<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861</id><updated>2012-02-21T05:54:00.634+07:00</updated><category term='sedekah'/><category term='do&apos;a'/><category term='Kisah teladan'/><title type='text'>Menjadi pribadi yang bermanfaat</title><subtitle type='html'>Harta tidak akan pernah bisa mempertahankan kehidupan di muka bumi. Sehebat apapun usaha manusia untuk memperpanjang hidupnya, kematian pasti akan tiba pada saat yang telah ditentukan. Sebelum menyesal, masih ada kesempatan untuk membuat harta kita menjadi abadi. Caranya: transferlah harta anda ke akhirat. Salurkan kekayaan anda melalui lembaga-lembaga sosial yang membantu fakir miskin, anak yatim dll...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>689</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-1159819564002068222</id><published>2012-02-21T05:54:00.000+07:00</published><updated>2012-02-21T05:54:00.649+07:00</updated><title type='text'>Cara  Mencegah Pasangan Anda Selingkuh dan Penyebab utamanya</title><content type='html'>” Sebenarnya apa sih penyebab utama pasangan selingkuh dan bagaimana cara mencegahnya?”&amp;nbsp;&amp;nbsp; karena pada kenyataannya di zaman sekarang ini memang tidak mudah menemukan orang yang setia pada pasangannya selain itu bukankah :&amp;nbsp; “Mencegah itu lebih baik dari pada mengobati?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengetahui penyebab utama&amp;nbsp;&amp;nbsp; pasangan selingkuh tentunya&amp;nbsp; akan memudahkan&amp;nbsp; mencegah terjadinya&amp;nbsp;&amp;nbsp; pasangannya berselingkuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pada pengamatan, membaca , diskusi dll dapat disimpulkan bahwa Penyebab utama perselingkuhan&amp;nbsp; tidak sama&amp;nbsp; yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan Wanita&amp;nbsp; berselingkuh karena&amp;nbsp; dorongan emosional selain karena alasan lainnya&amp;nbsp; sedangkan Kebanyakan&amp;nbsp; pria berselingkuh untuk kepuasan seksual tanpa melibatkan emosional. Sebagai contoh wanita bisa berselingkuh jika ada kesempatan&amp;nbsp; membina hubungan dengan&amp;nbsp; laki-laki yang kebetulan menjadi profil idamannya&amp;nbsp; atau kebiasaan bersama berduaan dengan laki-laki tertentu atau Pacar lama&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; meskipun pada awalnya wanita ini tidak ingin berselingkuh tapi&amp;nbsp; dengan membuka hubungan dengan lawan jenis tanpa pengawasan pasangannya&amp;nbsp; lambat laun&amp;nbsp;&amp;nbsp; wanita ini akan&amp;nbsp; berselingkuh meskipun dia sadar sudah memiliki suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan pria berselingkuh cenderung karena faktor keinginan hasrat sexual melihat wanita lain yang dirasa lebih menarik secara fisik dibandingkan pasangannya ditunjang dengan sikap dan penampilan pasangan yang membosankan&amp;nbsp; ( Note:&amp;nbsp; Agar wanita&amp;nbsp; meningkatkan penampilannya dan perhatian&amp;nbsp; untuk pasangannya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selingkuh yang melibatkan ikatan emosional biasanya tidak terjadi dalam hubungan singkat tapi terjadi karena hubungan bertahap yang cukup lama karena kebiasaan saling berhubungan, orang jawa bilang : ” Witing tresno jalaran seko kulino” yg artinya ” Adanya cinta karena sering berdekatan atau berhubungan”(pulang kantor/makan&amp;nbsp; bareng berdua,&amp;nbsp; sms, telpon, chatting, ngebrik dll).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi cara JITU untuk mencegah perselingkuhan&amp;nbsp; sebelum terjadi&amp;nbsp; INTI nya&amp;nbsp; adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“TIDAK&amp;nbsp; MENGIJINKAN &amp;amp; MEMBIARKAN PASANGAN ANDA&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; BERDUAAN&amp;nbsp; DENGAN LAWAN JENIS TANPA SEPENGETAHUAN&amp;nbsp; ANDA BAIK SECARA MAYA ( SMS, TELPON, CHATTING, MESSENGER , EMAIL dll) ATAU NYATA&amp;nbsp; ( BERDUAAN DI MOBIL / RUANG TERTUTUP dll)”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NB:&amp;nbsp; Pria sebaiknya juga&amp;nbsp; tidak mengijinkan dan membiarkan&amp;nbsp; wanita pasangannya bepergian sendiri tanpa ada saudara yang mendampinginya apalagi jika bepergian lebih dari satu hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencegah selingkuh karena faktor lain kenali dulu tandanya disini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selingkuh banyak penyebabnya akan tetapi ada faktor yang harus diketahui kenapa pasangan selingkuh meskipun jika dilihat dari sudut pandangan umum ada hal-hal yang sulit diterima secara nalar dan agama artinya Selingkuh bisa menimpa siapa saja dari pembantu sampai presiden dari penjahat sampai ustadz dari pendidikan SD sampai S3 dll&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor&amp;nbsp; penyebab utama selingkuh ada dua yaitu&amp;nbsp; Faktor Internal dan Faktor External&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Faktor Internal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan Faktor Internal adalah faktor&amp;nbsp;&amp;nbsp; dari dalam penyebab&amp;nbsp; pelaku perselingkuhan, Faktor internal cenderung tidak terpengaruh dengan faktor eksternal, jadi apapun situasi dan kondisi&amp;nbsp; diluar dirinya&amp;nbsp;&amp;nbsp; selingkuh tetap terjadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang termasuk Faktor Internal adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Faktor Genetik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor Genetik artinya sifat selingkuh bisa diturunkan.&amp;nbsp; Jadi seseorang yang orang tuanya pernah selingkuh kemungkinan besar anaknya akan selingkuh juga. Gen yang membawa sifat selingkuh adalah DRD4. (Info disini). Orang yang memiliki gen ini suka&amp;nbsp; mencari sesuatu yang baru dari yang sudah mereka miliki sebelumnya sehingga&amp;nbsp; mereka cenderung memiliki kemungkinan selingkuh, Orang yang memiliki&amp;nbsp; varian tertentu&amp;nbsp; dari DRD4 cenderung untuk tidak setia dua kali lipat dari pasangannya. Gen DRD4 ini bekerja dengan&amp;nbsp; mempengaruhi kadar dopamin pada otak,&amp;nbsp; Rasa penasaran dan petualangan akan terasa menyenangkan, Rasa menyenangkan ini&amp;nbsp; akan&amp;nbsp; mensekresi hormon&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; merekamnya diotak,&amp;nbsp; terjadinya persis&amp;nbsp; seperti pemabuk yang ditawari minuman beralkohol tinggi sehingga melakukan&amp;nbsp; hubungan seks / perselingkuhan&amp;nbsp; yang tidak memiliki risiko tinggi dapat dengan mudah&amp;nbsp; ditempuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri paling mudah untuk mengetahuinya adanya DRD4 pada seseorang&amp;nbsp; :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memiliki orang tua yang pernah selingkuh,&amp;nbsp; Tidak commitment dan&amp;nbsp;&amp;nbsp; mudah bosan&amp;nbsp; pada pasangan, Berani mengambil resiko akibat perselingkuhan dan menganggap selingkuh adalah hal baru dan berbeda yang patut dicoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi hati-hati bagi pria atau wanita&amp;nbsp;&amp;nbsp; yang pasangannya&amp;nbsp; memiliki gen ini karena selingkuh bisa menurun pada anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang selingkuh karena factor genetic ini akan lebih sulit diperbaiki dibandingkan dengan orang yang selingkuh karena faktor internal lainnya&amp;nbsp; atau external.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi bagaimana cara mencegahnya&amp;nbsp; ? Susah “Gawan bayi” (bawaan dari Lahir)&amp;nbsp; di buang ke laut aja … persis seperti lagu Cewek matre 2x ke laut aje… karena Dinasehati, ditunjukkan kesalahan, Dibimbing&amp;nbsp; apalagi diancam bagi yang mepunyai keturunan gen DRD4 ini&amp;nbsp; tetap tidak akan berpengaruh,&amp;nbsp; selingkuh tetap jalan .&amp;nbsp; Jadi? ya sudah&amp;nbsp; buang saja ketempat sampah&amp;nbsp; tanpa melihat……&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kurang Syukur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasangan&amp;nbsp; yang kurang bersyukur kepada Allah atas apa saja yang diberikan Allah kepada dirinya akan menyebabkan selingkuh. Dengan selingkuh orang ini menganggap akan memperoleh yang terbaik dari yang sebelumnya padahal adalah SALAH BESAR karena pada dasarnya Allah telah memberikan yang terbaik bagi kita,&amp;nbsp; jika kurang tapi kita bersyukur Allah pasti menambahnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara mencegahnya: Memberi pengertian dengan sabar kepada pasangan untuk bersyukur dengan apa yang telah diberikan Allah kepada dirinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Birahi Tinggi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang memiliki nafsu birahi tinggi sedangkan suami / isterinya&amp;nbsp; tidak bisa memenuhinya cenderung melakukan perselingkuhan jika ada kesempatan, Orang ini&amp;nbsp; biasanya&amp;nbsp; hobi makan kenyang sehingga&amp;nbsp; membangkitan nafsu yang menyebabkan kerasnya&amp;nbsp; hati nurani sulit menerima kebaikan mudah melakukan perzinahan,&amp;nbsp; Birahi tinggi berhubungan dengan hormon adrenalin, Hormon&amp;nbsp; adrenalin akan naik ketika berhadapan dengan sosok wanita atau lelaki baru.&amp;nbsp; Inilah pemicu internal terjadinya&amp;nbsp; perselingkuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara mencegahnya : Banyak puasa terutama puasa senin kamis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Gengsi Tinggi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang mempunyai gengsi tinggi dengan tidak memandang pada kemampuan dirinya dan Suka&amp;nbsp; pada kemewahan tanpa usaha,&amp;nbsp; lebih mudah&amp;nbsp; untuk selingkuh demi mendapatkan apa yang menjadi keinginannya dengan cara cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara mencegahnya: Memberi pengertian dengan sabar kepada pasangannya untuk tidak mudah menerima pemberian orang lain tanpa mengetahui maksud dan tujuannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Kurangnya Iman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurangnya Iman bisa terjadi&amp;nbsp; jika pasangan&amp;nbsp; meninggalkan sholat dan tidak ada yang mengingatkan sholat secara rutin&amp;nbsp; sehingga Allah pun tidak melindungi&amp;nbsp; pasangan&amp;nbsp; untuk berbuat&amp;nbsp; selingkuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara mencegahnya : Diingatkan untuk tidak lupa beribadah misalnya meninggalkan&amp;nbsp; sholat dll&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Faktor Eksternal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor external adalah faktor dari luar yang akan mendorong orang berbuat selingkuh meskipun orang tersebut tidak memiliki bakat atau gen selingkuh (DRD4) tapi dengan adanya faktor ini perselingkuhan dapat terjadi, yang termasuk factor eksternal ini&amp;nbsp; adalah : Berduaan tanpa muhrim,&amp;nbsp; Kesempatan ,&amp;nbsp; Keadaan sepi , Pengawasan yang kurang, Kemajuan Tehknologi Komunikasi&amp;nbsp; dan Godaan setan .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-&amp;nbsp; Berduaan tanpa Muhrim adalah yang paling rawan yang menjadi penyebab terjadinya perselingkuhan. Berduaan tanpa muhrim tidak hanya berarti berduaan secara fisik tapi berduaan secara maya seperti sms, chatting&amp;nbsp; atau telpon juga termasuk dalam hal ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara mencegahnya : Tidak mengijinkan pasangan&amp;nbsp; berduaan dengan lawan jenis&amp;nbsp; tanpa muhrim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kesempatan, pasangan&amp;nbsp;&amp;nbsp; berbuat selingkuh menjadi lebih besar saat pria / wanita&amp;nbsp; sendirian&amp;nbsp; tidak bersama pasangannya sehingga mempunyai kesempatan berhubungan dengan orang&amp;nbsp; lain menjadi terbuka karena mempunyai banyak waktu luang yang seharusnya waktunya digunakan&amp;nbsp; bersama pasangannya dan keluarganya&amp;nbsp; dirumah , selain itu Bagi suami -isteri kegiatan dalam rumah yang bisa mengakibatkan perselingkuhan seperti sms, chatting&amp;nbsp; atau telpon dengan&amp;nbsp; calon selingkuhan tidak akan ada atau berkurang kesempatannya&amp;nbsp; jika pasangan&amp;nbsp; ada dirumah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara mencegahnya : Tidak membiarkan pasangan i sendirian tanpa ada saudara / teman yang mendampinginya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-&amp;nbsp; Sendiri (njomblo sementara) lebih cenderung membutuhkan hiburan. Jadi&amp;nbsp; jika tidak ada pasangan&amp;nbsp; bila ada kesempatan beresiko besar melakukan&amp;nbsp;&amp;nbsp; perselingkuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara mencegahnya : Sebaiknya pasangan tidak ditinggal sendirian terlalu lama tanpa saling berhubungan secara intensif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pengawasan yang kurang sangat berperan dalam terciptanya perselingkuhan,&amp;nbsp; Pria dan Wanita&amp;nbsp; dapat memberikan saran atau pengertian kepada pasangannya&amp;nbsp; jika dirasa menurut pengawasannya&amp;nbsp; suatu hubungan&amp;nbsp; berpotensi menimbulkan perselingkuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara mencegahnya : Pria / Wanita&amp;nbsp; memberikan pengawasan yang cukup pada pasangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kemajuan Tekhnologi Komunikasi. Handphone dan internet&amp;nbsp; adalah media komunikasi yang&amp;nbsp; paling efektif dalam kelangsungan hidup perselingkuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara mencegahnya : Lihat dan kenali tanda -tanda pasangan&amp;nbsp; selingkuh seperti : HP di password dan nada dering dimatikan,&amp;nbsp; sms tanpa kenal waktu dan tempat, menerima dan telephone&amp;nbsp; sembunyi2 atau di jawab langsung dimatikan, gugup saat ditanya atau pergi saat ditelpon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp; Godaan Setan Bagaimanapun juga setan tidak akan pernah berhenti menggoda suami atau isteri untuk selingkuh karena setan tahu dosa paling besar no.2 setelah sirik adalah perselingkuhan atau zina yang dilakukan oleh seseorang yang pernah menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara mencegahnya : Bagi wanita&amp;nbsp; memilih pakaian tertutup (berjilbab) dan Selalu berdoa kepada Allah agar dijauhkan dari godaan setan yang terkutuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu berhati-hatilah dalam memilih pasangan hidup, lihat dulu karakternya jangan sampai mengandung gen DRD4,&amp;nbsp; jika terlanjur ada&amp;nbsp; DRD4 bagi Pria&amp;nbsp;&amp;nbsp; lebih baik menikah&amp;nbsp; lagi jika mampu dan adil,&amp;nbsp; atau jika belum menikah cari yang lain dan bagi Wanita&amp;nbsp; tingkatkan kualitas diri agar mempunyai daya tawar bagi pasangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&amp;nbsp; &lt;a href="http://fath102.wordpress.com/2011/02/02/sebab-sebab-suami-isteri-selingkuh-dan-cara-mengatasinya/"&gt;http://fath102.wordpress.com/2011/02/02/sebab-sebab-suami-isteri-selingkuh-dan-cara-mengatasinya/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-1159819564002068222?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/1159819564002068222/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2012/02/cara-mencegah-pasangan-anda-selingkuh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/1159819564002068222'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/1159819564002068222'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2012/02/cara-mencegah-pasangan-anda-selingkuh.html' title='Cara  Mencegah Pasangan Anda Selingkuh dan Penyebab utamanya'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-4877533074822522600</id><published>2012-02-21T05:40:00.002+07:00</published><updated>2012-02-21T05:40:46.021+07:00</updated><title type='text'>Cara mengatasi,  Hukum dan Ciri  Suami  Istri selingkuh dalam Islam</title><content type='html'>Tidak mudah mengambil sikap yang tepat saat menghadapi suami atau isteri&amp;nbsp; selingkuh&amp;nbsp; karena&amp;nbsp; biasanya pasangan yang&amp;nbsp; baru ditinggal selingkuh merasa sangat sakit hati, marah, pikiran kalut&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; pada sebagian orang akan susah untuk berpikir jernih sehingga membutuhkan masukan positif dari orang lain, sedangkan jika salah curhat&amp;nbsp; (pada lawan jenis)&amp;nbsp; justru akan membuka jalannya perselingkuhan baru,&amp;nbsp; Semoga tulisan saya&amp;nbsp; ini dapat membantu&amp;nbsp; pembaca yang mengalami keadaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Definisi Selingkuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menyelesaikan permasalahan selingkuh perlu diperjelas dulu apa arti selingkuh. Selingkuh&amp;nbsp; dalam&amp;nbsp; Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya&amp;nbsp; adalah : suka menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan sendiri; tidak berterus terang; tidak jujur; curang; serong; 2 suka menggelapkan uang; korup; 3 suka menyeleweng .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hubungan perkawinan secara umum orang mengartikan selingkuh adalah zina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf sebelumnya, izinkan saya bertanya. Apakah anda sudah menikah dan hal diatas (perselingkuhan )&amp;nbsp; sedang terjadi&amp;nbsp; pada diri&amp;nbsp; anda atau pasangan anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda jawab: Ya,&amp;nbsp; Selamat ..!!&amp;nbsp; karena&amp;nbsp;&amp;nbsp; anda atau pasangan anda yang&amp;nbsp; berselingkuh akan mendapatkan&amp;nbsp; 7 kesempatan&amp;nbsp; “emas”&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kesempatan emas pertama yaitu sebagai Balon (Bakal calon) bahan sate di neraka, Jika&amp;nbsp; anda Wanita&amp;nbsp; “paling hanya” akan&amp;nbsp; ditusuk&amp;nbsp; tepat di kemaluan&amp;nbsp; dengan batang besi&amp;nbsp; kasar berwarna merah karena panasnya sebagai balasan bagi wanita yang suka&amp;nbsp; mengikuti nafsunya&amp;nbsp;&amp;nbsp; memasukkan “batang” yang tidak halal dikemaluannya,&amp;nbsp;&amp;nbsp; begitu juga&amp;nbsp; bagi laki-laki yang suka menjepitkan “batangnya”&amp;nbsp; di kemaluan yang tidak halal&amp;nbsp; akan mendapatkan hal yang hampir sama yaitu batang kemaluannya di neraka akan dijepit dengan penjepit besi yang sangat luarbiasa&amp;nbsp; panasmya, sehingga&amp;nbsp;&amp;nbsp; Wanita dan laki-laki pezina ini&amp;nbsp; akan menjerit-jerit dengan&amp;nbsp; suara yang sungguh sangat- sangat keras&amp;nbsp; karena sangat luar biasa rasa sakitnya akibat siksaan ini. Siksaan ini&amp;nbsp; akan&amp;nbsp; menyebabkan seluruh&amp;nbsp; kulit&amp;nbsp; kemaluan melepuh sampai kedalam dan akhirnya&amp;nbsp; badanpun menjadi ikut terbakar&amp;nbsp; karena sangat&amp;nbsp; panasnya besi tersebut,&amp;nbsp;&amp;nbsp; tapi&amp;nbsp; ” jangan khawatir”&amp;nbsp; kulit yang terbakar hangus akan diganti&amp;nbsp; dengan yang baru oleh Allah SWT,&amp;nbsp; yang perlu dikhawatirkan adalah : Siksaan tersebut akan&amp;nbsp; terjadi berulang ulang terus menerus tanpa ada&amp;nbsp; batas waktu akhirnya alias SIKSAAN ABADI (selamanya / kekal didalamnya),&amp;nbsp; setiap kali kulit rusak disiksa dan diganti normal lagi secara sekejab kemudian disiksa lagi&amp;nbsp; agar mereka merasakan azab.&amp;nbsp; Hal ini sesuai dengan&amp;nbsp; firman Allah dalam Alquran:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana..(QS An Nisa&amp;nbsp; 56)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan. (QS. An Nisa 14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi sebagian orang yang dangkal pengetahuan agamanya&amp;nbsp; gambaran siksa neraka itu seperti cerita dongeng pengantar tidur, tapi bagi yang mempunyai pengetahuan agama&amp;nbsp; pasti akan&amp;nbsp; berpikir dua kali untuk melakukan zina karena dia tahu&amp;nbsp; siksa neraka yang paling ringan adalah&amp;nbsp; sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An-Nu’man bin Basyir r.a. berkata: Aku telah mendengar Nabi SAW. bersabda: Sesungguhnya seringan-ringan siksa ahli neraka di hari kiamat, ialah orang yang di bawah telapak kakinya diletakkan bara api yang dapat mendidihkan otaknya. (HR Bukhari&amp;nbsp; Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda termasuk anggota&amp;nbsp; ”OSIS” ( Organisasi Suami Isteri Selingkuh bukan Organisasi Siswa Intra Sekolah lho.. )&amp;nbsp; dan belum mau keluar dari anggota serta&amp;nbsp;&amp;nbsp; berani&amp;nbsp;&amp;nbsp; menanggung resiko selingkuh,&amp;nbsp;&amp;nbsp; Nggak masalah..!&amp;nbsp; Lewati saja test berikut&amp;nbsp; agar&amp;nbsp; anda semakin yakin dengan keanggotaan anda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi wanita, Test bisa dilakukan dengan cara:&amp;nbsp; saat anda makan di warung sate atau ikan bakar,&amp;nbsp; anda bisa dekatkan tangan anda pada api pembakaran&amp;nbsp; dan rasakan…&amp;nbsp; jangan sampai anda merasa bahan sate atau ikan yang dibakar adalah anda sendiri&amp;nbsp; (meskipun akan begitu nantinya) atau diwaktu lain&amp;nbsp; saat anda berada didapur coba rasakan sesaat saat memasak ,&amp;nbsp; dekatkan&amp;nbsp; tangan anda pada api kompor .. rasakan .. itung -itung itu sebagai&amp;nbsp; “latihan kecil ”&amp;nbsp; untuk mendapatkan hadiah panas yang lebih besar lagi nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Laki-laki, Test bisa dilakukan dengan mendekatkan&amp;nbsp; tangan pada korek api gas&amp;nbsp; atau rokok menyala pada tangan anda dan rasakan&amp;nbsp; Jika tangan anda tahan panas dekatkan sumber panas lebih dekat lagi…&amp;nbsp; jika tangan anda tidak tahan panas&amp;nbsp; … saya sungguh heran jika&amp;nbsp; masih ada yang berani selingkuh ? kenikmatan farji perempuan atau bagi wanita “batang”&amp;nbsp; laki-laki yang tidak halal sungguh&amp;nbsp; tidak sebanding dengan siksa neraka yang harus ditanggung, Jika anda muslim anda pasti percaya isi Alquran itu 100% PASTI BENAR&amp;nbsp; ( QS.An Nisa ayat 14 &amp;amp;56 diatas ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dijaman sekarang ini sungguh&amp;nbsp; setan sudah sangat berkuasa atas manusia&amp;nbsp; karena banyak suami atau isteri tidak takut siksaan diatas bakal terjadi pada dirinya meskipun diingatkan dan masih&amp;nbsp; diberi kesempatan hidup&amp;nbsp; tetap saja tidak mau bertobat,&amp;nbsp; bahkan mungkin&amp;nbsp; masih ada yang berani tersenyum sinis membaca tulisan saya diatas ,&amp;nbsp; tapi tidak mengapa….&amp;nbsp;&amp;nbsp; apakah pezina sombong ini masih bisa tersenyum saat maut datang padanya dan tidak punya kesempatan lagi untuk bertobat Nasuha ( Tobat semurni-murninya / Benar-benar Tobat) .&amp;nbsp; Enggan bertobat atau mengulur-ulur waktu bertobat biasanya&amp;nbsp; terjadi pada laki-laki atau perempuan yang akal sehatnya telah ditutupi oleh nafsunya sendiri…. mereka berpikir selingkuh dan zina sudah umum dilakukan dan biasa terjadi pada orang lain&amp;nbsp; jadi tidak mengapalah hampir semua orang melakukan …. sehingga banyak temannya,&amp;nbsp; siksaan dahsyat pezina saat sakratul maut,&amp;nbsp; di alam&amp;nbsp; kubur dan di neraka pasti&amp;nbsp;&amp;nbsp; tidak akan&amp;nbsp;&amp;nbsp; terjadi.&amp;nbsp;&amp;nbsp; … Jelas itu adalah pikiran orang yang sangat tersesat jauh .. sahabat sejati setan penggoda lawan jenisnya…. Kasihan orang tua dari&amp;nbsp; pezina&amp;nbsp; ini&amp;nbsp; Bapak Ibunya&amp;nbsp; membesarkan dirinya dengan susah payah akhirnya hanya jadi pezina yang tidak peduli dengan siapapun kecuali pada pasangan zinanya…. Orang seperti ini memang pantasnya hanya di rajam sampai mati seperti pada jaman Rasullullah SAW baru akan sadar kalau dirinya telah salah jauh tersesat….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi bagi pezina yang sombong&amp;nbsp; membaca tulisan mengenai gambaran siksa seperti diatas&amp;nbsp; hanya akan ditanggapi&amp;nbsp;&amp;nbsp; biasa saja tanpa ada&amp;nbsp; rasa&amp;nbsp; khawatir sedikitpun…. tapi saya ingatkan sekali lagi… untuk sekarang ini siksaan tersebut memang belum bisa dirasakan&amp;nbsp; tapi&amp;nbsp;&amp;nbsp; tunggu tanpa&amp;nbsp; diminta….&amp;nbsp; setelah maut menjemput silahkan rasakan&amp;nbsp; akibatnya saat tiba awalnya adalah&amp;nbsp; sakratul maut kemudian&amp;nbsp; di liang kubur baru siksa di neraka,&amp;nbsp;&amp;nbsp; Saya jamin 1 triliun persen pasti para pezina ini akan sangat menyesal nantinya… tapi ya itu tadi …sayangnya&amp;nbsp; masih banyak&amp;nbsp; pezina yang diberi kesempatan hidup&amp;nbsp; dan diberi pengetahuan setelah membaca artikel ini masih tapi tetap saja&amp;nbsp; tidak mau bertobat… Khusus bagi yang belum menikah silahkan baca disini mungkin bisa jadi obatnya untuk tidak zina lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siksa neraka abadi itu pasti terjadi , Benar saya&amp;nbsp; tidak mengada-ada panasnya neraka jutaan kali dari panas yang ada dibumi . Dua kali lagi saya ingatkan Siksaan Paling Menyakitkan di Neraka&amp;nbsp;&amp;nbsp; PASTI TERJADI&amp;nbsp; bagi pezina sombong yang tidak mau bertobat,&amp;nbsp; Siksaan pedih dan abadi yang diceritakan di Al Quran 100% pasti benar, karena Alquran dijaga keasliannya oleh Allah SWT sendiri dari dulu sampai akhir zaman,&amp;nbsp; buktinya : sampai sekarang Alquran tidak pernah dapat dipalsukan satu hurufpun&amp;nbsp; jk sampai bisa dipalsukan&amp;nbsp; pasti akan s ketahuan dan tidak bertahan lama&amp;nbsp; karena&amp;nbsp; Alquran dapat dihafalkan oleh jutaan orang&amp;nbsp; yang tersebar diseluruh didunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kesempatan emas Kedua menerima&amp;nbsp; hadiah tanpa dipotong&amp;nbsp; pajak setelah mati&amp;nbsp; yaitu :&amp;nbsp; Siksa Kubur . tapi sayangnya&amp;nbsp; Hadiah Siksa kubur&amp;nbsp; ini&amp;nbsp; hanya berlaku sampai hari kiamat tiba,&amp;nbsp;&amp;nbsp; jadi anda tidak dapat menikmati selamanya seperti di Neraka,&amp;nbsp; Hadiah Siksa kubur bagi anggota “OSIS” akan lebih besar dibandingkan&amp;nbsp; bukan anggota “OSIS”&amp;nbsp; karena Selingkuh (Zina) adalah DOSA BESAR&amp;nbsp;&amp;nbsp; rangking 2 setelah dosa sirik.&amp;nbsp; Siksa kubur akan menimpa pezina dari pagi sampai petang setiap hari&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; sampai hari kiamat tiba sebagaimana firman Allah SWT menyiksa Firaun karena dosanya dalam surat Al Al Mu’min&amp;nbsp; ayat 45-46&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang , dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras”.” (QS. Al Mu’min: 45-46)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang dimaksud dengan Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang adalah siksaan di alam barzakh (alam kubur). ” (Fathul Qodir, 4/705)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam shahih Muslim, Zuhair bin Harb dan Ishaq bin Ibrahim menceritakan kepada kami, keduanya dari Jarir, Zuhair berkata, Jarir menceritakan kepada kami, dari Manshur, dari Abu Wa`il, dari Masruq, dari Aisyah yang berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada dua orang nenek tua dari kalangan Yahudi Madinah masuk menemuiku dan berkata, ‘Sesungguhnya penghuni kubur itu diazab dalam kubur mereka.’ Aku (Aisyah) mendustakan mereka dalam hal ini karena memang tidak mau percaya begitu saja kepada mereka. Mereka berdua akhirnya keluar, dan masuklah Rasulullah SAW kepadaku langsung aku tanyakan, ‘Wahai Rasulullah, dua orang nenek Yahudi tadi masuk kepadaku dan mengatakan bahwa penghuni kubur itu diazab dalam kubur mereka.&amp;nbsp; Rasulullah SAW bersabda, “Mereka benar, sesungguhnya penghuni kubur itu diazab dengan siksaan yang bisa didengar oleh binatang.” (Shahih Muslim, no. 586 dan&amp;nbsp; Shahih Al-Bukhari, no. 6366).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kesempatan emas Ketiga menerima Hadiah Belaian Sakratul Maut. Hadiah ketiga ini tentunya hanya dapat dinikmati sekali saja seumur hidup&amp;nbsp; sebagai awal atau hidangan pembuka bagi pezina sebelum menikmati hadiah-hadiah “nikmat”&amp;nbsp; lainnya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nikmatnya belaian sakratul maut dapat dibaca di Al Quran :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata):” Keluarkanlah nyawamu “. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya”. QS. al-An’am (6) : 93&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai kerongkongan. Dan dikatakan (kepadanya): “Siapakah yang dapat menyembuhkan”. Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan. Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan). Dan kepada Rabbmulah pada hari itu kamu dihalau”. Al Qiyamah: 26-30&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sedangkan rasa sakit sakratul maut dijelaskan oleh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abi Ad-Dunya rahimahullah meriwayatkan dari Syaddad bin Aus Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Kematian adalah kengerian yang paling dahsyat di dunia dan akhirat bagi orang yang beriman. Kematian lebih menyakitkan dari goresan gergaji, sayatan gunting, panasnya air mendidih di bejana. Seandainya ada mayat yang dibangkitkan dan menceritakan kepada penduduk dunia tentang sakitnya kematian, niscaya penghuni dunia tidak akan nyaman dengan hidupnya dan tidak nyenyak dalam tidurnya ”&amp;nbsp; Lihat Jami’u Al Bayan Fii Tafsiri Al Quran (26/100-101) dan Fathul Qadir (5/75).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakratul maut&amp;nbsp; dalam kitab Durratun Nasihin&amp;nbsp; digambarkan rasanya seperti dikuliti kulit tubuhnya dalam keadaan hidup,&amp;nbsp;&amp;nbsp; sungguh sangat sangat menyakitkan&amp;nbsp;&amp;nbsp; hanya saja bagi para pezina saat&amp;nbsp; sakratul maut&amp;nbsp; keadaan menyakitkan ini&amp;nbsp; tidak mudah untuk dilihat oleh orang umum kecuali oleh orang tertentu karena pezina&amp;nbsp; ini&amp;nbsp; tidak dapat berkata -kata sebab jiwanya sedang&amp;nbsp; dicabut dan&amp;nbsp; tidak dapat berinteraksi dengan menggerakkan tubuhnya kecuali matanya yang terbuka tidak terpejam karena terpana dengan hadiah yang bakal diterima&amp;nbsp; …Hi.hi.hi … Sungguh asyikkan&amp;nbsp; rasanya? beda dengan&amp;nbsp; berzina&amp;nbsp; yang rasanya&amp;nbsp; sungguh menyakitkan… (maaf terlabik)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kesempatan emas Keempat untuk dibunuh atau dirajam terutama bagi anda yang sudah menikah dan melakukan selingkuh (zina) apalagi zina dengan suami atau&amp;nbsp; isteri orang lain akan&amp;nbsp; lebih besar lagi kesempatannya&amp;nbsp; di bunuh oleh pasangan dari yang anda selingkuhi karena dalam Islam membolehkan hal&amp;nbsp; itu&amp;nbsp; meskipun secara hukum negara KUHP dilarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidak halal darah seorang muslim, kecuali karena salah satu dari tiga hal: orang yang berzina padahal ia sudah menikah, membunuh jiwa, dan orang yang meninggalkan agamanya lagi memisahkan diri dari jama’ah (kaum muslimin)’.” (HR Bukhâri&amp;nbsp; no.6878 dan Muslim 1676)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Kesempatan emas Kelima Berlibur Menginap Gratis di Hotel Prodeo selama 9 bulan alias Menginap di Penjara serta berurusan dengan Polisi jika suami atau istri selingkuhan sakit hati dan melaporkan perzinaan suami atau isterinya ke Polisi dengan membawa Bukti dan Saksi karena&amp;nbsp; selingkuh / zina&amp;nbsp; model ini adalah melanggar&amp;nbsp; Pasal 284 KUHP&amp;nbsp; yaitu termasuk kategori kejahatan dalam kesusilaan dengan ancaman hukuman 9 bulan kurungan penjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Kesempatan emas Keenam “Bercengkrama” Ribut Terus dengan Suami atau isteri dan berkesempatan berpisah dengan anak-anaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal dapat&amp;nbsp; dipastikan jika pezina&amp;nbsp; bercerai dan&amp;nbsp; melanjutkan hidup&amp;nbsp; dengan selingkuhannya sampai saat ini belum ada ceritanya&amp;nbsp; akan bahagia. Untuk sementara memang akan bahagia&amp;nbsp; tapi tidak selamanya karena&amp;nbsp; karena kejadian selingkuh akan terjadi berulang (selingkuh lagi dengan yang lain) atau karena faktor lain seperti&amp;nbsp; sifat&amp;nbsp; atau hal yang terbuka dan baru terlihat&amp;nbsp; setelah menjalani hidup dengan selingkuhannya . Banyak sekali contohnya untuk itu. Saat ini memang belum tapi nanti … tunggu buktikan sendiri.. pasti anda akan percaya 1000 %.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Kesempatan emas Ketujuh Mendapat Jaminan Hari Tua Tidak dihargai atau dirawat anak-anaknya karena&amp;nbsp; anak-anaknya akan sakit hati teringat ibunya yang&amp;nbsp; sengsara&amp;nbsp; ditinggal selingkuh&amp;nbsp; bapaknya begitu juga sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang menganggap selingkuh itu biasa asal tidak zina&amp;nbsp; padahal sebenarnya selingkuh model ini yang justru berbahaya karena dapat menjerumuskan orang baik menjadi pezina tanpa disadarinya karena hubungan berjalan secara normal alami, melibatkan emosi&amp;nbsp; dan saling membutuhkan, seperti berhubungan lewat telpon /sms&amp;nbsp; dengan lawan jenis tanpa sepengetahuan suami /isterinya apalagi sampai membicarakan hal yang dapat membangkitkan rangsangan nafsu.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hubungan ini akan menimbulkan ketergantungan dan penyakit hati (rindu) yang berakibat akan&amp;nbsp; mengurangi hak suami/ isterinya dan&amp;nbsp; menyakiti hati suami/ isteri&amp;nbsp; selain itu perbuatan ini juga akan membuka jalan zina, oleh karena itulah Allah SWT melarangnya sesuai dengan firman-Nya dalam Quran Surat Al Isro ayat&amp;nbsp; 32&amp;nbsp; yang menyebutkan perbuatan mendekati zina dilarang .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Selingkuh sampai terjadi Zina&amp;nbsp; akan terlalu besar dosanya,&amp;nbsp; Nabi Muhammad Sallahu Alaihi Wassalam sampai menghalalkan darah seorang muslim yang selingkuh&amp;nbsp; (zina)&amp;nbsp; untuk dibunuh jika pelaku sudah pernah&amp;nbsp; menikah (lihat hadist sahih dibawah) . Karena besarnya dosa itulah&amp;nbsp; Setan selalu berusaha dengan cara apapun&amp;nbsp; untuk mengajak seorang suami atau isteri&amp;nbsp; selingkuh dengan cara&amp;nbsp; memberikan&amp;nbsp; pandangan tipuan&amp;nbsp; agar orang lain lebih baik dari isteri atau suaminya ( kenyataannya memang&amp;nbsp; tidak ada suami/ isteri yang sempurna pasti ada kekurangannya), dan parahnya lagi&amp;nbsp;&amp;nbsp; setelah perselingkuhan&amp;nbsp; terjadi&amp;nbsp; justru&amp;nbsp; setan&amp;nbsp; yang akan memberitahu kepada pasangannya&amp;nbsp; adanya perselingkuhan tsb sehingga terjadi keributan dan akhirnya terjadi perceraian, itulah tujuan akhir dari Godaan setan untuk selingkuh yaitu Perceraian. Setelah pelaku selingkuh menjadi duda/ janda akan lebih bebas dan mudah tergoda nafsu sehingga terjadilah perzinahan abadi.&amp;nbsp; Jadi bagaimanapun juga selingkuh PASTI ketahuan bagaimanapun rapatnya menutupi perselingkuhan&amp;nbsp; karena&amp;nbsp; ketahuan adalah&amp;nbsp; bagian dari strategi utama setan menghancurkan pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selingkuh itu nikmat apapun bentuknya mau Selingkuh Ringan ataupun Selingkuh Berat&amp;nbsp; sama nikmatnya&amp;nbsp; bahkan akan terasa&amp;nbsp; lebih nikmat dari suami atau isteri sendiri meskipun hanya sekedar sms. SMS dari selingkuhan&amp;nbsp; akan&amp;nbsp; lebih nikmat dari suami/ isteri sendiri ini&amp;nbsp; karena ada SETAN yang ikut berperan didalamnya yang masuk dalam jiwa dan pikiran baik saat awal kenalan,&amp;nbsp; sms/ chatting berbicara, bersentuhan dan akhirnya&amp;nbsp; berzina. Setan akan ikut secara penuh didalamnya dan tidak akan pernah berhenti ikut campur sampai&amp;nbsp; manusia itu ada niat&amp;nbsp; berusaha sendiri secara keras dan meminta pertolongan Allah untuk bisa berhenti .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Langkah terbaik menghindari&amp;nbsp; / berhenti dari&amp;nbsp; perselingkuhan adalah tidak lagi menjalin komunikasi atau&amp;nbsp; berduaan dengan lawan jenisnya&amp;nbsp; tanpa didampingi&amp;nbsp; muhrim”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda masih melakukan selingkuh tetapi belum diketahui pasangan anda atau orang lain, saran saya&amp;nbsp; segera saja berterima kasih dan mohon ampun&amp;nbsp; kepada Allah karena Allah telah menutupi aib&amp;nbsp; anda,&amp;nbsp; segeralah berhenti dan bertobat kepada Allah selagi masih ada kesempatan&amp;nbsp; sebelum terbuka Aib dan ajal menjemput anda,&amp;nbsp; Jangan lupa terbukanya aib&amp;nbsp; akan&amp;nbsp; merubah&amp;nbsp;&amp;nbsp; kehidupan anda yang semula tenang dan terhormat menjadi gelisah dan memalukan apalagi jika sampai ajal terjadi sudah tidak ada kesempatan lagi untuk bertobat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Maha Pengasih dan Penyayang&amp;nbsp;&amp;nbsp; juga Maha Pengampun, jadi&amp;nbsp; apapun dosa kita&amp;nbsp; (kecuali sirik) jika kita mau&amp;nbsp; mohon ampun secara sungguh-sungguh pastilah Allah mengampuni kita .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Bagi yang belum menikah dan berzina&amp;nbsp; jangan khawatir anda masih bisa mendapatkan kesempatan emas 1,2 dan 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda jawab : Tidak. Bersyukurlah kepada Allah karena Allah telah melindungi&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; telah memberikan hati yang baik bagi anda. Semoga Allah selalu memberi ketetapan iman bagi anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhati-hatilah bergaul dengan lawan jenis&amp;nbsp; karena&amp;nbsp; setan dan para pembantunya dengan&amp;nbsp; berbagai cara akan selalu berusaha menjerumuskan kita untuk berbuat selingkuh / zina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum Al Quran dan Hadist&amp;nbsp; Sahih Bukhari Muslim tentang selingkuh / zina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Islam&amp;nbsp; perbuatan mendekati zina dilarang apalagi sampai zina sungguh sangat dilarang&amp;nbsp; oleh Allah, sesuai dengan firman Allah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.(QS. Al Isro&amp;nbsp; 32)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang mengaku beragama Islam dan&amp;nbsp;&amp;nbsp; melakukan zina&amp;nbsp; jika tahu&amp;nbsp; hukuman&amp;nbsp; Allah dan sesama muslim sangat berat , pasti akan menyesal seumur hidupnya dan&amp;nbsp; berpikir ribuan kali untuk melakukan zina karena pezina yang sudah pernah menikah, di Islam&amp;nbsp; tidak ada hukuman lain kecuali dibunuh atau dirajam sampai mati, beda bagi yang belum pernah menikah cukup di cambuk 100 kali tanpa belas kasihan, memang&amp;nbsp; Indonesia adalah&amp;nbsp; negara yang mempunyai penganut Islam terbesar di dunia (207juta / 88% islam ) dan tidak menggunakan syariat islam untuk memutuskan suatu perkara perzinaan,&amp;nbsp; tapi bagi muslim yang takut hukuman Allah di akhirat akan&amp;nbsp; jauh lebih&amp;nbsp; berat&amp;nbsp; daripada hukum&amp;nbsp; di dunia maka jika mampu pasti akan&amp;nbsp; melaksanakan hukuman ini atau setidaknya bertobat nasuha untuk perbuatan ini.&amp;nbsp; Saya hanya menyampaikan hal yang sebenarnya&amp;nbsp; hukuman Allah bagi pezina, coba perhatikan Al quran dan dijelaskan oleh&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hadist&amp;nbsp; Nabi SAW dibawah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik (QS. Al Maidah&amp;nbsp; 49)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Ini adalah) satu surat yang Kami turunkan dan Kami wajibkan (menjalankan hukum-hukum yang ada di dalam) nya, dan Kami turunkan di dalamnya ayat-ayat yang jelas, agar kamu selalu mengingatinya. Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman. QS. An Nuur&amp;nbsp; 1-2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat diatas&amp;nbsp; sangat&amp;nbsp; jelas perintah&amp;nbsp; Allah kepada Masyarakat muslim dan pezina yang wajib melaksanakan hukuman yang telah ditetapkan Allah&amp;nbsp; jika tidak ingin ditimpakan musibah karena hal tsb&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidak halal darah seorang muslim, kecuali karena salah satu dari tiga hal: orang yang berzina padahal ia sudah menikah, membunuh jiwa, dan orang yang meninggalkan agamanya lagi memisahkan diri dari jama’ah (kaum muslimin)’.” (HR Bukhâri&amp;nbsp; no.6878 dan Muslim 1676)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadist ini sangat jelas mengatakan seorang yang berzina dan ia telah menikah halal dibunuh selain pembunuh dan muslim yang murtad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang lelaki, yang sudah masuk Islam, datang kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam mengakui dirinya berbuat zina. Nabi berpaling darinya hingga lelaki tersebut mengaku sampai 4 kali. Kemudian beliau bertanya: ‘Apakah engkau gila?’. Ia menjawab: ‘Tidak’. Kemudian beliau bertanya lagi: ‘Apakah engkau pernah menikah?’. Ia menjawab: ‘Ya’. Kemudian beliau memerintah agar lelaki tersebut dirajam di lapangan. Ketika batu dilemparkan kepadanya, ia pun lari. Ia dikejar dan terus dirajam hingga mati. Kemudian Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam mengatakan hal yang baik tentangnya. Kemudian menshalatinya” (HR. Bukhari no. 6820)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadist ini juga&amp;nbsp; jelas mengatakan bahwa pezina yang sudah menikah hukumannya adalah di razam sampai mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ancaman hukum Allah dalam Al quran&amp;nbsp; dan diperjelas oleh Nabi SAW belum cukup untuk menghentikan perselingkuhan dan melakukan zina? Jika tidak mau bertobat, Lihat buktinya di&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kisah nyata 2 dihalaman dalam blog ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhati-hatilah jika sewaktu –waktu Allah&amp;nbsp; tanpa diketahui saatnya (mungkin nanti, besok malam atau lusa ) menyuruh malaikat izrail mencabut nyawa pezina sombong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya satu permintaan orang yang telah mati kepada Allah saat dikubur yaitu minta dihidupkan kembali di dunia untuk bertobat atas segala dosa-dosanya karena ia tahu hukuman yang ditimpakan Allah kepadanya akan sangat berat dan tidak akan mampu dirinya bertahan&amp;nbsp; tapi tetap saja&amp;nbsp; hukuman&amp;nbsp; diberikaan tanpa&amp;nbsp; tiada akhir dan berkesudahan. Tidak percaya ? Simak ayat&amp;nbsp; Al quran dibawah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan (QS. Al Mu’minuun&amp;nbsp; 99-100)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah untuk dijadikan pengetahuan bagi orang yang beriman untuk tidak melakukan perbuatan selingkuh atau zina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda – tanda suami / isteri&amp;nbsp;&amp;nbsp; selingkuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sering meninggalkan sholat&amp;nbsp; terutama subuh, mulai suka bohong&amp;nbsp; dan lupa akan tugas dan kewajibannya sebagai&amp;nbsp; suami /isteri dalam rumah tangga.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dalam keseharian tidak perhatian dan tidak&amp;nbsp; mesra dalam hubungan suami isteri jika bicara suka berbantahan banyak alasan&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pergi Pagi Pulang Malam&amp;nbsp; dan suka berlama –lama di pekerjaan dengan alasan lembur jika pergi keluar kantor tidak izin suami / isteri&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Mencari-cari alasan untuk bisa pergi keluar sendiri&amp;nbsp; dan tidak mau ditemani&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Handpone di password&amp;nbsp; jika dihidupkan suara ringtone&amp;nbsp; di silence&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jika bepergian sulit dihubungi atau jika bisa dihubungi hanya sebentar dan mati lagi serta mempunyai no hp lain tanpa sepengetahuan suami / isteri&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tidak mau putus hubungan dengan Handphone dan internet&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sibuk SMS dimana saja tanpa kenal waktu dan pergi saat menerima&amp;nbsp; telpon, jika ada anda&amp;nbsp; gugup dan akan bilang nanti saya hubungi atau telpon langsung dimatikan tanpa dijawab&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jika pulang dari bepergian akan langsung kebelakang untuk menghilangkan jejak perselingkuhan&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Biasanya cuek tapi tiba-tiba perhatian untuk menutupi perselingkuhan&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Beli pakaian baru yang tidak biasa, suka berdandan dan&amp;nbsp; memakai minyak wangi&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ada 1 lagi tapi ini rahasia karena pasti benar 100% selingkuh…. (silahkan comments saya kirim by email)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Note : Pastikan email anda di comments terisi dengan benar agar balasan&amp;nbsp; terkirim dengan baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara mengatasi Suami atau Istri yang selingkuh dalam Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengatasi suami atau isteri selingkuh kenali dulu tanda-tandanya untuk mencegah&amp;nbsp; perselingkuhan&amp;nbsp; selain itu perhatikan kurangnya kebutuhan lahir batin dari pasangannya, kurang perhatian dan meyepelekan&amp;nbsp; pasangan,&amp;nbsp; kondisi kejiwaan dan jauh dari suami/ isteri,&amp;nbsp; kemajuan teknologi serta&amp;nbsp; kurangnya pengawasan suami/isteri yang mendorong&amp;nbsp; terjadinya perbuatan&amp;nbsp; selingkuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun&amp;nbsp; untuk berselingkuh tergantung dari keimanan masing –masing pelakunya, akan tetapi bila tidak hati-hati kita&amp;nbsp; akan tergelincir dalam lingkaran perselingkuhan yang awalnya sama sekali&amp;nbsp;&amp;nbsp; tidak menginginkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; selalu ingat kepada Allah dengan tidak meninggalkan Shalat dan menjadi&amp;nbsp; suami / isteri soleh yang&amp;nbsp; berderajad tinggi bukan derajad Pelacur&amp;nbsp; selingkuh dapat dihindari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika suami atau isteri terlanjur selingkuh&amp;nbsp; jangan khawatir&amp;nbsp;&amp;nbsp; pasti ada jalan keluarnya asal selalu dekat dan yakin dan mau berusaha mencari jalan keluar dan beriktiar kepada Allah SWT pasti semua masalah akan selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika suami atau isteri :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Selingkuh Ringan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selingkuh ringan artinya suami/isteri&amp;nbsp; melakukan Perbuatan&amp;nbsp;&amp;nbsp; mendekati&amp;nbsp; zina belum zina yang sebenarnya&amp;nbsp; seperti : sms mesra , telpon mesra , chatting mesra,&amp;nbsp; ketemuan dan berduaan dengan laki / perempuan tanpa izin suami atau isterinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selingkuh Ringan adalah awal dari Selingkuh berat (Zina)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbuatan ini pasti akan menyakiti hati anda, merendahkan kehormatan serta menyepelekan anda.&amp;nbsp; Agar perselingkuhan model ini cepat terselesaikan dan tidak berkembang menjadi Selingkuh Berat&amp;nbsp; secepatnya&amp;nbsp; dilakukan perbaikan&amp;nbsp; hubungan dengan suami / istri&amp;nbsp;&amp;nbsp; yaitu&amp;nbsp; dengan cara melakukan diskusi&amp;nbsp; dari hati-kehati pada waktu dan suasana yang tepat agar maksud dan tujuan tercapai&amp;nbsp; caranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Benahi dulu kondisi mental&amp;nbsp; anda, Tidak perlu marah2&amp;nbsp; meskipun anda tahu semua itu adalah kesalahan suami / isteri bukan anda,&amp;nbsp;&amp;nbsp; marah&amp;nbsp; tidak akan&amp;nbsp; menyelesaikan masalah, tenangkan diri anda agar dapat berfikir jernih, tambah ibadah seperti&amp;nbsp; sholat&amp;nbsp; sunat rawatib, tahajjud, hajad dan berdzikir sebanyak-banyaknya agar hati menjadi tenang&amp;nbsp; serta buat kesibukan positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Sebelum berdiskusi,&amp;nbsp; koreksi diri anda sendiri dulu dan jawablah pertanyaan kenapa suami / isteri&amp;nbsp; anda selingkuh jika anda tahu jawabannya itulah solusinya. Coba ubah&amp;nbsp; diri anda dulu&amp;nbsp; sesuai&amp;nbsp; perkiraan kemauan suami / isteri&amp;nbsp; karena bagaimanapun juga suami / isteri&amp;nbsp; anda dulu mencintai anda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Pada waktu dan suasana yang tepat berdandalah yang rapi ganteng / cantik dan pakaian sexy, memakai parfum kesukaan suami /isteri tapi jangan berhubungan sexual dulu, tanyakan pada suami / isteri anda&amp;nbsp; alasan&amp;nbsp; dia selingkuh,&amp;nbsp; jika tidak mau mengungkapkan&amp;nbsp; pancing dengan mengatakan hal –hal yang paling tidak disukai dari suami / isteri yang tidak menyakti hati pasangan&amp;nbsp; agar dia mau mengungkapkan hal yang tidak disukai pada anda jadikan informasi ini sebagai tambahan koreksi terhadap diri anda sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Setelah suami / isteri&amp;nbsp; mengungkapkan seluruh isi hatinya, Minta maaflah anda karena bagaimanapun juga salah satu factor kekurangan diri anda menjadikan&amp;nbsp;&amp;nbsp; suami / isteri&amp;nbsp; anda selingkuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Katakan pada suami / isteri&amp;nbsp; bahwa&amp;nbsp; anda&amp;nbsp; janji akan merubah sikap anda begitu juga dengan&amp;nbsp; suami / isteri anda&amp;nbsp; diminta untuk berjanji mengubah perilakunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Nasehati dengan baik dan tambahkan perhatian serta kasih sayang serta&amp;nbsp; tanyakan apa yang diinginkan&amp;nbsp; pasangan agar bisa menghentikan perselingkuhan, berikan bimbingan&amp;nbsp; dengan cara yang baik usahakan ayat Al Quran dan Hadis diatas bisa dibaca atau dimengerti oleh suami / isteri&amp;nbsp; anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Ulangi buat perjanjian dengan suami atau isteri selingkuh yang isinya jika diulang lagi sampai batas tertentu anda tidak akan segan untuk menggugat cerai suami atau mencerai istri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Sambil menunggu waktu berlalu , cari informasi tentang&amp;nbsp; pasangan selingkuh&amp;nbsp; suami /isteri sebelum menuduh suami isteri selingkuh, catat no hp, alamat rumah maupun pekerjaan , datangi baik-baik dan minta tolong kepada pasangan selingkuh agar tidak mengganggu suami atau isterinya&amp;nbsp; buat perjanjian jika masih selingkuh akan di laporkan ke orang tuanya, suami / isterinya atau atasannya .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-&amp;nbsp; Jika masih saja tetap selingkuh ringan tanyakan pada suami / isteri&amp;nbsp; apakah masih ingin meneruskan perkawinan atau tidak beri waktu&amp;nbsp; untuk berfikir dan memutuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-&amp;nbsp; Jika sudah sampai 3 kali suami / isteri&amp;nbsp; tetap saja selingkuh ringan&amp;nbsp; jangan ragu untuk menggugat cerai karena sebenarnya suami atau isteri anda sudah zina yang sebenarnya .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Selingkuh Berat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika suami / isteri anda tidak&amp;nbsp; hanya selingkuh ringan&amp;nbsp; tapi sudah melakukan perbuatan zina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untuk Suami jangan ragu untuk segera menceraikan isteri anda&amp;nbsp; (Dalil menyusul ) , atau melaporkan perselingkuhan tersebut ke polisi atas pelanggaran Pasal 284 KUHP yaitu termasuk kategori kejahatan dalam kesusilaan atau perlakukan orang yang menyelingkuhi isteri anda menggunakan dalil hadist nabi diatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bagi Isteri yang suaminya selingkuh dan&amp;nbsp; tidak ingin mengajukan gugatan cerai pada suami, ada pahala dari Allah untuk kesabaran dan keikhlasan anda. Pertimbangkan dengan matang untuk mengambil sikap&amp;nbsp; jika suami selingkuh dengan melihat faktor :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sifat dasar suami dilihat dari ketekunan dan pengetahuan agama, komitmen, tanggung jawab, Sifat&amp;nbsp;&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; kemungkinan tidak berbuat selingkuh lagi serta kesungguhan suami untuk bertobat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kondisi diri pribadi anda seperti umur, kesempatan menikah lagi,&amp;nbsp;&amp;nbsp; ada tidaknya calon pengganti, status, jaminan hidup kedepan&amp;nbsp; dll&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Masa depan anak anda, kebahagiaan keluarga besar anda dan suami dll&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor – faktor diatas bisa membantu anda untuk mengambil keputusan jika suami selingkuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi&amp;nbsp; jika anda masih mencintai suami dan anda rela untuk berbagi dengan mempertimbangkan&amp;nbsp;&amp;nbsp; faktor diatas tidak ada salahnya anda memberi kesempatan pada suami untuk membina rumah tangga lagi karena secara Islam seorang&amp;nbsp; suami boleh beristeri lebih dari satu jika Mampu dan Adil sedangkan wanita tetap tidak boleh bersuami dua meskipun mampu dan adil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan&amp;nbsp; ketenangan batin dan ditunjukkan Allah&amp;nbsp; jalan terbaik&amp;nbsp;&amp;nbsp; mengatasi segala masalah yang ditimbulkan akibat suami / isteri selingkuh,&amp;nbsp; Islam memberikan&amp;nbsp; cara yang sangat MANJUR yaitu&amp;nbsp; Ikhlas&amp;nbsp; dengan apa yg diberikan Allah , Sholat Tahajjud di 1/3 malam terakhir (jam 02.30-03.30) malam) dan pagi-siang-sorenya melakukan zikir Ya Allah….. dan Sholawat Nabi : Sallahu ala Muhammad ….. sebanyak-banyaknya agar hati menjadi tenang…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga manfaat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&amp;nbsp; &lt;a href="http://fath102.wordpress.com/2011/01/27/cara-mengatasi-dan-ciri-suami-istri-selingkuh-dalam-islam/"&gt;http://fath102.wordpress.com/2011/01/27/cara-mengatasi-dan-ciri-suami-istri-selingkuh-dalam-islam/&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-4877533074822522600?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/4877533074822522600/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2012/02/cara-mengatasi-hukum-dan-ciri-suami.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/4877533074822522600'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/4877533074822522600'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2012/02/cara-mengatasi-hukum-dan-ciri-suami.html' title='Cara mengatasi,  Hukum dan Ciri  Suami  Istri selingkuh dalam Islam'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-6841540783083271928</id><published>2012-02-20T17:23:00.000+07:00</published><updated>2012-02-20T17:23:10.924+07:00</updated><title type='text'>Doa untuk orang sakit</title><content type='html'>&lt;span class="fbPhotoCaptionText"&gt;Marilah kita do'akan kaum muslimin, saudara kita, kakak, adik, ibu, ayah, nenek, kakek, teman, tetangga, dan semua kaum muslimin baik laki-laki maupun perempuan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fbPhotoCaptionText"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fbPhotoCaptionText"&gt;Disyariatkan membaca doa yang telah diajarkan Rasulullah saw apabila kita mendapatkan ujian sakit. Imam Bukhari – Muslim meriwayatkan hadits dari Aisyah ra: Bahwa Nabi saw pernah menjenguk keluarganya yang sakit , lalu beliau mengusapkan angan kanannya (ke daerah yang sakit) dan berdoa:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Allohumma Robbannaas azhibil ba’sa isyfihi wa antasy syaafi laa syifaa’an illa syifaa’uka syifaa’an yaa yughoodiru saqoman&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; (Ya Allah Robb sekalian manusia, hilangkanlah kesengsaraan ini dan sembuhkanlah ia. Karena sesungguhnya Engkau Maha Penyembuh dan tidak ada kesembuhan melainkan hanya dari-Mu yaitu kesembuhan yang tidak mennggalkan penyakit lagi.)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Hadits lain dari Imam Muslim dari Utsman bin Abul Ash bahwa ia mengadukan rasa sakit yang dideritanya kepada Rasulullah saw, maka beliau saw pun bersabda: Letakkanlah tanganmu diatas bagian tubuh yang terasa sakit itu dan ucapkanlah “Bismillah”, lalu bacalah sebanyak tujuh kali:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; A’uzu bi’izzatillahi wa qudrotihi min syarri maa ajidu wa uhaaziru&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; “Aku berlindung dengan kemuliaan dan kekuasaan Allah dari bencana penyakit yang kurasakan dan kucemaskan ini.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Kata Utsman: kulakukanlah seperti itu berkali-kali hingga Allah menghilangkan rasa sakitku. Selanjutnya akupun senantiasa menganjurkan keluargaku untuk melakukan hal yang sama (HR Muslim)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Itulah antara lain doa yang diajarkan kepada kita ketika sakit. Pada dasarnya kesembuhan itu hanya datang dari Allah dan hanya Allah-lah yang dapat menyembuhkan hambaNya yang sakit.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; BismillaahirRahmaanirRahii&lt;wbr&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;m&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; AllaahummaRabbannaas …… Ya Allah Tuhan Manusia&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Engkau Maha Penyayang …… sementara kami sedang mengalami kesulitan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Adzhibilba’sya isyfi. ……..sembuhkan kami dari penyakit kami dan hilangkan rasa sakit yang menyertai penyakit kami…..&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Sesungguhnya di balik rasa sakit yang kami derita,terdapat suatu penyakit di dalam diri. Dan jika kami telan obat penghilang rasa sakit , maka rasa sakit mungkin hilang, tetapi penyakit kami masih mungkin ada di dalam tubuh kami.. Padahal rasa sakit yang kami derita dapat Engkau jadikan sebagai penghapus dosa kami.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Karena itu…&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Ya Allah sembuhkan kami dan ampunilah dosa kami….&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Penyembuhan yang datang dari Engkau Ya Allah , adalah yang menyembuhkan penyakit sekaligus rasa sakit yang menyertainya&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; AntasySyaafii ….laasyifa’a illaa Syifaa’uka…&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Engkaulah Maha Penyembuh….. tiada kesembuhan sejati kecuali yang datang karenaMU&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Tolonglah kami dengan mendatangkan orang yang ahli mengobati kami….