraslah pada sesuatu yang menghasilkan dan jauhi kemalasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26.  Jangan menyebarkan gosip dan jangan pula mendengarkannya. Jika anda  mendengar gosip secara tidak sengaja maka janganlah mempercayainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27.  Ketahuilah bahwa kebencian dan usaha anda untuk membalas dendam lebih  berbahaya bagi kesehatan anda sendiri dibandingkan ke musuh anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28. Kesukaran yang menimpamu akan menghapus dosa-dosamu seandainya kamu bersabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sumber: Islamonline&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-998824288066033082?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/998824288066033082/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/28-langkah-menuju-kebahagiaan-oleh.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/998824288066033082'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/998824288066033082'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/28-langkah-menuju-kebahagiaan-oleh.html' title='28 langkah menuju kebahagiaan oleh Sheikh `A&apos;id Al-Qarni'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-2973571439088019256</id><published>2011-11-25T11:19:00.001+07:00</published><updated>2011-11-25T11:19:20.823+07:00</updated><title type='text'>Bila Al Qur'an bisa bicara !</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;i style="color: blue;"&gt;"Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (QS Al A'raaf [7] : 36).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila Al Qur'an bisa bicara!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu engkau masih kanak-kanak, kau laksana kawan sejatiku&lt;br /&gt;Dengan wudu' aku kau sentuh dalam keadaan suci&lt;br /&gt;Aku kau pegang, kau junjung dan kau pelajari&lt;br /&gt;Aku engkau baca dengan suara lirih ataupun keras setiap hari&lt;br /&gt;Setelah usai engkaupun selalu menciumku mesra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang engkau telah dewasa...&lt;br /&gt;Nampaknya kau sudah tak berminat lagi padaku...&lt;br /&gt;Apakah aku bacaan usang yang tinggal sejarah...&lt;br /&gt;Menurutmu barangkali aku bacaan yang tidak menambah pengetahuanmu&lt;br /&gt;Atau menurutmu aku hanya untuk anak kecil yang belajar mengaji saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang aku engkau simpan rapi sekali hingga kadang engkau lupa dimana menyimpannya&lt;br /&gt;Aku sudah engkau anggap hanya sebagai perhiasan rumahmu&lt;br /&gt;Kadang kala aku dijadikan mas kawin agar engkau dianggap bertaqwa&lt;br /&gt;Atau aku kau buat penangkal untuk menakuti hantu dan syetan&lt;br /&gt;Kini aku lebih banyak tersingkir, dibiarkan dalam kesendirian dalam kesepian&lt;br /&gt;Di atas lemari, di dalam laci, aku engkau pendamkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu...pagi-pagi...surah-surah yang ada padaku engkau baca beberapa halaman&lt;br /&gt;Sore harinya aku kau baca beramai-ramai bersama temanmu di surau.....&lt;br /&gt;Sekarang... pagi-pagi sambil minum kopi...engkau baca Koran pagi atau nonton   berita TV&lt;br /&gt;Waktu senggang..engkau sempatkan membaca buku karangan manusia&lt;br /&gt;Sedangkan aku yang berisi ayat-ayat yang datang dari Allah Yang Maha Perkasa.&lt;br /&gt;Engkau campakkan, engkau abaikan dan engkau lupakan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu berangkat kerjapun kadang engkau lupa baca pembuka surah2ku (Basmalah)&lt;br /&gt;Diperjalanan engkau lebih asyik menikmati musik duniawi&lt;br /&gt;Tidak ada kaset yang berisi ayat Alloh yang terdapat padaku di laci mobilmu&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan radiomu selalu tertuju ke stasiun radio favoritmu&lt;br /&gt;Aku tahu kalau itu bukan Stasiun Radio yang senantiasa melantunkan ayatku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di meja kerjamu tidak ada aku untuk kau baca sebelum kau mulai kerja&lt;br /&gt;Di Komputermu pun kau putar musik favoritmu&lt;br /&gt;Jarang sekali engkau putar ayat-ayatku melantun&lt;br /&gt;E-mail temanmu yang ada ayat-ayatkupun kadang kau abaikan&lt;br /&gt;Engkau terlalu sibuk dengan urusan duniamu&lt;br /&gt;Benarlah dugaanku bahwa engkau kini sudah benar-benar melupakanku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila malam tiba engkau tahan nongkrong berjam-jam di depan TV Menonton pertandingan   Liga Italia , musik atau Film dan Sinetron laga&lt;br /&gt;Di depan komputer berjam-jam engkau betah duduk&lt;br /&gt;Hanya sekedar membaca berita murahan dan gambar sampah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktupun cepat berlalu...aku menjadi semakin kusam dalam lemari&lt;br /&gt;Mengumpul debu dilapisi abu dan mungkin dimakan kutu&lt;br /&gt;Seingatku hanya awal Ramadhan engkau membacaku kembali&lt;br /&gt;Itupun hanya beberapa lembar dariku&lt;br /&gt;Dengan suara dan lafadz yang tidak semerdu dulu&lt;br /&gt;Engkaupun kini terbata-bata dan kurang lancar lagi setiap membacaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Koran, TV, radio , komputer, dapat memberimu pertolongan?&lt;br /&gt;Bila engkau di kubur sendirian menunggu sampai kiamat tiba&lt;br /&gt;Engkau akan diperiksa oleh para malaikat suruhanNya&lt;br /&gt;Hanya dengan ayat-ayat Allah yang ada padaku engkau dapat selama melaluinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang engkau begitu enteng membuang waktumu...&lt;br /&gt;Setiap saat berlalu...kuranglah jatah umurmu...&lt;br /&gt;Dan akhirnya kubur sentiasa menunggu kedatanganmu..&lt;br /&gt;Engkau bisa kembali kepada Tuhanmu sewaktu-waktu&lt;br /&gt;Apabila malaikat maut mengetuk pintu rumahmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila aku engkau baca selalu dan engkau hayati...&lt;br /&gt;Di kuburmu nanti....&lt;br /&gt;Aku akan datang sebagai pemuda gagah nan tampan&lt;br /&gt;Yang akan membantu engkau membela diri&lt;br /&gt;Bukan koran yang engkau baca yang akan membantumu&lt;br /&gt;Dari perjalanan di alam akhirat&lt;br /&gt;Tapi Akulah "Qur'an" kitab sucimu&lt;br /&gt;Yang senantiasa setia menemani dan melindungimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peganglah aku lagi . .. bacalah kembali aku setiap hari&lt;br /&gt;Karena ayat-ayat yang ada padaku adalah ayat suci&lt;br /&gt;Yang berasal dari Alloh, Tuhan Yang Maha Mengetahui&lt;br /&gt;Yang disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad Rasulullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarkanlah segera aku dari lemari atau lacimu...&lt;br /&gt;Jangan lupa bawa kaset yang ada ayatku dalam laci mobilmu&lt;br /&gt;Letakkan aku selalu di depan meja kerjamu&lt;br /&gt;Agar engkau senantiasa mengingat Tuhanmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sentuhilah aku kembali...&lt;br /&gt;Baca dan pelajari lagi aku....&lt;br /&gt;Setiap datangnya pagi dan sore hari&lt;br /&gt;Seperti dulu....dulu sekali...&lt;br /&gt;Waktu engkau masih kecil , lugu dan polos...&lt;br /&gt;Di surau kecil kampungmu yang damai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan biarkan aku sendiri....&lt;br /&gt;Dalam bisu dan sepi....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Utamakan SELAMAT dan SEHAT untuk duniamu, Utamakan SHOLAT dan ZAKAT untuk   akhiratmu"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda ingin menjadi DA'I SEJUTA E-MAIL, tolong anda kirimkan artikel ini kepada   sesama muslim, baik keluarga, sahabat dan siapapun yang anda kenal atau silakan   cetak untuk bacaan keluarga di rumah. Terima kasih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Billahit-taufiq wal-hidayah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalamualaikum wr.wb&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anang M Yusuf&lt;br /&gt;General Affairs Division&lt;br /&gt;PT. Ericsson Indonesia&lt;br /&gt;DID: +62 21 751 9539&lt;br /&gt;Fax: +62 21 769 9385&lt;br /&gt;e-mail: anang.yusuf@eid.ericsson.se&lt;b