&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Tolonglah kami dengan mendatangkan orang yang tahu obat penyakit kami…&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Tolonglah kami dengan menunjukkan cara yang benar dalam pengobatan penyakit kami…………&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Sesungguhnya ahli pengobatan maupun obat yang tepat untuk kami , hanya akan datang karenaMU …yang hanya akan kami terima , jika Engkau meridhai….&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Syifaa’an laa yughaadiru saqamaa…….&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Ya Allah yang maha Penyayang, sembuhkan kami secara tuntas…..kesembuhan yang tidak membawa komplikasi rasa sakit atau penyakit lain….. , yaitu kesehatan yang datang karena ridhaMu. Kesehatan yang semakin meningkatkan ketakwaan kami.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Astaghfirullah Ya Gafur …..Astaghfirullah Ya Afuw……Astaghfirullah Ya Salam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-6841540783083271928?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/6841540783083271928/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2012/02/doa-untuk-orang-sakit.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/6841540783083271928'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/6841540783083271928'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2012/02/doa-untuk-orang-sakit.html' title='Doa untuk orang sakit'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-2262013869488806493</id><published>2012-02-18T10:25:00.003+07:00</published><updated>2012-02-18T10:25:46.321+07:00</updated><title type='text'>Kiat Mencari Jodoh</title><content type='html'>&lt;div class="dd_content_wrap"&gt;&lt;div class="wp-caption alignright" id="attachment_10057" style="width: 260px;"&gt;&lt;div class="wp-caption-text"&gt;&lt;span class="postedby"&gt;Oleh: &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/author/herliniamran/" title="Profil dari Hj. Herlini Amran, MA."&gt;Hj. Herlini Amran, MA.&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="wp-caption-text"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.dakwatuna.com/wp-content/uploads/love-love2.jpg?c13ed3" rel="shadowbox[sbpost-10055];player=img;" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;" title="love-love2"&gt;&lt;img alt="" class="size-medium wp-image-10057" height="205" src="http://www.dakwatuna.com/wp-content/uploads/love-love2-250x205.jpg?c13ed3" title="love-love2" width="250" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;dakwatuna.com – &lt;/b&gt;Allah telah menciptakan manusia berpasang-pasangan, supaya muncul suatu ketenangan, kesenangan, ketenteraman, kedamaian dana kebahagiaan. Hal ini tentu saja menyebabkan setiap laki-laki dan perempuan mendambakan pasangan hidup yang memang merupakan fitrah manusia, apalagi pernikahan itu merupakan ketetapan Ilahi dan dalam sunnah Rasul ditegaskan bahwa “Nikah adalah Sunnahnya”. Oleh karena itu Dinul Islam mensyariatkan dijalinnya pertemuan antara laki-laki dan perempuan dan selanjutnya mengarahkan pertemuan tersebut sehingga terlaksananya suatu pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dalam kenyataannya, untuk mencari pasangan yang sesuai tidak selamanya mudah. Hal ini berkaitan dengan permasalahan jodoh. Memang perjodohan itu sendiri suatu hal yang ghaib dan sulit diduga, kadang-kadang pada sebagian orang mudah sekali datangnya, dan bagi yang lain amat sulit dan susah. Bahkan ada kalanya sampai tua seseorang belum menikah juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena beberapa tahun akhir-akhir ini, kita melihat betapa banyaknya muslimah-muslimah yang menunggu kedatangan jodoh, sehingga tanpa terasa usia mereka semakin bertambah, sedangkan para musliminnya, bukannya tidak ada, mereka secara ma’isyah belum berani maju untuk melangkahkan kakinya menuju mahligai rumah tangga yang mawaddah wa rahmah. Kekhawatiran jelas tampak, di tengah-tengah perekonomian yang semakin terpuruk, sulit bagi mereka untuk memutuskan segera menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala ini merupakan salah satu dari problematika dakwah dewasa ini. Dampaknya kaum muslimah semakin membludak, usia mereka pelan namun pasti beranjak semakin naik.&lt;br /&gt;Untuk mencari solusinya, dengan tetap berpegangan kepada syariat Islam yang memang diturunkan untuk kemaslahatan manusia, beberapa kiat mencari jodoh dapat dilakukan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Yang paling utama dan lebih utama adalah memohonkannya pada Sang Khalik, karena Dialah yang menciptakan manusia berpasang-pasangan (QS.4:1). Permohonan kepada Allah SWT dengan meminta jodoh yang diridhoiNya, merupakan kebutuhan penting manusia karena kesuksesan manusia mendapatkan jodoh berpengaruh besar dalam kehidupan dunia dan akhirat seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Melalui mediator, antara lain:&lt;br /&gt;a. Orang tua. Seorang muslimah dapat meminta orang tuanya untuk mencarikannya jodoh dengan menyebut kriteria yang ia inginkan. Pada masa Nabi SAW, beliau dan para sahabat-sahabatnya segera menikahkan anak perempuan. Sebagaimana cerita Fatimah binti Qais, bahwa Nabi SAW bersabda padanya : Kawinlah dengan Usamah. Lalu aku kawin dengannya, maka Allah menjadikan kebaikan padanya dan keadaanku baik dan menyenangkan dengannya (HR. Muslim).&lt;br /&gt;b. Guru ngaji (murabbiyah). Jika memang sudah mendesak untuk menikah, seorang muslimah tidak ada salahnya untuk minta tolong kepada guru ngajinya agar dicarikan jodoh yang sesuai dengannya. Dengan keyakinan bahwa jodoh bukanlah di tangan guru ngaji. Ini adalah salah satu upaya dalam mencari jodoh.&lt;br /&gt;c. Sahabat dekat. Kepadanya seorang muslimah bisa mengutarakan keinginannya untuk dicarikan jodoh. Sebagai gambaran, kita melihat perjodohan antara Nabi SAW dengan Khadijah RA. Diawali dengan ketertarikan Khadijah RA kepada pribadi beliau yang pada saat itu berstatus karyawan pada perusahaan bisnis yang dipegang oleh Khadijah RA. Melalui Nafisah sebagai mediatornya akhirnya Nabi SAW menikahi Khadijah RA..&lt;br /&gt;d. Biro Jodoh. Biro jodoh yang Islami dapat memenuhi keinginan seorang muslimah untuk menikah. Dikatakan Islami karena prosedur yang dilakukan sesuai dengan syariat Islam. Salah satu di antaranya adalah Club Ummi Bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Langsung, dalam arti calon sudah dikenal terlebih dahulu dan ia berakhlaq Islami menurut kebanyakan orang-orang yang dekat dengannya (temannya atau pihak keluarganya). Namun pacaran tetap dilarang oleh Islam. Jika masing-masing sudah cocok maka segera saja melamar dan menikah. Kadang kala yang tertarik lebih dahulu adalah muslimahnya, maka ia dapat menawarkan dirinya kepada laki-laki saleh yang ia senangi tersebut (dalam hal ini belum lazim di tengah-tengah masyarakat kita). Seorang sahabiat pernah datang kepada Nabi SAW dan menawarkan dirinya pada beliau. Maka seorang wanita mengomentarinya, “Betapa sedikit rasa malunya.” Ayahnya yang mendengar komentar putrinya itu menjawab, “Dia lebih baik dari pada kamu, dia menginginkan Nabi SAW dan menawarkan dirinya kepada beliau.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah cerita bagus dikemukakan oleh Abdul Halim Abu Syuqqoh pengarang buku Tahrirul Mar’ah, bahwa ada seorang temannya yang didatangi oleh seorang wanita untuk mengajaknya menikah. Temannya itu merasa terkejut dan heran, maka wanita itu bertanya, “Apakah aku mengajak Anda untuk berbuat haram? Aku hanya mengajak Anda untuk kawin sesuai dengan sunnah Allah dan Rasul-Nya”. Maka terjadilah pernikahan setelah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua upaya tersebut hendaknya dilakukan satu persatu dengan rasa sabar dan tawakal tidak kenal putus asa. Di samping itu seorang muslimah sambil menunggu sebaiknya ia mengaktualisasikan kemampuannya. Lakukan apa yang dapat dilakukan sehingga bermanfaat bagi masyarakat dan dakwah. Jika seorang muslimah kurang pergaulan, bagaimana ia dapat mengenal orang lain yang ingin menikahinya.&lt;br /&gt;Barangkali perlu mengadakan evaluasi terhadap kriteria pasangan hidup yang ia inginkan. Bisa jadi standar ideal yang ia harapkan menyebabkan ia terlalu memilih-milih. Menikah dengan orang hanif (baik keagamaannya) merupakan salah satu alternatif yang perlu diperhatikan sebagai suatu tantangan dakwah baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, semua usaha yang telah dilakukan diserahkan kembali kepada Allah SWT. Ia Maha Mengetahui jalan kehidupan kita dan kepadaNyalah kita berserah diri. Wallahu A’lam bishowab. (hudzaifah/hdn)&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: medium none; color: black; overflow: hidden; text-align: left; text-decoration: none;"&gt;&lt;br /&gt;Sumber:  &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2010/11/10055/kiat-mencari-jodoh/#ixzz1mhTOholZ" style="color: #003399;"&gt;http://www.dakwatuna.com/2010/11/10055/kiat-mencari-jodoh/#ixzz1mhTOholZ&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-2262013869488806493?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/2262013869488806493/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2012/02/kiat-mencari-jodoh.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/2262013869488806493'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/2262013869488806493'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2012/02/kiat-mencari-jodoh.html' title='Kiat Mencari Jodoh'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-2650364513260165615</id><published>2012-02-18T10:22:00.004+07:00</published><updated>2012-02-18T10:27:34.391+07:00</updated><title type='text'>Hubungan Seksual Suami-Istri</title><content type='html'>&lt;div class="dd_content_wrap"&gt;&lt;div class="wp-caption alignright" id="attachment_13551" style="width: 260px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="wp-caption-text"&gt;&lt;span class="postedby"&gt;Oleh: &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/author/admin/" title="Profil dari Tim dakwatuna.com"&gt;Tim dakwatuna.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://www.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2011/07/pengantin2.jpg?c13ed3" rel="shadowbox[sbpost-13866];player=img;" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;" title="pengantin2"&gt;&lt;img alt="" class="size-medium wp-image-13551" height="205" src="http://www.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2011/07/pengantin2-250x205.jpg?c13ed3" title="pengantin2" width="250" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;dakwatuna.com – &lt;/b&gt;Sebenarnya, masalah hubungan antara suami-istri itu pengaruhnya amat besar bagi kehidupan mereka. Maka hendaknya mereka memerhatikan atau menghindari hal-hal yang dapat menyebabkan kerusakan dan kelangsungan hubungan suami-istri. Kesalahan yang bertumpuk dapat mengakibatkan kehancuran bagi kehidupan keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama Islam dengan nyata tidak mengabaikan segi-segi kehidupan manusia dan kehidupan berkeluarga, yang telah diterangkan tentang perintah dan larangannya. Semua telah tercantum dalam ajaran-ajaran Islam, misalnya mengenai akhlak, tabiat, suluk, dan sebagainya. Tidak ada satu hal pun yang diabaikan (dilalaikan).&lt;br /&gt;Islam telah menetapkan pengakuan bagi fitrah manusia dan dorongannya akan seksual, serta ditentangnya tindakan ekstrim yang condong menganggap hal itu kotor. Oleh karena itu, Islam melarang bagi orang yang hendak menghilangkan dan memfungsikannya dengan cara menentang orang yang berkehendak untuk selamanya menjadi bujang dan meninggalkan sunnah Nabi SAW, yaitu menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi SAW telah menyatakan sebagai berikut: “Aku lebih mengenal Allah daripada kamu dan aku lebih khusyuk, kepada Allah daripada kamu. Tetapi aku bangun malam, tidur, berpuasa, tidak berpuasa dan menikahi wanita. Maka barangsiapa yang tidak senang (mengakui) sunnahku, maka dia bukan termasuk golonganku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam telah menerangkan terhadap kedua pasangan setelah pernikahan, mengenai hubungannya dan masalah-masalah seksual. Bahkan mengerjakannya dianggap suatu ibadat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana dikatakan Nabi SAW, “Di kemaluan kamu ada sedekah (pahala).” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah ketika kami bersetubuh dengan istri akan mendapat pahala?” Rasulullah SAW menjawab, “Ya. Andaikata bersetubuh pada tempat yang dilarang (diharamkan) itu berdosa. Begitu juga dilakukan pada tempat yang halal, pasti mendapat pahala. Kamu hanya menghitung hal-hal yang buruk saja, akan tetapi tidak menghitung hal-hal yang baik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan tabiat dan fitrah, biasanya pihak laki-laki yang lebih agresif, tidak memiliki kesabaran dan kurang dapat menahan diri. Sebaliknya wanita itu bersikap pemalu dan dapat menahan diri.&lt;br /&gt;Karenanya diharuskan&amp;nbsp; bagi&amp;nbsp; wanita&amp;nbsp; menerima&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; menaati panggilan suami. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits, “Jika si istri dipanggil oleh suaminya karena perlu, maka supaya segera datang, walaupun dia sedang masak.” (HR Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi SAW menganjurkan supaya si istri jangan sampai menolak kehendak suaminya tanpa alasan, yang dapat menimbulkan kemarahan atau menyebabkannya menyimpang ke jalan yang tidak baik, atau membuatnya gelisah dan tegang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi SAW bersabda, “Jika suami mengajak tidur si istri lalu dia menolak, kemudian suaminya marah kepadanya, maka malaikat akan melaknat dia sampai pagi.” (Muttafaq Alaih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan yang demikian itu jika dilakukan tanpa uzur dan alasan yang masuk akal, misalnya sakit, letih, berhalangan, atau hal-hal yang layak. Bagi suami, supaya menjaga hal itu, menerima alasan tersebut, dan sadar bahwa Allah SWT adalah Tuhan bagi hamba-hamba-Nya Yang Maha Pemberi Rezeki dan Hidayat, dengan menerima uzur hambaNya. Dan hendaknya hamba-Nya juga menerima uzur tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, Islam telah melarang bagi seorang istri yang berpuasa sunnah tanpa seizin suaminya, karena baginya lebih diutamakan untuk memelihara haknya daripada mendapat pahala puasa. Nabi SAW bersabda, “Dilarang bagi si istri (puasa sunnah) sedangkan suaminya ada, kecuali dengan izinnya.” (Muttafaq Alaih)&lt;br /&gt;Disamping dipeliharanya hak kaum laki-laki (suami) dalam Islam, tidak lupa hak wanita (istri) juga harus dipelihara dalam segala hal. Nabi SAW menyatakan kepada laki-laki (suami) yang terus-menerus puasa dan bangun malam. Beliau bersabda, “Sesungguhnya bagi jasadmu ada hak dan bagi keluargamu (istrimu) ada hak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hamid Al-Ghazali, ahli fiqih dan tasawuf, dalam kitab Ihya’ mengenai adab bersetubuh, berkata, “Disunnahkan memulainya dengan membaca basmalah dan berdoa, sebagaimana diajarkan Nabi SAW, “Ya Allah, jauhkanlah aku dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau berikan kepadaku.”&lt;br /&gt;Al-Ghazali berkata, “Dalam&amp;nbsp; suasana ini (akan bersetubuh) hendaknya didahului dengan kata-kata manis, bermesra-mesraan dan sebagainya. Dan menutup diri mereka dengan selimut, jangan telanjang menyerupai binatang. Sang suami harus memelihara suasana dan menyesuaikan diri, sehingga kedua pasangan sama-sama dapat menikmati dan merasa puas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ibnul Qayyim, tujuan utama dari jimak (bersetubuh) itu adalah: 1) Dipeliharanya nasab (keturunan), sehingga mencapai jumlah yang ditetapkan menurut takdir Allah. 2) Mengeluarkan air yang dapat mengganggu kesehatan badan jika ditahan terus. 3) Mencapai maksud dan merasakan kenikmatan, sebagaimana&amp;nbsp; kelak di surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditambah lagi mengenai manfaatnya, yaitu menundukkan pandangan, menahan nafsu, menguatkan jiwa dan agar tidak berbuat serong bagi kedua pasangan.&lt;br /&gt;Nabi SAW bersabda, “Wahai para pemuda, barangsiapa yang mampu melaksanakan pernikahan, maka hendaknya menikah. Sesungguhnya hal itu menundukkan penglihatan dan memelihara kemaluan.”&lt;br /&gt;Kemudian Ibnul Qayyim berkata,&amp;nbsp; “Sebaiknya sebelum bersetubuh hendaknya diajak bersenda-gurau dan menciumnya, sebagaimana Rasulullah SAW melakukannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini semua menunjukkan bahwa para ulama dalam usaha mencari jalan baik tidak bersifat konservatif. Bahkan tidak kalah kemajuannya daripada penemuan-penemuan atau pendapat masa kini.&lt;br /&gt;Yang dapat disimpulkan di sini adalah bahwa sesungguhnya Islam telah mengenal hubungan seksual di antara kedua pasangan, suami-istri, yang telah diterangkan dalam Alquranul Karim pada surah Al-Baqarah, yang ada hubungannya dengan peraturan keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah SWT:&amp;nbsp;&lt;i&gt;“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari puasa, bercampur dengan istri-istri kamu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasannya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu, Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah kamu, hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedangkan kamu beriktikaf dalam masjid. Itulah larangan&amp;nbsp; Allah, maka janganlah kamu mendekatinya…”&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(QS Al-Baqarah: 187).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada kata yang lebih indah, serta lebih benar, mengenai hubungan antara suami-istri, kecuali yang telah disebutkan, yaitu:&amp;nbsp;&lt;i&gt;“Mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.”&amp;nbsp;&lt;/i&gt;(QS Al-Baqarah: 187)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada ayat lain juga diterangkan, yaitu:&amp;nbsp;&lt;i&gt;“Mereka bertanya kepadamu tentang haid, katakanlah: Haid itu adalah suatu kotoran. Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri. Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu itu dengan cara bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan takwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.”&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(QS Al-Baqarah: 222-223)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, semua hadis yang menafsirkan bahwa dijauhinya yang disebut pada ayat di atas, hanya masalah persetubuhan saja. Selain itu, apa saja yang dapat dilakukan, tidak dilarang.&lt;br /&gt;Pada ayat di atas disebutkan:&amp;nbsp;&lt;i&gt;“Maka, datangilah tanah tempat bercocok tanammu dengan cara bagaimanapun kamu kehendaki.”&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(QS Al-Baqarah: 223)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak&amp;nbsp; ada suatu perhatian yang melebihi daripada disebutnya masalah dan undang-undang atau peraturannya dalam Alquranul Karim secara langsung, sebagaimana diterangkan di atas. (cr01/RoL)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Fatwa Qaradhawi&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: medium none; color: black; overflow: hidden; text-align: left; text-decoration: none;"&gt;&lt;br /&gt;Sumber:  &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2011/08/13866/hubungan-seksual-suami-istri/#ixzz1mhSqbkKN" style="color: #003399;"&gt;http://www.dakwatuna.com/2011/08/13866/hubungan-seksual-suami-istri/#ixzz1mhSqbkKN&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-2650364513260165615?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/2650364513260165615/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2012/02/hubungan-seksual-suami-istri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/2650364513260165615'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/2650364513260165615'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2012/02/hubungan-seksual-suami-istri.html' title='Hubungan Seksual Suami-Istri'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-1749214363277290361</id><published>2012-02-18T10:17:00.003+07:00</published><updated>2012-02-18T10:29:07.279+07:00</updated><title type='text'>Mendidik Anak Meraih Sukses Keluarga</title><content type='html'>&lt;div class="dd_content_wrap"&gt;&lt;span class="postedby"&gt;Oleh: &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/author/bugi/" title="Profil dari Mochamad Bugi"&gt;Mochamad Bugi&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="postedby"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Posisi anak dalam keluarga ada dua. Pertama, sebagai penyambung generasi –lihat QS. Al-Anbiya (21): 89. Sebagai penyambung generasi, anak menjadi pewaris karya yang dihasilkan orang tuanya –lihat QS. 19: 6.—dan penyejuk jiwa orang tuanya –lihat QS. Al-Furqan (25): 74. Yang kedua, sebagai pelanjut tugas dan cita-cita orang tuanya –lihat QS. Al-Furqan (25): 74.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlakuan orang tua terhadap anaknya sangat dipengaruhi oleh dua faktor. Pertama, faktor harapan dan cita-cita berkeluarga kedua orang tuanya. Cita-cita adalah harapan tertinggi yang sangat ingin diraih yang diupayakan dengan rencana dan segala kemampuan yang paling maksimal. Sebab, membentuk keluarga bukanlah tujuan, tapi sarana untuk mencapai sebuah tujuan. Karena itu, pastikan Anda tidak salah dalam menetapkan cita-cita berkeluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor yang kedua adalah kesadaran untuk melaksanakan tugas terpenting dalam berkeluarga. Apakah tugas terpenting dalam berkeluarga itu? Allah swt. menyebebutkan dalam QS. At-Tahrim (66): 6, “&lt;i&gt;Hai orang-orang yang beriman,                                                                     peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras,                                     mereka tidak mendurhakai Allah dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, keluarga sukses adalah keluarga yang di dunia berhasil menjalankan misi&lt;u&gt; &lt;/u&gt;sebagai pemimpin orang yang bertakwa dan di akhirat, berhasil mencapai visinya terbebas dari neraka. Inilah makna dari doa yang kita pinta: &lt;i&gt;rabbana aatinaa fiid dunya hasanah wa fiil akhirati hasanah wa qinaa ‘adzaaban naar&lt;/i&gt;. Ya Tuhan kami, berilah kami kebahagiaan di duniah dan kebahagiaan di akhirat; dan jauhkan kami dari api neraka. Allah swt. berfirman, “Maka barangsiapa yang telah dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah sukses.” [QS. Ali Imran (3): 185]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk meraih kesuksesan dalam berkeluarga, posisi anak menjadi penting. Jadikan anak sebagai aset penting untuk meraih sukses keluarga. Perlakukan dan persiapkan mereka agar mampu menjadi pemimpin umat dan bangsa; perlakukan dan bekali mereka agar mampu menjadi penyelamat orang tua dan keluarganya dari neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua ciri yang menandakan bahwa Anda telah merasakan anak Anda adalah aset penting keluarga, yaitu:&lt;br /&gt;1.      Jika ada rasa khawatir jika anak yang dititipan Allah kepada Anda tidak menjadi seperti yang diamanahkan.&lt;br /&gt;2.      Jika ada rasa cemas jika anak yang sebagai modal berharga untuk meraih sukses keluarga menjadi sia-sia tidak berguna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah swt. pun menyuruh kita, orang tua, punya rasa khawatir terhadap anak-anak kita. “&lt;i&gt;Dan hendaklah takut (cemas) orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap keadaan mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar&lt;/i&gt;.” [QS. An-Nisa (4): 9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ayat itu juga Allah swt. memberi resep kepada kita agar tidak meninggalkan anak-anak yang lemah. Resepnya adalah tingkatkan kapasitas moral kita dengan bertakwa kepada Allah, menambah kapasitas konsepsional kita sehingga kita mampu berkata yang benar (&lt;i&gt;qaulan sadiidan&lt;/i&gt;), dan perbaiki kualitas amal kita (&lt;i&gt;tushlihu’ ‘amal&lt;/i&gt;). [Lihat QS. Al-Ahzab (33): 70-71]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resep itu harus dilakukan secara bersama-sama dalam keluarga, bukan sendiri-sendiri. Ini terlihat dari ayat itu ditulis Allah swt. dengan bentuk jamak. Jadi klop dengan prinsip &lt;i&gt;ta’awun alal birri wat taqwa&lt;/i&gt; (tolong menolong dalam ketakwaan) dan &lt;i&gt;al-mu’minuna wal mu’minaat ba’duhum auliyaa’u ba’d&lt;/i&gt; (lelaki yang beriman dan wanita yang beriman mereka satu sama lain saling bantu-membantu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Step to step&lt;/i&gt;-nya seperti ini. Mulailah kedua orang tua, yaitu kita, memperbaiki diri. Lalu, hadirkan untuk anak Anda lingkungan terbaik dan hindarkan mereka dari lingkungan yang merusak. Beri mereka makanan yang terjamin gizi dan kehalalannya. Berikan pendidikan yang berkualitas sesuai dengan visi dan misi keluarga. Tentu saja siapkan anggaran yang cukup. Setelah itu, bertawakalah kepada Allah swt. Doakan selalu anak Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam memberikan pendidikan kepada anak, yang harus menjadi titik tekan adalah:&lt;br /&gt;1.      Mengikatnya dengan (suasana) Al-Qur’an&lt;br /&gt;2.      Menjadikannya terus menerus merasa dalam pengawasan Allah swt.&lt;br /&gt;3.      Menumbuhkan cinta kepada Nabi saw., keluarga dan para sahabatnya. Menjadikan mereka sebagai sumber panutan dan rujukan hidup&lt;br /&gt;4.      Membiasakannya mencintai segala hal yang diridhai Allah; dan menjadikanya benci terhadap yang dimurkai Allah.&lt;br /&gt;5.      Membekalinya dengan keterampilan memimpin dan berjuang.&lt;br /&gt;6.      Membekalinya dengan keterampilan hidup.&lt;br /&gt;7.      Membekalinya dengan keterampilan belajar.&lt;br /&gt;8.      Menjadikannya mampu menggunakan berbagai sarana kehidupan (sain dan teknologi).&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: medium none; color: black; overflow: hidden; text-align: left; text-decoration: none;"&gt;&lt;br /&gt;Sumber:  &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2007/09/254/mendidik-anak-meraih-sukses-keluarga/#ixzz1mhRYg2Nj" style="color: #003399;"&gt;http://www.dakwatuna.com/2007/09/254/mendidik-anak-meraih-sukses-keluarga/#ixzz1mhRYg2Nj&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: medium none; color: black; overflow: hidden; text-align: left; text-decoration: none;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-1749214363277290361?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/1749214363277290361/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2012/02/mendidik-anak-meraih-sukses-keluarga.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/1749214363277290361'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/1749214363277290361'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2012/02/mendidik-anak-meraih-sukses-keluarga.html' title='Mendidik Anak Meraih Sukses Keluarga'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-3937530137514488218</id><published>2012-02-18T10:15:00.000+07:00</published><updated>2012-02-18T10:30:53.862+07:00</updated><title type='text'>Dahsyatnya Khasiat Wudhu</title><content type='html'>&lt;div class="dd_content_wrap"&gt;&lt;a href="http://www.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2008/07/wudhu.jpg?c13ed3" rel="shadowbox[sbpost-5907];player=img;" title="wudhu"&gt;&lt;img alt="" class="alignright size-full wp-image-851" height="200" src="http://www.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2008/07/wudhu.jpg?c13ed3" style="float: right; margin: 5px;" title="wudhu" width="250" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="postedby"&gt;Oleh: &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/author/wali/" title="Profil dari Ahmad Wali Radhi"&gt;Ahmad Wali Radhi&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="postedby"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;Dakwatuna.com -&lt;/b&gt; Wudhu adalah ritual yang mengutamakan unsur kesehatan. Bagian-bagian yang dibasuh merupakan titik-titik penting peremajaan tubuh. Di lain pihak juga merupakan pintu masuk bagi ribuan kuman,virus, dan bakteri. Bagaimana wudhu menangkalnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Stimulasi Titik Biologis&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah artikel yang ditulis Dr. Magomedov,asisten pada lembaga General Hygiene and Ecology di Daghestan State Medical Academy dijelaskan bagaiman wudhu dapat menstimulasi/merangsang irama tubuh alami. Rangsangan ini muncul pada seluruh tubuh,khususnya pada area yang disebut Biological Active Spots (BASes) atau titik-titk aktif biologis. Menurut riset ini,BASes mirip dengan titik-titik refleksologi Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bedanya,terang Dr. Magomedov,untuk menguasai titik-titik refleksi Cina dengan tuntas paling tidak dibutuhkan waktu 15-20 tahun. Bandingkan dengan praktik wudhu yang sangat sederhana. Keutamaan lainnya,refleksologi hanya berfungsi menyembuhkan sedangkan wudhu sangat efektif mencegah masuknya bibit penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut peneliti yang juga menguasai ilmu refleksologi Cina ini,61 dari 65 titik refleks Cina adalah bagian tubuh yang dibasuh air wudhu. Lima lainnya terletak antara tumit dan lutut,dimana bagian ini juga merupakan area wudhu yang tidak diwajibkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem metabolisme tubuh manusia terhubung dengan jutaan saraf yang ujungnya tersebar di sepanjang kulit. Guyuran air wudhu dalam konsep pengobatan modern adalah hidromassage alias pijat dengan memanfaatkan air sebagai media penyembuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membasuh area wajah misalnya,pijatan air akan memberi efek positif pada usus,ginjal, dan sisitem saraf maupun reproduksi. Membasuh kaki kiri berefek positif pada kelenjat pituitari. Di telinga terdapat ratusan titik biologis yang akan menurunkan tekanan darah dan mengurangi sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Hancurkan Penyusup&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sudut pandang pengobatan medis,Mokhtar Salem dalam bukunya Prayers: a Sport for the Body and Soul menjelaskan bahwa wudhu bisa mencegah kanker kulit. Jenis kanker ini lebih banyak disebabkan oleh bahan-bahan kimia yang setiap hari menempel dan terserap oleh kulit. Cara paling efektif mengeyahkan resiko ini adalah membersihkannya secara rutin. Berwudhu lima kali sehari adalah antisipasi yang lebih dari cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Salem,membasuh wajah meremajakan sel-sel kulit muka dan membantu mencegah munculnya keriput. Selain kulit,wudhu juga meremajakan selaput lendir yang menjadi gugus depan pertahanan tubuh. Peremajaan menjadi penting karena salah satu tugas utama lendir ibarat membawa contoh benda asing yang masuk kepada 2 senjata pamungkas yang sudah dimilki oleh manusia secara alami,limfosit T(sel T) dan limfosit B(sel B).Keduanya bersiaga di jaringan limfoid dan sistem getah bening serta mampu menghancurkan penyusup yang berniat buruk terhadap tubuh. Bayangkan jika fungsi mereka terganggu. Sebaliknya, wudhu meningkatkan daya kerja mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu masuk lain yang tak kalah penting adalah lubang hidung. Dalam wudhu disunnahkan menghirup air kedalam hidung dan kemudian mengeluarkannya. Cara ini adalah penangkal efektif ISPA (infeksi saluran pernapasan akut),TBC, dan kanker nasofaring secara dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sebagai seorang muslim sangat dianjurkan untuk selalu mengambil air wudhu ketika sedang berhadast. Tidak hanya pada waktu sholat,tetapi juga di waktu yang lain. Salah satunya ketika hendak membaca Al-Qur’an,setelah mengantarkan jenazah,bangun dari tidur ataupun ketika sedang mengantuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain fungsi fisiologis,wudhu juga efektif mengendalikan emosi. Setiap kali mersa ingin marah, seorang muslim sangat dianjurkan untuk mengambil air wudhu untuk mendinginkan pikiran dan menentramkan hati. Apa pun yang yang telah diperintahkan oleh Allah tentu memberi banyak manfaat dan solusi tanpa meninggalkan resiko.Oleh karenanya,mari sebagai seorang muslim kita budayakan kebiasaan untuk selalu berwudhu dalam keseharian kita.Allah sangat mencintai orang-orang yang selalu membersihkan diri.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: medium none; color: black; overflow: hidden; text-align: left; text-decoration: none;"&gt;&lt;br /&gt;Sumber:  &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2010/03/5907/dahsyatnya-khasiat-wudhu/#ixzz1mhQoIFv9" style="color: #003399;"&gt;http://www.dakwatuna.com/2010/03/5907/dahsyatnya-khasiat-wudhu/#ixzz1mhQoIFv9&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: medium none; color: black; overflow: hidden; text-align: left; text-decoration: none;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-3937530137514488218?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/3937530137514488218/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2012/02/dahsyatnya-khasiat-wudhu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/3937530137514488218'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/3937530137514488218'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2012/02/dahsyatnya-khasiat-wudhu.html' title='Dahsyatnya Khasiat Wudhu'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-5308737300596691306</id><published>2012-02-18T10:00:00.002+07:00</published><updated>2012-02-18T10:00:30.676+07:00</updated><title type='text'>Menikmati Pernikahan</title><content type='html'>&lt;div class="cleaner"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="cover" style="margin-left: 5px;"&gt;&lt;a href="http://www.fimadani.com/menikmati-pernikahan/" rel="bookmark" title="Menikmati Pernikahan"&gt;&lt;img alt="Menikmati Pernikahan" height="340" src="http://3.bp.blogspot.com/-bad3Da-eEqg/TiHv28UfH-I/AAAAAAAAAsI/1xXAuQxIZZ8/s1600/muslim_wedding_hands.jpg" width="560" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="credits"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; margin-top: 5px;"&gt;&lt;div class="fb-like fb_edge_widget_with_comment fb_iframe_widget" data-href="http://www.fimadani.com/menikmati-pernikahan/" data-send="true" data-show-faces="false" data-width="560"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Kepada Suami&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;jangan beri aku bunga&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;lalai aku nanti&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;memandanginya dan menciumi&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;wanginya&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;jangan pula kau beri aku&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;setumpuk busa berwarna biru&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;sibuk nanti aku&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;membaca novel seraya menikmati empuknya&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;tak usah pula kau hadiahi aku&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;dengan sebatang coklat&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;yang rasanya memabukkan&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;karena akan rusak gigiku&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;dan mencuri waktuku&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;biarkan aku bercanda dengan mautku&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;karena aku tak tahu lagi&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; kapan ia hendak menjemputku&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;Menjadi istri, dan juga menjadi suami, adalah proses pembelajaran yang terus menerus. Ia tak sekedar membutuhkan naluri, insting atau apapun namanya, tetapi ia membutuhkan banyak hal yang mendukungnya untuk senantiasa siap dalam kondisi belajar. Belajar tentang apapun juga, agar pernikahan&amp;nbsp; sebagai sebuah tangga pendakian&amp;nbsp; menjadi pengantar yang mengasyikkan untuk mencapai ridhaNya.&lt;br /&gt;Bukan lagi sebagai sebuah siksaan, rutinitas yang menjenuhkan atau kebosanan yang dipelihara karena tak ada lagi yang lainnya. Tak ada satu orang yang berhak lebih dominan dibanding yang lainnya, atau tak ada yang&amp;nbsp; boleh merasa terzhalimi oleh pasangannya. Ia adalah bejana bening yang ditentukan warna dan isinya oleh suami dan istri secara bersama-sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sebabnya, pernikahan sebagai sebuah ibadah yang “unik”, karena tak semata-mata menyangkut keinginan pribadi, tetapi mesti mengkompilasi, mengkompromi dan menoleransi cita-cita dan harapan, setidaknya, dua orang, dinamai Rasulullah &lt;i&gt;shalallahu ‘alaihi wassalam&lt;/i&gt; sebagai &lt;i&gt;nisfud din&lt;/i&gt;, setengah agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak mudah dan tak bisa begitu saja memulas warna pernikahan itu menjadi warna harmonis yang layak dipamerkan di sebuah galeri sebagai &lt;i&gt;al usroh al mitsaliyah&lt;/i&gt;, rumah tangga percontohan. Orang–orang di luar mereka memandangnya dengan keinginan untuk meneladaninya, tetangga-tetangga mereka merasa nyaman dengan kehadirannya, anak-anak di sekitarnya menjadikan mereka sebagai guru yang layak didengar. Duhai, alangkah indahnya kotak cantik yang bernama pernikahan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak &lt;i&gt;akhwat&lt;/i&gt;, dan mungkin juga &lt;i&gt;ikhwan&lt;/i&gt;, membayangkan bahwa pernikahan itu ibarat melewati jalan tol dengan mobil keluaran terbaru dan di pinggir-pinggir jalan dihiasi rumpun-rumpun mawar yang baunya semerbak dan warnanya meneduhkan mata. Mereka tak sepenuhnya salah. Asal mereka tahu, setelah jalan tol itu berlalu, mungkin mereka harus berbelok di jalan becek atau mobilnya ditilang oleh polisi, atau terbentang sungai tanpa jembatan, atau yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernikahan itu, tak hanya wangi seperti di saat&amp;nbsp;&lt;i&gt;walimatul ursy&lt;/i&gt;. Mungkin ada kalanya kompor minyak tanah perlu dicabuti sumbunya sehingga bau minyak tanah melekat di antara jari-jari. Atau saat sang bayi pipis dan buang air besar,&amp;nbsp; ia menjadi belepotan dengannya. Tak masalah sebenarnya, toh setelah itu semuanya mudah dibersihkan. Yang menjadi masalah, bila kesan yang tertanam di benak salah satu di antara mereka adalah kesan ketika pasangannya tak sedang “wangi”. Adakah yang lebih bisa dijadikan hiburan di saat gundah dengan hal ini&amp;nbsp; bila memori penuh dengan hal yang tak mengenakkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat marah, saat tak berkenan, saat berkata dengan nada tinggi, saat tak melepas kepergian dengan senyum kerelaan, saat tak menyambut pulang dengan wajah sumringah, saat akhir bulan tak ada lagi beras yang bisa dijadikan bubur untuk mengganjal perut yang lapar, saat rumah berantakan oleh kertas dan sampah makanan. Waduh! Mengapa dia menjadi suamiku? Waduh! Wengapa pula dia menjadi istriku?&lt;br /&gt;Ada yang bercerita, sesungguhnya ia sama sekali tak bermasalah dengan suaminya. Ia menerima dengan cinta yang datang perlahan, ia mendapatkan kecocokan&amp;nbsp; dan ia dapat tertawa lepas bersamanya. Lalu apa masalahnya? Ia merasa mereka tak saling menulari dalam kebaikan tapi&amp;nbsp; terkadang&amp;nbsp; tertular dalam keburukan. Satu tak tilawah yang satu ikut-ikutan. Satu sulit (ini masalah kebiasaan sebenarnya, bukan stempel yang tak bisa diubah!) menghafal Al Qur’an, eh yang lainnya juga.&lt;br /&gt;“Benar-benar defisit hafalan saya, dibandingkan ketika masa gadis dulu!”&lt;br /&gt;Atau kebiasaan buruk lainnya seperti menggigit jari kuku, menaruh handuk sembarangan, lupa meletakkan kunci. Wah…wah…wah… , inilah kenikmatan dunia yang bernama pernikahan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa kebutuhan untuk menjadi diri sendiri adalah keniscayaan dalam pernikahan. Siapapun dia, dia membutuhkan ruang untuk diterima secara utuh dan&amp;nbsp; dihargai pemberiannya dengan kelapangan dada. Tidak selamanya diharuskan&amp;nbsp; ada &lt;i&gt;tadhiyyah&lt;/i&gt; dalam masalah- masalah tertentu, apalagi bila masalah itu tak melanggar syar’i. Selera, misalnya. Mengapa ia harus meniadakan keinginannya membeli tahu pong, makanan favoritnya, gara-gara suaminya lebih menyukai tempe mendoan? Mengapa ia harus memaksakan diri kalau itu menyiksanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski tak ada yang menyalahkannya ketika akhirnya ia bisa “membuang” seleranya dan menggantikannya dengan selera pasangannya. Apalagi bila hal itu berdiri di atas nama cinta. Silakan, bila tak ada yang merasa terkalahkan hanya gara-gara tahu dan tempe! Semua itu masalah pilihan, tak ada yang lebih benar dibanding lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernikahan membutuhkan energi untuk ikhlas memberi sekaligus menerima. Dengan energi keikhlasan inilah sesungguhnya roda pernikahan itu akan menggelinding mulus meski berbagai halangan dari pasir, kerikil, lumpur becek,&amp;nbsp; sampai jalan berapit jurang akan mudah dilalui. Tak ada yang merasa lebih berharga dan lebih berjasa satu dengan lainnya. Juga tak boleh ada yang menghitung mengeluarkan terlalu banyak bila dibandingkan dengan apa yang dia terima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila ternyata Allah menghadiahi kita dengan pernikahan barakah, kita pun telah dapat mengecap makna &lt;i&gt;sakinah, mawaddah, wa rahmah. &lt;/i&gt;Maka sesungguhnya ujian kita akan berbentuk lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aisyah &lt;i&gt;radhiyallahu anha&lt;/i&gt;,&amp;nbsp; istri terkasih Rasulullah &lt;i&gt;shalallahu ‘alaihi wassalam&lt;/i&gt; meriwayatkan sebuah hadits panjang&amp;nbsp; tentang sebelas perempuan yang saling berjanji untuk jujur dan tidak saling merahasiakan sesuatu pun tentang tingkah laku suaminya. Ada Ummu Zar yang amat disayang oleh suaminya dan diberi berbagai macam pemberian. Meski akhirnya ia dicerai, Ummu Zar tahu, tak ada yang bisa menggantikan Abu Zar dan menyamai pemberiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan Rasulullah &lt;i&gt;shalallahu ‘alaihi wassalam&lt;/i&gt;, pria teragung itu, dalam sabdanya kepada Aisyah, “Aku dan engkau ibarat Ummu Zar, tetapi Abu Zar menceraikan Ummu Zar, sedangkan aku tidak menceraikanmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali, manusia menjadi lupa bila Allah memberinya ujian berupa kenikmatan. Padahal ketika ujian yang datang berupa kesedihan, ketidaknyamanan, masalah yang datang bertubi, ketidakcocokan dengan karakter pasangan atau sedikit kekurangan materi, maka ia akan datang bersimpuh&amp;nbsp; kepada Allah dengan sepenuh kerendahan hati, mengadu dan mengucurkan air mata agar Allah senantiasa membantunya menyelesaikan problemnya.&amp;nbsp; Bila yang terjadi sebaliknya, suami sayang istri, tidak perhitungan (baca: tidak pelit) ketika memberi, tak pernah saling bentak, bila marah cepat redanya dan sayangnya bertambah setelah itu, jarang yang menghiba-hiba kepada Allah agar amanah keserasian itu sampai ke surgaNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sebabnya saya mengungkap hal ini dalam puisi kecil dan sederhana itu. Bahwa inti pernikahan, menurut saya, sesungguhnya adalah &lt;i&gt;tarbiyah&lt;/i&gt;. Seorang suami men-&lt;i&gt;tarbiyah&lt;/i&gt; istrinya dan sebaliknya. Meski tak secara formal, mereka paling berhak menjadi &lt;i&gt;murabbi&lt;/i&gt; bagi lainnya. Karena mereka adalah dua sosok individu yang dipertemukan dan didekatkan Allah karena rahmatNya. Tidak ada hubungan yang istimewa dan erat sebagaimana hubungan antara suami dan istri. Tidak ada yang bisa menggantikan satu dengan yang lainnya. Pun, tidak ada relasi apapun yang bisa menyamai relasi berumahtangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang suami, karena kedekatannya itu menjadi faham betul, kapan sang istri dalam kondisi futur. Begitu pula, sang istrilah yang paling mengerti sudah berapa hari, pekan bahkan bulan, sang suami tak tilawah Al Qur’an di rumahnya. Faktor inilah yang menjadikan &lt;i&gt;tarbiyah&lt;/i&gt; berbasis rumah adalah &lt;i&gt;tarbiyah&lt;/i&gt; yang efektif. Karena sang pengobat tahu penyakit mana yang mesti diobatinya terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, banyak rumah tangga &lt;i&gt;ikhwah&lt;/i&gt;, tak seideal (kita berharap:&amp;nbsp; mungkin sedang menuju ideal), seperti konsep-konsep &lt;i&gt;tarbiyah&lt;/i&gt; rumah tangga seperti yang ditulis di banyak buku. Betapa sibuk sang bapak men-&lt;i&gt;tarbiyah&lt;/i&gt; sekelilingnya, remaja masjid, mahasiswa di kampus, teman-teman di kantornya atau taklim rutin bapak-bapak pengurus masjid, tetapi saking sibuknya, ia lupa bahwa istri dan anak-anaknya juga membutuhkan sentuhan indah dari lisannya. Bahkan untuk sekedar berbagi cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali pula sang bapak beralasan, “Apapun yang bapak lakukan itu adalah&amp;nbsp;&lt;i&gt;tarbiyah&lt;/i&gt; buat kalian, jadi lihatlah tindakan bapak, perhatikan bagaimana bapak mengambil keputusan atau cara bapak menengahi perselisihan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Inilah cara bapak mentarbiyah kalian. Jadi tak usahlah diformalkan seperti forum yang melingkar itu!”&lt;br /&gt;Begitupun sang ibu. Ia adalah murabbi tangguh bagi mutarabbinya. Teman yang enak diajak berbagi. Empati dengan permasalahan akhwatnya. Mau berkorban menolong kebutuhan saudaranya. Tapi sang ibu seringkali lupa, bila ia membaca doa &lt;i&gt;rabithah&lt;/i&gt;, dan menyebut serta membayangkan deretan wajah-wajah sahabatnya, nama sang suami terlupa disebutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah, bila kemudian ada yang mengeluhkan, mengapa rumah tangga dai tak berbeda jauh dengan rumah tangga pada umumnya, barangkali faktor &lt;i&gt;tarbiyah&lt;/i&gt; ini tak menemukan titik penting yang bisa menyentuh kebutuhan para penghuninya. Biarlah &lt;i&gt;tarbiyah&lt;/i&gt; itu seperti air mengalir, tak usah di-&lt;i&gt;planning-planning&lt;/i&gt;. Sehingga tausiyah yang mestinya sarat makna menjadi forum interogasi yang tidak dirindui. Sehingga kata-kata hikmah yang diucapkan adalah kata-kata yang tak mengendap di hati, sekedar masuk telinga kanan keluar ke telinga kiri. Akibatnya, banyak masalah yang mestinya kecil dan segera bisa diatasi, menjadi membesar dan tak tahu lagi kemana mencari ujung kekusutannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibarat tiang yang saling menopang, suami dan istri adalah dua tonggak tangguh yang saling menguatkan. Ketiadaan salah satunya menjadikan tiang lebih mungkin rapuh. Dan gampang dirobohkan. Sehingga proses&amp;nbsp; saling mengingatkan dan berharap peningkatan kebaikan bagi yang lainnya adalah keniscayaan. Apatah lagi, kita ini sama–sama manusia dengan segala kekurangan yang melekat erat. Istri mana yang tak ingin dimanja suaminya. Dihadiahi coklat, dipersilakan istirahat, diberi ruang untuk berasyik masyuk merawat diri di salon, dibolehkan sesaat untuk membaca novel kesayangannya dan tak selalu serius memikirkan cucian yang menumpuk di ruang belakang rumahnya. Dan balasannya, ia menjadi lebih cinta kepada suaminya. Tentu sang suami manapun menginginkan istrinya menikmati posisinya sebagai istri dia seorang, agar kepemimpinannya memang benar-benar layak dibanggakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah kata-kata umum mengatakan, seorang lelaki lebih tahan menerima cobaan yang diperuntukkan khusus baginya. Tapi ia bisa lebih tak tahan bila cobaan itu mampir ke istri yang dicintainya, atau anak-anak yang terlahir sebab benihnya. Itu sebabnya, bila sang suami suatu saat merasa lemah, kuatkanlah ia dengan tangan tangguh terulur. Bila kenikmatan dan fasilitas duniawi menggoda, yakinlah bahwa pertolongan Allah jauh lebih kuat bila kita pun tak sanggup untuk menyentuh madu manis sampah dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, mari meletakkan diri di posisi yang lebih baik dan tertata. Yakinlah, menjadi bagian kecil&amp;nbsp; dari rumah tangga da’i, adalah kebanggaan dunia akhirat, dan tak mesti menghilangkan sisi kewanitaan atau keinginan-keinginan kecil yang sempat diharapkan. Toh Allah selalu bersama kita, maka nikmatilah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;Sumber :&amp;nbsp; &lt;a href="http://www.fimadani.com/menikmati-pernikahan/"&gt;http://www.fimadani.com/menikmati-pernikahan/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-5308737300596691306?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/5308737300596691306/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2012/02/menikmati-pernikahan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/5308737300596691306'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/5308737300596691306'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2012/02/menikmati-pernikahan.html' title='Menikmati Pernikahan'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-bad3Da-eEqg/TiHv28UfH-I/AAAAAAAAAsI/1xXAuQxIZZ8/s72-c/muslim_wedding_hands.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-1000354118360747568</id><published>2012-02-18T09:51:00.000+07:00</published><updated>2012-02-18T09:52:45.884+07:00</updated><title type='text'>Jangan Biarkan Imanmu Merapuh</title><content type='html'>&lt;div class="cleaner"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="cover" style="margin-left: 5px;"&gt;&lt;a href="http://www.fimadani.com/jangan-biarkan-imanmu-merapuh/" rel="bookmark" title="Jangan Biarkan Imanmu Merapuh"&gt;&lt;img alt="Jangan Biarkan Imanmu Merapuh" height="242" src="http://www.whatsupkaith.com/wp-content/uploads/2011/10/lazy-buns.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="credits"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 10px; margin-top: 5px;"&gt;&lt;div class="fb-like fb_edge_widget_with_comment fb_iframe_widget" data-href="http://www.fimadani.com/jangan-biarkan-imanmu-merapuh/" data-send="true" data-show-faces="false" data-width="560"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;Saudaraku, suatu ketika dalam episode hidup ini, mungkin kita sampai pada momen yang membuat kita begitu terpuruk, sangat susah untuk bangkit. Sebuah kondisi di mana masalah mendera bertubi-tubi, tanpa jeda, tanpa ampun. Tak terlihat celah sedikitpun untuk membebaskan diri dari permasalahan-permasalahan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika, mungkin, kita pernah mengalaminya. Dan pada saat itu, masalah-masalah yang mendera begitu berkuasa menghancurkan idealisme kita, menghancurkan harapan kita satu-satunya: asa. Kita sempurna terkena sindrom patah arang. Sebuah sindrom yang amat berbahaya bagi makhluk hidup bernama manusia.&lt;br /&gt;Suatu ketika, mungkin ini nyata, banyak di antara kita mengalaminya. Kita sudah lelah, tak kuat lagi bertahan meski sejenak. Seolah kita tak pernah belajar untuk optimis, bahkan lupa sama sekali atau mulai menganggap bahwa optimisme sekadar hal basi yang sama sekali tidak ada gunanya. Kita hidup tapi tanpa asa, beraktivitas tapi tanpa ruh, menjadi semacam robot yang melakukan semuanya secara mekanik tanpa makna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sadarkah kita bahwa rapuh sejatinya tidaklah datang secara tiba-tiba. Ibarat sebuah bangunan, ia takkan ambruk begitu saja. Tetapi rapuh adalah proses yang terjadi secara halus dan terus menerus. Ketika beban yang dipikul oleh bangunan itu sudah tidak mampu lagi dipertahankan, maka bangunan itu akan roboh. Boleh jadi, bagi yang tidak tahu, bangunan itu terlihat roboh secara tiba-tiba, tetapi sejatinya, bangunan itu sudah mulai roboh sejak awal pengeroposan dimulai. Ketiadaan perawatan dan perbaikanlah yang membuatnya roboh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula, seseorang tidak mungkin tiba-tiba mengalami stres, tetapi hal itu terjadi secara pelan-pelan dan kian bertambah seiring bertambah lemahnya pondasi pertahanannya. Ketika permasalahan semakin menderanya bertubi-tubi, sementara pondasinya kian rapuh, maka stres tinggal menunggu waktu. Rapuh, sejatinya terjadi secara perlahan, sedikit demi sedikit. Yang diserang adalah pondasi utama, pondasi dari segala pondasi kita hidup di dunia ini. Pondasi yang mendasari segala tindakan kita. Pondasi yang dengannya kita memandang dunia, menghadapi kencangnya angin hidup dan guyuran badai cobaan. Ya, pondasi itu adalah iman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika iman mulai keropos, jika ia tidak segera mendapat perawatan atau perbaikan, maka jatuhnya pondasi hidup seseorang tinggalah menunggu waktu. Ia akan lebih rentan tertekan dan terkena depresi ketika menghadapi persoalan hidup. Ia boleh terlihat kaya raya, rupawan, tersohor, tapi tanpa iman ia rapuh. Serapuh sarang laba-laba yang putus sekali hempas. Ibarat pohon, ia adalah pohon yang tak mampu bertahan meski oleh tiupan angin yang tak terlalu kencang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka iman, mau tidak mau, harus dirawat, dijaga dan dijauhkan dari berbagai hal yang merusaknya. Jagalah iman, dengan menambah pengetahuan kita tentang-Nya. Jagalah iman dengan senantiasa memikirkan ciptaan dan ayat-ayat-Nya yang dihamparkan pada kita. Jagalah iman dengan memperbanyak amal kepada-Nya dengan cara-cara yang dituntunkan-Nya. Jagalah iman, dengan berkumpul dengan orang-orang yang dicintai-Nya. Jagalah iman dengan berbagai cara yang sering bisa bisa kita lakukan tetapi kita abaikan.&lt;br /&gt;Karena sejatinya, masalah adalah pewarna kehidupan, membuat hidup lebih dinamis, lebih menarik, tentunya dengan pengelolaan yang benar. Masalah adalah wahana bagi Sang Khalik untuk menaikkan derajat hamba-Nya yang bertakwa. Lihatlah pohon alpukat, sesekali waktu sebelum musim buah, dedaunnya habis dimakan ulat. Boleh jadi, habisnya daun itu adalah masalah tersendiri bagi sang pohon. Proses fotosintesis dan produksi zat-zat makanannya boleh jadi terganggu, tetapi ia tidak mati. Namun, perhatikanlah beberapa waktu setelahnya. Pohon alpukat akan kembali menumbuhkan daunnya, dan bahkan mengeluarkan buahnya. Ulat-ulat itu hanya berfungsi memberikan shock terapi berupa stres ringan, yang akibatnya justru positif, yaitu memicu peningkatan produksi buah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka begitulah bagi orang yang beriman. Masalah adalah pemicu bagi dirinya untuk semakin produktif dan meningkatkan kapasitas. Karena ia yakin sepenuhnya pada janji Allah bahwa “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Q.s. al-Baqarah [2]: 286).&lt;br /&gt;Maka jangan lupa untuk senantiasa berdoa:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;“Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau hukum Kami jika Kami lupa atau Kami tersalah. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau bebankan kepada Kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau pikulkan kepada Kami apa yang tak sanggup Kami memikulnya. beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong Kami, Maka tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir” (Q.s. al-Baqarah [2]: 286).&lt;/blockquote&gt;Wallahu a’lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&amp;nbsp; &lt;a href="http://www.fimadani.com/jangan-biarkan-imanmu-merapuh/"&gt;http://www.fimadani.com/jangan-biarkan-imanmu-merapuh/&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-1000354118360747568?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/1000354118360747568/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2012/02/jangan-biarkan-imanmu-merapuh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/1000354118360747568'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/1000354118360747568'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2012/02/jangan-biarkan-imanmu-merapuh.html' title='Jangan Biarkan Imanmu Merapuh'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-8262278703943101663</id><published>2012-01-13T07:55:00.002+07:00</published><updated>2012-01-29T06:16:28.237+07:00</updated><title type='text'>Apapun Hajat terbaik anda, berinfaklah secara maksimal lalu berdo'alah</title><content type='html'>Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu sesungguhnya  Nabi Muhammad shollallahu ‘alahi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #000099; font-weight: bold;"&gt;“Tidak ada satu  subuh-pun yang dialami hamba-hamba Allah kecuali turun kepada mereka dua  malaikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu di antara keduanya berdoa:&lt;span style="color: #6600cc; font-weight: bold;"&gt; “Ya Allah, berilah  ganti bagi orang yang berinfaq”,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sedangkan yang satu lagi berdo’a &lt;span style="color: red; font-weight: bold;"&gt;“Ya  Allah, berilah kerusakan bagi orang yang menahan (hartanya)”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(HR Bukhary  5/270)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbukti Shadaqah penuh keajaiban...&lt;br /&gt;harta menjadi berkah, berlimpah dan penuh manfaat...&lt;br /&gt;--&amp;gt; Mau sembuh dari sakit, ayo shadaqoh&lt;br /&gt;---&amp;gt; Mau dapat anak, pancing dengan shadaqah&lt;br /&gt;----&amp;gt; Anda mau apa, lakukan shadaqah, lalu mintalah hajat anda pada Allah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan Kapok harta anda berkurang karena shadaqah...&lt;br /&gt;Makin bertambah harta karena shadaqah, tentu semakin rutin anda shadaqah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lakukan dari keluarga terdekat, tetangga dan orang-orang yang ada disekitar anda, semoga menjadi orang yang bermanfaat...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahagia dunia akhirat, Ayo Shadaqah.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="data_field"&gt;Dengan   menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah  lagi Maha Penyayang. Segala  puji  bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha  Pemurah lagi Maha Penyayang.  Yang  menguasai di Hari Pembalasan Hanya  Engkaulah yang kami sembah,  dan hanya  kepada Engkaulah kami meminta  pertolongan. Tunjukilah kami  jalan yang  lurus, (yaitu) Jalan  orang-orang yang telah Engkau beri  ni'mat kepada  mereka; bukan (jalan)  mereka yang dimurkai dan bukan  (pula jalan) mereka  yang sesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah kabulkanlah do'a kaum muslimin di penjuru bumi..&lt;br /&gt;Ya Allah kabulkanlah do'a-do'a kami...&lt;br /&gt;Ya Allah kami telah berusaha mengorbankan harta kami tuk perjuangan menegakkan kalimat-Mu...&lt;br /&gt;kami korban harta kami tuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan ke lebih banyak orang di seluruh penjuru bumi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya   Allah sembuhkanlah diantara kami yang sedang sakit, sembuhkanlah   keluarga kami, sembuhkanlah tetangga kami, sembuhkanlah teman-teman...&lt;br /&gt;Ya Allah di anatara kami ada yang belum dapat jodoh, pertemukanlah dengan jodoh yang terbaik menurut-Mu&lt;/div&gt;&lt;div class="data_field"&gt;Ya Allah di antara kami ada yang belum memiliki keturunan, berikanlah segera amanah itu,&lt;br /&gt;Ya Allah berilah kami keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya  Engkau Maha Mendengarkan do`a. &lt;/div&gt;Ya Allah jadikanlah anak-anak kami, anak2 yang shaleh dan shalehah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Wahai   Allah  limpahkanlah rahmat atas junjungan kita Nabi Muhammad  Saw;   sebanyak  aneka rupa rizqi. Wahai Dzat Yang Maha Meluaskan rizqi  kepada   orang yang  dikehendaki-Nya tanpa hisab. Luaskan dan banyakanlah    rizqiku dari  segenap setiap penjuru dan perbendaharaan rizqi-Mu tanpa    pemberian dari  makhluk, berkat kemurahan-Mu jua. Dan limpahkanlah pula    rahmat dan salam  atas dan para sahabat beliau. " &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Wahai   Allah,  wahai Dzat Yang Maha Kaya, wahai Dzat Yang Maha  Terpuji,  wahai  Dzat Yang  memulai, wahai Dzat Yang Mengembalikan, wahai  Dzat  Yang  Maha Penyayang,  wahai Dzat Yang Maha Mencintai. Cukupilah  kami  dengan  kehalalan-Mu dari  keharaman-Mu. Cukupilah kami dengan   anugerah-Mu dari  selain Engkau.  Semoga Allah melimpahkan rahmat dan   salam atas  junjungan kita Nabi  Muhammad Saw. keluarga dan sahabat   beliau."&lt;/i&gt;&lt;i&gt;"Dengan  nama  Allah, semoga Engkau menjaga diri  kami, harta kami dan  agama  kami. Wahai  Allah, ridhailah kami dari  ketetapan-Mu dan berilah  berkah  kepada kami  pada segala apa yang  telah Engkau putuskan sehingga  kami  Tidak suka apa  yang Engkau  mempercepatkan apa yang Engkau akhirkan  dan  tidak pula  menyukai  mengakhirkan apa yang, Engkau cepatkan. "&lt;/i&gt;&lt;i&gt;"Ya Tuhan,  berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta  selamatkanlah kami dari siksa neraka." &lt;/i&gt;(QS. Al-Baqarah: 201).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Ya   Tuhan,  janganlah Engka siksa kami karena lupa atau bersalah. Ya    Tuhan,  janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat    sebagaimana telah  Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya    Tuhan, janganlah  Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup    kami memikulnya. Beri  maaflah kami, ampunilah kamj, dan rahmatilah    kami. Engkaulah Penolong  kami, maka tolonglah kami dalam mengalahkan    orang-orang kafir." &lt;/i&gt;(QS.  Al-Baqarah: 286).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Ya Tuhan    sungguh kami telah mendengar seruan yang menyeru kepada  iman:    "Barimanlah kamu kepada Tuhanmu, maka kami pun beriman. Ya Tuhan,     ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami,    serta  matikanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbuat    kebajikan. Ya  Tuhan, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada    kami dengan  perantaraan rasul-rasul-Mu, dan janganlah Engkau hinakan    kami pada hari  kiamat nanti. Sungguh Engkau sama sekali tidak akan    pernah menyalahi  janji." &lt;/i&gt;(QS. Âli Imrân: 193-294).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-8262278703943101663?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/8262278703943101663/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2012/01/apapun-hajat-terbaik-anda-berinfaklah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/8262278703943101663'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/8262278703943101663'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2012/01/apapun-hajat-terbaik-anda-berinfaklah.html' title='Apapun Hajat terbaik anda, berinfaklah secara maksimal lalu berdo&apos;alah'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-2468968946085277084</id><published>2011-11-27T23:46:00.001+07:00</published><updated>2011-12-22T10:48:19.409+07:00</updated><title type='text'>Dia Mencium Bau Surga</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;i&gt;Di dalam sebuah hadits yang bersumber dari Abu Hurairah  rhodiyallaahu ‘anhu, Rasululllah shollallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,  " Ada tujuh golongan orang yang mendapat naungan Allah pada hari tiada  naungan selain dari naunganNya... diantaranya, seorang pemuda yang tumbuh dalam  melakukan ketaatan kepada Allah."&lt;/i&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dan di dalam sebuah hadits shohih yang berasal dari Anas bin an-Nadhr  rhodiyallaahu ‘anhu, ketika perang Uhud ia berkata,"Wah .... angin surga,  sunguh aku telah mencium wangi surga yang berasal dari balik gunung Uhud."&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Seorang Doktor bercerita kepadaku, " Pihak rumah sakit menghubungiku dan  memberitahukan bahwa ada seorang pasien dalam keadaaan kritis sedang dirawat.  Ketika aku sampai, ternyata pasien tersebut adalah seorang pemuda yang sudah meninggal  - semoga Allah merahmatinya -. Lantas bagaimana detail kisah wafatnya. Setiap  hari puluhan bahkan ribuan orang meninggal. Namun bagaimana keadaan mereka  ketika wafat? Dan bagaimana pula dengan akhir hidupnya?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pemuda ini terkena peluru nyasar, dengan segera kedua orang tuanya -semoga  Allah membalas segala kebaikan mereka- melarikannya ke rumah sakit militer di Riyadh. Di tengah  perjalanan, pemuda itu menoleh kepada ibu bapaknya dan sempat berbicara. Tetapi  apa yang ia katakan? Apakah ia menjerit dan mengerang sakit? Atau menyuruh agar  segera sampai ke rumah sakit? Ataukah ia marah dan jengkel ? Atau apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tuanya mengisahkan bahwa anaknya tersebut mengatakan kepada mereka, ‘Jangan  khawatir! Saya akan meninggal ... tenanglah ... sesungguhnya aku mencium wangi  surga.!' Tidak hanya sampai di sini saja, bahkan ia mengulang-ulang kalimat  tersebut di hadapan para dokter yang sedang merawat. Meskipun mereka berusaha  berulang-ulang untuk menyelamatkannya, ia berkata kepada mereka, ‘Wahai saudara-saudara,  aku akan mati, maka janganlah kalian menyusahkan diri sendiri... karena  sekarang aku mencium wangi surga.'&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kemudian ia meminta kedua orang tuanya agar mendekat lalu mencium keduanya dan  meminta maaf atas segala kesalahannya. Kemudian ia mengucapkan salam kepada  saudara-saudaranya dan mengucapkan dua kalimat syahadat, ‘Asyhadu alla ilaha  illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah' Ruhnya melayang kepada Sang  Pencipta subhanahu wa ta'ala.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Allahu Akbar ... apa yang harus aku katakan dan apa yang harus aku  komentari...Semua kalimat tidak mampu terucap ... dan pena telah kering di  tangan... Aku tidak kuasa kecuali hanya mengulang dan mengingat Firman Allah  subhanahu wa ta'ala, " Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman  dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan akhirat."  (Ibrahim : 27)&lt;br /&gt;Tidak ada  yang perlu dikomentari lagi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ia melanjutkan kisahnya,&lt;br /&gt;"Mereka membawa jenazah pemuda tersebut untuk dimandikan. Maka ia  dimandikan oleh saudara Dhiya' di tempat pemandian mayat yang ada di rumah  sakit tersebut. Petugas itu melihat beberapa keanehan yang terakhir.  Sebagaimana yang telah ia ceritakan sesudah shalat Magrib pada hari yang sama.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Ia melihat dahinya berkeringat. Dalam  sebuah hadits shahih Rasulullaah Shallallaahu ‘alahi wasallam bersabda,  "Sesungguhnya seorang mukmin meninggal dengan dahi berkeringat". Ini  merupakan tanda-tanda khusnul khatimah. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ia katakan tangan jenazahnya lunak  demikian juga pada persendiannya seakan-akan dia belum mati. Masih mempunyai  panas badan yang belum pernah ia jumpai sebelumnya semenjak ia bertugas  memandikan mayat. Pada tubuh orang yang sudah meninggal itu (biasanya-red)  dingin, kering dan kaku. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Telapak tangan kanannya seperti  seorang yang membaca tasyahud yang mengacungkan jari telunjuknya mengisyaratkan  ketauhidan dan persaksiannya, sementara jari-jari yang lain ia genggam. &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Subhanalllah  ... Sungguh indah kematian seperti itu. Kita memohon semoga Allah subhanahu wa  ta'ala menganugrahkan kita khusnul khatimah.&lt;br /&gt;Saudara-saudara  tercinta ... kisah belum selesai...&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Saudara Dhiya' bertanya kepada salah seorang pamannya, apa yang ia lakukan  semasa hidupnya? Tahukah anda apa jawabnya?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Apakah anda kira ia menghabiskan malamnya dengan berjalan-jalan di jalan raya?&lt;br /&gt;Atau duduk di  depan televisi untuk menyaksikan hal-hal yang terlarang? Atau ia tidur pulas  hingga terluput mengerjakan shalat? Atau sedang meneguk khamr, narkoba dan  rokok? Menurut anda apa yang telah ia kerjakan? Mengapa ia dapatkan husnul  khatimah (insyaAllah -red) yang aku yakin bahwa saudara pembaca pun  mengidam-ngidamkann ya; meninggal dengan mencium wangi surga.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ayahnya berkata, "Ia selalu bangun dan melaksanakan shalat malam  sesanggupnya. Ia juga membangunkan keluarga dan seisi rumah agar dapat  melaksanakan shalat Shubuh berjama'ah. Ia gemar menghafal al-Qur'an dan  termasuk salah seorang siswa yang berprestasi di SMU."&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aku katakan,  "Maha benar Allah" yang berfirman (yang artinya-red)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Sesungguhnya  orang-orang yang mengatakan: ‘Rabb kami ialah Allah' kemudian mereka meneguhkan  pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan):  ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu  dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.' Kamilah  pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh  apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.  Sebagai hidangan (bagimu) dari (Rabb) Yang Maha Pengampun lagi Maha  Penyayang." (Fhushilat:30- 32)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;--------&lt;br /&gt;Diambil dari  : Serial Kisah Teladan Karya Muhammad bin Shalih Al-Qahthani, sebagaimana yang  dinukil dari Qishash wa ‘Ibar karya Doktor Khalid al-Jabir.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-2468968946085277084?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/2468968946085277084/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/dia-mencium-bau-surga.html#comment-form' title='9 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/2468968946085277084'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/2468968946085277084'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/dia-mencium-bau-surga.html' title='Dia Mencium Bau Surga'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-9167981949356632018</id><published>2011-11-27T23:25:00.001+07:00</published><updated>2011-11-27T23:26:52.485+07:00</updated><title type='text'>Tipe Wanita yang Disunnahkan untuk Dilamar</title><content type='html'>Dalam melamar, seorang muslim dianjurkan untuk memperhatikan beberapa sifat yang ada pada wanita yang akan dilamar, diantaranya: &lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Wanita itu disunahkan seorang yang penuh cinta kasih. Maksudnya ia harus selalu menjaga kecintaan terhadap suaminya, sementara sang suami pun memiliki kecenderungan dan rasa cinta kepadanya. &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;        Selain itu, ia juga harus berusaha menjaga keridhaan suaminya, mengerjakan apa yang disukai suaminya, menjadikan suaminya merasa tentram hidup dengannya, senang berbincang dan berbagi kasih sayang dengannya. Dan hal itu jelas sejalan dengan firman Allah Ta'ala, &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;  Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tentram kepadanya. Dan Dia jadikan di antara kalian rasa kasih dan saying. (ar-Ruum:21).&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;   &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Disunahkan pula agar wanita yang dilamar itu seorang yang banyak memberikan keturunan, karena ketenangan, kebahagiaan dan keharmonisan keluarga akan terwujud dengan lahirnya anak-anak yang menjadi harapan setiap pasangan suami-istri. &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;    Berkenaan dengan hal tersebut, Allah Ta'ala berfirman, &lt;br /&gt;    Dan orang-orang yang berkata, 'Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa'. (al-Furqan:74). &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;    Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, &lt;br /&gt;  Menikahlah dengan wanita-wanita yang penuh cinta dan yang banyak melahirkan keturunan. Karena sesungguhnya aku merasa bangga dengan banyaknya jumlah kalian pada hari kiamat kelak. Demikian hadist yang diriwayatkan Abu Daud, Nasa'I, al-Hakim, dan ia mengatakan, Hadits tersebut sanadnya shahih. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hendaknya wanita yang akan dinikahi itu seorang yang masih gadis dan masih muda. Hal itu sebagaimana yang ditegaskan dalam kitab Shahihain dan juga kiab-kitab lainnya dari hadits Jabir, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bertanya kepadanya, &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;    Apakah kamu menikahi seorang gadis atau janda? dia menjawab,"Seorang janda."Lalu beliau bersabda, Mengapa kamu tidak menikahi seorang gadis yang kamu dapat bercumbu dengannya dan ia pun dapat mencumbuimu?. &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;    Karena seorang gadis akan mengantarkan pada tujian pernikahan. Selain itu seorang gadis juga akan lebih menyenangkan dan membahagiakan, lebih menarik untuk dinikmati akan berperilaku lebih menyenangkan, lebih indah dan lebih menarik untuk dipandang, lebih lembut untuk disentuh dan lebih mudah bagi suaminya untuk membentuk dan membimbing akhlaknya. &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sendiri telah bersabda, &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;    Hendaklah kalian menikahi wanita-wanita muda, karena mereka mempunyai mulut yang lebih segar, mempunyai rahim yang lebih subur dan mempunyai cumbuan yang lebih menghangatkan. &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;  Demikian hadits yang diriwayatkan asy-Syirazi, dari Basyrah bin Ashim dari ayahnya, dari kakeknya. Dalam kitab Shahih al_Jami' ash_Shaghir, al-Albani mengatakan, "Hadits ini shahih." &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dianjurkan untuk tidak menikahi wanita yang masih termasuk keluarga dekat, karena Imam Syafi'I pernah mengatakan, "Jika seseorang menikahi wanita dari kalangan keluarganya sendiri, maka kemungkinan besar anaknnya mempunyai daya piker yang lemah." &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;  Disunahkan bagi seorang muslim untuk menikahi wanita yang mempunyai silsilah keturunan yang jelas dan terhormat, karena hal itu akan berpengaruh pada dirinya dan juga anak keturunannnya. Berkenaan dengan hal tersebut, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;    Wanita itu dinikahi karena empat hal: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscahya kamu beruntung. (HR. Bukhari, Muslim dan juga yang lainnya).&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;  Hendaknya wanita yang akan dinikahi itu taat beragama dan berakhlak mulia. Karena ketaatan menjalankan agama dan akhlaknya yang mulia akan menjadikannya pembantu bagi suaminya dalam menjalankan agamanya, sekaligus akan menjadi pendidik yang baik bagi anak-anaknya, akan dapat bergaul dengan keluarga suaminya. &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;    Selain itu ia juga akan senantiasa mentaati suaminya jika ia akan menyuruh, ridha dan lapang dada jika suaminya memberi, serta menyenangkan suaminya berhubungan atau melihatnnya. Wanita yang demikian adalah seperti yang difirmankan Allah Ta'ala, &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;"Sebab itu, maka wanita-wanita yang shahih adalah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminyatidak berada di tempat, oleh karena Allah telah memelihara mereka". (an-Nisa:34). &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Sedangkan dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, &lt;br /&gt;"Dunia ini adalah kenikmatan, dan sebaik-baik kenikmatannya adalah wanita shalihah". (HR. Muslim, Nasa'I dan Ibnu Majah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Selain itu, hendaklah wanita yang akan dinikahi adalah seorang yang cantik, karena kecantikan akan menjadi dambaan setiap insan dan selalu diinginkan oleh setiap orang yang akan menikah, dan kecantikan itu pula yang akan membantu menjaga kesucian dan kehormatan. Dan hal itu telah disebutkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam hadits tentang hal-hal yang disukai dari kaum wanita. &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;    Kecantikan itu bersifat relatif. Setiap orang mempunyai gambaran tersendiri tentang kecantikan ini sesuai dengan selera dan keinginannya. Sebagian orang ada yang melihat bahwa kecantikan itu terletak pada wanita yang pendek, sementara sebagian yang lain memandang ada pada wanita yang tinggi. &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;    Sedangkan sebagian lainnya memandang kecantikan terletak pada warna kulit, baik coklat, putih, kuning dan sebagainya. Sebagian lain memandang bahwa kecantikan itu terletak pada keindahan suara dan kelembutan ucapannya. &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Demikianlah, yang jelas disunahkan bagi setiap orang untuk menikahi wanita yang ia anggap cantik sehingga ia tidak tertarik dan tergoda pada wanita lain, sehingga tercapailah tujuan pernikahan, yaitu kesucian dan kehormatan bagi tiap-tiap pasangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------&lt;br /&gt;Sumber: Fikih Keluarga, Syaikh Hasan Ayyub, Cetekan Pertama, Mei 2001, Pustaka Al-kautsar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-9167981949356632018?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/9167981949356632018/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/tipe-wanita-yang-disunnahkan-untuk.html#comment-form' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/9167981949356632018'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/9167981949356632018'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/tipe-wanita-yang-disunnahkan-untuk.html' title='Tipe Wanita yang Disunnahkan untuk Dilamar'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-1257951191255849343</id><published>2011-11-27T23:23:00.001+07:00</published><updated>2011-11-27T23:24:06.517+07:00</updated><title type='text'>Doa Para Akhwat yang sangat merindukan datangnya seorang pendamping....</title><content type='html'>Untuk Para Akhwat.... mari kita Aminkan Doa ini....... &lt;br /&gt;Untuk Para Ikhwan.... Dengarlah Doa Para Akhwat yang sangat merindukan datangnya seorang pendamping.... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Peringatan Rasulullah: "Bukan termasuk golonganku orang-orang yang merasa    khawatir akan terkungkung hidupnya karena menikah kemudian ia tidak    menikah." (HR. Thabrani). " &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;&lt;/i&gt;Apa yang menghimpit saudara kita sehingga MEREKA SANGGUP MENETESKAN AIR    MATA. Awalnya adalah KARENA MEREKA MENUNDA APA YANG HARUS DISEGERAKAN,    MEMPERSULIT APA YANG SEHARUSNYA DIMUDAHKAN.&lt;i&gt; Padahal Rasululloh berpesan: "Wahai Ali, ada TIGA PERKARA JANGAN DITUNDA-TUNDA, apabila SHOLAT TELAH   TIBA    WAKTUNYA, JENAZAH APABILA TELAH SIAP PENGUBURANNYA, dan PEREMPUAN APABILA TELAH DATANG LAKI-LAKI YANG SEPADAN MEMINANGNYA." (HR Ahmad) "&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;-- M.  Fauzil   Adhim &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**************************** &lt;br /&gt;A Prayer &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhanku... &lt;br /&gt;Aku berdo'a untuk seorang pria yang akan menjadi bagian dari hidupku &lt;br /&gt;Seseorang yang sungguh mencintaiMu lebih dari segala sesuatu &lt;br /&gt;Seorang pria yang akan meletakkanku pada posisi kedua di hatinya setelah Engkau &lt;br /&gt;Seorang pria yang hidup bukan untuk dirinya sendiri tetapi untukMu &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah tampan dan daya tarik fisik tidaklah penting &lt;br /&gt;Yang penting adalah sebuah hati yang sungguh mencintai dan dekat dengan Engkau &lt;br /&gt;dan berusaha menjadikan sifat-sifatMu ada pada dirinya &lt;br /&gt;Dan ia haruslah mengetahui bagi siapa dan untuk apa ia hidup sehingga hidupnya tidaklah sia-sia &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yang memiliki hati yang bijak tidak hanya otak yang cerdas &lt;br /&gt;Seorang pria yang tidak hanya mencintaiku tapi juga menghormatiku &lt;br /&gt;Seorang pria yang tidak hanya memujaku tetapi juga dapat menasihatiku ketika    aku berbuat salah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yang mencintaiku bukan karena kecantikanku tapi karena hatiku &lt;br /&gt;Seorang pria yang dapat menjadi sahabat terbaikku dalam setiap waktu dan situasi &lt;br /&gt;Seseorang yang dapat membuatku merasa sebagai seorang wanita ketika aku di    sisinya &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhanku... &lt;br /&gt;Aku tidak meminta seseorang yang sempurna namun aku meminta seseorang yang    tidak sempurna, &lt;br /&gt;sehingga aku dapat membuatnya sempurna di mataMu &lt;br /&gt;Seorang pria yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya &lt;br /&gt;Seorang pria yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya &lt;br /&gt;Seseorang yang membutuhkan senyumku untuk mengatasi kesedihannya &lt;br /&gt;Seseorang yang membutuhkan diriku untuk membuat hidupnya menjadi sempurna &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhanku... &lt;br /&gt;Aku juga meminta, &lt;br /&gt;Buatlah aku menjadi wanita yang dapat membuatnya bangga &lt;br /&gt;Berikan aku hati yang sungguh mencintaiMu sehingga aku dapat mencintainya dengan sekedar cintaku &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikanlah sifat yang lembut sehingga kecantikanku datang dariMu &lt;br /&gt;Berikanlah aku tangan sehingga aku selalu mampu berdoa untuknya &lt;br /&gt;Berikanlah aku penglihatan sehingga aku dapat melihat banyak hal baik dan bukan hal buruk dalam dirinya &lt;br /&gt;Berikanlah aku lisan yang penuh dengan kata-kata bijaksana, &lt;br /&gt;mampu  memberikan semangat serta mendukungnya setiap saat dan tersenyum untuk dirinya   setiap    pagi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bilamana akhirnya kami akan bertemu, aku berharap kami berdua dapat mengatakan: &lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Betapa Maha Besarnya Engkau karena telah memberikan kepadaku pasangan yang dapat membuat hidupku menjadi sempurna." &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengetahui bahwa Engkau ingin kami bertemu pada waktu yang tepat &lt;br /&gt;Dan Engkau akan membuat segala sesuatunya indah pada waktu yang telah   Engkau    tentukan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amin.... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-1257951191255849343?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/1257951191255849343/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/doa-para-akhwat-yang-sangat-merindukan.html#comment-form' title='11 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/1257951191255849343'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/1257951191255849343'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/doa-para-akhwat-yang-sangat-merindukan.html' title='Doa Para Akhwat yang sangat merindukan datangnya seorang pendamping....'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-4654137243155190530</id><published>2011-11-27T20:45:00.001+07:00</published><updated>2011-11-27T20:45:28.305+07:00</updated><title type='text'>Dalil 10 Muharram sebagai Lebaran Anak Yatim</title><content type='html'>&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; Diriwyatkan bahwa Rasul saw menyayangi anak2 yatim, dan lebih menyayangi mereka pd hari 10 muharram (Asyura).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; dan menjamu serta bersedekah pd 10 muharram bukan hanya pd anak yatim tapi keluarga, anak, istri, suami dan orang orang terdekat, karena itu sunnah beliau saw dan pembuka keberkahan hingga setahun penuh. (Faidhul qadir juz 6 hal 235-236).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; Diriwayatkan pula bahwa sayyidna Umar ra menjamu tamu dengan jamuan khusus, pada malam 10 muharram (Musnad Imam Tabrani/ Tafsir Ibn katsir Juz 3 hal 244&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-4654137243155190530?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/4654137243155190530/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/dalil-10-muharram-sebagai-lebaran-anak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/4654137243155190530'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/4654137243155190530'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/dalil-10-muharram-sebagai-lebaran-anak.html' title='Dalil 10 Muharram sebagai Lebaran Anak Yatim'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-162994612811425674</id><published>2011-11-27T20:34:00.001+07:00</published><updated>2011-11-27T20:41:24.310+07:00</updated><title type='text'>Keutamaan Puasa di Hari Asyura (10 Muharram)</title><content type='html'>&lt;i&gt;Oleh: Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Di dalam kitab beliau Riyadhus Shalihin, Al-Imam An-Nawawi -rahimahullah- membawakan tiga buah hadits yang berkenaan dengan puasa sunnah pada bulan Muharram, yaitu puasa hari Asyura / Asyuro (10 Muharram) dan Tasu’a (9 Muharram)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="more-678"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hadits yang Pertama&lt;br /&gt;عن ابن عباس رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ أن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم صام يوم عاشوراء وأمر بصيامه. مُتَّفّقٌ عَلَيهِ&lt;br /&gt;Dari Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhuma-, “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa padanya”. (Muttafaqun ‘Alaihi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits yang Kedua&lt;br /&gt;عن أبي قتادة رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ أن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم سئل عن صيام يوم عاشوراء فقال: ((يكفر السنة الماضية)) رَوَاهُ مُسلِمٌ.&lt;br /&gt;Dari Abu Qatadah -radhiyallahu ‘anhu-, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa hari ‘Asyura. Beliau menjawab, “(Puasa tersebut) Menghapuskan dosa satu tahun yang lalu”. (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits yang Ketiga&lt;br /&gt;وعن ابن عباس رَضِيَ اللَّهُ عَنهُما قال، قال رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم: ((لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع)) رَوَاهُ مُسلِمٌ.&lt;br /&gt;Dari Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhuma- beliau berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila (usia)ku sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada (hari) kesembilan” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa pada hari ‘Asyura, beliau menjawab, ‘Menghapuskan dosa setahun yang lalu’, ini pahalanya lebih sedikit daripada puasa Arafah (yakni menghapuskan dosa setahun sebelum serta sesudahnya –pent). Bersamaan dengan hal tersebut, selayaknya seorang berpuasa ‘Asyura (10 Muharram) disertai dengan (sebelumnya, ed.) Tasu’a (9 Muharram). Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Apabila (usia)ku sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada yang kesembilan’, maksudnya berpuasa pula pada hari Tasu’a.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Penjelasan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk berpuasa pada hari sebelum maupun setelah ‘Asyura [1] dalam rangka menyelisihi orang-orang Yahudi karena hari ‘Asyura –yaitu 10 Muharram- adalah hari di mana Allah selamatkan Musa dan kaumnya, dan menenggelamkan Fir’aun dan para pengikutnya. Dahulu orang-orang Yahudi berpuasa pada hari tersebut sebagai syukur mereka kepada Allah atas nikmat yang agung tersebut. Allah telah memenangkan tentara-tentaranya dan mengalahkan tentara-tentara syaithan, menyelamatkan Musa dan kaumnya serta membinasakan Fir’aun dan para pengikutnya. Ini merupakan nikmat yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tinggal di Madinah, beliau melihat bahwa orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura [2]. Beliau pun bertanya kepada mereka tentang hal tersebut. Maka orang-orang Yahudi tersebut menjawab, “Hari ini adalah hari di mana Allah telah menyelamatkan Musa dan kaumnya, serta celakanya Fir’aun serta pengikutnya. Maka dari itu kami berpuasa sebagai rasa syukur kepada Allah”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa Rasulullah mengucapkan hal tersebut? Karena Nabi dan orang–orang yang bersama beliau adalah orang-orang yang lebih berhak terhadap para nabi yang terdahulu. Allah berfirman,&lt;br /&gt;إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang yang paling berhak dengan Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya dan nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman, dan Allah-lah pelindung semua orang-orang yang beriman”. (Ali Imran: 68)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling berhak terhadap Nabi Musa daripada orang-orang Yahudi tersebut, dikarenakan mereka kafir terhadap Nabi Musa, Nabi Isa dan Muhammad. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa ‘Asyura dan memerintahkan manusia untuk berpuasa pula pada hari tersebut. Beliau juga memerintahkan untuk menyelisihi Yahudi yang hanya berpuasa pada hari ‘Asyura, dengan berpuasa pada hari kesembilan atau hari kesebelas beriringan dengan puasa pada hari kesepuluh (’Asyura), atau ketiga-tiganya. [3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu sebagian ulama seperti Ibnul Qayyim dan yang selain beliau menyebutkan bahwa puasa ‘Asyura terbagi menjadi tiga keadaan:&lt;br /&gt;1. Berpuasa pada hari ‘Asyura dan Tasu’ah (9 Muharram), ini yang paling afdhal.&lt;br /&gt;2. Berpuasa pada hari ‘Asyura dan tanggal 11 Muharram, ini kurang pahalanya daripada yang pertama. [4]&lt;br /&gt;3. Berpuasa pada hari ‘Asyura saja, sebagian ulama memakruhkannya karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk menyelisihi Yahudi, namun sebagian ulama yang lain memberi keringanan (tidak menganggapnya makhruh). [5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a’lam bish shawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sumber: Syarh Riyadhis Shalihin karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin terbitan Darus Salam – Mesir, diterjemahkan Abu Umar Urwah Al-Bankawy, muraja’ah dan catatan kaki: Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Rifai)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CATATAN KAKI:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Adapun hadits yang menyebutkan perintah untuk berpuasa setelahnya (11 Asyura’) adalah dha’if (lemah). Hadits tersebut berbunyi:&lt;br /&gt;صوموا يوم عاشوراء و خالفوا فيه اليهود صوموا قبله يوما و بعده يوما . -&lt;br /&gt;“Puasalah kalian hari ‘Asyura dan selisihilah orang-orang yahudi padanya (maka) puasalah sehari sebelumnya dan sehari setelahnya. (HR. Ahmad dan Al Baihaqy. Didhaifkan oleh As Syaikh Al-Albany di Dha’iful Jami’ hadits no. 3506)&lt;br /&gt;Dan berkata As Syaikh Al Albany – Rahimahullah- di Silsilah Ad Dha’ifah Wal Maudhu’ah IX/288 No. Hadits 4297: Penyebutan sehari setelahnya (hari ke sebelas. pent) adalah mungkar, menyelisihi hadits Ibnu Abbas yang shahih dengan lafadz:&lt;br /&gt;“لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع” .&lt;br /&gt;“Jika aku hidup sampai tahun depan tentu aku akan puasa hari kesembilan”&lt;br /&gt;Lihat juga kitab Zaadul Ma’ad 2/66 cet. Muassasah Ar-Risalah Th. 1423 H. dengan tahqiq Syu’aib Al Arnauth dan Abdul Qadir Al Arna’uth.&lt;br /&gt;لئن بقيت لآمرن بصيام يوم قبله أو يوم بعده . يوم عاشوراء) .-&lt;br /&gt;“Kalau aku masih hidup niscaya aku perintahkan puasa sehari sebelumnya (hari Asyura) atau sehari sesudahnya” ((HR. Al Baihaqy, Berkata Al Albany di As-Silsilah Ad-Dha’ifah Wal Maudhu’ah IX/288 No. Hadits 4297: Ini adalah hadits mungkar dengan lafadz lengkap tersebut.))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Padanya terdapat dalil yang menunjukkan bahwa penetapan waktu pada umat terdahulu pun menggunakan bulan-bulan qamariyyah (Muharram s/d Dzulhijjah, Pent.) bukan dengan bulan-bulan ala Eropa (Jan s/d Des). Karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan bahwa hari ke sepuluh dari Muharram adalah hari di mana Allah membinasakan Fir’aun dan pengikutnya dan menyelamatkan Musa dan pengikutnya. (Syarhul Mumthi’ VI.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Untuk puasa di hari kesebelas haditsnya adalah dha’if (lihat no. 1) maka – Wallaahu a’lam – cukup puasa hari ke 9 bersama hari ke 10 (ini yang afdhal) atau ke 10 saja.&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Salim Bin Ied Al Hilaly mengatakan bahwa, “Sebagian ahlu ilmu berpendapat bahwa menyelisihi orang Yahudi terjadi dengan puasa sebelumnya atau sesudahnya. Mereka berdalil dengan hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam,&lt;br /&gt;صوموا يوم عاشوراء و خالفوا فيه اليهود صوموا قبله يوما أو بعده يوما .&lt;br /&gt;“Puasalah kalian hari ‘Asyura dan selisihilah orang-orang Yahudi padanya (maka) puasalah sehari sebelumnya atau sehari setelahnya”.&lt;br /&gt;Ini adalah pendapat yang lemah, karena bersandar dengan hadits yang lemah tersebut yang pada sanadnya terdapat Ibnu Abi Laila dan ia adalah jelek hafalannya.” (Bahjatun Nadhirin Syarah Riyadhus Shalihin II/385. cet. IV. Th. 1423 H Dar Ibnu Jauzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] (lihat no. 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] Asy-Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah mengatakan,&lt;br /&gt;والراجح أنه لا يكره إفراد عاشوراء. &lt;br /&gt;Dan yang rajih adalah bahwa tidak dimakruhkan berpuasa ‘Asyura saja. (Syarhul Mumthi’ VI)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallaahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-162994612811425674?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/162994612811425674/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/keutamaan-puasa-di-hari-asyura-10.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/162994612811425674'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/162994612811425674'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/keutamaan-puasa-di-hari-asyura-10.html' title='Keutamaan Puasa di Hari Asyura (10 Muharram)'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-1065157748925053470</id><published>2011-11-27T14:12:00.001+07:00</published><updated>2011-11-27T14:17:17.696+07:00</updated><title type='text'>Kematian dan Persiapan Menghadapinya (Bagian ke-2)</title><content type='html'>&lt;span class="postedby"&gt;Oleh: &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/author/lkmt/" title="Profil dari Tim Kajian Manhaj Tarbiyah"&gt;Tim Kajian Manhaj Tarbiyah&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr align="left" color="#eeeeee" noshade="noshade" size="1px" /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2010/01/5232/kematian-dan-persiapan-menghadapinya-bagian-ke-2/email/" rel="nofollow" title="Kirim"&gt;&lt;img alt="Kirim" class="WP-EmailIcon" src="http://www.dakwatuna.com/wp-content/plugins/wp-email/images/email_famfamfam.png" style="border: 0px none;" title="Kirim" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2010/01/5232/kematian-dan-persiapan-menghadapinya-bagian-ke-2/print/" rel="nofollow" title="Print"&gt;&lt;img alt="Print" class="WP-PrintIcon" src="http://www.dakwatuna.com/wp-content/plugins/wp-print/images/printer_famfamfam.gif" style="border: 0px none;" title="Print" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="dd_print_text"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="dd_content_wrap"&gt;&lt;b&gt;KEADAAN MUKMIN DAN KAFIR KETIKA MATI&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Bagaimana keadaan mukmin dan kafir ketika mati?&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;dakwatuna.com – &lt;/b&gt;Rasulullah saw bersabda: &lt;i&gt;“Orang mukmin ketika&amp;nbsp; datang kematiannya –ia didatangi &lt;b&gt;al basyir&lt;/b&gt; (pembawa kabar gembira) dari Allah, maka tidak ada yang paling menyenangkan bagi orang mukmin ini dibandingkan berjumpa dengan Allah. Maka Allah akan senang menemuinya. Sesungguhnya orang fajir (pecandu dosa) atau orang kafir jika menghadapai kematian, akan datang padanya keburukan yang pernah diperbuatnya, atau menemui keburukan-keburukan lain. Sehingga ia enggan berjumpa dengan Allah, dan Allah enggan menemuinya.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika orang beriman menghadapi kematian akan turun Malaikat rahmat yang menenangkannya, memberikan kabar gembira ridha Allah, Allah bukakan baginya pintu-pintu surga. Ia melihat nikmat dan kemewahannya, sehingga lapang dadanya dan senang berjumpa dengan Rabbnya. Firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang Telah dijanjikan Allah kepadamu”. &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.” &lt;/i&gt;(Fushshilat: 30-31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan orang yang enggan, maka mereka tersiksa dengan kematiannya, dan dipaksa menemui Rabbnya. Firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar”, (tentulah kamu akan merasa ngeri).”&lt;/i&gt; (Al-Anfal: 50)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;DATANG MENDADAK&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Ada di antara orang yang berkata: “Nanti saya akan bertaubat” &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Orang yang belum tepat Islamnya, orang yang belum tepat memahami kematian. Apakah pernah ada kesepakatan dengan kematian, sehingga ia tidak mati kecuali setelah bertaubat? Apakah ada seseorang di muka bumi ini meyakini dengan pasti bahwa ia akan hidup sampai esok hari? Atau orang yang mengatakan demikian telah membuat janji demikian di hadapan Allah. Firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Sesungguhnya Allah, Hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok&lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2010/01/5232/kematian-dan-persiapan-menghadapinya-bagian-ke-2/#_ftn1"&gt;&lt;b&gt;[1]&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” &lt;/i&gt;(Luqman: 34)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah kematian ada di tangan Allah. Tidak ada seorangpun yang tahu kapan kematian itu akan datang menghampirinya. Maka orang yang berfikir akan bersegera mengerjakan amal shalih sebelum kematian mendahuluinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;RINGKASAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Mati dan hidup ada di tangan Allah. Pencipta mati dan hidup, bukan di tangan berhala atau kehendak alam, yang tidak memiliki bagi dirinya sendiri hidup dan mati. Mati atau perpindahan dari ruang amal menuju ke ruang pembalasan. Kematian adalah keharusan bagi setiap manusia, tiada tempat berlari darinya, maka wajib mempersiapkan diri untuk pasca kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Catatan&lt;/i&gt;:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2010/01/5232/kematian-dan-persiapan-menghadapinya-bagian-ke-2/#_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Maksudnya: manusia itu tidak dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya besok atau yang akan diperolehnya, namun demikian mereka diwajibkan berusaha.&lt;br /&gt;&lt;i&gt; — Tamat&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: medium none; color: black; overflow: hidden; text-align: left; text-decoration: none;"&gt;&lt;br /&gt;Sumber:  &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2010/01/5232/kematian-dan-persiapan-menghadapinya-bagian-ke-2/#ixzz1ewkWARWa" style="color: #003399;"&gt;http://www.dakwatuna.com/2010/01/5232/kematian-dan-persiapan-menghadapinya-bagian-ke-2/#ixzz1ewkWARWa&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-1065157748925053470?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/1065157748925053470/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/kematian-dan-persiapan-menghadapinya_27.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/1065157748925053470'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/1065157748925053470'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/kematian-dan-persiapan-menghadapinya_27.html' title='Kematian dan Persiapan Menghadapinya (Bagian ke-2)'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-6348940139073278468</id><published>2011-11-27T14:09:00.001+07:00</published><updated>2011-11-27T14:11:43.107+07:00</updated><title type='text'>Kematian dan Persiapan Menghadapinya (Bagian ke-1)</title><content type='html'>&lt;span class="postedby"&gt;Oleh: &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/author/lkmt/" title="Profil dari Tim Kajian Manhaj Tarbiyah"&gt;Tim Kajian Manhaj Tarbiyah&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr align="left" color="#eeeeee" noshade="noshade" size="1px" /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2009/12/5219/kematian-dan-persiapan-menghadapinya-bagian-ke-1/email/" rel="nofollow" title="Kirim"&gt;&lt;img alt="Kirim" class="WP-EmailIcon" src="http://www.dakwatuna.com/wp-content/plugins/wp-email/images/email_famfamfam.png" style="border: 0px none;" title="Kirim" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2009/12/5219/kematian-dan-persiapan-menghadapinya-bagian-ke-1/print/" rel="nofollow" title="Print"&gt;&lt;img alt="Print" class="WP-PrintIcon" src="http://www.dakwatuna.com/wp-content/plugins/wp-print/images/printer_famfamfam.gif" style="border: 0px none;" title="Print" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="dd_content_wrap"&gt;&lt;a href="http://www.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2009/12/ziarah2.jpg?c13ed3" rel="shadowbox[sbpost-5219];player=img;" title="ziarah2"&gt;&lt;img alt="" class="alignright size-full wp-image-5221" height="200" src="http://www.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2009/12/ziarah2.jpg" style="float: right; margin: 5px;" title="ziarah2" width="250" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;HIDUP DAN MATI&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Apa perbedaan mati dan hidup?&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;dakwatuna.com – &lt;/b&gt;Orang mati tidak lagi makan, minum, mendengar, mengenal, berfikir, tidak merasa apa yang ada menurut pandanan kita, tidak berkembang, tidak bernafas, tidak menikah, tidak melahirkan anak. Orang hidup sebaliknya.&lt;br /&gt;Maka renungkanlah dengan baik. Bagaimana makanan yang mati dan beku itu berubah menjadi kehidupan. Terjadi setiap hari di tubuh kita. Perhatikan tanganmu yang dahulu kecil, kemudian dengan makanan yang sudah mati itu semakin bertambah besar, sehinggga menjadi tangan yang hidup. Lalu bandingkan dengan tangan mayit, yang dahulu aktif dan hidup, tiba-tiba menjadi kaku dan mati.&lt;br /&gt;Maka siapakah yang memberikan kehidupan pada benda-benda mati? Dan siapakah yang memutuskan kematian pada makhluk hidup?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhala-berhala mati, tidak memiliki kematian atau kehidupan.&lt;br /&gt;Alam mati, tidak memiliki kematian dan kehidupan, akal atau pengelolaan.&lt;br /&gt;Sesungguhnya semua yang hidup akan dipaksa mati. Dia harus mati. Karena kematian dan kehidupan tidak ada di tangannya, akan tetapi ada di tangan Allah. Pemilik segala sesuatu. Melakukan apa yang diinginkan. Firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi, dia menghidupkan dan mematikan, dan dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” &lt;/i&gt;(Al Hadidi: 2)&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Dan dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan dialah yang (mengatur) pertukaran malam dan siang. Maka apakah kamu tidak memahaminya?” &lt;/i&gt;(Al-Mukminun: 80).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;MATI SETELAH HIDUP&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Mengapa kita mati?&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya hanya Allah yang menghidupkan kita dan mematikan kita. Allah swt telah memberitahukan kepada kita bahwa hikmah dari kematian adalah perpindahan dari &lt;b&gt;&lt;i&gt;darul amal&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (rumah kerja) menuju &lt;b&gt;&lt;i&gt;darul jaza’&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (rumah balasan), setiap orang mendapatkan balasan dari apa yang pernah dikerjakan. Firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia Telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”&lt;/i&gt; (Ali Imran: 185)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;TIDAK ADA TEMPAT BERLARI DARINYA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Adakah tempat berlari dari kematian?&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Aneh sekali orang yang tidak meyakini kematian, padahal ia menyaksikan orang-orang mati. Kematian itu tidak ada seorangpun di muka bumi ini yang mengingkarinya. Akan tetapi banyak orang yang menolak dirinya mengenang kematian itu, bersiap menghadapi pasca kematian. Mereka berlari dari mengingatnya padahal mereka akan menemuinya, menjauhkan diri darinya padahal kematian itu mendatanginya. Firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, Maka Sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, Kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu dia beritakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan.” &lt;/i&gt;(Al-Jumu’ah: 8 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;KEPUTUSAN YANG DITUNDA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Apakah kematian itu ada di tangan manusia?&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya jelas. Sesungguhnya hidup itu tidak ada di tangan manusia, jika tidak demikian maka setiap orang yang mati akan menghidupkan dirinya sendiri. Demikian juga kematian tidak ada di tangan manusia. Jika ada di tangan manusia maka tidak ada seorangpun di muka bumi ini yang mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Lalu ada di tangan siapa?&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kematian ada di tangan Yang telah menghidupkan dan menciptakan manusia. Di tangan Allah swt. Anda akan melihat ketentuan umum yang berlaku pada sunnatul maut wal hayat (mati dan hidup). Pada waktu kurang dari seratus tahun kita umumnya sudah mati, sebagaimana sebelum seratus tahun yang lalu kita belum ada di dunia. Demikianlah orang-orang sebelum kita, meski dengan perbedaan umur dan bilangan tahun….&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu. Maka apabila Telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” &lt;/i&gt; (Al-A’raf: 34)&lt;br /&gt;Masing-maing kita akan hidup terbatas, ditentukan dengan ilmu Allah swt. Dan peran kita di dunia ini juga sudah jelas sesuai dengan ketentuan umum. Masing-masing kita memiliki ajal terbatas. Jika telah datang tidak bisa ditunda. Betapa banyak orang yang dalam keadaan sehat wal afiat, dengan mendadak berpindah ke sisi Rabbnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditunjukkan kepadanya sebab yang paling kecil, bagi kematiannya. Firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Sesungguhnya ketetapan Allah apabila Telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu Mengetahui.”&lt;/i&gt; (Nuh: 4)&lt;br /&gt;Sebaliknya betapa banyak orang yang mengalami sakit yang sangat berbahaya, mengalami luka yang berat, atau tercabik-cabik oleh senjata perang, atau penyakit berat lainnya. Betapa banyak orang yang menghadapi serangan tepat dan mematikan, atau situasi yang membinasakan, akan tetapi mereka tetap hidup, tidak mati. Hal ini karena ajalnya belum sampai. Firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang Telah ditentukan waktunya.” &lt;/i&gt;(Ali Imran: 145)&lt;br /&gt;&lt;i&gt;- bersambung&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: medium none; color: black; overflow: hidden; text-align: left; text-decoration: none;"&gt;&lt;br /&gt;Sumber:  &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2009/12/5219/kematian-dan-persiapan-menghadapinya-bagian-ke-1/#ixzz1ewjK9927" style="color: #003399;"&gt;http://www.dakwatuna.com/2009/12/5219/kematian-dan-persiapan-menghadapinya-bagian-ke-1/#ixzz1ewjK9927&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-6348940139073278468?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/6348940139073278468/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/kematian-dan-persiapan-menghadapinya.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/6348940139073278468'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/6348940139073278468'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/kematian-dan-persiapan-menghadapinya.html' title='Kematian dan Persiapan Menghadapinya (Bagian ke-1)'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-3883009823714283820</id><published>2011-11-26T09:45:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T09:48:37.877+07:00</updated><title type='text'>Mu'min Rindu Kampung Halaman Sejati</title><content type='html'>&lt;div id="isi"&gt;&lt;img alt="" src="http://a.cdn.tendaweb.com/fckfiles/image/suara-langit/kunci-surga.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah saudara bahwa ketika seorang Mu’min telah lulus menyelesaikan segenap rangkaian pemeriksaan atas dirinya di &lt;i&gt;yaumul hisab&lt;/i&gt; (hari perhitungan amal), maka barulah ia diizinkan Allah memasuki &lt;i&gt;Al-Jannah&lt;/i&gt; (surga), negeri keabadian penuh kebahagiaan hakiki? Ia tidak diizinkan memasuki surga bilamana terbukti ia masih mempunyai permasalahan dengan sesama manusia, walaupun dengan Allah &lt;i&gt;Ta’aala &lt;/i&gt;ia tidak lagi punya masalah apa-apa. Segenap dosanya yang bersifat &lt;i&gt;hablun minallah &lt;/i&gt;telah diampuni Allah &lt;i&gt;Ta’aala&lt;/i&gt;. Namun karena ia masih memiliki masalah &lt;i&gt;hablun minannaas &lt;/i&gt;dengan sesama manusia, maka ia ditahan di suatu tempat dekat sekali dari &lt;i&gt;baabul-jannah &lt;/i&gt;(pintu surga) guna menyelesaikan berbagai perkara (melakukan rekonsiliasi) dengan sesama manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam &lt;/i&gt;menggambarkannya sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;div class="ArabCenter"&gt;عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُعَلَيْهِ وَسَلَّمَيَخْلُصُ الْمُؤْمِنُونَيَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ النَّارِفَيُحْبَسُونَ عَلَى قَنْطَرَةٍبَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِفَيُقْتَصُّ لِبَعْضِهِمْ مِنْبَعْضٍ مَظَالِمُكَانَتْ بَيْنَهُمْفِي الدُّنْيَا حَتَّى إِذَاهُذِّبُوا وَنُقُّوا أُذِنَ لَهُمْفِي دُخُولِ الْجَنَّةِفَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِلَأَحَدُهُمْ أَهْدَى لِمَنْزِلِهِفِي الْجَنَّةِ مِنْهُ بِمَنْزِلِهِكَانَ فِي الدُّنْيَا&lt;/div&gt;&lt;i&gt;D&lt;/i&gt;&lt;i&gt;ari Abu Sa'id Al Khudri ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Orang-orang yang beriman pada hari Kiamat selamat dari neraka, lalu mereka ditahan di jembatan antara surga dan neraka, lalu sebagian akan diqishas atas sebagian yang lain karena kezhaliman mereka waktu di dunia, sehingga setelah mereka dibersihkan dan telah suci,&lt;/i&gt;&lt;i&gt; maka barulah&lt;/i&gt;&lt;i&gt; mereka diizinkan memasuki surga. Demi Dzat yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya, seseorang di antara mereka lebih mengetahui rumahnya di surga dari pada rumahnya di dunia."&lt;/i&gt; (HR. Ahmad No. 10673)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits di atas Nabi &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt; menggunakan istilah &lt;u&gt;"ditahan di jembatan antara surga dan neraka"&lt;/u&gt; untuk menggambarkan masih menggantungnya masalah orang-orang beriman yang belum berhak masuk surga karena masih adanya problema antara dirinya dengan manusia lainnya yang pernah ia zalimi. Perbuatan menzalimi manusia lain merupakan perbuatan tercela yang sangat dibenci Allah &lt;i&gt;Ta’aala&lt;/i&gt;. Dalam sebuah hadits Qudsi dikatakan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;div class="ArabCenter"&gt;إِنِّي حَرَّمْتُ عَلَى نَفْسِيالظُّلْمَ وَعَلَى عِبَادِيأَلَا فَلَا تَظَالَمُوا&lt;/div&gt;&lt;i&gt;Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda bahwa Allah berfirman, “Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku mengharamkannya pula atas kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.” &lt;/i&gt;(HR. Ahmad No. 20451)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surga merupakan tempat yang hanya berhak dimasuki oleh hamba-hamba Allah &lt;i&gt;Ta’aala&lt;/i&gt; yang benar-benar telah bersih dari segenap dosa, baik dosa kepada Allah &lt;i&gt;Ta’aala&lt;/i&gt; maupun dosa kepada sesama hamba Allah. Oleh karenanya, seorang muslim senantiasa mendambakan dan mengharapkan ampunan Allah &lt;i&gt;Ta’aala&lt;/i&gt; sebab ia tahu bahwa jika dirinya masih mempunyai dosa niscaya ia tidak berhak memasuki surga. Dan oleh karenanya seorang muslim sangat khawatir bila dirinya terlibat dalam sebuah perbuatan menzalimi manusia lain, sebab ia tahu bahwa mengharapkan maaf dari sesama manusia seringkali lebih sulit daripada mengharapkan ampunan Allah &lt;i&gt;Ta’aala&lt;/i&gt; yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka di dalam hadits di atas Nabi &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt; menyatakan “...&lt;i&gt;lalu sebagian akan diqishas atas sebagian yang lain karena kezhaliman mereka waktu di dunia...”&lt;/i&gt; dan ini merupakan suatu keharusan agar si muslim yang sempat berlaku zalim dapat menjadi bersih dari dosa tersebut sehingga layak memasuki surga. Sebab surga hanya menerima mereka yang bersih dan suka membersihkan diri. Oleh karenanya Nabi &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt; selanjutnya berkata, “...&lt;i&gt;maka barulah &lt;/i&gt;&lt;i&gt;mereka diizinkan memasuki surga.&lt;/i&gt;&lt;i&gt;”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu terakhir Nabi &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt; menyatakan bahwa “&lt;i&gt;Demi Dzat yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya, seseorang di antara mereka lebih mengetahui rumahnya di surga dari pada rumahnya di dunia."&lt;/i&gt; Si mukmin kemudian berhak memasuki surga Allah &lt;i&gt;Ta’aala&lt;/i&gt; dan Nabi&lt;i&gt; shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt; menggambarkan bahwa ketika si mukmin menginjakkan kakinya ke dalam surga tiba-tiba kakinya membawa tubuhnya melangkah menuju kediamannya di surga lebih mengetahui, mantap dan yakin daripada ia melangkahkan kakinya pulang ke rumahnya sewaktu hidup di dunia. &lt;i&gt;Subhanallah.&lt;/i&gt;..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, saudaraku, surga memang benar-benar kampung halaman sejati orang-orang beriman. Sebab Nabi &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt; sampai perlu bersumpah demi Allah &lt;i&gt;Ta’aala&lt;/i&gt; Dzat yang jiwanya berada di dalam genggamanNya, ketika menggambarkan hal tersebut. Sewaktu di dunia seseorang setelah pulang dari dinas luar kota tentu sangat rindu pulang ke rumahnya agar berkumpul dengan anak dan istrinya. Boleh jadi kerinduannya sedemikian rupa malah menyebabkan dirinya sampai kehilangan arah alias tersesat pulang ke rumahnya sendiri. Hal ini tidak bakal terjadi ketika seorang mu’min memasuki pintu surga lalu melangkahkan kakinya menuju rumah sejatinya, kampung halaman sejatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh bahagianya bila seseorang dapat memasuki pintu surga lalu berkumpul kembali bersama keluarganya dan anak-keturunannya di kampung halaman sejati orang-orang beriman.&lt;br /&gt;Allah &lt;i&gt;Ta’aala&lt;/i&gt; berfirman di dalam Kitabullah Al-Qur’anul Karim:&lt;br /&gt;&lt;div class="ArabCenter"&gt;وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍأَلْحَقْنَا بِهِمْذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْعَمَلِهِمْمِنْ شَيْءٍكُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ&lt;/div&gt;“&lt;i&gt;Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan anak cucu mereka dengan mereka (di dalam surga), dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.&lt;/i&gt;” (QS. Ath-Thuur [52] : 21).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah &lt;i&gt;Ta’aala &lt;/i&gt;berfirman di dalam Kitabullah Al-Qur’anul Karim:&lt;br /&gt;&lt;div class="ArabCenter"&gt;وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَغَيْرَبَعِيدٍهَذَا مَا تُوعَدُونَلِكُلِّ أَوَّابٍحَفِيظٍمَنْ خَشِيَ الرَّحْمَنَبِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُنِيبٍادْخُلُوهَا بِسَلامٍذَلِكَ يَوْمُ الْخُلُودِ&lt;/div&gt;&lt;i&gt;Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya). (Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertobat, masukilah surga itu dengan aman, itulah hari kekekalan.&lt;/i&gt; (QS. Qaaf [50] : 32-34 )&lt;br /&gt;Ya Allah, masukkanlah kami beserta keluarga dan anak-cucu kami ke dalam RahmatMu dan SurgaMu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&amp;nbsp; &lt;a href="http://www.eramuslim.com/suara-langit/kehidupan-sejati/mu-min-rindu-kampung-halaman-sejati.htm"&gt;http://www.eramuslim.com/suara-langit/kehidupan-sejati/mu-min-rindu-kampung-halaman-sejati.htm&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-3883009823714283820?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/3883009823714283820/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/mumin-rindu-kampung-halaman-sejati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/3883009823714283820'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/3883009823714283820'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/mumin-rindu-kampung-halaman-sejati.html' title='Mu&apos;min Rindu Kampung Halaman Sejati'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-411254960754715218</id><published>2011-11-26T09:40:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T09:42:57.098+07:00</updated><title type='text'>Doa Tolak Musibah Yang Datang Secara Tiba-Tiba</title><content type='html'>&lt;div id="isi"&gt;&lt;img alt="" src="http://ustadchandra.files.wordpress.com/2010/01/doa-anak1.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika putera sahabat Utsman bin Affan &lt;i&gt;radhiyallahu ’anhu&lt;/i&gt; bernama Aban bin Ustman &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; meriwayatkan sebuah hadits Nabi Muhammad &lt;i&gt;shollallahu ’alaih wa sallam&lt;/i&gt; yang di dalamnya terdapat doa untuk memohon perlindungan Allah Ta’ala agar tidak tertimpa musibah yang datang secara mengejutkan. Doa tersebut berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;div class="ArabCenter"&gt;بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ&lt;/div&gt;&lt;div class="ArabCenter"&gt;فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ&lt;/div&gt;&lt;i&gt;'BISMILLAAHIL LADZII LAA YADLURRU MA'AS MIHI SYAI'UN FIL ARDLI WALA FIS SAMAA'WAHUWAS SAMII'UL 'ALIIM' (dengan nama Allah, dengan nama-Nya tidak akan berbahaya sesuatu yang ada di bumi maupun yang ada di langit, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi &lt;i&gt;shollallahu ’alaih wa sallam&lt;/i&gt; menganjurkan agar doa tersebut dibaca sebanyak tiga kali di waktu pagi dan tiga kali di waktu sore. Barangsiapa membacanya dengan rajin seperti itu, Nabi&lt;i&gt; shollallahu ’alaih wa sallam&lt;/i&gt; menjanjikan bahwa orang itu tidak akan terkena musibah yang datang secara tiba-tiba. Bacaan di waktu pagi akan melindunginya hingga sore tiba, sedangkan bacaan di waktu sore akan melindunginya hingga pagi tiba. Lengkap haditsnya berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;div class="ArabCenter"&gt;عَنْ أَبَانَ بْنِ عُثْمَانَ عَنْ عُثْمَانَ أَنَّ&lt;/div&gt;&lt;div class="ArabCenter"&gt;النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ&lt;/div&gt;&lt;div class="ArabCenter"&gt;مَنْ قَالَ بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ&lt;/div&gt;&lt;div class="ArabCenter"&gt;فِي الْأَرْضِوَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ&lt;/div&gt;&lt;div class="ArabCenter"&gt;ثَلَاثَ مَرَّاتٍ لَمْ تَفْجَأْهُفَاجِئَةُ بَلَاءٍ حَتَّى اللَّيْلِ وَمَنْ قَالَهَا&lt;/div&gt;&lt;div class="ArabCenter"&gt;حِينَ يُمْسِيلَمْ تَفْجَأْهُ فَاجِئَةُ بَلَاءٍ حَتَّى يُصْبِحَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ&lt;/div&gt;&lt;i&gt;(AHMAD - 497) : Dari Aban Bin Utsman dari Utsman bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa membaca 'BISMILLAAHIL LADZII LAA YADLURRU MA'AS MIHI SYAI'UN FIL ARDLI WALA FIS SAMAA'WAHUWAS SAMII'UL 'ALIIM' (dengan nama Allah, dengan nama-Nya tidak akan berbahaya sesuatu yang ada di bumi maupun yang ada di langit, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui) sebanyak tiga kali, maka tidak akan ditimpa musibah mengejutkan hingga malam hari, dan barangsiapa membacanya di waktu sore maka tidak akan ditimpa musibah mengejutkan hingga pagi hari jika Allah menghendaki."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img alt="" height="380" src="http://i253.photobucket.com/albums/hh80/deblong_17/kaligrafi.jpg" width="400" /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya tidak seorangpun ingin dirinya tertimpa musibah. Dan umumnya musibah datang secara tiba-tiba. Oleh karenanya doa ini menjadi sangat relevan dan penting bagi kehidupan kita. Maka sudah sepatutnya kita menjalankan nasihat mulia Nabi Muhammad &lt;i&gt;shollallahu ’alaih wa sallam &lt;/i&gt;ini. Karena ia tidak saja kita butuhkan, tetapi dengan mengamalkannya berarti kita turut menegakkan salah satu sunnah Nabi&lt;i&gt; shollallahu ’alaih wa sallam&lt;/i&gt; yang banyak ditinggalkan kaum muslimin dewasa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uniknya hadits ini dikuatkan oleh hadits lainnya yang menjelaskan bahwa suatu ketika Aban bin Ustman sendiri pernah terkena suatu musibah mendadak dalam perjalanan hidupnya. Sehingga ketika ia dikunjungi oleh muslim lainnya mereka terheran—heran mengapa ia sampai bisa mengalami musibah mendadak padahal ia pula yang meriwayatkan hadits tentang doa menolak musibah mendadak. Maka Aban bin Ustman dengan jujur mengakui bahwa pada hari itu ia terlupa membaca doa tersebut. &lt;i&gt;Subhanallah&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;div class="ArabCenter"&gt;أَبَانَ بْنَ عُثْمَانَ يَقُولُ سَمِعْتُ عُثْمَانَ يَعْنِي ابْنَ عَفَّانَ يَقُولُ&lt;/div&gt;&lt;div class="ArabCenter"&gt;سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ قَالَ&lt;/div&gt;&lt;div class="ArabCenter"&gt;بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ&lt;/div&gt;&lt;div class="ArabCenter"&gt;وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ لَمْ تُصِبْهُ&lt;/div&gt;&lt;div class="ArabCenter"&gt;فَجْأَةُ بَلَاءٍ حَتَّى يُصْبِحَ وَمَنْ قَالَهَا حِينَ يُصْبِحُ ثَلَاثُ مَرَّاتٍ&lt;/div&gt;&lt;div class="ArabCenter"&gt;لَمْ تُصِبْهُ فَجْأَةُ بَلَاءٍ حَتَّى يُمْسِيَ و قَالَ فَأَصَابَ أَبَانَ بْنَ عُثْمَانَ&lt;/div&gt;&lt;div class="ArabCenter"&gt;الْفَالِجُ فَجَعَلَ الرَّجُلُ الَّذِي سَمِعَ مِنْهُ الْحَدِيثَ يَنْظُرُ إِلَيْهِ&lt;/div&gt;&lt;div class="ArabCenter"&gt;فَقَالَ لَهُ مَا لَكَ تَنْظُرُ إِلَيَّ فَوَاللَّهِ مَا كَذَبْتُ عَلَى عُثْمَانَ&lt;/div&gt;&lt;div class="ArabCenter"&gt;وَلَا كَذَبَ عُثْمَانُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَكِنَّ&lt;/div&gt;&lt;div class="ArabCenter"&gt;الْيَوْمَ الَّذِي أَصَابَنِي فِيهِ مَا أَصَابَنِي غَضِبْتُ فَنَسِيتُ أَنْ أَقُولَهَا&lt;/div&gt;&lt;i&gt;(ABUDAUD - 4425) : Aban bin Utsman berkata: Aku mendengar Utsman -maksudnya Utsman bin Affan- berkata, "Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa mengucapkan: BISMILLAHILLADZI LAA YADLURRU MA'ASMIHI SYAI`UN FIL ARDLI WA LAA FIS SAMAA`I WA HUWAS SAMII'UL 'ALIIMU (dengan nama Allah yang tidak ada sesuatu pun di bumi dan di langit yang bisa memberikan bahaya. &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui) sebanyak tiga kali, maka ia tidak akan tertimpa musibah yang datang dengan tiba-tiba hingga pagi hari. Dan barangsiapa membacanya pada pagi hari sebanyak tiga kali, maka ia tidak akan tertimpa musibah yang datang dengan tiba-tiba hingga sore hari." Perawi berkata, "Lalu Aban tertimpa penyakit lumpuh, hingga orang yang mendengar hadits darinya melihat kepadanya (Aban), maka Aban pun berkata, "Kenapa kamu melihat aku? Demi Allah, aku tidak berbohong atas nama Utsman, dan Utsman tidak berbohong atas nama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Tetapi pada hari ketika aku tertimpa penyakit ini, aku sedang marah hingga aku lupa membacanya."&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber&amp;nbsp; :&amp;nbsp; &lt;a href="http://www.eramuslim.com/suara-langit/ringan-berbobot/doa-tolak-musibah-yang-datang-secara-tiba-tiba.htm"&gt;http://www.eramuslim.com/suara-langit/ringan-berbobot/doa-tolak-musibah-yang-datang-secara-tiba-tiba.htm&lt;/a&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-411254960754715218?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/411254960754715218/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/doa-tolak-musibah-yang-datang-secara.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/411254960754715218'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/411254960754715218'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/doa-tolak-musibah-yang-datang-secara.html' title='Doa Tolak Musibah Yang Datang Secara Tiba-Tiba'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-974154081129184112</id><published>2011-11-26T09:32:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T09:35:01.055+07:00</updated><title type='text'>Doa Berlindung dari Hilangnya Nikmat dan Kesehatan</title><content type='html'>&lt;img alt="doa nikmat" height="150" src="http://rumaysho.com/images/stories/rsz_moon1.jpg" style="float: left; margin: 7px;" width="200" /&gt;Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.&lt;br /&gt;Satu do'a lagi yang ringkas namun penuh makna dari kitab Riyadhus Sholihin An Nawawi, yaitu do'a berlindung dari hilangnya nikmat dan datangnya penyakit.&lt;br /&gt;Dari 'Abdullah bin 'Umar, dia berkata, "Di antara doa Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wa sallam &lt;/i&gt;adalah:&lt;br /&gt;&lt;div align="center" dir="rtl"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;“ALLOOHUMMA INNII A'UUDZU BIKA MIN ZAWAALI NI'MATIK, WA TAHAWWULI 'AAFIYATIK, WA FUJAA'ATI NIQMATIK, WA JAMII'I SAKHOTHIK” [Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya kenikmatan yang telah Engkau berikan, dari berubahnya kesehatan yang telah Engkau anugerahkan, dari siksa-Mu yang datang secara tiba-tiba, dan dari segala kemurkaan-Mu]. (HR. Muslim no. 2739)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Faedah dari hadits di atas:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;: Yang dimaksud nikmat di sini adalah nikmat Islam, Iman, anugerah ihsan (berbuat baik) dan kebajikan. Jadi dalam do’a ini kita berlindung dari hilangnya nikmat-nikmat tersebut. Makus hilangnya nikmat adalah nikmat tersebut hilang dan tanpa ada penggantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;: Yang dimaksud dengan berubahnya kesehatan (‘&lt;i&gt;afiyah&lt;/i&gt;) adalah nikmat sehat tersebut berubah menjadi sakit. Yang dimaksud dengan ‘&lt;i&gt;afiyah&lt;/i&gt; (sehat) di sini adalah berpindahnya nikmat ‘afiyah dari pendengaran, penglihatan dan anggota tubuh lainnya. Jadi do’a ini kita maksudkan meminta selalu kesehatan (tidak berubah menjadi penyakit) pada pendengaran, penglihatan dan anggota tubuh lainnya.&lt;br /&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;: Yang dimaksud &lt;i&gt;fuja’ah&lt;/i&gt; adalah datang tiba-tiba. Sedangkan “&lt;i&gt;niqmah&lt;/i&gt;” adalah siksa dan murka. Dalam do’a ini berarti kita berlindung pada Allah dari datangnya ‘adzab, siksa dan murka Allah yang tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Keempat&lt;/span&gt;: Dalam do’a ini, kita juga meminta pada Allah agar terlindung dari murka-Nya yaitu segala hal yang dapat mengantarkan pada murka Allah.&lt;br /&gt;Semoga do’a ini bisa kita amalkan dan mendapatkan berbagai anugerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Referensi&lt;/b&gt;: ‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, Al ‘Azhim Abadi, 4/283, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, Beirut, tahun 1415.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel &lt;a href="http://www.rumaysho.com/"&gt;www.rumaysho.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-974154081129184112?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/974154081129184112/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/doa-berlindung-dari-hilangnya-nikmat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/974154081129184112'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/974154081129184112'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/doa-berlindung-dari-hilangnya-nikmat.html' title='Doa Berlindung dari Hilangnya Nikmat dan Kesehatan'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-5287806536124194804</id><published>2011-11-26T09:16:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T09:18:25.217+07:00</updated><title type='text'>Kaya Hati, Itulah Kaya Senyatanya</title><content type='html'>&lt;img alt="rsz_harta" height="150" src="http://rumaysho.com/images/stories/rsz_harta.jpg" style="float: left; margin: 7px;" width="200" /&gt;&lt;br /&gt;Orang kaya pastikah selalu merasa cukup? Belum tentu. Betapa banyak orang kaya namun masih merasa kekurangan. Hatinya tidak merasa puas dengan apa yang diberi Sang Pemberi Rizki. Ia masih terus mencari-cari apa yang belum ia raih. Hatinya masih terasa hampa karena ada saja yang belum ia raih.&lt;br /&gt;Coba kita perhatikan nasehat suri tauladan kita. Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda,&lt;br /&gt;&lt;div align="center" dir="rtl"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;“&lt;i&gt;Kaya bukanlah diukur dengan&lt;/i&gt;&lt;i&gt; banyaknya kemewahan dunia. Namun &lt;/i&gt;&lt;i&gt;kaya&lt;/i&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;i&gt;(&lt;/i&gt;&lt;i&gt;ghina’&lt;/i&gt;&lt;i&gt;)&lt;/i&gt;&lt;i&gt; adalah hati&lt;/i&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;i&gt;yang selalu merasa cukup.&lt;/i&gt;” (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat Ibnu Hibban, Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; memberi nasehat berharga kepada sahabat Abu Dzar. Abu Dzar &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhu &lt;/i&gt;berkata,&lt;br /&gt;&lt;div align="center" dir="rtl"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;قَالَ لِي رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا أَبَا ذَرّ أَتَرَى كَثْرَة الْمَال هُوَ الْغِنَى ؟ قُلْت : نَعَمْ . قَالَ : وَتَرَى قِلَّة الْمَال هُوَ الْفَقْر ؟ قُلْت : نَعَمْ يَا رَسُول اللَّه . قَالَ : إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْب ، وَالْفَقْر فَقْر الْقَلْب&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;“&lt;i&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku, “Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang bahwa banyaknya harta itulah yang disebut kaya (ghoni)?” “Betul,” jawab Abu Dzar. Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta itu berarti fakir?” “Betul,” Abu Dzar menjawab dengan jawaban serupa. Lantas beliau pun bersabda, “Sesungguhnya yang namanya kaya (ghoni) adalah kayanya hati (hati yang selalu merasa cukup). Sedangkan fakir adalah fakirnya hati (hati yang selalu merasa tidak puas).&lt;/i&gt;” (HR. Ibnu Hibban. Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata bahwa sanad hadits ini &lt;i&gt;shahih&lt;/i&gt; sesuai&lt;i&gt; &lt;/i&gt;syarat Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah nasehat dari suri tauladan kita. Nasehat ini sungguh berharga. Dari sini seorang insan bisa menerungkan bahwa banyaknya harta dan kemewahan dunia bukanlah jalan untuk meraih kebahagiaan senyatanya. Orang kaya selalu merasa kurang puas. Jika diberi selembah gunung berupa emas, ia pun masih mencari lembah yang kedua, ketiga dan seterusnya. Oleh karena itu, kekayaan senyatanya adalah hati yang selalu merasa cukup dengan apa yang Allah beri. Itulah yang namanya qona’ah. Itulah yang disebut dengan &lt;i&gt;ghoni &lt;/i&gt;(kaya)&lt;i&gt; &lt;/i&gt;yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Baththol &lt;i&gt;rahimahullah &lt;/i&gt;mengatakan, “Hakikat kekayaan sebenarnya bukanlah dengan banyaknya harta. Karena begitu banyak orang yang diluaskan rizki berupa harta oleh Allah, namun ia tidak pernah merasa puas dengan apa yang diberi. Orang seperti ini selalu berusaha keras untuk menambah dan terus menambah harta. Ia pun tidak peduli dari manakah harta tersebut ia peroleh. Orang semacam inilah yang seakan-akan begitu fakir karena usaha kerasnya untuk terus menerus memuaskan dirinya dengan harta. Perlu dikencamkan baik-baik bawa hakikat kekayaan yang sebenarnya adalah kaya hati (hati yang selalu &lt;i&gt;ghoni&lt;/i&gt;, selalu merasa cukup). Orang yang kaya hati inilah yang selalu merasa cukup dengan apa yang diberi, selalu merasa qona’ah (puas) dengan yang diperoleh dan selalu ridho atas ketentuan Allah. Orang semacam ini tidak begitu tamak untuk menambah harta dan ia tidak seperti orang yang tidak pernah letih untuk terus menambahnya. Kondisi orang semacam inilah yang disebut &lt;i&gt;ghoni&lt;/i&gt; (yaitu kaya yang sebenarnya).”&lt;br /&gt;Ibnu Hajar Al Asqolani &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; menerangkan pula, “Orang yang disifati dengan kaya hati adalah orang yang selalu &lt;i&gt;qona’ah&lt;/i&gt; (merasa puas) dengan rizki yang Allah beri. Ia tidak begitu tamak untuk menambahnya tanpa ada kebutuhan. Ia pun tidak seperti orang yang tidak pernah letih untuk mencarinya. Ia tidak meminta-minta dengan bersumpah untuk menambah hartanya. Bahkan yang terjadi padanya ialah ia selalu ridho dengan pembagian Allah yang Maha Adil padanya. Orang inilah yang seakan-akan kaya selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan orang yang disifati dengan miskin hati adalah kebalikan dari orang pertama tadi. Orang seperti ini tidak pernah &lt;i&gt;qona’ah&lt;/i&gt; (merasa pus) terhadap apa yang diberi. Bahkan ia terus berusaha kerus untuk menambah dan terus menambah dengan cara apa pun (entah cara halal maupun haram). Jika ia tidak menggapai apa yang ia cari, ia pun merasa amat sedih. Dialah seakan-akan orang yang fakir, yang miskin harta karena ia tidak pernah merasa puas dengan apa yang telah diberi. Oran inilah orang yang tidak kaya pada hakikatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, orang yang kaya hati berawal dari sikap selalu ridho dan menerima segala ketentuan Allah &lt;i&gt;Ta’ala&lt;/i&gt;. Ia tahu bahwa apa yang Allah beri, itulah yang terbaik dan akan senatiasa terus ada. Sikap inilah yang membuatnya enggan untuk menambah apa yang ia cari.”&lt;br /&gt;Perkataan yang amat bagus diungkapkan oleh para ulama:&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;غِنَى النَّفْس مَا يَكْفِيك مِنْ سَدّ حَاجَة فَإِنْ زَادَ شَيْئًا عَادَ ذَاكَ الْغِنَى فَقْرًا&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;i&gt;“Kaya hati adalah merasa cukup pada segala yang engkau butuh. Jika lebih dari itu dan terus engkau cari, maka itu berarti bukanlah ghina (kaya hati), namun malah fakir (miskinnya hati).”&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/3045-kaya-hati-itulah-kaya-senyatanya.html#_ftn1"&gt;&lt;b&gt;[1]&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;An Nawawi &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; mengatakan, “Kaya yang terpuji adalah kaya hati, hati yang selalu merasa puas dan tidak tamak dalam mencari kemewahan dunia. Kaya yang terpuji bukanlah dengan banyaknya harta dan terus menerus ingin menambah dan terus menambah. Karena barangsiapa yang terus mencari dalam rangka untuk menambah, ia tentu tidak pernah merasa puas. Sebenarnya ia bukanlah orang yang kaya hati.”&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/3045-kaya-hati-itulah-kaya-senyatanya.html#_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Namun bukan berarti kita tidak boleh kaya harta. Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda,&lt;br /&gt;&lt;div align="center" dir="rtl"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;لاَ بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ النِّعَمِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;“&lt;i&gt;Tidak apa-apa dengan kaya bagi orang yang bertakwa. Dan sehat bagi orang yang bertakwa itu lebih baik dari kaya. Dan bahagia itu bagian dari kenikmatan&lt;/i&gt;.” (HR. Ibnu Majah no. 2141 dan Ahmad 4/69. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini &lt;b&gt;&lt;i&gt;shahih&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini bukan berarti kita tercela untuk kaya harta, namun yang tercela adalah tidak pernah merasa cukup dan puas (qona’ah) dengan apa yang Allah beri. Padahal sungguh beruntung orang yang punya sifat &lt;i&gt;qona’ah&lt;/i&gt;. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda,&lt;br /&gt;&lt;div align="center" dir="rtl"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;“&lt;i&gt;Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya&lt;/i&gt;.” (HR. Muslim no. 1054)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat qona’ah dan selalu merasa cukup itulah yang selalu Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; minta pada Allah dalam do’anya. Dari Ibnu Mas’ud &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/i&gt;, beliau berkata,&lt;br /&gt;&lt;div align="center" dir="rtl"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;أنَّ النبيَّ - صلى الله عليه وسلم - كَانَ يقول : (( اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;“&lt;i&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a: “Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina&lt;/i&gt;” &lt;i&gt;(Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘afaf dan ghina)&lt;/i&gt;.” (HR. Muslim no. 2721). An Nawawi –rahimahullah- mengatakan, “&lt;i&gt;”Afaf dan ‘iffah bermakna menjauhkan dan menahan diri dari hal yang tidak diperbolehkan. Sedangkan al ghina adalah hati yang selalu merasa cukup dan tidak butuh pada apa yang ada di sisi manusia.&lt;/i&gt;”&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/3045-kaya-hati-itulah-kaya-senyatanya.html#_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku ... milikilah sifat &lt;i&gt;qona’ah&lt;/i&gt;, kaya hati yang selalu merasa cukup dengan apa yang Allah beri. Semoga Allah menganugerahkan kita sekalian sifat yang mulia ini.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panggang-GK, 1 Jumadits Tsani 1431 H (14/05/2010)&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;Artikel &lt;a href="http://majalah.pengusahamuslim.com/2010/06/01/edisi-juni-2010-pengusaha-muslim-muda-mana-kiprahmu/" target="_blank" title="Edisi Juni 2010 Majalah Pengusaha Muslim"&gt;Majalah Pengusaha Muslim&lt;/a&gt;, dipublish ulang oleh &lt;a href="http://www.rumasyho.com/"&gt;www.rumasyho.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/3045-kaya-hati-itulah-kaya-senyatanya.html#_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Lihat Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 11/272, Darul Ma’rifah.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/3045-kaya-hati-itulah-kaya-senyatanya.html#_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Yahya bin Syarf An Nawawi, 7/140, Dar Ihya’ At Turots.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/3045-kaya-hati-itulah-kaya-senyatanya.html#_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 17/41&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-5287806536124194804?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/5287806536124194804/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/kaya-hati-itulah-kaya-senyatanya.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/5287806536124194804'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/5287806536124194804'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/kaya-hati-itulah-kaya-senyatanya.html' title='Kaya Hati, Itulah Kaya Senyatanya'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-4915310214160151005</id><published>2011-11-26T09:00:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T09:00:33.175+07:00</updated><title type='text'>Mutiara nasihat Dalam Silaturrahim</title><content type='html'>Hiasilah wahai manusia hubungan kerabatmu dengan ridha Allah, langkah-langkahmu menuju ke tempat tinggal kerabatmu adalah keberkahan dan derajatmu akan tinggi di sisi Allah bila engkau melangkahkan kaki untuk bersilaturrahim. Malaikat rahmah selalu mengiringimu dan merupakan ibadah kepada Allah pada saat engkau bersilaturrahim serta engkau akan mendapatkan pahala dan pengampunan dari Allah. Tatkala engkau mengunjungi bibimu yang sedang sakit berarti engkau telah menghiburnya dan sebagai tanda keberhasilan dalam mendidikmu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara laki-laki dan saudara perempuan baik sekandung maupun hanya saudara sebapak atau seibu, atau sepersusuan, semuanya hendaklah saling menya-yangi, menghormati dan menyambung hubungan kera-bat baik pada saat berdekatan atau berjauhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan persaudaraan khususnya antara sauda-ra laki-laki dengan saudara perempuan memiliki sentuhan yang sangat unik yaitu sentuhan batin yang sangat lembut serta kesetiaan yang sangat dalam dan semakin hari semakin bertambah subur walaupun berjauhan jarak tempatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai saudariku sekandung, Allah mewasiatkan kepadaku agar aku selalu menyambung silaturrahim, secara fitrah kita bersaudara dan dengan Kitabullah kita diperintahkan bersilaturrahim serta Allah mengancam dengan siksa dan celaka bagi orang yang memutuskan hubungan kerabat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Jubair bin Muth'im bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: &lt;br /&gt;"Tidak akan masuk Surga orang yang memutuskan hubungan kerabat". (Muttafaq 'alaih) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyambung silaturahim dengan paman dan bibi adalah termasuk bagian dari silaturrahim, berdasarkan hadits dari Abu Hurairah bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: &lt;br /&gt;"Apakah kamu tidak sadar bahwa paman seseorang adalah saudara bapaknya". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyambung hubungan kerabat dengan anak pe-rempuan dari saudara perempuan termasuk bersilatur-rahim dengan ibunya dan demikian pula bersilatur-rahim dengan saudara perempuan ibu. Dari Barra' bin Azib bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: &lt;br /&gt;"Saudara perempuan ibu (bibi) memiliki keduduk-an seperti ibu". (Muttafaq 'alaih) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu Mas'ud bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: &lt;br /&gt;"Saudara perempuan ibu (bibi) adalah ibu". (HR. Ath-Thabrani) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita adalah makhluk yang lemah dan menjadi kuat karena dengan adanya laki-laki. Pada saat saudara laki-laki berkunjung ke rumah saudara perempuan, maka dia bergembira dan berbahagia dengan kunjungan tersebut. Suami dan keluarganya juga ikut bergembira, dengan rasa bangga saudara perempuan tersebut bercerita kepada penduduk kampungnya bahwa saudara laki-laki tersebut datang berkunjung untuk mengetahui keadaan dan kesehatannya dan mereka itulah yang menjadi penopang hidupnya setelah Allah pada saat-saat susah dan kesulitan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa lezatnya makanan yang datang dari saudara, bapak atau paman serta betapa berharganya hadiah yang datang dari saudara dan kerabat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara perempuan tersebut mengungkapkan kegembiraan dengan mengucapkan semoga Allah melu-ruskan niatmu wahai saudaraku, semoga Allah senantiasa memberi keselamatan kepada kalian dari setiap musibah, saya sangat berbahagia atas kehadiran kalian dan saya sangat bergembira dan bangga dengan kunjungan kalian di hadapan suami saya dan keluarga-nya. Wahai saudaraku tatkala kalian masuk ke rumahku seakan ruangan rumahku bercahaya dan seluruh rahasiaku ingin aku ungkapkan serta keadaanku berubah semua. Hadiah yang kalian berikan walaupun sederhana akan tetapi sangat berharga bagiku bukan karena mahalnya akan tetapi pemberian itu dari tangan kalian. Saya merasa bangga dan mulia dari seluruh manusia di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai saudaraku, kunjungan kalian mendatangkan suasana baru bagi hidupku dan saya melihat ruangan rumahku seakan semakin cerah setelah kedatangan kalian. Kegembiraan yang tak mungkin dunia memberikannya kepadaku dan kebahagiaan seakan aku mampu memeluk bintang gejora. Tidak ada saat yang paling bahagia dalam umurku tatkala kalian memuliakan ru-mahku dengan kunjungan kalian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah saya bersaksi di hadapanMu bahwa saudara-saudaraku telah bersilaturrahim, maka sambunglah ya Tuhan Dzat Yang Maha Penyayang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai saudaraku, kalian hanya sekedar menunai-kan kewajiban dan tugas kemasyarakatan, tetapi saya berbahagia selamanya yang tidak mungkin terhargai oleh apa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Allah Ta'ala menciptakan makhluk sehingga setelah selesai menciptakan mereka, maka rahim berdiri dan berkata: Ini adalah kedudukan yang tepat bagi orang yang berlindung dari memutuskan hubungan silaturrahim, Allah Ta'ala berfirman: "Benar, bukankah engkau senang jika Aku menyambung orang yang menyambung silatur-rahim dan saya memutus orang yang memutuskan silaturrahim. Dia berkata: "Ya, Allah Ta'ala berfirman: "Itulah permohonanmu yang Aku kabul-kan." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Bacalah jika kalian mau firman Allah Ta'ala (artinya): &lt;br /&gt;"Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?" (Muham-mad: 22) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anhu bahwa dia berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: &lt;br /&gt;"Rahim bergantung di 'Arsy, lalu berkata: "Ba-rangsiapa yang menyambungku, maka Allah akan menyambungnya dan barangsiapa yang memutus-kanku, maka Allah akan memutuskannya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya orang-orang yang berakal dan berfikir serta berhati yang jernih akan mampu mencerna makna nasihat kebenaran dan kemudian menjadi peringatan baginya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta'ala berfirman: &lt;br /&gt;"Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Rabbnya dan takut kepada hari hisab yang buruk". (Ar-Ra'd: 21) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah sifat seorang mukmin, setiap apa-apa yang diperintahkan Allah Ta'ala untuk menghubungkan, maka mereka pun menghubungkan. Mentaati secara sempurna dan istiqamah di atas kebenaran dan berjalan di atas manhaj Kitabullah dan sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam akan mampu menyelamatkan kita dari penyelewengan dan kesesatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang terbiasa tidak menjaga janji Allah dan tidak istiqamah di atas jalan lurus sesuai kehendak Allah, maka dia tidak mungkin mampu memegang janji dan ikatan dengan siapa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&amp;nbsp; &lt;a href="http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=410&amp;amp;parent_section=kj013&amp;amp;idjudul=1"&gt;http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=410&amp;amp;parent_section=kj013&amp;amp;idjudul=1&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-4915310214160151005?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/4915310214160151005/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/mutiara-nasihat-dalam-silaturrahim.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/4915310214160151005'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/4915310214160151005'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/mutiara-nasihat-dalam-silaturrahim.html' title='Mutiara nasihat Dalam Silaturrahim'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-8161453260321053100</id><published>2011-11-26T08:57:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T08:58:34.224+07:00</updated><title type='text'>Wahai Anak-Anakku</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Wahai anakku siang malam sepanjang umurku, aku korbankan untukmu agar kalian berbahagia, kedua orang tuamu letih dan menderita serta hati gundah bila engkau sedang sakit dan wajahmu pucat. Anakku tercinta. Itulah kalimat yang sering diulang-ulang oleh seorang ibu atau bapak. Wahai seorang anak ingatlah jasa kedua orang tuamu yang besar tatkala engkau masih berada dalam kandungan, di saat kau masih bayi dan setelah kau menginjak remaja hingga engkau menjadi orang dewasa. Sekarang tiba saatnya kedua orang tuamu membutuh-kan kasih sayang dan perhatian darimu. Sementara engkau hanya sibuk mengurusi isteri dan anak-anakmu hingga orang tuamu engkau abaikan, padahal orang arab jahiliyah dulu menganggap aib dan harga diri jatuh jika ada seorang anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya. Peribahasa-peribahasa Arab menceritakannya, menuduhnya dengan gambaran yang sangat jelek sekali bahkan memberinya julukan dengan julukan-julukan yang sangat keji. Akan tetapi kita membaca banyak cerita di zaman sekarang tentang cerita anak-anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Ubaidah At-Taimy dalam kitabnya, Al-'Aqaqah wal Bararah menuturkan beberapa contoh orang-orang yang berbuat baik kepada kedua orang tuanya dan beberapa contoh orang-orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya. Seorang dari bani Qurai' bernama Murrah bin Khattab bin Abdullah bin Hamzah pernah mengejek dan terkadang memukul orang tuanya, se-hingga bapaknya berkata: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya besarkan dia tatkala dia masih kecil bagaikan anak burung yang baru lahir yang masih lemah tulang-belulangnya. &lt;br /&gt;Induknya yang menyuapi makan sampai melihat anaknya sudah mulai berkulit sempurna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan contoh lain yang durhaka kepada orang tua-nya adalah putra Umi Tsawab Al-Hazaniyah, dia durhaka kepada ibunya karena isterinya selalu menghalangi untuk berbuat baik kepada ibunya, sehingga ibunya mengungkapkan kepedihan hati dalam sebuah syair: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Saya mengasuhnya di masa kecil tatkala masih seperti anak burung, sementara induknya yang menyuapi makanan dan melihat kulitnya yang masih baru tumbuh. &lt;br /&gt;Setelah dewasa dia merobek pakaianku dan memukul badanku, apakah setelah masa tuaku aku harus mengajari etika dan adab.&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan juga Yahya bin Yahya bin Said, suatu ketika dia pernah menyusahkan bapaknya lalu bapaknya meng-hardiknya dengan menulis syair: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Semenjak lahir dan masa bayi yang masih kecil aku mengasuhmu, dan saya selalu berusaha agar engkau menjadi orang tinggi dan berkecukupan. &lt;br /&gt;Di malam hari engkau mengeluh sakit hingga tidak bisa tidur. Keluhan itu membuatku gundah dan ketakutan. &lt;br /&gt;Jiwa selalu gelisah memikirkan keselamatan untuk dirimu, sebab aku tahu setiap jiwa terancam oleh kematian. &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh-contoh di atas merupakan sebagian dari beberapa kasus anak durhaka kepada kedua orang tua-nya yang terjadi pada masa lampau dan sekarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di dalam sebagian lagu-lagu masyarakat jahili-yah dahulu, yang sering para wanita lantunkan adalah: Ya Allah, apa yang harus saya perbuat terhadap anakku yang durhaka, di masa kecil aku dengan susah payah membesarkannya, setelah menikah dengan seorang putri Romawi dia berbuat semena-mena terhadapku. Wanita ini mengadu kepada Allah terhadap sikap anaknya yang telah diasuh dengan susah payah, tetapi setelah menikah dengan wanita nasrani Romawi, dia melupakan ibunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun contoh orang-orang yang berbuat baik kepada orang tua antara lain; cerita tiga orang yang terjebak dalam gua, di antara mereka ada yang mengata-kan: "Tidak ada cara yang mampu menyelamatkan kalian kecuali bertawassul dengan amal shalih kalian. Seorang di antara mereka berdo'a: "Ya Allah saya mempunyai dua orang tua yang lanjut usia dan saya sekeluarga tidak makan dan minum di malam hari sebelum mereka berdua, pada suatu saat saya pernah pergi jauh untuk suatu keperluan sehingga saya pulang terlambat dan sesampainya di rumah saya mendapatkan mereka berdua dalam keadaan tidur. Lalu saya memerah susu untuk malam itu, tetapi mereka berdua masih tetap tidur pulas, sementara saya tidak suka jika makan dan minum sebelum mereka. Akhirnya saya menunggu sambil memegang susu hingga mereka berdua ter-bangun, sampai fajar terbit mereka berdua baru bangun lalu meminum susu. Ya Allah jika perbuatan yang telah aku kerjakan tersebut termasuk perbuatan ikhlas karena mencari wajahMu, maka hilangkanlah kesulitan kami dari batu besar ini, lalu batu itu pun bergeser dari mulut gua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak contoh-contoh lain tentang orang-orang yang berbakti kepada orang tua baik di masa lampau maupun sekarang yang tidak mungkin kita ceritakan seluruhnya, kebaikan tersebut mereka per-sembahkan kepada orang tua sebagai balasan atas jasa-jasa, perhatian dan pemeliharaan mereka dan sebagai bukti pengakuan tulus dan akhlak mulia. Ini semua mengharuskan kepada setiap anak untuk mengingat kebaikan yang selalu mengalir tak ada hentinya hingga akhir hayat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang-orang shalih sebelum berangkat kerja ada yang menyempatkan diri singgah ke rumah orang tuanya sambil mencium tangannya untuk memin-ta restu dan menanyakan keadaan serta kesehatan mereka. Lalu berangkat ke tempat kerja. Sikap mulia dan terpuji ini, sangat baik jika dipraktekkan dalam kehidupan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Hu-rairah bahwa dia berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: &lt;br /&gt;"Celakalah, celakalah". Beliau ditanya: "Siapa wahai Rasulullah? Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Seseorang yang mendapati orang tuanya, dan salah satu atau keduanya berusia lanjut, kemudian tidak masuk Surga".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abdullah bin Umar berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: &lt;br /&gt;"Tiga orang tidak masuk Surga dan tidak dilihat Allah pada hari Kiamat; Orang yang durhaka kepada orang tua, wanita yang menyerupai laki-laki dan dayyuts. (HR. Ahmad) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Durhaka kepada orang tua adalah perbuatan zhalim besar dan sikap tidak tahu diri. &lt;br /&gt;Rasulullah yang mengajari umat manusia etika dan tata krama mengetahui kedudukan dan fungsi seorang ibu dan bapak kemudian memberikan petunjuk kepada setiap orang mukmin agar menjadi umat yang bertanggung jawab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara bentuk birrul walidain setelah orang tuanya meninggal adalah dengan menyambung hubungan kerabat dengan teman dan sahabat orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abdullah bin Umar berkata sesungguhnya saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: &lt;br /&gt;"Sesungguhnya perbuatan yang terbaik adalah menyambung hubungan kerabat dengan sahabat orang tuanya". (Shahihul Jami', Al-Albani) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti cinta dan berbakti kepada orang tua adalah menghormati dan menjaga hubungan persahabatan orang tua dengan teman-temannya. Pada saat seseorang mempererat hubungan persahabatan dengan teman bapaknya, merupakan bukti dalam berbakti kepada orang tua dan pertanda hasil baik pendidikan orang tua kepada anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Muslim dalam kitab shahihnya menyebutkan tentang bab keutamaan menyambung hubungan persa-habatan dengan teman-teman bapak atau ibu. Karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: &lt;br /&gt;"Sesungguhnya perbuatan yang terbaik adalah menyambung hubungan persahabatan dengan saha-bat orang tuanya". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan juga hadits tentang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam meng-hormati teman-teman Khadijah setelah wafatnya. &lt;br /&gt;Para ulama mengatakan bahwa al-birr bermakna menyambung silaturrahim, menyayangi dan berbuat ke-baikan serta menjaga persahabatan. Seluruhnya terma-suk bagian inti kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&amp;nbsp; &lt;a href="http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=408&amp;amp;parent_section=kj013&amp;amp;idjudul=1"&gt;http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=408&amp;amp;parent_section=kj013&amp;amp;idjudul=1&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-8161453260321053100?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/8161453260321053100/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/wahai-anak-anakku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/8161453260321053100'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/8161453260321053100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/wahai-anak-anakku.html' title='Wahai Anak-Anakku'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-8329408291407600598</id><published>2011-11-26T08:56:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T08:57:07.061+07:00</updated><title type='text'>Berbuat Baik Kepada Orangtua Merupakan Silaturrahim Yg Paling Utama</title><content type='html'>Bersilaturrahim dan berbuat baik kepada orang tua merupakan ajaran yang menjadi ketetapan Kitabullah Al-Qur'an dan Al-Hadits. Allah Ta'ala berfirman: &lt;br /&gt;"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya". (Al-Isra': 23) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wa Qadha Rabbuka berarti suatu perintah yang lazim tidak bisa ditawar-tawar lagi dan Alla Ta'budu Illa Iyahu berarti perintah ibadah yang bersifat individu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah menghubungkan beribadah kepada-Nya dengan berbuat baik kepada orang tua menunjukkan betapa mulianya kedudukan orang tua dan birrul walidain (berbuat baik kepada orang tua) di sisi Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara naluri orang tua dengan suka rela mau mengorbankan segala sesuatu untuk memelihara dan membesarkan anak-anaknya dan anak mendapatkan kenikmatan serta perlindungan sempurna dari kedua orang tuanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang anak selalu merepotkan dan menyita perhatian orang tuanya dan tatkala menginjak masa tua mereka pun tetap berbahagia dengan keadaan putra-putrinya, akan tetapi betapa cepat seorang anak melalai-kan semua jasa-jasa orang tuanya, hanya disibukkan dengan isteri dan anak sehingga para bapak tidak perlu lagi menasihati anak-anaknya hanya saja seorang anak harus diingatkan dan digugah perasaannya atas kewajib-an mereka terhadap orang tuanya yang sepanjang umurnya dengan berbagai kesulitan dihabiskan untuk mereka serta mengorbankan segala yang ada demi kesenangan dan kebahagiaan mereka hingga datang masa lelah dan letih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka berbuat baik kepada kedua orang tua menjadi keputusan mutlak dari Allah dan ibadah yang menempati urutan kedua setelah beribadah kepada Allah. &lt;br /&gt;"Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliha-raanmu". (Al-Isra': 23) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kibar atau kibarul sin artinya berusia lanjut, umur sudah mulai menua, punggung sudah mulai membung-kuk dan kulit sudah mulai keriput. 'Indaka yang berarti pemeliharaan yaitu suatu kalimat yang menggambarkan makna tempat berlindung dan berteduh pada saat masa tua, lemah dan tidak berdaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta'ala berfirman: &lt;br /&gt;"Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka". (Al-Isra': 23) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seakan-akan Allah berfirman; Bersopan santunlah kamu kepada orang tua! Dengan demikian ayat tersebut mengajarkan sikap sopan agar seorang anak tidak menunjukkan sikap kasar serta menyakitkan hati atau merendahkan kedua orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta'ala berfirman: &lt;br /&gt;"Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini tingkatan yang lebih tinggi lagi yaitu keharusan bagi anak untuk selalu mengucapkan perkataan yang baik kepada kedua orang tua dan memperlihatkan sikap hormat serta menghargai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta'ala juga berfirman: &lt;br /&gt;"Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seolah-olah sikap rendah diri memiliki sayap dan sayap tersebut direndahkan sebagai tanda penghormatan dan penyerahan diri dalam arti sikap rendah diri yang selayaknya diperintahkan kepada kedua orang tua, seba-gai pengakuan tulus atas kebaikan dan jasa-jasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta'ala berfirman: &lt;br /&gt;"Dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku kasihilah me-reka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". (Al-Isra': 24)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebutan kondisi masa kecil yang lemah yang membutuhkan perawatan dari kedua orang tua meng-ingatkan kepada kondisi yang sama yang sedang dialami orang tua tatkala menginjak lanjut usia yang selalu membutuhkan kasih sayang dan perawatan semisal. Lalu memohon kepada Allah agar bisa memberi belas-kasih kepada mereka berdua sebagai pengakuan atas kekurangan dalam memberi kasihsayang secara sem-purna dan hanya Allahlah yang bisa memberi kasih-sayang atau perawatan yang sangat sempurna serta hanya Dialah yang mampu membalas semua kebaikan dengan sempurna yang tidak mungkin bagi anak untuk melakukannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti kasihsayang Allah banyak sekali yang tampak pada makhluk lain. Suatu contoh cahaya mata-hari yang menyinari alam semesta, udara yang dihirup manusia melalui proses paru-paru, air berfungsi untuk minum, masak dan menyiram tanaman dan kasih sayang ibu terhadap anaknya yang muncul secara fitrah sebagai bukti nyata kasih sayang Allah Rabb semesta alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang mulia dan baik kepada kedua orang tua akan selalu tahu kedudukan serta kemuliaan orang tua, dia merasakan tatkala mencium tangan ibu atau bapak-nya seolah-olah dia bersujud dengan ruh dan perasaan-nya laksana bersujud kepada Allah, dia mendapatkan jati diri yang sebenarnya sebagai suatu rahasia dalam kehidupan. Semua itu menjadi bukti penghargaan dan penghormatan kepada kedua orang tua. Allah Ta'la berfirman: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya . Dan jika kedua-nya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti ke-duanya". (Al-Ankabut: 8). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua adalah kerabat terdekat yang mempu-nyai jasa yang tidak terhingga dan kasih sayang yang besar sepanjang masa sehingga tidak aneh bila hak-haknya juga besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang anak wajib mencintai, menghormati dan memelihara orang tua walaupun keduanya musyrik atau berlainan agama, keduanya berhak untuk diberi kebaik-an dan pemeliharaan bukan mentaati dan mengikuti kesyrikan atau agamanya. Allah Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang ber-tambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun." (Luqman : 14) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan berulang-ulang serta banyak sekali wasiat untuk seorang anak agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya di dalam Al-Qur'an dan wasiat Rasul shallallahu 'alaihi wasallam dan tidak disebutkan wasiat orang tua untuk berbuat baik terhadap anaknya kecuali sedikit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kebaikan dan pengorbanan orang tua beru-pa jiwa, raga dan kekuatan yang tak terhitung tanpa berkeluh kesah dan meminta balasan dari anaknya, secara fitrah(naluri) sudah cukup sebagai pendorong kedua orang tua untuk bersikap demikian tanpa ditekan dengan wasiat. Adapun anak harus selalu diberi wasiat dan diingatkan agar senantiasa ingat akan jasa-jasa orang yang selama ini telah mencurahkan jiwa dan raga serta seluruh hidupnya dalam membesarkan dan mendidiknya. Apalagi seorang ibu selama mengandung mengalami banyak beban berat sebagaimana firman Allah Ta'ala (ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah), ibu lebih banyak menderita dalam membesarkan dan mengasuh anaknya, dan penderitaan di saat hamil tidak ada yang bisa merasakan payahnya kecuali kaum ibu juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Bazzar meriwayatkan hadits dari Buraidah dari bapaknya bahwa ada seorang lelaki yang sedang thawaf sambil menggendong ibunya, lalu dia bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: " Apakah dengan ini saya sudah menunaikan haknya?" Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Belum! Walaupun se-cuil". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Al-Miqdam bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: &lt;br /&gt;"Sesungguhnya Allah berwasiat agar kalian berbuat baik kepada ibu-ibumu, sesungguhnya Allah berwa-siat agar berbuat baik kepada bapak-bapakmu dan sesungguhnya Allah berwasiat kepada kalian agar berbuat baik kepada sanak kerabatmu". (Dishahih-kan oleh Al-Albani dalam Silsilah Shahihah) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak adalah bagian hidup dan belahan hati orang tua, kasih sayangnya mengalir di dalam darah daging keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari 'Aqra' bin Habis sesungguhnya dia melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mencium Hasan, lalu dia berkata: "Sesung-guhnya saya mempunyai sepuluh orang anak dan saya tidak pernah mencium seorangpun di antara mereka. Beliau bersabda: &lt;br /&gt;"Sesungguhnya barangsiapa yang tidak menyayangi maka tidak akan disayang". (Muttafaq 'alaih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Ahnaf bin Qais rahimahullah ditanya tentang masalah sikapnya terhadap anak, maka beliau menjawab: Anak adalah buah hati, belahan jiwa dan tulang punggung, kita rela terhina bagaikan bumi rela diinjak demi mereka dan bagaikan langit yang siap menaungi hidup mereka dan kita siap menjadi senjata pelindung bagi mereka dalam menghadapi marabahaya. Jika mereka minta sesuatu kabulkanlah dan bila marah cari sesuatu yang menye-nangkan hatinya, maka mereka akan membalas kasih sayangmu dan berterimakasih atas setiap pemberian-mu. Janganlah kalian merasa berat dan terbebani oleh anakmu, sebab mereka akan mengacuhkan hidupmu dan menghendaki kematianmu serta segan mendekati-mu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila seorang anak di mata orang tua keduduk-annya seperti itu, seharusnya anak menempatkan posisi orang tua tidak kurang dari itu dalam menghormati dan memuliakan orang tua mereka sebagai bukti balas budi dan pengakuan terhadap kebaikan yang telah didapat dari orang tua. Di samping tetap melestarikan kewajiban silaturrahim kepada mereka berdua sesuai ketentuan Kitabullah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: &lt;br /&gt;"Tiga macam doa yang pasti terkabulkan; doa orang tua untuk anaknya, doa orang musafir dan doa orang yang teraniaya". (Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, Al-Albani). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam meminta izin untuk ikut serta berjihad, maka beliau shallallahu 'alaihi wasallam bertanya: "Apakah kedua orang tuamu masih hidup? Dia berkata: "Ya, masih hidup". Beliau bersabda: "Maka berjihadlah dalam (menjaga) keduanya". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Bakrah berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Maukah kalian aku ceritakan tentang dosa yang paling besar?" Kami menjawab: "Ya wahai Rasu-lullah". Beliau bersabda: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua." Beliau waktu itu bersandar, maka terus duduk dan bersabda: "Ketahuilah, dan perkataan dusta". (Shahihul Jami') &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abdullah Ibnu Mas'ud berkata: Saya bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: Apakah amal yang paling dicintai Allah? Beliau menjawab: "Shalat pada waktunya." Saya bertanya: "Lalu apalagi?" Beliau bersabda: "Berbuat baik kepada orang tua". Saya bertanya: "Kemudian apalagi?" Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersab-da: "Jihad di jalan Allah". (Muttafaq 'alaih) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Jabir bin Abdullah sesungguhnya seorang lelaki berkata: Wahai Rasulullah sesungguhnya saya mempunyai harta dan anak, dan bapak saya meng-inginkan hartaku. Maka beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: &lt;br /&gt;"Engkau dan hartamu adalah milik bapakmu". (Muttafaq 'alaih). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan petunjuk birrul walidain yang terbaik adalah sikap yang telah ditunjukkan oleh para nabi 'alaihimus shalatu wa salam sebagai simbol anutan dan petunjuk bagi setiap manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Ismail 'alaihi salam berkata dan ucapannya diabadi-kan dalam firman Allah Ta'ala: &lt;br /&gt;"Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang bersabar". (Ash-Shafaat: 102). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Nuh 'alaihi salam berkata juga dan ucapannya dise-butkan dalam firman Allah Ta'ala: &lt;br /&gt;"Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman". (Nuh: 28) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Isa 'alaihi salam juga disifati oleh Allah Ta'ala dalam firman-Nya: &lt;br /&gt;"Dan berbakti kepada ibuku". (Maryam: 32) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Yahya 'alaihi salam juga disifati oleh Allah Ta'ala demikian yang disebutkan dalam firman Allah: &lt;br /&gt;"Dan banyak berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka". (Maryam: 14) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa indahnya bila seorang muslim bisa mencontoh dan mengikuti jejak para nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&amp;nbsp; &lt;a href="http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=407&amp;amp;parent_section=kj013&amp;amp;idjudul=1"&gt;http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=407&amp;amp;parent_section=kj013&amp;amp;idjudul=1&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-8329408291407600598?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/8329408291407600598/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/berbuat-baik-kepada-orangtua-merupakan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/8329408291407600598'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/8329408291407600598'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/berbuat-baik-kepada-orangtua-merupakan.html' title='Berbuat Baik Kepada Orangtua Merupakan Silaturrahim Yg Paling Utama'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-8092489690406168919</id><published>2011-11-26T08:54:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T08:55:10.668+07:00</updated><title type='text'>Kitabullah Dan Silaturrahim</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Allah Ta'ala berfirman: &lt;br /&gt;"Dan bertakwalah kepada Allah, yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturrahim." (An-Nisa': 1). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga adalah pondasi utama terbangunnya se-buah lingkungan masyarakat. Dan perekat pertama hubungan antar manusia adalah perekat hubungan yang bernilai rububiyah yang merupakan perekat hubungan yang paling dasar. Allah memuji hubungan manusia karena ikatan kekerabatan. Maka bertakwalah kepada Allah yang kamu saling berjanji dan berikrar dengan keagungan nama-Nya, kamu saling meminta satu sama lain dengan kebesaran nama-Nya dan kamu saling bersumpah satu sama lain dengan nama-Nya. Tumbuh-kanlah nilai takwa di antara kalian agar hubungan kerabat tetap bersambung dan langgeng. Hubungan kerabat adalah hubungan yang sangat penting setelah hubungan rububiyah dan perasaan takut kepada Allah. Kemudian, takut untuk memutuskan silaturrahim, selalu memperhatikan hak-haknya, menjaga kelestarian hu-bungan jangan sampai menghancurkan dan menganiaya kemesraannya, jangan sekali-kali mencoba mengusik dan menyentuh keutuhannya. Berusahalah untuk selalu dekat, cinta, hormat dan memuliakan silaturrahim. Jadikanlah kerinduan dan keteduhan hidup anda di bawah naungan dan kemesraan silaturrahim, Allah berfirman : &lt;br /&gt;"Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan meng-awasi kamu". (An-Nisa': 1) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Allah Ta'ala berfirman: &lt;br /&gt;"Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mereka takut kepada Tuhannya". (Ar-Ra'd: 21) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan agar kita menyambung hubungan baik dengan orang faqir, hubungan baik dengan tetangga dan hubungan baik dengan kerabat dan sanak famili. Apabila manusia memutuskan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah untuk dihubungkan, maka ikatan sosial masyarakat akan hancur berantakan, kerusakan menyebar di setiap tempat, kekacauan terjadi di mana-mana dan gejala sifat egoisme dan mau menang sendiri akan timbul dalam kehidupan sosial. Sehingga setiap individu masyarakat menjalani hidup tanpa petun-juk, seorang tetangga tidak tahu hak bertetangga, se-orang faqir merasakan penderitaan dan kelaparan sendirian dan hubungan kerabat berantakan, sehingga kehidupan manusia berubah menjadi kehidupan hewani serba tidak berharga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Anas bin Malik berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: &lt;br /&gt;"Barangsiapa yang senang diluaskan rizkinya dan ditunda umurnya, maka hendaklah bersilatur-rahim". (Muttafaq 'alaih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&amp;nbsp; &lt;a href="http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=406&amp;amp;parent_section=kj013&amp;amp;idjudul=1"&gt;http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=406&amp;amp;parent_section=kj013&amp;amp;idjudul=1&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-8092489690406168919?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/8092489690406168919/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/kitabullah-dan-silaturrahim.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/8092489690406168919'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/8092489690406168919'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/kitabullah-dan-silaturrahim.html' title='Kitabullah Dan Silaturrahim'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-8216306398001629882</id><published>2011-11-26T08:36:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T08:37:17.051+07:00</updated><title type='text'>Silaturrahim</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Tulisan ini dipersembahkan untuk:&lt;/i&gt; &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Orang yang sedang bersilaturrahim baik tahu atau tidak tahu bahwa silaturrahim adalah ibadah dan menyambung kerabat. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ditujukan kepada hati yang rindu bertemu dengan kerabat dan orang dekat karena beberapa sebab sehingga tidak bisa berkunjung … Semoga bisa bersabar. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Orang yang tidak bisa bertemu dengan kerabat dan sanak keluarga serta meninggalkan mereka karena terpaksa sementara rasa hati ingin bertemu dan selalu bersama … Semoga diterima udzurnya. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Orang-orang yang tidak ingin bersilaturrahim karena berhati keras atau tidak mau merenungkan ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta'ala atau tidak mengerti tentang sun-nah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam… Nasihat dan manfaat. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;b&gt;Silaturrahim&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Rahim&lt;/i&gt; secara bahasa berarti rahmah yaitu lembut dan kasih sayang. Tarahamal qaumu artinya saling berkasih sayang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Al-Azhary berkata yang dimaksud dengan firman Allah: &lt;br /&gt;"Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam". (Al-Anbiya': 107) adalah kasih sayang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarahhama 'alaihi berarti mendoakan seseorang agar mendapatkan rahmat, istarhama berarti memohonkan rahmat. Rajulun rahumun (orang laki-laki yang penyayang) dan imra'atun rahumun (perempuan yang penyayang). Ar-Rahmah fi bani adam, berarti kelem-butan dan kebaikan hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang dikatakan dekat dengan kerabat apabila dia telah memiliki kasih sayang dan kebaikan sehingga menjadi betapa baik dan sayang. Abu Ishaq berkata: Dikatakan paling dekat rahimnya yaitu orang yang paling dekat kasih sayangnya dan paling dekat hubungan kerabatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ar-ruhmu dan ar-ruhumu secara bahasa adalah kasihan dan simpati. Allah menyebut hujan dengan nama rahmat. Ibnu Sayyidih berkata bahwa yang dimaksud dengan ar-rahim dan ar-rihimu adalah rumah tempat tumbuhnya anak, dan jamaknya arhaam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Jauhary berkata ar-rahim berarti kerabat. Imam Ibnu Atsir berkata bahwa dzu rahim adalah orang-orang yang memiliki hubungan kerabat yaitu setiap orang yang memiliki hubungan nasab dengan anda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Al-Azhary berkata ar-rahim adalah hubungan dekat antara bapak dan anaknya dengan kasih sayang yang sangat dekat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta'ala berfirman: &lt;br /&gt;"Dan bertakwalah kepada Allah, yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturrahim." (An-Nisa': 1) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Arab mengatakan: " Saya ingatkan engkau dengan takut kepada Allah dan hubungan silatur-rahim".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menganugerahi umat ini dengan mengutus nabi dari kalangan mereka sendiri dan menurunkan Al-Qur'an dengan bahasa mereka. Allah berfirman: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin". (At-Taubah: 128) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan firman Allah: &lt;br /&gt;"Sesungguhnya Kami menurunkan berupa Al-Qur'an dengan berbahasa Arab, agar kamu mema-haminya". (Yusuf: 2) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitab suci Al-Qur'an diturunkan bukan hanya sekadar untuk diambil berkahnya dan dibaca, atau hanya menetapkan masalah tauhid dan aqidah saja, atau menetapkan syari'at saja, akan tetapi Al-Qur'an datang juga untuk mendidik umat serta agar membentuk masyarakat dan negara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Islam memiliki manhaj tersendiri yaitu manhaj Robbani dan Islam sangat memperhatikan masalah ikatan keluarga setelah menjadikan ikatan utama yaitu ikatan aqidah sebagai landasan hubungan. Keterikatan dengan keluarga yang saling melindungi termasuk aturan agama Islam serta merupakan fitrah di dalam jiwa kemanusiaan, dan Islam mendorong serta membina kuatnya hubungan kerabat kepada tahapan yang lebih baik. Selagi hubungan keluarga menjadi sarana untuk kepentingan dan kemaslahatan Islam, maka hubungan kerabat tersebut termasuk sebagai usaha untuk membentuk masyarakat Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ciri utama orang mukmin dalam beragama adalah selalu dibuktikan dengan amalan dan perbuatan bukan hanya sekedar ucapan dan pengakuan. Allah Ta'ala berfirman: &lt;br /&gt;"Dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang". (Al-Balad: 17) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata al-marhamah lebih dalam dari pada rahmah, yang berarti saling berkasih sayang antara sesama orang-orang yang beriman dan berwasiat agar mereka selalu berkasih sayang antar sesama mukmin dan bahkan wasiat tersebut dijadikan sebagai kewajiban bermasyarakat serta tolong menolong untuk menegakkan wasiat tersebut di tengah-tengah masyarakat. Dan biasanya lingkungan yang paling tepat dan sangat subur untuk menumbuhkan wasiat tersebut adalah hubungan kerabat sehingga Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjadikan hubungan kerabat sebagai sasaran utama dalam berwasiat untuk saling berkasih sayang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyambung hubungan kerabat adalah wajib dan memutuskannya merupakan dosa besar. &lt;br /&gt;Imam Nawawi rahimahullah berkata: "Barangsiapa yang secara sadar menghalalkan pemutusan hubungan kera-bat tanpa sebab atau ada subhat sedangkan dia tahu bahwa memutuskan hubungan kerabat adalah haram, maka dia kafir, kekal di Neraka dan tidak akan masuk Surga selama-lamanya." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyambung silaturrahim mempunyai beberapa tingkatan dan yang paling rendah adalah menyambung kembali hubungan yang telah putus dengan berbicara atau hanya sekedar mengucapkan salam supaya tidak masuk ke dalam pemutusan hubungan kerabat. Jika seseorang menyambung sebagian hubungan kerabat tapi tidak sampai seluruhnya, maka dia tidak bisa dikatakan memutus hubungan kerabat. Tetapi jika kurang dari kewajaran yang semestinya dari silaturrahim, maka belum bisa seseorang disebut menyambung . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama berbeda pendapat tentang kerabat yang wajib disambung hubungan silaturrahimnya, sebagian mereka berpendapat bahwa setiap orang yang ada hubungan mahram, sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa setiap orang yang ada hubungan kerabat dengan kita baik berupa hubungan mahram atau yang lainnya, seperti anak perempuan paman atau bibi. Sebagaimana hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tentang penduduk Mesir: &lt;br /&gt;"Sesungguhnya bagi mereka ada hak perlindungan dan kekerabatan". (HR. Ath-Thabrani) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan juga hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: &lt;br /&gt;"Sesungguhnya kebaikan yang terbaik adalah sese-orang bisa menyambung hubungan kerabat dengan teman bapaknya". (Shahihul Jami', Al-Albani) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal mereka yang disebutkan dalam hadits di atas tidak memiliki hubungan nasab sama sekali. Berarti hadits di atas mempunyai makna yang sangat luas yaitu kewajiban berkasih sayang dan menaruh perhatian kepada sesama umat Islam dan ini sesuai dengan tun-tutan ajaran dan kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=404&amp;amp;parent_section=kj013&amp;amp;idjudul=1"&gt; http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=404&amp;amp;parent_section=kj013&amp;amp;idjudul=1&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-8216306398001629882?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/8216306398001629882/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/silaturrahim_26.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/8216306398001629882'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/8216306398001629882'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/silaturrahim_26.html' title='Silaturrahim'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-6086481797406089109</id><published>2011-11-26T07:35:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T07:41:18.722+07:00</updated><title type='text'>Memberi Nafkah Kepada Orang yang Sepenuhnya Menuntut Ilmu Syari'at ( Agama )</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Termasuk kunci-kunci rizki adalah memberi nafkah kepada orang yang sepenuhnya menuntut ilmu syari’at (agama). Dalil yang menunjukkan hal ini adalah hadits riwayat At-Tirmidzi dan Al-Hakim dari Anas bin Malik Radhiallaahu anhu bahwasanya ia berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dahulu ada dua orang saudara pada masa Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam . Salah seorang daripadanya mendatangi Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam [1] dan (saudaranya) yang lain bekerja[2]. Lalu saudaranya yang bekerja itu mengadu[3] kepada Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam maka beliau bersabda: Mudah-mudahan engkau diberi rizki dengan sebab dia.” [4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits yang mulia ini, Nabi yang mulia Shallallaahu alaihi wa Salam menjelaskan kepada orang yang mengadu kepadanya karena kesibukan saudaranya dalam menuntut ilmu agama, sehingga membiarkannya sendirian mencari penghidupan (bekerja), bahwa ia tidak semestinya mengungkit-ungkit nafkahnya kepada saudaranya, dengan anggapan bahwa rizki itu datang karena dia bekerja. Padahal ia tidak tahu bahwasanya Allah membukakan pintu rizki untuknya karena sebab nafkah yang ia berikan kepada suadaranya yang menuntut ilmu agama secara sepenuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Mulla Ali Al-Qari menjelaskan sabda Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam :&lt;br /&gt;“Mudah-mudahan engkau diberi rizki dengan sebab dia,” yang menggunakan shighat majhul (ungkapan kata kerja pasif) itu berkata, ‘Yakni, aku berharap atau aku ta-kutkan bahwa engkau sebenarnya diberi rizki karena berkah-nya. Dan bukan berarti di diberi rizki karena pekerjaanmu. Oleh sebab itu jangan engkau mengungkit-ungkit pekerjaan-mu kepadanya.”[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Allamah Ath-Thaibi berkata: “Makna  (mudah-mudahan) dalam sabda beliau Shallallaahu alaihi wa Salam  (Mudah-mudahan engkau), bisa kembali kepada Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam , sehingga berfungsi untuk memberikan kepastian (bahwa dia mendapatkan rizki karena berkah saudaranya) dan menegur (bahwa dia mendapatkan rizki bukan karena pekerjaannya). Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits:&lt;br /&gt;“Bukanlah kalian diberi rizki karena sebab orang-orang lemah di antara kalian?”&lt;br /&gt;Tetapi bisa pula kembali kepada orang yang diajaknya bicara untuk mengajaknya berfikir dan merenungkan, sehingga ia menjadi sadar.”[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, dan sebagian ulama telah menyebutkan[7] bahwa orang-orang yang mempelajari ilmu agama secara sepenuhnya adalah termasuk kelompok orang yang disinggung dalam firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah, mereka tidak dapat (beru-saha) di muka bumi, orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari me-minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah: 273).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Al-Ghazali berkata: “Ia harus mencari orang yang tepat untuk mendapatkan sedekahnya. Misalnya para ahli ilmu. Sebab hal itu merupakan bantuan baginya untuk (mempelajari) ilmunya. Ilmu adalah jenis ibadah yang paling mulia, jika niatnya benar. Ibnu Al-Mubarak senantiasa mengkhususkan kebaikan (pemberiannya) bagi para ahli ilmu. Ketika dikatakan kepada beliau, ‘Mengapa tidak eng-kau berikan pada orang secara umum? ‘Beliau menjawab, ‘Sesungguhnya aku tidak mengetahui suatu kedudukan setelah kenabian yang lebih utama daripada kedudukan para ulama. Jika hati para ulama itu sibuk mencari kebutuhan (hidupnya), niscaya ia tidak bisa memberi perhatian sepenuhnya kepada ilmu, serta tidak akan bisa belajar (dengan baik). Karena itu, membuat mereka bisa memperlajari ilmu secara sepenuhnya adalah lebih utama’.”[8] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Yakni untuk mencari ilmu dan pengetahuan. (Murqatul Mafatih, 9/170).&lt;br /&gt;[2] Dan sepertinya mereka berdua makan dari hasil kerjanya (Op. cit., 9/170).&lt;br /&gt;[3] Yakni mengapa saudaranya tidak mau membantunya dalam bekerja atau mencari pekerjaan lain. (Op. cit., 9/170-171).&lt;br /&gt;[4] Jami’ut Tirmidzi, Abwabuz Zuhd, Bab Ma Ja’a fiz Zahadati fid Dunya, no. 2448, 7/8, dan lafazh ini miliknya. Al-Mustadarak alash Shahihain, Kitabul Ilm, 1/93-94. Imam Al-Hakim berkata, ‘Hadits ini shahih berdasarkan syarat Muslim. Para perawinya tsiqat (terpercaya), tetapi hadits ini tidak dikeluarkan (diriwayatkan) oleh Al-Bukhari dan Muslim. (Op. cit., 1/94). Dan hal ini disepakati oleh Al-Hafizh Adz-Dzahabi (At-Talkhish, 1/94). Syaikh Al-Albani berkata shahih. (Shahih Sunan At-Tirmidzi, 2/274).&lt;br /&gt;[5] Murqatul Mafatih, 9/171.&lt;br /&gt;[6] Murqatul Mafatih, 9/171.&lt;br /&gt;[7] Lihat, Tafsir Al-manar, 3/88.&lt;br /&gt;[8] Dinukil dari Tafisr Al-Qasimi, 3/250.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&amp;nbsp; &lt;a href="http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=495&amp;amp;parent_section=kj017&amp;amp;idjudul=1"&gt;http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=495&amp;amp;parent_section=kj017&amp;amp;idjudul=1&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-6086481797406089109?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/6086481797406089109/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/memberi-nafkah-kepada-orang-yang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/6086481797406089109'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/6086481797406089109'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/memberi-nafkah-kepada-orang-yang.html' title='Memberi Nafkah Kepada Orang yang Sepenuhnya Menuntut Ilmu Syari&apos;at ( Agama )'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-1697431824738590789</id><published>2011-11-26T07:33:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T07:34:08.368+07:00</updated><title type='text'>Berinfak Di Jalan Allah</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Di antara kunci-kunci rizki lain adalah berinfak di jalan Allah. Pembahasan masalah ini –dengan memohon taufik dari Allah– akan saya lakukan melalui dua poin berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;A.   Yang Dimaksud Berinfak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah-tengah menafsirkan firman Allah:&lt;br /&gt;“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, niscaya Dia akan menggantinya”. (Saba’: 39).&lt;br /&gt;Syaikh Ibnu Asyur berkata: “Yang dimaksud dengan infak di sini adalah infak yang dianjurkan dalam agama. Seperti berinfak kepada orang-orang fakir dan berinfak di jalan Allah untuk menolong agama.”[1] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;B.   Dalil Syar’i Bahwa Berinfak di Jalan Allah Adalah Termasuk Kunci Rizki &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa nash dalam Al-Qur’anul Karim dan Al-Hadits Asy-Syarif yang menunjukkan bahwa orang yang berinfak di jalan Allah akan diganti oleh Allah di dunia. Di samping, tentunya apa yang disediakan oleh Allah baginya dari pahala yang besar di akhirat. Di antara dalil-dalil itu adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Firman Allah:&lt;br /&gt;“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rizki yang se-baik-baiknya.” (Saba’: 39).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menafsirkan ayat di atas, Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata: “Betapapun sedikit apa yang kamu infakkan dari apa yang diperintahkan Allah kepadamu dan apa yang diperbolehkanNya, niscaya Dia akan menggantinya untukmu di dunia, dan di akhirat engkau akan diberi pahala dan ganjaran, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits…”[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ar-Razi berkata, “Firman Allah: ‘Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya’, adalah realisasi dari sabda Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam : “Tidaklah para hamba berada di pagi hari….” (Al-Hadits). Yang demikian itu karena Allah adalah Penguasa, Maha Tinggi dan Maha Kaya. Maka jika Dia berkata: “Nafkahkanlah dan Aku yang akan menggantinya,’ maka itu sama dengan janji yang pasti ia tepati. Sebagaimana jika Dia berkata: “Lemparkanlah barangmu ke dalam laut dan Aku yang menjaminnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, barangsiapa berinfak berarti dia telah memenuhi syarat untuk mendapatkan ganti. Sebaliknya, siapa yang tidak berinfak maka hartanya akan lenyap dan ia tidak berhak mendapatkan ganti. Hartanya akan hilang tanpa ganti, artinya lenyap begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang mengherankan, jika seseorang pedagang mengetahui bahwa sebagian dari hartanya akan binasa, ia akan menjualnya dengan cara nasi’ah (pembayaran di belakang), meskipun pembelinya termasuk orang miskin. Lalu ia berkata, hal itu lebih baik daripada pelan-pelan harta itu binasa. Jika ia tidak menjualnya sampai harta itu binasa maka ia akan disalahkan. Dan jika ada orang mampu yang menjamin orang miskin itu, tetapi ia tidak menjualnya (kepada orang tersebut) maka ia disebut orang gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sungguh, hampir setiap orang melakukan hal ini, tetapi masing-masing tidak menyadari bahwa hal itu men-dekati gila. Sesungguhnya harta kita semuanya pasti akan binasa. Dan menafkahkan kepada keluarga dan anak-anak adalah berarti memberi pinjaman. Semuanya itu berada dalam jaminan kuat, yaitu Allah Yang Maha Tinggi. Allah berfirman: “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Dia pasti manggantinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Allah memberi pinjaman kepada setiap orang, ada yang berupa tanah, kebun, penggilingan, tempat pemandian untuk berobat atau manfaat tertentu. Sebab setiap orang tentu memiliki pekerjaan atau tempat yang daripadanya ia mendapatkan harta. Dan semua itu milik Allah. Di tangan manusia, harta itu adalah pinjaman. Jadi, seakan-akan barang-barang tersebut adalah jaminan yang diberikan Allah dari rizkiNya, agar orang tersebut percaya penuh kepadaNya bahwa bila dia berinfak, Allah pasti akan menggantinya. Tetapi meskipun demikian, ternyata ia tidak mau berinfak dan membiarkan hartanya lenyap begitu saja tanpa mendapat pahala dan disyukuri.[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, Allah menegaskan janjiNya dalam ayat ini kepada orang yang berinfak untuk menggantinya dengan rizki (lain) melalui tiga penegasan. Dalam hal ini, Ibnu Asyur berkata: “Allah menegaskan janji tersebut dengan kalimat bersyarat, dan dengan menjadikan jawaban dari kali-mat bersyarat itu dalam bentuk jumlah ismiyah dan dengan mendahulukan musnad ilaih (sandaran) terhadap khabar fi’il-nya ( الْخَبَر الْفِعْلِي ) yaitu dalam firmanNya: فَهُوَ يُخْلِفُهُ De-ngan demikian, janji tersebut ditegaskan dengan tiga pene-gasan yang menunjukkan bahwa Allah benar-benar akan me-realisasikan janji itu. Sekaligus menunjukkan bahwa ber-infak adalah sesuatu yang dicintai Allah.[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sungguh janji Allah adalah sesuatu yang tegas, ya-kin, pasti dan tidak ada keraguan untuk diwujudkannya, wa-laupun tanpa adanya penegasan seperti di atas. Lalu, bagai-mana halnya jika janji itu ditegaskan dengan tiga penegasan?&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dalil lain adalah firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan ke-miskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah: 268).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menafsirkan ayat mulia ini, Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu berkata: “Dua hal dari Allah, dan dua hal dari setan. “Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan.” Setan itu berkata, ‘Jangan kamu infakkan hartamu, peganglah untukmu sendiri karena kamu membutuhkannya’. “Dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dan dua hal dari Allah adalah), “Allah menjanjikan untukmu ampunan daripadaNya,” yakni atas maksiat yang kamu kerjakan, “dan karunia” berupa rizki.[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qadhi Ibnu Athiyah menafsirkan ayat ini berkata: “Maghfirah (ampunan Allah) adalah janji Allah bahwa Dia akan menutupi kesalahan segenap hambaNya di dunia dan di akhirat. Sedangkan al-fadhl (karunia) adalah rizki yang luas di dunia, serta pemberian nikmat di akhirat, dengan segala apa yang telah dijanjikan Allah Subhannahu wa Ta'ala .[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Qayim Al-Jauziyah dalam menafsirkan ayat yang mulia ini berkata: “Demikianlah, peringatan setan bahwa orang yang menginfakkan hartanya, bisa mengalami kefakiran bukanlah suatu bentuk kasih sayang setan kepadanya, juga bukan suatu bentuk nasihat baik untuknya. Adapaun Allah, maka Ia menjanjikan kepada hambaNya ampunan dosa-dosa daripadaNya, serta karunia berupa penggantian yang lebih baik daripada yang ia infakkan, dan ia dilipatgandakanNya baik di dunia saja atau di dunia dan di akhirat.”[7]&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dalil lain adalah hadits riwayat Muslim dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu , Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam memberitahukan kepadanya:&lt;br /&gt;“Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, ‘Wahai anak Adam!, berinfaklah, niscaya Aku berinfak (memberi rizki) kepadaMu.”[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu Akbar! Betapa besar jaminan orang yang berinfak di jalan Allah! Betapa mudah dan gampang jalan mendapat-kan rizki! Seorang hamba berinfak di jalan Allah, lalu Dzat Yang di TanganNya kepemilikan segala sesuatu memberi-kan infak (rizki) kepadanya. Jika seorang hamba berinfak sesuai dengan kemampuannya maka Dzat Yang memiliki perbendaharaan langit dan bumi serta kerajaan segala se-suatu akan memberi infak (rizki) kepadanya sesuai dengan keagungan, kemuliaan dan kekuasaanNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam An-Nawawi berkata: “Firman Allah, ‘Berinfaklah, niscaya Aku berinfak (memberi rizki) kepadamu’ adalah makna dari firman Allah dalam Al-Qur'an:&lt;br /&gt;“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Dia-lah yang akan menggantinya.” (Saba’: 39).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini mengandung anjuran untuk berinfak dalam berbagai bentuk kebaikan, serta berita gembira bahwa semua itu akan diganti atas karunia Allah Subhannahu wa Ta'ala .[9]&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dalil lain bahwa berinfak di jalan Allah adalah di antara kunci-kunci rizki yaitu apa yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu bahwasanya Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidaklah para hamba berada di pagi hari kecuali di dalamnya terdapat dua malaikat yang turun. Salah satunya berdo’a, ‘Ya Allah, berikanlah kepada orang yang berinfak ganti (dari apa yang ia infakkan)’. Sedang yang lain berkata, ‘Ya Allah, berikanlah kepada orang yang menahan (hartanya) kebinasaan (hartanya)’.” [10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits yang mulia ini, Nabi yang mulia e mengabarkan bahwa terdapat malaikat yang berdo’a setiap hari kepada orang yang berinfak agar diberikan ganti oleh Allah. Maksudnya –sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Mulla Ali Al-Qari– adalah ganti yang besar. Yakni ganti yang baik, atau ganti di dunia dan ganti di akhirat. Hal itu berdasarkan firman Allah:&lt;br /&gt; “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Dia-lah yang akan menggantinya. Dan Dialah sebaik-baik Pemberi rizki.” (Saba’: 39).[11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan diketahui secara umum bahwa do’a malaikat adalah dikabulkan[12], sebab tidaklah mereka mendo’akan bagi seseorang melainkan dengan izinNya. Allah berfirman:&lt;br /&gt;“Dan mereka tiada memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepadaNya.” (Al-Anbiya’: 28).&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dalil lain adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu bahwasanya Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:&lt;br /&gt;“Berinfaklah wahai Bilal! Jangan takut dipersedikit (hartamu) oleh Dzat Yang Memiliki Arsy.” [13]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aduhai, alangkah kuat jaminan dan karunia Allah bagi orang yang berinfak di jalanNya! Apakah Dzat Yang Memiliki Arsy akan menghinakan orang yang berinfak di jalanNya, sehingga ia mati karena miskin dan tak punya apa-apa? Demi Allah, tidak akan demikian!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Mulla Ali-AlQari menjelaskan kata “ اِقْلاَ لاً ”dalam hadits tersebut berkata, ‘Maksudnya, dijadikan miskin dan tidak punya apa-apa’. Artinya, ‘Apakah engkau takut akan disia-siakan oleh Dzat Yang Mengatur segala urusan dari langit ke bumi?’ Dengan kata lain, ‘Apakah kamu takut untuk digagalkan cita-citamu dan disedikitkan rizkimu oleh Dzat Yang rahmat-Nya meliputi penduduk langit dan bumi, orang-orang mukmin dan orang-orang kafir, burung-burung dan binatang melata?’[14]&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berapa banyak bukti-bukti dalam kitab-kitab Sunnah (Hadits), Sirah (Perjalanan Hidup), Tarajum (Biografi), Tarikh (Sejarah), bahkan hingga dalam kenyataan-kenyataan yang kita alami saat ini yang menunjukkan bahwa Allah mengganti rizki hambaNya yang berinfak di jalanNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini kami ringkaskan satu bukti dalam masalah ini. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu dari Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam beliau bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ketika seorang laki-laki berada di suatu tanah lapang bumi ini, tiba-tiba ia mendengar suara dari awan, ‘Siramilah kebun si fulan!’ Maka awan itu berarak menjauh dan menuangkan airnya di areal tanah yang penuh de-ngan batu-batu hitam. Di sana ada aliran air yang me-nampung air tersebut. Lalu orang itu mengikuti kemana air itu mengalir. Tiba-tiba ia (melihat) seorang laki-laki yang berdiri di kebunnya. Ia mendorong air tersebut dengan skopnya (ke dalam kebunnya). Kemudian ia ber-tanya, ‘Wahai hamba Allah! Siapa namamu?’ Ia menja-wab, ‘Fulan’, yakni nama yang didengar di awan. Ia balik bertanya, “Wahai hamba Allah, kenapa engkau menanyakan namaku?’ Ia menjawab, ‘Sesungguhnya aku mendengar suara di awan yang menurunkan air ini. Suara itu berkata, ‘Siramilah kebun si fulan! Dan itu adalah namamu. Apa sesungguhnya yang engkau laku-kan?’ Ia menjawab, “Jika itu yang engkau tanyakan, maka sesungguhnya aku memperhitungkan hasil yang didapat dari kebun ini, lalu aku bersedekah dengan se-pertiganya, dan aku makan beserta keluargaku seper-tiganya lagi, kemudian aku kembalikan (untuk menanam lagi) sepertiganya’.” [15]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain disebutkan:&lt;br /&gt;“Dan aku jadikan sepertiganya untuk orang-orang miskin dan peminta-minta serta ibnu sabil (orang yang dalam perjalanan).” [16]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam An-Nawawi berkata: “Hadits itu menjelaskan tentang keutamaan bersedekah dan berbuat baik kepada orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Juga keutamaan seseorang yang makan dari hasil kerjanya sen-diri, termasuk keutamaan memberi nafkah kepada keluarga.”[17] &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;[1] Tafsirut Tahrir wat Tanwir, 22/221.&lt;br /&gt;[2] Tafsir Ibnu Katsir, 3/595. Lihat pula, Tafsirut Tahrir wat Tanwir, di mana di dalamnya disebutkan, “Secara lahiriah, ayat itu menunjukkan adanya penggantian rizki, baik di dunia maupun di akhirat.” (22/221).&lt;br /&gt;[3] At-Tafsir Al-Kabir, 25/263.&lt;br /&gt;[4] Tafsirut Tahrir wat Tanwir, 22/221.&lt;br /&gt;[5] Tafsir Ath-Thabari, no. atsar 6168, 5/571. Lihat pula, At-Tafsirul Kabir, 7/65, Tafsirul Khazin, 1/290. Di mana disebutkan di dalamnya: “Ampunan (yang diberikan) merupakan isyarat terhadap manfaat-manfaat akhirat dan karunia adalah isyarat terhadap manfaat-manfaat dunia berupa rizki dan ganti.”&lt;br /&gt;[6] Al-Muharrarul Wajiz, 2/329.&lt;br /&gt;[7] At-Tafsirul Qayyim, hal. 168. Lihat pula, Fathul Qadir oleh Asy-Syaukani, 1/438, di mana ia berkata, “Fadhl (karunia) itu adalah bahwa Allah akan mengganti kepada mereka dengan sesuatu yang lebih utama dari apa yang mereka infakkan. Maka Allah meluaskan rizkinya dan memberinya nikmat di akhirat dengan sesuatu yang lebih utama, lebih banyak, lebih agung dan lebih indah.”&lt;br /&gt;[8] Shahih Muslim, kitab Az-Zakah, bab Al-Hatstsu ‘alan Nafaqah wa Tabsyiril Munfiq bil Khalf, no. 36 (993), 2/690-691.&lt;br /&gt;[9] Syarh An-Nawawi, 7/79.&lt;br /&gt;[10] Shahihul Bukhari, Kitab Az-Zakah, Bab Firman Allah:&lt;br /&gt;Tentang do’a: “Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang menginfakkan hartanya,” no. 1442, 3/304.&lt;br /&gt;[11] Murqatil Mafatih, 4/366. Sayyid Muhammad Rasyid Ridha berkata: “Makna do’a ini menurut saya adalah bahwa di antara sunnah-sunnah Allah adalah Dia memberikan ganti kepada orang yang berinfak dengan memudahkan sebab-sebab rizki baginya. Lalu ia ditinggikan derajatnya di dalam hati manusia. Sebaliknya, orang yang bakhil (kikir) diharamkan dari yang demikian.” (Tafsir Manar, 4/74).&lt;br /&gt;[12] Umdatul Qari, 8/307.&lt;br /&gt;[13] Diriwayatkan dari Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman. (Misykatul Mashabih, Kitab Az-Zakah, Bab Al-Infak wa Karahiyatul Imsak, no. 1885, dengan diringkas, 1/590-591). Syaikh Al-Albani berkata, ‘Hadits ini shahih karena jalur-jalurnya,’ (Hamisy Misykatil Mashabih, 1/591). Lihat pula, Majma’uz Zawa’id wa Manba’ul Fawa’id, 3/126, Kasyful Khafa’wa Muzilul Ilbas, 1/243-144, Tanqihur Ruwat fi Takhriji Ahaditsil Misykat, Syaikh Ahmad Hasan Adalah-Dahlawi, 2/19.&lt;br /&gt;[14] Murqatul Mafatih, 4/389.&lt;br /&gt;[15] Shahih Muslim, Kitab Az-Zuhd war Raqa’iq, Bab Ash Shadaqah alal Masakin, no. 45 (2984), 4/2288.&lt;br /&gt;[16] Op. cit., 4/2288.&lt;br /&gt;[17] Op. cit., 18/115.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&amp;nbsp; &lt;a href="http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=493&amp;amp;parent_section=kj017&amp;amp;idjudul=1"&gt;http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=493&amp;amp;parent_section=kj017&amp;amp;idjudul=1&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-1697431824738590789?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/1697431824738590789/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/berinfak-di-jalan-allah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/1697431824738590789'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/1697431824738590789'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/berinfak-di-jalan-allah.html' title='Berinfak Di Jalan Allah'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-2423317275021474311</id><published>2011-11-26T07:32:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T07:33:05.273+07:00</updated><title type='text'>Silaturrahim</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Di antara pintu-pintu rizki adalah silaturrahim. Pembi-caraan masalah ini –dengan memohon pertolongan Allah– akan saya bahas melalui empat poin berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;A.   Makna Silaturrahim&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna ‘ar-rahim’ adalah para kerabat dekat. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata:‘Ar-rahim secara umum adalah dimaksud-kan untuk para kerabat dekat. Antara mereka terdapat garis nasab (keturunan), baik berhak mewarisi atau tidak, dan sebagai mahram atau tidak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pendapat lain, mereka adalah maharim (para kerabat dekat yang haram dinikahi) saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat pertama lebih kuat, sebab menurut batasan yang kedua, anak-anak paman dan anak-anak bibi bukan kerabat dekat karena tidak termasuk yang haram dinikahi, padahal tidak demikian.”[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silaturrahim, sebagaimana dikatakan oleh Al-Mulla Ali Al-Qari adalah kinayah (ungkapan/sindiran) tentang berbuat baik kepada para karib kerabat dekat –baik menurut garis keturunan maupun perkawinan– berlemah lembut dan mengasihi mereka serta menjaga keadaan mereka.[2] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;B.   Dalil Syar’i Bahwa Silaturrahim Ter-masuk Kunci Rizki&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hadits dan atsar menunjukkan bahwa Allah Subhannahu wa Ta'ala menjadikan silaturrahim termasuk di antara sebab kela-pangan rizki. Di antara hadits-hadits dan atsar-atsar itu adalah:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, ia berkata, ‘aku mendengar Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:&lt;br /&gt;“Siapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan di-akhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya)[3] maka hen-daknyalah ia menyambung (tali) silaturrahim.” [4]&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dalil lain adalah hadits riwayat Imam Al-Bukhari dari Anas bin Malik Radhiallaahu anhu bahwasanya Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam  bersabda:&lt;br /&gt;“Siapa yang suka untuk dilapangkan rizkinya dan di-akhirkan usianya (dipanjangkan umurnya), hendaklah ia menyambung silaturrahim.” [5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits yang mulia di atas, Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam menjelaskan bahwa silaturrahim membuahkan dua hal, kelapangan rizki dan bertambahnya usia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah tawaran terbuka yang disampaikan oleh makh-luk Allah yang paling benar dan jujur, yang berbicara berda-sarkan wahyu, Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam . Maka barangsiapa me-nginginkan dua buah di atas hendaknya ia menaburkan be-nihnya, yaitu silaturrahim. Demikianlah, sehingga Imam Al-Bukhari memberi judul untuk kedua hadits itu dengan “Bab Orang Yang Dilapangkan Rizkinya dengan Silaturrahim.”[6] Artinya, dengan sebab silaturrahim.[7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Hibban juga meriwayatkan hadits Anas bin Malik Radhiallaahu anhu dalam kitab shahihnya dan beliau memberi judul dengan “Keterangan Tentang Baiknya Kehidupan dan Banyaknya Berkah dalam Rizki Bagi Orang Yang Menyambung Silaturrahim.[8]&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dalil lain adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, At-Tirmidzi dan Al-Hakim dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu , dari Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam beliau bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belajarlah tentang nasab-nasab kalian sehingga kalian bisa menyambung silaturrahim. Karena sesungguhnya silaturrahim adalah (sebab adanya) kecintaan terhadap keluarga (kerabat dekat), (sebab) banyaknya harta dan bertambahnya usia.” [9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits yang mulia Ini Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam menjelaskan bahwa silaturrahim ini membuahkan tiga hal, di antaranya adalah ia menjadi sebab banyaknya harta.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dalil lain adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abdullah bin Ahmad, Al-Bazzar dan Ath-Thabrani dari Ali bin Abi Thalib Radhiallaahu anhu dari Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam , beliau bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa senang untuk dipanjangkan umurnya dan diluaskan rizkinya serta dihindarkan dari kematian yang buruk maka hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dan menyambung silaturrahim.” [10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits yang mulia ini, Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam yang jujur dan terpercaya, menjelaskan tiga manfaat yang terealisir bagi orang yang memiliki dua sifat; bertaqwa kepada Allah dan menyambung silaturrahim. Dan salah satu dari tiga manfaat itu adalah keluasan rizki.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dalil lain adalah riwayat Imam Al-Bukhari dari Abdullah bin Umar Radhiallaahu anhu ia berkata:&lt;br /&gt;“Barangsiapa bertaqwa kepada Tuhannya dan menyam-bung silaturrahim, niscaya dipanjangkan umurnya dan dibanyakkan rizkinya dan dicintai oleh keluarganya.” [11]&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Demikian besarnya pengaruh silaturrahim dalam ber-kembangnya harta benda dan menjauhkan kemiskinan, sam-pai-sampai ahli maksiat pun, disebabkan oleh silaturrahim, harta mereka bisa berkembang, semakin banyak jumlahnya dan mereka jauh dari kefakiran, karena karunia Allah Subhannahu wa Ta'ala .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abu Bakrah Radhiallaahu anhu dari Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam bahwasanya beliau bersabda:&lt;br /&gt;“Sesungguhnya keta’atan yang paling disegerakan pahalanya adalah silaturrahim. Bahkan hingga suatu keluarga yang ahli maskiat pun, harta mereka bisa berkembang dan jumlah mereka bertambah banyak jika mereka saling bersilaturrahim. Dan tidaklah ada suatu keluarga yang saling bersilaturrahim kemudian mereka membutuhkan (kekurangan).” [12]&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;b&gt;C. Apa Saja Sarana Untuk Silaturrahim ?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang menyempitkan makna silaturrahim hanya dalam masalah harta. Pembatasan ini tidaklah benar. Sebab yang dimaksud silaturrahim lebih luas dari itu. Silaturrahim adalah usaha untuk memberikan kebaikan kepada kerabat dekat serta (upaya) untuk menolak keburukan dari mereka, baik dengan harta atau dengan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Abu Jamrah berkata: “Silaturrahim itu bisa dengan harta, dengan memberikan kebutuhan mereka, dengan menolak keburukan dari mereka, dengan wajah yang berseri-seri serta dengan do’a.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna silaturrahim yang lengkap adalah memberikan apa saja yang mungkin diberikan dari segala bentuk kebaikan, serta menolak apa saja yang mungkin bisa ditolak dari keburukan sesuai dengan kemampuannya (kepada kerabat dekat).[13]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;D.   Tata Cara Silaturrahim dengan Para Ahli Maksiat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang salah dalam memahami tata cara silaturrahim dengan para ahli maksiat. Mereka mengira bahwa bersilaturrahim dengan mereka berarti juga mencintai dan menyayangi mereka, bersama-sama duduk dalam satu majelis dengan mereka, makan bersama-sama mereka serta bersikap lembut dengan mereka. Ini adalah tidak benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua memaklumi bahwa Islam tidak melarang berbuat baik kepada kerabat dekat yang suka berbuat maksiat, bahkan hingga kepada orang-orang kafir. Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan ber-laku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangi-mu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (Al-Mumtahanah: 8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula sebagaimana disebutkan dalam hadits Asma’ binti Abu Bakar Radhiallaahu anhu yang menanyakan Rasullah Shallallaahu alaihi wa Salam untuk bersilaturrahmi kepada ibunya yang musyrik. Dalam hadits ini diantaranya disebutkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku bertanya, ‘Sesungguhnya ibuku datang dan ia sangat berharap[14], apakah aku harus menyambung (silaturrahim) dengan ibuku?’ Beliau Shallallaahu alaihi wa Salam menjawab, ‘Ya, sambunglah (silaturrahim) dengan ibumu’.” [15]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, itu bukan berarti harus saling mencintai dan menyayangi, duduk-duduk satu majelis dengan mereka. Bersa-ma-sama makan dengan mereka serta bersikap lembut dengan orang-orang kafir dan ahli maksiat tersebut. Allah ber-firman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang ber-iman kepada Allah dan hari Akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-sudara atau pun keluarga mereka.” (Al-Mujadilah: 22).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna ayat yang mulia ini –sebagaimana disebutkan oleh Imam Ar-Razi– adalah bahwasanya tidak akan bertemu antara iman dengan kecintaan kepada musuh-musuh Allah. Karena jika seseorang mencintai orang lain maka tidak mungkin ia akan mencintai musuh orang tersebut.[16]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan berdasarkan ayat ini, Imam Malik menyatakan bolehnya memusuhi kelompok Qadariyah dan tidak duduk satu majelis dengan mereka.[17]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Al-Qurthubi mengomentari dasar hukum Imam Malik: “Saya berkata, ‘Termasuk dalam makna kelompok Qadariyah adalah semua orang yang zhalim dan yang suka memusuhi’.”[18]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat yang mulia tersebut berkata: “Artinya, mereka tidak saling mencintai dengan orang yang suka menentang (Allah dan RasulNya), bahkan meskipun mereka termasuk kerabat dekat.”[19]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, silaturrahim dengan mereka adalah dalam upaya untuk menghalangi mereka agar tidak mendekat kepada Neraka dan menjauhi dari Surga. Tetapi, bila kondisi mengisyaratkan bahwa untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan cara memutuskan hubungan dengan mereka, maka pemutusan hubungan tersebut –dalam kondisi demikian– dapat dikategorikan sebagai silaturrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, Imam Ibnu Abu Jamrah berkata: “Jika mereka itu orang-orang kafir atau suka berbuat dosa maka memutuskan hubungan dengan mereka karena Allah adalah (bentuk) silaturrahim dengan mereka. Tapi dengan syarat telah ada usaha untuk menasehati dan memberitahu mereka, dan mereka masih terus membandel. Kemudian, hal itu (pe-mutusan silaturrahim) dilakukan karena mereka tidak mau menerima kebenaran. Meskipun demikian, mereka masih tetap berkewajiban mendo’akan mereka tanpa sepengetahuan mereka agar mereka kembali ke jalan yang lurus.[20] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1]Fathul Bari, 10/414.&lt;br /&gt;[2] Murtqatul Mafatih, 8/645.&lt;br /&gt;[3] Catatan: “Para ahli hadits mengangkat persoalan seputar bertambahnya umur karena silaturrahim dan mereka memberikan jawabannya. Misalnya dalam Fathul Bari disebutkan, Ibnu At-Tin berkata, “Secara lahiriah, hadits itu bertentangan dengan firman Allah:&lt;br /&gt;“Maka apabila telah datang ajal mereka, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (Al-A’raf: 34).&lt;br /&gt;Untuk mencari titik temu kedua dalil tersebut dapat ditempuh melalui dua jalan. Pertama, bahwasanya tambahan (umur) yang dimaksud adalah kinayah dari usia yang diberi berkah karena mendapat taufik untuk menjalankan keta’atan, ia menyibukkan waktunya dengan apa yang bermanfaat di akhirat, serta menjaga dari menyia-nyiakan waktunya untuk hal lain (yang tidak bermanfaat). Kedua, tambahan itu secara hakikat atau sesungguhnya. Dan itu berkaitan dengan malaikat yang diberi tugas mengenai umur manusia. Adapun yang ditunjukkan oleh ayat perama di atas, maka hal itu berkaitan dengan ilmu Allah Subhannahu wa Ta'ala  Umpamanya dikatakan kepada malaikat, “Sesungguhnya umur fulan adalah 100 tahun jika dia menyambung silaturrahim dan 60 tahun jika ia memutuskannya”. Dalam ilmu Allah telah diketahui bahwa fulan tersebut akan menyambung atau memutuskan silaturrahim. Dan apa yang ada di dalam ilmu Allah itu tidak akan maju atau mundur. Adapun yang ada dalam ilmu malaikat maka hal itulah yang mungkin bisa bertambah atau berkurang. Itulah yang diisyaratkan oleh firman Allah:&lt;br /&gt;“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisiNya-lah terdapat Ummul Kitab (Lauh Mahfuzh).” (Ar-Ra’d: 39)&lt;br /&gt;Jadi, yang dimaksudkan dengan menghapuskan dan menetapkan dalam ayat itu adalah apa yang ada dalam ilmu malaikat. Sedangkan apa yang ada di dalam Lauh Mahfuzh itu merupakan ilmu Allah, yang tidak akan ada penghapusan (perubahan) selama-lamanya. Itulah yang disebut dengan al-qadha’ al-mubram (taqdir/putusan yang pasti), sedang yang pertama (dalam ilmu malaikat) disebut al-qadha’ al-mu’allaq (taqdir/putusan yang masih menggantung). (Fathul Bari, 10/416 secara ringkas. Lihat pula, Syarah Nawawi, 16/114, ‘Umdatul Qari, 22/91).&lt;br /&gt;[4] Shahihul Bukhari, Kitabul Adab, bab Man Busitha Lahu fir Rizqi Bishilatir Rahim, no.5985, 10/415.&lt;br /&gt;[5] Op. cit., No. 5986, 10/415.&lt;br /&gt;[6] Op. Cit., 10/415. &lt;br /&gt;[7] Umdatul Qari, 22/91&lt;br /&gt;[8] Al-Ihsan fi Taqribi Shahih Ibnu Hibban, Kitabul Birri wal Ihsan, bab Shilaturrahim wa Qath’iha, 2/180.&lt;br /&gt;[9] Al-Musnad, no. 8855, 17/142. Jami’ut Tirmidzi, Abwabul Birri wash Shilah, Bab Ma Ja’a fi Ta’limin Nasab, no. 2045, 6/96-97, dan lafazh ini miliknya. Al-Mustadrak ‘alash Shahihain, Kitabul Birr wash Shilah, 4/161. Imam Al-Hakim berkata, “Hadits ini sanadnya shahih, tetapi tidak dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.” (Op. Cit., 4/161). Hal ini juga disepakati oleh Adz-Dzahabi (At-Talkhis, 4/161). Syaikh Ahmad Muhammad Syakir menyatakan sanadnya shahih. (Hamisyul Musnad, 17/42). Dan ia dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani. (Shahih Sunan At-Tirmidzi, 2/190). &lt;br /&gt;[10] Al-Musnad, no. 1212, 2/290. Majma’uz Zawa’id wa Manba’ul Fawa’id, Kitabul Birri wash Shilah, bab Shilaturrahim wa Qatha’iha, 8/152-153. Tentang hadits ini, Al-Hafizh Al-Haitsami berkata, “Hadits ini diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad, Al-Bazzar dan Ath-Thabrani di dalam Al-Ausath.” Para perawi Al-Bazar adalah perawi-perawi Shahih Muslim, selain Ashim bin Hamzah, dia adalah orang tsiqath (terpercaya). (Op. cit., 8/153). Disebutkan Ashim bin Hamzah, yang benar adalah Ashim bin Dhamrah. Penulisan Hamzah adalah kesalahan cetak. (Hamisyul Musnad, 2/290). Syaikh Ahmad Muhammad Syakir berkata, “Sanad hadits ini shahih”. (Op. cit., 2/290).&lt;br /&gt;[11] Al-Adabul Mufrad, bab Man Washala Rahimahu Ahabbahu Allah, no.59, hal. 37.&lt;br /&gt;[12] Al-Ihsan fi Taqribi Shahih Ibnu Hibban, Kitabul Birr wal Ihsan, bab Shilaturrahim wa Qath’iha, no. 440, 2/182-183. Syaikh Syu’aib Al-Arna’uth menshahihkan hadits ini ketika menyebutkan dalil-dalil pada catatan kaki Al-Ihsan. (2/183-184).&lt;br /&gt;[13] Dinukil dari Tuhfatul Ahwadzi, 6/30.&lt;br /&gt;[14] Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata. “Dalam riwayat lain disebutkan, ‘Ia datang kepadaku dalam keadaan penuh harapan dan rasa takut’. Maknanya, bahwa ia datang dengan harapan agar puterinya berbuat baik kepadanya. Dan ia takut jika harapannya ditolak dan tak membawa hasil. Demikian seperti yang diterangkan oleh mayoritas ulama.” (Fathul Bari, 5/234).&lt;br /&gt;[15] Hadits diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari. (Shahihul Bukhari, Kitabul Hibah, bab Al-Hadiyyah lil Musyrikin…., no. 2620, 5/233). Imam Al-Khathabi berkata: “Ini menunjukkan bahwa kerabat dekat yang kafir disambung silaturrahimnya dengan harta atau sejenisnya sebagaimana kaum muslimin disambung silaturrahimnya dengannya.” (Dinukil dari Fathul Bari, 5/234).&lt;br /&gt;[16] At-Tafsirul Kabir, 29/276. Fathul Qadir, 5/272.&lt;br /&gt;[17] Ahkamul Qur’an oleh Ibnul Arabi, 4/1763. Tafsir Al-Qurthubi, 17/307.&lt;br /&gt;[18] Op. cit., 17/307. Lihat pula, Tafsir At-Tahrir wat Tanwir, 26/80.&lt;br /&gt;[19] Tafsir Ibnu Katsir, 4/347.&lt;br /&gt;[20] Dinukil dari Tuhfatul Ahwadzi, 6/30.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&amp;nbsp; &lt;a href="http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=491&amp;amp;parent_section=kj017&amp;amp;idjudul=1"&gt;http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=491&amp;amp;parent_section=kj017&amp;amp;idjudul=1&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-2423317275021474311?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/2423317275021474311/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/silaturrahim.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/2423317275021474311'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/2423317275021474311'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/silaturrahim.html' title='Silaturrahim'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-8357138986483423955</id><published>2011-11-26T07:31:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T07:31:51.162+07:00</updated><title type='text'>Melanjutkan Haji Dengan Umrah Atau Sebaliknya</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Di antara perbuatan yang dijadikan Allah termasuk kunci-kunci rizki yaitu melanjutkan haji dengan umrah atau sebaliknya. Pembicaraan masalah ini –dengan memohon pertolongan Allah– akan saya lakukan melalui dua poin bahasan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;A.   Yang Dimaksud Melanjutkan Haji Dengan Umrah Atau Sebaliknya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abul Hasan As-Sindi menjelaskan tentang mak-sud melanjutkan haji dengan umrah atau sebaliknya berkata: “Jadikanlah salah satunya mengikuti yang lain, di mana ia dilakukan sesudahnya. Artinya, jika kalian menunaikan haji maka tunaikanlah umrah. Dan jika kalian menunaikan umrah maka tunaikanlah haji, sebab keduanya saling mengikuti.[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;B. Dalil Syar’i Bahwa Melanjutkan Haji Dengan Umrah Atau Sebaliknya Termasuk Kunci Rizki&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara hadits-hadits yang menunjukkan bahwa melanjutkan haji dengan umrah atau sebaliknya termasuk kunci-kunci rizki adalah:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Imam Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasa’, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud Radhiallaahu anhu berkata, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lanjutkanlah haji dengan umrah, karena sesungguhnya keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa, sebagai-mana api dapat menghilangkan kotoran besi, emas dan perak. Dan tidak ada pahala haji yang mabrur[2] itu me-lainkan Surga”.[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits yang mulia tersebut Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam yang terpercaya, yakni berbicara dengan wahyu menjelaskan bahwa buah melanjutkan haji dengan umrah atau sebaliknya adalah hilangnya kemiskinan dan dosa. Imam Ibnu Hibban memberi judul hadits ini dalam kitab shahihnya dengan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keterangan Bahwa Haji dan Umrah Menghilangkan Dosa-dosa dan Kemiskinan dari Setiap Muslim dengan Sebab Keduanya.” [4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Imam Ath-Thayyibi dalam menjelaskan sabda Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam :&lt;br /&gt;“Sesungguhnya keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa”, dia berkata, “Kemampuan keduanya untuk menghilangkan kemiskinan seperti kemampuan amalan bersedekah dalam menambah harta.”[5]&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hadits riwayat Imam An-Nasa’i dari Ibnu Abbas , ia berkata, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lanjutkanlah haji dengan umrah atau sebaliknya. Kare-na sesungguhnya keduanya dapat menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana api dapat menghilangkan kotoran besi.” [6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka orang-orang yang menginginkan untuk dihilangkan kemiskinan dan dosa-dosanya, hendaknya ia segera melanjutkan hajinya dengan umrah atau sebaliknya. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;[1]  Hasyiyatul Imam As-Sindi ‘ala Sunan An-Nasa’i, 5/115. Lihat pula Faidhul Qadir oleh Al-Manawi, 3/225.&lt;br /&gt;[2] Haji mabrur adalah haji yang memenuhi semua hukum-hukum (persyaratan)-nya, sehingga dilakukan sesuai dengan yang diminta dari seseorang mukallaf (yang dibebani syar'iat) secara sempurna. (Tuhfatul Ahwadzi, 3/454).&lt;br /&gt;[3] Al-Musnad, no. 3669, 5/244-245. Jami’ut Tirmidzi, Abwabul Hajj, bab Ma Ja’a fi Tsawabul Hajji wal ‘Umrati, no. 807, 3/454 dan lafazh ini miliknya. Sunan An-Nasa’i, kitab Manasikil Haji, fadhul Mutaba’ti Bainal Hajji wal ‘Umrati, 5/115. Shahih Ibnu Khuzaimah, Kitabul Manasik, bab Al-Amru bil Mutaba’ati Bainal Hajji wal ‘Umrati, no. 464, 4/130. Al-Ihsan ila Taqribi Shahih Ibnu Hibban, Kitabul Hajj, bab Fadhul Hajji wal’Umrati, no. 3693, 9/6. Imam At-Tarmidzi berkata, “Hadits Ibnu Mas’ud t adalah hasan shahih gharib’. (Jami’ut Tirmidzi, 3/455). Syaikh Ahmad Syakir berkata, “Sanadnya shahih”. (Hamisyul Musnad, 5/244). Syaikh Al-Albani berkata, “Hadits ini hasan shahih”. (Shahih Sunan At-Tirmidzi, 1/245 dan Shahih Sunan An-Nasa’i, 2/558) Syaikh Syu’aib Al-Arna’uth berkata, “Sanad hadits ini hasan”. (Hamsiyul Ihsan, 9/6).&lt;br /&gt;[4] Al-Ihsan Fi Taqribi Shahih Ibnu Hibban, 9/6.&lt;br /&gt;[5] Faidhul Qadir, 3/225.&lt;br /&gt;[6] Sunan An-Nasa’i, kitab Manasikil Hajj, Fadhul Mutaba’ati Bainal Hajj wal ‘Umrati, 5/115. Syaikh Al-Albani berkata shahih. (Shahih Sunan An-Nasa’i, 2/558).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&amp;nbsp; &lt;a href="http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=489&amp;amp;parent_section=kj017&amp;amp;idjudul=1"&gt;http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=489&amp;amp;parent_section=kj017&amp;amp;idjudul=1&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-8357138986483423955?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/8357138986483423955/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/melanjutkan-haji-dengan-umrah-atau.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/8357138986483423955'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/8357138986483423955'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/melanjutkan-haji-dengan-umrah-atau.html' title='Melanjutkan Haji Dengan Umrah Atau Sebaliknya'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-8402330731285456162</id><published>2011-11-26T07:30:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T07:30:52.137+07:00</updated><title type='text'>Beribadah Kepada Allah Subhanaahu wa Ta'ala Sepenuhnya</title><content type='html'>Di antara kunci-kunci rizki adalah beribadah kepada Allah sepenuhnya. Saya akan membahas masalah ini &lt;br /&gt;–dengan memohon pertolongan kepada Allah– dari dua hal:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.  Makna beribadah kepada Allah sepenuhnya.&lt;br /&gt;b.  Dalil syar’i bahwa beribadah kepada Allah sepenuhnya adalah di antara kunci-kunci rizki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;A.   Makna Beribadah Kepada Allah Sepenuhnya.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendaknya seseorang tidak mengira bahwa yang dimak-sud beribadah sepenuhnya adalah dengan meninggalkan usaha untuk mendapatkan penghidupan dan duduk di masjid sepanjang siang dan malam. Tetapi yang dimaksud –wallahu a’lam– adalah hendaknya seorang hamba beribadah dengan hati dan jasadnya, khusyu’ dan merendahkan diri di hadapan Allah Yang Maha Esa, menghadirkan (dalam hati) betapa besar keagungan Allah, benar-benar merasa bahwa ia sedang bermunajat kepada Allah Yang Maha Menguasai dan Maha Menentukan. Yakni beribadah sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hendaknya kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kami melihatNya. Jika kamu tidak melihatNya maka se-sungguhnya Dia melihatmu.” [1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janganlah engkau termasuk orang-orang yang (ketika beribadah) jasad mereka berada di masjid, sedang hatinya berada di luar masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelaskan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam :&lt;br /&gt;“Beribadahlah sepenuhnya kepadaKu”. Al-Mulla Ali Al-Qari berkata, “Maknanya, jadikanlah hatimu benar-benar sepenuhnya (berkonsentrasi) untuk beribadah kepada Tuhan-mu”.[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;B. Dalil Syar’i Bahwa Beribadah Kepada Allah Sepenuhnya Termasuk Kunci Rizki&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa nash yang menunjukkan bahwa beribadah sepenuhnya kepada Allah termasuk di antara kunci-kunci rizki. Beberapa nash tesebut di antaranya adalah:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-Hakim dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu , dari Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam beliau bersabda: &lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah Subhannahu wa Ta'ala  berfirman, ‘Wahai anak Adam!, beribadahlah sepenuhnya kepadaKu, niscaya Aku penuhi (hatimu yang ada) di dalam dada dengan kekayaan dan Aku penuhi kebutuhanmu. Jika tidak kalian lakukan, nis-caya Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan[3] dan tidak Aku penuhi kebutuhanmu (kepada manusia)’.” [4]&lt;br /&gt;Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam dalam hadits tersebut menjelaskan, bahwasanya Allah menjanjikan kepada orang yang beribadah kepadaNya sepenuhnya dengan dua hadiah, sebaliknya mengancam bagi yang tidak beribadah kepadaNya sepenuhnya dengan dua siksa. Adapun dua hadiah itu adalah Allah mengisi hati orang yang beribadah kepadaNya sepenuhnya dengan kekayaan serta memenuhi kebutuhannya. Sedangkan dua siksa itu adalah Allah memenuhi kedua tangan orang yang tidak beribadah kepadaNya sepenuhnya dengan berbagai kesibukan, dan ia tidak mampu memenuhi kebutuhannya, sehingga ia tetap membutuhkan kepada manusia.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hadits riwayat imam Al-Hakim dari Ma’qal bin Yasar Radhiallaahu anhu  ia berkata, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam  bersabda:&lt;br /&gt;“Tuhan kalian berkata, ‘Wahai anak Adam, beribadah-lah kepadaKu sepenuhnya, niscaya Aku penuhi hatimu dengan kekayaan dan Aku penuhi kedua tanganmu dengan rizki. Wahai anak Adam!, jangan jauhi Aku, sehingga Aku penuhi hatimu dengan kefakiran dan Aku penuhi kedua tangamu dengan kesibukan.”[5]&lt;br /&gt;Dalam hadits yang mulia ini, Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam yang mulia, yang berbicara berdasarkan wahyu mengabarkan tentang janji Allah, yang tak satu pun lebih memenuhi janji daripadaNya, berupa dua jenis pahala bagi orang yang benar-benar ber-ibadah kepada Allah sepenuhnya. Yaitu, Allah pasti memenuhi hatinya dengan kekayaan dan kedua tangannya dengan rizki.&lt;br /&gt;Sebagaimana Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam juga memperingatkan akan ancaman Allah kepada orang yang menjauhiNya dengan dua jenis siksa. Yaitu Allah pasti memenuhi hatinya dengan kefakiran dan kedua tangannya dengan kesibukan.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Dan semua mengetahui, siapa yang hatinya dikayakan oleh Yang Maha Memberi kekayaan, niscaya tidak akan didekati oleh kemiskinan selama-lamanya. Dan siapa yang kedua tangannya dipenuhi rizki oleh Yang Maha Memberi rizki dan Maha Perkasa, niscaya ia tidak akan pernah pailit selama-lamanya. Sebaliknya, siapa yang hatinya dipenuhi dengan kefakiran oleh Yang Maha Kuasa dan Maha Menentukan, niscaya tak seorang pun mampu membuatnya kaya. Dan siapa yang disibukkan oleh Yang Maha Perkasa dan Maha Memaksa, niscaya tak seorangpun yang mampu memberinya waktu luang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Lihat Shahih Muslim, Kitabul Iman, bab Bayanul Iman wal Islam wal Ihsan…., penggalan dari hadits no. 5(9), 1/39.&lt;br /&gt;[2] Murqatul Mafatih, 9/26. Lihat pula Tuhfatul Ahwadzi, di dalamnya disebutkan:&lt;br /&gt;تَفَرَّ غْ مِنْ مُهَمَّا تِكَ لِطَا عَتِي.&lt;br /&gt;“Kosongkanlah (hatimu) dari urusan-urusanmu untuk menta’atiKu.” (7/140).&lt;br /&gt;[3] Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan”. Dikhususkan penyebutan kata ‘tangan’, karena pekerjaan itu dilakukan dengan keduanya. (Faidhul Qadir, 2/308).&lt;br /&gt;[4] Al-Musnad, no. 8681, 16/284. Jami’ut Tirmidzi, Abwabul Shifatil Qiyamah, bab no. 2583, 7/140 dan lafazh ini miliknya. Sunan Ibnu Majah, Abwabuuz Zuhd, Al-Hammu bid Dunya, no. 4159, 2/408. Al-Mustadrak ‘Alash Shahihain, Kitabut Tafsir, 2/443. Imam At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan gharib (Jami’ut Tirmidzi, 7/141). Imam Al-Hakim berkata, Ini adalah hadits yang sanadnya shahih, tetapi tidak dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim”. (Al-Mustadrak, 2/443). Dan ini disepakati oleh Adz-Dzahabu (At-Talkhish, 2/443). Syaikh Al-Albani berkata shahih (Shahih Sunan At-Tirmidzi, 2/300. Shahih Sunan Ibnu Majah, 2/393). &lt;br /&gt;[5] Al-Mustadrak ’Alash Shahihain, Kitabur Riqaq, 4/326. Imam Al-Hakim berkata, “Sanad hadits ini shahih, tetapi Al-Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya”. (Op. cit. 4/326). Dan hal ini disepakati oleh Adz-Dzahabi (At-Talkhish, 4/326). Syaikh Al-Albani berkata, “Tentang hadits ini, memang seperti dikatakan oleh keduanya”. (Silsilatul Ahadits Ash-Shahihah, no. 1359, 3/347).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&amp;nbsp; &lt;a href="http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=487&amp;amp;parent_section=kj017&amp;amp;idjudul=1"&gt;http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=l&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;ihatkajian&amp;amp;parent_id=487&amp;amp;parent_section=kj017&amp;amp;idjudul=1&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-8402330731285456162?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/8402330731285456162/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/beribadah-kepada-allah-subhanaahu-wa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/8402330731285456162'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/8402330731285456162'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/beribadah-kepada-allah-subhanaahu-wa.html' title='Beribadah Kepada Allah Subhanaahu wa Ta&apos;ala Sepenuhnya'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-3679929508226213373</id><published>2011-11-26T07:17:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T07:18:13.330+07:00</updated><title type='text'>Bertawakal Kepada Allah Subhanaahu wa Ta'ala</title><content type='html'>Termasuk di antara sebab diturunkannya rizki adalah bertawakkal kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala dan Yang kepadaNya tempat bergantung. Insya Allah kita akan membicarakan hal ini melalui tiga hal:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Yang dimaksud bertawakkal kepada Allah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dalil syar’i bahwa bertawakkal kepada Allah termasuk di antara kunci-kunci rizki.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Apakah tawakkal itu berarti meninggalkan usaha?&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;b&gt;A. Yang Dimaksud Bertawakkal kepada Allah &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama-semoga Allah membalas mereka dengan sebaik-baik balasan- telah menjelaskan makna tawakkal. Di antaranya adalah Imam Al-Ghazali, beliau berkata: “Tawakkal adalah penyandaran hati hanya kepada wakil (yang ditawakkali) semata.”[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Allamah Al-Manawi berkata: “Tawakkal adalah menampakkan kelemahan serta penyandaran (diri) kepada yang di tawakkali.”[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelaskan makna tawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, Al-Mulla Ali Al-Qori berkata: “Hendaknya kalian ketahui secara yakin bahwa tidak ada yang berbuat dalam alam wujud ini kecuali Allah, dan bahwa setiap yang ada, baik makhluk maupun rizki, pemberian atau pelarangan, bahaya atau manfaat, kemiskinan atau kekayaan, sakit atau sehat, hidup atau mati dan segala hal yang disebut sebagai sesuatu yang maujud (ada), semuanya itu adalah dari Allah.”[3] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;B. Dalil syar’i Bahwa Bertawakkal kepada Allah Termasuk Kunci Rizki&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Al-Muba-rak, Ibnu Hibban, Al-Hakim, Al-Qhudha’i dan Al-Baghawi meriwayatkan dari Umar bin Khatab Radhiallaahu anhu Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sungguh, seandainya kalian bertawakkal kepada Allah sebenar-benar tawakkal, niscaya kalian akan diberi rizki sebagaimana rizki burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.”[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits yang mulia ini, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam yang berbicara dengan wahyu menjelaskan, orang yang bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya dia akan diberi rizki oleh Allah sebagaimana burung-burung diberiNya rizki. Betapa tidak demikian, karena dia telah bertawakkal kepada Dzat Yang Maha Hidup, Yang tidak pernah mati. Karena itu, barangsiapa bertawakkal kepada-Nya, niscaya Allah akan mencukupinya. Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)Nya. Se-sungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Ath-Thalaq: 3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menafsirkan ayat tersebut, Ar-Rabi’ bin Khutsaim me-ngatakan: “(Mencukupkan) diri setiap yang membuat sempit manusia”.[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;C.  Apakah Tawakkal itu Berarti Meninggalkan Usaha?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang mukmin ada yang berkata: “Jika orang yang bertawakkal kepada Allah itu akan diberi rizki, maka kenapa kita harus lelah, berusaha dan mencari penghidupan. Bukankah kita cukup duduk-duduk dan bermalasan-malasan, lalu rizki kita datang dari langit?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkataan ini sungguh menunjukkan kebodohan orang yang mengucapkan tentang hakikat tawakkal. Nabi kita yang mulia telah menyerupakan orang yang bertawakkal dan diberi rizki itu dengan burung yang pergi di pagi hari untuk mencari rizki dan pulang pada sore hari, padahal burung itu tidak memiliki sandaran apa pun, baik perdagangan, pertanian, pabrik atau pekerjaan tertentu. Ia keluar berbekal tawakkal kepada Allah Yang Maha Esa dan Yang kepadanya tem-pat bergantung. Dan sungguh para ulama –semoga Allah membalas mereka dengan sebaik-baik kebaikan– telah mem-peringatkan masalah ini. Di antaranya adalah Imam Ahmad, beliau berkata: “ Dalam hadits tersebut tidak ada isyarat yang membolehkan untuk meninggalkan usaha, sebaliknya justru di dalamnya ada isyarat yang menunjukkan perlunya mencari rizki. Jadi maksud hadits tersebut, bahwa seandai-nya mereka bertawakkal kepada Allah dalam kepergian, ke-datangan dan usaha mereka, dan mereka mengetahui kebaikan (rizki) itu di TanganNya, tentu mereka tidak akan pu-lang kecuali dalam keadaan mendapatkan harta dengan selamat, sebagaimana burung-burung tersebut.”[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ahmad pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang hanya duduk di rumah atau masjid seraya berkata, ‘Aku tidak mau bekerja sedikit pun, sampai rizkiku datang sendiri’. Maka beliau berkata, Ia adalah laki-laki yang tidak mengenal ilmu. Sungguh Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah telah menjadikan rizkiku melalui panahku.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan beliau bersabda:&lt;br /&gt;“Sekiranya kalian bertawakkal kepada Allah dengan se-benar-benar tawakkal, niscaya Allah memberimu rizki sebagaimana yang diberikanNya kepada burung-burung berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits tersebut dikatakan, burung-burung itu be-rangkat pagi-pagi dan pulang sore hari dalam rangka men-cari rizki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya Imam Ahmad berkata: “Para Sahabat juga berdagang dan bekerja dengan pohon kurmanya. Dan mereka itulah teladan kita”.[7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abu Hamid berkata: “Barangkali ada yang mengi-ra bahwa makna tawakkal adalah meninggalkan pekerjaan secara fisik, meninggalkan perencanaan dengan akal serta menjatuhkan diri di atas tanah seperti sobekan kain yang di-lemparkan, atau seperti daging di atas landasan tempat me-motong daging. Ini adalah sangkaan orang-orang bodoh. Semua itu adalah haram menurut hukum syari’at. Sedangkan syari’at memuji orang yang bertawakkal. Lalu, bagaimana mungkin sesuatu derajat ketinggian dalam agama dapat di-peroleh dengan hal-hal yang dilarang oleh agama pula?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hakikat yang sesungguhnya dalam hal ini dapat kita kata-kan, “Sesungguhnya pengaruh bertawakkal itu tampak dalam gerak dan usaha hamba ketika bekerja untuk mencapai tujuan-tujuannya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Abul Qosim Al-Qusyairi berkata: “Ketahuilah sesungguhnya tawakkal itu letaknya di dalam hati. Adapun gerak secara lahiriah hal itu tidak bertentangan dengan ta-wakkal yang ada di dalam hati setelah seorang hamba me-yakini bahwa rizki itu datangnya dari Allah. Jika terdapat kesulitan, maka hal itu adalah karena taqdirNya, dan jika terdapat kemudahan maka hal itu karena kemudahan dariNya.”[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara yang menunjukkan bahwa tawakkal kepada Allah tidaklah berarti meninggalkan usaha adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dan Imam Al-Hakim dari Ja’far bin Amr bin Umayah dari ayahnya Radhiallaahu anhu , ia berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seseorang berkata kepada Nabisaw , Aku lepaskan unta-ku dan (lalu) aku bertawakkal?’ Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: ‘Ikat-lah kemudian bertawakkallah’.” [9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam riwayat Al-Qudha’i disebutkan:&lt;br /&gt;“Amr bin Umayah t berkata: ‘Aku bertanya,’Wahai Rasulullah, Apakah aku ikat dahulu (tunggangan)ku lalu aku bertawakkal kepada Allah, atau aku lepaskan begitu saja lalu aku bertawakkal?’ Beliau menjawab, ‘Ikatlah kendaran (unta) mu lalu bertawakkallah’.” [10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan dari pembahasan ini adalah bahwa tawakkal tidaklah berarti meninggalkan usaha. Dan sungguh setiap muslim wajib berpayah-payah, bersungguh-sungguh dan berusaha untuk mendapatkan penghidupan. Hanya saja ia tidak boleh menyandarkan diri pada kelelahan, kerja keras dan usahanya, tetapi ia harus meyakini bahwa segala urusan adalah milik Allah, dan bahwa rizki itu hanyalah dari Dia semata .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Ihya’ Ulumid Din, 4/259.&lt;br /&gt;[2] Faidhul Qadir, 5/311.&lt;br /&gt;[3] Murqatul Mafatih, 9/156.&lt;br /&gt;[4] Al-Musnad, no. 205, 1/243 no. 370, 1/313 no. 373, 1/304. Jami’ut Tirmidzi, Kitabuz Zuhud, bab Fit Tawakkal ‘Alallah, no. 2344, no. 2447, 7/7 dan lafazh ini adalah miliknya; Sunan Ibnu Majah, Abwabuz Zuhd At-Tawakkal wal Yaqin, no. 4216, 2/419. Kitabuz Zuhd oleh Ibnu Al-Mubarak, juz IV, bab At-Tawakkal wat Tawadhu’ no. 559, hal. 196-197. Al-Ihsan fi Taqribi Shahih Ibnu Hibban, Kitabur Raqa’iq, bab Al-Wara’ wat Tawakkal, Dzikrul Akhbar ‘amma Yajibu ‘alal Mar’i min Qath’il Qulubi ‘anil Khala’iqi bi Jami’il ‘Ala’iqi fi Ahwalihi wa Asbabuhi no. 730,2/509. Al-Mustadrak ‘ala Ash-Shahihain, Kitabur Riqaq, 4/318. Musnad Asy-Syihab, Lau Annakum Tatawakkaluna ala’ Allah Haqqa Tawakkulihi, no. 1444, 2/319. Syarhus Sunnah oleh Al-Baghawi, Kitabur Riqaq, bab At-Tawakkal’ala Allah U no. 4108, 14/301. Imam At-Tirmidzi berkata, “Ini adalah hadits shahih, kami tidak mengetahuinya kecuali dari sisi ini.” (Jami’ut Tirmidzi, 7/8). Imam Al-Hakim berkata, “Ini adalah hadits dengan sanad shahih, tetapi tidak dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.” (Al-Mustadrak ’Ala Ash-Shahihain, 4/318) Dan disepakati oleh Adz-Dzahabi (At-Talkhis, I4/318). Imam Al-Baghawi berkata, “Ini adalah Hadits hasan” (Syarhus Sunnah, 14/301). Dan sanadnya dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir (Hamisyul Musnad, 1/243). Serta Syaikh Al-Albani menshaihkannya (Silsilatul Ahadits Ash-Shahihah no. 310, jilid 1, juz III/12).&lt;br /&gt;[5] Syahrus Sunnah, 14/298.&lt;br /&gt;[6] Dinukil dari Tuhfatul Ahwadzi, 7/8.&lt;br /&gt;[7] Dinukil dari Fathul Bari, 11/305-306.&lt;br /&gt;[8] Dinukil dari Murqatul Mafatih, 5/157.&lt;br /&gt;[9] Al-Ihsan fi Taqribi Shahih Ibnu Hibban, Kitabur Raqa’iq, Bab Al-Wara’ wat Tawakkul, Dzikrul Akhbar bi Annal Mar’a Yajibu Alaihi Ma’ Tawakkulil Qalbi Al-Ihtiraz bil A’dha’Dhidda Qauli Man Karihahu, no. 731, 2/510, dan lafazh ini miliknya. Al-Mustadrak Alash Shahihain, Kitab Ma’rifatish Shahabah, Dzikru Amr bin Umayah t, 3/623. Al-Hafizh Adz-Dzahabi berkata, ‘Sanad hadits ini jayyid’. (At-Talkhish, 3/623). Al-Hafizh Al-Haitsami juga menyatakan hal senada dalam Majma’uz Zawa’id wa Manba’ul Fawa’id, 10/303. Beliau berkata, ‘Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dari banyak jalan. Dan para pembawa hadits ini adalah pembawa hadits Shahih Muslim selain Ya’kub bin Abdullah bin Amr bin Umayah Adh-Dhamari, dan dia adalah tsiqah (terpercaya). (Op. cit.,10/303)&lt;br /&gt;[10] Musnad Asy-Syihab, Qayyidha wa Tawakkal, no. 633,1/368.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&amp;nbsp; &lt;a href="http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=485&amp;amp;parent_section=kj017&amp;amp;idjudul=1"&gt;http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=485&amp;amp;parent_section=kj017&amp;amp;idjudul=1&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-3679929508226213373?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/3679929508226213373/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/bertawakal-kepada-allah-subhanaahu-wa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/3679929508226213373'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/3679929508226213373'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/bertawakal-kepada-allah-subhanaahu-wa.html' title='Bertawakal Kepada Allah Subhanaahu wa Ta&apos;ala'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-6177971585793756826</id><published>2011-11-26T07:15:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T07:15:34.360+07:00</updated><title type='text'>Taqwa</title><content type='html'>Termasuk sebab turunnya rizki adala taqwa. Saya akan membicarakan masalah ini –dengan memohon taufik dari Allah– dalam dua bahasan:&lt;br /&gt;Makna taqwa.&lt;br /&gt;Dalil syar’i bahwa taqwa termasuk kunci rizki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;A.   Makna Taqwa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama Rahimahullaah telah menjelaskan apa yang dimaksud dengan taqwa. Di antaranya, Imam Ar-Raghib Al-Ashfahani mendefinisikan: “Taqwa yaitu menjaga jiwa dari perbuatan yang membuatnya berdosa, dan itu dengan meninggalkan apa yang dilarang, menjadi sempurna dengan meninggalkan sebagian yang dihalalkan”.*1[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Imam An-Nawawi mendefinisikan taqwa dengan “Mentaati perintah dan laranganNya.” Maksudnya, menjaga diri dari kemurkaan dan adzab Allah Subhannahu wa Ta'ala .*2[2] Hal itu sebagaimana didefinisikan oleh Imam Al-Jurjani “Taqwa yaitu menjaga diri dari pekerjaan yang mengakibatkan siksa, baik dengan melakukan perbuatan atau meninggalkannya.”*3[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, siapa yang tidak menjaga dirinya, dari perbuatan dosa, berarti dia bukanlah orang bertaqwa. Maka orang yang melihat dengan kedua matanya apa yang diharamkan Allah, atau mendengarkan dengan kedua telinganya apa yang dimurkai Allah, atau mengambil dengan kedua tangannya apa yang tidak diridhai Allah, atau berjalan ke tempat yang dikutuk Allah, berarti tidak menjaga dirinya dari dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, orang yang membangkang perintah Allah serta melakukan apa yang dilarangNya, dia bukanlah termasuk orang-orang yang bertaqwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang menceburkan diri ke dalam maksiat sehingga ia pantas mendapat murka dan siksa dari Allah, maka ia telah mengeluarkan dirinya dari barisan orang-orang yang bertaqwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;B.   Dalil Syar'i Bahwa Taqwa Termasuk Kunci Rizki&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Beberapa nash yang menunjukkan bahwa taqwa termasuk di antara sebab rizki, Di antaranya:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Firman Allah:&lt;br /&gt; “Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan memberi-nya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Ath-Thalaq: 2-3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat di atas, Allah menjelaskan bahwa orang yang merealisasikan taqwa akan dibalas Allah dengan dua hal. Pertama, “Allah akan mengadakan jalan keluar baginya.” Artinya, Allah akan menyelamatkannya –sebagaimana dika-takan Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu – dari setiap kesusahan dunia maupun akhirat.*4[4] Kedua, “Allah akan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.” Artinya, Allah akan memberi-nya rizki yang tak pernah ia harapkan dan angankan.*5[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan: “Maknanya, barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah dengan melakukan apa yang diperintahkanNya dan meninggalkan apa yang dilarangNya, niscaya Allah akan memberinya jalan keluar serta rizki dari arah yang tidak disangka-sangka, yakni dari arah yang tidak pernah terlintas dalam benaknya,”*6[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah agung dan besar buah taqwa itu! Abdullah bin Mas’ud Radhiallaahu anhu berkata: “Sesungguhnya ayat terbesar dalam hal pemberian janji jalan keluar adalah:&lt;br /&gt; “Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya”.*7[7]&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ayat lainnya adalah firman Allah:&lt;br /&gt;“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada me-reka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendus-takan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka di-sebabkan perbuatan mereka sendiri”. (Al-A’raf: 96).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat yang mulia ini Allah menjelaskan, seandai-nya penduduk negeri-negeri merealisasikan dua hal, yakni iman dan taqwa, niscaya Allah akan melapangkan kebaikan (kekayaan) untuk mereka dan memudahkan mereka menda-patkannya dari segala arah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menafsirkan firman Allah:&lt;br /&gt;“Pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berbagai berkah dari langit dan bumi, Abdullah bin Abbas Radhiallaahu anhu mengatakan: “Niscaya Kami lapangkan kebaikan (kekayaan) untuk mereka dan Kami mudahkan bagi mereka untuk mendapatkannya dari segala arah.”*8[8] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janji Allah yang terdapat dalam ayat yang mulia tersebut terhadap orang-orang beriman dan bertaqwa mengandung beberapa hal, di antaranya:&lt;ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Janji Allah untuk membuka “ Barakaat” (keberkahan) bagi mereka. “Al Barakaat” adalah bentuk jama’ dari “ Al Barakah” Imam Al-Baghawi berkata, Ia berarti mengerjakan sesuatu secara terus menerus*9[9]. Atau seperti kata Imam Al-Khazin, “Tetapnya suatu kebaikan Tuhan atas sesuatu.”*10[10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, yang dapat disimpulkan dari makna kalimat “ Al barakah ” adalah bahwa apa yang diberikan Allah disebabkan oleh keimanan dan ketaqwaan mereka merupakan kebaikan yang terus menerus, tidak ada keburukan atau konsekuensi apa pun atas mereka sesudahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang hal ini, Sayid Muhammad Rasyid Ridha berkata: “Adapun orang-orang beriman maka apa yang dibukakan untuk mereka adalah berupa berkah dan kenikmatan. Dan untuk hal itu, mereka senantiasa bersyukur kepada Allah, ridha terhadapNya dan mengharapkan karuniaNya. Lalu mereka menggunakannya di jalan kebaikan, bukan jalan keburukan, untuk perbaikan bukan untuk merusak. Sehingga balasan bagi mereka dari Allah adalah ditambahnya berbagai kenikmatan di dunia dan pahala yang baik di akhirat.”*11[11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Ibnu Asyur mengungkapkan hal itu dengan ucapannya: “Makna “Al Barakah” adalah kebaikan yang murni yang tidak ada konsekuensinya di akhirat. Dan ini adalah sebaik-baik jenis nikmat.”*12[12]&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kata berkah disebutkan dalam bentuk jama’ sebagai-mana firman Allah:&lt;br /&gt; “Pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berbagai berkah.” Ayat ini, sebagaimana disebutkan Syaikh Ibnu Asyur untuk menunjukan banyaknya berkah sesuai dengan banyaknya sesuatu yang diberkahi.*13[13]&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Allah berfirman:&lt;br /&gt; “Berbagai keberkahan dari langit dan bumi”. Menurut Imam Ar-Razi, maksudnya adalah keberkahan langit dengan turunnya hujan, keberkahan bumi dengan tumbuhnya berbagai tanaman dan buah-buahan, banyaknya hewan ternak dan gembalaan serta diperolehnya keamanan dan keselamatan. Hal ini karena langit adalah laksana ayah, dan bumi laksana Ibu. Dari keduanya diperoleh semua bentuk manfaat dan kebaikan berdasarkan penciptaan dan pengurusan Allah .”*14[14]&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ayat lainnya adalah firman Allah:&lt;br /&gt; “Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil dan (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka. Diantara mereka ada golongan pertengah-an. Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka”. (Al-Ma’idah: 66).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhannahu wa Ta'ala mengabarkan tentang Ahli Kitab, ‘Bahwa seandainya mereka mengamalkan apa yang ada di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur'an –demikian seperti dikatakan oleh Abdullah bin Abbas Radhiallaahu anhu  dalam menafsirkan ayat tersebut,*15[15]– niscaya Allah memperbanyak rizki yang diturunkan kepada mereka dari langit dan yang tumbuh untuk mereka dari bumi.*16[16]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Yahya bin Umar Al-Andalusi berkata: “Allah menghendaki –wallahu a’lam– bahwa seandainya mereka mengamalkan apa yang diturunkan di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur'an, niscaya mereka memakan dari atas dan dari bawah kaki mereka. Maknanya –wallahu’alam–, niscaya mereka diberi kelapangan dan kesempurnaan nikmat dunia,”*17[17]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menafsirkan ayat ini, Imam Al-Qurthubi mengatakan, “Dan sejenis dengan ayat ini adalah firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; “Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (Ath-Thalaq:2-3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Dan bahwasanya jika mereka tetap berjalan di atas ja-lan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rizki yang ba-nyak).” (Al-Jin: 16).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada me-reka berbagai keberkahan dari langit dan bumi.” (Al-A’raf: 96).&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat di atas, Allah menjadikan ketaqwaan di antara sebab-sebab rizki dan men-janjikan untuk menambahnya bagi orang yang bersyukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman:&lt;br /&gt;“Jika kalian bersyukur, niscaya Aku tambahkan nikmat-Ku atasmu.” (Ibrahim: 7).*18[18]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, setiap orang yang menginginkan keluasan rizki dan kemakmuran hidup, hendaknya ia menjaga dirinya dari segala dosa. Hendaknya ia menta’ati perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-laranganNya. Juga hendaknya ia menjaga diri dari yang menyebabkan berhak mendapat siksa, seperti melakukan kemungkaran atau meninggalkan &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;*1 Al-Mufradat fi Gharibil Qur’an, dari asal kata “وقى” hal.531.&lt;br /&gt;*2 Tahriru Alfazhit Tanbih, hal.322.&lt;br /&gt;*3 Kitabut Ta’rifat, hal.68.&lt;br /&gt;*4 Tafsir Al-Qurthubi, 18/159. Ar-Rabi’ bin Khutsaim berkata: “Dia memberi jalan keluar dari setiap apa yang menyesakkan manusia.” (Zadul Masir, 8/291-292. Tafsir Al-Baghawi, 4/357 dan Tafsir Al-Khazin, 7/108).&lt;br /&gt;*5 Zaadul Masir, 8/291-292.&lt;br /&gt;*6 Tafsir Ibnu Katsir, 4/400.&lt;br /&gt;*7 Tafsir Ibnu Katsir, 4/400. Tafsir Ibnu Mas’ud, 2/651.&lt;br /&gt;*8 Tafsir Abu As-Su’ud, 3/253.&lt;br /&gt;*9 Tafsir Al-Baghawi, 2/183.&lt;br /&gt;*10 Tafsir Al-Khazin, 2/266.&lt;br /&gt;*11 Tafsir Al-Manar, 9/25.&lt;br /&gt;*12 Tafsir At-Tahrir wat Tanwir, 9/22.&lt;br /&gt;*13 Op. Cit., 9/22.&lt;br /&gt;*14 At-Tafsirul Kabir, 12/185. Tafsirul Khazin, 2/266 dan Tafsir At-Tahrir wa Tanwir, 9/22.&lt;br /&gt;*15 Tafsir Ath-Thabari, 10/463, Al-Muharrar Al-Wajiz, 5/152-153, Zadul Masir, 2/395 dan Tafsir Ibnu Katsir, 2/86.&lt;br /&gt;*16 Tafsir Ibnu Katsir, 2/86, dan Fathul Qadir yang di dalamnya dikatakan, “Penyebutan dari atas dan dari bawah (dalam ayat tersebut) adalah untuk menunjukkan puncak kemudahan sebab-sebab rizki bagi mereka, juga untuk menunjukkan banyak dan keaneka ragaman jenisnya.” (2/85), juga Tafsir At-Tahrir wa Tanwir yang di dalamnya disebutkan, “Maksudnya, niscaya mereka diberi rizki dari semua jalan.” (4/254).&lt;br /&gt;*17 Kitabun Nazhar wal Ahkam fi Jami’i Ahwalis Suuq, hal.41.&lt;br /&gt;*18 Tafsir Al-Qurthubi, 6/241.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&amp;nbsp; &lt;a href="http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=483&amp;amp;parent_section=kj017&amp;amp;idjudul=1"&gt;http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=483&amp;amp;parent_section=kj017&amp;amp;idjudul=1&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-6177971585793756826?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/6177971585793756826/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/taqwa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/6177971585793756826'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/6177971585793756826'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/taqwa.html' title='Taqwa'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-2778730764775727037</id><published>2011-11-26T07:13:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T07:14:12.913+07:00</updated><title type='text'>Istighfar dan Taubat</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Diantara sebab terpenting diturunkannya rizki adalah istighfar (memohon ampunan) dan taubat kepada Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Menutupi (kesalahan). Untuk itu, pembahasan mengenai pasal ini kami bagi menjadi dua pembahasan: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Hakikat istighfar dan taubat.&lt;br /&gt;b. Dalil syar'i bahwa istighfar dan taubat termasuk kunci rizki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;A. Hakikat Istighfar dan Taubat &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar orang menyangka bahwa istighfar dan taubat hanyalah cukup dengan lisan semata. Sebagian mereka mengucapkan, &lt;br /&gt;"Aku memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kalimat-kalimat di atas tidak membekas di dalam hati, juga tidak berpengaruh dalam perbuatan anggota badan. Sesungguhnya istighfar dan taubat jenis ini adalah perbuatan orang-orang dusta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama – semoga Allah memberi balasan yang sebaik-baiknya kepada mereka telah menjelaskan hakikat istighfar dan taubat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ar-Raghib Al-Ashfahani menerangkan: "Dalam istilah syara', taubat adalah meninggalkan dosa karena ke-burukannya, menyesali dosa yang telah dilakukan, berkeinginan kuat untuk tidak mengulanginya dan berusaha mela-kukan apa yang bisa diulangi (diganti). Jika keempat hal itu telah terpenuhi berarti syarat taubatnya telah sempurna" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam An-Nawawi dengan redaksionalnya sendiri menje-laskan: "Para ulama berkata, 'Bertaubat dari setiap dosa hukumnya adalah wajib. Jika maksiat (dosa) itu antara hamba dengan Allah, yang tidak ada sangkut pautnya dengan hak manusia maka syaratnya ada tiga. Pertama, hendaknya ia menjauhi maksiat tersebut. Kedua, ia harus menyesali per-buatan (maksiat)nya. Ketiga, ia harus berkeinginan untuk tidak mengulanginya lagi. Jika salah satunya hilang, maka taubatnya tidak sah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika taubat itu berkaitan dengan manusia maka syaratnya ada empat. Ketiga syarat di atas dan keempat, hendaknya ia membebaskan diri (memenuhi) hak orang tersebut. Jika ber-bentuk harta benda atau sejenisnya maka ia harus mengem-balikannya. Jika berupa had (hukuman) tuduhan atau seje-nisnya maka ia harus memberinya kesempatan untuk mem-balasnya atau meminta maaf kepadanya. Jika berupa ghibah (menggunjing), maka ia harus meminta maaf." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun istighfar, sebagaimana diterangkan Imam Ar-Raghib Al-Ashfahani adalah "Meminta (ampunan) dengan ucapan dan perbuatan. Dan firman Allah: &lt;br /&gt;"Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun." (Nuh: 10). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidaklah berarti bahwa mereka diperintahkan meminta ampun hanya dengan lisan semata, tetapi dengan lisan dan perbuatan. Bahkan hingga dikatakan, memohon ampun (istighfar) hanya dengan lisan saja tanpa disertai perbuatan adalah pekerjaan para pendusta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;B. Dalil Syar'i Bahwa Istighfar dan Taubat Termasuk Kunci Rizki &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa nash (teks) Al-Qur'an dan Al-Hadits me-nunjukkan bahwa istighfar dan taubat termasuk sebab-sebab rizki dengan karunia Allah . Di bawah ini beberapa nash dimaksud: &lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Apa yang disebutkan Allah  tentang Nuh  yang berkata kepada kaumnya : &lt;br /&gt; "Maka aku katakan kepada mereka, 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu', sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai'." (Nuh: 10-12). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat-ayat di atas menerangkan cara mendapatkan hal-hal berikut dengan istighfar.&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Ampunan Allah terhadap dosa-dosanya. Berdasarkan fir-manNya: "Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun." &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Diturunkannya hujan yang lebat oleh Allah. Ibnu Abbas radhiallaahu anhu berkata "midraara " adalah (hujan) yang turun dengan deras. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Allah akan membanyakkan harta dan anak-anak. Dalam menafsirkan ayat:Atha' berkata: "Niscaya Allah akan membanyakkan harta dan anak-anak kalian". &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Allah akan menjadikan untuknya kebun-kebun. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Allah akan menjadikan untuknya sungai-sungai. Imam Al-Qurthubi berkata: "Dalam ayat ini, juga disebutkan dalam (surat Hud) adalah dalil yang menunjukkan bahwa istighfar merupakan salah satu sarana meminta ditu-runkannya rizki dan hujan." &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya berkata: "Makna-nya, jika kalian bertaubat kepada Allah, meminta ampun kepadaNya dan kalian senantiasa mentaatiNya niscaya Ia akan membanyakkan rizki kalian dan menurunkan air hujan serta keberkahan dari langit, mengeluarkan untuk kalian berkah dari bumi, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan untuk kalian, melimpahkan air susu perahan untuk kalian, mem-banyakkan harta dan anak-anak untuk kalian, menjadikan kebun-kebun yang di dalamnya bermacam-macam buah-buahan untuk kalian serta mengalirkan sungai-sungai di antara kebun-kebun itu (untuk kalian)." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, dan Amirul mukminin Umar bin Khaththab  juga berpegang dengan apa yang terkandung dalam ayat-ayat ini ketika beliau memohon hujan dari Allah . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muthrif meriwayatkan dari Asy-Sya'bi: "Bahwasanya Umar  keluar untuk memohon hujan bersama orang ba-nyak. Dan beliau tidak lebih dari mengucapkan istighfar (memohon ampun kepada Allah) lalu beliau pulang. Maka seseorang bertanya kepadanya, 'Aku tidak mendengar Anda memohon hujan'. Maka ia menjawab, 'Aku memohon diturunkannya hujan dengan majadih langit yang dengannya diharapkan bakal turun air hujan. Lalu beliau membaca ayat: &lt;br /&gt; "Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat." (Nuh: 10-11). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Al-Hasan Al-Bashri juga menganjurkan istighfar (memohon ampun) kepada setiap orang yang mengadukan kepadanya tentang kegersangan, kefakiran, sedikitnya ketu-runan dan kekeringan kebun-kebun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Al-Qurthubi menyebutkan dari Ibnu Shabih, bah-wasanya ia berkata: "Ada seorang laki-laki mengadu kepada Al-Hasan Al-Bashri tentang kegersangan (bumi) maka beliau berkata kepadanya, "Beristighfarlah kepada Allah!" Yang lain mengadu kepadanya tentang kemiskinan maka beliau berkata kepadanya, "Beristighfarlah kepada Allah!" Yang lain lagi berkata kepadanya, "Do'akanlah (aku) kepada Allah, agar ia memberiku anak!" Maka beliau mengatakan kepadanya, "Beristighfarlah kepada Allah!" Dan yang lain lagi mengadu kepadanya tentang kekeringan kebunnya maka beliau mengatakan (pula) kepadanya, "Beristighfarlah kepada Allah!" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kami menganjurkan demikian kepada orang yang mengalami hal yang sama. Dalam riwayat lain disebutkan: "Maka Ar-Rabi' bin Shabih berkata kepadanya, 'Banyak orang yang mengadukan bermacam-macam (perkara) dan Anda memerintahkan mereka semua untuk beristighfar. Maka Al-Hasan Al-Bashri menjawab, 'Aku tidak mengata-kan hal itu dari diriku sendiri. Tetapi sungguh Allah telah berfirman dalam surat Nuh: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirim-kan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu ke-bun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai." (Nuh: 10-12). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu Akbar! Betapa agung, besar dan banyak buah dari istighfar! Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-ham-baMu yang pandai beristighfar. Dan karuniakanlah kepada kami buahnya, di dunia maupun di akhirat. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan. Amin, wahai Yang Maha Hidup dan terus menerus mengurus MakhlukNya. &lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ayat lain adalah firman Allah yang menceritakan tentang seruan Hud  kepada kaumnya agar beristighfar. &lt;br /&gt; "Dan (Hud berkata), 'Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertaubatlah kepadaNya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat lebat atasmu dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa'." (Hud:52). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafizh Ibnu katsir dalam menafsirkan ayat yang mulia di atas menyatakan: "Kemudian Hud  memerintahkan kaumnya untuk beristighfar yang dengannya dosa-dosa yang lalu dapat dihapuskan, kemudian memerintahkan mereka bertaubat untuk masa yang akan mereka hadapi. Barangsiapa memiliki sifat seperti ini, niscaya Allah akan memudahkan rizkinya, melancarkan urusannya dan menjaga keadaannya. Karena itu Allah berfirman: &lt;br /&gt; "Niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat lebat atas-mu". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang memiliki sifat taubat dan istighfar, dan mudahkanlah rizki-rizki kami, lancarkanlah urusan-urusan kami serta jagalah keadaan kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa. Amin, wahai Dzat Yang Memiliki keagungan dan kemuliaan. &lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ayat yang lain adalah firman Allah: &lt;br /&gt; "Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepadaNya. (jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan, dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari Kiamat." (Hud: 3). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada ayat yang mulia di atas, terdapat janji dari Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Menentukan berupa kenikmatan yang baik kepada orang yang beristighfar dan bertaubat. Dan maksud dari firmanNya: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepadamu." Sebagaimana dikatakan oleh Abdullah bin Abbas adalah, "Ia akan menganugerahi rizki dan kelapangan kepada kalian". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan: "Inilah buah dari istighfar dan taubat. Yakni Allah akan memberi kenikmatan kepada kalian dengan berbagai manfaat berupa kelapangan rizki dan kemakmuran hidup serta Ia tidak akan menyiksa kalian sebagaimana yang dilakukanNya terhadap orang-orang yang dibinasakan sebelum kalian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan janji Tuhan Yang Maha Mulia itu diutarakan dalam bentuk pemberian balasan sesuai dengan syaratnya. Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi berkata: "Ayat yang mulia tersebut menunjukkan bahwa beristighfar dan ber-taubat kepada Allah dari dosa-dosa adalah sebab sehingga Allah menganugerahkan kenikmatan yang baik kepada orang yang melakukannya sampai pada waktu yang ditentukan. Allah memberikan balasan (yang baik) atas istighfar dan taubat itu dengan balasan berdasarkan syarat yang ditetapkan". &lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dalil lain bahwa beristighfar dan taubat adalah di antara kunci-kunci rizki yaitu hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa'i, Ibnu Majah dan Al-Hakim dari Abdullah bin Abbas ia berkata, Rasulullah  bersabda: &lt;br /&gt;"Barangsiapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah), niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan untuk setiap kesempitan-nya kelapangan dan Allah akan memberinya rizki (yang halal) dari arah yang tiada disangka-sangka". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits yang mulia ini, Nabi yang jujur dan terpercaya, yang berbicara berdasarkan wahyu,  mengabarkan tentang tiga hasil yang dapat dipetik oleh orang yang mem-perbanyak istighfar. Salah satunya yaitu, bahwa Allah Yang Maha Memberi rizki, yang Memiliki kekuatan akan mem-berikan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka dan tidak diharapkan serta tidak pernah terdetik dalam hatinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, kepada orang yang mengharapkan rizki hen-daklah ia bersegera untuk memperbanyak istighfar (memo-hon ampun), baik dengan ucapan maupun perbuatan. Dan hendaknya setiap muslim waspada, sekali lagi hendaknya waspada, dari melakukan istighfar hanya sebatas dengan lisan tanpa perbuatan. Sebab itu adalah pekerjaan para pendusta.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Sumber :&amp;nbsp; &lt;a href="http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=481&amp;amp;parent_section=kj017&amp;amp;idjudul=1"&gt;http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=481&amp;amp;parent_section=kj017&amp;amp;idjudul=1&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-2778730764775727037?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/2778730764775727037/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/istighfar-dan-taubat.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/2778730764775727037'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/2778730764775727037'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/istighfar-dan-taubat.html' title='Istighfar dan Taubat'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-8536040016502231027</id><published>2011-11-26T07:07:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T07:08:20.996+07:00</updated><title type='text'>Bagaimana Mengaplikasikan Pemuliaan Al-Qur’an</title><content type='html'>“Sesungguhnya umat ini tidak akan baik kecuali dengan sesuatu yang dapat memperbaiki umat pendahulunya,” demikian kata Imam Malik . Manhaj para sahabat dalam hal ini merupakan satu-satunya manhaj yang mampu mewu-judkan perbaikan yang didambakan. karena mereka telah berguru kepada Nabi Shalallaahu alaihi wasalam dan sesudahnya berguru kepada para sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka harus ada usaha da’wah yang gencar untuk memperbaharui manhaj, agar nash-nash (Al-Qur’an dan Al-Hadits serta perkataan sahabat tersebut di atas menjadi kenyataan yang jelas. Saya ingin menunjukkan beberapa hal yang dapat membantu dalam mengimplementasikan pemu-liaan Al-Qur’an sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Langkah awal adalah bertaubat dengan sungguh-sungguh dari semua dosa-dosa dan maksiat, terutama penyakit hati hingga hati menjadi siap menerima firman Allah.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut hukum akal yang diceritakan Ibnul Qayyim berkata: “Sebuah tempat bisa menerima apa saja dengan syarat dikosongkan dari lawannya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana hati yang tenang karena ingat kepada Allah dan membaca Al-Qur’an menjauh dari kebalikannya yaitu senda gurau dan nyanyian. Demikian pula hati yang menye-nangi senda gurau dan nyanyian, ia tidak akan bergairah untuk berdzikir mengingat Allah, membaca Al-Qur’an atau hal-hal yang bermanfaat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Jamaah menjadikan taubat sebagai adab yang pertama bagi penuntut ilmu. Beliau  berkata mengenai adab seorang penuntut ilmu: “Hendaklah ia mensucikan hati-nya dari perasaan seperti; khianat, kotor, dengki, dendam, hasad, aqidah yang jelek dan tingkah laku negatif. Jika semua hal itu bisa dihilangkan maka ia bisa menerima ilmu dengan baik, menghafalnya, menelusuri makna-maknanya dari sesuatu yang terasa hambar sebelumnya. Sesungguhnya ilmu itu sebagaimana dikatakan sebagian ahlinya adalah shalatnya jiwa, ibadahnya hati dan pendekatan batin, seba-gaimana shalat yang dilakukan anggota badan yang tampak tidak sah kecuali dengan sucinya anggota badan dari najis dan kotoran maka ilmu yang merupakan ibadahnya hati juga tidak akan diterima dengan baik kecali dengan penyucian dari sifat-sifat jelek dan tingkah laku rendahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati yang baik akan tampak keberkahannya bagi ilmu untuk tumbuh dan berkembang, sebagaimana bumi yang su-bur jika ditanami akan menumbuhkan tanaman dan berkem-bang. Dalam hadits dikatakan bahwa sesungguhnya dalam jasad itu ada segumpal darah, jika ia baik akan baik seluruh jasadnya dan jika jelek akan jelek pula seluruh jasad, ke-tahuilah segumpal darah itu adalah hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahl Ibnu Abdullah At-Tusturi berkata: “Diharamkan cahaya masuk ke dalam hati jika di dalamnya ada sesuatu yang dibenci Allah Subhannahu wa Ta'ala .” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Asy-Syafi’i berkata:&lt;br /&gt;“Aku mengadu pada Imam Waki’ jeleknya hafalanku&lt;br /&gt;Maka beliau menunjukiku agar meninggalkan maksiat&lt;br /&gt;Dan beliau memberitahuku bahwa ilmu adalah cahaya&lt;br /&gt;Dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada &lt;br /&gt;Orang yang bermaksiat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hal itu merupakan syarat penuntut ilmu secara umum maka lebih ditekankan lagi bagi penuntut ilmu Al-Qur’an (agama).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt; Pembaca/pendengar Al-Qur’an harus merasa bahwa dirinya merupakan orang yang diajak bicara (mukhatab).&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Mas’ud Radhiallaahu anhu berkata: “Jika engkau mendengarkan ayat wahai orang-orang yang beriman, maka dengarkanlah dengan seksama di situ ada kebaikan yang diperintahkan untuk dijalankan atau kejelekan yang harus dihindari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hasan Ibnu Ali berkata: “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian melihat Al-Qur’an sebagai surat dari Tuhan mereka. Maka mereka merenungkannya diwaktu malam dan membacanya di siang hari.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Ajuri berkata: “Seorang mukmin yang berakal ji-ka membaca Al-Qur’an ia menelitinya seakan-akan ia ber-cermin, ia melihat kebaikan dan kejelekan yang dibuatnya serta berhati-hati terhadap hal-hal yang diperintahkan Tu-hannya, dan merasa takut terhadap yang diancamkannya, ia tertarik pada anjuran Tuhannya dengan mengharap pahala-nya. Barangsiapa memiliki sifat ini atau hampir mendekati-nya berarti ia membaca Al-Qur’an dengan sebenarnya, men-jaga hukum-hukumnya dan nantinya di hari Kiamat Al-Qur’an akan menjadi saksi baginya, pemberi syafaat, sahabat dan pelindungnya. Dan barangsiapa menghiasi dirinya de-ngan sifat-sifat di atas maka ia telah memberi manfaat bagi dirinya, keluarganya dan kembali kepada kedua orang tua-nya dan anaknya dengan segala kebaikan dunia dan akhi-rat.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim berkata: “Jika kamu ingin mengambil manfaat dari Al-Qur’an maka kumpulkan hatimu ketika membacanya atau mendengarkannya, arahkan pendengaran-mu dan hadirkan pikiranmu sebagaimana hadirnya orang yang diajak bicara, karena Al-Qur’an itu firman Allah me-lalui lidah RasulNya Shalallaahu alaihi wasalam .” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ikut merasakan keadaan Rasulullah ketika Al-Qur’an diturunkan pada beliau Shalallaahu alaihi wasalam .&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdurrahman As-Sa’di berkata: “Melihat su-sunan ayat dengan mengetahui keadaan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dan sejarah beliau bersama sahabat-sahabat dan musuh-musuh ketika turunnya, adalah bagian terpenting untuk mengetahui dan memahami maksud dari Al-Qur’an.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyid Qutb berkata: “Sesungguhnya ayat-ayat Qur’aniyah tidak dapat dicapai dengan sesungguhnya, jika hanya mendalami arti dan bahasanya saja, tetapi kita akan memahami pertama kali dengan mengetahui kehidupan sua-sana sejarah yang dinamik dan dalam kenyataan yang aktif serta bermuamalah dengan kenyataan hidup kini walaupun amat jauh dan bekasnya lebih mengakar dalam kenyataan sejarah yang datang kemudian. Tidak tersingkap karena jauhnya rentang waktu ini kecuali dengan cahaya kenyataan sejarah tersebut, kemudian yang tetap darinya adalah inspi-rasi dan para pelakunya yang secara terus-menerus. Akan tetapi bagi orang-orang yang berjuang untuk agama ini dan mempraktekkan seperti prakteknya orang-orang yang per-tama kali diturunkan kepada mereka ayat-ayat Al-Qur’an, mereka akan menemui keadaan dan suasana seperti mereka menemuinya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ketika membaca atau mendengarkan Al-Qur’an menghadirkan hati untuk merenungkan dan memahami firman Allah Subhannahu wa Ta'ala .&lt;/b&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebagaimana firmanNya:&lt;br /&gt; “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” (Qaaf: 37)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Qutaibah berkata: “Mendengarkan Al-Qur’an yaitu dengan keadaan hati menyaksikan dan memahami, bukannya dengan lalai dan lupa.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt; Memohon pertolongan kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala dalam mewujudkan hal itu karena pertolongan Allah adalah dasar perwujudan segala kebaikan dan keberun-tungannya.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: &lt;br /&gt; “Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkanNya, maka kamu tak akan mendapatkan se-orang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepa-danya.” (Al-Kahfi: 17)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Fathir: 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana dikatakan: “Jika tidak ada pertolongan dari Allah bagi seseorang maka pertama kali yang menjerumus-kannya adalah kesungguhannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tidak ada jalan lain bagi yang ingin mewujudkan pemuliaan Al-Qur’an kecuali memohon dengan merendah-kan diri kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala agar menolong kita kepada tujuan tersebut. Nabi Shalallaahu alaihi wasalam telah menujuki hal itu dalam wasiat beliau kepada Muadz Radhiallaahu anhu. Di dalam Sunan Abi Daud dari Muadz bahwa Nabi Shalallaahu alaihi wasalam memegang tangannya seraya bersabda:&lt;br /&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( يَا مُعَاذُ لاَ تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ تَقُولُ: اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Wahai Muadz, demi Allah aku menyintaimu aku wasiatkan kepadamu jangan tinggalkan setiap selesai shalat doa ini: ‘Ya Allah lindungilah aku agar selalu mengi-ngatMu dan bersyukur kepadaMu serta memperbaiki ibadah kepadaMu’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak diragukan bahwa memuliakan Al-Qur’an termasuk ke dalam wasiat ini sebab Al-Qur’an merupakan dzikir dan memuliakan Al-Qur’an juga merupakan ibadah.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Sumber :&amp;nbsp; &lt;a href="http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=318&amp;amp;parent_section=kj007&amp;amp;idjudul=1"&gt;http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=318&amp;amp;parent_section=kj007&amp;amp;idjudul=1&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-8536040016502231027?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/8536040016502231027/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/bagaimana-mengaplikasikan-pemuliaan-al.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/8536040016502231027'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/8536040016502231027'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/bagaimana-mengaplikasikan-pemuliaan-al.html' title='Bagaimana Mengaplikasikan Pemuliaan Al-Qur’an'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-1577281162973955057</id><published>2011-11-26T07:06:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T07:06:52.251+07:00</updated><title type='text'>Kewajiban Kita Terhadap Pemuliaan Al-Qur'an</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Kita telah membahas hadits-hadits dan atsar di atas dengan gambaran yang amat cemerlang yang menjelmakan arti Al-Qur’an dalam praktek kebiasaan hidup sehari-hari, yang menyentuh perasaan dan fikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah keadaan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dan para sahabatnya dalam menjunjung tinggi Al-Qur’an, baik dalam membaca, mere-nungkan, dan mengamalkannya. Keadaan seperti itulah yang dikehendaki Allah bukan selainnya. Diriwayatkan bahwa Nabi Shalallaahu alaihi wasalam mensifati golongan yang selamat (Firqatun Najiyah) bahwasanya mereka itu seperti keadaan beliau dan para sahabatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bandingkan pada saat ini keadaan kita dalam me-muliakan Al-Qur’an dengan mensejajarkan gambaran ce-merlang mereka untuk mengetahui sejauh mana kita menga-malkan pemuliaan tersebut. Pada saat ini –alhamdulillah– kita lihat perhatian yang baik terhadap Al-Qur’an. Kini Al-Qur’an telah menjadi hidangan bagi siapa saja yang mau membacanya dengan mushaf atau mendengarkannya melalui kaset sangat banyak dan tak terhitung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negeri Makkah dan Madinah –mudah-mudahan Allah menjaga keduanya– terdapat sekolah-sekolah menghafal Al-Qur’an yang tersebar diseluruh penjuru negeri dan sekitar-nya. (Kumpulan penghafal Al-Qur’an Al-Khairiyyah, de-ngan beasiswa) telah tersebar di kota-kota dan pedesaan, hal ini merupakan usaha yang patut dihargai. Tidak diragukan hal ini termasuk pengagungan terhadap Al-Qur’an tetapi ada langkah-langkah yang harus disertakan yaitu sisi pengamalannya. Dan ini merupakan sisi terpenting dari maksud diturunkannya Al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (Shaad: 29) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hasan Al-Basri berkata: “Merenungkan ayatnya yang dimaksud adalah mengikutinya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;“Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepada-nya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenar-nya, mereka itu beriman kepadanya.” (Al-Baqarah: 121).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas c berkata: “Mereka mengikuti dengan sebenar-benarnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana pendapatmu tentang keadaan kaum muslimin di zaman ini dalam pemuliaan Al-Qur’an? Memikirkan keadaan kaum muslimin saat ini di belahan bumi timur dan barat, maka akan terlihat bobroknya sisi ini. Sangat jelas perbedaan yang mencolok antara kita dengan para salaf ridhwanullahi ‘alaihim baik dari segi perorangan atau secara kemasyarakatan. Kami ajak anda memperhatikan tentang hal itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Allamah Muhammad Al-Amiin Asy-Syanqithi v menyebutkan ringkasan keutamaan Al-Qur’an dan hidayah-nya kemudian berkata: “Saat ini kebanyakan orang yang mengaku muslim di penjuru dunia berpaling dari merenung-kan ayat-ayat Al-Qur’an dan bersikap acuh terhadap firman Allah Subhannahu wa Ta'ala yang menciptakan mereka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur'an ataukah hati mereka terkunci?” (Muhammad: 24)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tidak beradab dengan adab Al-Qur’an, tidak ber-akhlak dengan keutamaan akhlak yang termaktub di dalam-nya, meminta hukum kepada syari’at yang sesat yang tidak sesuai bahkan mengacuhkan firman Allah Subhannahu wa Ta'ala :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (Al-Maidah: 44)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan juga firmanNya:&lt;br /&gt;“Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (An-Nisa’: 60)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan orang yang beradab dengan adab Al-Qur’an dan berakhlak dengannya dengan akhlak yang mulia menjadi hina di sisi mereka kecuali orang-orang yang dipelihara Allah. Orang-orang yang menghina dan merendahkan Al-Qur’an maka Al-Qur’an akan merendahkan mereka lebih parah lagi sebagaimana dikatakan Imam Asy-Syafi’i :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang ini menjauh tiada mau mendekati orang itu.&lt;br /&gt;Akan tetapi orang itu lebih lagi menjauhinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhati-hatilah wahai saudara! Berhati-hatilah dari me-ninggalkan Al-Qur’an seperti kebanyakan orang yang me-ninggalkannya dan menghina pengamal Al-Qur’an dan pe-nyeru kepadanya. Ketahuilah bahwa orang yang berpikiran cerdas tidak memperhatikan kecaman orang-orang gila. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya (penulis) katakan bahwa orang yang merenungkan keadaan kaum muslimin saat ini dia akan melihat apa yang dikemukakan syaikh  di atas, lebih jelas dari fajar ketika menyingsing. Tidak membutuhkan keterangan bahkan kare-na perkaranya sebagaimana dikatakan penyair:&lt;br /&gt;“Tidak dibenarkan akal sehat, jika siang hari membutuh-kan petunjuk dalil.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang persoalan yang otomatis muncul adalah: Apakah yang menyebabkan tertinggalnya kaum muslimin sekarang jika dibandingkan kaum pendahulu mereka dalam penge-nalan akhlak dan adab Al-Qur’an serta pengembalian selu-ruh urusan mereka kepadanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sebab Lemahnya Keadaan Kita Saat Ini Di-Bandingkan Kaum Salaf Dalam Pemuliaan Menjunjung Tinggi Al-Qur’an&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas sudah terdapat pada atsar Ibnu Umar  dan hal itu cukup sebagai pegangan sebagaimana dikatakan: “Di hadapan orang alim saya menyerah,” beliau menjelaskan pembelaan para sahabat ridhwanullahi ‘alaihim dan amal mereka terhadap Al-Qur’an serta pewujudan pemuliaan padanya, sebagaimana beliau jelaskan sebab lemahnya dalam beramal dengan Al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau (Ibnu Umar ) berkata: “Aku telah hidup dalam waktu yang singkat dari umurku di dunia ini. Sesungguhnya salah seorang diantara kita diberikan iman sebelum Al-Qur’an dan surat-surat Al-Qur’an masih turun berkesinam-bungan kepada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, maka kami belajar tentang halal dan haramnya serta apa-apa yang seyogyanya kami perhatikan sebagaimana kalian mempelajari Al-Qur’an, sungguh aku melihat kaum yang salah satunya diberi Al-Qur’an sebelum keimanan maka dia membacanya dari Al-Fatihah hingga menghatamkannya namun ia tidak tahu apa yang diperintah dan yang dilarang serta hal-hal yang seyogyanya diperhatikan darinya bagai menebar biji kurma yang usang.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keimanan yang ditunjukkan oleh Ibnu Umar dengan perkataannya: “Sesungguhnya di antara kita diberikan iman sebelum Al-Qur’an”, adalah keimanan bahwa Al-Qur’an di-turunkan untuk direnungkan ayat-ayatnya dan diamalkan-nya. Itulah keimanan yang ditunjukkan oleh para sahabat ridhwanulahi ‘alaihim untuk mengaplikasikan pemuliaan Al-Qur’an dalam wujud yang nyata. Maka ketika turun surat/ayat, mereka bersegera untuk mempelajari dan menga-malkannya, sebagaimana perkataan Ibnu Umar di atas: “Surat masih turun berlangsung kepada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam maka kami belajar tentang hukum halal dan haramnya serta hal-hal yang seyogyanya diperhatikan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Abdurrahman As-Sulami berkata: “Orang-orang ahli Al-Qur’an mengabarkan pada kami bahwa mereka dahulu dibacakan oleh Nabi Shalallaahu alaihi wasalam. Setelah itu mereka belajar sepuluh ayat dan tidak pindah pada yang lain sebelum mengamalkan isinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah kenyataan dalam diri para sahabat ridhwanullahi ‘alaihim. Mereka melihat pentingnya belajar Al-Qur’an dan beramal dengannya karena keduanya tidak dapat dipisahkan. Dan mereka mengajarkan hal itu pada murid-murid mereka dari kalangan tabi’in. Sebagaimana dikatakan Ibnu Umar dalam perkataannya di atas: “Sebagaimana kalian belajar Al-Qur’an.” Dan berkata Abu Abdurrahman As-Sulami salah seorang murid sahabat: “Kami belajar Al-Qur’an dan me-ngamalkannya secara bersamaan.” Hal ini menjadi manhaj (sistem) yang tersusun di kalangan para tabi’in, hingga me-reka mengingkari dengan amat kuat orang yang melanggar-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hasan Al-Bashri salah seorang pemuka tabi’in berkata: “Sesungguhnya Al-Qur’an ini telah dibaca budak-budak dan anak-anak yang tidak mengetahui ta’wilnya dan tidak merenungkannya, tidak menghafal huruf-hurufnya, meninggalkan ketentuan-ketentuannya hingga salah seorang mereka berkata: “Aku telah membaca Al-Qur’an seluruhnya tanpa tersisa satu huruf pun!” Padahal demi Allah, mereka menggugurkan semua isinya, Al-Qur’an tidak terlihat sedikit pun dalam akhlak dan amalnya. Sehingga jika seorang dari mereka berkata: “Aku membaca satu surat dalam sekali nafas.” Demi Allah, mereka bukan ahli pembaca dan bukan ahli hukumnya dan bukan orang yang waro’ (meninggalkan perbuatan dosa).” Sejak kapan Al-Qur’an dijadikan seperti ini? Mudah-mudahan Allah tidak memperbanyak orang-orang seperti mereka!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atsar ini memperkuat perkataan Ibnu Umar yang menga-takan bahwa lemahnya mengamalkan Al-Qur’an disebabkan tidak adanya iman dalam hati. Sehingga perkataan beliau: “Aku melihat seseorang yang diberi Al-Qur’an sebelum keimanan maka ia membaca dari mulai Al-Fatihah hingga khatam namun tidak tahu apa-apa yang diperintahkan dan dilarang.” Maksudnya orang-orang yang aku temui, lemah dalam beramal. Salah seorang dari mereka membaca Al-Qur’an tetapi dalam hatinya tidak memiliki iman pada kewa-jiban untuk mengamalkannya dan hal-hal yang harus dijauhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan di atas telah menjelaskan kepada kita bahwa keimanan kaum salaf adalah dengan terus menerus mempelajari dan mengamalkan Al-Qur’an, itulah yang membuat mereka benar-benar memuliakan Kitab Allah Subhannahu wa Ta'ala , begitu pula sebaliknya, kelemahan iman di hati membuat seseorang me-remehkan pemuliaan Kitab ini, sebagaimana dikritisi oleh Ibnu Umar dan Al-Hasan .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka seberapa tinggi tingkat iman seseorang hamba di hati setinggi itu pula terwujud pemuliaannya pada kitab Al-Qur’an dan semakin dekatnya pada derajat kaum salaf. Begitu pula sebaliknya, seberapa rendahnya iman di hati seseorang sekian itu pula terjadi pelecehan terhadap kemuliaan Al-Qur’an dan jauhnya dia dari derajat kaum salaf. Jadi setiap orang terukur dengan jiwa (keimanan)-nya. Semoga Allah menggelar anugerahNya, sebab Dia-lah Tempat memohon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bagaimana Mengaplikasikan Pemuliaan Al-Qur’an&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya umat ini tidak akan baik kecuali dengan sesuatu yang dapat memperbaiki umat pendahulunya,” demikian kata Imam Malik . Manhaj para sahabat dalam hal ini merupakan satu-satunya manhaj yang mampu mewu-judkan perbaikan yang didambakan. karena mereka telah berguru kepada Nabi Shalallaahu alaihi wasalam dan sesudahnya berguru kepada para sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka harus ada usaha da’wah yang gencar untuk memperbaharui manhaj, agar nash-nash (Al-Qur’an dan Al-Hadits serta perkataan sahabat tersebut di atas menjadi kenyataan yang jelas. Saya ingin menunjukkan beberapa hal yang dapat membantu dalam mengimplementasikan pemu-liaan Al-Qur’an sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Langkah awal adalah bertaubat dengan sungguh-sungguh dari semua dosa-dosa dan maksiat, terutama penyakit hati hingga hati menjadi siap menerima firman Allah.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut hukum akal yang diceritakan Ibnul Qayyim berkata: “Sebuah tempat bisa menerima apa saja dengan syarat dikosongkan dari lawannya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana hati yang tenang karena ingat kepada Allah dan membaca Al-Qur’an menjauh dari kebalikannya yaitu senda gurau dan nyanyian. Demikian pula hati yang menye-nangi senda gurau dan nyanyian, ia tidak akan bergairah untuk berdzikir mengingat Allah, membaca Al-Qur’an atau hal-hal yang bermanfaat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Jamaah menjadikan taubat sebagai adab yang pertama bagi penuntut ilmu. Beliau  berkata mengenai adab seorang penuntut ilmu: “Hendaklah ia mensucikan hati-nya dari perasaan seperti; khianat, kotor, dengki, dendam, hasad, aqidah yang jelek dan tingkah laku negatif. Jika semua hal itu bisa dihilangkan maka ia bisa menerima ilmu dengan baik, menghafalnya, menelusuri makna-maknanya dari sesuatu yang terasa hambar sebelumnya. Sesungguhnya ilmu itu sebagaimana dikatakan sebagian ahlinya adalah shalatnya jiwa, ibadahnya hati dan pendekatan batin, seba-gaimana shalat yang dilakukan anggota badan yang tampak tidak sah kecuali dengan sucinya anggota badan dari najis dan kotoran maka ilmu yang merupakan ibadahnya hati juga tidak akan diterima dengan baik kecali dengan penyucian dari sifat-sifat jelek dan tingkah laku rendahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati yang baik akan tampak keberkahannya bagi ilmu untuk tumbuh dan berkembang, sebagaimana bumi yang su-bur jika ditanami akan menumbuhkan tanaman dan berkem-bang. Dalam hadits dikatakan bahwa sesungguhnya dalam jasad itu ada segumpal darah, jika ia baik akan baik seluruh jasadnya dan jika jelek akan jelek pula seluruh jasad, ke-tahuilah segumpal darah itu adalah hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahl Ibnu Abdullah At-Tusturi berkata: “Diharamkan cahaya masuk ke dalam hati jika di dalamnya ada sesuatu yang dibenci Allah Subhannahu wa Ta'ala .” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Asy-Syafi’i berkata:&lt;br /&gt;“Aku mengadu pada Imam Waki’ jeleknya hafalanku&lt;br /&gt;Maka beliau menunjukiku agar meninggalkan maksiat&lt;br /&gt;Dan beliau memberitahuku bahwa ilmu adalah cahaya&lt;br /&gt;Dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada &lt;br /&gt;Orang yang bermaksiat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hal itu merupakan syarat penuntut ilmu secara umum maka lebih ditekankan lagi bagi penuntut ilmu Al-Qur’an (agama).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt; Pembaca/pendengar Al-Qur’an harus merasa bahwa dirinya merupakan orang yang diajak bicara (mukhatab).&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Mas’ud Radhiallaahu anhu berkata: “Jika engkau mendengarkan ayat wahai orang-orang yang beriman, maka dengarkanlah dengan seksama di situ ada kebaikan yang diperintahkan untuk dijalankan atau kejelekan yang harus dihindari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hasan Ibnu Ali berkata: “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian melihat Al-Qur’an sebagai surat dari Tuhan mereka. Maka mereka merenungkannya diwaktu malam dan membacanya di siang hari.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Ajuri berkata: “Seorang mukmin yang berakal ji-ka membaca Al-Qur’an ia menelitinya seakan-akan ia ber-cermin, ia melihat kebaikan dan kejelekan yang dibuatnya serta berhati-hati terhadap hal-hal yang diperintahkan Tu-hannya, dan merasa takut terhadap yang diancamkannya, ia tertarik pada anjuran Tuhannya dengan mengharap pahala-nya. Barangsiapa memiliki sifat ini atau hampir mendekati-nya berarti ia membaca Al-Qur’an dengan sebenarnya, men-jaga hukum-hukumnya dan nantinya di hari Kiamat Al-Qur’an akan menjadi saksi baginya, pemberi syafaat, sahabat dan pelindungnya. Dan barangsiapa menghiasi dirinya de-ngan sifat-sifat di atas maka ia telah memberi manfaat bagi dirinya, keluarganya dan kembali kepada kedua orang tua-nya dan anaknya dengan segala kebaikan dunia dan akhi-rat.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim berkata: “Jika kamu ingin mengambil manfaat dari Al-Qur’an maka kumpulkan hatimu ketika membacanya atau mendengarkannya, arahkan pendengaran-mu dan hadirkan pikiranmu sebagaimana hadirnya orang yang diajak bicara, karena Al-Qur’an itu firman Allah me-lalui lidah RasulNya Shalallaahu alaihi wasalam .” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ikut merasakan keadaan Rasulullah ketika Al-Qur’an diturunkan pada beliau Shalallaahu alaihi wasalam .&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdurrahman As-Sa’di berkata: “Melihat su-sunan ayat dengan mengetahui keadaan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dan sejarah beliau bersama sahabat-sahabat dan musuh-musuh ketika turunnya, adalah bagian terpenting untuk mengetahui dan memahami maksud dari Al-Qur’an.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyid Qutb berkata: “Sesungguhnya ayat-ayat Qur’aniyah tidak dapat dicapai dengan sesungguhnya, jika hanya mendalami arti dan bahasanya saja, tetapi kita akan memahami pertama kali dengan mengetahui kehidupan sua-sana sejarah yang dinamik dan dalam kenyataan yang aktif serta bermuamalah dengan kenyataan hidup kini walaupun amat jauh dan bekasnya lebih mengakar dalam kenyataan sejarah yang datang kemudian. Tidak tersingkap karena jauhnya rentang waktu ini kecuali dengan cahaya kenyataan sejarah tersebut, kemudian yang tetap darinya adalah inspi-rasi dan para pelakunya yang secara terus-menerus. Akan tetapi bagi orang-orang yang berjuang untuk agama ini dan mempraktekkan seperti prakteknya orang-orang yang per-tama kali diturunkan kepada mereka ayat-ayat Al-Qur’an, mereka akan menemui keadaan dan suasana seperti mereka menemuinya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ketika membaca atau mendengarkan Al-Qur’an menghadirkan hati untuk merenungkan dan memahami firman Allah Subhannahu wa Ta'ala .&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana firmanNya:&lt;br /&gt;“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” (Qaaf: 37)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Qutaibah berkata: “Mendengarkan Al-Qur’an yaitu dengan keadaan hati menyaksikan dan memahami, bukannya dengan lalai dan lupa.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt; Memohon pertolongan kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala dalam mewujudkan hal itu karena pertolongan Allah adalah dasar perwujudan segala kebaikan dan keberun-tungannya.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: &lt;br /&gt;“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkanNya, maka kamu tak akan mendapatkan se-orang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepa-danya.” (Al-Kahfi: 17)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Fathir: 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana dikatakan: “Jika tidak ada pertolongan dari Allah bagi seseorang maka pertama kali yang menjerumus-kannya adalah kesungguhannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tidak ada jalan lain bagi yang ingin mewujudkan pemuliaan Al-Qur’an kecuali memohon dengan merendah-kan diri kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala agar menolong kita kepada tujuan tersebut. Nabi Shalallaahu alaihi wasalam telah menujuki hal itu dalam wasiat beliau kepada Muadz Radhiallaahu anhu. Di dalam Sunan Abi Daud dari Muadz bahwa Nabi Shalallaahu alaihi wasalam memegang tangannya seraya bersabda:&lt;br /&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( يَا مُعَاذُ لاَ تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ تَقُولُ: اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Wahai Muadz, demi Allah aku menyintaimu aku wasiatkan kepadamu jangan tinggalkan setiap selesai shalat doa ini: ‘Ya Allah lindungilah aku agar selalu mengi-ngatMu dan bersyukur kepadaMu serta memperbaiki ibadah kepadaMu’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak diragukan bahwa memuliakan Al-Qur’an termasuk ke dalam wasiat ini sebab Al-Qur’an merupakan dzikir dan memuliakan Al-Qur’an juga merupakan ibadah.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Sumber : &amp;nbsp; &lt;a href="http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=314&amp;amp;parent_section=kj007&amp;amp;idjudul=1"&gt;http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=314&amp;amp;parent_section=kj007&amp;amp;idjudul=1&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-1577281162973955057?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/1577281162973955057/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/kewajiban-kita-terhadap-pemuliaan-al.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/1577281162973955057'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/1577281162973955057'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/kewajiban-kita-terhadap-pemuliaan-al.html' title='Kewajiban Kita Terhadap Pemuliaan Al-Qur&apos;an'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-6152219437031897848</id><published>2011-11-26T07:01:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T07:02:43.218+07:00</updated><title type='text'>Beramal Dengan Al-Qur’an</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Aspek paling agung dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an dan bukti keimanan padanya yang paling tinggi adalah mengamalkannya. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang-orang yang telah Kami berikan Al-Kitab kepa-danya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebe-narnya, mereka itu beriman kepadanya.” (Al-Baqarah: 121)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedudukan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dan para sahabatnya adalah orang yang paling jelas persaksiannya dalam hal ini. Karena mereka benar-benar berpegang teguh dengan Al-Qur’an seakan-akan mereka adalah Al-Qur’an yang berjalan diatas bumi. Begitulah orang-orang yang melihat mensifati mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah akan kami ringkaskan pujian atas mereka sebagai contoh atas perkataan dan perbuatan mereka karena mereka yang paling dalam penghayatannya dalam mewujud-kan tujuan Al-Qur’an. Dalam Shahih Muslim dari ‘Aisyah  Radhiallaahu anha bahwasanya ia ditanya tentang akhlak Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam maka ia menjawab: “Akhlaknya seperti Al-Qur’an.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Al-Ausath, Ath-Thabrani dan Al-Mustadrak, Al-Hakim dengan sanad hasan dari Ibnu Umar Radhiallaahu anhuma bahwasanya ia berkata: “Aku telah hidup dalam waktu yang singkat dari umurku di dunia ini. Sesungguhnya salah seorang diantara kita diberikan iman sebelum Al-Qur’an di saat surat-surat Al-Qur’an masih turun berkesinambungan kepada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam . Maka kami belajar tentang halal dan haramnya dan apa-apa yang seyogyanya kami perhatikan sebagaimana kalian mengajarkan Al-Qur’an. Kemudian aku melihat kaum yang diberi Al-Qur’an sebelum (diberi) iman maka ia mem-baca dari Al-Fatihah hingga hatam namun ia tidak tahu apa yang diperintah dan yang dilarang serta hal-hal yang seyogyanya diperhatikannya bagai menabur kurma buruk.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-A’masy meriwayatkan dari Abi Wail dari Ibnu Mas’ud Shalallaahu alaihi wasalam berkata: “Dahulu seorang di antara kami jika belajar 10 ayat tidak pindah hingga mengamalkannya, kami belajar dan mengamalkan Al-Qur’an secara bersamaan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hasan Ibnu Ali Radhiallaahu anhu berkata: “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian melihat Al-Qur’an merupakan surat-surat dari Tuhan mereka, maka mereka merenungkannya di malam hari dan melakukan inspeksi (tinjauan) di siang hari.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan masih banyak kejadian-kejadian mengenai perilaku para sahabat ridhwanullahi ‘alaihim dalam pemuliaan Al-Qur’an dan kesiapan terhadapnya memberikan inspirasi dan kesigapan mereka kepada kita untuk beramal dan melaksa-nakan pemuliaan Al-Qur’an. Untuk mempertegas bukti kon-disi sifat mereka.di atas, akan kami lengkapi uraian sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Shahih Mulim dari Abi Hurairah Radhiallaahu anhu berkata: “Ketika turun ayat ini kepada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam :&lt;br /&gt;“Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan-nya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendakiNya dan menyiksa siapa yang dikehendakiNya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-Baqarah: 284)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para sahabat merasa berat akan hal itu. Maka mereka mendatangi Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam kemudian diam di atas unta seraya berkata: “Wahai Rasulullah , kami dibebani amanat-amanat yang kami sanggup mengembannya seperti shalat, puasa, jihad, dan shadaqah, dan telah turun ayat ini kepadamu yang kami tidak sanggup mengembannya.” Maka Rasulullah bersabda:&lt;br /&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( أُتُرِيْدُوْنَ أَنْ تُقُوْلُوْا قَالَ أَهْلُ الْكِتَابَيْنِ مِنْ قَبْلِكُمْ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا؟ بَلْ قُوْلُوْا: سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيْرُ ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Apakah kalian ingin mengatakan sebagaimana perkataan kaum Ahli Kitab sebelum kalian: ‘Kami mendengar dan kami mengingkari?’ Katakanlah: ‘Kami mendengar dan kami taat’. Maha Suci Engkau, wahai Tuhanku dan kepadaMu-lah kami kembali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian mereka berkata: “Kami mendengar dan kami taat, Maha Suci Engkau, wahai Tuhan kami, kepadaMu-lah kami kembali!” Setelah mengucapkan hal itu, lisan mereka terasa berat. Kemudian Allah menurunkan ayat dalam peristiwa ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malai-kat-malaikatNya, kitab-kitabNya dan rasul-rasulNya. (Mereka mengatakan): ‘Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasulNya’, dan mereka mengatakan: ‘Kami dengar dan kami ta’at’. (Mereka berdo’a): ‘Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali’.” (Al-Baqarah: 285)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mereka melakukan apa yang diperintah Rasul, maka Allah menghapus –hukum– ayat itu dengan menurunkan ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai de-ngan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo`a): ‘Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Eng-kau bebankan kepada kami beban yang berat sebagai-mana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebe-lum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma`aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir’.” (Al-Baqarah: 286)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah ini memperkuat kenyataan sebelumnya. Ketika para sahabat ridhwanullahi ‘alaihim kokoh keimanan dalam hati dengan mengamalkan setiap ayat Al-Qur’an yang me-ngandung hukum, mereka merasa berat melaksanakan satu ayat ini, karena harus mempertanggung-jawabkan hal-hal yang mereka sembunyikan dalam hati mereka. Karena Allah Maha Mengetahui apa yang dibisikkan dalam hati hamba-hambaNya. Karena hal itulah mereka mendatangi Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dengan ketakutan, sebagaimana difahami dari ceritanya. Maka terasa berat yang demikian itu pada para sahabat Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, dan kata-kata: “Kemudian mereka duduk bertekuk lutut.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitab Shahih Al-Bukhari dan Muslim dari Anas Radhiallaahu anhu berkata: Abu Thalhah merupakan orang Anshar yang paling banyak hartanya –berupa pohon-pohon kurma– di Madinah. Harta yang paling ia sukai adalah Bairuha’ yang berada di depan masjid, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam . memasukinya dan meminum airnya yang baik. Ketika turun ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian har-ta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (Ali Imran: 92)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Thalhah berdiri di hadapan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam seraya berkata: “Wahai Rasulullah sesungguhnya Allah Shalallaahu alaihi wasalam berfirman: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (Ali Imran: 92)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sungguh harta yang paling aku sukai adalah Bairuha’, aku shadaqahkan untuk Allah, aku mengharap kebaikan dan simpanan (pahalanya) di sisi Allah, pergunakanlah wahai Rasul sebagaimana Allah menentukan pada anda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anas berkata: “Kemudian Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda: ‘Engkau telah mendengar apa yang aku katakan dan aku berpendapat sebaiknya engkau menjadikannya untuk kerabat terdekatmu’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Thalhah berkata: “Akan aku lakukan wahai Rasulullah.” Kemudian Abu Thalhah membagi untuk kerabatnya dan anak-anak pamannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Al-Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan dari Ibnu Umar Radhiallaahu anhuma bahwasanya Umar memperoleh tanah dalam perang Khaibar, maka Umar mendatangi Nabi Shalallaahu alaihi wasalam seraya berkata: “Aku memperoleh tanah dan tidak memperoleh harta yang lebih berharga dari itu, bagaimana perintah anda dalam hal ini?” Rasul menjawab: “Jika engkau mau, engkau pegang pokoknya dan sedekahkan hasilnya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Hajar Rahimahullaah berkata: “Dalam hadits ini tampak keutamaan yang jelas pada diri Umar dalam mengaplikasikan firman Allah: &lt;br /&gt;“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (Ali Imran: 92). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Bazzar meriwayatkan dengan sanadnya dari Hamzah Ibnu Abdullah berkata: “Abdullah berkata ayat ini (Ali Imran: 92) datang padaku, dia mengingatkanku terhadap karunia Allah, aku tidak mendapati sesuatu yang lebih aku cintai dari budak perempuanku Rumayyah. Aku berkata: “Ia kumerdekakan untuk mengharap wajah Allah, kalau sekiranya aku ambil kembali hal yang telah kujadikan karena Allah tentu akan aku nikahi dia.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Shahih Al-Bukhari dari Ibnu Abi Mulkah berkata: “Dua orang yang mulia yaitu Abu Bakar dan Umar Radhiallaahu anhu hampir saja celaka karena keduanya mengangkat suara di atas suara Nabi Shalallaahu alaihi wasalam ketika datang kafilah Bani Tamim, Abu Bakar menunjuk kepada Al-Aqra’ Ibnu Haabis –saudaraku dari Bani Mujasyi’ dan Umar menunjuk laki-laki lainnya, Nafi’ berkata saya tidak ingat namanya– maka Abu Bakar berkata kepada Umar: ‘Engkau tidak menginginkan melainkan pertentangan denganku!’ Umar menjawab: ‘Aku tidak ingin menentangmu!’ Keduanya berkata-kata dengan mengangkat suaranya masing-masing. Kemudian Allah menurunkan ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu me-ninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagai-mana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap seba-hagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.” (Al-Hujurat: 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Ibnu Az-Zubair Radhiallaahu anhu: “Umar tidak ingin lagi mengeraskan suara pada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam setelah turunnya ayat ini, sampai beliau meminta penjelasannya.” Ibnu Az-Zubair tidak menyebutkan ini dari bapaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Hajar Rahimahullaah berkata: “Ibnu Mundzir mengeluarkan dari jalan Muhammad Ibnu Amr Ibnu Al-Alqamah bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiallaahu anhu berkata seperti itu kepada Nabi Shalallaahu alaihi wasalam dan hadits ini mursal. Al-Hakim mengeluarkannya secara bersambung dari hadits Abu Hurairah yang semisalnya. Ibnu Marduwaih mengeluarkan dari jalan Ibnu Syihab dan Abu Bakar berkata: ketika turun ayat: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.” (Al-Hujurat: 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakar berkata: “Wahai Rasulullah aku tidak akan berbicara denganmu melainkan sebagaimana seseorang berbisik pada saudaranya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Shahih Al-Bukhari dari Anas bin Malik Radhiallaahu anhu bahwa Nabi Shalallaahu alaihi wasalam mencari Tsabit Ibnu Qais, maka seseorang berkata: “Wahai Rasulullah aku mengetahuinya.” Orang itu datang dan mendapati Tsabit Ibnu Qais duduk di rumahnya dengan membalikkan kepalanya. Laki-laki itu bertanya: “Ada apa denganmu?” Qais menjawab: “(Keadaanku) buruk!” Dia pernah mengangkat suaranya diatas suara Nabi Shalallaahu alaihi wasalam , maka dia mengira amalnya terhapus dan tergolong penghuni neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian laki-laki itu kembali pada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam mengabarkan bahwa Qais berkata begini… dan begini… maka laki-laki itu diperintahkan kembali oleh Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dengan membawa berita gembira agar mengatakan: “Sesungguhnya engkau bukan termasuk ahli Neraka tetapi ahli Surga.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Shahih Al-Bukhari dari Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu berkata: “Uyainah Ibnu Husni Ibnu Hudzaifah datang kepada kami, maka ia menginap di rumah keponakannya Al-Harru Ibnu Qais, sedang ia termasuk orang-orang yang dekat dengan Umar. Ia seorang pembaca Al-Qur’an, duduk di majlis Umar Radhiallaahu anhu dalam musyawarah di antara kalangan orang tua dan kalangan muda. Uyainah berkata kepada keponakannya: ‘Wahai putra saudaraku engkau memiliki kedudukan di sisi Umar mintakan izin padanya agar aku bisa bertemu dengannya’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ia pun memintakan izin kepada Umar untuk pamannya lalu Umar pun memberi zin. Ketika Uyainah menghadap ia berkata: ‘Wahai Ibnul Khatthab demi Allah engkau tidak menunjukkan kepada kami kemurahan hati dan tidak memerintah dengan adil.’ Maka Umar marah hingga bermaksud menghukumnya, seketika Al-Harru berkata: “Wahai Amirul Mukminin, Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman kepada Nabi-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.” (Al-A’raf: 199)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya orang ini tergolong orang bodoh, demi Allah, Umar tidak mengabaikan ayat ini ketika dibacakan padanya dan dia selalu berpijak pada kitab Allah.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah bukti, kalimatnya: “Demi Allah, ia tidak mengabaikan ayat Al-Qur’an ketika dibacakan padanya dan ia selalu berpijak pada kitab Allah.” Kejadian ini berbeda dengan kejadian-kejadian sebelumnya karena di dalamnya terdapat hal yang lebih berat berupa pengekangan nafsu ketika sedang marah walau dalam keadaan benar. Itulah bukti sifat hamba-hamba Allah Yang Maha Penyayang yaitu orang-orang yang disebutkan sifat-sifatnya dalam firmanNya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah mengha-dapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta.” (Al-Furqan: 73)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Shahih Al-Bukhari, Ibnu Mas’ud Radhiallaahu anhu berkata: “Ketika turun ayat: &lt;br /&gt;“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-An’am: 82)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu memberatkan kaum muslimin, mereka berkata: “Siapa di antara kita yang tidak menganiaya dirinya sendiri!” Maka Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda: “Bukan itu maksudnya melainkan syirik. Bukankah kalian mendegar perkataan Luqman kepada anaknya:&lt;br /&gt;“Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (Luqman: 13). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Musnad Imam Ahmad dan Al-Mustadrak dari Abi Bakar Ibnu Abi Zubair berkata: “Aku diberi kabar bahwa Abu Bakar berkata: ‘Ya Rasulullah, bagaimana perbaikan setelah ayat ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan keja-hatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.” (An-Nisa’: 123)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kejelekan yang kami perbuat akan dibalas?”&lt;br /&gt;Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam menjawab: “Allah mengampunimu wahai Abu Bakar, bukankah engkau sakit, bukankah engkau tertimpa musibah, bukankah engkau sedih, bukankah engkau… .” Abu bakar menjawab: “Benar.” Rasul bersabda: “Itulah di antara yang membalas.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Jarir meriwayatkan dari Anas Radhiallaahu anhu bahwa dia berkata: “Abu Bakar pernah makan bersama Nabi Shalallaahu alaihi wasalam kemudian turun ayat: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya pula.” (Al-Zalzalah: 7-8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Abu Bakar mengangkat tangannya seraya berkata: “Bagaimana aku akan dibalas karena kejelekan sebesar biji atom?” Rasul menjawab:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( يَا أَبَا بَكْرٍ مَا رَأَيْتَ فِي الدُّنْيَا مِمَّا تَكْرَهُ فَبِمَثَاقِيْلِ ذُرِّ الشَّرِّ وَيُدْخَرُ لَكَ مَثَاقِيْلُ ذُرِّ الْخَيْرِ حَتَّى تَوَفَّاهٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Wahai Abu Bakar apa yang engkau lihat di dunia ini dari kejelekan yang tidak engkau sukai walau sebesar biji atom akan berubah menjadi simpanan kebaikanmu beberapa biji atom hingga engkau meninggal dunia dan dibangkitkan pada hari Kiamat.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Musnad Imam Ahmad dari Sa’sa’ah paman Farazdak bahwasanya ia mendatangi Nabi Shalallaahu alaihi wasalam seraya membaca ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzar-rah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya pula.” (Al-Zalzalah: 7-8)&lt;br /&gt;“Cukup! Aku tidak ingin mendengar selainnya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga dari contoh-contoh yang lalu kiranya memberikan gambaran yang sebenar-benarnya peringatan tentang pemuliaan pada Kitab Allah Subhannahu wa Ta'ala yaitu Al-Qur’an. Tetapi barangkali ada pertanyaan dari kaum muslimah shalihah: “Bukankah para sahabat dari kaum wanita memiiki keistimewaan ketika berinteraksi dengan Al-Qur’an?” Saya katakan: “Sesungguhnya para sahabat dari kaum pria dan wanita ridhwanullahi ‘alaihim memiliki keistimewaan dalam ber-interaksi dengan Al-Qur’an secara keilmuan, perbuatan yang jelas dan nyata. Tidak butuh kepada keterangan dan penje-lasan karena sejarah Nabi sepenuhnya menceritakan demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari contoh-contoh lalu yang kami sebutkan tentang sahabat bukan untuk menetapkan hakikat ini, sekali-kali tidak, ini hanya penjelasan makna an-nashihah sebagaimana pemahaman para sahabat ridhwanullahi ‘alaihim. Kemudian untuk memotivasi diri dalam mewujudkannya, karena hal ini dalam masyarakat kita sekarang menjadi predikat kelompok terasing dalam beragama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam serba keterbatasan dalam bab ini tidak mengapa kita sebutkan juga beberapa contoh kondisi para sahabat wanita, mereka menempati kedudukan yang tidak remeh. Sebagai contoh di sini ummul mukminin Aisyah Radhiallaahu anha membaca surat Az-Zalzalah sebagaimana telah diuraikan keadaan para sahabat bersama beliau dalam mengamalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diceritakan dalam Al-Muwatha’ Imam Malik Rahimahullaah: “Ada seorang miskin minta makan kepada Aisyah Radhiallaahu anha , di tangan beliau ada buah anggur, beliau menyuruh seseorang memberikan kepadanya sebuah anggur, ia heran. Kemudian Aisyah Radhiallaahu anha berkata: ‘Engkau heran? Berapa biji atom yang kau lihat dalam sebutir buah ini?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummul Mukminin dalam hal ini bersedekah dengan sebiji anggur bukan karena kikir, Allah menyucikan beliau dari hal itu. Beliau adalah seorang yang pemurah sebagai-mana ayah beliau. Diriwayatkan oleh Hisyam Ibnu Urwah dari ayahnya Urwah Ibnu Zubair anak saudara perempuannya bahwa Muawiyah memberikan kepada beliau 100 dinar kemudian ia berkata: “Demi Allah sebelum matahari tenggelam pada hari itu beliau telah membagi-bagikannya. Hingga budak wanita itu berkata: ‘Seandainya anda membeli daging untuk kami, dari sedirham uang itu?’ Beliau menjawab: ‘Mengapa engkau tidak mengingatkan aku?’.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau bersedekah dengan sebiji anggur untuk mengamalkan ayat itu sebagai contoh bagi yang lain, agar tidak meremehkan kebaikan walau sedikit, karena memperhatikan hal-hal terkecil dalam kebaikan merupakan bukti dari sikap hati-hati dalam perkara jelek yang sangat kecil pula. Apakah kaum muslimat mengetahui dan mengamalkan ayat ini sebagaimana bunda mereka Aisyah Radhiallaahu anha, adakah mereka menjauhi apa-apa yang sangat kecil (sebesar atom) dalam padangan mereka padahal boleh jadi hal itu sebesar gunung di mata shahabiyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan dulu berkata: “Itukan ummul mukminin?” Dimana tingkatan kita dibandingkan beliau? Demikian itu adalah komitmen para shahabiyat radhiyallahu ‘anhunna, mereka semua disaksikan oleh beliau Radhiallaahu anha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Shahih Al-Bukhari dari Aisyah Radhiallaahu anha berkata: “Allah merahmati para wanita Muhajiraat yang pertama ketika turun ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempu-nyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu seka-lian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung’.” (An-Nur: 31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Langsung) mereka merobek kain korden dan menjadi-kannya sebagai jilbab dan menutup hingga dada mereka.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama juga dilakukan kaum wanita Anshar. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Aisyah Radhiallaahu anha bahwa beliau berkata: “Demi Allah aku tidak melihat kaum yang lebih utama daripada wanita Anshar terhadap pembenaran kitab Allah (Al-Qur’an) dan keimanan terhadap yang diturunkan. Sungguh disaat turun surat An-Nuur ayat 31, para suami segera pulang dan membacakan ayat yang baru diturunkan Allah kepada isteri, anak dan saudari serta sanak famili mereka maka tidak ada di antara kaum wanita melainkan mengumpulkan kain dan memakainya sebagai pembuktian keimanan mereka terhadap apa yang diturunkan Allah dalam kitabNya. Mereka berada di belakang Rasululah Shalallaahu alaihi wasalam di saat Subuh dalam keadaan berjilbab seakan-akan di atas kepala mereka ada burung-burung gagak.”&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Sumber :&amp;nbsp; &lt;a href="http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=312&amp;amp;parent_section=kj007&amp;amp;idjudul=1"&gt;http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=312&amp;amp;parent_section=kj007&amp;amp;idjudul=1&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-6152219437031897848?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/6152219437031897848/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/beramal-dengan-al-quran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/6152219437031897848'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/6152219437031897848'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/beramal-dengan-al-quran.html' title='Beramal Dengan Al-Qur’an'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-7580237248457333109</id><published>2011-11-26T06:39:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T06:40:33.184+07:00</updated><title type='text'>Menangis Ketika Membaca Al-Qur’an Atau Mendengarkannya</title><content type='html'>Menangis ketika membaca Al-Qur’an atau ketika mendengarkannya merupakan sifat orang mukmin yang sebenar-nya. Seorang mukmin ketika merenungkan ayat-ayat Al-Qur’an, ia mendapatkan sifat yang sempurna dan agung pada Tuhannya. Pada saat itu hatinya dipenuhi gejolak dan pemu-liaan terhadap Tuhannya. Sebagaimana ia berdiri diatas kepercayaan terhadap Allah, dengan mengemban amanah yang langit dan bumi enggan memikulnya, Allah menjadikan ke-nikmatan yang abadi bagi yang melaksanakannya, juga sebaliknya mengancamkan siksa yang pedih bagi yang menyia-nyiakannya. Kemudian perasaan yang lalai dan penyalahgu-naannya akan menambah semakin besar penyesalan dan ke-sedihan yang berkepanjangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Nawawi berkata: “Menangis ketika membaca Al-Qur’an merupakan sifat orang yang telah mencapai dera-jat pengetahuan yang dalam dan lambang bagi hamba-hamba Allah yang shalih.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhannahu wa Ta'ala telah memuji para nabiNya dan hamba-hamba-Nya yang shalih. Dia berfirman:&lt;br /&gt;“Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi ni`mat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (Maryam: 58)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhannahu wa Ta'ala juga berfirman:&lt;br /&gt;“Katakanlah: ‘Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: ‘Maha Suci Tuhan kami; sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi’. Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (Al-Isra’: 107-109)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhannahu wa Ta'ala juga befirman:&lt;br /&gt;“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturun-kan kepada Rasul (Muhammad), kamu melihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al-Qur'an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri).” (Al-Maidah: 83)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang disebutkan dan diisyaratkan Allah dalam kitab-Nya tiada lain untuk menghibur mereka. Menangis ketika membaca Al-Qur’an dan mendengarkannya, telah menjadi lambang (tanda keagungan) Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dan sahabat-sahabatnya serta sebaik-baik salaf ridhwanullahi ‘alihim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim, ‘Abdullah Ibnu Mas’ud Radhiallaahu anhu berkata: “Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam memerintahkan saya: “Bacakanlah untukku Al-Qur’an”. Saya berkata: “Bagaimana saya akan membacakan untukmu, padahal Al-Qur’an di-turunkan kepadamu.” Rasul menjawab: “Ya, (tetapi) saya ingin mendengarnya dari selain saya.” Maka saya membaca surat An-Nisa’ hingga sampai pada ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabi-la Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).” (An-Nisa’: 41)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau bersabda: “Cukup!” Dan kedua mata beliau menangis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Battha’ berkata: “Beliau Shalallaahu alaihi wasalam menangis ketika dibacakan ayat ini karena beliau membayangkan dirinya akan kedahsyatan hari Kiamat ketika beliau dipanggil untuk menjadi saksi atas umat-umatnya dan permohonan syafa’atnya bagi orang-orang di Padang Mahsyar. Dan ini adalah perkara yang berhak ditangisi berkepanjangan.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Hajar berkata: “Orang yang menangis karena mengetahui bahwa amalnya pasti akan dipersaksikan, sedangkan tidak semuanya lurus/benar, hal itu akan menyebabkan siksa baginya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Marduwaih dengan sanadnya dari Attha’ berkata: “Saya keluar bersama Ibnu Umar, Ubaid Ibnu Amir, ke rumah Aisyah Radhiallaahu anha , maka kami masuk ke rumahnya sedang antara kami dengannya terdapat hijab (penghalang). Aisyah bertanya: Wahai Ubaid apa yang menghalangimu untuk mengunjungi kami? Ubaid menjawab dengan perkataan penyair:&lt;br /&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;زُرْغُبًّا تَزْدَرْ حُبًّا.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Perjaranglah mengunjungi seseorang niscaya bertambah kecintaan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Umar Radhiallaahu anhu berkata: “Maafkanlah kami, beritahukanlah kepada kami sesuatu yang paling mengagumkanmu dari Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam.” Maka beliau menangis dan berkata: “Semua perkara beliau menakjubkan. Suatu malam dia mendatangiku hingga kulitnya menyentuh kulitku, kemudian bersabda: “Biarkan aku beribadah kepada Tuhanku.” Aku berkata: “Demi Allah, aku senang berada di dekatmu dan aku suka engkau beribadah kepada Tuhanmu, kemudian beliau berdiri dan berwudhu’ dengan tidak boros dalam pemakaian air, kemudian melaksanakan shalat sambil menangis hingga membasahi jenggotnya. Ketika itu Bilal akan mengumandangkan adzan Subuh. Bilal berkata: “Wahai Rasulullah apa yang membuatmu menangis padahal Allah telah menghapus dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang.” Rasul menjawab: “Oh Bilal, apa yang menghalangiku untuk tidak menangis sedangkan malam ini telah turun ayat: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (Ali Imran: 190)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian beliau Shalallaahu alaihi wasalam bersabda: “Celaka bagi yang membacanya namun tidak merenungkannya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdur Razzaq dengan sanadnya dari Qais Ibnu Abi Hazim berkata: “Abdullah Ibnu Rawahah pernah meletakkan kepalanya di pangkuan istrinya sambil menangis. Maka istri-nya menangis juga dan berkata: ‘Apa yang menyebabkanmu menangis?’ Ia menjawab: ‘Aku teringat firman Allah: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan tidak ada seorangpun daripadamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.” (Maryam: 71)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak tahu akankah aku selamat atau tidak! &lt;br /&gt;Dari Nafi’ berkata: “Ibnu Umar jika membaca ayat ini:&lt;br /&gt;“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang ber-iman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka).” (Al-Hadid: 16)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau selalu menangis hingga tidak terkontrol. &lt;br /&gt;Dari Umar bin Khattab Radhiallaahu anhu bahwasanya beliau shalat Subuh berjamaah, ketika itu membaca surat Yusuf, maka beliau menangis hingga air matanya membasahi tempat sujud. Dalam riwayat lain mengatakan bahwa tangisan beliau terdengar sampai pada shaf-shaf belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Shahih Al-Bukhari dari Ibnu Umar Radhiallaahu anhuma berkata: “Ketika sakit Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bertambah parah dikatakan pada beliau: ‘Shalat ….’ Beliau menjawab: ‘Perintahkan Abu Bakar untuk mengimami orang-orang!’ ‘Aisyah Radhiallaahu anha berkata: ‘Sesungguhnya Abu Bakar orangnya lemah, jika membaca sering menangis’. Rasul berkata: ‘Perintahkanlah agar ia melaksanakan shalat). maka ‘Aisyah mengulangi perkataannya. Rasul kemudian bersabda: ‘Perintahkanlah agar ia melaksanakan shalat, sesungguhnya kalian seperti wanita di zaman Yusuf’.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abi Shalih berkata: “Orang-orang dari Yaman mendatangi Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiallaahu anhu, mereka membaca Al-Qur’an dengan menangis. Maka Abu Bakar Radhiallaahu anhu berkata: Beginilah kami di zaman Rasul.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Az-Zuhri bahwasanya Umar Ibnu Abdul ‘Aziz suatu pagi memegang jenggotnya seraya membaca:&lt;br /&gt;“Maka bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kepa-da mereka kenikmatan hidup bertahun-tahun, Kemudian datang kepada mereka azab yang telah diancamkan kepada mereka, niscaya tidak berguna bagi mereka apa yang mereka selalu menikmatinya.” (Asy-Syu’ara’: 205-207)&lt;br /&gt;Kemudian beliau bersenandung: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siangmu tenang dan melalaikan, wahai orang yang dimaafkan, malammu kau gunakan untuk tidur berselimut.&lt;br /&gt;Engkau bergembira dengan sesuatu yang akan musnah dan berbahagia dengan angan-angan, padahal kelezatan seakan mimpi di tengah malam.&lt;br /&gt;Engkau berusaha terhadap suatu hal yang akan engkau benci pada akhirnya, begitulah engkau di dunia akan menjadi seperti hewan.”&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Sumber :&amp;nbsp; &lt;a href="http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=310&amp;amp;parent_section=kj007&amp;amp;idjudul=1"&gt;http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=310&amp;amp;parent_section=kj007&amp;amp;idjudul=1&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-7580237248457333109?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/7580237248457333109/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/menangis-ketika-membaca-al-quran-atau.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/7580237248457333109'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/7580237248457333109'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/menangis-ketika-membaca-al-quran-atau.html' title='Menangis Ketika Membaca Al-Qur’an Atau Mendengarkannya'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-7062560850669726475</id><published>2011-11-26T06:34:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T06:34:56.023+07:00</updated><title type='text'>Merenungkan Al-Qur’an Ketika Membaca Atau Mendengarkannya</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Allah Subhannahu wa Ta'ala telah mengabarkan bahwa Ia telah menurunkan Al-Qur’an ini untuk dibaca dengan perenungan dan pema-haman. Maka Allah Subhannahu wa Ta'ala  berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (Shad: 29)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhannahu wa Ta'ala mengingkari orang-orang yang tidak merenungkannya:&lt;br /&gt;“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” (Muhammad: 24)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FirmanNya yang lain:&lt;br /&gt;“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentu-lah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (An-Nisa’: 82)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Ibnu Sa’di v berkata dalam Tafsir-nya tentang ayat ini: “Allah memerintahkan agar kitabNya direnungkan dan diteliti maknanya dengan pandangan tajam dalam memi-kirkan asas-asasnya, ancamannya dan perintah-perintahnya. Maka dengan merenungkan kitab Allah akan mendapatkan kuncinya ilmu dan pengetahuan, menghasilkan banyak ke-baikan, asas semua ilmu, menambah keimanan dalam hati dan mengokohkannya seperti pohon yang akarnya tertancap, mengenalkannya kepada Allah yang disembah, mengenalkan sifat-sifat kesempurnaanNya, hal-hal yang menyucikannya dari kekurangan, mengenalkan jalan yang akan menyampai-kan kepadaNya dan sifat-sifat ahli jalan itu. Dan hal-hal yang dapat mendekatkan padaNya, mengenalkan kepada musuh yang sesungguhnya, dan ciri-ciri jalan yang menye-babkan penempuhnya disiksa. Setiap hamba akan bertambah pemahamannya, ilmunya dan perbuatannya serta penglihatan mata hatinya, karena maksud inilah Allah menurunkan Al-Qur’an.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (Shad: 29)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Allamah Muhammad Amin Asy-Syanqithi mengo-mentari ayat-ayat di atas yang memohon agar dihayati kemudian berkata: “Ayat-ayat yang disebutkan itu menunjukkan bahwa merenungkan Al-Qur’an dan memahaminya kemudian mengamalkan apa yang diperintahkannya merupakan perkara yang harus diperhatikan kaum muslimin.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu merupakan urusan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dan para saha-batnya Radhiallaahu anhum, murid-murid mereka dari para tabi’in bersama Al-Qur’an. Dalam Musnad Imam Ahmad dari ‘Aisyah Radhiallaahu anha bahwa Nabi Shalallaahu alaihi wasalam mengisahkan pada orang-orang yang mem-baca Al-Qur’an di malam hari sekali atau dua kali. Kemudian berkata: “Mereka membacanya namun belum membaca yang sesungguhnya. Aku pernah berdiri bersama Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam semalam suntuk. Beliau membaca surat Al-Baqarah, Ali Imran dan An-Nisa’. Beliau tidak melewati seayat pun mengenai ayat adzab melainkan memohon perlindungan kepada Allah dan tiada melewati ayat yang mengabarkan kenikmatan melainkan memohon kepada Allah.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Shahih Muslim dari Hudzaifah Radhiallaahu anhu berkata: “Saya shalat bersama Nabi Shalallaahu alaihi wasalam suatu malam, beliau membaca surat Al-Baqarah. Aku katakan: ‘Beliau akan ruku’ setelah seratus ayat dibacanya’, (ternyata) beliau meneruskan mem-baca surat An-Nisa’ kemudian Ali Imran secara bersam-bung. Jika membaca ayat tasbih maka beliau bertasbih, jika melewati ayat permohonan beliau berdoa, jika melewati ayat perlindungan, kemudian beliau ruku’ dengan membaca ‘subhaana rabbiyal ‘adziim’.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga dalam Shahih Muslim dari Abi Wail berkata: “Seorang laki-laki datang kepada Abdullah Ibnu Mas’ud lalu berkata: ‘Sesungguhnya aku membaca surat-surat mufasshal (surat pendek) dalam setiap rakaat. Maka Abdullah Ibnu Mas’ud berkata: Hal ini seperti rambut ini, sesungguhnya suatu kaum membaca Al-Qur’an tetapi tidak melewati kerongkongannya (tidak berbekas), seandainya berbekas dan tertancap dalam hati niscaya bermanfaat.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dari Abi Ubaid dari Abi Hamzah, aku bertanya kepada Ibnu Abbas: “Sesungguhnya aku cepat dalam membaca dan jika membaca Al-Qur’an (khatam) dalam tiga hari. Maka beliau berkata: ‘Membaca surat Al-Baqarah dengan perlahan-lahan dan merenungkannya lebih baik bagiku daripada membaca seperti kamu katakan.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Hajar berkata: “Abu Daud memiliki jalur lain dari Abi Hamzah. Aku bertanya kepada Ibnu Abbas: Sesungguhnya aku seorang yang cepat bacaannya dan aku menghatamkan Al-Qur’an dalam satu malam, maka Ibnu Abbas berkata: Membaca satu surat lebih aku sukai, jika engkau membaca maka bacalah dengan bacaan yang didengar telingamu dan berbekas dalam hatimu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang dari mereka memanjangkan bacaannya ketika berdiri membaca ayat untuk menghayatinya. Dalam Sunan An-Nasa’i, Sunan Ibnu Majah dan Al-Mustadrak Al-Hakim dari Abi Dzar Radhiallaahu anhu berkata: “Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam berdiri dengan mengulang-ulang ayatnya hingga pagi, yaitu ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Maidah: 118). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Tamim Ad-Dari bahwa Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam mengulang-ulang ayat ini hingga menjelang pagi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu me-nyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih.” (Al-Jatsiyah: 21). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abbad Ibnu Hamzah berkata: “Saya mengunjungi Asma’ Radhiallaahu anha sedang ia membaca:&lt;br /&gt;“Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka.” (Ath-Thur: 27)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengulang-ulangnya seraya berdoa hingga saya menunggu terlalu lama dan saya pun pergi ke pasar untuk memenuhi kebutuhan saya, kemudian saya kembali sedang ia masih mengulang-ulanginya dan tetap berdoa.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Mas’ud mengulang-ulang firman Allah Subhannahu wa Ta'ala :&lt;br /&gt;“Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahu-an.” (Thaha: 114)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Said Ibnu Jubair mengulang-ulang ayat:&lt;br /&gt;“Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah.” (Al-Baqarah: 281)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kelak mereka akan mengetahui, ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka.” (Ghafir: 70-71)&lt;br /&gt;“Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemu-rah.” (Al-Infithar: 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari nash-nash di atas menunjukkan amal Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dan para sahabatnya serta tabi’in. Kita tahu pentingnya menghayati Al-Qur’an dan memahami apa yang dimaksud Allah Subhannahu wa Ta'ala padanya. Karena itu memperbanyak bacaan yang mengandung kesalahan adalah kurang terpuji, bahkan dilarang oleh nash-nash.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Sunan Abi Daud dan At-Tirmidzi dari Abdillah Ibnu Amr Ibnul ‘Ash Radhiallaahu anhu bahwa Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( لاَ يَفْقَهُ مِنْ قَرَأَ الْقُرْآنُ فِي أقل مِنْ ثَلاَثٌ ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Tidak akan dapat memahami Al-Qur’an orang yang membaca kurang dari tiga hari.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam An-Nawawi telah menjadikan kriteria ukuran kecepatan dalam membaca Al-Qur’an dan ukuran memper-banyak menghatamkannya adalah kemampuan perenungan dan pemahamannya. Beliau menceritakan keadaan orang-orang salaf dalam menghatamkan Al-Qur’an dan kecepatan mereka, kemudian berkata: “Pemilihan itu berbeda antar individu, barangsiapa memiliki kejernihan berfikir lembut di sekitar makna maka hendaknya ia memendekkan hingga mencapai kesempurnaan pemahaman dari yang dibacanya, demikian pula yang sibuk dengan mengajar atau selainnya dari kepentingan agama dan kemaslahatan kaum muslimin umumnya maka memperpendek sesuai ketentuan, yang disebabkan dari halangan untuk mewujudkannya. Kalau bukan termasuk golongan tersebut di atas maka hendaklah ia memperbanyak bacaannya tanpa melanggar batasan agama, dan terlalu cepat.”&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Sumber :&amp;nbsp; &lt;a href="http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=308&amp;amp;parent_section=kj007&amp;amp;idjudul=1"&gt;http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=308&amp;amp;parent_section=kj007&amp;amp;idjudul=1&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-7062560850669726475?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/7062560850669726475/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/merenungkan-al-quran-ketika-membaca.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/7062560850669726475'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/7062560850669726475'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/merenungkan-al-quran-ketika-membaca.html' title='Merenungkan Al-Qur’an Ketika Membaca Atau Mendengarkannya'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-5622041623238875776</id><published>2011-11-26T06:32:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T06:32:30.419+07:00</updated><title type='text'>Memperbagus Bacaan Dan Suara Dalam Membaca Al-Qur’an</title><content type='html'>Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;“Dan bacalah Al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan.” (Al-Muzzammil: 4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir berkata: “Bacalah Al-Qur’an pelan-pelan. Terdapat riwayat yang menceritakan bacaan Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau membaca Al-Qur’an dengan perlahan-lahan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Shahih Al-Bukhari dari Anas Radhiallaahu 'anhu dia ditanya tentang bacaan Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam maka Anas menjelaskan bacaan Nabi panjang-panjang. Dicontohkannya dengan bacaan “Bismi-llahirrahmanirrahim” dengan memanjangkan “Bismillaahi” kemudian “Arrahmaan” dan “Arrahiim”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Sunan Abi Daud, At-Tirmidzi dan An-Nasa’i dari Ummi Salamah Radhiallaahu 'anha mensifati bacaan Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam dengan membaca huruf demi huruf. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam An-Nawawi berkata: “Para ulama telah sepakat atas sunnahnya membaca Al-Qur’an secara tartil.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam melambatkan bacaan terdapat keutamaan yang besar. Kedudukan pembaca Al-Qur’an di akhirat sangat tinggi sesuai dengan bacaan yang dilambatkannya waktu di dunia. Pada Sunan At-Tirmidzi dari ‘Abdullah Ibnu Umar bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( إِقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَأُ بِهَا ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Dikatakan kepada pembaca Al-Qur’an, ‘Baca!’ dan naiklah sebagaimana engkau baca Al-Qur’an di dunia, karena tempatmu pada akhir ayat yang kau baca.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Al-Musnad dari Abi Said Radhiallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( إِقْرَأْ وَاصْعُدْ، وَيَصْعُدُ بِكُلِّ آيَةٍ دَرَجَةً حَتَّى يَقْرَأُ آخِرِ شَيْءٍ مَعَهُ ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Dikatakan kepada pembaca Al-Qur’an apabila masuk surga: ‘Bacalah! dan mendakilah, maka ia mendaki dengan setiap ayat satu derajat hingga ia membaca ayat terakhir yang ia hafal.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seyogyanya menekankan bacaan dan memperbagus suara karena hal itu menambah kebagusan Al-Qur’an hingga di-terima pendengarnya serta meninggalkan bekas dalam hati. Dalam Sunan An-Nasa’i dan Ad-Darimi serta Al-Mustadrak Al-Hakim dari Barra’ Radhiallaahu 'anhu berkata: “Saya mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( حَسِّنُوْا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ فَإِنَّ الصَّوْتَ الْحَسَنَ يَزِيْدُ الْقُرْآنَ حُسْنًا ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Baguskanlah Al-Qur’an dengan suaramu, karena suara yang bagus menambah keindahan Al-Qur’an.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Sunan Abi Daud dari Abu Lubabah Radhiallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Bukan dari golongan kami orang yang tidak melagukan Al-Qur’an.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An-Nawawi mengisahkan dari Jumhurul Ulama bahwa makna “lam yataghanna” adalah yang tidak membaguskan suaranya ketika membaca Al-Qur’an. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam qudwah (teladan) dalam hal ini. Dalam Shahih Al-Bukhari dari Barra’ Ibnu ‘Azib berkata: “Saya mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam membaca dalam shalat isya’ “At-Tiin waz Zaitun”, tidak pernah kudengar seseorang yang lebih bagus suaranya dari beliau .” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah Ibnu Mughaffal berkata: “Saya melihat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam di atas unta yang sedang berjalan sedang beliau membaca surat Al-Fath atau sebagiannya dengan bacaan yang lembut. Beliau Shallallaahu 'alaihi wa sallam membacanya dengan melagukannya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At-Tarji’ memiliki dua makna:&lt;br /&gt;1. Keadaan Nabi (yang terguncang) di atas unta sehingga menimbulkan getaran suara.&lt;br /&gt;2. Beliau benar-benar menekankan sesuai panjang dan pendeknya, dan ini yang terjadi.&lt;br /&gt;Ibnu Hajar mengisahkan hal ini dan menguatkan yang kedua karena lebih sesuai dengan kenyataan, karena Rasul pernah berbisik:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( لَوْلاَ أَنْ يَجْتَمِعَ النَّاسُ لَقَرَأْتُ لَكُمْ بِذَلِكَ اللَّحْنِ ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Kalau sekiranya tidak menyebabkan manusia berkumpul niscaya kubaca kepada kalian dengan nada itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya lagu, dalam riwayat lain terdapat kata at-tarji’. Kemudian dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dalam Asy-Syamail, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Ibnu Abi Daud, ini adalah lafazhnya dari hadits Ummu Hani: “Aku pernah men-dengar suara Rasulullah yang sedang membaca Al-Qur’an –ketika aku tidur di atas ranjang– dengan melagukannya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abi Jumrah berkata: “Makna at-tarjii’ adalah membaguskan suara.” &lt;br /&gt;Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam memuji kepada sahabat yang memiliki suara bagus. Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abi Musa Al-Asy’ari bahwasanya Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam berkata kepadanya: “Sungguh saya diberi seruling dari seruling-seruling keluarga Nabi Daud.” Beliau Shallallaahu 'alaihi wa sallam menunjuk pada keindahan suara sahabat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Majah dalam Sunannya meriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiallaahu 'anha berkata: “Saya pernah terlambat ke Rasulullah satu malam setelah isya’ beliau bertanya: “Dimana engkau bera-da?” Saya menjawab: “Saya mendengar bacaan dari salah seorang sahabatmu, aku belum pernah mendengar suara dan bacaan sebagus dia, kemudian Rasulullah berdiri lalu saya mengikutinya hingga beliau mendengarnya sendiri. Kemu-dian beliau menoleh pada saya seraya bersabda: “Ini adalah Salim budak Abi Hudzaifah, segala puji bagi Allah yang menjadikan orang sepertinya dalam umatku.” Bushiri berkata: “Isnad hadits ini shahih para perawinya terpercaya. Ibnu Katsir berkata: Sanadnya jayyid.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan Allah Subhaanahu wa Ta'ala menyukai suara yang bagus dalam membaca Al-Qur’an dan memperdengarkannya. Dalam Shahihain dari Abu Hurairah Radhiallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: &lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( مَا أَذِنَ اللهُ بِشَيْءٍ مَا أَذِنَ لِنَبِيِّ حُسْنَ الصَّوْتِ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ يُجْهِرُ بِهِ ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Allah tidak memberi izin terhadap suatu perbuatan se-bagaimana Nabi diizinkan membaguskan suara dalam melagukan Al-Qur’an secara lantang.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Atsir berkata: “Maksudnya Allah tidak memperhati-kan sesuatu sebagaimana perhatiannya terhadap Nabi dalam melagukan Al-Qur’an.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Sunan Ibnu Majah dari Fudhalah Ibnu ‘Ubaid berkata: “Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( اللهُ أَشَدُّ أُذُنًا إِلَى الرَّجُلِ الْحُسْنِ الصَّوْتِ بِالْقُرْآنِ مِنْ صَاحِبِ الْقَيْنَةِ إِلَى قَيْنَتِهِ ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Allah sangat memperhatikan orang yang bagus bacaan-nya dalam membaca Al-Qur’an daripada penyanyi terha-dap nyanyiannya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Bushiri berkata: “Sanadnya hasan.” Ibnu Atsir berkata: “Sanadnya jayyid.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam An-Nawawi berkata: “Para ulama dari kalangan salaf (dahulu) maupun khalaf (belakangan) dari kalangan sahabat, tabi’in, dan orang-orang setelah mereka di penjuru negeri muslim sepakat atas sunnahnya membaguskan suara dengan Al-Qur’an, perkataan dan perbuatan mereka ini sangat mashur. Kami memiliki perbendaharaan tentang hal ini. Dalil-dalil dari hadits tentang hal ini terperinci baik yang khusus maupun yang umum.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya (penulis) katakan: “Benar, sesungguhnya membaguskan suara ketika membaca Al-Qur’an dengan tajwidnya merupakan perintah syariat, karena dalil-dalil yang jelas dan shahih. Tetapi dengan syarat menjaga makharijul hurufnya (tempat-tempat keluarnya huruf) dan memantapkannya serta memenuhi hukum-hukumnya, karena makna tidak dapat di-fahami selain dengan jalan tersebut, sedangkan memahami dan merenungkan merupakan tujuan utama, karena itu ada pujian bagi pembaca yang mahir.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Shahih Muslim dari Aisyah Radhiallaahu 'anha bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Orang yang mahir membaca Al-Qur’an bersama para malaikat yang mulia.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Hajar berkata: “Orang yang mahir/piawai disini maksudnya baik bacaan dan hafalannya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi jika perubahan irama mengakibatkan pelanggaran terhadap makna dengan menyembunyikan sebagian huruf atau menyelewengkannya atau tindakan lainnya yang me-nyebabkan makna berubah atau menyerupai penyanyi dan orang yang bercanda maka sesungguhnya ia tercela bukan-nya terpuji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam An-Nawawi berkata: “Para ulama berkata: ‘Sunnah hukumnya membaca Al-Qur’an dengan membagus-kan suara dan urutannya selama belum keluar dari batas bacaannya hingga berlebihan. Jika melampaui batas sehingga menambah satu huruf atau menyembunyikannya maka hal itu haram’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun bacaan dengan berbagai dialek Imam Asy-Syafi’i berkata: “Saya tidak menyukainya. Sahabat-sahabat kami berkata: ‘Kami tidak berhujjah dengan dua pendapat tetapi ada keterangannya bahwa jika berlebihan hingga melampaui batas maka itulah yang tidak disukai dan jika tidak melanggar maka tidak dibenci’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Mawardi dalam kitabnya Al-Hawi berkata: “Bacaan dengan lagu tertentu, jika hal itu menyimpang dari lafazh-lafazh Al-Qur’an dari bentuknya dengan memasukkan harakat dan menghapusnya atau memendekkan yang panjang dan memanjangkan yang pendek, berlebihan hingga menyembu-nyikan sebagian lafazh dan menimbulkan kerancuan makna, maka hal itu haram hukumnya dan pembacanya menjadi fasiq serta yang mendengarkan berdosa karena keluar dari aturan yang lurus kepada yang bengkok. Padahal Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;“(Ialah) Al Qur'an dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya).” (Az-Zumar: 28)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tidak keluar bacaannya dari lafazh-lafazhnya tetapi hanya dengan melambatkan bacaan maka hal itu mubah (boleh) karena dia menambah lagu untuk membaguskan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam An-Nawawi mengomentari hal ini dengan menga-takan: “Perkataan ini sebaik-baik pemecahan atau penengah-an. Dan bagian pertama ini, bagian dari bacaan yang haram merupakan bencana yang diujikan kepada orang awam yang bodoh yang bertindak serampangan dengan membacanya untuk jenazah dan di waktu pesta. Ini merupakan bid’ah yang diharamkan secara jelas. Pada setiap pendengar yang membiarkan hal ini berdosa sebagaimana dikatakan Al-Mawardi dan juga bagi yang sanggup menghilangkannya atau mencegahnya namun tidak berbuat apapun.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir berkata: “Tujuan yang diminta dalam agama adalah membaguskan suara yang membangkitkan semangat untuk merenungi Al-Qur’an dan memahaminya, khusyu’ dan penuh dengan ketundukan serta kepatuhan ter-hadap perintahnya. Sedangkan menyuarakan Al-Qur’an dengan patokan lagu dan irama yang bersifat hiburan dan aturan-aturan seperti musik dan yang menjalankan madzhab ini, maka Al-Qur’an terlalu suci dan agung untuk diperlaku-kan seperti itu. Dan telah datang sunnah yang menganggap hal itu dosa.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak diragukan lagi bahwa tujuan dari memperbagus suara ketika membaca Al-Qur’an dengan tajwidnya untuk mendorong pendengar agar membawanya untuk merenung-kannya, tunduk dan terkesan dengannya. Alangkah bahagia-nya orang yang akalnya terikat oleh Al-Qur’an kemudian hatinya menjadi lembut karenanya. Perlu diketahui oleh pembaca Al-Qur’an sejauh mana ia terkesan ketika memba-canya sejauh itu pula bacaannya akan berkesan kepada yang mendengarkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitab Al-Mukhtaratu Lidh Dhiya’ dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: &lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( إِنْ أَحْسَنَ النَّاسِ قِرَاءَةً الَّذِيْ إِذَا قَرَأَ رَأَيْتَ أَنَّهُ يَخْشَى اللهَ ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Sesungguhnya sebaik-baik bacaan manusia adalah jika ia membaca Al-Qur’an engkau melihat pembacanya benar-benar takut kepada Allah.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pembaca Al-Qur’an sekaligus termasuk mengajak manusia ke jalan Allah, sehingga dia termasuk orang yang dipuji Allah dalam firmanNya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (Fushshilat: 33)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan orang yang telah dikuasai setan kemudian melupakan Allah dan menjadi penyeru pada suaranya agar manusia kagum, maka alangkah ruginya perbuatan itu dan alangkah buruknya tempat kembalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Shahih Muslim dari Abi Hurairah Radhiallaahu 'anhu berkata: “Saya mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا قَالَ قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لأَنْ يُقَالَ جَرِيْءٌ فَقَدْ قِيْلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا قَالَ تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيْكَ الْقُرْآنَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ فَقَدْ قِيْلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللَّـهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا قَالَ مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيْلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيْهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيْهَا لَكَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيْلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Manusia pertama yang diadili pada hari Kiamat adalah seorang yang mati syahid, ia menghadap kepada Allah, kemudian Allah memperlihatkan nikmat yang telah dika-runiakan kepadanya. Allah bertanya: ‘Untuk apa engkau berbuat dalam hal ini?’ Ia menjawab: ‘Aku berperang untukMu sehingga aku mati syahid’. Lantas dijawab: ‘Engkau dusta, sesungguhnya engkau berperang agar manusia mengatakan bahwa engkau seorang pemberani’, kemudian Allah memerintahkan agar ia diseret dan di-lempar ke Neraka. Kemudian didatangkan seorang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya, lalu Allah mem-perlihatkan nikmat yang telah dikaruniakan kepadanya. Allah bertanya: ‘Untuk apa engkau berbuat dalam hal ini?’ Ia menjawab: ‘Aku belajar dan mengajarkan ilmu yang kudapat serta membaca Al-Qur’an untukMu’. Allah menjawab: ‘Engkau dusta, sesungguhnya engkau belajar agar dikatakan ‘alim dan engkau membaca Al-Qur’an agar dikatakan seorang qari’, kemudian diperintahkan agar ia diseret dan dilempar ke Neraka.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Ajuri berkata: “Seyogyanya bagi yang dikaruniai oleh Allah Subhaanahu wa Ta'ala suara yang baik ketika membaca Al-Qur’an agar mengetahui bahwa Allah telah mengaruniakan kebaikan khusus padanya maka hendaknya ia mengetahui kadar keistimewaan Allah baginya. Bacalah Al-Qur’an semata ka-rena Allah bukan untuk dipuji manusia. Berhati-hatilah dari kecenderungan untuk didengarkan orang agar memperoleh pujian, untuk mendapat dunia (harta), perasaan suka dipuji, untuk memperoleh kedudukan di dunia, hubungan dengan penguasa, lebih dari masyarakat umumnya. Barangsiapa cenderung kepada yang aku peringatkan maka aku khawatir suaranya yang bagus malah menjadi fitnah. Sedangkan suaranya akan memberi manfaat baginya jika ia takut kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala dalam keadaan sendiri atau bersama yang lain. Yang diminta darinya agar ia memperdengarkan Al-Qur’an untuk memperingatkan orang-orang yang lalai agar berpaling dan mencintai apa yang dicintai Allah Subhannahu wa Ta'ala menjauhi apa yang dicegahnya. Siapa yang memiliki sifat ini maka suara-nya yang bagus bermanfaat baginya sendiri dan manusia.”&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Sumber :&amp;nbsp; &lt;a href="http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=306&amp;amp;parent_section=kj007&amp;amp;idjudul=1"&gt;http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=306&amp;amp;parent_section=kj007&amp;amp;idjudul=1&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-5622041623238875776?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/5622041623238875776/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/memperbagus-bacaan-dan-suara-dalam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/5622041623238875776'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/5622041623238875776'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/memperbagus-bacaan-dan-suara-dalam.html' title='Memperbagus Bacaan Dan Suara Dalam Membaca Al-Qur’an'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-2662109126012463270</id><published>2011-11-26T06:26:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T06:27:25.243+07:00</updated><title type='text'>Memperbanyak Bacaan Al-Qur’an Secara Terus-Menerus</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca Al-Qur’an merupakan ibadah kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala yang diperintahkan dalam kitabNya dan dianjurkan agar senantiasa dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Tuhanmu (Al-Qur'an). Tidak ada (seorang pun) yang dapat mengubah kalimat-kalimatNya. Dan kamu tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain daripadaNya.” (Al-Kahfi: 27)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagi-an dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu meng-harapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karuniaNya.” (Fathir: 29-30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam juga memberi dorongan perihal bacaan Al-Qur’an. Dalam Shahih Muslim dari Abi Umamah Al-Bahili berkata: “Saya mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Bacalah Al-Qur’an karena sesungguhnya ia akan da-tang memberi syafaat pada hari Kiamat bagi para pem-bacanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam merupakan contoh dalam membaca Al-Qur’an secara terus-menerus. Dalam Sunan Abu Daud dari Aus Ibnu Hudzaifah berkata: “Kami datang menemui Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam dalam suatu rombongan. Dikabarkan bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam datang setiap malam setelah isya’ bercakap-cakap dengan mereka, kemudian pada suatu malam beliau terlambat dari kebiasaannya. Kami berkata: ‘Engkau ter-lambat malam ini!’ Beliau menjawab: ‘Sesungguhnya aku membaca sebagian dari Al-Qur’an maka aku tangguhkan kedatanganku kemari setelah bacaanku selesai’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Aus berkata: “Aku bertanya kepada para sahabat Rasulullah, bagaimana dulu kalian membaca Al-Qur’an?” Mereka menjawab: “Tiga, lima, tujuh, sembilan, sebelas, tigabelas hizb, satu hizb adalah satu bagian terpisah tersendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bagian hadits ini dijelaskan bahwa para sahabat Radhiallaahu 'anhum senantiasa membaca Al-Qur’an juga. Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam dan para saha-batnya memperbanyak bacaan Al-Qur’an dan menghatam-kannya. Dari Aisyah Radhiallaahu 'anha berkata: “Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam tidak menghatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud dari hadits di atas adalah Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam mengkhatam kan Al-Qur’an dalam waktu singkat namun tidak kurang dari tiga hari. Kemudian beliau  memerintahkan sahabat-sahabatnya seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Sunan Said Ibnu Mansur dari Ibnu Mas’ud Radhiallaahu 'anhu bahwasanya Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( إِقْرَءُوا الْقُرْآنَ فِيْ سَبْعٍ وَلاَ تَقْرَءُوْهُ فِيْ أَقَلِّ مِنْ ثَلاَثٍ ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Bacalah Al-Qur’an dalam tujuh hari dan janganlah kurang dari tiga hari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Hajar berkata: “Sanad hadits ini shahih.” &lt;br /&gt;Imam An-Nawawi mengisahkan tentang salaf ridh-wanullahi ‘alaihim tentang seringnya mereka membaca dan menghatamkan Al-Qur’an. Beliau bersabda: “Kaum salaf memiliki kebiasaan yang berbeda-beda dalam meng-hatamkan Al-Qur’an. Ibnu Abi Daud meriwayatkan dari sebagian salaf bahwa mereka menghatamkan Al-Qur’an dalam dua bulan satu kali, sebagian mereka tiap bulan, sebagian dalam sepuluh malam, sebagian dalam lima malam, sebagian mereka dalam empat malam, kebanyakan mereka setiap tiga malam, kemudian beliau menyebutkan kurang dari itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau menambahkan: “Orang-orang yang menghatamkan dalam satu minggu banyak sekali, diceritakan dari Utsman Ibnu ‘Affan, ‘Abdullah Ibnu Mas’ud, Zaid Ibnu Tsabit, Ubai Ibnu Ka’ab Radhiallaahu 'anhu dan banyak tabi’in seperti ‘Abdurrahman Ibnu Zaid, Al-Alqamah dan Ibrahim.”&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Sumber : &lt;a href="http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=304&amp;amp;parent_section=kj007&amp;amp;idjudul=1"&gt;http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=304&amp;amp;parent_section=kj007&amp;amp;idjudul=1 &lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-2662109126012463270?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/2662109126012463270/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/memperbanyak-bacaan-al-quran-secara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/2662109126012463270'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/2662109126012463270'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/memperbanyak-bacaan-al-quran-secara.html' title='Memperbanyak Bacaan Al-Qur’an Secara Terus-Menerus'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-8994379331608637718</id><published>2011-11-26T06:25:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T06:29:33.869+07:00</updated><title type='text'>Membaca Dan Mengamalkan Al-Qur’an</title><content type='html'>Motivasi dan ancaman memberi kesan yang mendalam bagi pembentukan kepribadian dan kepemimpinan. Sebagaimana peringatan dari Al-Qur’an memiliki peranan yang sangat penting, keberadaan dalil-dalil –disamping men-jelaskan keutamaan Al-Qur’an yang mencakup hidayahnya–juga memberi motivasi pada interaksi dengannya menjanjikan pahala yang berlipat ganda, serta ancaman atas yang berpaling dan meninggalkannya dengan siksa yang amat pedih sebagai balasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Motivasi Membaca Dan Mengamalkan Al-Qur’an&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebaha-gian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.” (Fathir: 29)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qurthubi berkata: “Orang-orang yang membaca dan mengetahui serta mengamalkan isi Al-Qur’an yaitu mereka yang mengerjakan shalat fardhu dan yang sunnah demikian juga dalam berinfaq.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir berkata: “Allah Subhaanahu wa Ta'ala mengabarkan keadaan hamba-hambaNya yang mukmin yaitu mereka yang membaca kitabNya, beriman dengannya, dan beramal sesuai dengan yang diperintahkan seperti mengerjakan shalat dan menunaikan zakat.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim dari Abi Musa Al-Asy’ari bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَاْلأُتْرُجَّةِ طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَرِيحُهَا طَيِّبٌ وَمَثَلُ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ كَالتَّمْرَةِ طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَلاَ رِيحَ لَهَا وَمَثَلُ الْفَاجِرِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الرَّيْحَانَةِ رِيْحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ وَمَثَلُ الْفَاجِرِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ طَعْمُهَا مُرٌّ وَلاَ رِيحَ لَهَا ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Perumpamaan seorang mukmin yang membaca Al-Qur’an seperti buah jeruk, rasanya manis dan harum. Perumpamaan seorang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an seperti kurma rasanya manis tetapi tidak memi-liki aroma. Perumpamaan orang yang berbuat maksiat tetapi membaca Al-Qur’an seperti kemangi yang harum aromanya tetapi pahit rasanya. Dan perumpamaan orang yang berbuat maksiat dan tidak membaca Al-Qur’an seperti labu yang tidak memiliki aroma dan rasanya pahit.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Shahih Muslim dari Uqbah Ibnu Amir  berkata bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam keluar sedangkan kami di dalam rumah, maka beliau bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa di antara kalian yang ingin pergi setiap hari ke Bathan atau ‘Aqiq kemudian datang dengan dua ekor unta perempuan serta diampuni dosa-dosanya dengan tanpa memutuskan silaturrahmi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menjawab: “Wahai Rasulullah kami menyenangi hal itu.” Kemudian Rasulullah bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( أَفَلاَ يَغْدُو أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَيَعْلَمُ أَوْ يَقْرَأُ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللَّـهِ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ وَثَلاَثٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلاَثٍ وَأَرْبَعٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَرْبَعٍ وَمِنْ أَعْدَادِهِنَّ مِنَ اْلإِبِلِ ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Tidaklah salah seorang kalian pergi ke masjid kemu-dian belajar atau membaca dua ayat dari Al-Qur’an maka lebih baik baginya dari dua unta, tiga ayat lebih baik dari tiga unta, empat ayat lebih baik dari empat unta dan sebanyak bilangan ayat sebanyak itu pula unta yang diperolehnya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Sunan Abu Daud dari Abi Hurairah Radhiallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّـهِ تَعَالَى يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّـهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّـهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Tidaklah berkumpul suatu kaum di sebuah rumah dari rumah-rumah Allah (masjid), mereka membaca Al-Qur’an dan mempelajarinya bersama-sama melainkan akan turun ketenangan, diliputi rahmat, dikelilingi malaikat dan Allah memuji mereka di antara –malaikat– yang ada di sisiNya.”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Sunan At-Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud  berkata Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّـهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ: الـم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Barangsiapa membaca satu huruf dari Al-Qur’an maka baginya kebaikan hingga sepuluh kali lipat, aku tidak mengatakan Alif Laam Miim satu huruf melainkan Alif satu huruf Laam satu huruf Miim satu huruf.”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah Radhiallaahu 'anha bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Orang-orang yang mahir dengan Al-Qur’an akan ber-sama para malaikat yang mulia yang senantiasa berbuat baik, sedang yang membaca Al-Qur’an tertatih-tatih dan terasa berat, baginya dua pahala.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Muslim dari Abi Umamah Radhiallaahu 'anhu berkata: “Saya mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( إِقْرَأُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِيْ يَوْمَ الْقِيَامَة شَفِيْعًا لأَصْحَابِهِ ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Bacalah Al-Qur’an sebab ia akan datang di hari Kiamat sebagai penolong pada sahabatnya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga meriwayatkan dari An-Nawwas bin Sam’an Radhiallaahu 'anhu berkata: “Saya mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( يُؤْتَى بِالْقُرْآنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَهْلِهِ الَّذِينَ كَانُوا يَعْمَلُونَ بِهِ تَقْدُمُهُ سُورَةُ الْبَقَرَةِ وَآلُ تُحَاجَّانِ عَنْ صَاحِبِهِمَا ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Al-Qur’an didatangkan di hari Kiamat bersama ahli-nya, yaitu orang-orang yang mengamalkannya di dunia, surat Al-Baqarah dan Ali Imran didahulukan membela temannya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Shahih Al-Bukhari dari Utsman bin Affan Radhiallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنُ وَعَلَّمَهُ ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir berkata dalam menjelaskan hadist ini: “Inilah sifat-sifat orang mukmin yang mengikuti sunnah Rasulullah, mereka menyempurnakan diri mereka dan selain mereka, yaitu dengan mengumpulkan sedikit manfaat yang ada padanya untuk ditularkan pada selainnya. Hal ini ber-beda dengan sifat-sifat orang kafir yang sombong, tidak memberi manfaat, dan tidak membiarkan seseorang meng-ambil manfaat, sebagaimana firman Allah Subhaanahu wa Ta'ala :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka sik-saan di atas siksaan disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan.” (An-Nahl: 88)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sebagaimana firmanNya:&lt;br /&gt;“Mereka melarang (orang lain) mendengarkan Al-Qur’an dan mereka sendiri menjauhkan diri daripada-nya.” (Al-An’am: 26)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat yang paling benar dari para mufassirin dalam hal ini adalah: Mereka mencegah manusia dari mengikuti Al-Qur’an sebagaimana jauhnya mereka, maka terkumpul dalam diri mereka antara mendustakan dan berpaling dari Al-Qur’an sebagaimana firman Allah Subhaanahu wa Ta'ala :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan berpaling daripada-nya?” (Al-An’am: 157)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini merupakan kejelekan orang-orang kafir sebagai keba-likan dari keadaan orang-orang mukmin yang baik dan ber-usaha menyempurnakan diri mereka dan orang lain. Seba-gaimana Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah Subhaanahu wa Ta'ala :&lt;br /&gt;“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (Fushshilat: 33)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menghimpun dakwah ke jalan Allah baik dengan adzan atau panggilan lainnya seperti mengajarkan Al-Qur’an, Hadits, Fiqih dan lain-lain dengan mengharap ke-ridhaan Allah, dia beramal shalih untuk dirinya dan berkata baik. Maka tidak seorang pun yang lebih baik dari keadaan mereka. Sebagai contoh: “Abu Abdurrahman Abdullah Ibnu Habib As-Sulmi Al-Kufi salah seorang pemimpin Islam dan di antara ulamanya yang mencintai bidang ini. Maka beliau tekun mengajar manusia sejak pemerintahan Ustman Radhiallaahu 'anhu hingga masa Al-Hajjaj. Orang-orang berkata: “Beliau tinggal menetap dan mengajar Al-Qur’an selama 70 tahun –mudah-mudahan Allah merahmatinya dan menetapkan pahala baginya–. Amiin.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ismail Ibnu Abdillah Ibnu Umar berkata: “Barangsiapa membaca Al-Qur’an maka seakan-akan ia memasuk-kan tanda kenabian dalam dirinya, hanya saja Al-Qur’an tidak turun padanya. Dan barangsiapa yang membaca Al-Qur’an kemudian melihat seseorang yang dikaruniai ke-utamaan lebih darinya, maka ia telah meremehkan pemberian Allah padanya dan membesarkan apa yang diremehkan Allah.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ancaman Bagi Yang Meninggalkan Al-Qur’an Dan Berpaling Darinya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah sampai kepada kita sejumlah ayat yang menjelaskan ancaman terhadap orang yang berpaling dari Al-Qur’an, yang tidak mengambil manfaat darinya, juga keterangan mengenai siksaan yang pedih disebabkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;“Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat dari Tuhannya lalu dia berpaling daripadanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya?” (Al-Kahfi: 57)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Amin Asy-Syinqithi menjelaskan ayat ini dan yang semisalnya. Ia berkata: Allah menyebutkan ayat yang mulia ini dengan menjelaskan bahwa tidak seorang pun yang lebih berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri selain dari orang yang jika disebutkan/diingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya (Al-Qur’an) lalu berpaling. Dan yang disebutkan dalam ayat ini bahwa sebesar-besarnya perbuatan aniaya, disebutkan pula dalam ayat lain keterangan yang dihasilkan oleh perbuatan tercela ini ditambah dengan siksa yang pedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara akibat buruk mereka adalah orang tersebut ter-golong manusia yang paling berbuat aniaya, Allah menutup hatinya sehingga tidak mengetahui kebenaran dan tidak bisa memperoleh petunjuk selamanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka; dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.” (Al-Kahfi: 57)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antaranya juga siksaan Allah kepada orang yang berpaling dari peringatan sebagaimana firmanNya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemu-dian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.” (As-Sajdah: 22)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian keadaan orang yang berpaling itu seperti himar/keledai. Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;“Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)? Seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut.” (Al-Muddatsir: 49-50)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ancaman petir seperti petir yang ditimpakan kepada kaum ‘Aad dan Tsamud sebagaimana firmanNya:&lt;br /&gt;“Jika mereka berpaling maka katakanlah: ‘Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum `Aad dan kaum Tsamud’.” (Fushshilat: 13)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga kehidupan yang sempit dan kebutaan. Firman Allah: &lt;br /&gt;“Dan barangsiapa berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (Thaha: 124)&lt;br /&gt;“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan Tuhannya, niscaya akan dimasukkanNya ke dalam azab yang amat berat.” (Al-Jin: 17)&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al-Qur'an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (Az-Zukhruf: 36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan banyak akibat lain dari yang disebutkan di atas yang merupakan akibat jelek dan siksa yang pedih akibat ber-paling dari peringatan ayat-ayat Allah Subhaanahu wa Ta'ala .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada ayat yang lain Allah memerintahkan kita agar ber-paling dari orang yang berpikiran sempit tentang kehidupan dunia. Kemudian hal itu menguasai mereka dan menjadi pengetahuan mereka, tanpa memiliki pengetahuan lain yang memberi manfaat pada hari kematiannya. Sebagaimana firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi. Itulah sejauh-jauh pengeta-huan mereka.” (An-Najm: 29-30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhaanahu wa Ta'ala melarang ketaatan terhadap orang yang hatinya dikuasai hawa nafsunya hingga lalai dan lupa kepada Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Al-Kahfi: 28). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;“Berkatalah Rasul: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini suatu yang tidak diacuhkan’.” (Al-Furqan: 30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir mengatakan ketika menafsirkan ayat ini: “Hal itu karena orang-orang musyrik tidak menganggap Al-Qur’an sesuatu yang harus dihormati dan didengarkan. Allah Subhaanahu wa Ta'ala  berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan orang-orang yang kafir berkata: ‘Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al-Qur'an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu da-pat mengalahkan (mereka)’.” (Fushshilat: 26)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jika dibacakan kepada mereka Al-Qur’an mereka menyibukkan diri dengan bercakap-cakap dalam hal lain sehingga mereka tidak mendengarkannya. Inilah sikap acuh mereka, mereka meninggalkan Al-Qur’an, tidak mengamal-kannya, tidak mematuhi perintahnya, tidak menjauhi la-rangannya, menyimpang pada yang lainnya seperti syair, perkataan, nyanyian, permainan, dan hal-hal lain yang bisa menyibukkan mereka dari Al-Qur’an. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita memohon kepada Allah Yang Maha Pemurah dan Pemberi anugerah, Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu agar menjauhkan kita dari hal-hal yang dibencinya dan me-nunjukkan kita kepada hal-hal yang diridhaiNya; seperti menghafal kitabNya, memahami dan menegakkan hukum-hukumnya sepanjang siang dan malam sesuai dengan yang diinginkanNya. Sesungguhnya Dia Maha Mulia dan Maha Pemberi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim juga menjelaskan bahwa golongan yang berpaling, yang dimaksud ayat tersebut ada bermacam-macam tingkatan. Beliau berkata: Macam-macam bentuk berpaling dari Al-Qur’an adalah:&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Berpaling dari mendengarnya, mengimaninya, dan mem-perhatikannya. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berpaling dari amal dan berhenti dari hal-hal yang dihalalkan atau diharamkan walau mereka membacanya dan meyakininya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berpaling dari hukum-hukumnya baik dalam hal asas (aqidah) atau cabang agama dan beranggapan bahwa Al-Qur’an hanya perkataan yang tidak dapat dijadikan alasan (hujjah) dan tidak pula menambah ilmu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berpaling dari merenungkannya dan memahaminya serta mendalami hal-hal yang dikehendaki Allah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berpaling dari penyembuhan dengannya dari berbagai macam penyakit hati, namun meminta kesembuhan pe-nyakitnya dari selain Allah.&lt;br /&gt;Semua ini terkumpul dalam firman Allah:&lt;br /&gt;“Berkatalah Rasul: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini suatu yang tidak diacuhkan’.” (Al-Furqan: 30)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Sesungguhnya sebagian yang ditinggalkan dari hal-hal di atas lebih hina dari sebagian yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=300&amp;amp;parent_section=kj007&amp;amp;idjudul=1"&gt;Sumber :&amp;nbsp; http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;amp;parent_id=300&amp;amp;parent_section=kj007&amp;amp;idjudul=1 &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://tweetmeme.com/i/scripts/button.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php" name="fb_share" title="Share on Facebook" type="box_count"&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1087439266945194861-8994379331608637718?l=pembinaanpribadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/feeds/8994379331608637718/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/membaca-dan-mengamalkan-al-quran.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/8994379331608637718'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1087439266945194861/posts/default/8994379331608637718'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/membaca-dan-mengamalkan-al-quran.html' title='Membaca Dan Mengamalkan Al-Qur’an'/><author><name>Bermanfaat Bagi Yang Lain</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1087439266945194861.post-1088804687623457240</id><published>2011-11-26T06:23:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T06:28:57.735+07:00</updated><title type='text'>Keutamaan Al-Qur’an Sebagai Petunjuk Hidup</title><content type='html'>&lt;i&gt;Keutamaan Al-Qur’an Dari Yang Lain&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup sebagai bukti karena Al-Qur’an Al-Karim memiliki keutamaan dan kemuliaan ia merupakan firman Allah Yang Maha Mengetahui dan Bijaksana serta Maha Suci. DariNya segala sesuatu mulai dan kepadaNya pula segala sesuatu kembali. Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya.” (At-Taubah: 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.” (As-Syura: 52)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhaanahu wa Ta'ala telah memberi keutamaan Al-Qur’an atas kitab-kitab yang diturunkan kepada para nabi sebelumnya dan menguatkannya. Sebagaimana firmanNya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelum-nya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu.” (Al-Maidah: 48)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abbas Rahimahullaah berkata: “Al-Muhaimin maksudnya penjaga pembenar. Dan Al-Qur’an merupakan penjaga pembenar bagi semua kitab sebelumnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Juraij berkata: “Al-Qur’an penjaga kitab-kitab sebelumnya, maka yang sesuai dengannya itu merupakan kebenaran sedang yang menyelisihinya merupakan keba-tilan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu Abbas juga mengatakan bahwa muhaimin maksudnya adalah saksi dan memutuskan perkara-perkara yang belum diatur oleh kitab sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua perkataan di atas dinukil oleh Ibnu Katsir kemudian ia berkata: “Semua perkataan ini maknanya ham-pir sama, karena kata al-muhaimin mencakup semuanya yaitu terpercaya, saksi dan yang memutuskan perkara. Karena Allah menjadikan Al-Qur’an yang agung sebagai kitab yang terakhir diturunkan sekaligus penyempurna, mencakup semua isi kitab sebelumnya, paling agung dan sebagai pemutus perkara karena di dalamnya terkumpul segala kebaikan sebelumnya dan ditambah dengan kalimat-kalimat yang tidak ada di lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dari itulah Allah menjadikan saksi, kepercayaan dan pemutus perkara serta menjaganya sendiri kemudian berfirman: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Al-Hijr: 9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara keutamaan Al-Qur’an yang paling agung adalah karena merupakan mu’jizat terbesar yang diberikan kepada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam. Allah telah menentang orang-orang Arab bahkan semua manusia dan jin agar mendatangkan semisal Al-Qur’an dalam firmanNya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah: ‘Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur’an ini, nisca-ya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain’.” (Al-Isra’: 88)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Allah menantang mereka untuk mendatangkan 10 surat yang semisal Al-Qur’an dalam firmanNya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bahkan mereka mengatakan: ‘Muhammad telah mem-buat-buat Al-Qur'an itu’, Katakanlah: ‘(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar’.” (Hud: 13)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Allah menantang mereka untuk mendatangkan satu surat saja, seperti dalam firmanNya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Atau (patutkah) mereka mengatakan: ‘Muhammad membuat-buatnya’. Katakanlah: ‘(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar’.” (Yunus: 38)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah mengabarkan bahwasanya mereka tidak akan per-nah sanggup untuk mendatangkan semisal Al-Qur’an walau sedikit hingga kapan pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat-(nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat-(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (Al-Baqarah: 23-24)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh Al-Qur’an Al-Karim merupakan mu’jizat ter-agung yang dikaruniakan Allah kepada NabiNya di antara nabi-nabi, karena ia paling kuat pengaruhnya. Hal itu karena ia adalah mu’jizat yang kekal yang tidak terhenti dengan wafatnya Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Al-Bukhari meriwayatkan keutamaan Al-Qur’an dalam kitab Shahih-nya dari Abu Hurairah Radhiallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( مَا مِنَ اْلأَنْبِيَاءِ نَبِيٌّ إِلاَّ أُعْطِيَ مِنَ اْلآيَاتِ مَا مِثْلُهُ أُومِنَ أَوْ آمَنَ عَلَيْهِ الْبَشَرُ وَإِنَّمَا كَانَ الَّذِي أُوتِيتُ وَحْيًا أَوْحَاهُ اللَّـهُ إِلَيَّ فَأَرْجُو أَنِّي أَكْثَرُهُمْ تَابِعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Tidak seorang nabi pun yang diutus melainkan dikaruniakan padanya ayat-ayat yang sepadan dengan diimani oleh kaumnya. Sedangkan wahyu yang disampaikan Allah padaku, maka kuharap agar aku bisa menjadi yang terbanyak pengikutnya hingga hari Kiamat.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir menjelaskan hadits tersebut dengan mengatakan: “Dalam hadits ini terdapat keutamaan yang agung bagi Al-Qur’an atas segala mu’jizat yang dikaruniakan kepada para nabi dan seluruh kitab yang diturunkan Allah. Hal itu sebagaimana makna hadits:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak seorang nabi pun di antara para nabi melainkan Allah mengaruniakan padanya (dari mu’jizat) sebagai bukti bagi manusia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya hal itu sebagai dalil dan pembukti atas ajaran yang dibawanya agar diikuti oleh manusia, kemudian setelah para nabi meninggal (mu’jizat mereka hilang) kecuali yang diceritakan oleh para pengikut mereka yang melihat hal itu pada zamannya. Sedangkan penutup risalah dan para rasul Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa sallam keagungannya yang diberikan Allah adalah berupa wahyu yang sampai kepada kita secara berkesinam-bungan (mutawatir) setiap zaman tidak berobah sebagaimana diturunkan. Maka untuk ini beliau Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka kuharap agar aku menjadi nabi yang terbanyak pengikutnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu pengikut Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam paling banyak di antara pengikut-pengikut nabi lainnya karena keumuman risalahnya dan ketetapan syariatnya hingga hari Kiamat, serta mu’jizat-nya yang tidak terputus. Maka dari itu Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al-Qur’an) kepada hambaNya, agar dia menjadi pem-beri peringatan kepada seluruh alam.” (Al-Furqan: 1). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Petunjuk Al-Qur’an Mencakup Kebahagia-An Dunia Dan Akhirat&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah nash-nash yang termaktub dalam Al-Qur’an dan hadits Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam mengenai petunjuk Al-Qur’an yang mencakup kebahagiaan dunia dan akhirat adalah banyak sekali sehingga membutuhkan pembahasan tersendiri jika kita ingin untuk memperdalamnya. Tetapi karena tujuan disini adalah mengingatkan saja maka saya ringkas sebatas yang terpenting, insya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman sebagai pujian atas kitabNya yang mulia dan pemberi petunjuk bagi hamba-hambaNya untuk diperhatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Yunus: 57)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir v berkata: “Mauidzah maksudnya pencegah dari hal-hal yang keji. Wa syifaun lima fisshudur maksudnya dari syubhat (yang tidak jelas) dan syak (ragu-ragu) seperti menghapus kotoran dan najis.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (An-Nahl: 89)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Mas’ud berkata tentang maksud ayat ini bahwa Allah menjelaskan pada kita dalam Al-Qur’an segala ilmu dan segala sesuatu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mujahid berkata: “Setiap yang halal dan yang haram.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir setelah mengisahkan dua perkataan di atas menjelaskan bahwa perkataan Ibnu Mas’ud lebih umum dan mencakup segala ilmu yang bermanfaat pada zaman dahulu dan ilmu-ilmu yang belum terungkap. Al-Qur’an juga menegaskan setiap yang halal dan haram serta apa-apa yang dibutuhkan oleh manusia dalam perkara dunia, agama, kehidupan dan tempat mereka kembali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang mengikut petunjukKu, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (Thaha: 123)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abbas berkata: “Allah menjamin bagi yang membaca Al-Qur’an dan mengamalkan isinya, maka ia tidak akan sesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfiman:&lt;br /&gt;“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (Al-Baqarah: 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Sa’di berkata: “Al-Huda yaitu apa yang meng-hasilkan petunjuk dari kesesatan, dan keraguan kepada petunjuk ke jalan yang lurus, yang bermanfaat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah: “hudan” yang dibuang al-ma’mul (tanpa menyebutkan obyek) bukannya petunjuk untuk kemasla-hatan seseorang, tidak pula sesuatu yang bersifat khusus bagi seseorang, melainkan dengan lafazh umum, karena maksud-nya petunjuk bagi seluruh kemaslahatan dunia dan akhirat. Maka Al-Qur’an memberi petunjuk bagi para hamba dalam masalah-masalah agama yang pokok dan cabang. Juga penjelas antara kebenaran dengan kebatilan, yang shahih dengan yang lemah serta bagaimana menempuh jalan yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus.” (Al-Isra’: 9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Amin As-Syinqithi berkata: “Allah menyebutkan pada ayat yang mulia ini bahwa Al-Qur’an yang agung adalah paling mulianya kitab yang diturunkan dari langit dan paling mencakup semua ilmu serta paling akhir-nya waktu diturunkan oleh Penguasa alam semesta. –Memberi petunjuk yang lebih lurus– maksudnya jalan yang terbaik, teradil dan paling benar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini di dalamnya mencakup semua yang terdapat dalam Al-Qur’an dari petunjuk jalan yang terbaik, teradil, dan paling benar. Kalau kita menelusuri penjelasannya secara sempurna maka kita akan menyebutkan semua ayat Al-Qur’an, karena mengandung semua petunjuk kebaikan dunia dan akhirat; tetapi dengan izin Allah akan saya sebutkan petunjuk terbaik Al-Qur’an di berbagai bidang sebagai penjelas sebagian ayat peringatan dari berbagai masalah besar dan perkara-perkara yang diinkari oleh orang-orang yang melampaui batas dari orang-orang kafir yang mencari kesempatan untuk menyerang Islam, karena keterbatasan ke-mampuan mereka tentang hikmah Al-Qur’an yang agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Amin juga menyebutkan bahwa hidayah Al-Qur’an yang paling lurus pada perkara berikut: At-Tauhid, menjadikan thalaq dari sang suami, poligami, keutamaan laki-laki atas perempuan, pemilikan budak, pemotongan tangan pencuri, hukum rajam pada pezina yang telah menikah (selingkuh), kemajuan bisa diperoleh tanpa meninggalkan agama, selain agama yang dibawa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam maka ia jelas kekafirannya. Tali pengikat antar individu dalam masyarakat dan ajakan agar berpegang teguh pada ikatan tersebut itulah Dienul Islam. Kemudian beliau menyebutkan sumbu perbaikan hati ada tiga:&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt; Penolakan terhadap hal-hal yang jelas merusak prinsip agama.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengambil manfaat yang jelas sesuai kebutuhan menurut agama.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mempercepat penyempurnaan keindahan dengan pertumbuhan dengan akhlak yang mulia.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Dan setiap perbaikan diatas adalah petunjuk Al-Qur’an ke jalan yang lebih lurus. Barangsiapa mengambil petunjuk Al-Qur’an maka ia telah mengambil hidayah yang lurus untuk mengatasi masalah besar dalam dunia Islam dengan sebaik-baik jalan dan seadil-adilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkara terbesar yang dihadapi dunia Islam ada tiga:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Lemahnya kaum muslimin di seluruh penjuru dunia menghadapi orang kafir.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penguasaan orang-orang kafir pada umat Islam dengan membunuh dan lain-lain.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Perselisihan hati dikalangan kaum muslimin. Dan ini merupakan sebab terbesar dalam menegakkan eksistensi umat Islam, mengatasi kelemahan dan hilangnya kekuatan serta Daulah, sebagaimana firman Allah Subhaanahu wa Ta'ala :&lt;br /&gt;“Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu.” (Al-Anfal: 46)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Syaikh Amin menjelaskan bagaimana Al-Qur’an memberi petunjuk yang lurus dalam masalah-ma-salah itu semua dengan penjelasan bagai obat penyembuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petunjuk dan dorongan untuk mendapat hidayah Al-Qur’an juga datang dari hadits-hadits Rasululah Shallallaahu 'alaihi wa sallam. Di dalam Shahih Muslim dari Zaid Ibnu Arqam bahwasanya ia bercerita: “Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam berkhutbah di sisi kami dekat sumber air bernama Khumman antara Makkah dan Madinah. Beliau memuji Allah dan bersyukur kepadaNya kemudian memberi peringatan kemudian bersabda:&lt;br /&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( أَمَّا بَعْدُ، أَلاَ أَيُّهَا النَّاسُ فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ يُوشِكُ أَنْ يَأْتِيَ رَسُولُ رَبِّي فَأُجِيبَ وَأَنَا تَارِكٌ فِيكُمْ ثَقَلَيْنِ أَوَّلُهُمَا كِتَابُ اللَّـهِ فِيهِ الْهُدَى وَالنُّورُ فَخُذُوا بِكِتَابِ اللَّهِ وَاسْتَمْسِكُوا بِهِ فَحَثَّ عَلَى كِتَابِ اللَّـهِ وَرَغَّبَ فِيهِ ثُمَّ قَالَ وَأَهْلُ بَيْتِي ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Wahai manusia sesungguhnya aku manusia yang khawatir jika datang seorang Rasul Tuhanku, lantas aku me-menuhi panggilannya maka aku tinggalkan bagi kalian dua perkara yang berat; Pertama Kitabullah (Al-Qur’an) yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya maka berpegang teguhlah kalian dengannya.” Kemudian beliau memberikan dorongan agar timbul kecintaan dalam hati kami terhadap Kitabullah. Kemudian beliau bersabda: “Dan keluargaku.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( كِتَابُ اللَّهِ فِيهِ الْهُدَى وَالنُّورُ مَنِ اسْتَمْسَكَ بِهِ وَأَخَذَ بِهِ كَانَ عَلَى الْهُدَى وَمَنْ أَخْطَأَهُ ضَلَّ ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Kitabullah di dalamnya petunjuk dan cahaya. Barangsiapa berpegang teguh dengannya maka ia telah menda-patkan petunjuk dan barangsiapa yang menyelisihinya akan sesat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam riwayat Jabir Radhiallaahu 'anhu yang panjang ketika mensifati cara Nabi menunaikan ibadah haji bahwa beliau Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam khutbahnya di hari Arafah:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( وَإِنِّيْ قَدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ مَالَنْ تَضِلُّوْا بَعْدَهُ إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ كِتَابَ اللهِ … ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Aku telah meninggalkan pada kalian yang jika kalian berpegang teguh dengannya kalian tidak akan sesat selamanya… Kitabullah…” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu Mas’ud Radhiallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( ضَرَبَ اللَّـهُ مَثَلاً صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا وَعَلَى جَنْبَتَيِ الصِّرَاطِ سُورَانِ فِيهِمَا أَبْوَابٌ مُفَتَّحَةٌ وَعَلَى اْلأَبْوَابِ سُتُورٌ مُرْخَاةٌ وَعَلَى بَابِ الصِّرَاطِ دَاعٍ يَقُولُ أَيُّهَا النَّاسُ ادْخُلُوا الصِّرَاطَ جَمِيعًا وَلاَ تَتَفَرَّجُوا وَدَاعٍ يَدْعُو مِنْ جَوْفِ الصِّرَاطِ فَإِذَا أَرَادَ يَفْتَحُ شَيْئًا مِنْ تِلْكَ اْلأَبْوَابِ قَالَ وَيْحَكَ لاَ تَفْتَحْهُ فَإِنَّكَ إِنْ تَفْتَحْهُ ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Allah memberi perumpamaan jalan yang lurus kemudian pada kedua sisinya terdapat pagar serta pintu-pintu yang terbuka. Di depan pintu-pintu itu terdapat kain penghalang. Di penghujung jalan ada yang menyeru: ‘Berjalanlah dengan lurus dan jangan bengkok’. Semen-tara di atasnya terdapat penyeru yang menyeru ketika ada yang bermaksud membuka pintu dari pintu-pintu yang ada: ‘Celaka engkau! Jangan kau buka, jika kau buka maka engkau akan celaka’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Rasulullah menjelaskan hal itu dan mengabarkan bahwa jalan itu adalah Al-Islam sedang pintu yang terbuka adalah hal-hal yang dilarang Allah, sedang kain penghalang itu adalah ketentuan Allah, sedang penyeru di ujung jalan adalah Al-Qur’an dan penyeru di atasnya adalah penyeru Allah dalam hati setiap mukmin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abi Hurairah Radhiallaahu 'anhu berkata: “Segolongan sahabat Rasulullah menulis Taurat kemudian hal itu diutarakan kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam maka beliau bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;(( إِنَّ أَحْمَقَ الْحُمْقِ وَأَضَلَّ الضَّلاَلَةِ قَوْمٌ رَغِبُوْا عَمَّا جَاءَ بِهِ نَبِيُّهُمْ إِلَيْهِمْ إِلَى نَبِيِّ غَيْرِ نَبِيِّهِمْ وَإِلَى أُمَّةٍ غَيْرِ أُمَّتِهِمْ ))&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Sebodoh-bodohnya orang dan paling sesatnya kaum adalah mereka yang menolak apa yang dibawakan nabi mereka dan mengambil dari nabi terdahulu dan begitu pula umat –yang mengambil tradisi– selain umat mereka sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Allah menurunkan ayat:&lt;br /&gt;“Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur'an) sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al-Qur'an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.” (Al-Ankabut: 51). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya dalam nash-nash di atas baik dari Al-Qur’an maupun hadits, kaya akan penekanan terhadap keagungan Al-Qur’an dan hidayahnya yang lurus, untuk mengetahuinya tidak sebatas pada satu sudut pandang karena hal itu terbukti dalam kenyataan yang dirasakan dan disaksikan dengan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu dirasakan oleh orang yang dekat dan jauh, karena sesungguhnya ayat-ayat dan hadits-hadits di atas seluruhnya terbukti di antara dalam pemikir-pemikir Arab yang fasih dalam berbahasa dan meninggalkan kesan yang menakjubkan dalam hati mereka, sebagaimana terbukti dengan terangkatnya umat ini yang sebelumnya tidak tahu baca tulis di antara timbunan kebodohan dan kesesatan yang buta. Terangkatnya umat ini ke puncak kesempurnaan manusia setelah melalui perubahan dari umat yang tidak terkenal lagi lemah, menjadi umat yang berwibawa, mengatur negara, hingga mencapai wilayah di mana matahari tenggelam. Sehingga khalifah Abbasiyah Harun Ar-Rasyid berkata kepada awan dengan perkataannya yang terkenal:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Turunlah kau sesukamu, maka (dimana kau turun) niscaya akan datang pemberianmu (upeti darimu).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkataan yang memiliki makna yang dalam ini belum tercatat dalam sejarah semisalnya. Hal ini mengherankan musuh-musuh Islam hingga mereka mengumumkan ke-Islaman mereka karena kagum akan keagungannya disertai perasaan segan, sebagaimana persaksian mereka memberi peringatan kepada kaumnya serta berusaha sekuat tenaga untuk mengajak manusia dari Al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman mengenai orang-orang kafir Quraisy:&lt;br /&gt;“Dan orang-orang yang kafir berkata: ‘Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al-Qur’an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan (mereka)’.” (Fushshilat: 26)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir berkata: “Orang-orang kafir Quraisy saling berwasiat agar tidak mengikuti Al-Qur’an dan tidak mematuhi perintah-perintahnya (wal ghau fiihi), maksudnya dengan tepuk tangan, bersiul, ditambah dengan ucapan-ucapan yang menyudutkan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam ketika beliau membaca Al-Qur’an.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;“Dan di antara manusia (ada) orang yang memperguna-kan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan.” (Luqman: 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Mas’ud Radhiallaahu 'anhu menafsirkan lahwal hadits disini dengan nyanyian. Ibnu Jarir dengan sanadnya dari Abi Shaibah Al-Bakri bahwa ia mendengar Ibnu Mas’ud Radhiallaahu 'anhu ditanya tentang ayat ini, beliau menjawab: “Maksudnya adalah nyanyian, demi Allah yang tiada Tuhan selainnya”, beliau mengulang tiga kali.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab turunnya ayat di atas adalah Nadhar Ibnu Harits membeli penyanyi-penyanyi wanita. Maka tidak ada seorang pun menginginkan masuk Islam melainkan ia menyuruh salah seorang penyanyi wanitanya seraya berkata: Beri dia makan dan minum serta bernyanyilah untuknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musuh-musuh Islam 
